Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-0029 / 2549-6786
Total articles ≅ 70
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Wahyu Febriyono, Affiatin Rahmah
Abstract:
Gulma siam memiliki potensi untuk dijadikan pupuk kompos yang dapat digunakan pada tanaman selada di tanah ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk : mengevaluasi penggunaan kompos gulma siam di tanah ultisol dan menentuka dosis terbaik untuk pertumbuhan tanaman selada di tanah ultisol. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan yang dicoba adalah jenis pupuk kompos (P1 danP2), kemudian dosis yang digunakan (D0, D1, D2, dan D3). Variabel yang diamati adalah : tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, bobot kering akar, total panjang akar, luas daun, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan tanaman. Dari hasil penelitian diambil kesimpulan bahwa : tanaman selada tumbuh baik di tanah ultisol dengan pupuk gulma siam, dosis D2 adalah dosis terbaik untuk pertumbuhan tanaman selada di tanah ultisol.Kata kunci: kompos gulma siam, selada, ultisol
Dwi Haryanta, Elika Joeniarti
Abstract:
Tanaman bintaro berpotensi sebagai bahan insektisida botani. Kajian tentang pemanfaatan daun bintaro untuk pengendalian hama belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun bintaro terhadap biologi serangga Spodoptera litura, sehingga dapat diketahui peluang pemanfaatannya untuk mengendalikan populasi hama tersebut di lapangan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal berupa konsentrasi ekstrak daun bintaro yaitu, 0% (kontrol); 2,5%; 5,0%; 7,5%; 10%; dan 12,5%. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap di antaranya pembuatan ekstrak daun bintaro, pemeliharaan ulat grayak, dan uji kemanjuran ekstrak daun bintaro. Parameter pengamatan meliputi mortalitas hama, umur stadia, dan jumlah konsumsi pakan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bintaroberpengaruh terhadap mortalitas serangga S. lituraF., memperpanjang masa stadia larva, mempersingkat masa stadia pupa, menurunkan persentase keberhasilan larva menjadi pupa, menurunkan kualitas imago, dan tidak berpengaruh terhadap selera makan.Kata kunci: biologi serangga, daun bintaro, insektisida botani, ulat grayak
Nur Kholida Wulansari, Ratna Dwi Hirma Windriyati, Ari Kurniawati
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair dan pupuk hayati pada sistem hidroponik tetes untuk tanaman tomat ceri. Penelitian dilakukan di screen house di Dusun Gunungmalang, Kecamatan Serang, Kabupaten Purbalingga pada ketinggian 1400 m dari permukaan laut pada bulan Agustus – September 2020. Perlakuan dicoba yaitu P1(100% dosis AB-Mix), P2 (75% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), P3(50% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), P4 (25% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), dan P5 (0% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati). Rancangan perlakuan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) dengan 6 ulangan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah cabang. Hasil peneltian menunjukkan formulasi nutrisi 75% AB Mix + POC + Pupuk Hayati dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan nutrisi AB-mix pada budidaya tomat ceri sistem hidroponik tetes pada media cocopeat. Kata kunci: formulasi nutrisi, hidroponik tetes, tomat ceri
Ayu Selpiya, Nanik Setyowati, Fahrurrozi Fahrurrozi
Agrin, Volume 24, pp 97-100; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.506

Abstract:
Keunggulan Pupuk Organik Cair (POC) dibandingkan pupuk sintetik adalah memiliki efek residu yang lebih kecil bagi lingkungan. Disamping itu, selain kontribusinya dalam menyediakan unsur hara, POC dapat dibuat dari berbagai sumber bahan organik. Gulma atau tanaman pengganggu yang keberadaannya tidak diinginkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber POC. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kosentrasi dan jenis POC terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial yang terdiri atas dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah Jenis POC, yaitu POC yang berasal dari gulma paitan (Tithonia diversifolia), babandotan (Ageratum conyzoides) dan eceng gondok (Eichhornia crassipes) sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi POC terdiri atas 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, tingkat kehijauan daun, bobot brangkasan kering bagian atas, jumlah umbi per tanaman, dan bobot segar umbi per tanaman. POC berbahan dasar gulma paitan, gulma babandotan, dan eceng gondok memiliki dampak yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Oleh karena itu, ketiga gulma tersebut memiliki potensi sebagai POC untuk diaplikasikan pada tanaman bawang merah.Kata kunci: babandotan, bawang merah, eceng gondok, gulma paitan, POC.
Iqbal Erdiansyah, Sekar Utami Putri, Eliyatiningsih Eliyatiningsih
Agrin, Volume 24, pp 175-184; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.524

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji investasi dan mengklasifikasi populasi Arthropoda pada lahan budidaya cabai merah (konvensional) dan transisi organik yang berperan sebagai musuh alami hama cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2018 sampai bulan Maret 2019, bertempat di lahan Dusun Gawok, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua petak lahan yaitu teknik konvensional (menggunakan pestisida kimia) dan transisi organik (menggunakan Beauveria bassiana, Refugia Area, Trichoderma spp). Peubah pengamatan pada penelitian ini adalah investasi dan klasifikasi populasi serangga pada masing-masing petak lahan percobaan. Keanekaragaman arthropoda dianalisis menggunakan indeks diversitas Shannon Weiner dan indeks Dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indeks Diversitas arthopoda berdasarkan Indeks Shanon-Wiener (H’) pada petak lahan transisi organik lebih tinggi dibandingkan lahan petak konvensioanl yaitu masing-masong 1,623±0,142 dan 1,376±0,132. Untuk tingkat spesies dominansi (C) tergolong kategori sedang di kedua petak percobaan. Nilai di petak lahan konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan lahan petak transisi organik yaitu masing-masing 0,343±0,135 dan 0,322 ±0,123.Kata kunci: arthropoda, budidaya konvensional dan transisi organik, cabai merah, indeks diversitas, indeksdominan.
Ervina Mela, Vincentius Prihananto, Arista Savira Raharjaningtyas
Agrin, Volume 24, pp 137-147; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.546

Abstract:
CV XYZ merupakan salah satu UMKM di Kabupaten Wonosobo yang mengolah buah carica menjadi koktail. Semakin ketatnya persaingan produk sejenis, perusahaan berusaha untuk terus meningkatkan mutu produknya dengan cara memperbaiki atribut produk yang masih lemah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi atribut prioritas untuk perbaikan mutu koktail carica CV XYZ berdasarkan kepuasan dan kepentingan konsumen. Atribut mutu produk dikelompokkan berdasarkan dua parameter yaitu buah carica, dan sirup koktail. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis. Atribut prioritas untuk perbaikan mutu produk adalah banyaknya sirup dan aftertaste. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbaikan dalam peningkatan mutu koktail carica berupa penambahan sirup dan pengujian sensoris aftertaste sirup dengan melibatkan panelis ahli.Kata kunci: koktail carica, tingkat kepuasan, tingkat kepentingan
Bistok Hasiholan Simanjuntak, Ratna Dewi P
Agrin, Volume 24, pp 111-124; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.505

Abstract:
Perbanyakan kopi robusta (Coffea canephora) dengan metode stek sering terkendala pada pertumbuhan akar dan tunas daun. Pemberian Indole-3-Butyric Acid (IBA) diharapkan dapat mengatasi masalah pertumbuhan akar dan tunas pada stek batang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsentrasi IBA yang tepat terhadap pertumbuhan akar dan tunas daun stek kopi robusta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial dengan perlakuan konsentrasi IBA terdiri atas 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm, dan 300 ppm, dan diulang 4 kali. Parameter pengamatan meliputi panjang akar, jumlah daun, bobot basah dan kering berangkasan stek batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA 150 ppm pada stek batang kopi robusta mampu menghasilkan panjang akar terbaik. Namun demikian, seluruh konsentrasi IBA yang diujikan belum mampu meningkatkan jumlah daun, berat berangkasan basah, dan berat berangkasan kering stek batang kopi robusta.Kata kunci: Indole Butyric Acid, kopi robusta, stek batang,
Fida Suci Ersapoetri, Loekas Soesanto, Endang Mugiastuti, Ruth Feti Rahayuniati, Abdul Manan, Slamet Rohadi
Agrin, Volume 24, pp 159-174; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.536

Abstract:
Penelitian bertujuan mengetahui kemampuan empat isolat Trichoderma harzianum dalam mengomposkan limbah sayur, isolat T. harzianum terbaik pada pengomposan limbah sayur, dan isolat T. harzianum terhadap pertumbuhan tanaman mentimun in planta. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto selama lima bulan. Rancangan Acak Kelompok digunakan dengan empat ulangan dan kombinasi antara empat isolat T. harzianum (T10, T213, T14, dan T15) dengan dua limbah sayur (kubis dan tomat). Variabel yang diamati adalah panjang tanaman, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, panjang akar, jumlah daun, pH akhir kompos, C/N ratio kompos, kepadatan akhir T. harzianum, kegigasan T. harzianum, dan analisis jaringan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat isolat T. harzainum efektif dan cepat dalam mengkomposkan limbah tomat dan kubis. Isolat T. harzianum yang paling baik pada pengomposan adalah T10 dan T213. Aplikasi kompos limbah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun. Isolat terbaik adalah T. harzianum T16 pada kompos tomat dan T10 pada kompos kubis dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun pada panjang tanaman, panjang akar, bobot tanaman segar, dan bobot tanaman kering dengan peningkatan masing-masing 66,61 dan 52,17%, 61,01 dan 46,55%, 76,41 dan 59,77%, serta 77,99 dan 52,03%.Kata kunci: limbah sayur, mentimun, pengomposan, Trichoderma harzianum.
Yudhi Harini Bertham, Abimanyu Dipo Nusantara, Bambang Gonggo Murcitro, Zainal Arifin
Agrin, Volume 24, pp 185-194; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.503

Abstract:
Pemanfaatan lahan kering pada kawasan pesisir untuk budidaya tanaman padi gogo mempunyai potensi besar untuk pemantapan swasembada pangan maupun untuk pembangunan pertanian kedepan. Keterbatasan kesuburan yang dimiliki lahan di kawasan pesisir dapat diatasi dengan menggunakan teknologi yang tepat seperti penggunaan varietas yang unggul dan pupuk hayati serta biokompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biologi dan kimia tanah serta pertumbuhan padi gogo di kawasan pesisir. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi dengan petak utama adalah 3 varietas padi gogo yang didapatkan dari BPTP Bengkulu yaitu varietas Inpago 10, Serantan, dan Lokal Bengkulu, dengan anak petak yaitu inokulan ganda mikroba pelarut P (pf) + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N, inokulan ganda mikroba pelarut P (fma) + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N, biokompos dengan dosis 10 ton ha-1, dan pupuk anorganik rekomendasi BPTP yaitu 200 kg Urea/ha, 100 kg SP36/ha, 100 kg KCl/ha, diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati maupun biokompos yang ditanami padi gogo varietas Inpago 10 di area pesisir mampu meningkatkan karakter biologi dan kimia tanah. Padi gogo varietas Serantan dengan aplikasi inokulan ganda mikroba pelarut P + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N di area pesisir mampu menghasilkan jumlah anakan tinggi dengan tinggi tanaman rendahKata kunci: adaptabilitas, lahan pesisir, padi gogo, pertumbuhan, pupuk hayati.
Fajar Setyawan, Muhammad Hadi Santoso
Agrin, Volume 24, pp 148-158; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.533

Abstract:
Pupuk organik dan ketersediaan hara berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kandungan pupuk organik dan ketersediaan P yang rendah merupakan faktor pembatas utama untuk budidaya tanaman kedelai pada tanah masam. Penelitian untuk mengkaji aplikasi pupuk organik dan bakteri pelarut fosfat (BPF) untuk meningkatan serapan P, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Dilakukan dari September – Desember 2019 di Laboratorium Lapang Terpadu Universitas Islam Kadiri. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dan diulangan 3 kali. Faktor pertama adalah pupuk organik yang terdiri dari (Pupuk kandang ayam, Pupuk kandang sapi dan Pupuk hijau paitan, masing-masing dengan dosis 10 ton/ha) dan Perlakuan Kedua adalah inokulan BFF yang terdiri dari 4 konsentrasi (0, 3, 6, 9 ml/l). Parameter yang diamati: laju tumbuh, jumlah polong per tanaman, indeks panen (IP) dan bobot kering biji. Interaksi antara pemberian pupuk organik dengan inokulasi BPF mempengaruhi laju tumbuh, serapan P dan hasil tanaman kedelai. Aplikasi 10 t/ha pupuk kandang sapi dan BPF dengan konsentrasi 6 ml/l mampu meningkatkan laju tumbuh sebesar 2,6% dan serapan P 0,08% dibandingkan dengan tanpa inokulasi BPF. Aplikasi 10 t/ha pupuk kandang sapi dan BPF dengan konsentrasi 6 ml/l mampu menghasilkan 2,7 t/ha biji kedelai.Kata kunci: bakteri pelarut fosfat, pupuk organik, tanaman kedelai
Back to Top Top