Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 14104490 / 23549203
Total articles ≅ 170
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Mahruri Saputra, Ikhsanuddin Ahmad Harahap, Sutomo Kasiman
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.645

Abstract:
AV fistula allows external vascular access for hemodialysis patients. Because hemodialysis patients experience puncture wounds and stabbing pain approximately 300 times a year, development of methods to decrease pain intensity are of great importance. Some techniques, such as the Valsalva maneuver, are known to reduce pain. This study aims to assess the effect of the Valsalva maneuver on decreasing the intensity of AV fistula pain in patients receiving hemodialysis. The quasi-experimental research of pre and post without control applying consecutive sampling to get as many as 63 respondents. Pain intensity was measured by using the Numerical Pain Rating Scale (NPRS). The Valsalva maneuver was performed during insertion of the AV fistula needle for 16–20 seconds. The results showed significant differences in pain intensity between before and after the intervention with the difference in mean that is 1.35 (SD = 0.54), t = 19.70, p = 0.001. The Valsalva maneuver is effective in reducing the pain of AV fistula insertion because it stimulates the vagus nerve to induce an antinociceptive effect. Nurses are highly recommended to teach the Valsalva maneuver to patients undergoing routine hemodialysis. Abstrak Pemberian Teknik Manuver Valsalva terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Penusukan Arteriovenous Fistula pada Pasien Hemodialisis. Arteriovenous (AV) fistula merupakan akses vaskuler eksternal pasien hemodialisis. Pasien hemodialisis mengalami luka tusuk dan nyeri akibat penusukan sekitar 300 kali setahun sehingga perlu diberi tindakan untuk membantu mengatasinya. Beberapa teknik diketahui dapat menurunkan nyeri seperti teknik Valsalva manuver. Penelitian ini bertujuan menilai efek teknik Valsalva manuver terhadap penurunan intensitas nyeri penusukan AV fistula pada pasien hemodialisis. Penelitian quasi eksperimen pre dan post tanpa kontrol menerapkan consecutive sampling untuk mendapatkan sebanyak 63 responden. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS). Valsalva manuver dilakukan saat penusukan jarum AV fistula selama 16-20 detik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi dengan selisih mean yaitu 1,35 (SD=0,54), t=19,70, p=0,001. Valsalva manuver efektif menurunkan nyeri penusukan AV fistula karena menstimulasi saraf vagus dalam menginduksi efek antinociceptif. Teknik Valsalva manuver sangat direkomendasikan kepada perawat untuk mengajarkan teknik ini pada pasien yang menjalani hemodialisis rutin. Kata Kunci: AV fistula, hemodialisis, intensitas nyeri, Valsalva manuver
Stefanus Mendes Kiik, Antonius Rino Vanchapo, Maria Fitrya Elfrida, Muhammad Saleh Nuwa, Siti Sakinah
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.900

Abstract:
Falls are a serious consequence of declining physical function. Otago exercise is a strength and balance training program designed to prevent falls and enhance health status among the elderly. This study aimed to investigate the effect of a 12-week Otago exercise intended to reduce the risk of falls and health status among the elderly with chronic illness in the social elderly institution. This quasi-experimental study employed a pre- and post-test design using a control group. The study involved an intervention group (21 respondents) and a control group (21 respondents). The sample used in this study were elderly living in a social elderly institution. The sample was selected using simple random sampling. The data were analyzed using Mann–Whitney test, independent t-test, and Chi-square test. Otago exercise significantly reduced the respondents’ risk of falling and enhanced their health status. Significant differences were observed between the two groups in terms of the risk of fall (p= 0.041) and health status (p= 0.011). Otago exercise significantly improves the health status and reduces the risk of falling among elderly with chronic illness. The exercise can be recommended for older adults with chronic illness in social elderly institutions and communities. Abstrak Efektivitas Latihan Otago terhadap Status Kesehatan dan Risiko Jatuh pada Lansia dengan Penyakit Kronik. Jatuh adalah konsekuensi serius dari penurunan fungsi fisik. Latihan Otago adalah program latihan kekuatan dan keseimbangan yang didesain untuk mencegah jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efek 12 minggu latihan Otago untuk menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia dengan penyakit kronik di Panti Sosial lansia. Penelitian Quasi-eksperimental ini menggunakan pre-post dengan kelompok kontrol. Kelompok intervensi dan kontrol masing-masing terdiri dari 21 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di UPT Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Budi Agung Kupang. Teknik sampling yang digunakan adalah simpel random sampling. Data dianalisis menggunakan Mann-Whitney test, Independent t-test dan Chi-square test. Latihan Otago secara signifikan menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan. Ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal risiko jatuh (p= .041) dan status kesehatan (p= 0.011). Latihan Otago secara signifikan menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia dengan penyakit kronik. Kata Kunci: lansia, latihan Otago, penyakit kronik, risiko jatuh, status kesehatan
Yanuar Fahrizal, Mustikasari Mustikasari, Novy Helena Catharina Daulima
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.598

Abstract:
Mental disorders are predicted to increase every year. Patients with severe mental disorders, such as schizophrenia, often engage in violent behavior. The treatment of such patients can use general nursing treatments (anger management with physical therapy, taking medicines regularly, and verbal and spiritual methods) and specialist nursing interventions (assertive training and family psychoeducation). This case report involved 11 patients, with the majority aged between 26 and 60 years, unemployed, high school graduates, unmarried, and with previous inpatient history. Generalist and specialist nursing interventions (assertive training and family psychoeducation) use Roy’s adaptation theory and Stuart’s stress adaptation approach. Nursing interventions were conducted sequentially, starting with generalist nursing interventions, followed by specialist ones. The method used was a pre–posttest in which each patient received generalist and specialist nursing interventions, assertive training, and family psychoeducation, each consisting of five sessions. Results of assertive training therapy and family psychoeducation showed a decrease in the signs and symptoms of violent behavior as well as an improvement in the patient’s ability to overcome the risk of violent behavior. The application of Roy’s adaptation theory and Stuart’s stress adaptation approach is potentially appropriate for the treatment of patients with a risk of violent behavior. Abstrak Perubahan Tanda, Gejala, dan Manajemen Marah pada Orang Tua dengan Risiko Perilaku Kekerasan Setelah Menerima Pelatihan Asertif dan Psikoedukasi Keluarga Menggunakan Pendekatan Teori Roy: Studi Kasus. Gangguan jiwa secara keseluruhan diprediksikan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Pasien dengan masalah gangguan jiwa berat seperti skizofrenia seringkali melakukan perilaku kekerasan. Penanganan pasien dengan perilaku kekerasan dapat menggunakan tindakan keperawatan generalis (mengontrol marah dengan cara fisik, minum obat teratur, cara verbal dan cara spiritual) dan tindakan keperawatan spesialis (latihan asertif dan psikoedukasi keluarga). Laporan kasus ini melibatkan 11 pasien dengan karakteristik mayoritas usia 26-60 tahun, tidak bekerja, tingkat pendidikan SMA, belum menikah, dan memiliki riwayat dirawat sebelumnya. Tindakan keperawatan yang diberikan adalah tindakan keperawatan generalis dan ners spesialis latihan asertif dan psikoedukasi keluarga dengan menggunakan pendekatan teori adaptasi Roy dan adaptasi stress Stuart. Tindakan keperawatan dilakukan secara berurutan/ bertahap dimulai dengan tindakan keperawatan generalis kemudian dilanjutkan dengan tindakan keperawatan ners spesialis. Metode yang digunakan adalah pre-posttest dimana setiap pasien mendapatkan tindakan generalis serta tindakan ners spesialis latihan asertif dan psikoedukasi keluarga yang masing-masing terdiri dari 5 sesi. Hasil penerapan terapi latihan asertif dan psikoedukasi keluarga menunjukkan terjadinya penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan serta terjadinya peningkatan kemampuan pasien dalam mengatasi risiko perilaku kekerasan. Penggunaan pendekatan teori adaptasi Roy dan teori adaptasi stress Stuart berpotensi sesuai diterapkan pada penanganan pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Kata Kunci: latihan asertif, psikoedukasi keluarga, risiko perilaku kekerasan, skizofrenia
Mohd Said Nurumal, Najwatul Madihah Sabran, Siti Hazariah Abdul Hamid, Muhammad Kamil Che Hasan
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1088

Abstract:
As a vital part of patient care delivery, patient safety culture contributes to the quality of care provided by nurses. Safe patient care is positively linked to the attitudes of nurses. This study aimed to assess the perception of nurses working in a newly established teaching hospital. A cross-sectional study involving 194 nurses from three different units was conducted by using a 24-item Hospital Survey of Patient Safety Culture. Data on gender, working unit, age, years of working, and attendance in workshops on patient safety were also collected. The majority of the nurses had a positive total score of patient safety culture. The lowest score was 76 (63%), and the highest score was 120 (96%). The awareness on patient safety culture significantly differed between gender, years of working, and working units. Post-hoc comparisons using Tukey’s HSD test yielded a significant difference between nurses from critical care units and those from medical and surgical units. The mean score and total positive score on awareness on patient safety culture of the former were higher than those of the latter. Overall, the majority of the staff nurses in International Islamic University Malaysia Medical Center had a positive total score on awareness on patient safety culture. Awareness on patient safety, which is considered crucial worldwide, should be enhanced to influence the development of a positive patient safety culture within hospitals. This implementation would directly develop high-quality care to patients and positively impact health organizations. Abstrak Kesadaran Perawat terhadap Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Universitas yang Baru Dibangun. Sebagai bagian penting dari pemberian perawatan pasien, budaya keselamatan pasien berkontribusi pada kualitas perawatan yang diberikan oleh perawat. Perawatan pasien yang aman secara positif terkait dengan sikap perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi perawat yang bekerja di rumah sakit pendidikan yang baru dibangun. Sebuah studi cross-sectional yang melibatkan 194 perawat dari tiga unit yang berbeda dilakukan dengan menggunakan Survei Rumah Sakit Budaya Keselamatan Pasien. Data tentang jenis kelamin, unit kerja, usia, tahun kerja, dan kehadiran dalam lokakarya tentang keselamatan pasien juga dikumpulkan. Mayoritas perawat memiliki skor total positif dari budaya keselamatan pasien. Skor terendah adalah 76 (63%), dan skor tertinggi adalah 120 (96%). Kesadaran tentang budaya keselamatan pasien berbeda secara signifikan antara jenis kelamin, tahun kerja, dan unit kerja. Perbandingan post-hoc menggunakan uji HSD Tukey menghasilkan perbedaan yang signifikan antara perawat dari unit perawatan kritis dan mereka dari unit medis dan bedah. Skor rata-rata dan skor total positif pada kesadaran tentang budaya keselamatan pasien dari yang pertama lebih tinggi daripada yang terakhir. Secara keseluruhan, mayoritas staf perawat di International Islamic University Malaysia Medical Center memiliki skor total positif pada kesadaran tentang budaya keselamatan pasien. Kesadaran akan keselamatan pasien, yang dianggap penting di seluruh dunia, harus ditingkatkan untuk memengaruhi perkembangan budaya keselamatan pasien yang positif di rumah sakit. Implementasi ini secara langsung akan mengembangkan perawatan berkualitas tinggi kepada pasien dan berdampak positif bagi organisasi kesehatan.Kata Kunci: budaya, perawat, keselamatan pasien, rumah sakit
Fitri Wahyuni, Yeni Rustina, Defi Efendi
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.551

Abstract:
The incidence of infections in preterm infants is still quite high. In this study, oral care with human breast milk was implemented in risk preterm infants as a precaution. The study was conducted using a quasi-experimental method with a non- equivalent control group and posttest only design in 40 risk preterm infants. The participants were divided into two groups of 20. The data were analyzed using independent t-test and a Wilcoxon test. The results show that this intervention has an effect on the incidence of late-onset sepsis in preterm infants. The effect is based on symptoms: body temperature instability (p = 0.021), C-reactive protein (p = 0.006), and leukocytes (p = 0.020) all indicated differences between the two groups. It is recommended that this practice be adopted as a routine therapy program in perinatology.Keywords: exclusive breastfeeding, late-onset sepsis, oral care, risk preterm infants, sepsis Abstrak Perawatan Mulut Mencegah Sepsis Neonatorum Awitan Lambat pada Bayi Prematur Risiko Tinggi. Angka kejadian infeksi setelah lahir pada bayi prematur masih cukup tinggi. Pelaksanaan intervensi pemberian oral care menggunakan air susu ibu pada bayi prematur risiko tinggi telah dilakukan sebagai pencegahan. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain post-test only, kelompok kontrol non ekuivalen, pada 40 bayi prematur risiko tinggi sebagai sampel. Responden dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 20 responden. Data dianalisis menggunakan uji t independen dan wilcoxon. Hasil Intervensi ini terbukti memiliki manfaat terhadap dalam menurunkan kejadian sepsis neonatorum awitan lambat pada bayi prematur berdasarkan tanda klinis seperti ketidakstabilan suhu tubuh (p value 0,021), hasil pemeriksaan C-Reaktif Protein (p value 0,006) dan leukosit (p value 0,020) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Intervensi ini diharapkan dapat dilanjutkan menjadi program terapi rutin yang akan dilakukan di ruang rawat perinatologi. Kata Kunci: ASI eksklusif, bayi prematur, oral care, sepsis, sepsis neonatorum awitan lambat
Mohd Said Said Nurumal
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1090

Abstract:
Demand for a nursing career in Malaysia has increased, although it has not been a popular course of choice among students. Understanding the perceptions of students about nursing may help identify any misconception toward the profession and their consideration to choose nursing as a career. This study aimed to identify the perceptions of secondary school students about nursing and their potential interest in joining a nursing career. A cross-sectional study using convenience sampling was conducted among 155 students by administering a High School Students Self-Administered Questionnaire from three selected secondary schools in Kuantan, Pahang Malaysia. Overall, the respondents positively perceived the nursing profession, although several parts were viewed negatively. Despite having a positive notion about nursing, only 18.1% of the respondents were interested to select nursing as their career and a majority of them were women. In conclusion, no significant difference in perceptions about nursing and consideration to choose nursing as a career was found. Nevertheless, the image of nurses and a nursing career need to be improved in the eye of students and societies. In addition, the students were not aware of the benefits of nursing with several misconceptions of genders and doctor’s aid. Overall, the status of nursing in Malaysia should be enhanced to make it a valuable career. Keywords: perception, nursing, career, choice, secondary school, students Abstrak Persepsi tentang Mempertimbangkan Keperawatan sebagai Pilihan Karir pada Siswa Sekolah Sekunder. Permintaan untuk karir keperawatan di Malaysia mengalami peningkatan, meskipun belum menjadi pilihan populer di kalangan siswa. Pemahaman mengenai persepsi siswa tentang keperawatan dapat membantu mengidentifikasi kesalahpahaman terhadap profesi dan pertimbangan mereka untuk memilih keperawatan sebagai karier. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi siswa sekolah menengah tentang keperawatan dan potensi minat mereka untuk memilih karir keperawatan. Sebuah studi cross-sectional menggunakan convenience sampling dilakukan pada 155 siswa dengan High School Students Self-Administered Questionnaire dari tiga sekolah menengah di Kuantan, Pahang Malaysia. Secara keseluruhan, responden memandang positif profesi keperawatan, namun beberapa bagian dipandang negatif. Meskipun memiliki gagasan positif tentang keperawatan, hanya 18,1% dari responden tertarik untuk memilih keperawatan sebagai karir mereka dan mayoritas dari mereka adalah perempuan. Kesimpulannya, tidak ada perbedaan signifikan dalam persepsi tentang keperawatan dan pertimbangan untuk memilih keperawatan sebagai karier. Namun demikian, citra perawat dan karier keperawatan perlu ditingkatkan di mata siswa dan masyarakat. Selain itu, siswa tidak menyadari manfaat keperawatan dengan beberapa kesalahpahaman tentang gender dan bantuan dokter. Secara keseluruhan, status keperawatan di Malaysia harus ditingkatkan untuk menjadikannya karier yang berharga. Kata Kunci: persepsi, keperawatan, karier, pilihan, sekolah menengah, siswa
Siti Hazariah Abdul Hamid, Muhammad Kamil Che Hasan, Mohd Said Nurumal, Noor Faizah [email protected]
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1093

Abstract:
The Malaysia Ministry of Health reported adolescents’ low utilization of healthcare services, although they need this service as a consequence of their involvement in risky behavior. This cross-sectional study aimed to determine adolescents’ perception on risk taking behavior and their utilization of health care services. A modified self-administered questionnaire was used to collect data from 250 secondary school students aged 13 and 14 years in one of the selected schools in Malacca, Malaysia. Data were analyzed using SPSS 20. Fastfood consumption, loitering after school, physical fighting, smoking, and non-use of helmets were the most reported risky behaviors among adolescents in Malaysia. More than half of the adolescents who knew about health care services had a positive perception on their utilization of such services. Thus, the promotion of adolescents’ health services helps increase their use of these services and consequently achieve a healthy lifestyle. Abstrak Persepsi Siswa Sekolah terhadap Perilaku Risiko dan Pemanfaatan Layanan Perawatan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan oleh remaja, meskipun mereka membutuhkan layanan ini sebagai konsekuensi dari keterlibatan mereka dalam perilaku berisiko. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja tentang perilaku pengambilan risiko dan pemanfaatannya terhadap layanan perawatan kesehatan. Kuesioner mandiri yang dimodifikasi digunakan untuk mengumpulkan data dari 250 siswa sekolah menengah berusia 13 dan 14 tahun di salah satu sekolah yang dipilih di Malaka, Malaysia. Data dianalisis menggunakan SPSS 20. Konsumsi makanan cepat saji, berkeliaran sepulang sekolah, perkelahian fisik, merokok, dan tidak menggunakan helm adalah perilaku berisiko yang paling banyak dilaporkan di kalangan remaja di Malaysia. Lebih dari setengah remaja yang tahu tentang layanan perawatan kesehatan memiliki persepsi positif tentang pemanfaatan layanan tersebut. Dengan demikian, promosi layanan kesehatan remaja membantu meningkatkan penggunaan layanan ini dan akibatnya mencapai gaya hidup sehat. Kata kunci: layanan perawatan kesehatan remaja, perilaku berisiko, sekolah
Priyoth Kittiteerasack, Alana Steffen, Alicia Matthews
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1073

Abstract:
In the US, lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) individuals report higher rates of depression compared with heterosexual and cisgender persons. To date, little is known about the mental health of LGBT adults in Thailand. Here, we examined rates and correlates of depression among a volunteer sample of Thai LGBTs. Data were collected as part of a larger cross-sectional survey study. Standardized measures of sexual orientation and gender identity, stress, coping style, and minority stressors were completed. Of the 411 participants, 40.3% met the criteria for depression. In multivariate analyses, the combined influences of sociodemographic factors, general stress, coping strategies, and minority-specific stress variables explained 47.2% of the variance in depression scores (F[16,367]= 20.48, p<.001). Correlates of depression included coping strategies and minority-specific stressors, including experiences of victimization, discrimination, and level of identity concealment. Study findings have implications for psychiatric nursing practice and the development of intervention research. Abstrak Di AS, individu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) melaporkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang heteroseksual dan cisgender. Saat ini, sedikit yang diketahui tentang kesehatan mental pada orang dewasa dengan LGBT di Thailand. Di sini, kami meneliti tingkat dan korelasi depresi di antara sampel sukarelawan LGBT Thailand. Data dikumpulkan sebagai bagian dari studi survei cross-sectional yang lebih besar. Pengukuran terstandar terhadap orientasi seksual dan identitas gender, stres, koping, dan stresor minoritas telah selesai. Dari 411 peserta, 40,3% memenuhi kriteria untuk depresi. Dalam analisis multivariat, pengaruh gabungan faktor sosiodemografi, stres umum, strategi koping, dan variabel stres spesifik-minoritas menjelaskan 47,2% dari varians dalam skor depresi (F [16,367]= 20,48, p< 0,001). Korelasi depresi termasuk strategi koping dan stres spesifik-minoritas, termasuk pengalaman viktimisasi, diskriminasi, dan tingkat penyembunyian identitas. Temuan penelitian memiliki implikasi untuk praktik keperawatan psikiatris dan pengembangan penelitian intervensi. Kata kunci: depresi, LGBT, minoritas seksual dan gender; stres minoritas, Thailand
Dora Samaria, Theresia Theresia, Doralita Doralita
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 22, pp 219-227; doi:10.7454/jki.v22i3.706

Abstract:
Previous studies have shown that female college students have a low awareness of menstrual health. This situation must be resolved to prevent negative effects on their reproductive health. The objective of this study was to identify the effect of menstrual flow monitoring education on menstrual health awareness using lectures, demonstrations, and exercises. The researcher used menstrual flow charts and menstrual calendars as learning media. This study used a quasi-experimental design with only one group pretest and posttest. The sample was made up of 117 female college students from the Economic Education Study Program at University X; the individuals were selected by a purposive sampling technique. The data were analyzed using a paired t-test. There was a significant difference in menstrual health awareness score between pretest and posttest (p= 0.017). The researchers recommend that future study should include the performance of a randomized control trial on a larger population. Keywords: menstrual health awareness, menstrual flow monitoring, education Abstrak Pengaruh Edukasi Monitoring Terhadap Kesadaran Kesehatan Menstruasi pada Mahasiswa di Banten. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswi memiliki kesadaran rendah akan kesehatan menstruasi. Kondisi ini harus diselesaikan untuk mencegah dampak negatif pada kesehatan reproduksi mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh pengaruh edukasi menstrual flow monitoring terhadap kesadaran kesehatan menstruasi menggunakan ceramah, demonstrasi, dan latihan. Peneliti menggunakan menstrual flow chart dan kalender menstruasi sebagai media pembelajaran. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan satu kelompok pretest dan posttest. Sampel penelitian meliputi 117 mahasiswi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas X yang diseleksi menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Paired t-test. Terdapat perbedaan yang signifikan skor kesadaran kesehatan menstruasi antara pretest dan posttest (p = 0.017). Peneliti merekomendasikan desain randomized control trial pada populasi yang lebih besar untuk penelitian selanjutnya. Kata kunci: kesadaran kesehatan menstruasi, menstrual flow monitoring, edukasi
Ressa Andriyani Utami, Agus Setiawan, Poppy Fitriyani
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 22, pp 182-190; doi:10.7454/jki.v22i3.592

Abstract:
Cedera menyebabkan 5,8 juta kematian di dunia dan 16% kasus cedera menyebabkan kecacatan. Faktor perilaku anak usia sekolah yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan terkait pencegahan cedera berpengaruh terhadap kejadian cedera. Strategi pencegahan cedera yang dilakukan adalah dengan Model Sandi (Simbol Andi) menggunakan video animasi dengan tokoh bernama Andi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Model Sandi dalam pencegahan cedera pada tatanan komunitas, khususnya di lingkungan sekolah. Desain penelitian ini adalah quasi experiment pre-post test without control group. Jumlah sampel penelitian sebanyak 136 anak usia sekolah berusia 11-12 tahun yang dipilih melalui teknik cluster sampling. Pengetahuan mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 2,18 poin dengan SD=1,60, sikap mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 1,97 poin dengan nilai SD=0,99 dan keterampilan mengenai pencegahan dan penanganan cedera meningkat sebesar 2,06 poin dengan nilai SD=2,19. Hasil analisis menujukkan adanya perubahan yang bermakna pada pengetahuan, sikap dan keterampilan sebelum dan sesudah diberikan intervensi (p <0,05). Intervensi Model Sandi diharapkan dapat dijadikan salah satu pendekatan intervensi keperawatan dalam menyelesaikan permasalahan risiko cedera pada anak usia sekolah. Kata kunci: anak usia sekolah, intervensi keperawatan, model simbol, risiko cedera Abstract The influence of "Simbol Andi" Model Application of Knowledge, Attitude, and Skills of School Ages with Injury Risk in Depok City. Injuries caused 5.8 million deaths worldwide and 16% of injury cases caused disability. Behavioral of school age children that include knowledge, attitudes and skills affect the incidence of injury in school-aged children. “Sandi” Symbolic Modelling is an injury prevention using video animation for injury prevention. This study aimed to an analysis of the application of Model Sandi (Simbol Andi) in the prevention of injury to the community. The design of this study was a quasi-experiment pre nd posttest without control group. A total sample 136 school-aged children at 11 and 12 years old involved in this study. Sampling method used cluster sampling technique. Results knowledge on prevention and treatment of injury increased by 2.18 points, attitude on prevention and treatment of injury increased by 1.97 points and skill on prevention and treatment of injury increased by 2.06 points. The results showed significant changes in knowledge, attitude and skills before and after intervention (p<0.05). Model Sandi Intervention is expected to be one of the approaches of nursing intervention in solving the problem of risk of injury in school-aged children at school.Keywords: Symbolic modeling, nursing intervention, risk of injury, school-aged children