Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-4490 / 2354-9203
Total articles ≅ 509
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

, Muhammad Saleh Nuwa
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 82-89; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.1306

Abstract:
Children with stunting in Indonesia and other low-middle countries remains a serious problem. This study aimed to identify the association between maternal education, maternal age, maternal height, preceding birth interval, and ANC clinic visits and stunting among vulnerable children in Kupang Regency, Indonesia. A cross-sectional study was conducted of two villages in Kupang Regency. The study sample comprised female ex-refugees from Timor Leste who had children aged 24–59 months. The subjects were chosen using consecutive sampling, with a total number of 154. Data were collected from both primary and secondary sources. There was a significant relationship between maternal education (p = 0.014), maternal height (p = 0.003), preceding birth interval (p = 0.001), ANC clinic visits (p = 0.009) and stunting. In contrast, maternal age showed no significant association (p = 0.611). Further studies are needed to help eradicate stunting by intervening in the reduction of risk factors.Abstrak Faktor-faktor Ibu terkait Stunting pada Anak-Anak yang Rentan. Anak-anak yang mengalami stunting di Indonesia dan negara-negara berpenghasilan rendah masih menjadi masalah serius. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara pendidikan ibu, usia ibu, tinggi badan ibu, jarak melahirkan dan kunjungan antenatal care (ANC) dengan stunting pada anak rentan usia 24–59 bulan di Kabupaten Kupang, Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional yang dilakukan di dua desa di Kabupaten Kupang. Sampel dalam penelitian ini adalah para ibu mantan pengungsi Timor Leste yang memiliki anak usia 24–59 bulan. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling, sebanyak 154 responden. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu (p = 0,014), tinggi ibu (p = 0,003), jarak kelahiran (p = 0,001), kunjungan ANC (p = 0,009) dengan stunting. Namun tidak ada hubungan antara usia ibu dengan stunting (p = 0,611). Penelitian selanjutnya dibutuhkan untuk memberantas stunting melalui intervensi untuk menurunkan faktor risiko. Kata Kunci: anak, antenatal care, ibu, Indonesia, pengungsi, stunting, usia ibu
Sumiyati Tarniyah, Laili Nur Hidayati
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 90-98; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.1165

Abstract:
In spirituality rather than young people. This study aimed to identify the relationship between spiritual behavior and the stress levels of 152 high school students, using a descriptive correlation research design. The data collection techniques involved a spiritual dimension scale questionnaire and the Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). The data were analyzed using Spearman's rho correlation test. The results show that the spiritual behavior distribution was mostly in the moderate category (53.3%), and stress level distribution was primarily in the normal category (63.8%). The finding also revealed that there was no correlation between spiritual behavior and stress levels in high school students. These results may differ from the previous studies. Although stress in this group showed a normal category, their mental health needs to be considered given the amount of stressors adolescents may face.Abstrak Perilaku Spiritual dan Stres pada Remaja: Studi Awal. Spirituaitas seringkali dikaitkan dengan kesehatan mental, termasuk stres. Kelompok usia tua cenderung banyak terlibat dalam kegiatan spiritual dibanding kelompok usia muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara perilaku spiritual dengan tingkat stres pada 152 siswa sekolah menengah atas, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi. Teknik pengumpulan data meng-gunakan kuesioner skala dimensi spiritual dan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). Analisis data meng-gunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku spiritual mereka sebagian besar dalam kategori sedang (53,3%), dan distribusi tingkat stres terutama dalam kategori normal (63,8%). Penelitian ini mengungkapkan tidak ada hubungan antara perilaku spiritual dengan tingkat stres pada remaja. Hasil ini mungkin berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya. Meskipun stres pada kelompok ini menunjukkan kategori normal, tetapi kesehatan mental mereka perlu diperhatikan mengingat banyaknya stresor yang mungkin dihadapi remaja. Kata Kunci: perilaku spiritual, remaja, stres
, Sittie Inshirah P. Macaronsing, Narima M Alawi, Normala M Taib, Hamdoni K Pangandaman
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 74-81; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.1308

Abstract:
The COVID-19 crisis has been a challenging and stressful event for individuals with known underlying health problems, not to mention their higher risk of contracting the disease. This phenomenological inquiry was conducted to explore the common self-care practices of the Meranao tribe in the Province of Lanao del Sur, Philippines, concerning their management of hypertension amidst the ongoing pandemic health crisis. This study employed a descriptive-phenomenological approach. Ten known hypertensive adults participated in the study selected using purposive sampling. Data collection employed focus group discussion (FGD) and then analyzed using Colaizzi's approach. Four themes were derived which explained the common practices of the tribe in the self-care management of hypertension amidst the crisis: 1) the use of herbal remedies; 2) compliance with prescribed medications; 3) dietary control; and 4) remaining physically active. Patients’ strict compliance with known scientific self-care practices in managing hypertension forms a multidimensional strategy in controlling, managing, and preventing hypertension and its related complications.Abstrak Studi Fenomenologi tentang Praktik Manajemen Perawatan Diri pada Pasien Hipertensi Saat Pandemi COVID-19. Krisis COVID-19 telah menjadi periode yang menantang dan menegangkan bagi individu dengan riwayat masalah kesehatan, belum lagi risiko yang lebih tinggi untuk menderita penyakit tersebut. Studi fenomenologi ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik perawatan diri Suku Meranao di Provinsi Lanao del Sur, Filipina yang berhubungan dengan manajemen hipertensi di tengah krisis kesehatan yang sedang berlangsung. Melalui pendekatan fenomenologi deskriptif, sebanyak 10 orang dewasa penderita hipertensi bersedia untuk menjadi partisipan penelitian ini dengan menggunakan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui focus group discussion (FGD), dan dianalisis menggunakan pendekatan Collaizi. Empat tema diperoleh untuk menjelaskan praktik mereka dalam manajemen perawatan diri hipertensi di tengah krisis: 1) penggunaan obat herbal; 2) kepatuhan terhadap obat yang diresepkan; 3) kontrol makanan, dan 4) tetap aktif secara fisik. Kepatuhan ketat pasien pada praktik perawatan diri secara ilmiah dalam manajemen hipertensi memainkan strategi multidimensi dalam kontrol, manajemen, dan pencegahan hipertensi serta komplikasi yang terkait. Kata Kunci: Filipina, hipertensi, praktik manajemen perawatan diri, riset kualitatif, suku Meranao
Astuti Yuni Nursasi, Nadya Tiara Sabila, Muhamad Jauhar
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 110-117; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.1076

Abstract:
Tuberculosis (TB) is a global public health problem. Families need to meet healthcare needs during the treatment of TB sufferers. This study aims to identify healthcare needs of families caring for patients with the disease. The cross-sectional study involved 83 families caring for TB patients. The research was conducted at a Primary Healthcare Center in an urban area in West Java. The results revealed that 60.2% of caregivers were 18–40 years old, 60.2% were female, 51.8% were senior high school educated, 43.4% were housewives, 86.7% had an income under the regional minimum wage, and 55.4% had cared for the TB patients for 3–6 months. The families had healthcare needs for emotional support (mean 33.72, SD 4.16); information support (mean 33.28, SD 4.09); instrumental support (mean 32.4, SD 3.73); and appraisal support (mean 28.01, SD 5.93). The greatest support need was how to encourage clients to take treatment completely (Score: 140); TB treatment information (Score: 138); financial support for chest x-ray costs (Score: 114); and how to assess patient behavior in maintaining health (score: 133). Based on the study result, the families need to improve their ability to give appraisal support during the patient's treatment. The identification of families’ healthcare needs in caring for patients with pulmonary TB can provide primary data for developing innovative programs integrated with DOTS programs in healthcare services to improve family support.Abstrak Kebutuhan Perawatan Kesehatan Keluarga yang Merawat Pasien Tuberkulosis. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Keluarga harus memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan selama pengobatan pada pasien TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan kesehatan pada keluarga yang merawat pasien TB. Penelitian cross-sectional ini melibatkan responden sebanyak 83 keluarga yang merawat pasien TB. Penelitian ini dilaksanakan di sebuah Puskesmas di Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian ini melaporkan sebanyak 60,2% berusia 18–40 tahun, 60,2% perempuan, 51,8% lulus sekolah menengah atas, 43,4% ibu rumah tangga, 86,7% pendapatan di bawah upah minimum regional, 55,4% merawat pasien TB selama 3–6 bulan. Keluarga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan untuk dukungan emosional (rerata 33,72, SD 4,16), dukungan informasi (rerata 33,28, SD 4,09), dukungan instrumental (rerata 32,4, SD3,73), dukungan penghargaan (rerata 28,01, SD 5,93). Kebutuhan tertinggi yaitu bagaimana mendorong pasien melakukan pengobatan secara tuntas (140), informasi pengobatan TB (138), dukungan keuangan untuk biaya pemeriksaan rontgen (114), dan bagaimana mengkaji perilaku pasien dalam mempertahankan kesehatan (133). Keluarga membutuhkan peningkatan kapasitas dalam memberikan dukungan penghargaan selama pengobatan pasien. Kebutuhan akan perawatan kesehatan pada keluarga yang merawat pasien TB dapat dijadikan data dasar dalam mengembangkan program inovatif terintegrasi dengan program DOTS di fasilitas layanan kesehatan dalam meningkatkan dukungan pada pasien TB. Kata kunci: keperawatan keluarga, sistem dukungan, Tuberkulosis paru
Umi Hani, Agus Setiawan, Poppy Fitriyani
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 65-73; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.1061

Abstract:
The number of imprisoned women continues to increase. Imprisonment of women affects them as perpetrators of crime and those who have relationships with and ties to them, such as children. This phenomenological study aims to explore the experience of imprisoned women in Jakarta in playing the role of mother. In-depth interviews were conducted to explore the experiences of seven imprisoned women. Through a thematic content analysis, we identified specific keywords, the results revealing the sadness, anxiety, and feelings of guilt experienced by imprisoned mothers in relation to their child-rearing. Imprisoned mothers also experience difficulties in meeting their children's needs, together with inadequate child-rearing facilities. The situation experienced by imprisoned women influences their family relationships, which can lead to family crises. The results of this study are expected to serve as a reference for professional collaboration between judicial institutions, community nurses, academics, and related parties, increasing the attention paid to imprisoned mothers and children affected by maternal incarceration.Abstrak Pengasuhan Anak oleh Wanita di Penjara: Kesedihan, Kecemasan, dan Perasaan Bersalah. Jumlah wanita yang dipenjara terus mengalami peningkatan. Pemenjaraan bagi perempuan tidak hanya memengaruhi perempuan sebagai pelaku kejahatan, tetapi juga pada subyek yang memiliki hubungan dan ikatan dengan perempuan tersebut, salah satunya adalah anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman wanita yang dipenjara di Jakarta dalam mengasuh anak. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap tujuh wanita yang dipenjara. Melalui analisis konten tematis kata kunci yang ditemukan dalam transkrip wawancara disusun dalam kategori, sub tema, dan tema. Hasil penelitian menjelaskan kesedihan, kecemasan dan perasaan bersalah yang dialami oleh ibu yang dipenjara dalam pengasuhan anak. Para ibu yang dipenjara juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan anak dan fasilitas pengasuhan anak yang tidak memadai. Situasi yang dialami oleh ibu yang dipenjara memengaruhi hubungan dalam keluarga sehingga menghadapi krisis keluarga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk kolaborasi profesional antara lembaga peradilan, perawat komunitas, akademisi, dan elemen terkait untuk meningkatkan perhatian bagi ibu dan anak yang dipenjara yang terkena dampak hukuman penjara ibu. Kata Kunci: pemenjaraan, pengasuhan anak, perawat komunitas, perempuan narapidana
Lina Anisa Nasution, Yati Afiyanti, Wiwit Kurniawati
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 99-109; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.990

Abstract:
Anxiety and depression are psychological distress that often occurs in gynecological cancer patients. However, there are few studies related to interventions to overcome these problems. The purpose of this study was to determine the effect of a spiritual intervention on anxiety and depression in such cancer patients. The research design was quasi-experimental, employing pretest and posttest on the intervention and the control groups. The total number of respondents was 108 patients, consisting of 54 in each group. The instrument used in the study was the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). The spiritual intervention consisted of four sessions, namely an introduction and relaxation session, a control session, an identity session, and a relationship and prayer therapy session, held over two weeks. The data analysis showed a change in the mean score of anxiety and depression in the intervention group after the spiritual intervention (p = 0.001). Also, there were differences in the mean scores of anxiety and depression between the intervention and control groups (p = 0.001). The result implies that spiritual intervention can be applied as part of holistic nursing care for cancer patients, especially gynecological ones.Abstrak Efektifitas Intervensi Spiritual dalam Mengatasi Masalah Kecemasan dan Depresi pada Pasien Kanker Ginekologi. Kecemasan dan depresi merupakan gangguan psikologis yang sering terjadi pada pasien kanker ginekologi. Namun, penelitian terkait intervensi dalam mengatasi masalah tersebut belum banyak dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intervensi spiritual terhadap kecemasan dan depresi pada pasien kanker ginekologi. Desain penelitian ini adalah quasi eksperimen menggunakan kelompok intervensi dan kontrol dengan pre-test dan post-test. Jumlah responden sebanyak 108 pasien yang terdiri dari 54 orang di setiap kelompok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Intervensi spiritual terdiri dari empat sesi: sesi pengenalan dan relaksasi, sesi kontrol, sesi identitas, dan sesi terapi hubungan dan doa, yang diberikan selama dua minggu. Analisis data menunjukkan adanya perubahan rerata skor kecemasan dan depresi pada kelompok intervensi setelah diberikan intervensi spiritual (p = 0,001). Selain itu, terdapat perbedaan rerata skor kecemasan dan depresi antara kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,001). Penelitian ini mengimplikasikan bahwa intervensi spiritual dapat diterapkan sebagai bagian dari asuhan keperawatan holistik pada pasien kanker, terutama yang ginekologi. Kata Kunci: depresi, intervensi spiritual, kanker, kecemasan
Arif Rahman, Titih Huriah
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 118-130; https://doi.org/10.7454/jki.v24i2.864

Abstract:
Health workers are role models in preventing smoking behavior, yet many are smokers themselves. This study reviews and analyzes the smoking behavior of health workers in Asian countries, based on databases such as PubMed, EBSCO, and Google Scholar in 2013–2018. It is shown that the prevalence of smoking amongst health workers was 4.6–44%, with the nursing profession showing a higher level than other health professions and with a higher ratio of male to female smokers. Health workers are aware of the dangers of smoking, including the effects of cardiovascular disease, respiratory disease, oral cancer, atherosclerosis, hypertension, fetal disorders, and infertility. However, the factors that lead to smoking include stress, the influence of friends or family who smoke, and addiction. Health workers are responsible for providing smoking prevention education. However, there are still obstacles to its implementation due to their smoking habits and lack of expertise in educating others. Smoking prohibition policies in the workplace, the training of health workers, and smoking prevention service facilities need to be considered by Asian countries to prevent smoking. Abstrak Analisis Perilaku Merokok pada Petugas Kesehatan di Asia: Literatur Review. Petugas kesehatan merupakan role model dalam pencegahan perilaku merokok, akan tetapi masih banyak petugas kesehatan yang merokok. Studi ini meninjau dan menganalisis perilaku merokok petugas kesehatan di negara-negara Asia, bersumber pada basis data seperti PubMed, EBSCO, dan Google Scholar, tahun 2013–2018. Hasil studi menunjukkan perilaku merokok petugas kesehatan memiliki prevalensi sebesar 4,6–44% dengan profesi keperawatan menunjukkan tingkat yang lebih tinggi daripada profesi kesehatan lainnya, dan dengan rasio perokok laki-laki lebih tinggi dari perokok perempuan. Petugas kesehatan menyadari bahaya merokok dan dampak penyakitnya seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit pernapasan, kanker mulut, aterosklerosis, hipertensi, gangguan janin, dan kemandulan. Faktor yang memengaruhi merokok adalah stres, pengaruh teman atau keluarga yang merokok, dan kecanduan. Petugas kesehatan bertanggung jawab untuk mem-berikan pendidikan pencegahan merokok. Namun, masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya karena kebiasaan pribadi merokok mereka dan kurangnya keahlian dalam mendidik orang lain. Kebijakan larangan merokok di tempat kerja, pelatihan tenaga kesehatan, dan fasilitas layanan pencegahan merokok perlu diperhatikan oleh negara-negara Asia untuk pencegahan perilaku merokok. Kata kunci: perilaku merokok, petugas kesehatan, role model
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 32-41; https://doi.org/10.7454/jki.v24i1.690

Abstract:
Nurses provide care equally and do not discriminate between men and women. However, male nurses face challenges and obstacles, especially when they take care of female patients. This study aimed to explore the experiences of male nurses who look after female patients by using a descriptive qualitative design with a phenomenological approach. Ten male nurse participants aged 26–43 years and having an experience of caring for female patients for at least 2 years were included in this study. Seven themes were identified: the discomfort of female patients and male nurses; patient’s trust and privacy; the identification of factors affected by body image, age, and types of sensitive areas and actions; attention to the religion, personal beliefs, ethics, and culture of patients; professionalism, role, and competencies of nurses; communication strategies and asking for female nurses for assistance based on team methods; and the view of males in the nursing profession. This study focused on two of the main themes: attention to the religion, personal beliefs, ethics, and cultures of patients and communication strategies and asking female nurses on the team for help. Results suggest that nursing facilities need to improve their patient-focused services by considering a patient’s ethical and cultural concerns, using communication strategies, and seeking team assistance when needed in accordance with a hospital’s national accreditation standards. Abstrak Studi Fenomenologi Pengalaman Perawat Laki-Laki dalam Merawat Pasien Perempuan. Perawat memberikan asuhan yang setara dan tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Namun perawat laki-laki menghadapi tantangan dan kendala, terutama saat merawat pasien perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman perawat laki-laki yang merawat pasien perempuan dengan menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sepuluh peserta perawat laki-laki berusia 26–43 tahun dan memiliki pengalaman merawat pasien perempuan setidaknya selama 2 tahun dilibatkan dalam penelitian ini. Tujuh tema diidentifikasi, yaitu ketidaknyamanan pasien wanita dan perawat pria; kepercayaan dan privasi pasien; identifikasi faktor yang dipengaruhi oleh citra tubuh, usia, dan jenis area dan tindakan sensitif; perhatian pada agama, keyakinan pribadi, etika, dan budaya pasien; profesionalisme, peran, dan kompetensi perawat; strategi komunikasi dan meminta bantuan perawat wanita berdasarkan metode tim; dan pandangan laki-laki dalam profesi perawat. Studi ini berfokus pada dua tema utama, yaitu perhatian pada agama, keyakinan pribadi, etika, dan budaya pasien serta strategi komunikasi dan meminta bantuan perawat wanita dalam tim. Hasil menunjukkan bahwa fasilitas keperawatan perlu meningkatkan layanan yang berfokus pada pasien dengan mempertimbangkan masalah etika dan budaya pasien, menggunakan strategi komunikasi, dan mencari bantuan tim bila diperlukan sesuai dengan standar akreditasi nasional rumah sakit. Kata kunci: budaya pasien, etika, pasien perempuan, perawat laki-laki, perawatan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 58-64; https://doi.org/10.7454/jki.v24i1.1093

Abstract:
The Malaysia Ministry of Health reported adolescents’ low utilization of healthcare services, although they need this service as a consequence of their involvement in risky behavior. This cross-sectional study aimed to determine adolescents’ perception on risk-taking behavior and their utilization of health care services. A modified self-administered questionnaire was used to collect data from 250 secondary school students aged 13 and 14 years in one of the selected schools in Malacca, Malaysia. Data were analyzed using SPSS 20. Fast-food consumption, loitering after school, physical fighting, smoking, and non-use of helmets were the most reported risky behaviors among adolescents in Malaysia. More than half of the adolescents who knew about health care services had a positive perception on their utilization of such services. Thus, the promotion of adolescents’ health services helps increase their use of these services and consequently achieve a healthy lifestyle. Abstrak Persepsi Siswa Sekolah terhadap Perilaku Risiko dan Pemanfaatan Layanan Perawatan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan oleh remaja, meskipun mereka membutuhkan layanan ini sebagai konsekuensi dari keterlibatan mereka dalam perilaku berisiko. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja tentang perilaku pengambilan risiko dan pemanfaatannya terhadap layanan perawatan kesehatan. Kuesioner mandiri yang dimodifikasi digunakan untuk mengumpulkan data dari 250 siswa sekolah menengah berusia 13 dan 14 tahun di salah satu sekolah yang dipilih di Malaka, Malaysia. Data dianalisis menggunakan SPSS 20. Konsumsi makanan cepat saji, berkeliaran sepulang sekolah, perkelahian fisik, merokok, dan tidak menggunakan helm adalah perilaku berisiko yang paling banyak dilaporkan di kalangan remaja di Malaysia. Lebih dari setengah remaja yang tahu tentang layanan perawatan kesehatan memiliki persepsi positif tentang pemanfaatan layanan tersebut. Dengan demikian, promosi layanan kesehatan remaja membantu meningkatkan penggunaan layanan ini dan akibatnya mencapai gaya hidup sehat. Kata Kunci: layanan perawatan kesehatan remaja, perilaku berisiko, sekolah
Back to Top Top