Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-4490 / 2354-9203
Total articles ≅ 524
Current Coverage
DOAJ
SCOPUS
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Kusrini Semarwati Kadar, Fitrah Ardillah, Arnis Puspitha,
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 32-41; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1695

Abstract:
Home care services by health professionals, such as doctors, nurses, and other health care professionals, target to provide health care services, including health education, physical examination, or other treatments such as physical therapy or medication. This study aimed to evaluate the implementation of home care (nursing care and home care services) in Makassar City in accordance with government guidelines. A qualitative descriptive study was conducted by interviewing nurses (15 participants) from several community health centers (Puskesmas) in Makassar City, Indonesia who have implemented a home care program for at least a year. Four main themes had emerged, namely, management of home care services, nurses’ roles in home care services, perceived barriers, and community benefits. Despite some barriers, the home care programs delivered by health care professionals including nurses in Puskesmas in Makassar City have been well implemented in accordance with the guidelines. On the basis of the obstacles faced by the nurses, one recommendation is for the government to provide specific guidelines on the types of patients to be included in these services. The government also needs to ensure that the community knows the types of patients’ condition who can avail these services. AbstrakImplementasi Pelayanan Perawatan di Rumah (Home Care) oleh Puskesmas di Kota Makassar, Indonesia. Pelayanan perawatan di rumah (home care) oleh petugas kesehatan seperti dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan meliputi pendidikan kesehatan, pengkajian fisik, atau memberikan terapi fisik ataupun pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian antara implementasi pelaksanaan pelayanan home care di kota Makassar dengan petunjuk teknis pelaksanaan home care dari pemerintah. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada 15 orang perawat dari beberapa Puskesmas di kota Makassar, Indonesia, yang terlibat dalam kegiatan pelayanan home care minimal selama satu tahun. Terdapat empat tema utama yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain, pengelolaan home care, peran perawat dalam pelaksanaan home care, hambatan dalam pelaksanaan home care, dan manfaat dari pelaksanaan home care di kota Makassar. Secara umum, pelaksanaan kegiatan home care sudah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis dengan baik oleh perawat di Puskesmas kota Makassar walaupun masih ada beberapa hambatan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Pemerintah diharapkan membuat petunjuk pelaksanaan (SOP) yang lebih jelas terkait pelaksanaan kegiatan ini atau melakukan pembaharuan regulasi terkait program ini.Kata Kunci: home care, peran perawat, puskesmas
Retno Purwandari, Dicky Endrian Kurniawan, Siti Kusnul Kotimah
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 42-51; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1139

Abstract:
Nursing documentation is assessed in hospital accreditation because it includes the actions taken and the quality of provided care. Hospital accreditation undergoes three phases consist of preparation, implementation, and post-accreditation. In the post-accreditation phase, there is reduced compliance of workers and nurses. This study determines the quality of nursing documentation at the fully accredited hospital by using descriptive and quantitative research with a retrospective approach. A simple random sampling method is used to attain 292 documents. Data are collected using the Evaluation of Nursing Care Instrument by the Ministry of Health Republic of Indonesia. Results show that nursing documentation has poor quality with an average achievement of 80.81%. In terms of components, the implementation is the most complete whereas the intervention and nursing care parts are the least filled out. Most of the factual indicators have good quality but other records have poor completion or compliance. Observation indicators for documentation quality need review to determine the factors that influence the decline in quality. Hospitals need to review and improve nursing documentation to prevent quality deterioration in the post-accreditation survey. Using information technology for documentation can help nurses because the standardized language and linked systems facilitate documentation of the entire care process, and thus enhance its completeness. AbstrakDokumentasi Asuhan Keperawatan pada Rumah Sakit Terakreditasi. Dokumentasi asuhan keperawatan dinilai dalam akreditasi rumah sakit karena berisi seluruh tindakan keperawatan dan mencerminkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. Akreditasi rumah sakit terdiri atas tiga fase yaitu fase persiapan, implementasi, dan pasca akreditasi. Pada tahap pasca akreditasi, biasanya terjadi penurunan kualitas pelayanan. Penelitian ini menelusuri kualitas dokumentasi asuhan keperawatan di Rumah Sakit X yang terakreditasi paripurna dengan menggunakan desain deskriptif kuantitatif melalui pendekatan retrospektif. Sebanyak 292 sampel dokumen diperoleh dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan Instrumen Evaluasi Asuhan Keperawatan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan kualitas dokumentasi keperawatan tidak baik, dengan pencapaian rata-rata 80,81%. Komponen implementasi merupakan yang paling banyak terisi, sedangkan intervensi dan catatan asuhan keperawatan paling sedikit terisi. Sebagian besar indikator faktual memiliki kualitas yang baik, tetapi catatan lain memiliki kelengkapan yang buruk. Indikator observasi kualitas dokumentasi perlu dikaji ulang untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi penurunan kualitas dokumentasi keperawatan. Rumah sakit perlu meninjau dan meningkatkan dokumentasi keperawatan untuk mencegah penurunan kualitas dalam survei pasca akreditasi. Penggunaan teknologi informasi untuk dokumentasi dapat membantu perawat karena adanya standarisasi bahasa dan sistem yang saling terkait memfasilitasi dokumentasi seluruh proses perawatan, dan dengan demikian meningkatkan kelengkapannya.Kata Kunci: akreditasi, asuhan keperawatan, dokumentasi keperawatan, rumah sakit
, Junaiti Sahar, Muchtarrudin Mansyur, Astrid Widayati Hardjono
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 52-61; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1210

Abstract:
The factors associated with changes in work patterns and working hours due to rotating shifts have an effect on the increased risk of health problems in workers. Manufacturing industry workers, specifically those on rotating shift schedules, are at a high risk of various health problems, such as cardiovascular diseases, circadian rhythm problems, social life problems, and stress. These health problems may be worsened by poor lifestyle habits, such as smoking, unhealthy diet, and infrequent physical activity. This research aimed to explore the experience of 12 manufacturing workers on rotating shift schedules in Greater Jakarta, Indonesia. Through a phenomenological approach, this qualitative study employed 12 participants selected from manufacturing industry shift workers. The participants were selected through purposive sampling whom met the inclusion criteria, namely working in three rotating shift patterns (morning, afternoon, and night shift), aged 20–50 years old, having at least three years of experience in shift work, and able to communicate well. Selection was done with the assistance of the supervisors of the participants working in the manufacturing industry. Thematic analysis yielded three themes: the reasons for working shifts, the effects of shift work, and efforts made to maintain health during working shifts. The findings of this study imply the need for occupational health nursing services as the main intervention at the primary and secondary prevention levels. Occupational health nurses provide occupational health nursing services in the workplace in accordance with the nursing intervention model of fatigue management. Abstrak

Suara Pekerja Manufaktur Indonesia dalam Sistem Shift Berputar. Dalam sistem kerja shift, faktor-faktor seperti per-ubahan pola kerja dan jam kerja dapat berdampak pada masalah kesehatan para pekerjanya. Pekerja shift manufak-tur berisiko memiliki berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kardiovaskuler, gangguan irama sirkadian, gangguan pola kehidupan sosial, stres, didukung oleh perilaku pekerja seperti merokok, diet yang buruk serta aktivitas olah raga yang jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para 12 pekerja di sector manufaktur di Indonesia, khususnya di daerah Jakarta dan sekitarnya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan berjumlah 12 didapatkan melalui teknik purposive sampling yang memenuhi krite-ria inklusi: menggunakan sistem kerja rotasi tiga shift (pagi, sore, dan malam), berusia 20–50 tahun, memiliki pengalam-an bekerja sistem rotasi shift minimal tiga tahun, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Proses pemilihan partisipan dilakukan peneliti bersama key person, yaitu supervisor/leader dari beberapa pabrik manufaktur. Analisis tematik yang dilakukan menghasilkan tiga tema: alasan bekerja shift, dampak dari kerja shift, dan upaya para pekerja dalam menjaga status kesehatan. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi implikasi bagi kesadaran terhadap perlunya tenaga kesehatan atau perawat di area kerja atau sektor industri sebagai upaya intervensi utama dan sekunder dalam pencegahan ke-celakaan kerja untuk para pekerja dan keluarga pekerja melalui model keperawatan manajemen kelelahan kerja (MARI-KERJA).

Kata Kunci: kerja shift, pekerja manufaktur, perawat kesehatan kerja, sistem berputar
Agus Purnama, Isti Anindya
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 9-16; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1678

Abstract:
Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) is a frightening global disease, especially because of its high contagiousness. This study aimed to identify the future anxiety regarding immunity status in nursing students who work in hospitals, especially those caring for patients with COVID-19. This study design was cross-sectional with standard translated instruments of the Future Anxiety Scale and Immune Status Questionnaire administered using a Google Form to 102 respondents. Results revealed that among the respondents, 87 experienced severe psychological anxiety (85.3%), 46 experienced moderate social anxiety (45.1%), 42 experienced moderate economic anxiety (41.2%), 38 experienced mild media anxiety (37.3%), 53 experienced mild religious anxiety (52%), 45 experienced moderate general anxiety (44.1%), and 61 had mostly good immunity status (59.8%). The relationship between psychological, social, economic, media, and general anxiety with immunity status was (p = 0.835), (p = 0.052), (p = 0.514), (p = 0.414), (p = 0.160), and (p = 0.123), respectively. In conclusion, a dominant future anxiety rate was found in the respondents but showed no relationship with immunity status. Future studies must include heterogeneous respondents and moderate variables to further improve the accuracy of the findings. The present results serve as justification for a program to address anxiety in nursing students during clinical practice in pandemic times. Abstrak

Kecemasan Masa Depan dan Status Imun pada Mahasiswa Keperawatan Selama Pandemi COVID-19.Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) menjadi salah satu penyakit yang menakutkan di masyarakat global, terlebih karena sifat penularannya yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kecemasan masa depan mahasiswa keperawatan yang bekerja di rumah sakit, khususnya yang merawat pasien COVID-19, terhadap status imunitas mahasiswa itu sendiri. Penelitian ini adalah cross-sectional, dengan menggunakan terjemahan dari Future Anxiety Scale (FAS) dan Immune Status Questionnaire (ISQ) dengan yang difasilitasi aplikasi Google Formulir kepada 102 mahasiswa keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 87 responden mengalami kecemasan psikologis berat (85,3%), kecemasan sosial sedang 46 (45,1%), kecemasan ekonomi sedang 42 (41,2%), kecemasan media ringan 38 (37,3%), kecemasan religi ringan 53 (52%), kecemasan umum sedang 45 (44,1%), status imunitas sebagian besar baik 61 (59,8%). Hubungan antara kecemasan psikologis, sosial, ekonomi, media, dan kecemasan umum dengan status imunitas yaitu (p = 0,835), (p = 0,052), (p = 0,514), (p = 0,414), (p = 0,160), dan (p = 0,123). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat angka kecemasan masa depan yang dominan pada responden tetapi tidak ditemukan hubungannya dengan status imunitas. Pada studi selanjutnya, perlu dilakukan pendekatan penelitian dengan melibatkan responden yang lebih heterogen dengan mempertimbangkan memasukkan variabel moderat untuk lebih meningkatkan akurasi penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian ini menjadi suatu justifikasi tentang perlunya sebuah program untuk mengatasi kecemasan pada mahasiswa keperawatan selama praktik klinik di masa pandemi.

Kata Kunci:COVID-19, imunitas, kecemasan masa depan, perawat
, Angela Massouh, Patricia M Davidson
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 17-31; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1796

Abstract:
This research aimed to provide a comprehensive overview of the current literature on heart failure (HF) management in Lebanon and identify the implications for policy, practice, education, and research. The design of this research was a systematic review following preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses (PRISMA) guidelines. Databases were searched using the search terms “heart failure” and “Lebanon” and associated MeSH terms. The abstracts of the selected articles were examined independently by two researchers; the sample characteristics, HF indices, and results of the included studies were extracted. Key findings and trends were synthesized. Eleven papers were reviewed with 2,774 participants (mean age = 57.98, SD = 13.09 years, and the majority [n = 1,494, 53.85%] were male). Over one-third reported having coronary artery disease, and half had hypertension. The mean ejection fraction was 47.28% (SD = 10.44), and the mean length of hospital stay was 7.97 days (SD = 10.28). Self-care was a common theme showing varying but low scores, especially in the self-management subscale. The findings of this study outline the unique characteristics of the population with HF in a Middle Eastern country. These characteristics should be considered when planning interventions in countries facing geopolitical instability in the context of population aging and the rise of noncommunicable diseases. Abstrak

Tinjauan Pustaka tentang Gagal Jantung di Lebanon. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan rangkuman kajian pustaka terkait manajemen gagal jantung di Lebanon dan mengidentifikasi implikasinya terhadap kebijakan, praktik, pendidikan, dan riset di bidang tersebut. Metode tinjauan sistematis digunakan pada penelitian ini dengan mengacu pada preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses (PRISMA). Beberapa istilah, seperti “gagal jantung” dan “Lebanon” serta istilah dalam medical subject headings (MeHS) lainnya digunakan dalam pencarian pada basis data. Kumpulan abstrak terpilih ditinjau dan diteliti dalam hal: karakteristik sampelnya, indeks gagal jantung, dan hasil penelitiannya. Poin utama temuan dan tren dipadukan. Pada sebelas manuskrip yang telah ditelaah, terdapat 2.774 partisipan (rerata umur = 57,98, SD = 13,09 tahun, dan mayoritas partisipan adalah laki-laki (n = 1.494, 53,85%). Lebih dari sepertiganya mengalami jantung coroner dan setengahnya mengalami hipertensi. Nilai mean untuk pecahan ejeksi sebesar 47,28% (SD = 10,44), dan nilai mean untuk lama rawat inap yang dijalani ialah 7,97 hari (SD = 10,28). Perawatan mandiri adalah tema yang paling sering muncul tetapi dengan variasi skor rendah, khususnya pada subskala manajemen mandiri. Temuan pada penelitian ini menggarisbawahi karakteristik unik pada populasi gagal jantung di negara-negara Timur Tengah. Karakteristik ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merencanakan intervensi pada negara yang menghadapi ketidakstabilan geopolitik, khususnya dalam konteks populasi lansia dan meningkatnya kasus penyakit tidak menular.

Kata Kunci:
gagal jantung, keperawatan, Lebanon, literasi, MENA region, perawatan mandiri
Etty Rekawati, Junaiti Sahar, Dwi Nurviyandari Kusumawati, Arief Andriyanto
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 25, pp 1-8; https://doi.org/10.7454/jki.v25i1.1752

Abstract:
Older people’s health care is carried out by involving the family as a support group. If done optimally, the support provided will help maintain the health of older people. The purpose of the study was to analyze the determinant factors (family support and burden) on the quality and satisfaction of life the older people. This descriptive correlational research was the second stage of previous research related to the identification of caregivers' burden when caring for older people. A sample of 104 respondents was taken through simple random sampling. The results showed that the family support and family burden affected the older people's quality of life (< 0.05), but did not affect the older people's life satisfaction (> 0.05). Family support and burdens affect the QoL for older people, which is due to the family's ability in caring for older people and the need for long-term services at home. Recommendations for health workers, especially nurses, are to focus not only on the elderly but also to the family's physical, psychological, and financial burdens to increase family support. Abstrak

Faktor Determinan dari Kualitas dan Tingkat Kepuasan Hidup Lansia. Lansia yang sehat dapat dicapai dengan melibatkan seluruh anggota keluarga sebagai support group dalam merawat lansia. Karenanya, perawatan yang optimal oleh keluarga dapat menjaga kesehatan lansia itu sendiri. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan (dukungan keluarga dan beban keluarga) pada kualitas hidup dan kepuasan hidup pada lansia. Penelitian deskriptif korelasional ini merupakan studi tahap kedua dari penelitian sebelumnya, yaitu studi identifikasi masalah pada beban yang dihadapi oleh caregiver. Sebanyak 104 responden sebagai sampel untuk studi ini dipilih melalui teknik simple random sampling. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor dukungan dan beban keluarga mempengaruhi kualitas hidup lansia (< 0,05), namun tidak memengaruhi kepuasan hidup pada lansia (> 0,05). Dukungan keluarga yang memengaruhi kualitas hidup lansia terjadi karena faktor kemampuan keluarga itu sendiri dalam merawat lansia dan faktor kebutuhan jangka panjang dalam merawat lansia itu sendiri. Rekomendasi untuk para tenaga kesehatan, khususnya perawat, adalah untuk fokus tidak hanya pada lansia namun juga pada keluarga dari aspek beban fisik, mental dan finansial, untuk meningkatkan dukungan keluarga.

Kata Kunci: kepuasan hidup, kualitas hidup, lansia
Apriliani Siburian, Ching Fen Chang
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 149-156; https://doi.org/10.7454/jki.v24i3.1240

Abstract:
The most prevalent diseases within the world related to major illness and mortality are chronic liver diseases. The developing pervasiveness of chronic liver disease has resulted in increased interest in health-related quality of life, which incorporates the physical well-being of a patient and his emotional and social well-being. This study aimed to define the quality of life of patients with chronic liver disease. This study used the Quality-of-Life Short Form 36 Indonesian version to examine 102 patients with chronic liver disease from two hospitals with a descriptive design. The quality of life of the patients was comparatively low (M ± SD: physical, 42.4 ± 18.33; mental, 48.44 ± 17.19). On both the physical and mental health dimensions of quality of life, the patients in this study scored less than 50 on a scale of 0 to 100, with low scores indicating the low quality of life both physically and mentally. Improving quality of life necessitates a multidisciplinary strategy that combines physical and mental health screening and management. Surrounding support will encourage adaptive coping mechanisms to manage the illness for improving quality of life. AbstrakPenyakit Hati Kronis Menurunkan Dimensi Kesehatan Fisik dan Mental. Penyakit yang paling umum di dunia yang berhubungan dengan penyakit utama dan kematian adalah penyakit hati kronis. Penyebaran penyakit hati kronis yang berkembang telah menghasilkan peningkatan minat pada kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan, yang mencakup kesejahteraan fisik pasien dan kesejahteraan emosional dan sosialnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan kualitas hidup pasien penyakit hati kronis. Penelitian ini menggunakan Quality-of-Life Short Form 36 versi Bahasa Indonesia untuk mengumpulkan data dari 102 pasien dari dua rumah sakit melalui desain deskriptif. Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien relatif rendah (M ± SD: fisik, 42,4 ± 18,33; mental, 48,44 ± 17,19). Pada kedua dimensi kualitas hidup yaitu kesehatan fisik dan mental, pasien dalam penelitian ini mendapat nilai kurang dari 50 pada skala 0 hingga 100, dengan nilai rendah menunjukkan kualitas hidup rendah baik fisik maupun mental. Peningkatkan kualitas hidup pasien memerlukan strategi multidisiplin yang menggabungkan skrining dan manajemen kesehatan fisik dan mental. Dukungan lingkungan akan mendorong mekanisme koping yang adaptif untuk mengelola penyakit dalam meningkatkan kualitas hidup.Kata Kunci: Indonesia, kualitas hidup, penyakit hati kronis, sirosis
Eni Purwanty, Riri Maria, Masfuri Masfuri
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 131-139; https://doi.org/10.7454/jki.v24i3.1000

Abstract:
Surgery for open reduction and internal fixation (ORIF) causes tissue swelling and pain in the surgical area. Swelling and pain can be reduced by performing distal elevation in the area of surgical ORIF. This study aimed to determine the effect of a 20° elevation on swelling and pain level of patients after surgery for ORIF of the lower extremities. A quasi-experimental design with one intervention group (pretest and posttest) and one control group was implemented. Thirty-four post-operative ORIF patients treated in one hospital in South Sumatera met the inclusion criteria and were divided into intervention and control groups. Swelling circumference was measured using tape meters, and pain level was assessed with a numeric rating scale. Dependent t-test, independent t-test, and Pearson correlation were applied for data analysis. Results showed that the average difference in swelling circumference and pain level between pre and post intervention was 1.93 ± 0.25 and 1.29 ± 0.35, respectively. Significant differences were found in the mean swelling circumference and pain level between the intervention and control groups (p = 0.000). Therefore a 20° elevation of lower extremity on the second day after ORIF for two days can be an alternative for nursing intervention to reduce swelling and pain. AbstrakElevasi 20 Derajat untuk Menurunkan Pembengkakan dan Nyeri Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation Ekstremitas Bawah. Pembedahan open reduction and internal fixation (ORIF) menyebabkan pembengkakan jaringan dan nyeri pada area pembedahan. Pembengkakan dan nyeri dapat dikurangi dengan melakukan elevasi distal pada area bedah ORIF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh elevasi 20° terhadap tingkat pembengkakan dan nyeri pada pasien pasca operasi ORIF ekstremitas bawah. Desain kuasi-eksperimental dengan satu kelompok intervensi (pretest dan posttest) dan satu kelompok kontrol diterapkan pada penelitian ini. Tiga puluh empat pasien ORIF pasca operasi yang dirawat di salah satu rumah sakit di Sumatera Selatan memenuhi kriteria inklusi dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Lingkar pembengkakan diukur menggunakan meteran pita, dan tingkat nyeri dinilai dengan skala numerik. Dependent t-test, independent t-test, dan korelasi Pearson digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata perbedaan lingkar bengkak dan tingkat nyeri antara sebelum dan sesudah intervensi masing-masing adalah 1,93 ± 0,25 dan 1,29 ± 0,35. Perbedaan bermakna ditemukan pada rerata lingkar pembengkakan dan tingkat nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000). Oleh karena itu, elevasi 20° ekstremitas bawah pada hari kedua setelah ORIF selama dua hari dapat menjadi alternatif intervensi keperawatan untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri.Kata Kunci: bengkak, ekstremitas bawah, elevasi, nyeri, open reduction and internal fixation
Rhona Marie Caingles Noquiao
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 24, pp 157-164; https://doi.org/10.7454/jki.v24i3.1619

Abstract:
Perhaps an all-encompassing aspiration of everyone who has ever walked the earth is to have lived his/her life to the fullest. However, the life experiences of each individual are the products of the decisions they make. This study aimed to investigate the relationship of older adults in Cabulijan, Tubigon, Bohol, Philippines’ self-esteem, social provisions received from other people, and relationships with other people to the level of their life satisfaction. Specifically, it sought to address the following queries: Is there a significant relationship between self-esteem, social provisions received from other people, and relationships with other people, and relationships with other people and the level of life satisfaction of older adults? Which of the factors of self-esteem, social provisions received from other people, and relationships with other people significantly contribute to the level of life satisfactions of older adults? Fifty respondents 65 years and older comprised the participants of this research. The method used was cross-sectional explanatory design. Frequency, percentage, weighted mean, and Spearman’s rank correlation were the statistical tools applied in this study. The findings clearly indicates support for the research hypotheses advanced in this study that posited the existence of a significant relationship between social provisions received from other people and relationships with other people, respectively, tended to manifest higher life satisfaction. This implies that the research participants with higher ratings of each of the Social Provisions received from other people and Relationship to Other people tend to maintain higher Life Satisfaction whereas Self-esteem has been found out to be of no significant relationship with Life Satisfaction. Abstrak Kepuasan Hidup di Antara Lansia Filipina yang Tinggal di Wilayah Pesisir. Kehidupan yang berkualitas merupakan dambaan semua orang. Namun, kesempatan tersebut tidak dapat dirasakan oleh semua orang karena pada hakikatnya, kehidupan yang berkualitas sangat bergantung pada pilihan hidup tiap individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-esteem pada lansia di Cabuljan, Tubigol, Bohol, Filipina, dukungan, dan hubungan sosial terhadap tingkat kepuasan hidup pada lansia. Penelitian ini juga berfokus menjawab beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: apakah terdapat hubungan yang bermakna antara self-esteem, dukungan sosial, dan hubungan sosial serta tingkat kepuasan hidup pada lansia? Manakah di antara faktor-faktor, seperti self-esteem, dukungan, dan hubungan sosial yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan hidup pada lansia? Sebanyak 50 responden dengan rentang umur 65 tahun ke atas bersedia untuk menjadi responden pada penelitian ini. Metode yang digunakan ialah penelitian eksplanatori dengan desain cross-sectional. Kemudian, instrumen statistika penelitian yang digunakan ialah seperti frekuensi, persentase, rata-rata tertimbang, dan Spearman’s rank correlation. Pada penelitian ini ditemukan bahwa hasil penelitian mendukung hipotesa penelitian yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna pada dukungan dan hubungan sosial dengan kepuasan hidup yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa para responden dengan dukungan dan hubungan sosial yang tinggi memiliki kepuasan hidup yang tinggi juga, namun ditemukan juga bahwa self-esteem tidak memengaruhi tingkat kepuasan hidup pada lansia.Kata Kunci: dukungan sosial, hubungan sosial, kepuasan hidup, lansia, self-esteem
Back to Top Top