Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 14104490 / 23549203
Total articles ≅ 181
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Mohd Khairul Zul Hasymi Firdaus, Urai Hatthakit, Waraporn Kongsuwan, Muhammad Kamil Che Hasan
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1079

Abstract:
Transcultural care is an important aspect of patient care. This review paper discusses the influence of Islamic philosophy on the faith and practices of Muslim patients with diabetes mellitus and its musculoskeletal manifestations. Relevant articles were searched from the electronic databases Cumulative Index of Nursing and Allied Health Literature, PubMed, ProQuest, and Science Direct using the keywords “Islamic philosophy, the influence of Islamic Philosophy in Muslim patients, religious practice during sick, fasting months, and sick.” No time limitation was specified for article selection. The database search yielded 170 potential articles. The abstracts of these articles were screened, and 50 full-length manuscripts were obtained, reviewed, and analyzed for their relevance to the subject matter. Discussions rooted in the ontology, epistemology, and methodology of Islamic philosophy were described in detail to provide a sound understanding its influence on Muslim patients. The ontology of Islamic philosophy is based on four important concepts, namely, the Unity of Allah, the Unity of Creation, the Unity of Thought, and the Unity of Man. The epistemological approach can help Muslim patients search for knowledge on the basis of ontology and three principles, namely, Ilm’ Yaqin, Ainul Yaqin, and Haqqal Yaqin. The ontology and epistemology shape the methodology of Muslim patients’ daily life -according to the Islamic concepts of the Five Pillars and Six True Faiths. The issues patients with diabetes mellitus and its musculoskeletal manifestations encounter usually arise when they need to perform obligations during fasting and prayers. Understanding Islamic philosophy in caring for patients with diabetes is important among healthcare professionals to provide appropriate care. Better healthcare services may be provided to Muslim patients if their specific needs of are fulfilled according to their beliefs and culture. Abstrak Filosofi Islam Memengaruhi Iman dan Praktek Klien dengan Diabetes Mellitus dan Manifestasi Muskuloskeletal-nya: Review. Perawatan transkultural adalah aspek penting ketika memberikan perawatan kepada klien. Artikel tinjauan ini akan membahas tentang filsafat Islam yang memengaruhi keyakinan dan praktik klien diabetes Muslim. Artikel yang relevan dicari dari database elektronik Cumulative Index of Nursing and Allied Health Literature (CINAHL), PubMed, ProQuest, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan 'filsafat Islam, pengaruh Filsafat Islam pada klien Muslim, praktik keagamaan selama sakit, bulan puasa, dan sakit'. Tidak ada batasan waktu pada pemilihan artikel. Pencarian database mengidentifikasi sejumlah 170 artikel. Abstrak disaring dan 50 artikel lengkap diperoleh, ditinjau, dan dianalisis jika relevan. Diskusi rooting pada ontologi, epistemologi, dan metodologi filsafat Islam dijelaskan secara rinci untuk memahami pengaruhnya terhadap klien Muslim. Ontologi filsafat Islam didasarkan pada empat konsep penting; Kesatuan Allah, Kesatuan Ciptaan, Kesatuan Pemikiran, dan Kesatuan Manusia. Pendekatan epistemologis membantu klien Muslim untuk mencari pengetahuan berdasarkan ontologi dan tiga prinsip (Ilm Ya Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqal Yaqin). Ini telah membentuk metodologi klien Muslim dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pada Islam Lima pilar dan Enam Iman Sejati. Masalah klien dengan diabetes mellitus dan manifestasi muskuloskeletalnya biasanya muncul setiap kali melakukan kewajiban saat puasa dan berdoa. Kebutuhan mereka untuk mengamati kepatuhan pengobatan, kontrol diet, doa sehari-hari, dan bagaimana metodologi memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Pemahaman filosofi Islam dalam merawat klien diabetes adalah penting di antara para profesional kesehatan untuk memberikan perawatan yang tepat. Diharapkan bahwa layanan kesehatan yang lebih baik untuk klien Muslim jika kebutuhan spesifik keyakinan dan budaya terpenuhi. Kata kunci: diabetes mellitus, filsafat Islam, manifestasi muskuloskeletal, Muslim
Fitri Fujiana, Setyowati Setyowati, Imami Nur Rachmawati
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1091

Abstract:
Maternity nurses are authorized health workers that provide antenatal care, but their roles and function in antenatal care services are not recognized by the public. This research aims to reveal the experience of pregnant women during antenatal visits in private clinic maternity nursing. Six pregnant women selected using purposive sampling underwent an in-depth interview in this descriptive phenomenological study. Data were analyzed through thematic content analysis with Moustakas approach. Three themes were identified in this study: 1) women experience good communication with maternity nurses; 2) women receive family-centered nursing care; 3) the schedule, cost, facility, and types of service meet the participants’ needs. This study suggests for nurses to improve their competencies in delivering antenatal care according to clients’ needs. AbstrakPengalaman Kehamilan Wanita Selama Masa Perawatan Antenatal di Klinik Mandiri Keperawatan Maternitas. Perawat spesialis maternitas adalah petugas kesehatan berwenang yang menyediakan perawatan antenatal, tetapi peran dan fungsinya dalam layanan perawatan antenatal belum dikenal oleh masyarkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengalaman ibu hamil selama kunjungan antenatal di klinik mandiri keperawatan maternitas. Enam ibu hamil yang dipilih menggunakan purposive sampling menjalani wawancara mendalam dalam studi fenomenologis deskriptif ini. Data dianalisis melalui tematik konten analisis dengan pendekatan Moustakas. Tiga tema diidentifikasi dalam penelitian ini: 1) ibu hamil mengalami komunikasi yang baik dengan perawat maternitas; 2) wanita menerima asuhan keperawatan yang berpusat pada keluarga; 3) jadwal, biaya, fasilitas, dan jenis pelayanan sesuai keinginan ibu hamil. Studi ini menyarankan bagi perawat untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam memberikan pelayanan antenatal sesuai dengan kebutuhan klien.Kata Kunci: antenatal care, ibu hamil, perawat maternitas
Anki Tias Yolanda, Agung Waluyo, Lestari Sukmarini
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 64-73; doi:10.7454/jki.v0i0.537

Abstract:
Pekerja Seks Komersial (PSK) menjadi populasi kunci penularan HIV. Perkembangan sektor pariwisata dan penerimaan masyarakat menjadikan PSK tetap bertahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku seksual berisiko pada PSK dengan HIV positif. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel 80 Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) PSK di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Analisis data menggunakan Chi-Square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara efikasi diri (p< 0,001; OR= 9,365) dan perasaan aman (p= 0,033; OR= 2,762) dengan perilaku seksual berisiko. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan (p= 0,244), pengetahuan (p= 0,110), sikap (p= 0,978), pemakaian narkoba (p= 0,150), konsumsi alkohol (p= 0,642), dan kekerasan seksual (p= 0,968) dengan perilaku seksual berisiko. Pelayanan keperawatan diharapkan lebih berfokus pada upaya promotif dan preventif dengan melibatkan masyarakat dalam meningkatkan rasa aman dan efikasi diri PSK melalui program-program kesehatan dan peningkatan fasilitas kesehatan. Kata Kunci: HIV, pekerja seks komersial, perilaku seksual berisiko Abstract Self-Efficacy and Feeling Secure Associated with Sexual Risk Behavior among HIV-Positive Commercial Sex Workers. Commercial Sex Workers (CSWs) are the key populations of HIV transmission. The development of the tourism sector and the acceptance of the community have made CSWs survive. This study aimed to identify associated factors with sexual risk behavior among HIV Positive CSWs. The design of this study was cross-sectional. The sample size was 80 HIV Positive CSWs from Special Region of Yogyakarta and Central Java. Data analysis used Chi-Square and multiple logistic regression. The results showed a significant relationship between self-efficacy (p<0.001; OR= 9.365) and feeling secure (p= 0.033; OR= 2.762) with risky sexual behavior. There was no significant relationship between income (p= 0.244), knowledge (p= 0.110), attitude (p= 0.978), drug use (p= 0.150), alcohol consumption (p= 0.642), and sexual violence (p= 0.968) with risky sexual behavior. Nursing practices are expected to focus more on promotive and preventive efforts by involving communities in enhancing feeling secure and self-efficacy of CSWs through health programs and improvement of health facilities. Keywords: commercial sex workers, HIV, sexual risk behavior
Rina Setiana
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23; doi:10.7454/jki.v23i1.1211

Abstract:
Table of Content Volume 23 No.1 March 2020
Fitri Wahyuni, Yeni Rustina, Defi Efendi
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 31-40; doi:10.7454/jki.v23i1.551

Abstract:
The incidence of infections in preterm infants is still quite high. In this study, oral care with human breast milk was implemented in risk preterm infants as a precaution. The study was conducted using a quasi-experimental method with a non- equivalent control group and posttest only design in 40 risk preterm infants. The participants were divided into two groups of 20. The data were analyzed using independent t-test and a Wilcoxon test. The results show that this intervention has an effect on the incidence of late-onset sepsis in preterm infants. The effect is based on symptoms: body temperature instability (p = 0.021), C-reactive protein (p = 0.006), and leukocytes (p = 0.020) all indicated differences between the two groups. It is recommended that this practice be adopted as a routine therapy program in perinatology.Keywords: exclusive breastfeeding, late-onset sepsis, oral care, risk preterm infants, sepsis Abstrak Perawatan Mulut Mencegah Sepsis Neonatorum Awitan Lambat pada Bayi Prematur Risiko Tinggi. Angka kejadian infeksi setelah lahir pada bayi prematur masih cukup tinggi. Pelaksanaan intervensi pemberian oral care menggunakan air susu ibu pada bayi prematur risiko tinggi telah dilakukan sebagai pencegahan. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain post-test only, kelompok kontrol non ekuivalen, pada 40 bayi prematur risiko tinggi sebagai sampel. Responden dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 20 responden. Data dianalisis menggunakan uji t independen dan wilcoxon. Hasil Intervensi ini terbukti memiliki manfaat terhadap dalam menurunkan kejadian sepsis neonatorum awitan lambat pada bayi prematur berdasarkan tanda klinis seperti ketidakstabilan suhu tubuh (p value 0,021), hasil pemeriksaan C-Reaktif Protein (p value 0,006) dan leukosit (p value 0,020) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Intervensi ini diharapkan dapat dilanjutkan menjadi program terapi rutin yang akan dilakukan di ruang rawat perinatologi. Kata Kunci: ASI eksklusif, bayi prematur, oral care, sepsis, sepsis neonatorum awitan lambat
Yanuar Fahrizal, Mustikasari Mustikasari, Novy Helena Catharina Daulima
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 1-14; doi:10.7454/jki.v23i1.598

Abstract:
Mental disorders are predicted to increase every year. Patients with severe mental disorders, such as schizophrenia, often engage in violent behavior. The treatment of such patients can use general nursing treatments (anger management with physical therapy, taking medicines regularly, and verbal and spiritual methods) and specialist nursing interventions (assertive training and family psychoeducation). This case report involved 11 patients, with the majority aged between 26 and 60 years, unemployed, high school graduates, unmarried, and with previous inpatient history. Generalist and specialist nursing interventions (assertive training and family psychoeducation) use Roy’s adaptation theory and Stuart’s stress adaptation approach. Nursing interventions were conducted sequentially, starting with generalist nursing interventions, followed by specialist ones. The method used was a pre–posttest in which each patient received generalist and specialist nursing interventions, assertive training, and family psychoeducation, each consisting of five sessions. Results of assertive training therapy and family psychoeducation showed a decrease in the signs and symptoms of violent behavior as well as an improvement in the patient’s ability to overcome the risk of violent behavior. The application of Roy’s adaptation theory and Stuart’s stress adaptation approach is potentially appropriate for the treatment of patients with a risk of violent behavior. Abstrak Perubahan Tanda, Gejala, dan Manajemen Marah pada Pasien dengan Risiko Perilaku Kekerasan Setelah Menerima Pelatihan Asertif dan Psikoedukasi Keluarga Menggunakan Pendekatan Teori Roy: Studi Kasus. Gangguan jiwa secara keseluruhan diprediksikan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Pasien dengan masalah gangguan jiwa berat seperti skizofrenia seringkali melakukan perilaku kekerasan. Penanganan pasien dengan perilaku kekerasan dapat menggunakan tindakan keperawatan generalis (mengontrol marah dengan cara fisik, minum obat teratur, cara verbal dan cara spiritual) dan tindakan keperawatan spesialis (latihan asertif dan psikoedukasi keluarga). Laporan kasus ini melibatkan 11 pasien dengan karakteristik mayoritas usia 26-60 tahun, tidak bekerja, tingkat pendidikan SMA, belum menikah, dan memiliki riwayat dirawat sebelumnya. Tindakan keperawatan yang diberikan adalah tindakan keperawatan generalis dan ners spesialis latihan asertif dan psikoedukasi keluarga dengan menggunakan pendekatan teori adaptasi Roy dan adaptasi stress Stuart. Tindakan keperawatan dilakukan secara berurutan/ bertahap dimulai dengan tindakan keperawatan generalis kemudian dilanjutkan dengan tindakan keperawatan ners spesialis. Metode yang digunakan adalah pre-posttest dimana setiap pasien mendapatkan tindakan generalis serta tindakan ners spesialis latihan asertif dan psikoedukasi keluarga yang masing-masing terdiri dari 5 sesi. Hasil penerapan terapi latihan asertif dan psikoedukasi keluarga menunjukkan terjadinya penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan serta terjadinya peningkatan kemampuan pasien dalam mengatasi risiko perilaku kekerasan. Penggunaan pendekatan teori adaptasi Roy dan teori adaptasi stress Stuart berpotensi sesuai diterapkan pada penanganan pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Kata Kunci: latihan asertif, psikoedukasi keluarga, risiko perilaku kekerasan, skizofrenia
Priyoth Kittiteerasack, Alana Steffen, Alicia Matthews
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 74-84; doi:10.7454/jki.v23i1.1073

Abstract:
In the US, lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) individuals report higher rates of depression compared with heterosexual and cisgender persons. To date, little is known about the mental health of LGBT adults in Thailand. Here, we examined rates and correlates of depression among a volunteer sample of Thai LGBTs. Data were collected as part of a larger cross-sectional survey study. Standardized measures of sexual orientation and gender identity, stress, coping style, and minority stressors were completed. Of the 411 participants, 40.3% met the criteria for depression. In multivariate analyses, the combined influences of sociodemographic factors, general stress, coping strategies, and minority-specific stress variables explained 47.2% of the variance in depression scores (F[16,367]= 20.48, p<.001). Correlates of depression included coping strategies and minority-specific stressors, including experiences of victimization, discrimination, and level of identity concealment. Study findings have implications for psychiatric nursing practice and the development of intervention research. Abstrak Di AS, individu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) melaporkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang heteroseksual dan cisgender. Saat ini, sedikit yang diketahui tentang kesehatan mental pada orang dewasa dengan LGBT di Thailand. Di sini, kami meneliti tingkat dan korelasi depresi di antara sampel sukarelawan LGBT Thailand. Data dikumpulkan sebagai bagian dari studi survei cross-sectional yang lebih besar. Pengukuran terstandar terhadap orientasi seksual dan identitas gender, stres, koping, dan stresor minoritas telah selesai. Dari 411 peserta, 40,3% memenuhi kriteria untuk depresi. Dalam analisis multivariat, pengaruh gabungan faktor sosiodemografi, stres umum, strategi koping, dan variabel stres spesifik-minoritas menjelaskan 47,2% dari varians dalam skor depresi (F [16,367]= 20,48, p< 0,001). Korelasi depresi termasuk strategi koping dan stres spesifik-minoritas, termasuk pengalaman viktimisasi, diskriminasi, dan tingkat penyembunyian identitas. Temuan penelitian memiliki implikasi untuk praktik keperawatan psikiatris dan pengembangan penelitian intervensi. Kata kunci: depresi, LGBT, minoritas seksual dan gender; stres minoritas, Thailand
Nicolette Anne Ubas-Sumagasyay, Ryan Michael F Oducado
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 48-63; doi:10.7454/jki.v23i1.1071

Abstract:
Recruitment and hiring of new graduate nurses is seen as a potential strategy to mitigate the problem of nurse shortage. However, previous studies disclosed that new graduate nurses are inadequately prepared to enter practice and experience transition difficulties. This study aimed to determine the perceived competence and transition experience of new graduate Filipino nurses. Seventy-nine conveniently chosen new graduate nurses were surveyed in this descriptive cross-sectional research. Self-administered instruments were used to gather data. Descriptive statistics, Mann–Whitney U test, and Kruskal–Wallis test were the statistical tools employed. Results indicated that new graduate nurses had a high level of self-reported fundamental nursing skills (M= 7.99) and core competence (M= 8.16), although areas needing improvement were identified. There were no significant differences in the perceived competence based on the length of experience, year graduated, area of assignment, sex, type of school graduated, CPD participation, and hospital bed capacity (p> .05). The major difficulty experienced by new graduates during their transition was related to changes in role expectations (72.2%). Majority expressed the need for increased support during their transition (83.5%). The most satisfying aspects of their working environment were ongoing learning (81%) and peer support (74.7%), while the least satisfying was the negative nursing work environment (55.7%). New graduate nurses are equipped with the necessary nursing skills and core competencies. However, there are still gaps and areas needing improvement that should be addressed and supported to assist them in their transition to the world of professional nursing practice. Follow up, feedback, mentoring, and preceptorship are beneficial to enhance the competencies of new graduate nurses and facilitate their successful transition into the nursing workforce. AbstrakPersepsi Kompetensi dan Pengalaman Transisi Perawat Lulusan Baru Filipina. Rekrutmen dan perekrutan perawat lulusan baru dipandang sebagai strategi potensial untuk mengurangi masalah kekurangan perawat. Namun, penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa perawat lulusan baru tidak cukup siap untuk memasuki praktik dan mengalami kesulitan transisi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persepsi kompetensi dan pengalaman transisi perawat lulusan baru Filipina. Tujuh puluh sembilan perawat lulusan baru yang dipilih dengan mudah disurvei dalam penelitian cross-sectional deskriptif ini. Instrumen yang dikelola sendiri digunakan untuk mengumpulkan data. Statistik deskriptif, uji Mann-Whitney U, dan uji Kruskal-Wallis adalah alat statistik yang digunakan. Hasil menunjukkan bahwa perawat lulusan baru memiliki tingkat tinggi keterampilan keperawatan fundamental yang dilaporkan sendiri (M= 7,99) dan kompetensi inti (M= 8,16), meskipun bidang yang perlu perbaikan diidentifikasi. Tidak ada perbedaan signifikan dalam kompetensi yang dirasakan berdasarkan lama pengalaman, tahun lulus, bidang tugas, jenis kelamin, jenis sekolah yang lulus, partisipasi CPD, dan kapasitas tempat tidur rumah sakit (p> 0,05). Kesulitan utama yang dialami oleh lulusan baru selama transisi mereka terkait dengan perubahan dalam ekspektasi peran (72,2%). Mayoritas menyatakan perlunya peningkatan dukungan selama masa transisi mereka (83,5%). Aspek yang paling memuaskan dari lingkungan kerja mereka adalah pembelajaran berkelanjutan (81%) dan dukungan sebaya (74,7%), sedangkan yang paling tidak memuaskan adalah lingkungan kerja keperawatan negatif (55,7%). Perawat lulusan baru dilengkapi dengan keterampilan keperawatan dan kompetensi inti yang diperlukan. Namun, masih ada kesenjangan dan bidang yang perlu diperbaiki yang harus ditangani dan didukung untuk membantu mereka dalam transisi mereka ke dunia praktik keperawatan profesional. Tindak lanjut, umpan balik, pendampingan, dan pelatihan guru bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi perawat lulusan baru dan memfasilitasi keberhasilan transisi mereka menjadi tenaga kerja keperawatan.Kata kunci: penilaian kompetensi, perawat lulusan baru, keterampilan keperawatan, pengalaman transisi
Stefanus Mendes Kiik, Antonius Rino Vanchapo, Maria Fitrya Elfrida, Muhammad Saleh Nuwa, Siti Sakinah
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 15-22; doi:10.7454/jki.v23i1.900

Abstract:
Falls are a serious consequence of declining physical function. Otago exercise is a strength and balance training program designed to prevent falls and enhance health status among the elderly. This study aimed to investigate the effect of a 12-week Otago exercise intended to reduce the risk of falls and health status among the elderly with chronic illness in the social elderly institution. This quasi-experimental study employed a pre- and post-test design using a control group. The study involved an intervention group (21 respondents) and a control group (21 respondents). The sample used in this study were elderly living in a social elderly institution. The sample was selected using simple random sampling. The data were analyzed using Mann–Whitney test, independent t-test, and Chi-square test. Otago exercise significantly reduced the respondents’ risk of falling and enhanced their health status. Significant differences were observed between the two groups in terms of the risk of fall (p= 0.041) and health status (p= 0.011). Otago exercise significantly improves the health status and reduces the risk of falling among elderly with chronic illness. The exercise can be recommended for older adults with chronic illness in social elderly institutions and communities. Abstrak Efektivitas Latihan Otago terhadap Status Kesehatan dan Risiko Jatuh pada Lansia dengan Penyakit Kronik. Jatuh adalah konsekuensi serius dari penurunan fungsi fisik. Latihan Otago adalah program latihan kekuatan dan keseimbangan yang didesain untuk mencegah jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efek 12 minggu latihan Otago untuk menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia dengan penyakit kronik di Panti Sosial lansia. Penelitian Quasi-eksperimental ini menggunakan pre-post dengan kelompok kontrol. Kelompok intervensi dan kontrol masing-masing terdiri dari 21 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di UPT Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Budi Agung Kupang. Teknik sampling yang digunakan adalah simpel random sampling. Data dianalisis menggunakan Mann-Whitney test, Independent t-test dan Chi-square test. Latihan Otago secara signifikan menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan. Ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal risiko jatuh (p= .041) dan status kesehatan (p= 0.011). Latihan Otago secara signifikan menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan status kesehatan pada lansia dengan penyakit kronik. Kata Kunci: lansia, latihan Otago, penyakit kronik, risiko jatuh, status kesehatan
Putu Inge Ruth Suantika, Yanti Hermayanti, Titis Kurniawan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 41-47; doi:10.7454/jki.v23i1.843

Abstract:
The lack of interest from the public and health workers, such as nurses to carry out a pap test, is one of the triggers of cervical cancer cases. The purpose of this study was to identify the implementation of pap tests and barriers of nurses in Bandung, West Java. This study used a cross-sectional descriptive study design with a sample of 286 married nurses. Data collection was conducted during two months. The analysis was conducted by the Fisher exact test or chi-square test. The results showed that the level of education and religion had a significant relationship with the pap test behavior (p= 0,000; p= 0.031). The most perceived barrier was that respondents felt uncomfortable with the male examiners. So it was recommended to provide female examiners in the ob-gyn section in the hospitals and to improve the nurses' perceptions with pap test. Keywords: barrier, nurse, pap smear, practice Abstrak Perilaku dan hambatan pap smear pada perawat di Kota Bandung, Jawa Barat. Fenomena yang terjadi pada kasus kanker serviks adalah minimnya minat dari masyarakat bahkan petugas kesehatan seperti perawat untuk melakukan pap smear sebagai bentuk pencegahan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pelaksanaan pap smear serta hambatannya pada perawat di Kota Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif cross-sectional dengan jumlah sampel 286 perawat yang sudah menikah. Pengumpulan data dilakukan pada Februari hingga Maret 2018. Analisis menggunakan fisher exact test atau chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan agama memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pap smear (p= 0.000; p= 0.0301). Hambatan yang paling dirasakan adalah responden merasa kurang nyaman dengan pemeriksa laki-laki sehingga direkomendasikan untuk penyediaan pemeriksa perempuan pada bagian obgyn di rumah sakit serta memperbaiki persepsi perawat yang salah terhadap pap smear. Kata Kunci: hambatan, pap smear, perawat, perilaku
Back to Top Top