Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-4490 / 2354-9203
Total articles ≅ 200
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Mahruri Saputra, Ikhsanuddin Ahmad Harahap, Sutomo Kasiman
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 136-144; doi:10.7454/jki.v23i2.645

Abstract:
AV fistula allows external vascular access for hemodialysis patients. Because hemodialysis patients experience puncture wounds and stabbing pain approximately 300 times a year, development of methods to decrease pain intensity are of great importance. Some techniques, such as the Valsalva maneuver, are known to reduce pain. This study aims to assess the effect of the Valsalva maneuver on decreasing the intensity of AV fistula pain in patients receiving hemodialysis. The quasi-experimental research of pre and post without control applying consecutive sampling to get as many as 63 respondents. Pain intensity was measured by using the Numerical Pain Rating Scale (NPRS). The Valsalva maneuver was performed during insertion of the AV fistula needle for 16–20 seconds. The results showed significant differences in pain intensity between before and after the intervention with the difference in mean that is 1.35 (SD = 0.54), t = 19.70, p = 0.001. The Valsalva maneuver is effective in reducing the pain of AV fistula insertion because it stimulates the vagus nerve to induce an antinociceptive effect. Nurses are highly recommended to teach the Valsalva maneuver to patients undergoing routine hemodialysis. Abstrak Pemberian Teknik Manuver Valsalva terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Penusukan Arteriovenous Fistula pada Pasien Hemodialisis. Arteriovenous (AV) fistula merupakan akses vaskuler eksternal pasien hemodialisis. Pasien hemodialisis mengalami luka tusuk dan nyeri akibat penusukan sekitar 300 kali setahun sehingga perlu diberi tindakan untuk membantu mengatasinya. Beberapa teknik diketahui dapat menurunkan nyeri seperti teknik Valsalva manuver. Penelitian ini bertujuan menilai efek teknik Valsalva manuver terhadap penurunan intensitas nyeri penusukan AV fistula pada pasien hemodialisis. Penelitian quasi eksperimen pre dan post tanpa kontrol menerapkan consecutive sampling untuk mendapatkan sebanyak 63 responden. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS). Valsalva manuver dilakukan saat penusukan jarum AV fistula selama 16-20 detik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi dengan selisih mean yaitu 1,35 (SD=0,54), t=19,70, p=0,001. Valsalva manuver efektif menurunkan nyeri penusukan AV fistula karena menstimulasi saraf vagus dalam menginduksi efek antinociceptif. Teknik Valsalva manuver sangat direkomendasikan kepada perawat untuk mengajarkan teknik ini pada pasien yang menjalani hemodialisis rutin. Kata Kunci: AV fistula, hemodialisis, intensitas nyeri, Valsalva manuver
Rina Setiana
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23; doi:10.7454/jki.v23i2.1305

Abstract:
Table of Content Volume 23 No.2 July 2020
Ma. Mayla Imela M Lapa, Laurence L Garcia, Endrex P Nemenzo
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 145-154; doi:10.7454/jki.v23i2.985

Abstract:
There is an increasing share of people aged 50 years and over in the labor market structure and the rapid aging of the global workforce that supports the latter claim but with a little tank of information on qualitative research describing the experiences of a working octogenarian. An octogenarian is a person who is between 80 and 89 years old. This study aimed to investigate the experiences of a working octogenarian in her fieldwork through a qualitative case study analysis. From the interview, the following three themes were revealed: (a) Work as a legacy, (b) Work as an advocacy, and (c) Work as an opportunity. In the first theme, the participant described that she had a laden path and a mission. These had been sustained along with the desire to serve and make a difference. In work as advocacy, she presented the vision to make the lives of the elderly better by making the environment compatible with her aspiration extending beyond the confines of her organization. Considering every work that she took part in as an opportunity to explore and further her vision was the very core of the theme “work as an opportunity.” Working beyond 80 years old becomes possible when one dedicates the undertakings in the fulfillment of the individual’s vision and mission. Abstrak Bekerja di Atas Usia 80: Sebuah Studi Kasus Kualitatif tentang Arti Bekerja bagi Seorang Tenaga Kerja Octogenarian. Terdapat peningkatan jumlah orang yang berusia 50 tahun ke atas dalam struktur pasar tenaga kerja dan penuaan dini dari tenaga kerja global yang mendukung klaim terakhir, namun masih sedikit informasi tentang penelitian kualitatif yang menggambarkan pengalaman seorang oktogenarian yang bekerja. Seorang octogenarian adalah orang yang berusia antara 80 dan 89 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengalaman seorang oktogenarian yang bekerja pada lapangan kerjanya melalui analisis studi kasus kualitatif. Berdasarkan wawancara, tiga tema berikut terungkap: (a) Bekerja sebagai warisan, (b) Bekerja sebagai advokasi, dan (c) Bekerja sebagai peluang. Pada tema pertama, peserta menggambarkan bahwa dia memiliki jalan yang sarat dan misi. Hal ini telah dipertahankan dengan keinginan untuk melayani dan membuat perbedaan. Pada tema bekerja sebagai advokasi, ia mempresentasikan visi untuk membuat kehidupan lansia menjadi lebih baik dengan membuat lingkungan yang sesuai dengan aspirasinya melampaui batas organisasinya. Mempertimbangkan setiap pekerjaan yang ia ambil sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi dan memajukan visinya adalah inti dari tema “bekerja sebagai sebuah peluang.” Bekerja lebih dari 80 tahun sangat mungkin ketika seseorang mendedikasikan upaya dalam pencapaian visi dan misi individu. Kata Kunci: aging, gerontologi, octogenarian, pekerja, tenaga kerja
Khairunnisa Batubara, Bustami Syam, Sri Eka Wahyuni
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 111-118; doi:10.7454/jki.v23i2.1132

Abstract:
Low nurses’ performance is related with increased job demands and unprofessional job resources. This cross-sectional study aimed to analyze the effects of the job demands–resources model on the performance of associate nurses. The study population was composed of 126 nurses randomly selected. Data were analyzed using the multiple linear regression test. The results showed that job demands and job resources significantly affected the performance of associate nurses. A moderate or heavy level of job demands supported with good job resources will have a positive effect on nurse motivation; thus, nurse’s performance remains good. Job demands must be balanced with job resources, which is important in formulating an organizational policy model that contributes to improving nurse performance.Abstrak Model Tuntutan-Sumber Daya Pekerjaan Memengaruhi Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit. Kurangnya kinerja perawat berkaitan dengan tuntutan pekerjaan yang meningkat dan sumber daya pekerjaan yang tidak profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh job demands-resources model terhadap kinerja perawat pelaksana dengan menggunakan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 126 perawat ruangan rawat inap dan menggunakan teknik simple random sampling. Analisis dilakukan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demands-resources model berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana. Tuntutan pekerjaan pada kategori sedang maupun berat namun diimbangi dengan sumber daya pekerjaan yang baik, maka perawat memiliki motivasi yang bersifat positif sehingga kinerja perawat tetap baik. Direkomendasikan pada pihak manajemen agar tuntutan pekerjaan yang diberikan harus diseimbangkan dengan sumber daya pekerjaan sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan model kebijakan organisasi yang berkonstribusi dalam meningkatkan kinerja perawat. Kata Kunci: job demands-resources model, kinerja perawat
Akhyarul Anam, Lestari Sukmarini, Agung Waluyo
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 85-92; doi:10.7454/jki.v23i2.582

Abstract:
The prevalence of chronic renal failure in Indonesia tends to increase in the lower age group (45–54 years). Chronic renal failure may lead to impaired sexual function. A descriptive phenomenology study with in-depth interviews was carried out with 12 participants, and thematic content analysis was applied. Six themes were revealed, as follows: 1) adaptation process to sexual dysfunction experienced, 2) sexual dysfunction experience, 3) importance of fulfilling sexuality needs, 4) behavior in dealing with sexual dysfunction, 5) perception of the cause of sexual dysfunction, and 6) participants’ expectation of health service related to sexual function. The experience of adapting to sexual dysfunction became a meaningful process through partner involvement. Similar research involving more heterogeneous samples would benefit further discourse. Abstrak Adaptasi Terhadap Disfungsi Seksual Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis. Prevalensi gagal ginjal kronis di Indonesia cenderung meningkat pada kelompok usia lebih muda (45-54 tahun). Gagal ginjal kronis sering menyebabkan gangguan fungsi seksualitas (disfungsi seksual). Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran mendalam tentang pengalaman proses adaptasi pasien gagal ginjal kronis yang mengalami disfungsi seksual. Desain penelitian menggunakan deskriptif fenomenologi dengan wawancara mendalam. Dua belas partisipan diperoleh dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini teridentifikasi enam tema yaitu 1) proses adaptasi terhadap disfungsi seksual yang dialami partisipan, 2) disfungsi seksual yang dialami, 3) makna pentingnya pemenuhan kebutuhan seksualitas, 4) perilaku dalam menghadapi disfungsi seksual, 5) persepsi tentang penyebab disfungsi seksual, dan 6) harapan partisipan terhadap pelayanan kesehatan terkait fungsi seksualitas. Proses adaptasi yang dialami partisipan merupakan pengalaman yang sangat bermakna karena melibatkan dirinya sendiri dan hubungan interpersonal dengan pasangannya. Penelitian sejenis dengan sampel lebih heterogen diperlukan untuk memperkaya keilmuan. Kata Kunci: disfungsi seksual, gagal ginjal kronis, pengalaman proses adaptasi pasien
Mohd Said Nurumal, Najwatul Madihah Sabran, Siti Hazariah Abdul Hamid, Muhammad Kamil Che Hasan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 119-127; doi:10.7454/jki.v23i2.1088

Abstract:
As a vital part of patient care delivery, patient safety culture contributes to the quality of care provided by nurses. Safe patient care is positively linked to the attitudes of nurses. This study aimed to assess the perception of nurses working in a newly established teaching hospital. A cross-sectional study involving 194 nurses from three different units was conducted by using a 24-item Hospital Survey of Patient Safety Culture. Data on gender, working unit, age, years of working, and attendance in workshops on patient safety were also collected. The majority of the nurses had a positive total score of patient safety culture. The lowest score was 76 (63%), and the highest score was 120 (96%). The awareness on patient safety culture significantly differed between gender, years of working, and working units. Post-hoc comparisons using Tukey’s HSD test yielded a significant difference between nurses from critical care units and those from medical and surgical units. The mean score and total positive score on awareness on patient safety culture of the former were higher than those of the latter. Overall, the majority of the staff nurses in International Islamic University Malaysia Medical Center had a positive total score on awareness on patient safety culture. Awareness on patient safety, which is considered crucial worldwide, should be enhanced to influence the development of a positive patient safety culture within hospitals. This implementation would directly develop high-quality care to patients and positively impact health organizations.Abstrak Kesadaran Perawat terhadap Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Universitas yang Baru Dibangun. Sebagai bagian penting dari pemberian perawatan pasien, budaya keselamatan pasien berkontribusi pada kualitas perawatan yang diberikan oleh perawat. Perawatan pasien yang aman secara positif terkait dengan sikap perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi perawat yang bekerja di rumah sakit pendidikan yang baru dibangun. Sebuah studi cross-sectional yang melibatkan 194 perawat dari tiga unit yang berbeda dilakukan dengan menggunakan Survei Rumah Sakit Budaya Keselamatan Pasien. Data tentang jenis kelamin, unit kerja, usia, tahun kerja, dan kehadiran dalam lokakarya tentang keselamatan pasien juga dikumpulkan. Mayoritas perawat memiliki skor total positif dari budaya keselamatan pasien. Skor terendah adalah 76 (63%), dan skor tertinggi adalah 120 (96%). Kesadaran tentang budaya keselamatan pasien berbeda secara signifikan antara jenis kelamin, tahun kerja, dan unit kerja. Perbandingan post-hoc menggunakan uji HSD Tukey menghasilkan perbedaan yang signifikan antara perawat dari unit perawatan kritis dan mereka dari unit medis dan bedah. Skor rata-rata dan skor total positif pada kesadaran tentang budaya keselamatan pasien dari yang pertama lebih tinggi daripada yang terakhir. Secara keseluruhan, mayoritas staf perawat di International Islamic University Malaysia Medical Center memiliki skor total positif pada kesadaran tentang budaya keselamatan pasien. Kesadaran akan keselamatan pasien, yang dianggap penting di seluruh dunia, harus ditingkatkan untuk memengaruhi perkembangan budaya keselamatan pasien yang positif di rumah sakit. Implementasi ini secara langsung akan mengembangkan perawatan berkualitas tinggi kepada pasien dan berdampak positif bagi organisasi kesehatan.Kata Kunci: budaya, perawat, keselamatan pasien, rumah sakit
Rasmawati Rasmawati, Budi Anna Keliat, Herni Susanti
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 102-110; doi:10.7454/jki.v23i2.653

Abstract:
Heart failure and hypertension are non-communicable diseases that are responsible for 70% of deaths worldwide and cause anxiety and impaired body image. Nursing interventions (therapy in general) and acceptance and commitment therapy increase patients’ acceptance of the disease and commitment to alleviate anxiety and improve impaired body image. Meanwhile, family psychoeducation improves the family’s ability to care for the patient. This case report presents two patients with heart failure and hypertension. The two patients experienced a decrease in symptoms on the cognitive aspects (difficulty concentrating, focusing on self, and decline body changes), affective aspects (worry, shame, and despair), physiological aspects (sleep disorders and appetite), and behavioral aspects (daydreaming, decreased productivity, and social difficulties). Patients who find difficulty enjoying daily activities and increasing their ability and commitment to overcome anxiety and impaired body image should receive nursing intervention, acceptance and commitment therapy, and family psychoeducation as part of nursing services. Abstrak Peningkatan Kemampuan Klien Merawat Ansietas dan Gangguan Citra Tubuh: Laporan Kasus Acceptance and Commitment Therapy dan Psikoedukasi Keluarga. Gagal jantung dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab 70% kematian di dunia serta menyebabkan ansietas dan gangguan citra tubuh. Tindakan keperawatan ners dan ners spesialis Acceptance and commitment therapy diberikan pada klien agar dapat meningkatkan penerimaan terhadap penyakit dan komitmen merawat ansetas dan gangguan citra tubuh. Psikoedukasi keluarga dilakukan agar keluarga mampu membantu merawat klien dalam menghadapi penyakitnya. Metode yang digunakan berupa laporan kasus dalam bentuk case series pada dua klien dewasa dengan gagal jantung dan hipertensi. Hasil menunjukkan bahwa kedua klien mengalami penurunan gejala pada aspek kognitif berupa sulit konsentrasi, fokus pada diri sendiri, tidak menerima perubahan tubuh; afektif: khawatir, malu dan putus asa; aspek fisilogis: gangguan tidur dan tidak nafsu makan; perilaku: melamun, penurunan produktivitas; dan sosial: sulit menikmati kegiatan harian serta terjadi peningkatan kemampuan klien dalam menerima penyakit dan komitmen merawat ansietas dan gangguan citra tubuh. Pemberian tindakan keperawatan ners dan ners spesialis acceptance and commitment therapy serta psikoedukasi keluarga perlu dibudayakan dalam pemberian pelayanan keperawatan di unit umum. Kata Kunci: acceptance and commitment therapy, ansietas, gangguan citra tubuh, hipertensi, psikoedukasi keluarga
Agnes Pude Lepuen, Cicilia Nony Ayuningsih Bratajaya, Sada Rasmada
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 128-135; doi:10.7454/jki.v23i2.1050

Abstract:
Tuberculosis (TB) is a difficult health problem to overcome. Active case finding is an important step in managing this infectious disease. However, the prevalence of TB case finding among cadres at the community level is low because of the stigma attached to TB, difficulty in geographical coverage, low public awareness, and social economic barriers. In addition, the empowerment and intention of cadres to perform community-based TB case finding are not optimal yet. This cross-sectional study aimed to determine the intention of TB case finding among 162 public health cadres at one district. Convenient sampling technique was employed in this study. Relationship analyses were performed using Chi-Square test. Results suggested that three factors, namely, attitude, subjective norm, and perceived behavior control influenced the intention to practice TB case finding among cadres. Public health care providers must encourage cadres to practice active TB case finding and understand the benefits and burdens encountered by cadres during TB case finding. Abstrak Praktik Penemuan Kasus Tuberkulosis: Niat Kader. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan yang sulit diatasi. Penemuan kasus TB secara aktif merupakan langkah awal yang menjadi kunci keberhasilan dalam penanganan kasus TB, namun angka penemuan kasus TB masih rendah. Kader belum dapat melakukan pendeteksian dini kasus TB secara optimal. Selain itu sebagai penemu kasus TB di masyarakat, kader memiliki berbagai tantangan dalam upaya menemukan kasus TB, salah satunya adalah niat untuk menemukan kasus TB mengingat banyak stigma yang muncul terkait penyakit TB, keadaan geografi yang sulit dijangkau, rendahnya kesadaran masyarakat, dan kendala biaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensi atau niat kader dalam menemukan kasus TB. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan melibatkan 162 kader kesehatan di sebuah kecamatan. Metode pengambilan sampel menggunakan convenient sampling. Analisa hubungan menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan ketiga faktor yaitu sikap, norma subjektif, dan kendali perilaku yang dirasakan memiliki hubungan dengan intensi dalam menemukan kasus TB. Maka dapat disimpulkan, dukungan tenaga kesehatan sangat penting dalam meningkatkan praktik penemuan kasus TB dan penting untuk memperhatikan manfaat dan tantangan yang ditemui oleh kader dalam menemukan kasus TB. Kata Kunci: kader kesehatan, kontrol kendali yang dirasakan, niat, norma subjektif, sikap, penemuan kasus Tuberkulosis
Ni Luh Nopi Andayani, Ari Wibawa, Made Hendra Satria Nugraha
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 93-101; doi:10.7454/jki.v23i2.988

Abstract:
Excessive activity in the hands and wrists over a prolonged period of time can cause repetitive strain injury, which leads to the occurrence of carpal tunnel syndrome. The purpose of this study is to determine the differences in the effectiveness of ultrasound and neural mobilization interventions with ultrasound and passive stretching in reducing hand disabilities in patients with carpal tunnel syndrome. It is an experimental study, using the pre- and post-test control group design. The sampling technique employed was simple random sampling, with a study sample comprising 30 people. The difference test with an independent t-test showed a significant difference between the control group and the treatment group (p= 0.000), with a decrease hand disability percentage of 7% in the control group and 15% in the treatment group. Based on the results, it can be concluded that the combination of ultrasound and neural mobilization is more effective in reducing hand disability than a combination of ultrasound and passive stretching in patients with carpal tunnel syndrome. Abstrak Aktivitas yang berulang pada pergelangan tangan apabila berlangsung lama dapat menimbulkan repetitive strain injury yang berujung terhadap terjadinya carpal tunnel syndrome. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas intervensi ultrasound dan neural mobilization dengan ultrasound dan passive stretching dalam menurunkan disabilitas tangan pada pasien carpal tunnel syndrome. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian pre-test and post-test control group design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan cara simple random sampling. Sampel penelitian pada penelitian ini berjumlah 30 orang. Uji beda selisih dengan independent t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p= 0,000) dengan persentase penurunan disabilitas tangan sebesar 7% pada kelompok kontrol dan 15% pada kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi ultrasound dan neural mobilization lebih efektif dalam menurunkan disabilitas tangan daripada kombinasi ultrasound dan passive stretching pada pasien carpal tunnel syndrome. Kata kunci: carpal tunnel syndrome, disabilitas tangan, neural mobilization, passive stretching, ultrasound
Edianto Edianto, Agung Waluyo, Sri Yona, Ina Martiana
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1101

Abstract:
Men who have sex with men living with HIV (MSM-LWH) experience psychological and social issues, including depression, anxiety, fear of infecting others, frustration, and social isolation. They may also experience problems in their relationships due to a fear of social stigma, such as marital issues, family conflicts, a lack of family support, economic difficulties, and social rejection by the family. This research aimed to assess the relationship between HIV status disclosure and stress in MSM-LWH in Medan, Indonesia. Here, a cross-sectional design and the convenience sampling technique were used. A total of 176 respondents who were MSM, HIV positive, and residents of Medan City were included in this work. Data were collected by means of HIV Status Disclosure questionnaires and a Perceived Stress Scale (PSS). Overall, 70.9% respondents reported disclosing their status to others and approximately half revealed experiencing stress. Moreover, HIV status disclosure was significantly associated with stress (p= 0.025). This study reveals that HIV status disclosure may result in negative effects on MSMLWH, represent a barrier to medical treatment, and increase internal stress. Abstrak Hubungan antara Status Disclosure dengan Stres pada Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki dengan HIV. Lelaki yang berhubungan Seks dengan lelaki (LSL) yang hidup dengan HIV mengalami maslah psikologis dan social termasuk depresi, kecemasan, ketakutan menulari orang lain, frustasi dan isolasi sosial. Selain itu juga mengalami masalah dalam hubungan sosial karena takut akan stigma, konflik dalam keluarga, kurangnya dukungan keluarga, kesulitan ekonomi dan penolakan oleh keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status disclosure HIV dengan stress pada LSL yang hidup dengan HIV di Medan, Indonesia. Metode yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan teknik convenience sampling. Sebanyak 176 responden LSL dengan HIV positif dan tinggal di wilayah kota Medan. Data dikumpulkan dengan menggunakan HIV Status Disclosure Questionare dan Perceived Stress Scale (PSS). Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 70,9% responden memiliki status disclosure HIV rendah, sementara itu sebanyak 55,1% resonden mengalami stress yang tinggi. Status disclosure HIV secara bermakna dikaitkan dengan stress (p= 0,025; α= 0,05). Dapat disimpulkan bahwa status disclosure HIV dapat memberikan efek negatif pada LSL yang hidup dengan HIV dan menjadi penghalang untuk perawatan medis dan meningkatkan stress internal. Kata Kunci: HIV, status disclosure, lelaki yeng berhubungan seks dengan lelaki, stres
Back to Top Top