Jurnal Keperawatan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-4490 / 2354-9203
Total articles ≅ 215
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Stepanus Maman Hermawan, Hany Wihardja
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1074

Abstract:
Cerebrovascular accident (CVA) is neurological deficit condition caused by an acute focal injury of the central nervous system by cerebral infarction or intracerebral hemorrhage. CVA patients who do not reduce risk factors after the first attack have an 8.7 times higher risk of CVA recurrence. The effect of a recurrent CVA is six times greater than the risk of a first CVA in the general population of the same age and sex, and nearly half of them remain alive but are physically disabled. This case report illustrates the process of recurrent CVA and disability experienced by a 69-year-old Malay woman, a patient at a private hospital in West Kalimantan. The nursing strategy of two post-CVA physical rehabilitation exercise programs for patients during hospitalization will be explained according to the stages in nursing theory. Abstrak Mengejar Kebutuhan Aktivitas Fisik pada Pasien CVA Berulang Selama Hospitalisasi: Laporan Kasus. Cerebrovaskuler Accident (CVA) adalah kondisi sebagai defisit neurologis karena cedera akut pada sistem saraf pusat disebabkan infark serebral atau perdarahan intraserebral. Pasien CVA yang tidak menurunkan faktor risikonya secara optimal setelah serangan pertama memiliki risiko CVA berulang sebesar 8,7 kali lebih tinggi. Efek dari CVA berulang adalah 6 kali lebih besar dari episode CVA pertama pada populasi umum, usia dan jenis kelamin yang sama, hampir setengah dari mereka tetap hidup tetapi mengalami cacat secara fisik. Laporan kasus ini menggambarkan gambaran penyakit CVA berulang dan kecacatan yang dialami seorang wanita Melayu berusia 69 tahun, seorang pasien di Rumah Sakit Swasta, Kalimantan Barat. Strategi keperawatan untuk dua program latihan rehabilitasi fisik pasca-CVA bagi pasien selama hospitalisasi akan dijelaskan sesuai dengan tahapan pada teori keperawatan. Kata Kunci: aktivitas fisik, recurrent cerebrovascular accident, hospitalisasi
Agrina Agrina, Febriana Sabrian, Oswati Hasanah, Erika Erika, Yesi Hasneli
Jurnal Keperawatan Indonesia; doi:10.7454/jki.v0i0.1083

Abstract:
This study examined breastfeeding practices and self-efficacy among mothers residing in rural areas. A cross-sectional study was conducted for 104 mothers via purposeful sampling in a Posyandu (maternal and child health service) in Kampar district, one of the rural areas in Riau, Indonesia. The Breastfeeding Self-Efficacy Scale Short Form (BSES-SF) was used in the questionnaires to collect data. Chi-square test was used for bivariate analysis. Majority of the respondents (71.2%) were 20–35 years old; 69.3% of the respondents’ level of education were low (such as junior and senior high school levels). Approximately 91.3% of them were housewives. Exclusive breastfeeding prevalence was only 30.8%, with insufficient milk being the most common reason cited by the mothers as failure to breastfeed exclusively. Porridge and mineral water were the most commonly supplied food given to babies under 6 months among 31.7% and 36.5% mothers, respectively. The respondents faced some breast problems, where 72.1% mothers did not have good breastfeeding skills. Approximately 59.6% mothers had higher breastfeeding self-efficacy than the mean score for BSES-SF, which was 58.58 (11.58 standard deviation [SD]). Mothers’ age was significantly correlated with the BSES among mothers (p < 0.01). Increasing young mother’s breastfeeding self-efficacy during the antenatal care period is important to lower these young mothers’ perception of having insufficient milk. Abstrak Praktik Menyusui dan Efikasi Diri Ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang praktik pemberian air susu ibu (ASI) dan efikasi diri ibu menyusui di daerah pedesaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional pada 104 ibu yang berkunjung ke Posyandu sebagai tempat pos kesehatan untuk ibu dan anak yang diambil menggunakan teknik purposive samping. Alat penggumpulan data menggunakan kuisioner breastfeeding self-efficacy Scale Short Form (BSES -SF) yang telah valid dan realiabel pada penelitian sebelumnya. Analisis chi square digunakan pada analisa bivariate. Mayoritas usia responden adalah berada pada rentang 20-35 tahun (71,2%) dengan pendidikan yang terbanyak adalah sekolah menengah pertama dan atas (69,3%). Hampir seluruh responden tidak memiliki pekerjaan diluar rumah (91,3%). Hanya 30,8% ibu memberikan ASI saja dengan alasan utama ASI yang tidak cukup sebagai alasan utama. Sebagai alternatif maka ibu memberikan bubur dan air putih sebagai makanan utama kepada bayi sebelum berusia 6 bulan. Kebanyakan ibu mengalami masalah dalam menyusui dan hanya 27,9% ibu memiliki kemampuan yang tepat dalam menyusui. 59,6% efikasi diri ibu menyusui di atas mean efikasi diri responden (58,58, SD 11,58). Usia ibu signifikan berhubungan dengan efikasi diri ibu menyusui (p< 0,01). Perlu ditingkatkan efikasi diri pada ibu muda selama masa kehamilan agar persepsi ibu tentang kecukupan ASI menjadi lebih baik. Kata Kunci: efikasi diri, ibu, praktik nenyusui
Rina Setiana
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23; doi:10.7454/jki.v23i3.1500

Lida Nurlainah, Imas Rafiyah, Indra Maulana
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 210-216; doi:10.7454/jki.v23i3.963

Abstract:
Psychotic disorders are the most severe form of mental illness. The family is the primary supporter of patients with psychosis; as such, the family is likely to experience stress when caring for psychotic patients and assisting in their recovery. Data analysis regarding stress within families could inform the types of support that family members receive. This study aimed to determine stress within families of psychotic patients in Garut, Indonesia. A descriptive study was carried out using a quantitative approach. The samples collected were of the families who visited an outpatient clinic in Garut. A purposive sample of 70 respondents using the Slovin formula (10%) was recruited. Data were collected using the 42 Depression Anxiety Stress Scale (DASS) questionnaire, and univariate analysis was conducted. Results showed that 5.7% of the respondents experienced medium stress, 54.4% experienced mild stress, 41.4% did not experience stress, and only one person (1.4%) experienced severe stress. The findings suggest that families with psychotic patients experience stress. Further research is recommended to examine the factors and levels of stress within families of long-term acute psychotic patients. Abstrak Stres dalam Keluarga Pasien dengan Gangguan Psikotik. Gangguan psikotik adalah bentuk penyakit mental yang paling parah. Keluarga adalah pendukung utama pasien yang menderita psikosis,keluarga cenderung mengalami stres ketika merawat pasien psikotik dan membantu dalam pemulihan mereka. Analisis data mengenai stres keluarga dapat menginformasikan jenis dukungan yang diterima anggota keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stres keluarga dengan pasien psikotik di Garut, Indonesia. Studi deskriptif dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Sampel yang dikumpulkan adalah dari keluarga yang mengunjungi klinik rawat jalan di daerah Garut. Sampel purposive dari 70 responden menggunakan rumus Slovin (10%) yang direkrut. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner 42 Depression Anxietystress Scale (DASS) dengan melakukan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5,7% responden mengalami stres sedang, 54,4% mengalami stres ringan, 41,4% tidak mengalami stres, dan hanya satu orang (1,4%) mengalami stres berat. Dapat disimpulkan dari temuan bahwa keluarga dengan pasien psikotik mengalami beberapa bentuk stres. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk memeriksa faktor-faktor dan tingkat stres keluarga dengan pasien psikotik akut lama. Kata Kunci: keluarga, psikotik, stres
Taufik Alhidayah, Fransisca Sri Susilaningsih, Irman Somantri
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 170-183; doi:10.7454/jki.v23i3.975

Abstract:
Patient safety is one of the five crucial hospital safety issues. This study aimed to determine factors related with nurses’ compliance in the implementation of indicators of patient safety goals (IPSG 1, IPSG 2, IPSG 5, and IPSG 6). This study was a descriptive correlative with a cross-sectional approach. Samples were recruited using a purposive sampling technique (n = 102). Data were analyzed using chi-square and Mann–Whitney tests. The results of this study indicate that the leadership style of the head nurse, rewards, attitudes, and motivation had a significant relationship with the level of adherence in the implementation of IPSG 1 and IPSG 2. The level of nurses’ compliance in the implementation of IPSG 5 was only influenced by the leadership style of the room head and the nurses’ positive attitude. None of the factors had significant relationships with the level of nurses’ compliance in the implementation of IPSG 6. The consultative leadership style of the room head can change the level of nurses’ compliance in the implementation of IPSG 1 by 5.6 times, with 5.06 times toward IPSG 2 and 4.71 times toward IPSG 5. This research recommends the need for consultative leadership style from the room head to carry out the roles and functions as a supervisor to improve associate nurses’ compliance in the implementation of IPSG 1, IPSG 2, IPSG 5, and IPSG 6. Abstrak Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Perawat dalam Implementasi Indikator Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Keselamatan pasien adalah salah satu dari lima isu penting keselamatan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang terkait dengan kepatuhan perawat dalam penerapan indikator sasaran keselamatan pasien (IPSG 1, IPSG 2, IPSG 5, dan IPSG 6). Desain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling (n= 102). Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan kepala ruangan, penghargaan, sikap, dan motivasi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan dalam penerapan IPSG 1 dan IPSG 2. Tingkat kepatuhan perawat dalam penerapan IPSG 5 hanya dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala ruangan dan sikap positif perawat. Tidak ada faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kepatuhan perawat dalam penerapan IPSG 6. Gaya kepemimpinan konsultatif kepala ruangan dapat mengubah tingkat kepatuhan perawat dalam penerapan IPSG 1 sebesar 5,6 kali, dengan 5,06 kali terhadap IPSG 2 dan 4,71 kali terhadap IPSG 5. Penelitian ini merekomendasikan perlunya gaya kepemimpinan konsultatif dari kepala ruangan untuk melaksanakan peran dan fungsi sebagai pengawas untuk meningkatkan kepatuhan perawat dalam penerapan IPSG 1, IPSG 2, IPSG 5, dan IPSG 6. Kata Kunci: indikator sasaran keselamatan pasien, kepatuhan, perawat
Fitri Fujiana, Setyowati Setyowati, Imami Nur Rachmawati
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 202-209; doi:10.7454/jki.v23i3.1091

Abstract:
Maternity nurses are authorized health workers that provide antenatal care, but their roles and function in antenatal care services are not recognized by the public. This research aims to reveal the experience of pregnant women during antenatal visits in private clinic maternity nursing. Six pregnant women selected using purposive sampling underwent an in-depth interview in this descriptive phenomenological study. Data were analyzed through thematic content analysis with Moustakas approach. Three themes were identified in this study: 1) women experience good communication with maternity nurses; 2) women receive family-centered nursing care; 3) the schedule, cost, facility, and types of service meet the participants’ needs. This study suggests for nurses to improve their competencies in delivering antenatal care according to clients’ needs.Abstrak Pengalaman Kehamilan Wanita Selama Masa Perawatan Antenatal di Klinik Mandiri Keperawatan Maternitas. Perawat spesialis maternitas adalah petugas kesehatan berwenang yang menyediakan perawatan antenatal, tetapi peran dan fungsinya dalam layanan perawatan antenatal belum dikenal oleh masyarkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengalaman ibu hamil selama kunjungan antenatal di klinik mandiri keperawatan maternitas. Enam ibu hamil yang dipilih menggunakan purposive sampling menjalani wawancara mendalam dalam studi fenomenologis deskriptif ini. Data dianalisis melalui tematik konten analisis dengan pendekatan Moustakas. Tiga tema diidentifikasi dalam penelitian ini: 1) ibu hamil mengalami komunikasi yang baik dengan perawat maternitas; 2) wanita menerima asuhan keperawatan yang berpusat pada keluarga; 3) jadwal, biaya, fasilitas, dan jenis pelayanan sesuai keinginan ibu hamil. Studi ini menyarankan bagi perawat untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam memberikan pelayanan antenatal sesuai dengan kebutuhan klien. Kata Kunci: antenatal care, ibu hamil, perawat maternitas
Rina Setiana
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23; doi:10.7454/jki.v23i3.1499

Mohd Khairul Zul Hasymi Firdaus, Urai Hatthakit, Waraporn Kongsuwan, Muhammad Kamil Che Hasan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 184-193; doi:10.7454/jki.v23i3.1079

Abstract:
Transcultural care is an important aspect of patient care. This review paper discusses the influence of Islamic philosophy on the faith and practices of Muslim patients with diabetes mellitus and its musculoskeletal manifestations. Relevant articles were searched from the electronic databases Cumulative Index of Nursing and Allied Health Literature, PubMed, ProQuest, and Science Direct using the keywords “Islamic philosophy, the influence of Islamic Philosophy in Muslim patients, religious practice during sick, fasting months, and sick.” No time limitation was specified for article selection. The database search yielded 170 potential articles. The abstracts of these articles were screened, and 50 full-length manuscripts were obtained, reviewed, and analyzed for their relevance to the subject matter. Discussions rooted in the ontology, epistemology, and methodology of Islamic philosophy were described in detail to provide a sound understanding of its influence on Muslim patients. The ontology of Islamic philosophy is based on four important concepts, namely, the Unity of Allah, the Unity of Creation, the Unity of Thought, and the Unity of Man. The epistemological approach can help Muslim patients search for knowledge on the basis of ontology and three principles, namely, Ilm’ Yaqin, Ainul Yaqin, and Haqqal Yaqin. The ontology and epistemology shape the methodology of Muslim patients’ daily life -according to the Islamic concepts of the Five Pillars and Six True Faiths. The issues patients with diabetes mellitus and its musculoskeletal manifestations encounter usually arise when they need to perform obligations during fasting and prayers. Understanding Islamic philosophy in caring for patients with diabetes is important among healthcare pro-fessionals to provide appropriate care. Better healthcare services may be provided to Muslim patients if their specific needs are fulfilled according to their beliefs and culture. Abstrak Filosofi Islam Memengaruhi Iman dan Praktek Klien dengan Diabetes Mellitus dan Manifestasi Muskuloskeletalnya: Review. Perawatan transkultural adalah aspek penting ketika memberikan perawatan kepada klien. Artikel tinjauan ini akan membahas tentang filsafat Islam yang memengaruhi keyakinan dan praktik klien diabetes Muslim. Artikel yang relevan dicari dari database elektronik Cumulative Index of Nursing and Allied Health Literature (CINAHL), PubMed, ProQuest, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan 'filsafat Islam, pengaruh Filsafat Islam pada klien Muslim, praktik keagamaan selama sakit, bulan puasa, dan sakit'. Tidak ada batasan waktu pada pemilihan artikel. Pencarian database mengidentifikasi sejumlah 170 artikel. Abstrak disaring dan 50 artikel lengkap diperoleh, ditinjau, dan di-analisis jika relevan. Diskusi rooting pada ontologi, epistemologi, dan metodologi filsafat Islam dijelaskan secara rinci untuk memahami pengaruhnya terhadap klien Muslim. Ontologi filsafat Islam didasarkan pada empat konsep penting; Kesatuan Allah, Kesatuan Ciptaan, Kesatuan Pemikiran, dan Kesatuan Manusia. Pendekatan epistemologis membantu klien Muslim untuk mencari pengetahuan berdasarkan ontologi dan tiga prinsip (Ilm Ya Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqal Yaqin). Ini telah membentuk metodologi klien Muslim dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pada Islam Lima pilar dan Enam Iman Sejati. Masalah klien dengan diabetes mellitus dan manifestasi muskuloskeletalnya biasa-nya muncul setiap kali melakukan kewajiban saat puasa dan berdoa. Kebutuhan mereka untuk mengamati kepatuhan pengobatan, kontrol diet, doa sehari-hari, dan bagaimana metodologi memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Pemahaman filosofi Islam dalam merawat klien diabetes adalah penting di antara para profesional kesehatan untuk memberikan perawatan yang tepat. Diharapkan bahwa layanan kesehatan yang lebih baik untuk klien Muslim jika kebutuhan spesifik keyakinan dan budaya terpenuhi. Kata kunci: diabetes mellitus, filsafat Islam, manifestasi muskuloskeletal, Muslim
Taty Hernawaty, Hadi Suprapto Arifin, Efri Widianti
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 217-223; doi:10.7454/jki.v23i3.1234

Abstract:
Mental health is one of Indonesia’s public health development goals. The Pangandaran District Administration of West Java is an expanded district that actively carries out various development programs, including mental health programs. This study aimed to identify public knowledge about mental health in Pangandaran District using quantitative descriptive method. The research population comprised residents of the Pangandaran District, and a sample was collected via cluster multistage sampling technique. The sample was gradually determined in the order of subdistricts, villages, subvillages, community units, and neighborhood units. The total sample was composed of 113 respondents. The questionnaire was developed based on theories and concepts on public mental health and distributed to participants after validity and reliability tests were conducted. The construct validity test result was between 0.303 and 0.764, which meant that all items were valid. The Kuder-Richardson 20 formula was used to test reliability, and the reliability coefficient was 0.887. Mathematical calculations were used for data analysis; data are presented as frequency distributions. In this study, 61.10% of the respondents had “less” knowledge, 33.59% had “good” knowledge, and the remaining 5.30% had “enough” knowledge of mental health. The results suggest that the local government should provide mental health education for the residents. For educational institutions, mental health programs should be a fundamental offering in Indonesian society. Abstrak Pengetahuan tentang Kesehatan Mental Warga di Sekitar Wilayah Pesisir. Sehat secara mental merupakan bagian dari tujuan pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pangandaran merupakan kabupaten pemekaran yang sedang menggalakkan berbagai program pembangunan termasuk program kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengetahuan masyarakat Kabupaten Pangandaran mengenai kesehatan jiwa. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat Kabupaten Pangandaran dan sampel diambil menggunakan tehnik cluster multistage sampling. Tahapan penetapan sampel dilakukan bertahap mulai dari kecamatan, desa, dusun, rukun warga, sampai rukun tetangga dan didapat sebanyak 113 orang. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner dan dibagikan pada seluruh responden. Kuisioner dikembangkan dari teori dan konsep kesehatan jiwa masyarakat dan sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas konstrak didapatkan hasil berkisar antara 0,303 sampai 0,764 sehingga semua item dinyatakan valid. Uji reliabilitas menggunakan uji Kuder Richardson 20 dan diperoleh koefisien reliabilitas KR-20 sebesar 0,887. Analisa data menggunakan perhitungan matematis dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,10% responden kurang memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa, 33,59% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang baik, dan sisanya 5,30% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang cukup. Saran, bagi pemerintah setempat agar memberikan pendidikan kesehatan jiwa bagi masyarakat. Bagi instansi pendidikan, diharapkan menjadi data dasar dalam membuat program kesehatan jiwa di masyarakat. Kata Kunci: Jawa Barat, kesehatan masyarakat, program kesehatan jiwa, wilayah pesisir
Muhammad Kamil Che Hasan, Nurul Syafiqah Jusoh, Siti Hazariah Abdul Hamid, Mohd Said Nurumal
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 23, pp 194-201; doi:10.7454/jki.v23i3.1090

Abstract:
Demand for a nursing career in Malaysia has increased, although it has not been a popular course of choice among students. Understanding the perceptions of students about nursing may help identify any misconception toward the profession and their consideration to choose nursing as a career. This study aimed to identify the perceptions of secondary school students about nursing and their potential interest in joining a nursing career. A cross-sectional study using convenience sampling was conducted among 155 students by administering a High School Students Self-Administered Questionnaire from three selected secondary schools in Kuantan, Pahang Malaysia. Overall, the respondents positively perceived the nursing profession, although several parts were viewed negatively. Despite having a positive notion about nursing, only 18.1% of the respondents were interested to select nursing as their career and a majority of them were women. In conclusion, no significant difference in perceptions about nursing and consideration to choose nursing as a career was found. Nevertheless, the image of nurses and a nursing career need to be improved in the eye of students and societies. In addition, the students were not aware of the benefits of nursing with several misconceptions of genders and doctor’s aid. Overall, the status of nursing in Malaysia should be enhanced to make it a valuable career. Abstrak Persepsi terhadap Mempertimbangkan Keperawatan sebagai Pilihan Karir di antara Siswa Sekolah Sekunder. Permintaan untuk karir keperawatan di Malaysia mengalami peningkatan, meskipun belum menjadi pilihan populer di kalangan siswa. Pemahaman mengenai persepsi siswa tentang keperawatan dapat membantu mengidentifikasi kesalahpahaman terhadap profesi dan pertimbangan mereka untuk memilih keperawatan sebagai karier. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi siswa sekolah menengah tentang keperawatan dan potensi minat mereka untuk memilih karir keperawatan. Sebuah studi cross-sectional menggunakan convenience sampling dilakukan pada 155 siswa dengan High School Students Self-Administered Questionnaire dari tiga sekolah menengah di Kuantan, Pahang Malaysia. Secara keseluruhan, responden memandang positif profesi keperawatan, namun beberapa bagian dipandang negatif. Meskipun memiliki gagasan positif tentang keperawatan, hanya 18,1% dari responden tertarik untuk memilih keperawatan sebagai karir mereka dan mayoritas dari mereka adalah perempuan. Kesimpulannya, tidak ada perbedaan signifikan dalam persepsi tentang keperawatan dan pertimbangan untuk memilih keperawatan sebagai karier. Namun demikian, citra perawat dan karier keperawatan perlu ditingkatkan di mata siswa dan masyarakat. Selain itu, siswa tidak menyadari manfaat keperawatan dengan beberapa kesalahpahaman tentang gender dan bantuan dokter. Secara keseluruhan, status keperawatan di Malaysia harus ditingkatkan untuk menjadikannya karier yang berharga. Kata Kunci: karier, keperawatan, persepsi, pilihan, sekolah menengah, siswa
Back to Top Top