JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2477-5932 / 2477-846X
Current Publisher: STKIP Singkawang (10.26737)
Total articles ≅ 64
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

M Lukman Leksono
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 116-120; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1106

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk kesalahan penggunaan pedoman ejaan bahasa Indonesia (PUEBI) yang meliputi kesalahan huruf, kata, tanda baca, kata serapan, diksi, kalimat, dan paragraf; (2) faktor penyebab terjadinya kesalahan dalam makalah dan laporan praktikum mahasiswa IT Telkom Purwokerto; dan (3) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kesalahan penggunaan pedoman ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif pendekatan analisis isi dengan sampel makalah dan laporan praktikum mahamahasiswa IT Telkom Purwokerto yang berjumlah 10. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk kesalahan berbahasa yang ditemukan dalam makalah dan laporan praktikum mahasiswa IT Telkom Purwokerto meliputi: kesalahan huruf, kata, tanda baca, kata serapan, diksi, kalimat, dan paragraf. Kedua, faktor penyebab kesalahan penggunaan pedoman ejaan bahasa Indonesia (PUEBI) dalam makalah dan laporan praktikum disebabkan oleh empat faktor, antara lain: penguasaan kaidah kebahasaan mahasiswa kurang, ketidaktelitian dalam menulis, kurangnya motivasi menulis, dan kurangnya kosakata mahasiswa. Ketiga, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kesalahan penggunaan pedoman ejaan bahasa Indonesia (PUEBI) dalam makalah dan laporan praktikum, antara lain: melaksanakan pembelajaran menulis dengan pendekatan proses, meningkatkan penguasaan kaidah bahasa mahasiswa dengan membaca, dan memperbanyak latihan menulis.
Susan Neni Triani, Eti Sunarsih, Mardian Mardian, Desy Rahmawati
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 70-84; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1233

Abstract:
Dalam penelitian ini menggunakan metode deskripstif analisis. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan stilistika. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat, maupun ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan bentuk-bentuk gaya bahasa retoris maupun gaya bahasa kiasan pada novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia. Teknik pengumpulan data yang digunakan teknik pustaka. Alat pengumpul data dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri sebagai instrumen kunci. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan berupa ketekunan pembacaan, triangulasi data dan kecukupan referensi. Berdasarkan analisis dan pembahasan, ditemukan 47 kutipan gaya bahasa retoris dengan lima belas macam gaya bahasa. Serta, 64 kutipan gaya bahasa kiasan dengan dua belas macam gaya bahasa. Implementasi pembelajaran dilakukan pada sekolah tingkat SMA kelas XI semester satu, pada standar kompetensi: Membaca, memahami berbagai hikayat novel Indonesia/terjemahan. Kompetensi dasar 7.2 menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan.
Suantoko Suantoko
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 99-103; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.906

Abstract:
Penelitian ini berusaha untuk memahami prosedur pewarisan dan proses penciptaan sastra lisan Tanduk masyarakat adat Genaharjo Kabupaten Tuban. Teori yang digunakan dalam penelitian yang dimaksud adalah teori struktur naratif Parry-Lord. Melalui teori tersebut, dapat dipahami bahwa prosedur pewarisan sastra lisan Tanduk tidak dilakukan dalam bentuk pendidikan formal seperti pewarisan penyair Yugoslavia. Pewarisan sastra lisan Tanduk dilakukan dengan cara ketiban sampur yaitu orang-orang yang dipilih berdasarkan seleksi alam sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Tukang Tanduk pemula hanya bertanya kepada tukang tanduk yang lebih senior. Pertanyaan paling inti yaitu tentang bermacam-macam Tanduk disesuaikan dengan tokoh yang dihormati dalam penampilan. Proses penciptaan sastra lisan Tanduk dilakukan secara spontan ketika tukang tanduk berhadapan langsung dengan tumpeng. Tukang tanduk tidak memiliki persiapan khusus dan tidak menghafal. Ia hanya mengingat-ingat formula kunci dalam penampilan sastra lisan Tanduk.
Mila Megawulandari, Zainal Rafli, Saifur Rohman
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 85-90; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1098

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menggetahui bentuk-bentuk Patologi sosial dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik analisis isi. Data yang menjadi objek penelitian ini adalah kutipan dan dialog yang mengidentifikasikan bentuk-bentuk patologi sosial dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye yang ditinjau dari sosiologi sastra. Penelitian ini dilakukan sebagai refleksi sosial untuk menghadapi masalah sosial salah satunya adalah tentang masalah penyakit masyarakat atau dalam istilah ilmu sosiologi disebut patologi sosial. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa bentuk-bentuk patologi sosial dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu berupa kriminalitas, perjudian, minuman keras, korupsi, dan prostitusi.
Imelda Hutabarat, Zainal Rafli, Saifur Rohman
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 59-69; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1022

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tentang nilai sosial budaya dengan pendekatan antropologi yang ditinjau dari kutipan terdapat dalam novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode mendeskripsikan data secara mendalam. Data dikumpulkan melalui tahapan pembacaan novel secara seksama, membuat sinopsis, mengklasifikasikan data, menafsirkan hasil analisis data, mengkonfirmasi hasil analisis dan tafsiran kepada ahli satra, dan mendeskripsikan bagian yang telah dianalisis secara terperinci. Analisis dan interpretasi data menunjukkan bahwa: 1) Nilai sosial aspek pengetahuan paling mendominasi, terdapat keberagaman flora, fauna yang ada di suku Asmat. Sifat tokoh utama memberikan pesa moral agar pembaca memiliki watak hidup sederhana, gigih, sabar, berpikir maju, praktis, berpendirian teguh, rajin, cinta lingkungan, cinta tanah air, waspada, rendah hati, peka, cerdas, dan keratif. 2) Nilai sosial aspek sistem organisasi memiliki hubungan, asosiasi, dan kesatuan hidup yang baik di suku Asmat dan dengan suku yang lain. Musyawarah dilakukan sebelum mengadakan upacara, mengambil keputusan, dan menetapkan aturan. 3) nilai sosial aspek religi tidak hanya animisme tetapi suku Asmat menyakini agama kristen. 4) nilai sosial aspek kesenian suku Asmat memiliki kreativitas yang tinggi dalam kesenian,yaitu: seni ukir, seni tari, seni, menyanyi, dan seni musik. Hal tersebut ditunjukkan pada setiap prosesi upacara yang dilakukan.
Fetti Astrini Rishanjani, Zainal Rafli, Zuriyati Zuriyati
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 91-98; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1054

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai representasi ketidakadilan yang terdapat di dalam kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput karya Wiji Thukul serta implikasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan puisi yang dianalisis mempresentasikan adanya tindak ketidakadilan kreatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1)Representasi ketidakadilan kreatif ditemukan pada puisi berjudul “Peringatan” yang mengungkapkan tentang ketidakbebasan rakyat dalam menyuarakan kritik untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara; (2) Implikasi representasi ketidakadilan pada puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai bahan pembelajaran sastra.
Aprilia Kartika Putri, Oktavianus Oktavianus, Rina Marnita
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 110-115; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1091

Abstract:
Swearing is deemed as improper to use in certain settings. However, it can be used to convey positive emotions too, including complimenting something or someone. This research article aims to investigate the linguistic forms, pragmatic meanings, and pragmatic functions of family-theme swearing used in compliments on Twitter. Kreidler (2002), Ramlan (2005), and Ljung (2011)’s opinions were utilized in this research. Observational method was used to collect the data. Distributional and identity method were used to analyze the data. The results of this study demonstrate that: (1) linguistic forms of family-theme swearing are word and phrase, (2) the pragmatic meaning of the family-theme swearing is as utterance meaning, and (3) the pragmatic functions of the family-theme swearing are as Adjectival Intensifier and Anaphoric Use of Epithets. This research is hopefully able to assist EFL (English as a Foreign Language) students to communicate in English better with other English speakers on Twitter.
Hari Kusmanto
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 127-32; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1036

Abstract:
This study aims to explore the forms of expressive speech acts that play on the names of cities in Central Java. The data in this study is a play on the names of the cities in Central Java that are expressively valued. The data source in this study is a play on the names of Cities in Central Java. Data collection in this study uses the documentation method, and see continued recording techniques. Analysis of the data in this study uses the intralingual equivalent method. The results of this study indicate that the play on the names of Cities in Central Java is expressed with expressions of sadness, happiness, disappointment, complaining, convincing, hope, forgiveness, praise, and criticism. The most widely used expressive speech act is sadness expression. This shows that many speakers experience a sad experience.
Zulfahita Zulfahita, Lili Yanti, Evi Purnamawati
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 104-109; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1087

Abstract:
Masalah umum dalam penelitian ini adalah analisis komponen makna verba “menyakiti” dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan klasifikasi komponen makna, makna leksikal, dan peran semantik yang dapat dilihat dengan menggunakan tangan, alat dan kaki. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah kajian semantik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini yaitu masayarakat yang bertempat tinggal di Dusun Kokban Rt 012/Rw 006 Desa Bentunai Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata yang mengandung verba “menyakiti” dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik cakap semuka, teknik rekaman dan teknik catat. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa verba “menyakiti” dalam bahasa Melayu dialek Sambas terdapat 53 leksem yang berkenaan dengan verba “menyakiti” dalam bahasa Melayu dialek Sambas yang diklasifikasikan menjadi verba menyakiti menggunakan tangan 28 leksem, alat 18 leksem dan kaki 7 leksem. Verba “menyakiti” menggunakan tangan dikelompokkan menjadi lima diantaranya; menekan 9 leksem. menarik 3 leksem, memelintir 3 leksem, memukul 9 leksem, dan mendorong 3 leksem. Verba menyakiti menggunakan alat dikelompokkan menjadi tiga diantaranya; melempar 4 leksem, menusuk 3 leksem, dan memukul 11 leksem.
Marwanto Marwanto
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4, pp 121-126; doi:10.26737/jp-bsi.v4i2.1021

Abstract:
In fact, the tradition of weaning spells is still developing and surviving to this day, the existence of this tradition is indeed needed by the community for their children to suckle their mothers. Stopping the child from sucking on his mother again is indeed quite difficult, so the people bring their children to suwuk experts, in this case dukun, kyai and local leaders. Suwuk expert will say rapalan or mantra in this case. The purpose of this study is to describe cultural values in the weaning mantra on rural communities: the study of literary functions. This study uses an observation method with ordinary observations because of observations carried out by researchers without being involved in direct contact with the actors (informants) who were the target of the research. The results of this study, people still use the services of expert suwuk in this case can dukun, suwuk experts, or traditional leaders, so that their children stop asking for milk.
Back to Top Top