Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni

Journal Information
ISSN / EISSN : 1411-3732 / 2548-9097
Total articles ≅ 140
Filter:

Latest articles in this journal

Delvi Wahyuni
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18, pp 148-159; doi:10.24036/komposisi.v18i2.8091

Abstract:
This paper discusses a training model suitable for senior high school debaters in Indonesian context. This model is designed to address the difficulties which I have encountered in my years of training senior high school debaters and teachers in West Sumatera Province, Indonesia. One major problem which I have almost always confronted is students’ reluctance to speak despite their interest in debating. These students were afflicted with severe level of speaking anxiety which is hampering their willingness to debate. There are two reasons which prompt this high level of speaking anxiety: lack of background knowledge and language competence. Therefore, scaffolding is needed to deal with those problems. This model comprises of several steps, which are: Background Knowledge Building; Constructing Arguments For and Against a Motion; and Delivering the Arguments.MODEL PELATIHAN DEBAT BAGI PEDEBAT DI TINGKAT SMA DI DI INDONESIAAbstrakMakalah ini adalah pemaparan mengenai sebuah model pelatihan debat bahasa Inggris bagi pedebat tingkat SMA di Indonesia. Model ini dirancang berdasarkan pengalaman saya dalam pelaksaan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di bidang bahasa Inggris selama tiga tahun belakangan ini. Permasalahan utama yang saya dihadapi oleh selama melakukan PKM di bidang debat adalah tingginya tingkat speaking anxiety yang dialami oleh Mitra (pedebat tingkat SMA). Akibatnya, kelancaran program PKM sering terganggu karena peserta pelatihan tidak mau berbicara dalam bahasa Inggris walaupun mereka menunjukkan minat yang besar kepada debat itu sendiri. Menurut pengamatan saya, ada dua hal yang menjadi pemicu hal tersebut, yaitu: kurangnya pengetahuan umum dan lemahnya kemahiran berbahasa yang menjadi media penyampaian argumen, yaitu bahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah diatas, scaffolding diperlukan. Model pelatihan ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu: Background Knowledge Building; Constructing Arguments For and Against a Motion; dan Delivering the Arguments.
Ance Jusmaya, Emil Eka Putra
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18, pp 179-196; doi:10.24036/komposisi.v18i2.8427

Abstract:
This research is about the development of ICT-based Project Based Learning Approach towards English instructional materials of high schools’ students in Batam. The purpose of this study is to produce the English student modul grade X with project-based learning (PjBL) approach which based on ICT. This research includes the study of R & D (Research and Development). This study aims to determine the effect of the use of the product (modul) to the students’ communictive competence. The method of this research is a research and development. The Population was students of Grade X SMAN 1 Batam. The results of this study revealed that the modul of PjBL with ICT was valid. It is proved by the result of t test. It found that t score is higher than t tabel where t tabel is 1,670 and t score is 2, 3547 with significance degree 5 %. It means that there are differences score between control class and experiment class. Thus, it can be concluded that the development of ICT-based Project Based Learning Approach towards English instructional materials of SMA students in Batam is a valid and efective product becouse it is proved by the increasing of student’s communicative competence.Keyword: Project Based Learning, ICT, Communicative CompetencePENGEMBANGAN BAHAN AJAR BAHASA INGGRIS BERORIENTASI PROJECT BASED LEARNING BERBASIS ICTAbstrakPenelitian ini membahas tentang pengembangan Pendekatan Pembelajaran Project Based Learning (PjBl) berbasis ICT terhadap bahan ajar bahasa Inggris untuk siswa-siswa Sekolah Menengah Atas di Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul Bahasa Inggris kelas X dengan pendekatan pembelajaran proyek (PjBL) yang berbasis pada ICT. Penelitian ini berjenis R&D (Penelitian dan Pengembangan). Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan produk (modul) terhadap kompetensi komunikatif siswa. Metode penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 1 Batam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modul PjBL yang berbasis ICT valid. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t. Nilai t hitung lebih tinggi dari t tabel dimana t tabel sebesar 1. 670 dan t skor adalah 2, 3547 dengan tingkat signifikansi 5%. Artinya ada perbedaan skor antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBl) berbasis ICT terhadap materi ajar bahasa Inggris siswa SMA di Batam merupakan produk yang valid dan efektif, karena terbukti dengan meningkatnya kompetensi komunikatif siswa.Keyword: Project Based Learning, ICT, Kompetensi komunikatif
Defina Defina
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18, pp 160-178; doi:10.24036/komposisi.v18i2.8090

Abstract:
The aim of this study analyzed the need for character-filled texts in Indonesian language teaching materials in IPB and identify other character values needed. The method is R & D with the concepts of Dick and Carey and Borg and Gall. The result, the value of characters sourced from the heart: obedient rules, honesty and order, religious and pious, fair, orderly, responsible, and empathetic; comes from though: creative, intelligent, critical, innovative and oriented ipteks; sourced from kinesthetic: persistent, friendly, cheerful, clean, sportive, and cooperative; sourced from taste, proud to use the Indonesian language, love the homeland, and nationalist. Proposed, there is additional value of confident and anticorruption character. Conclusion, it is necessary to develop teaching material of Indonesian language that contains the values of nation character.Keywords: needs analysis, Indonesian language teaching materials, character valuesANALISIS KEBUTUHAN TERHADAP TEKS-TEKS BERMUATAN KARAKTER BANGSA DALAM MATERI AJAR BAHASA INDONESIAAbstrakTujuan penelitian ini menganalisis kebutuhan terhadap teks-teks bermuatan nilai-nilai karakter dalam materi ajar bahasa Indonesia di IPB dan mengidentifikasi nilai-nilai karakter lain yang dibutuhkan. Metodenya adalah R&D dengan konsep Dick dan Carey dan Borg dan Gall. Hasilnya, nilai karakter yang bersumber dari olah hati taat aturan, kejujuran dan ketertiban, beriman dan bertaqwa, adil, tertib, bertanggung jawab, dan berempati; bersumber dari olah pikir kreatif, cerdas, kritis, inovatif dan berorientasi ipteks; bersumber dari olah raga gigih, bersahabat, ceria, bersih, sportif, dan kooperatif; bersumber dari olah rasa-karsa, bangga menggunakan bahasa Indonesia, cinta tanah air, dan nasionalis. Usulan, ada tambahan nilai karakter percaya diri dan antikorupsi. Kesimpulan, perlu dikembangkan materi ajar bahasa Indonesia yang memuat nilai-nilai karakter bangsa.Kata kunci: analisis kebutuhan, materi ajar bahasa indonesia, nilai-nilai karakter
Wijang Iswara Mukti, Andayani Andayani, Nugraheni Eko Wardani
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18, pp 197-215; doi:10.24036/komposisi.v18i2.8431

Abstract:
Literature works cannot be completely understood if they are separated from the society that produces them. The understanding of social issues on literature works in the form of novel can be used as a polite means of education for people in posturing a phenomenon. This study is a qualitative descriptive one with literature sociological approach. Data collection applied observing and note-taking techniques. Data was analized by using content analysis. The result shows that AAC2 novel consists of six social issues, they are: (a) Poverty, much experienced by Muslim immigrants in European big cities; (b) Criminal, much committed by extrimist Jews toward the Palestinians and Muslims in general; (c) Disorganized family, much experienced by Europian society due to irresponsible husband and less dutiful children to their parents; (d) War, between Palestina and Israel; (e) Breach of norms, in the form of selling virginity, theft, vandalism, and liquor; (f) Population issues, in the form of discrimination toward the rights of Muslims minority in Europe and Islamophobia; and (g) Bureaucratic problems, in the form of lobbying done by the extremist Jews toward the University of Edinburgh campus. The social issues expressed by Habiburrahman El Shirazy contains educational values for the readers about social problems developed in community so they can learn how to solve them as offered by the story.Keyword: ayat-ayat cinta 2,novel, social issuesMASALAH SOSIAL DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2 KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZYAbstrakKarya sastra tidak dapat dipahami secara utuh apabila dipisahkan dari masyarakat yang telah melahirkannya. Pemahaman terhadap masalah-masalah sosial yang ada di dalam karya sastra bentuk novel dapat dijadikan sebagai sarana edukasi yang halus bagi masyarakat dalam menyikapi suatu peristiwa. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat. Analisis data menggunakan content analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan novel AAC2 mengandung enam masalah sosial, yaitu: (a) Kemiskinan, yang banyak dialami oleh para imigran Muslim di kota-kota besar di Eropa; (b) Kejahatan, yang banyak dilakukan oleh kelompok Yahudi ekstrem terhadap orang-orang Palestina dan orang-orang Islam pada umumunya; (c) Disorganiasi keluarga, banyak dialami oleh masyarakat Eropa akibat suami yang tidak bertanggung jawab dan anak-anak yang kurang berbakti kepada orang tuanya; (d) Peperangan, antara Palestina dan Israel. (d) Pelanggaran terhadap Norma-Norma, berupa menjual keperawanan, pencurian, vandalisme, dan minuman keras. (e) Masalah Kependudukan, berupa diskriminasi terhadap hak-hak muslim minoritas di Eropa dan Islamophobia; (f) Masalah Birokrasi, berupa lobi-lobi yang dilakukan oleh kelompok Yahudi ekstrem terhadap kampus University of Edinburgh. Masalah-masalah sosial yang diungkapkan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel AAC2 mengandung nilai-nilai edukasi bagi pembaca terhadap masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat untuk kemudian diketahui bagaimana solusi yang ditawarkan dalam cerita.Kata kunci : ayat-ayat cinta 2, masalah sosial, novel
Naimatul Husni
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18, pp 133-147; doi:10.24036/komposisi.v18i2.8415

Abstract:
The aims of this research to examine in depth The principles of language politeness and politeness strategies that contained in The Talk Show “Ellen DeGeneres Show”. This research is a qualitative research using content analysis method. Data collection techniques and procedures used are documentation techniques; listened techniques, and record techniques. The results of The research showed: (1) Politeness principle that The most commonly used was The sympaty maxim about 68 utterances (36.55%), while generosity maxim was The least-used, 1 utterance (0.53%) ; (2) The most frequent violation of principle politeness was agreement maxim about 24 utterances (68.57%), while The least violation of principle of politeness was approbation maxim, 2 utterances (5.71%); (3) The implications of politeness in The learning of English is divided into two, Theoretical and practical implications. Theoreticaly, this research can also be used as a first step to research more about language politeness in a Talk Show. Practically this research can be used and used for teachers and students as discussion learning materials.Key words: Politeness, Talk Show, Principle PolitenessPRINSIP KESANTUNAN DALAM “THE ELLEN DEGENERES SHOW” DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS (Kajian Analisis Isi)Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai prinsip-prinsip kesantunan berbahasa yang terdapat di dalam Talk Show Ellen The DeGeneres Show serta bagaimana implikasinya dalam pemebelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis isi. Teknik dan prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, teknik simak, dan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Jenis – jenis prinsip kesantunan berbahasa yang paling banyak digunakan adalah maksim kesimpatian sebanyak 68 tuturan (36,55%), sedangkan maksim penerimaaan merupakan prinsip kesantunan berbahasa yang paling sedikit digunakan yaitu 1 tuturan (0,53%); (2) Pelanggaran prinsip kesantuanan berbahasa yang paling banyak ditemukan adalah pelanggaran maksim kecocokan yaitu sebanyak 24 tuturan (68,57%), sedangkan pelanggaran prinsip kesantunan yang paling sedikit adalah pelanggaran maksim kemurahan yaitu 2 tuturan (5,71%); (3) Implikasi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Inggris terbagi dua yakni implikasi secara teoritis dan praktis. Secara teoritis penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk bagi peneliti lainnya untuk meneliti lebih lanjut tentang kesantunan berbahasa dalam sebuah acara Talk Show. Secara praktis penelitian ini dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi guru dan siswa sebagai bahan materi pembelajaran diskusi.Kata Kunci: Kesantunan, Talk Show, Prinsip Kesantunan
Muhammad Khairi Ikhsan
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18; doi:10.24036/komposisi.v18i1.6517

Abstract:
One thing that can not be denied by the English teachers is teaching English skills. One of the skills that should be taught by the teacher is reading skill. For EFL students, reading is considered as a complicated skill to be comprehended. They tend to have problems to master this skill. There are some common problems made by the EFL students related to reading. For instance, they are difficult to understand the text and find the information from the texts given, and also its hard for them to determine the main ideas of the text. Besides, from the teacher’s perspective, they commonly not applying some appropriate strategies to teach reading. So, reading activities in the classroom sometimes supposed to be boring. Therefore, this paper is aimed at showing some strategies that can be applied by the teachers to make reading activities in the classroom become an interesting one
Arief Setyawan, Sarwiji Suwandi, St. Y. Slamet
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18; doi:10.24036/komposisi.v18i1.7925

Abstract:
Folklore as one of the cultural output with robust value of character education from of the community where the story was created and developed. The study aims to describe the value of character education in the compilation of folklore. The method used is qualitative descriptive method with data source of research in the form of folklore from Pacitan published by Grasindo 2004 which contains 10 story titles. The research data is collected by reading the story plot as well as the content of the meaning or message in each story and noting. Data analysis is done by content analysis technique, that is research analysis that want to reveal the idea of writer or creator both manifested and latent. The results show that Pacitan folklore as a literary work contains the value of character education which includes: (1) religious, (2) honest, (3) hard work, (4) creative, (5) curiosity, (6) Spirit of nationalism, (7) respecting achievement, (8) love of peace, (9) environmental care, (10) social care, and (11) responsibility. These values form the basis that folklore is used as a medium for introducing stories that ancestors believed to their descendants, as well as being a means of educating their character.Keyword: character education, folklore, Pacitan.MUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT DI PACITAN AbstrakCerita rakyat sebagai salah satu produk kebudayaan tentu sarat akan nilai pendidikan karakter dari masyarakat tempat cerita itu lahir dan berkembang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam kumpulan cerita rakyat tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data penelitian berupa Buku Cerita Rakyat dari Pacitan terbitan Grasindo 2004 yang memuat 10 judul cerita. Data penelitian dikumpulkan dengan membaca secara cermat terkait alur cerita maupun kandungan makna atau amanat dalam setiap cerita dan melakukan pencatatan. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis), yakni analisis penelitian yang mengungkap gagasan penulis atau pencipta baik yang termanifestasi maupun yang laten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cerita Rakyat dari Pacitan sebagai suatu karya sastra mengandung nilai pendidikan karakter yang meliputi: (1) religius, (2) jujur, (3) kerja keras, (4) kreatif, (5) rasa ingin tahu, (6) semangat kebangsaan, (7) menghargai prestasi, (8) cinta damai, (9) peduli lingkungan, (10) peduli sosial, dan (11) tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bahwa cerita rakyat selain digunakan sebagai media memperkenalkan kisah-kisah yang diyakini nenek moyang kepada keturunannya, juga bisa sekaligus menjadi sarana mendidik karakter pada diri mereka.Kata kunci: pendidikan karakter, cerita rakyat, Pacitan.
Zahra Fizty Febriadina, Sumarwati Sumarwati, Sumarlam Sumarlam
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18; doi:10.24036/komposisi.v18i1.8110

Abstract:
This research is aimed to describe 1) the form of Javanese used in the students’ politeness language on Indonesian lesson at Vocational School; and 2) the special characteristics of Javanese used in the students’ politeness language on Indonesian lesson at Vocational School. This is descriptive qulitative reseacrh with sociopragmatics approach. The data are the politeness uttarances made by the student which reflect from the form and special characteristics of Javanese in Indonesian language lesson at vocational school. The data are collected by using listening-free-participating-speaking (simak bebas libat cakap/SBLC) technique and data transcription. The data analyzing technique use Miles and Huberman interactive model, that consists of four steps, they are collecting data, reducing data, analizing data and verifying or conclusion drawing by pragmatics comparing methods. The result of the research shows that the form of politeness using in Javanese by students are 1) tact maxim; 2) agreement maxim; and 3) the sympathy maxim. The special characteristic of Javanese language uttered by the students are ‘yowis’, ‘rapopo’, ‘genah’ ‘nggih’, ‘apik’, ‘mawon’, ‘mugo’, dan ‘mbah putri’.Keyword: forms of students’ politeness, Vocational School, Javanese LanguageWUJUD KESANTUNAN BERBAHASA SISWA DI SRAGEN, JAWA TENGAHAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud penggunaan bahasa Jawa dalam kesantunan berbahasa siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan; dan (2) kekhasan bahasa Jawa dalam kesantunan berbahasa siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiopragmatik. Data berupa tuturan siswa yang mencerminkan wujud dan kekhasan bahasa Jawa dalam tuturan kesantunan berbahasa ketika pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK. Pengumpulan data menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan transkripsi data. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, analisis data, dan verifikasi atau penarikan simpulan dengan metode padan pragmatis. Hasil penelitian ditemukan bentuk bahasa Jawa dalam kesantunan berbahasa siswa terdapat pada (1) maksim kebijaksanaan; (2) maksim kesepakatan; dan (3) maksim kesimpatian. Kekhasan bahasa Jawa yang digunakan dalam tuturan siswa ditandai dengan penggunaan kata ‘yowis’, ‘rapopo’, ‘genah’ ‘nggih’, ‘apik’, ‘mawon’, ‘mugo’, dan ‘mbah putri’.Kata kunci: wujud kesantunan berbahasa siswa, Sekolah Menengah Kejuruan, bahasa Jawa
Asqina Mawadati Nur Setiawan, Andayani Andayani, Kundharu Saddhono
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18; doi:10.24036/komposisi.v18i1.7730

Abstract:
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN MENULIS BAGI MAHASISWA BIPA UNTUK MEMAHAMI BUDAYA LOKAL This research mainly discusses the use of learning media in writing for TISOL (Teaching Indonesia to Speaker of Other Language) students to understand the local culture in UPT Bahasa Universitas Sebelas Maret. The purpose of this research is to describe the use of learning media of TISOL students to understand local culture. The research method is qualitative descriptive by using naturalistic case study. Data in this research consists of primary and secondary taken from informants, events and literature review. The technique of collecting data is by using observation, interview and study of document. Validity of data is conducted by using method and source triangulation. The result of analysis and discussion in this research shows that teacher uses learning media particularly in writing skill. Learning media in teaching writing for TISOL students is by using film, local music, picture, demonstration media, and real life of community. Furthermore, learning outside the class is conducted so that students are able to apply learning material directly in understanding local culture and improving writing skill.Keywords: media, writing skill, TISOL, local cultureAbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan media pembelajaran menulis bagi mahasiswa BIPA untuk memahami budaya lokal di UPT Bahasa Universitas Sebelas Maret. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan media pembelajaran menulis bagi mahasiswa BIPA untuk memahami budaya lokal. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan strategi penelitian studi kasus yang bersifat naturalistik. Data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder dengan sumber data berupa informan, peristiwa, dan studi pustaka. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Validitas data dilakukan dengan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengajar menggunakan media pembelajaran, terutama pada keterampilan menulis. Media pembelajaran keterampilan menulis dalam pembelajaran BIPA adalah media film, musik lokal, gambar, media demonstrasi, serta kehidupan masyarakat sekitar. Selain itu, dilakukan pula pembelajaran di luar kelas agar mahasiswa dapat menerapkan materi belajar secara langsung untuk memahami budaya lokal dan meningkatkan keterampilan menulis.Kata kunci: media, pembelajaran menulis, BIPA, budaya lokal.
Wisdiarman Wisdiarman, Abdul Hafiz
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Volume 18; doi:10.24036/komposisi.v18i1.7742

Abstract:
ANALISIS KEBUTUHAN LKS BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIKDENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DI SMP The purpose of this research is to: 1) find out the teacher's need for worksheet that can assist the students in art and cultural learning of fine art material; 2) to know the student's need for LKS that can help students in learning art and culture especially fine art material; 3) to know the needs of art and cultural learning of fine art material will worksheet based on scientific approach with discovery learning model. This research used descriptive qualitative method. Subjects in this study were art teacher of culture and grade VII junior high school students in Bukittinggi. Techniques of collecting data were interview, questionnaire and observation. The result of this research are: 1) the teachers of cultural art of junior high school in Bukittinggi need worksheets in the implementation of art and cultural learning in fine art material, 2) students need worksheet in the implementation of art and cultural learning of fine art material and 3) art learning implementation of art material art need LKS based scientific approach with discovery learning model that can help students master the material better.AbstakTujuan dari penelitin ini adalah untuk: 1) mengetahui kebutuhan guru akan LKS yang dapat membantu siswa dalam pembelajaran seni budaya materi seni rupa; 2) mengetahui kebutuhan siswa akan LKS yang dapat membatu siswa dalam pembelajaran seni budaya materi seni rupa; 3) mengetahui kebutuhan pembelajaran seni budaya materi seni rupa akan LKS berbasis pendekatan saintifik dengan model discovery learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru seni budaya dan siswa kelas VII SMP di Kota Bukittinggi. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, penyebaran angket dan observasi. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) guru seni budaya SMP Bukittinggi membutuhkan LKS dalam pelaksanaan pembelajaran seni budaya materi seni rupa, 2) siswa membutuhkan LKS dalam pelaksanaan pembelajaran seni budaya materi seni rupa dan 3) pelaksanaan pembelajaran seni budaya materi seni rupa membutuhkan LKS berbasis pendekatan saintifik dengan model discovery learning, sehingga dapat membantu siswa menguasai materi dengan lebih baik. Kata kunci: analisis kebutuhan, pembelajaran seni rupa, LKS berbasis pendekatan saintifik
Back to Top Top