Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri

Journal Information
ISSN / EISSN : 22527877 / 25493892
Current Publisher: Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (10.21776)
Total articles ≅ 70
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri; doi:10.21776/ub.industria

Maimunah Hindun Pulungan, Satriyo Pandunusawan, Anang Lastriyanto, Universitas Brawijaya
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 19-26; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.3

Abstract:AbstrakPengasinan merupakan salah satu metode pengawetan telur puyuh yang membutuhkan waktu sekitar 14 hari jika dilakukan secara konvensional. Penelitian ini bertujuan merancang alat pengasin telur puyuh yang mampu mengurangi waktu pembuatan telur puyuh asin. Metode yang digunakan yaitu pembuatan rancang bangun alat pengasin telur puyuh berbasis dehidrasi osmosis bertekanan statis serta pengujian alat pengasin dan telur puyuh yang dihasilkan. Parameter alat yang diuji adalah kebocoran tekanan dan tekanan maksimum. Parameter telur puyuh hasil pengasinan yang diamati adalah kerusakan fisik, kandungan kadar air, kadar garam dan kadar lemaknya untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan garam dan lama perendaman yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan alat pengasin telur puyuh berbasis dehidrasi osmosis bertekanan statis dibuat dengan diameter 22 cm dan tinggi 20 cm. Kapasitas tampung alat sebanyak 330 butir atau sekitar 3,5 kg telur puyuh. Terjadi kebocoran tekanan pada alat sebesar 0,05 bar setiap 15 menit dari total tekanan 1 bar yang digunakan dengan Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) dari alat sebesar 5,56 bar. Alat pengasin telur mampu mengasinkan telur puyuh dengan waktu 30-90 menit dengan kadar garam terendah 1,63% dan kadar garam tertinggi 2,3%. Telur puyuh asin yang dihasilkan telah memenuhi SNI 01-4277-1996 mengenai standar telur asin yang mengharuskan telur asin memiliki kadar garam minimum sebesar 2,0%.Kata kunci: garam, pengawetan, pengujian, perancangan AbstractSalting is one method of preserving quail eggs that requires around 14 days of conventional process. This study aims to design a quail egg salting appliance that can make salted quail eggs faster. The method used is salted quail egg appliance design, based on static pressure osmosis dehydration and testing of the salting appliance and quail eggs produced. The parameters of the salting appliance are maximum pressure and pressure leaks. Parameters of quail egg salting results observed were physical damage, moisture content, salt content and fat content to determine the effect of giving salt solutions and different immersion times. The results showed that quail egg salting appliance based on static pressure osmosis dehydration was made with a diameter of 22 cm and a height of 20 cm. The capacity of the appliance is 330 quail eggs or about 3.5 kg of quail eggs. There is a pressure leak on the appliance of 0.05 bar every 15 minutes from the total pressure of 1 bar used with the Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) of the tool at 5.56 bars. Egg salting appliance can marinate quail eggs with 30-90 minutes with the lowest salt content of 1.63% and 2.3% highest. Salted quail eggs produced have met SNI 01-4277-1996 regarding the standard of salted eggs which require salted eggs to have a minimum salinity of 2.0%.Keywords:design, preservation, salt, testing
Wachdijono, Rofi Julhan, Universitas Swadaya Gunung Jati
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 27-40; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.4

Abstract:AbstrakAgroindustri merupakan kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk pertanian, termasuk sektor perikanan/hasil laut. Melalui nilai tambah ini, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pelakunya, dikarenakan nilai tambah atau peluang laba terbesar terletak pada sub sektor agroindustrinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang laba pada agroindustri perikanan di Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan teknik pengumpulan data berdasarkan survei. Populasinya adalah pengolah ikan laut basah menjadi ikan laut kering yang berjumlah 18 orang dan teknik pengambilan sampel melalui sensus. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana, kaidah laba maksimum dan elastisitas. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi yaitu TC = 4.806,63 + 16.192,184Q sehingga nilai MC = 16.192,184 dan TR = 38.360,576 + 22.783,789Q sehingga nilai MR = 22.783,789. MC < MR maka peluang labanya masih terbuka hingga mencapai laba maksimum (MC=MR). Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa peluang laba pada agroindustri perikanan ini masih terbuka, artinya setiap upaya menambah output (Q) maka akan menambah pula labanya.Kata kunci: agroindustri, laba, perikanan AbstractAgro-industry is an activity that adds value to agricultural products in a broad sense, including marine/fishery products. Through this added value, is expected to improve its welfare. The value added or the largest profit opportunity lies in the sub-sector of agro-industry. This study aims to analyze the profit opportunities in fishery agro-industry in Gebang Sub-district of Cirebon Regency. The location of the study was determined purposively and implemented during May 2018. The research method is quantitative and data collection techniques based on the survey. The population is wet sea fish processor into dried sea fish, amounting to 18 people and sampling technique through a census. Data analysis using simple linear regression, max profit rules, and elasticity. The results showed that the regression equation obtained: TC = 4.806,63 + 16.192,184Q so that the value of MC = 16.192,184 and TR = 38.360,576 + 22.783,789Q so that the value of MR = 22.783,789. MC < MR then the profit opportunity is still open until it reaches maximum profit (MC = MR). It can be concluded that the profit opportunity in this fishery agro-industry is still open, meaning every effort to increase the output (Q) then it will also increase profit.Keywords: agro-industry, fishery, profit
Gita Elena Amasari, Ida Bagus Suryaningrat, Andrew Setiawan Rusdianto, Universitas Jember
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 49-56; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.6

Abstract:AbstrakKondisi lingkungan kerja diantaranya kenyamanan, keamanan dan kesehatan kerja merupakan komponen yang dapat memengaruhi kinerja karyawan. Salah satu tahap yang termasuk ke dalam proses sortasi di PTPN XII Banjarsari Jember yaitu tahap pemotongan lembaran karet. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagian tubuh karyawan yang mengalami rasa nyeri, melakukan redesain terhadap meja pemotong lembaran karet, serta mengetahui perbedaan setelah dilakukan redesain meja pemotong lembaran karet baik dari keluhan nyeri yang dialami karyawan maupun dari segi produktivitas karyawan tahap sortasi. Metode yang digunakan yaitu kuesioner untuk mengetahui data keluhan yang dialami, pengukuran data antropometri karyawan, kemudian membandingkan produktivitas sebelum dan sesudah redesain meja pemotong. Hasil penelitian menunjukkan keluhan pekerja berkurang setelah dilakukan redesain meja pemotong lembaran karet yang lebih ergonomis. Keluhan pekerja yang paling banyak berkurang adalah keluhan pada bagian tangan dan kaki. Perbaikan desain tinggi meja berpengaruh terhadap tinggi tumpukan karet, jangkauan bahan baku dengan mesin pemotong serta jangkauan dengan tempat produk jadi. Alat potong lembaran karet yang semula menggunakan gunting digantikan menggunakan piringan logam yang bergerak menggunakan mesin juga berperan menurunkan keluhan pekerja terutama bagian tangan. Produktivitas dari bagian sortasi juga meningkat dari 2,250 ton/hari menjadi 3,222 ton/hari.Kata kunci: antropometri, ergonomi, lembaran karet, meja pemotong AbstractWorker environment conditions including comfort, safety and health are components that can affect employee performance. One of the stages included in the sorting process at PTPN XII Banjarsari Jember is the stage of cutting rubber sheets. This study aims to redesign the rubber sheet cutting table to make it more ergonomic so that it can minimize employee complaints and find out productivity improvements from the sorting process. The method used is a questionnaire to find out the complaints data experienced, measurement of employee anthropometric data, then compare productivity before and after the cutting table redesign. The result showed that after the redesigned, more ergonomic rubber sheet cutting table reduced workers complaints. The most reduced employee complaints are complaints on the hands and feet. Improved design of table height affects the height of the rubber pile, the range of raw materials with cutting machines and the range with the place of the finished product. The rubber sheet cutting tool that used to use scissors was replaced by using a metal plate that moves using the machine and also contributes to reducing workers' complaints, especially the hand parts. The productivity of the sorting section also increased from 2.250 tons/day to 3.222 tons/day.Keywords: anthropometry, ergonomics, production table, rubber sheet
Nina Hairiyah, Raden Rizki Amalia, Eva Luliyanti, State Polytechnic Of Tanah Laut
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 41-48; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.5

Abstract:AbstrakAremania Bakery merupakan industri rumah tangga yang memproduksi roti, dalam menjalankan bisnisnya belum menerapkan pengendalian mutu produksi sehingga tingkat kerusakan produk sangat tinggi. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi jenis kerusakan, menganalisis penerapan metode Statistical Quality Control dan merekomendasikan tindakan yang sebaiknya dilakukan. Metode penelitian yang digunakan yaitu pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara, dilanjutkan dengan mengolah data menggunakan metode Statistical Quality Control dilakukan tahapan diantaranya mengisi lembar pemeriksaan, membuat histogram, membuat diagram pareto, membuat dan menghitung peta kendali, membuat diagram sebab-akibat. Hasil penelitian menunjukkan ada empat jenis kerusakan yaitu cacat gosong (A), cacat ukuran (B), cacat isi keluar (C), dan cacat kulit terkelupas (D). Hasil analisis dengan diagram sebab-akibat menunjukkan penyebab mutu roti kurang baik yaitu faktor tenaga kerja, metode, dan mesin. Terlihat dari diagram pareto, jenis kerusakan produk lebih dominan pada cacat ukuran sebesar 38,55%, hasil analisis peta kendali untuk jumlah total keluar sebesar 60% menunjukkan pengendalian mutu di Aremania Bakery masih diluar batas kendali. Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kerusakan yaitu membuat Standard Operating Procedure (SOP), modifikasi oven dengan menambahkan pengatur waktu dan suhu, menyediakan cetakan sesuai standar, memperhatikan banyak bahan sebagai isian, dan melapisi cetakan dengan mentega agar cetakan tidak lengket.Kata kunci: alat bantu statistik, pengendalian mutu, roti, statistical quality control AbstractAremania Bakery is a home industry that produces bread, in running its business has not applied the quality control of production, so that product damage level is high. The purpose of this research is to identify the type of damage, analyze the application of SQC method, and recommend the action that should be done. The research method used is data collection by way of observation and interview, followed by data processing using SQC method. The results showed that there were four types of damage: defect scorched (A), size defect (B), the content of bread exceeds capacity (C), and peel defect (D). The results of the analysis with causal diagrams show the cause of poor quality of bread that is the factor of labor, methods, and machinery. Seen from the Pareto diagram, the type of product damage is more dominant in 38.55% defect size, the result of the control chart analysis for out of total amount of 60% indicates that the quality control in Aremania Bakery is still out of control. Actions taken to reduce damage include making SOP, modifying the oven, providing standard prints, observe of many materials as stuffing, and coating the mold with butter to keep the molds from sticking.Keywords: statistical assistance tools, quality control, bread, statistical quality control
Jaya Mahar Maligan, Agustina Maria Dwiyanti Soeyono, Tri Dewanti Widyaningsih, Universitas Brawijaya
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 1-10; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.1

Abstract:AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuat mi kering berbasis ampok jagung yang difortifikasi dengan tepung tempe dan tepung daun kelor yang dapat memenuhi kebutuhan ibu hamil. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap utama yaitu optimasi formula dan analisis produk akhir. Tahap optimasi formula dimulai dengan menentukan titik maksimum substitusi dari masing-masing tepung. Pembuatan mi kering substitusi tepung daun kelor dilakukan dengan level substutisi 10% hingga 35%, sedangkan untuk tepung tempe dari 15% hingga 40%. Tahap optimasi formula dilakukan dengan bantuan piranti lunak Design Expert 7.0 dengan metode rancangan campuran D-optimal. Analisis respon akan menghasilkan model persamaan. Model untuk respon warna dan cita rasa adalah linier, zat besi dan tekstur adalah kuadratik, sedangkan model untuk respon protein dan kalsium adalah kubik. Semua model tergolong signifikan sehingga dapat memberikan prediksi hasil yang baik. Solusi formula yang paling optimal, yaitu formula mi kering dengan 17,129% tepung daun kelor dan 32,871% tepung tempe. Tahap verifikasi memberikan hasil yang mendukung prediksi formula optimal tersebut. Hasil analisis menunjukan mi kering mengandung kadar air sebesar 7,45%, kadar abu sebesar 3,4%, kadar protein sebesar 28,85%, kadar lemak sebesar 6,73%, kadar kalsium sebesar 309,61 mg/100 gram, kadar zat besi sebesar 34,05 mg/100 gram, cooking loss 2,2% dan cooking time 275 detik.Kata kunci: ampok jagung, ibu hamil, makanan tambahan, mi kering, optimasi AbstractThis study aim was to make dried noodles based on fermented corn fortified with tempeh flour and moringa leaf flour that can meet the needs of pregnant women. This research was divided into two main stages, namely formula optimization and final product analysis. The formula optimization stage begins by determining the maximum substitution point of each flour. For moringa leaf flour, it was made to make dry noodles with a substitution level of 10% to 35%, while for tempeh flour from 15% to 40%. The formula optimization stage was carried out with the help of Design Expert 7.0 software with the D-optimal mixture design method. Response analysis produced an equation model. Models for color and flavor responses are linear, iron and texture are quadratic, while models for protein and calcium responses are cubic. All models are classified as significant so that they can predict good results. The most optimal formula solution was dry noodle formula with 17.129% Moringa leaf flour and 32.871% tempeh flour. The verification phase provides results that support the optimal formula prediction. The results of the analysis showed that dried noodles contained a moisture content of 7.45%, ash content of 3.4%, protein content of 28.85%, fat content of 6.73%, calcium content of 309.61 mg/100 gram, substance content iron at 34.05 mg/100 gram, cooking loss 2.2% and cooking time 275 seconds.Keywords: dry noodles, fermented corn, optimization, pregnant women, supplementary food
Sunarmani, Kirana Sanggrami Sasmitaloka, Ministry Of Agriculture
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 67-78; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.8

Abstract:Abstrak Pada umumnya, pasta tomat diproduksi menggunakan bahan dasar tomat yang ditambahkan dengan bahan pengisi, seperti carboxymethyl cellulose (CMC). Salah satu alternatif pengganti penggunaan CMC sebagai bahan pengisi adalah bahan pengisi alami seperti pepaya. Pepaya dapat dipakai sebagai bahan pencampur pembuatan pasta tomat karena kandungan total padatannya relatif hampir sama dengan total padatan tomat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasta tomat dengan penambahan pepaya sebagai bahan pengisinya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan komposisi tomat dan pepaya (perbandingan tomat dan pepaya sebanyak 1:0 (kontrol), 1:1, 2:1, 4:1, dan 6:1). Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Variabel pengamatan pada penelitian adalah rendemen, total padatan terlarut, pH, total asam, vitamin C, dan uji organoleptik. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% (α = 0,05) menggunakan paket program SPSS 21.0 Statistic Software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pepaya dapat digunakan sebagai bahan pengisi pada pasta tomat. Penambahan buah pepaya dapat meningkatkan rendemen, total padatan terlarut, total asam, dan kandungan vitamin C pada pasta tomat. Penambahan buah pepaya sampai dengan 50% (komposisi tomat:pepaya sebanyak 2:1) menghasilkan pasta tomat yang stabil dan dapat diterima oleh konsumen.Kata kunci: karakteristik, pasta, pengisi, pepaya, tomat AbstractGenerally, tomato paste is produced using tomato as raw material ingredients added with fillers, such as carboxymethyl cellulose (CMC). Another alternative to change CMC as filler is the use of natural fillers, such as papaya. Papaya could be used as a mixing material of tomato paste production because the total soluble solid of papaya is relatively almost the same as the total soluble solid of tomato. This study aimed to determine the characteristics of tomato paste with the addition of papaya as filler. The experiment was set up in completely randomized design with the treatment of the composition of tomatoes and papaya (the ratio of tomato and papaya as much as 1:0 (control),1:1, 2:1, 4:1, and 6:1). Each treatment repeated five times. The observation variables in the study were yield, total soluble solid, pH, total acid, vitamin C, and organoleptic test. Data obtained was processed using variance analysis (ANOVA) followed by Duncan’s advanced test at 5% (α = 0,05) using the SPSS 21,0 program statistical package. The results showed that papaya can be used as filler in tomato paste. The addition of papaya could increase yield, total soluble solid, total acid, and vitamin C content in tomato paste. Added papaya fruit up to 50% (tomato and papaya composition is 2:1) produced tomato paste which is stable and acceptable to consumers.Keywords: characteristics, filler, papaya, paste, tomato
Yuwana, Andre Zuliansyah, Laili Susanti, Zulman Efendi, Universitas Bengkulu
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 11-18; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.2

Abstract:AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan kurva moisture ratio dan melakukan pendugaan lama pengeringan dendeng ikan manyung (Arius thalasisinus) dengan Pengering Energi Surya YSD-UNIB12. Percobaan dilakukan dengan mempersiapkan sampel sesuai dengan cara pembuatan dendeng ikan dan selanjutnya tiga perlakuan ditetapkan yaitu ketebalan dendeng (0,5 cm dan 1 cm), lama perendaman dalam larutan bumbu (1 jam, 3 jam dan 5 jam), dan posisi sampel pada rak yaitu rak1 (bawah), rak2 (tengah) dan rak3 (atas), masing-masing dilakukan dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap suhu dan kelembaban relatif ruang pengering dan udara luar, dan penurunan berat sampel sepanjang proses pengeringan dari pukul 09.00-16.00 WIB sampai pengeringan selesai dengan kadar air akhir ikan 12%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengering mampu menaikkan suhu udara 15,2 oC lebih tinggi dari udara luar dan menurunkan kelembaban relatif 31% lebih rendah dari udara luar. Model kurva hubungan antara moisture ratio dan kadar air dengan waktu pengeringan adalah kuadratik. Lama pengeringan hanya dipengaruhi oleh tebal dendeng dan posisi di rak. Rata-rata waktu penyelesaian pengeringan berkisar antara 11,9 jam sampai 30,3 jam.Kata kunci: kadar air, lama waktu pengeringan, moisture ratio, pendugaan Abstract The objectives of this study were to describe the curves of moisture ratio and moisture content and to predict drying times of the jerked flesh of Manyung fish (Arius thalassinus) dried by utilizing YSD-UNIB12 solar. The experiments were set up by employing three treatments, i.e., thickness of jerked flesh (0.5 cm and 1 cm), flesh submerging time in spices solution (1, 3 and 5 hours), and rack’s positions that were rack1 (lower), rack2 (middle) and rack3 (upper) with three replications each. The observation was carried out at 9 AM to 4 AM for drying room temperature and relative humidity, ambient temperature and relative humidity, and weight of samples along drying process until the fish moisture content of 12%. The result of experiments showed that the dryer generated the drying chamber temperature 15.2oC higher than the ambient temperature, and the drying chamber relative humidity 31% lower than the ambient relative humidity. Both models of curves of moisture ratio and moisture content versus drying time were quadratic (polynomial second order). Only the position of the rack and the thickness of jerked fish affected drying time. The drying time to produce dry jerked fish varied from 11.9 hours to 30.3 hoursKeywords: drying time, moisture content, moisture ratio, prediction
Siti Asmaul Mustaniroh, Zidni Alvian Febri Kurniawan, Panji Deoranto, Universitas Brawijaya
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 8, pp 57-66; doi:10.21776/ub.industria.2019.008.01.7

Abstract:Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan dalam tercapainya kinerja Green Supply Chain Management KAN Jabung. Perkembangan kompetitif pada agroindustri sangat penting untuk membuka peluang lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Agroindustri selalu terkait dengan pencemaran lingkungan dari serangkaian aktifitas produksinya. Evaluasi ini menggunakan pendekatan metode Green Supply Chain Management (GSCM) yang didukung dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan metode Objective Matrix (OMAX) serta Traffic Light System (TLS). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa 30 Key Perfomance Index (KPI) sudah valid. Berdasarkan scoring system dengan OMAX dan TLS diperoleh total KPI perusahaan sebesar 6,8026 yang menandakan bahwa kinerja GSCM KAN Jabung belum tercapai secara keseluruhan sehingga perlu adanya perbaikan dalam sistem pengawasan yang lebih integatif untuk memaksimalkan capaian kinerja. Hasil lainnya diperoleh 12 KPI berada di kategori hijau (sangat baik), 13 KPI berada dikategori kuning (cukup baik) dan 5 KPI berada di kategori merah (kurang baik) sehingga perlu adanya perbaikan.Kata kunci: green supply chain management, key perfomance index, kinerja rantai pasok, susu pasteurisasi Abstract The purpose of this research is to evaluating application in achieving performance Green supply chain management KAN Jabung. Competitive development in the agroindustry is critical to open up employment opportunities and increase income. Agroindustry also not independent of environmental pollution from production activities. The approach used in the research is Green Supply Chain Management (GSCM) supported by the Analytical Hierarchy Process (AHP), Objective Matrix (OMAX) and Traffic Light System (TLS). The results showed that the 30 Key Performance Index (KPI) were valid. Based on the scoring system with OMAX and TLS, the company's Total KPI was 6.8026 which indicates that GSCM KAN Jabung's performance had not been achieved so needs to be improvement in a more integrated monitoring system to maximize performance. Other results were obtained by 12 KPIs in the green category (very good), 13 KPIs in the yellow category (quite good) and 5 KPIs in the red category (not good) so that there was a need for improvement.Keywords : green supply chain management, key perfomance index, pasteurized milk, perfomance supply chain
Yessy Rosalina, Laili Susanti, Devi Silsia, Rudi Setiawan, Bengkulu University
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 7, pp 153-160; doi:10.21776/ub.industria.2018.007.03.3

Abstract:AbstrakTanaman pisang jantan (Musa paradisiaca var paradisiaca), pisang merah (Acuminata Red Dacca) dan pisang raja nangka (Musa sp.) merupakan jenis pisang yang banyak tumbuh di Provinsi Bengkulu. Salah satu alternatif pengolahan buah pisang adalah tepung pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik tepung pisang yang dihasilkan dari tiga jenis pisang lokal Bengkulu, yaitu pisang jantan, pisang merah dan pisang raja nangka. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap non faktorial, dengan faktor perlakuan adalah jenis pisang. Masing-masing perlakuan dilakukan lima kali ulangan. Variabel pengamatan pada penelitian ini adalah rendemen, sifat fisik (kadar air dan densitas kamba), ukuran granula, dan sifat kimia (karbohidrat, protein, lemak, kadar abu, serat kasar dan vitamin C). Hasil penelitian menunjukan bahwa masing-masing jenis pisang menghasilkan karakteristik yang berbeda-beda. Rendemen tepung pisang tertinggi diperoleh dari bahan baku pisang jantan (20,42%) dan pisang raja nangka (20,01%). Kadar air tertinggi adalah tepung pisang raja nangka (10,04%). Sifat kimia dari ketiga jenis pisang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua variabel yang diamati, kecuali pada variabel pengamatan vitamin C. Hasil pengukuran vitamin C diketahui bahwa kandungan vitamin C tertinggi diperoleh pada tepung pisang dengan bahan baku pisang merah (24,64 mg/100 g sampel).Kata kunci: karakteristik, pisang jantan, pisang merah, pisang raja nangka, tepung pisang AbstractThe variety of banana plant which is found in Bengkulu Province is “pisang jantan’ (Musa paradisiaca var paradisiaca), “pisang merah/pisang udang” (Acuminata Red Dacca) and “pisang raja nangka” (Musa sp.). Banana flour is one of banana product. The research aims to describe the characteristics of banana flour produced from a local Bengkulu banana (pisang jantan, pisang merah/pisang udang, pisang raja nangka) as the raw material. The research design was used as a non-factorial completely randomized design, with the treatment factor being the type of banana. Each treatment was carried out five times. Observation variables in this study were yield, physical properties (water content and kamba density), granule size, and chemical properties (carbohydrate, protein, fat, ash content, crude fiber, and vitamin C). The result showed that each banana flour has different characteristics. The highest banana flour yield was made from pisang jantan (20.42%) and pisang raja nangka (20.01%). The highest water content banana flour was made from pisang raja nangka (10.04%). While for the chemical properties of the three types of bananas, the results were not significantly different for all variables observed, except for the observation variable vitamin C. The result of vitamin C measurements revealed that the highest vitamin C content was obtained banana flour was made from pisang merah (24.64 mg / 100 g sample).Keywords: banana flour,...