Jurnal Biologi Tropis

Journal Information
ISSN / EISSN : 14119587 / 25497863
Current Publisher: Mataram University (10.29303)
Total articles ≅ 206
Filter:

Latest articles in this journal

Slamet Arif Susanto, Heru Joko Budirianto, Agatha Cecilia Maturbongs
Published: 12 June 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 227-236; doi:10.29303/jbt.v20i2.1899

Abstract:
Abstrak: Selama proses suksesi, vegetasi merupakan satu dari komponen utama untuk meningkatkan kesuburan tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan peran vegetasi dominan pada karakteristik tanah di lahan bera berumur 15 tahun Kampung Womnowi, Distrik Sidey, Manokwari. Vegetasi dominan ditentukan berdasarkan data indeks nilai penting (INP) analisis vegetasi. Sampel tanah diambil secara komposit pada luasan lahan 1 hektar dari dua kedalaman tanah (0–10 cm dan 10–20 cm). Vegetasi yang mendominasi lahan bera secara berurutan adalah Pometia pinnata, Dracontomelon dao, Octomeles sumatrana, Lansium domesticum, dan Pimelodendron amboinicum. Kehadiran O. sumatrana mengindikasikan lahan bera tanah aluvial, lebih lanjut terbukti karena lahan bera tersebut berdekatan dengan Sungai Womnowi. Karakteristik fisik tanah didominasi oleh fraksi lempung dan unsur makro lebih tinggi pada kedalaman 0–10 cm dibanding kedalaman 10–20 cm. Karakteristik tanah menunjukkan bahwa tanah tergolong masam (pH 5.4–5.6), kadar karbon organik tanah sedang (1.07–3.39%), kadar nitrogen total rendah (0.17–0.53%), kadar fosfor tersedia tergolong tinggi (10.7–22.4 ppm), kapasitas tukar kation (KTK) tergolong tinggi (10.50–20.32 cmol kg-1), kejenuhan basa tergolong sangat tinggi (65.4–66.7%), dan kadar Al3+ and H+ sangat rendah. Secara keseluruhan urutan KTK menunjukkan Ca > Mg > Na > K yang mengonfirmasi tanah aluvial dan pencucian kalium terjadi dengan cepat. Rendahnya kadar kalium dapat dihubungkan dengan penggunaan unsur tersebut untuk pembentukan buah L. domesticum. Selama pemberaan 15 tahun, vegetasi dominan memengaruhi karakteristik tanah.Kata kunci: vegetasi pohon, kesuburan tanah, analisis tanah, aluvial, Papua Barat During succesional season vegetation is one of major compound to increase soil fertility. The purpose of this study was to analyzed and description dominant vegetation and their contribution to soil characteristic at fallow land 15 years old Womnowi Village, Sidey District, Manokwari. To determine dominant vegetations we used data important value index (IVI) of vegetation. Two depth of sample soils (0–10 cm dan 10–20 cm) were taken from one hectare area by composite technique. The dominant vegetation on fallow land dominated by Pometia pinnata, Dracontomelon dao, Octomeles sumatrana, Lansium domesticum, and Pimelodendron amboinicum respectively. Presence of O. sumatrana was indicated that the type of aluvial fallow land, further it is proven because the fallow land is close to the Womnowi River. Soil physical characteristic dominated by clay fractions, macronutrient was higher in depth 0-10 cm than 10-20 cm. Characteristic of soil shows acidic soils (pH 5.4–5.6), moderate of soil organic carbon (1.07–3.39%), total of nitrogen was low (0.17–0.53%), high available phosphorus (10.7–22.4 ppm), moderate cation exchange capacity (CEC) (10.50–20.32 cmol kg-1), very high base saturation (65.4–66.7%), and very lows of Al3+ and H+. Overall the order of CEC shows Ca > Mg > Na > K respectively confirmed aluvial soil and fast leached potassium in soil. Low potassium levels are thought be related to the use of the element for fruits formation of L. domesticum. During 15 year fallowed, dominant vegetation had influence to soil characteristic.Key words: tree vegetation, soil fertility, soil analysis, alluvial, West Papua
Huurun Iien, Lalu Zulkifli, Prapti Sedijani
Published: 6 June 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 219-225; doi:10.29303/jbt.v20i2.1790

Abstract:
Abstrak: Turi merupakan tanaman yang memiliki berbagai khasiat diantaranya sebagai anti bakteri. Turi mengandung golongan senyawa tanin, saponin dan terpenoid yang dapat digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas ekstrak daun turi terhadap pertumbuhan Klebseilla pneumoniae berdasarkan diameter zona hambat. Pengujian dilakukan dengan mengekstraksi daun Turi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Uji daya hambat antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun turi memiliki daya hambat terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae dengan konsentrasi 10%, 25%, 40% dan 55% dengan diameter zona hambatnya ialah 7.2mm, 14.4mm, 17.9mm, dan 22.5mm. Kemampuan penghambatan pertumbuhan bakteri pada metode sumuran untuk konsentrasi 55%, 40% dan 25% dikategorikan sangat kuat karena memiliki diameter zona hambat rata-rata >12 mm dan konsentrasi 10% di kategorikan lemah karena memiliki diameter zona hambat rata-rata 12 mm and for a concentration of 10% is categorized lemah because the average inhibition zone diameter is
Deny Anjelus Iyai, Yusak Sada, Johan F. Koibur, Aisyah Bauw, Meliza Worabay, Muhammad J. Wajo, Stepanus Pakage, Hengky Wambrauw
Published: 2 June 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 203-210; doi:10.29303/jbt.v20i2.1788

Abstract:
Abstrak: Indonesia merupakan negara megabiodiversiti terutama jenis mamalia, reptilian dan avifauna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas pemanfaatan satwa liar di kampung Pasir Putih, Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak. Dalam penelitian ini objek pengamatan adalah potensi dan pemanfaatan satwa liar di kampung Pasir Putih Kabupaten Fakfak. Variabel pengamatan yang digunakan meliputi informasi dasar tentang jenis satwa liar, status satwa liar berdasarkan IUCN, tujuan pemanfaatan, cara berburu, frekuensi berburu, tingkat keberhasilan berburu, dan jumlah anggota berburu. Data yang diperoleh dianalisis secara tabulasi dan deskriptif untuk memperoleh gambaran objektif kondisi satwa liar yang ada di kampung Pasir putih Kabupaten Fakfak, provinsi Papua Barat. Hasil penelitian diketahui bahwa penduduk di kampung Pasir putih, masih melakukan aktivitas berburu walaupun tidak intens. Beberapa hewan yang dimanfaatkan meliputi hewan avifauna, mamalia dan reptil (herpet). Beberapa hewan masuk dalam kategori terancam punah (VU) oleh Redlist IUCN. Perburuan relatif sulit menggunakan jerat dan anjing berburu, frekuensinya relatif masih rendah dan dengan itu tidak dilakukan secara kolegial karena tingkat kesulitan.Kata kunci: perburuan; satwa liar; pemanfaatan satwa liar; redlist IUCN; Fakfak. Indonesia is a mega biodiversity country especially mammals, reptils and avifauna. This study aims to determine the intensity of wildlife utilization in the village of Pasir Putih, Central Fakfak District, Fakfak Regency. In this study the object of observation is the potential and utilization of wildlife in the Pasir Putih village of Fakfak Regency. Observation variables used included basic information about wildlife species, wildlife status based on IUCN, purpose of use, hunting methods, hunting frequency, hunting success rate, and number of hunting members. The data obtained were tabulated and descriptive analyzed to obtain an objective picture of the condition of wild animals in the Pasir Putih village of Fakfak Regency, West Papua province. The results of the study revealed that residents in the white sand village, still doing hunting activities although not intense. Some of the animals used include Avifauna, mammals and reptiles (herpet). Some animals are in the endangered category (VU) by the IUCN Redlist. Hunting is relatively difficult using snares and hunting dogs, its frequency is still relatively low and hence it is not done collegially because of the difficulty level. Keywords: hunting; wild animal; utilization of wild animals; IUCN redlist; Fakfak.
Suripto Suripto, G. Tresnani, E. R. Gunawan
Published: 25 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 194-202; doi:10.29303/jbt.v20i2.1875

Abstract:
Abstrak: Dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya telah diketahui, bahwa tanaman Jayanti (Sesbania. Sesban) memiliki aktivitas anti serangga terhadap Plutella xylostella, salah satu jenis serangga hama penting tanaman kubis. Juga telah diketahui, bahwa bahan aktif anti serangga dari S. sesban dengan konsentrasi tertentu dapat mematikan imago Diadegma semiclausum, yang merupakan musuh alami dari P. xylostella. Namun demikian, mode-mode aksi aplikasi bahan insektisida dari S. sesban yang selektif untuk pengendalian serangga hama, yaitu dapat menekan populasi P. xylostella namun aman terhadap populasi D. semiclausum belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mode-mode aksi aplikasi berbagai fraaksi ekstrak daun S. sesban yang selektif untuk pengendalian P. xylostella. Serbuk kering daun S. sesban diekstraksi secara bertingkat menggunakan seri pelarut, yaitu berturut-turut petroleum eter, diklorometana, etanol dan air. Masing-masing fraksi ekstrak daun S. sesban dilakukan bioassay terhadap P. Xylostella secara parallel, yaitu uji mortalitas larva, uji daya tolak ovipositor, uji penghambatan penetasan telur dan uji anti feedant. Data hasil setiap uji hayati diolah dengan analisis probit untuk menentukan LC50 (mortalitas larva) dan EC50 (daya tolak ovipositor, penghambatan tetas telur dan daya anti feedant). Hasil menunjukkan, bahwa fraksi ekstrak-etanol daun S. sesban memiliki daya anti serangga terhadap P. xylostella lebih tinggi daripada fraksi-fraksi ekstrak lainnya. Hasil juga menunjukkan, bahwa aplikasi fraksi ekstrak-etanol daun S. sesban melalui mode-mode aksi anti ovipositor dan anti feedant adalah selektif untuk pengendalian P. xylostella. Harga EC50 daya tolak ovipositor (20.52 ppm) dan EC50 anti feedant (26.77 ppm) terhadap P. xylostella masing-masing lebih kecil daripada harga LC50 (37.38 ppm) terhadap D. semiclausum. Disarankan, bahwa penggunaan ekstrak daun S. sesban untuk pengendalian P. xylostella hendaknya diarahkan untuk aplikasi menolak oviposisi dan menghambat aktivitas makan dan tidak disarakan untuk aplikasi mematikan larva dan menghambat penetasan telur P. xylostella. Juga disarankan, bahwa selektivitas ekologis dan efektivitas pengendalian P. xylostella dengan insektisida dari S. sesban perlu dievaluasi dengan mempelajari lebih lanjut stabilitas anti serangga dari S. sesban selama penyimpanan serbuk kering daun sebelum diekstraksi, penyimpanan ekstrak sebelum diaplikasikan, dan stabilitasnya selama aplikasi.Kata kunci: Diadgma semiclausum, mode aksi anti serangga, Plutella xylostella, Sesbania sesban. From the results of previous studies have been known that Jayanti (Sesbania sesban) plants have anti-insect activity against Plutella xylostella, one of the important species of insect pests of cabbage. It is also well known, that the anti-insect active ingredient from S. sesban with a certain concentration can kill Diadegma semiclausum imago, which is a natural enemy of P. xylostella. However, selective modes of action for the application of insecticides from S. sesban for pest control, which suppress P. xylostella populations but are safe against D. semiclausum are not yet known. The S. sesban leaf dry powder was extracted stratified using a series of solvents, namely petroleum ether, dichloromethane, ethanol and water, respectively. Each fraction of S. sesban leaf extract was bioassayed on P. xylostella in parallel, namely larval mortality, ovipositor resistance, egg hatching inhibition and anti-feedant tests. Data on the results of each bioassay was analyzed by probit analysis to determine LC50 (larval mortality) and EC50 (ovipositor resistance, egg hatching inhibition and anti-feedant power. The results show that the extract fraction-ethanol of S. sesban leaves has higher insect repellent ability against P. xylostella than other extract fractions. The results also showed that the application of S. sesban leaf extract fraction-ethanol through each mode of action of anti-ovipositor and anti-feedant was selective for the control of P. xylostella. Each of the reject ovipositor EC50 (20.52 ppm) and anti-feedant EC50 (26.77 ppm) values against P. xylostella was smaller than the LC50 price (37.38 ppm) against D. semiclausum imago. It is recommended that the use of S. sesban leaf extract for controlling P. xylostella should be directed with application to reject oviposition and inhibit eating activities. This is because the concentration of the extract application is safe against D. semiclausum. Application of S. sesban leaf extract is not recommended to kill larvae and inhibit hatching eggs of P. xylostella because it requires a greater concentration of extract application and can suppress the population of D. semiclausum. Ecological anti-insect selectivity and effectiveness of using insecticide from S. sesban for the control of P. xylostella need to be evaluated by further studying the stability of the anti-insect active ingredient from S. sesban during storage of dried leaf powder before extracting, storage of extracts before being applied, and their stability during application.Keywords: Diadegma semiclausum, insecticidal mode of action, Plutella xylostella, Sesbania sesban.
Najira Najira, Eka Selviyanti, Yosia Br. Tobing, Kasmawati Kasmawati, Rosalina Sianturi, Adi Bejo Suwardi
Published: 18 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 185-193; doi:10.29303/jbt.v20i2.1871

Abstract:
Abstrak: Durian (Durio zubethinus Murr.) Merupakan salah satu jenis buah tropis dari famili Bombacaceae yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan keragaman karakteristik dan tingkat kemiripan tanaman durian di desa Sukajadi Makmur, Kota Langsa, Provinsi Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2019 – Februari 2020 Penelitian dilakukan dengan metode eksplorasi yaitu penelusuran keberadaan tanaman durian di wilayah penelitian dan wawancara. Hasil karakterisasi morfologi untuk bentuk pohon durian (Jorong, Bulat, dan Lonjong), Permukaan batang (kasar dan halus), Bentuk daun (lonjong, bulat panjang dan bulat telur) dan bentuk buah (Bulat, membulat, bulat telur, lonjong dan bulat panjang). Perlu dilakukan penelitian secara khusus yang mengarahkan pada eksplorasi karakteristik sifat morfologi dan molekuler serta kualitas buah durian di Provinsi Aceh.Kata Kunci: Diversitas; Kultivar; Karakter morfologi; Durian; Desa Sukajadi. Durian (Durio zubethinus Murr.) Is a type of tropical fruit from the Bombacaceae family that has high economic value. The purpose of this research is to get the facts and the similarity of durian plants in the village of Sukajadi Makmur, Langsa City, Aceh Povince. This research was conducted in September 2019 – February 2020. The Research was conducted with an exploratory method, namely the search for the existence of durian plants in the study area and interviews. Results of the characterization of Durian plants in the form of durian trees (Jorong, round, and oval), stem surface (rough and smooth), leaf shape (round, rounded, ovoid, oval, and elliptical). Sprecific research needs to be conducted that leads to the exploration of morphological and molecular characteristics and the quality of durian in Aceh Province.Keywords: Diversity; Cultivars; Morphological Character; Durian; Sukajadi Village.
Marina Br Sembiring, Dira Rahmi, Mia Maulina, Vidia Tari, Rahmayanti Rahmayanti, Adi Bejo Suwardi
Published: 18 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 179-184; doi:10.29303/jbt.v20i2.1876

Abstract:
Abstrak: Mangga (Mangifera indica L.) menjadi salah satu buah yang disukai dan memiliki banyak kultivar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfologi dan sensoris kultivar mangga di kecamatan Langsa Lama, Aceh, Indonesia. Penelitian dilaksanakan di 5 desa, yaitu di desa Meurandeh, Sidodadi, Sidorejo, Meurandeh Teungoh, dan Asam Peutek, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh pada bulan Januari - Maret 2020. Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan mengamati kultivar mangga yang dibudidayakan penduduk di kebun dan pekarangan rumah. Seratus orang panelis dari 5 desa (20 orang setiap desa) dipilih secara acak untuk menilai kualitas warna, rasa, dan aroma dari buah mangga yang ditemukan. Sebanyak 5 kultivar mangga ditemukan pada lokasi penelitian, yaitu mangga arumanis, mangga apel, mangga golek dan mangga madu. Mangga tersebut memiliki karakter morfologi yang berbeda. Mangga Arumanis menjadi jenis kultivar mangga yang paling disukai berdasarkan atribut rasa, aroma, tekstur dan warna.Kata Kunci: Kultivar; sensoris; rasa; Langsa Lama; Mango (Mangifera indica L.) is one of the most preferred fruit and has many cultivars. This study aims to identify the morphological and sensory character of mango cultivars in the Langsa Lama district, Aceh, Indonesia. The study was conducted between January and March 2020 in five villages, namely Meurandeh, Sidodadi, Sidorejo, Meurandeh Teungoh, and Asam Peutek, Langsa Lama District, Kota Langsa, Aceh. A field study was conducted by observing mango cultivars cultivated in the home garden and farmland. One hundred panelists from five villages (20 people from each village) were randomly selected to assess the taste, colour, and aroma of the mangoes. A total of five mango cultivars were identified at the study site, namely Arumanis, Apple, Golek, and Madu. These mangoes have different morphological characteristics. Arumanis is the most preferred product based on the taste, aroma, texture, and colour.Keywords: cultivar; sensory; taste; Langsa Lama;
Agustin Rosa Fadila, Yeni Mariani, Fathul Yusro
Published: 13 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 155-160; doi:10.29303/jbt.v20i2.1756

Abstract:
Abstrak: Tanaman kari (Murraya koenigii (L.) Spreng) merupakan tanaman budidaya di Kalimantan Barat dan memiliki potensi besar sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang memiliki sifat antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis rendemen minyak atsiri daun kari dan potensinya dalam penghambatan pertumbuhan bakteri S. pyogenes dan S. dysenteriae. Penelitian menggunakan metode penyulingan daun kari dengan cara destilasi uap, perhitungan rendemen dan pengujian aktivitas antibakteri S. pyogenes dan S. dysenteriae pada media MHA dengan metode difusi cakram. DMSO digunakan sebagai kontrol negatif, amikacin sebagai kontrol positif dan minyak atsiri daun kari pada empat level konsentrasi yaitu 5, 10, 15 dan 20%. Analisis data menggunakan analisis one-way anova pada daya hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak atsiri daun kari yang dihasilkan dalam penelitian ini sebesar 0,139%. Tingkat penghambatan terhadap bakteri S. pyogenes tergolong kuat pada semua level konsentrasi dan pada bakteri S. dysenteriae tergolong sedang pada konsentrasi 10, 15 dan 20%. Hasil penelitian membuktikan bahwa minyak atsiri daun kari berpotensi sebagai antibakteri alami.Kata kunci: Minyak atsiri, tanaman kari (Murraya koenigii (L.) Spreng), rendemen, antibakteri, Streptococcus pyogenes, Shigella dysenteriae Curry plants (Murraya koenigii (L.) Spreng) plants recently cultivated in West Kalimantan have enormous potential as a plant producing essential oils and has antibacterial properties. This study aims to analyze the yield of curry leaf essential oil and its potential in inhibiting the growth of S. pyogenes and S. dysenteriae bacteria. The research method used is the distillation of curry leaves by steam distillation, calculation of yield, and testing of the antibacterial activity of S. pyogenes and S. dysenteriae on MHA media by disk diffusion method. DMSO was used as a negative control, amikacin as a positive control and essential oils of curry leaves at four concentration levels (5, 10, 15, and 20%). The inhibition zone data were analyzed using one-way ANOVA. The yield of curry leaf essential oil produced in this study was 0.139%. The level of inhibition against S. pyogenes bacteria was classified as strong at all concentration levels, and in S. dysenteriae was classified as moderate at concentrations of 10, 15, and 20%. The research proves that curry leaf essential oil has proven potential as natural antibacterial.Keywords: Essential oils, curry plants (Murraya koenigii (L.) Spreng), yield, antibacterial, Streptococcus pyogenes, Shigella dysenteriae
Titi Endang, Jumiati Jumiati, Dyah Pramesthi I. A
Published: 13 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 161-172; doi:10.29303/jbt.v20i2.1807

Abstract:
Abstrak: Lumut (Bryophyta) merupakan kelompok tumbuhan tingkat rendah yang tumbuh meluas di daratan. Secara ekologi lumut berperan penting dalam ekosistem, seperti menjaga keseimbangan air, siklus hara, menjadi habitat penting bagi organisme lain, dapat dijadikan sebagai bioindikator karena tumbuhan ini lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dan merupakan tumbuhan perintis. Pentingnya peran lumut dan belum adanya data mengenai jenis-jenis lumut di Daerah Aliran Sungai Kabura-burana maka sangat perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis lumut yang tumbuh di Daerah Aliran Sungai Kabura-burana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode eksplorasi. Hasil penelitian diperoleh 15 spesies lumut yang terdiri atas 11 spesies lumut daun dan 4 spesies lumut hati. Delapan jenis lumut teridentifikasi sampai tingkat spesies, lima jenis teridentifikasi hingga tingkat genus dan dua lainnya teridentifikasi hingga tingkat familia. Kata Kunci: Bryophyta; Inventarisasi; Lumut; Spesies Moss (bryophyta) is a group of low-level plants thatgrow widely on land. Ecologically the moss plays an important role in the ecosystem, such as maintaining water balance, nutrient cycles, being an important habitat for other organisms, can be used as a bioindicator because these plants are more sensitive ti environmental changes and are pioneering plants. The important of the role of mosses and the absenceof data on the types of mosses in the Kabura-burana River Basin, it is necessary to conduct this research to determine the types of mosses that grow in the Kabura-burana River Basi. This research is a qualitative research using exploratory methods. The result obtained by 15 species of mosses consisting of 11 species of musci and 4 species of liverworts. Eight species of mosses are identified up to the species level, five types of moss are identified up to genus level and other two are identified up to the family level.Keywords: Bryophyta;Inventory; Moss; Species
Ratna Dewi Eskundari, Nur Rohimah Hanik
Published: 13 May 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 173-178; doi:10.29303/jbt.v20i2.1791

Abstract:
Abstrak: Tanaman sambung nyawa (Gynura procumbens) dikenal sebagai salah satu tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Daun tanaman ini diketahui mempunyai efek anti peradangan yang dapat mengurangi bahkan mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian ini berfokus pada pemilihan bagian batang tanaman sambung nyawa yang mempunyai kapasitas terbaik sebagai eksplan stek. Penelitian ini dilakukan dengan menanam 3 bagian batang tanaman sambung nyawa yang berbeda, yaitu bagian atas (pucuk sampai dengan 10 cm ke bawah), tengah (bagian batang yang berjarak 10cm dari pucuk sampai 20 cm), dan bawah (bagian batang yang berjarak 20 cm dari pucuk hingga 30 cm). Ketiga jenis eksplan ini ditanam di tanah yang mengandung humus tanpa diberi perlakuan penambahan ZPT. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan sepuluh ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara bagian batang dengan panjang daun, tetapi terdapat perbedaan yang nyata dengan lebar daun, panjang tunas, dan panjang akar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagian batang “tengah” dan atau “bawah” sebagai eksplan terbaik dalam usaha perbanyakan tanaman sambung nyawa menggunakan stek. Kata kunci: organogenesis, perbanyakan, sambung nyawa, stek. Sambung nyawa plant (Gynura procumbens) is known as one of the plants that are beneficial for human health. The leaves of this plant are known to have anti-inflammatory effects that can reduce and even treat various diseases. This research focused on the selection of the stem part of sambung nyawa plant which has the best capacity as explant cuttings. This research was carried out by planting three different parts of the stem of the plant, namely the upper part (shoots apical up to 10 cm down part), the middle (the stem part that is 10cm from the top to 20 cm down part), and the bottom (the part of the stem which is 20 cm apart from shoots up to 30 cm down part). These three types of explants were planted in soil containing humus without being treated with the addition of PGR(s). This study used a completely randomized design with ten replications. The results showed that there was no significant differences between the stem parts with leaf length parameter, but there were significant differences in leaf width, shoot length, and root length ones. The results of this study were expected to be a reference part of the stem "middle" and or "bottom" as the best explant in the effort to propagate the sambung nyawa plants using cuttings.Keywords: organogenesis, propagation, sambung nyawa, cuttings.
Dining Aidil Candri, Laily Hunawatun Sani, Hilman Ahyadi, Baiq Farista
Published: 23 April 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 139-147; doi:10.29303/jbt.v20i1.1385

Abstract:
Abstrak: Struktur komunitas moluska di suatu ekosistem mangrove dapat digunakan sebagai indikator status kesehatan ekosistem tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan pembandingan antara struktur komunitas moluska di ekosistem mangrove alami dan rehabilitasi untuk melihat adanya perbedaan struktur moluska di kedua kondisi ekosistem tersebut. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret - Juni 2019 pada 2 tipe ekosistem mangrove yaitu ekosistem mangrove alami di Pemongkong, Lombok Timur dan ekosistem mangrove rehabilitasi di teluk Gerupuk, Lombok Tengah. Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive random sampling dengan meletakkan 3 plot berukuran 1x1 m secara acak di dalam plot yang berukuran lebih besar (10x10 m) yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun hasil penelitian menunjukkan terdapat 37 spesies moluska yang termasuk ke dalam 14 famili. 14 spesies ditemukan di kedua lokasi penelitian, 3 spesies hanya ditemukan di kawasan rehabilitasi, dan 20 spesies lainnya hanya ditemukan di kawasan mangrove alami Pemongkong. Ekosistem mangrove alami Pemongkong memiliki kemelimpahan moluska lebih tinggi yakni mencapai 77.692 ind/m2, dibandingkan dengan ekosistem mangrove rehabilitasi yang hanya mencapai 48.746 ind/m2. Famili Potamididae memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan tertinggi di kedua lokasi penelitian. Berdasarkan proporsi setiap spesies dalam komunitas moluska yang ditemukan, persamaan kedua lokasi penelitian yang ditunjukkan dengan Persent similaritas (PS) tergolong rendah yakni hanya mencapai kemiripan 36,36% .Keanekaragaman vegetasi mangrove, usia vegetasi, serta kondisi lingkungan dapat menjadi faktor yang mendukung perbedaan struktur komunitas moluska tersebut.Kata kunci: Struktur komunits, Moluska, Mangrove, Alami, Rehabilitasi Mollusks community structure in a mangrove swamp can be used to describe the status of mangrove ecosystem’s health. In this research, the mollusks community ini natural and rehabilitation mangrove ecosystem were compared in order to find the difference between these ecosystems. This research held on March to June 2019 at 2 types of mangrove ecosystem such as natural ecosystem at Pemongkong, East Lombok and rehabilitation ecosystem at Gerupuk bay. Data collection method used purposive random sampling by placed 3 plots sized 1x1 m randomly in a larger plot (10x10 m) which have been determine before. The result showed that there are 37 species of association of mollusks which belong to 14 families. 14 species found in both locations, 3 species only found at rehabilitation ecosystem, and 20 species left only found at natural mangrove ecosystem at Pemongkong. Natural mangrove ecosystem Pemongkong had higher abundance of association mollusks with number of abundance 77.692 ind/m2 against rehabilitation ecosystem which only reached 48.746 ind/m2. Potamididae has the highest diversity and abundance value in both location. The resemblance of these 2 ecosystem based on the proportion of each species in the mollusks community showed by Similarity Presentation categorized as low level which only reach 36,36% of similarity. Mangrove diversity, it’s age, and the environmental condition may caused the difference in those mollusks structure community.Key words: Structur community, Mollusks, Mangrove, Natural, Rehabilitation
Back to Top Top