Jurnal Biologi Tropis

Journal Information
ISSN / EISSN : 14119587 / 25497863
Current Publisher: Mataram University (10.29303)
Total articles ≅ 167
Filter:

Latest articles in this journal

Sandra Nolan, Muhammad Ramli, Bahtiar Bahtiar
Published: 18 November 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 282-293; doi:10.29303/jbt.v19i2.1090

Abstract:Abstrak : Desa Basule memiliki potensi ekosistem mangrove yang terus mengalami penerunan kualitas dan kuantitas sejalan dengan terus meningkatnya penangkapan yang merusak dan terus menurunnya komonitas ikan di daerah ekosistem mangrove, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang kondisi sumber daya ikan yang terdapat di perairan tersebut sehingga dapat menjadi suatu informasi ilmiah yang berguna untuk pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi ikan, menganalisa struktur komunitas ikan hubungannya dengan aspek fisika-kimia perairan di kawasan mangrove Desa Basule. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan bertempat di kawasan ekosistem mangrove Desa Basule. Stasiun penelitian ditentukan berdasarkan kerapatan mangrove dengan menentukan daerah mangrove kondisi tutupan padat, sedang dan jarang. Data yang dianalisis meliputi: indeks nilai penting mangrove, komposisi jenis ikan, struktur komunitas ikan dan analisis korelasi (PCA dan CA). Selama penelitian jumlah total ikan yang berhasil diidentifikasi dari ketiga stasiun di daerah ekosostem mangrove sebanyak 17 jenis dari 14 famili dan 14 genus. Nilai keanekaragaman tergolong rendah sampai sedang dengan kisaran 0,580-1,552, nilai keseragaman tergolong rendah dengan kisaran 0,130-0336 dan nilai dominansi tergolong ada dan tidak ada dominansi dengan kisaran 0,309-0,732. Hasil analisis PCA menjelaskan bahwa parameter lingkungan yang menjadi penciri adalah parameter salinitas (0,81), DO (0,97), nitrat (0,97) dan suhu (0,81). Hasil analisis CA ditemukan 3 kelompok. Kelompok I dicirikan oleh Chanos-chanos, Leiognatus sp, Parupeneus sp, Sphyraena genie, Tylosurus crocodilus dan Bibisa. Kelompok II dicirikan oleh Caranx sexfasciatus, Saurida tumbil, Periopthalmus argentiliniatus, Oreochromis mossambicus, Scatophagus argus dan Therapon theraps. Kelompok III dicirikan oleh Gires filementous, Girres oyena, Valamugil speigteri, Lutjanus sp dan Kooko.Kata Kunci : Ekosistem Mangrove, Struktur Komunitas Ikan, Korelasi, Desa Basule Abstract : Basule Village had a potential of mangrove ecosystems which continued in decreasing of quality and quantity in line with the increasing of destructive fishing and also declining of fish communities in the mangrove ecosystem area, so researcher needed to conduct the research about the condition of fish resources in the waters of Basule Village so that it can become a scientific information which was useful for management. This research aimed to determine the composition of fish and analyzed the structure of fish communities in relation with the physical-chemical aspects of waters in the mangrove area of Basule Village. This research was conducted for 3 months which located in the mangrove ecosystem area of Besule Village. The research station was determined based on the density of mangroves by determining the conditions of solid, medium, and rare cover in the mangrove area. Data analysis included the important of index value of mangrove, the...
Eltis Panca Ningsih, Imas Rohmawati
Published: 6 November 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 277-281; doi:10.29303/jbt.v19i2.1246

Abstract:Abstrak : Tanaman miana saat ini dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Perbanyakan Tanaman miana dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Stek pucuk merupakan cara perbanyakan vegetatif tanaman miana yang relatif mudah dilakukan. Pembibitan dengan cara ini merupakan salah satu cara cepat dalam memenuhi kebutuhan bahan tanaman skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Zat Pengatur Tumbuh terhadap stek pucuk tanaman miana (Coleus atropurpureus (L.) Benth. Penelitian dilaksanakan di di laboratorium agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtyasa. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan pada bulan Maret sampai Mei 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang yang terdiri dari empat perlakuan dan diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji dalam percobaan ini adalah: kontrol (Tanpa ZPT), IAA 750 ppm, Growtone 500 ppm, dan air kelapa 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap jumlah tunas dan jumlah akar. Jumlah tunas terbanyak terdapat pada perlakuan Growtone sebesar 7.50 tunas. Jumlah akar terbanyak terdapat pada perlakuan IAA sebesar 91.00 buah. Rekomendasi budidaya tanaman miana dengan cara stek dapat menggunakan IAA 750 ppm maupun Growtone 500 ppm.Kata Kunci : miana, stek, zat pengatur tumbuhAbstract : Miana plant is currently used as an ornamental plant. The multiplication of miana crops can be done in a generative and vegetative way. Cuttings is a vegetative way of reproduction of miana plant which is relatively easy to do. Breeding in this way is one of the quick ways in meeting the needs of large-scale plant materials. This research aims to determine the effect of giving Plant Growth Regulator to the shoots cuttings of Miana (Coleus atropurpureus (L.) Benth). Research conducted in the Agroecological laboratory, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtyasa. The research will be held in the month of March to May 2017. The study conducted by randomized block design (RBD) which consists of four treatments and is repeated three times. The treatment tested in this experiment was: control (without plant growth regulator), IAA 750 ppm, Growtone 500 ppm, and 10% coconut water. The results showed that the treatment of plant growth regulator affected in the number of shoots and the number of roots. The most number of shoots is in the Growtone treatment of 7.50 shoots. The highest number of roots is in the IAA treatment of 91.00 pieces. Recommendations for cultivation of miana crops with cuttings can use IAA 750 ppm maupun Growtone 500 ppm.Keyword : Miana, cuttings, growing regulatory substances
Laily Hunawatun Sani, Dining Aidil Candri, Hilman Ahyadi, Baiq Farista
Published: 5 November 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 268-276; doi:10.29303/jbt.v19i2.1363

Abstract:Abstrak : Rehabilitasi mangrove merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi laju kerusakan hutan mangrove di Indonesia salah satunya di kawasan Teluk Gerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi mangrove hasil rehabilitasi di Teluk Gerupuk dengan mebandingkan struktur vegetasi mangrove di kawasan tersebut dengan ekosistem mangrove alami. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2019 di dua kawasan hutan mangrove di pesisir selatan pulau Lombok yaitu hutan mangrove alami desa Pemongkong dan hutan mangrove rehabilitasi Teluk Gerupuk. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode transek berpetak dengan ukuran petak 10 x 10 m untuk tipe pohon, sub petak 5 x 5 m untuk tipe pancang, dan petak semai berukuran 2 x 2 m. Terdapat 11 spesies mangrove ditemukan di dalam plot penelitian dengan persebaran spesies yaitu 8 spaesies ditemukan di hutan mangrove alami Pemongkong dan hanya 7 spesies ditemukan di hutan mangrove rehabilitasi Gerupuk. Spesies mangrove yang dimaksud termasuk ke dalam 4 famili yaitu Avicenniaceae (Avicennia alba, A. marina, A. lanata), Rhizophoraceae (Ceriops decandra, C. tagal, Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa), Rubiaceae (Scyphiphora hydrophyllaceae) dan Sonneratiaceae (Sonneratia alba, S. casiolaris). Struktur vegetasi kedua ekosistem sangat berbeda terlihat pada vegetasi penyusunnya. Hutan mangrove alami Pemongkong didominasi oleh jenis Sonneratia alba dan Avicennia alba yang memiliki Indeks nilai penting (INP) untuk tipe pohon dan pancang dengan nilai masing-masing 132,37 dan 141,52, sedangkan hutan mangrove rehabilitasi didapatkan INP tertinggi pada tipe pohon dan pancang yaitu jenis R. apiculata dan R. stylosa dengan INP berturut-turut 140,5 dan 116,41. Rehabilitasi hutan mangrove dengan metode yang selama ini dilakukan telah mengubah struktur vegetasi hutan mangrove di Pulau Lombok yang juga dapat mempengaruhi fauna asosiasi dan ekosistem sekitar mangrove. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan serta analisis terlebih dahulu terhadap lokasi tujuan rehabilitasi mangrove agar untuk terbentuknya hutan mangrove rehabilitasi yang lebih sesuai dengan biota asosiasi dan ekosistem sekitar yang telah ada sebelumnya.Kata Kunci : Struktur Komunitas, Mangrove, Alami, RehabilitasiAbstract : Rehabilitation of mangrove vegetation was an effort in order to decrease the rate of mangrove ecosystem destruction. This research aimed to determine the vegetation structure and the community status of natural and rehabilitation mangrove forest at South Lombok seashore. This research held on March – June 2019 at two types of mangrove ecosystem such as natural ecosystem at pemongkong, East Lombok and rehabilitation ecosystem at Gerupuk bay, Central Lombok. Data collection used plotted transect method by placed a plot sized 10x 10 m alternately. There are 11 species of mangrove found which belong to 4 families such as Avicenniaceae (Avicennia alba, A. marina, A. lanata), Rhizophoraceae...
Therry Prosperita K. Wau, Diaz F. Izdihar, Katherine Gunawan, Yolanda Eliza Putri Lubis
Published: 4 November 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 260-267; doi:10.29303/jbt.v19i2.1049

Abstract:Abstrak : Kesemek (Dyospyros kaki L.) merupakan buah yang berada di tanaman dataran tinggi (pegunungan). Dapat tumbuh dimana saja pada suhu rendah, kelembapan tinggi, intensitas matahari tidak 100% (teduh/mendung). Buah ini mempunyai kandungan senyawa yang memiliki potensi antimikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efektifitas ekstrak kesemek terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, dan 50%. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratotium dengan metode difusi cakram.. Parameter yang diukur adalah besarnya zona hambat minimum dan zona hambat optimum ekstrak terhadap bakteri. Hasil penelitian didapatkan ekstrak buah kesemek memiliki efektivitas antibakteri pada Escherichia coli, dimanazona hambat minimum rata-ratanya pada konsentrasi 70% (6,1 mm) dan zona hambat optimum rata-rata pada konsentrasi 100% (8,8 mm). Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberi maka semakin besar daya antibakterinya. Hasil ini menunjukan bahwa ekstrak buah kesemek memiliki efektivitas antibakteri yang lemah terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli sesuai klasifikasi respon zona hambat bakteri.Kata kunci: Kesemek (Dyospyros kaki L.), antibakteri, Escherichia coli Abstract : Persimmon (Dyospyros kaki L.) is a fruit that is in highland (mountain) plants. Can grow anywhere at low temperatures, high humidity, the intensity of the sun is not 100% (shade / cloudy). This fruit contains compounds that have antimicrobial potential which inhibits the growth of Escherichia coli bacteria. This study aims to determine the effectiveness of persimmon extract on the growth of Escherichia coli bacteria at concentrations of 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, and 50%. This study was an experimental laboratory with disc diffusion method. The parameters measured were the size of the minimum inhibition zone and the optimum zone of extract inhibition against bacteria. The results showed persimmon fruit extracts had antibacterial effectiveness in Escherichia coli, where the minimum inhibition zone was at a concentration of 70% (6.1 mm) and the optimum inhibition zone averaged at a concentration of 100% (8.8 mm). The higher the concentration of extract given, the greater the antibacterial power. These results indicate that persimmon fruit extract has a weak antibacterial effectiveness against the growth of Escherichia coli bacteria according to the classification of bacterial inhibitory zone responses.Keywords: Persimmon (Dyospyros kaki L.), antibacterial, Escherichia coli
Eka S. Prasedya, Sonia A. Pebriani, Yogi Ambana, Anggit Ls, Sri Widyastuti, Aluh Nikmatullah, Sunarpi Sunarpi
Published: 4 November 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 250-259; doi:10.29303/jbt.v19i2.1367

Abstract:Abstrak : Pemupukan anorganik pada sistem budidaya pertanian menimbulkan beberapa masalah, antara lain biaya produksi meningkat, pendapatan petani menurun, tanah menjadi keras dan tidak subur, serta mencemari lingkungan. Karena itu, perlu ada upaya untuk menemukan sumber bahan baku pupuk yang mudah didapat, murah dn ramah lingkungan. Beberapa peneliti sebelumnya melaporkan bahwa rumput laut mengandung fitohormon dan elemen essensial yang dapat merangsang pertumbuhan dan hasil tanaman. Artikel ini melaporkan pengaruh ekstrak cair dan padat Sargassum aquifolium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Ekstrak cair dan padat alga tersebut diperoleh dengan metode Godlewska et al., 2016. Ekstrak cair (10%) disemprotkan satu kali seminggu selama pertumbuhan vegetatif. Ekstrak padat (5%) diberikan pada media tanah saat tanam. Ekstrak cair secara signifikan mempengaruhi sebagian besar parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah cabang dan berat kering tunas) dan pertumbuhan generatif (jumlah dan berat buah per tanaman), namun ekstrak cair tersebut tidak secara signifikan mempengaruhi berat kering akar. Fenomena serupa juga ditemukan pada pengaruh ekstrak padat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa ekstrak cair yang dilaporkan mengandung fitohormon, dan ekstrak padat yang mengandung elemen essensial dapat dikembangkan sebagai “biostimulan” dan “biofertlizer” organik yang dapat memacu pertumbuhan dan produksi tanaman.Kata kunci : ekstrak cair, ekstrak padat, Sargassum quifolium, pertumbuhan, hasil, tanaman mentimun.Abstract : Aplication of inorganic fertilizer in agriculture cultivation system causes some disadventages, such as increase cost production, reduce farmer’s income and soil fertility, and hqrm our environment. Therefore, it is needed to find out raw materials for fertilizer which easy to obtain, cheap and adaptive to our environment. Previous researchres reported that seaweed contained plant growth hormones and essential elements stimuliting growth and yield of plants. This article reports effect of liquid and solid extracts of Sargassum aquifolium on growth and yield of cucumber plants. Liquid and solid extracts were obtained according to modified Godlewska method (2016). Liquid extract (10%) was sprayed once a week during vegetative growth. Moreover, solid extract (5%) was applied in plant media. Liquid extract influenced significantly most growth parameters, such as plant height, branch number, shoot dry weight and yield parameters like fruit number and fruit weight per plant, but liquid extract did not significantly affect root dry weight. Similar phenomena was also found on the effect of solid extract on growth and yield of cucumber plants. The results suggest that liquid and solid extracts containg plant growth hormones and essential element respectively, could be developed as organic biostimulant and biofertilizer inducing growth and plant...
Desi Maya Santi, Tri Mulyaningsih, Evy Aryanti
Published: 29 October 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 239-249; doi:10.29303/jbt.v19i2.1269

Abstract:Abstrak : Sungai Keremit terletak di Joben Resort, Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, yang memiliki ketinggian 661m-848m di atas permukaan laut, di sungai Keremit terdapat berbagai jenis tanaman, salah satunya adalah bambu yang tumbuh di sempadan sungai, palung, tebing dan tepi sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies bambu, kunci identifikasi, deskripsi, hubungan kekerabatan antar spesies bambu, peta distribusi bambu di sempadan sungai Keremit, Resort Joben, Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode garis, mengumpulkan semua spesies bambu di sepanjang sempadan sungai Keremit yang diambil pada area 50 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai. Berdasarkan hasil identifikasi ditemukan 4 marga bambu, dengan 6 spesies dan 1 kultivar (cv), di sempadan sungai Keremit, Resort Joben, Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, yaitu Schizostachyum jaculans, Gigantochloa atter, Gigantochloa apus, Dendrocalamus sp., Dendrocalamus asper, Bambusa vulgaris, dan 1 kultivar bambu, yaitu Bambusa vulgaris cv. Vittata.Kata kunci : Bambu, Tepi Sungai, Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok.Abstract : Keremit river is located in Joben Resort, Rinjani Mount National Park, Lombok, which has an altitude of 661m-848m above sea level, in the Keremit river there are various types of plants, one of which is bamboo which grows on the edge of the trough, cliffs and river banks. This study aims to determine the species of bamboo, identification keys, description, relationship between bamboo species, bamboos distribution map at the border of the Keremit river, Resort Joben, Rinjani Mount National Park, Lombok. Samples collections were conducted using the line sampling method, collecting all species of bamboo in the border of the Keremit river were taken from the area of 50 meters from the left and right edges of the riverbed. Based on the identification results was 4 genera of bamboos, with 6 species and 1 cultivated variety in the border of Keremit river, Joben Resort, Rinjani Mount National Park, Lombok, namely Schizostachyum jaculans, Gigantochloa atter, Gigantochloa apus, Dendrocalamus sp., Dendrocalamus asper, Bambusa vulgaris, and 1 cultivated variety of bamboo, namely Bambusa vulgaris cv Vittata. Keywords: Bamboo, river banks, Rinjani Mount National Park, Lombok.
Muh Fahmi Zuhdi, Karnan Karnan, Abdul Syukur
Published: 28 October 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 229-238; doi:10.29303/jbt.v19i2.1318

Abstract:Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menilai status dan struktur populasi ikan ekonomis penting padang lamun di Teluk Ekas. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan pukat pantai (Beach seine) dengan metode swept area pada bulan Mei-Juni 2016. Analisis data pada penelitian ini yaitu analisis data kelimpahan relatif individu ikan menggunakan formula KR=Ni/N x 100 selanjutnya analisis hubungan panjang dan berat menggunakan rumus W= aLb. Hasil pada penelitian ini ditemukan empat spesies ikan ekonomis penting yaitu Siganus gutatus, Siganus canaliculatus, Hemiramphus archipelagicus dan Terapon jarbua. Kelimpahan ikan ekonomis penting yaitu Siganus gutatus sebesar 33,60% dan yang paling rendah Terapon jarbua sebesar 21,24%. Sebaran panjang masing-masing spesies ikan yaitu Siganus guttatus 61-70 mm (46,6%). Siganus canaliculatus, sebaran panjang yang paling tinggi yaitu pada rentang 71-80 mm sebesar (33,1%). Hemiramphus archipelagicus, sebaran panjang yang paling tinggi yaitu pada rentang 131-150 mm sebesar (36,3%). Terapon jarbua, sebaran panjang yang paling tinggi yaitu pada rentang 91-100 mm sebesar (26,8%). Hubungan panjang dan berat ikan yang diperoleh menunjukkan bahwa pola pertumbuhan semua spesies adalah allometrik negatif. Dapat disimpulkan bahwa tingginya kelimpahan jenis ikan ekonomis penting yang berasosiasi dengan padang lamun yang berukuran juvenil sebagai indikator fungsi ekologi lamun sangat vital untuk ikan dapat survive.Kata Kunci : Padang Lamun, Distribusi dan Keragaman Ikan Ekonomis Penting.Abstract : This research aims to assess the stattus and population structure of economically important fish seagrass beds. The sampel was taken by using beach seine with swept area method on Mei-Juni 2016. The data analysis of this research was the analysis of abundance relativity of individual fish by using formula . Then data analysis of lenght and weight relationship using the formula W=aLb.The result of this research, it was found that four species of economically important fish they are Siganus guttatus, Siganus canaliculatus, Hemiramphus archipelagicus and Terapon jarbua. The results abundance of economically important fish was highest in Siganus gutatus with the percentage of 33.60% and the lowest in fish Terapon jarbua with the percentage of 21.24. The distribution of each species was Siganus guttatus the length of distribution highest in the range 61-70 mm with the percentage of 46,6%, Siganus canaliculatus the length of distribution highest in the range 71-80 mm with the percentage of 31,3%, Hemiramphus archipelagicus the length of distribution highest in the range 131-150 mm with the percentage of 36,6%, Terapon jarbua the length of distribution highest in the range 91-100 mm with the percentage of 26,8%. The correllation beetwen length and weight showed that the form of all species was allometrik negatif. It can be concluded that the high number of abundance of economically important juveniles fish which was associated with...
Muhammad Junaidi, Zaenal Ahmad, Baiq Hilda Astriana
Published: 22 October 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 221-228; doi:10.29303/jbt.v19i2.1273

Abstract:Abstrak : Penelitian kepadatan spat kerang mutiara yang dipelihara di alam perlu terus dilakukan karena belum ada patokan tingkat kepadatan yang sesuai untuk usaha komersial. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh kepadatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup spat kerang mutiara (Pinctada maxima). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yakni perlakuan A (60 ind/poket), B (75 ind/poket), C (90 ind/poket), D (105 ind/poket), dan perlakuan E (120 ind/poket). Ukuran spat yang digunakan rata-rata 1 cm pada poket (keranjang pemeliharaan) 45x60 cm2. Hasil penelitian selama 45 hari menunjukan bahwa pertumbuhan pada semua perlakuan tidak berbeda nyata, namun pertumbuhan terbaik dengan nilai 0,70 cm untuk pertumbuhan mutlak dan 0,69% untuk laju pertumbuhan harian dimiliki oleh kepadatan yang rendah yakni 60 ind/poket, disusul oleh perlakuan lainnya seperti perlakuan B,C,D, dan E. Hasil uji ANOVA, SR didapatkan hasil persentase yang berbeda nyata, yakni terdapat pada perlakuan A (60 ind/poket) dengan nilai SR 90,44% dan pada perlakuan E (120 ind/poket) dengan nilai SR 74,44%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa padat penebaran yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan spat kerang mutiara, namun berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup (SR) spat kerang mutiara (Pinctada maxima) yang dipelihara selama 45 hari.Kata kunci : Pertumbuhan, kelangsungan hidup, spat, Pinctada maximaAbstract : The study of pearl shell spat density maintained in nature needs to be continued because there is no standard level of density suitable for commercial businesses. Therefore a study was conducted with the aim of knowing the effect of density on growth and survival rate of pearl oyster spat (Pinctada maxima). The method used is Randomized Block Design (RBD) consisting of 5 treatments and 3 replications, namely treatment A (60 ind / pocket), B (75 ind / pocket), C (90 ind / pocket), D (105 ind / pocket) ), and treatment E (120 ind / pocket). The size of the spat used was 1 cm on the pocket (maintenance basket) 45x60 cm2. The results of the 45-day study showed that growth in all treatments was not significantly different, but the best growth was 0.70 cm for absolute growth and 0.69% for the daily growth rate owned by a low density of 60 ind / pocket, followed by treatment others such as treatment B, C, D, and E. The results of the SR ANOVA test showed that the percentage results were significantly different, which were found in treatment A (60 ind / pocket) with SR values of 90.44% and in treatment E (120 ind / pocket) with an SR of 74.44%. Based on the results of the study, it was concluded that the different stocking densities had no significant effect on the growth of pearl shell spat, but significantly affected the survival rate (SR) of pearl shell spat (Pinctada maxima) which was maintained for 45 days.Keywords: growth,...
Normayanti Thamrin Mardhan, La Sara, Asriyana Asriyana
Published: 19 October 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 205-213; doi:10.29303/jbt.v19i2.1217

Abstract:Abstrak : Penangkapan rajungan di perairan Pantai Purirano umumnya dilakukan oleh usaha perikanan rajungan skala kecil, yang menggunakan jaring insang (gillnet). Gillnet merupakan alat tangkap pasif yang pengoperasiannya tidak merusak sumberdaya hayati perairan. Walaupun demikian, gillnet merupakan alat tangkap yang tingkat selektivitasnya rendah, sehingga dikhawatirkan hasil tangkapan sampingan (bycatch) lebih banyak daripada hasil tangkapan utama (target species). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi hasil tangkapan rajungan (portunus pelagicus) sebagai target utama dan komposisi bycatch alat tangkap gillnet di perairan Pantai Purirano.Sampel rajungan ditangkap menggunakan jaring insang (gillnet) dengan ukuran mata jaring 4 inci & lebar jaring 80 cm. Hasil tangkapan selama penelitian diperoleh 29 jenis dari 25 famili. Hasil tangkapan yang diutamakan adalah rajungan dari famili Portunidae, tetapi terdapat juga jenis-jenis lain yang juga tertangkap (bycatch), yang sebagian dimanfaatkan (useable) dan sebagian lain dibuang ke laut (discarded). Jumlah total hasil tangkapan rajungan jantan selama penelitian adalah 58 ekor (54%) dan betina sebanyak 50 ekor (46%). Indeks dominansi hasil tangkapan tergolong rendah yaitu berkisar 0,21 – 0,27. Hal ini mengindikasikan bahwa selektivitas alat tangkap jaring insang tergolong rendah.Kata Kunci : Rajungan (Portunus pelagicus), Bycatch, Gillnet, PuriranoAbstrack : Catching crabs in Purirano Beach is generally carried out by small-scale crab fishing businesses, which use gillnet. Gillnet is a passive fishing gear whose operation does not damage aquatic biological resources. However, gillnet is a fishing tool with a low selectivity level, so it is feared that bycatch by-catch is more than the main catch (target species). This study aims to determine the proportion of crab catches (portunus pelagicus) as the main target and the composition of gillnet fishing gear bycatch in Purirano Beach waters. Swimming crab samples were captured using gill nets with mesh sizes of 4 inches & net width of 80 cm. The catch during the study obtained 29 species from 25 families. The preferred catch is crabs from the family Portunidae, but there are also other species that are also caught (bycatch), some are used (useable) and some others are thrown into the sea (discarded). The total number of male crab catches during the study was 58 individuals (54%) and 50 females (46%). The catch index dominance is relatively low, in the range of 0.21 - 0.27. This indicates that the selectivity of gill nets is relatively low.Keywords : Rajungan (Portunus pelagicus), Bycatch, Gillnet, Purirano
Astrid Sri Wahyuni Sumah, Mega Sari Apriniarti
Published: 19 October 2019
Jurnal Biologi Tropis, Volume 19, pp 197-204; doi:10.29303/jbt.v19i2.1309

Abstract:Abstrak : CIFOR adalah organisasi penelitian ilmiah yang berfokus pada hutan tropis di negara-negara berkembang dan dikelilingi oleh hutan sekunder dan daerah pemukiman. Peningkatan jumlah pemukiman telah menyebabkan perubahan habitat kupu-kupu dan dapat mengurangi populasi kupu-kupu di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari keragaman kupu-kupu di daerah CIFOR berdasarkan habitat yang berbeda dan hubungan keragaman kupu-kupu dengan faktor lingkungan. Pengamatan dilakukan dengan metode scan sampling pada pagi dan sore hari di dua lokasi yaitu, hutan sekunder dan daerah perumahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59 spesies dan 441 individu kupu-kupu ditemukan di daerah tersebut dalam waktu 8 minggu pengamatan. Di hutan sekunder dan daerah perumahan ditemukan 42 spesies (256 individu), dan 40 spesies (174 individu) kupu-kupu. Keragaman kupu-kupu lebih tinggi di daerah tersebut (H '> 3), di mana kawasan perumahan memiliki nilai lebih tinggi (H' = 3,34) daripada hutan sekunder (H '= 3,16). Indeks kesamaan Sorensen (CN) menunjukkan bahwa dua lokasi adalah struktur komunitas yang berbeda karena ada beberapa spesies dominan yang berbeda di setiap lokasi. Secara statistik, kecepatan angin memberikan pengaruh lebih signifikan pada jumlah individu kupu-kupu daripada parameter iklim lainnya. Hasil penelitian ini disarankan bagi CIFOR untuk lebih memperhatikan kondisi habitat kupu-kupu, terutama tumbuhan pakan larva yang makin berkurangKata kunci: Kupu-kupu, CIFOR, Papilionoidea, Hutan Sekunder, Daerah Pemukiman.Abstract : CIFOR is a scientific research organization that focus on tropical forests in developing countries and the area were surrounded with secondary forest and residential areas. Increasing number of residential area have caused changes of the butterfly habitat and may decrease butterfly population in the area. Aim of the research was to study the diversity of the butterflies in CIFOR area based on different habitats and the relation diversity of butterflies with environmental factor. The observations were done by scan sampling method in the morning and afternoon at two locations i.e., secondary forest and residential area. Results showed that 59 spesies and 441 individual of butterflies were found at the areas within 8 weeks of observation. At secondary forest and residential area were found 42 spesies (256 individu), and 40 spesies (174 individu) of butterflies. The diversity of butterflies was higher in the areas (H’ > 3), where residential area has higher value (H’ = 3,34) than secondary forest (H’ = 3,16). Sorensen similarity index (CN) showed that two locations were different community structures because there were several different dominant species at each location. Statistically, wind speed gave more significant influence on the number butterfly individuals than other climate parameters. It is recommended for CIFOR to pay more attention to the butterfly habitat conditions, especially the...