Jurnal Biologi Tropis

Journal Information
ISSN / EISSN : 14119587 / 25497863
Current Publisher: Mataram University (10.29303)
Total articles ≅ 191
Filter:

Latest articles in this journal

Destario Metusala
Published: 26 March 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 111-115; doi:10.29303/jbt.v20i1.1739

Abstract:
Sumatra island has been considered as one of the diversity centers for Bulbophyllum species in Indonesia. During botanical exploration held in the mid of 2019, specimens of the genus Bulbophyllum (Orchidaceae) section Beccariana have been collected from highland forests in Aceh Province, Sumatra, Indonesia. Their flower morphology and plant habitus are relatively close to Bulbophyllum cornutum (Blume) Rchb.f. (section Beccariana). Therefore, the aim of this research is to compare the Bulbophyllum sp. from Aceh with closely resemble species in section Beccariana, also to describe and illustrate the morphological characteristics of this Bulbophyllum species from Aceh. Morphological description was carried out by characterizing the flowers and plant habit of the living plants, spirit materials, dried herbarium specimens and photographs. Morphological comparisons with other closely resemble Bulbophyllum species were carried out based on data from protologue, living plants, herbarium specimens and several taxonomic references. The result based on morphological comparisons has showed there were several distinct differences on their flower characteristics, especially on the labellum. Therefore, this Bulbophyllum sp. from Aceh is here described and illustrated as new species, namely Bulbophyllum acehense.Keywords: Bulbophyllum, Sumatra, Orchidaceae
Nery Sofiyanti, Afni Atika Marpaung, Rissan Suriatno, Syafroni Pranata
Published: 23 March 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 102-110; doi:10.29303/jbt.v20i1.1711

Abstract:
Abstrak: Pulau Rangsang meupakan salah satu pulau utama di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau yang mempunyai keunikan habitat bagi berbagai jenis flora termasuk golongan tumbuhan paku. Namun data mengenai keanekaragaman flora paku di pulau ini belum pernah dilaporkan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan paku di Pulau Rangsang serta mengkarakterisasi morfologi dan sporanya. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode eksplorasi sedangkan pembuatan preparat spora dengan metode asetolisis dan tanpa asetolisis. Sebanyak 23 jenis tumbuhan paku telah di identifikasi di lokasi kajian, yang tergolong dalam 8 Famili, 3 Ordo dan 1 Divisi Polypodiophyta. Tipe dasar spora yang ditemukan adalah monolete, dan trilete, dengan laesura monosulkat dan trikomonosulkat. Tipe spora berdasarkan ukuran yang ditemukan adalah ukuran spora medium dan spora besar.Kata Kunci: Morfologi, kawasan pesisir, paku laut, palinologi, spora Rangsang Island is one of main island of Kepulauan Meranti, Riau Province that poses a uniqe habitat for flora including ferns. However, the data of fern diversity from this island had not been reported. The aim of this study were to inventory ferns from Rangsang Island and to characterize their morphologies and spore characteristics. Sample collection was carried out using exploration method, while spore preparation used acetolysis and non acetolysis method. A total of 23 fern species are identified from the study sites. They belong to 8 families, 3 orders from Division Polypodiophyta. Basic spore type observed in this study are monolete and trilete, with monosulcate and trichomonosulcate laesura. Spore types based on its size found in this study are medium and large spore.Keywords: coastal area, morphology, palynology, sea fern, spore
Yeni Mariani, Fathul Yusro, Evy Wardenaar
Published: 21 March 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 94-101; doi:10.29303/jbt.v20i1.1642

Abstract:
Abstrak: Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan Barat memanfaatkan daun Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn) sebagai tumbuhan obat dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit seperti diare, demam dan penguat badan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis aktivitas ekstrak metanol dari daun ulin terhadap beberapa jenis bakteri patogen. Daun ulin diekstraksi dengan menggunakan metanol, kemudian diuji dengan metode difusi terhadap empat jenis bakteri yaitu Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi pada empat level konsentrasi (1, 5, 10 dan 15 mg/ml) dan E. coli (50, 100, 150 dan 200 mg/ml). Hasil pengujian memperlihatkan bahwa semua level konsentrasi berpengaruh signifikan terhadap hambatan pertumbuhan bakteri patogen. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak metanol daun ulin semakin tinggi diameter hambat yang dihasilkan. Diameter hambat tertinggi ditunjukkan oleh konsentrasi 15 mg/ml pada jenis bakteri S. typhi (12,33 mm) dan E. coli pada konsentrasi 200 mg/ml (22,67 mm). Hasil pengujian membuktikan bahwa daun ulin yang secara tradisional digunakan dalam pengobatan tradisional memiliki potensi sebagai antibakteri alami.Kata kunci: Ulin, antibakteri, Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, dan Escherichia coli. Dayak Uud Danum of West Kalimantan traditionally use ulin leaves (Eusideroxylon zwageri Teisjm & Binn) to cure various diseases namely diarrhea, fever, and tonic. This present study aims to evaluate the activity of methanol extract of ulin leaves against several types of pathogenic bacteria. Ulin leaves were extracted with methanol; thus, the extract resulted tested in terms of disc diffusion Kirby and Bauer against four types of bacteria such as Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi (1, 5, 10, and 15 mg/ml), and Escherichia coli (50, 100, 150, and 200 mg/ml). The results showed that all levels of concentration significantly affect the inhibition growth of pathogenic bacteria. The higher the concentration of methanol extract of ulin leaves used, the higher the inhibition zone produced. The highest response inhibition growth showed from the highest level of 15 mg/ml on S. tyhpi (12.33 mm), and E. coli was 200 mg/ml (22.67 mm). It suggested that the leaves of ulin which traditionally used as medicinal plant have the potency as natural antibacterial agents.Keywords: Ulin, antibacterial, Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, and Escherichia coli.
Sarwendah Sarwendah, Yusliana Yusliana, Heronimus Candra G Laia, Pieter Julius Daely, Linda Chiuman
Published: 3 March 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 87-93; doi:10.29303/jbt.v20i1.1055

Abstract:
Abstrak: Buah nanas (Ananas comosus (L) Merr) merupakan salah satu jenis buah-buahan tropis yang banyak diminati masyarakat. Buah nanas biasa dingunakan masyarakat sebagai antibakteri, antiinflamasi, antikoagulan, dan antikanker. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui uji daya hambat anti bakteri air perasan daging buah nanas (Ananas comosus (L) Merr Var. Queen) terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan metode difusi kertas cakram. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa air perasan daging buah nanas (Ananas comosus (L) Merr Var. Queen) pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100% memiliki efektivitas sedang sebagai antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes, pada kontrol positif yang menggunakan klindamisin dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 25,8 mm memiliki pengaruh antibakteri yang sangat kuat dan untuk kontrol negatif dengan menggunakan aquades tidak menunjukkan zona hambat 0 mm pada bakteri Propionibacterium acnes.Kata kunci: Buah nanas, propionibacterium acnes, daya hambat antibakteri. Pineapple (Ananas comosus (L) Merr) is one of the most popular fruit among people, Pineapple is used as antibacterial, anti-inlfammatory, anticoagulant and anticancer. The purpose of this study is to determine the antibacterial inhibitory test of pineapple juice (Ananas comosus (L) Merr Var. Queen) against Propionibacterium acnes. This research is a laboratory experimental using paper disc diffisuion method. The results of this study indicate that pineapple juice at concentration of 25%, 50%, 75%, 100% it has a moderately antibacterial effectiveness in inhibit the growth of Propionibacterium acnes, positive control using clindamycin with an average inhibition zone diameter of 25.8 mm has a very strong antibacterial effect and for negative control using aquades does not show 0 mm inhibition zone in Propionibacterium acnes bacteria.Keywords: Pineapple fruit, propionibacterium acnes, antibacterial inhibition.
E Samson, Daniati Kasale
Published: 27 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 78-86; doi:10.29303/jbt.v20i1.1681

Abstract:
Abstrak: Bivalvia merupakan anggota kelas moluska yang memiliki nilai ekonomis dan menjadikannya sering dieksploitasi berlebih oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keanekaragaman dan kelimpahan bivalvia di Perairan Pantai Waemulang Kabupaten Buru Selatan. Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi air surut dengan menggunakan metode transek linear kuadrat yang disesuaikan dengan luas area Perairan Pantai Waemulang, panjang garis pantai dan relif pantai. Disamping itu, dilakukan pula pengukuran parameter fisik kimia lingkungan sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bivalvia yang ditemukan terdiri dari 5 Ordo, 5 Family, 6 Genus, dan 7 Spesies, yakni Anadara antiquata, Gafrarium dispar, Modiolus modiolus, Fragum unedo, Pinna bicolor, Anadara granosa, dan Tapes literatus. Nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada spesies Anadara antiquata, yakni 5.495 dan kelimpahan relatifnya 16.22%. Sedangkan nilai kelimpahan terrendah terdapat pada spesies Tapes literatus, yakni 4.272, dan kelimpahan relatifnya 12.61%. Nilai indeks keanekaragaman, yakni 1.93 atau termasuk kategori sedang dan indeks dominansi sebesar 0.14 yang menunjukkan tidak ada dominansi spesies. Hasil pengukuran parameter fisik kimia pun masih berada dalam kisaran optimal sesuai dengan standar baku mutu air laut untuk biota laut. Guna pemanfaatan dan pengelolaan bivalvia secara berkelanjutan di Perairan Pantai Waemulang Kabupaten Buru Selatan maka diperlukan penelitian sejenis secara berkala.Kata Kunci: Bivalvia, Keanekaragaman, Kelimpahan, Waemulang. Bivalves is a member of the mollusk class with economic value and makes it often over exploited by the community. This study aims to determine the diversity index and abundance of bivalves in the Waemulang Coastal Waters of South Buru Regency. Sampling is done at low tide conditions using the linear quadratic transect method that is adjusted to the area of Waemulang Coastal Waters, coastline length and coastline. Besides that, physical chemical parameters were also measured as supporting data. The results showed that bivalves were found to consist of 5 Orders, 5 Families, 6 Genera, and 7 Species, namely Anadara antiquata, Gafrarium dispar, Modiolus modiolus, Fragum unedo, Pinna bicolor, Anadara granosa, and Tapes literatus. The highest abundance was found in Anadara antiquata, which was 5,495 and its relative abundance was 16.22%. While the lowest abundance was found in Tapes literatus, which was 4.272, and the relative abundance was 12.61%. Diversity index value is 1.93 or including a medium category and dominance index of 0.14 which shows no species dominance. The results of the measurement of physical chemical parameters are still in the optimal range in accordance with sea water quality standards for marine biota. For the sustainable use and management of bivalves in the Waemulang Coastal Waters, South Buru Regency, regular research is needed.Keywords: Bivalves, Diversity, Abundance, Waemulang.
Angreni B. Liunokas, Ferry F. Karwur
Published: 24 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 69-77; doi:10.29303/jbt.v20i1.1651

Abstract:
Abstrak: Pala (Myristica fragrans Houtt) sebagai bioreaktor hayati menghasilkan produk utama minyak asiri bernilai ekonomi tinggi yang tersebar pada bagian-bagian buahnya. Minyak asiri pala tersusun oleh kelompok besar terpenoid dan fenilpropanoid yang memiliki konsentrasi terkecil namun sebagai indikator mutu minyak pala. Penelitian tentang isolasi dan identifikasi komponen kimia minyak asiri daging buah dan fuli pala, telah dilaksanakan di Laboratorium CARC UKSW Salatiga dan Laboratorium Terpadu UII Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen kimia minyak asiri daging buah dan fuli pala berdasarkan tahapan perkembangan buah dan isolasi miristisin sebagai indikator dari kualitas minyak pala. Minyak asiri diperoleh dengan metode ekstraksi kemudian di analisis komponennya menggunakan Kromatografi Gas Spektrometri Massa (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen kimia terbesar dari minyak asiri daging buah pala secara berturut-turut yaitu tahap pertama miristisin 36.05% pada retensi 11.57 menit, tahap kedua dan keempat α-pinen 39.16%; 34.64% retensi 3.53 menit, tahap ketiga sabinen 33.88% pada retensi 3.99 menit. Sedangkan pada minyak fuli tahap pertama hingga keempat yaitu sabinen 38.72%; 37.51%; 36.24%; 28.93% pada waktu retensi 3.99. Berdasarkan analisis GC-MS menunjukkan bahwa komponen senyawa yang dominan pada daging buah dan fuli yaitu miristisin, sabinen, α-pinen, β-pinen yang berkontribusi bagi aroma khas pada pala. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi penting dalam menghasilkan minyak asiri dengan kualitas baik dengan kandungan miristisin terbanyak.Kata Kunci : M. fragrans Houtt; isolasi; daging buah, fuli, minyak asiri Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) as a natural bioreactor produces the main product that is aetheric oil with a high economic value which is scattered on the parts of the fruit. Aetheric oil consists of a big group of terpenoid and phenylpropanoid which has the smallest concentration but functions as the indicator of nutmeg oil quality. The research about isolation and identification of chemical components of aetheric oil of pulp and mace has been conducted in CARC Laboratory of UKSW Salatiga and Integrated Laboratory of UII Yogyakarta. This current research aims at knowing the components of aetheric oil of nutmeg pulp and mace based on the development stages of the fruit and myristicin isolation as the indicator of the quality of nutmeg oil. Aetheric oil is formed by the extraction method. Then the components are analyzed by using Mass Spectrometry Gass Chromatography (GC-MS). The result of the research shows that respectively the biggest chemical component of aetheric oil consists of the first stage myristicin 36.05% on retention 11.57 minutes, second stage and fourth stage α-pinene 39.16%; 34.64% on retention 3.53 minutes, the third stage sabinene 33.88% on retention 3.99 minutes. Meanwhile on the mace oil, the first to the fourth stage is sabinene 38.72%; 37.51%; 36.24%; 28.93% on retention 3.99. Based on the analysis of GC-MS, it is shown that the most dominant compound components of pulp and mace are myristicin, sabinene, α-pinene, and β-pinene which contribute to the typical scent of nutmeg. The result of the research is expected to be used as an important information source in resulting in aetheric oil with good quality with the most myristicin content.Keywords: Myristica fragrans Houtt; isolation; pulp, mace, aetheric oil
Sudarno Sudarno, La Anadi La Anadi, Asriyana Asriyana
Published: 21 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20; doi:10.29303/jbt.v20i1.1676

Abstract:
Abstrak: Biologi reproduksi suatu organisme merupakan salah satu informasi penting dalam upaya pengelolaan sumberdaya perairan. Penelitian biologi reproduksi ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) di Teluk Staring, Sulawesi Tenggara dilakukan dari bulan Maret sampai Juli 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biologi reproduksi ikan kembung yang meliputi tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan ukuran pertama kali matang gonad. Koleksi ikan menggunakan alat tangkap jaring insang permukaan bermata jaring 2 dan 2 ¼ inci. Kematangan gonad ikan diamati berdasarkan morfologi gonad yaitu bentuk, warna, dan bobot gonad. Sebanyak 215 individu ikan kembung tertangkap dengan kisaran panjang 206-297 mm dan bobot 110,0-366,0 g. IKG ikan jantan dan betina tertinggi ditemukan saat bulan Maret (1,80 dan 2,22) dan Mei (1,77 dan 1,91). Ukuran pertama kali matang gonad ikan jantan dan betina terjadi saat berukuran panjang 247 mm dan 239 mm. Penelitian ini mengindikasikan bahwa puncak pemijahan ikan kembung (R. brachysoma) di perairan Teluk Staring terjadi saat bulan Maret dan Mei.Kata kunci: Reproduksi, kembung, musim pemijahan, Teluk Staring, Sulawesi Tenggara Reproduction biology of organism is one of information for aquatic resources management. Research on the biology of short mackerel reproduction (Rastrelliger brachysoma) in Gulf of Staring, Southeast Sulawesi was conducted from March to July 2018. The objective of this research was to describe aspects of the reproductive biology of short mackerel such as gonadal maturation, gonadosomatic index, and length at first maturity (Lm50). Fish collection was done using gillnets (with mesh sizes of 2 and 2¼ inches). The gonadal maturation of fish was determined morphologically by comparing the shape, size, color, and gonad weight. A total of 215 individual fish were caught with ranging 206-297 mm in length and 110.0-366.0 g in weight. The gonadosomatic index of male and female were found in March (1.80 and 2.22) and May (1.77 and 1.91), while length at first maturity (Lm50) of male and female were 239 mm and 247 mm, respectively. This research indicates that the peak of short mackerel spawning in Gulf of Staring waters occurred during March and May.Keywords: Reproduction; short mackerel; spawning season; Gulf of Staring, Southeast Sulawesi
Hendry Wijayanti, Dhani Gathot Herbowo, Andy Darmawan
Published: 7 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 54-58; doi:10.29303/jbt.v20i1.1540

Abstract:
Abstrak: Teritip merupakan salah satu hewan pengotor yang umum hidup menempel pada infrastruktur buatan manusia yang teredam di dalam perairan laut. Fenomena penempelan teritip mengakibatkan kerusakan struktur bangunan pada infrastruktur di perairan laut. Tujuan penelitian ini menginventarisasi keberadaan jenis teritip yang menempel pada infrastruktur yang ada di area pantai yang berada di Teluk kunyit, Pantai Sariringgung dan Pantai Mutun sebagai langkah awal dalam pengendalian hewan pengotor. Penelitian dilakukan dengan metode survei selama bulan April and November 2018. Pada kedua Pantai Sariringgung dan Pantai Mutun ditemukan dua spesies teritip, Amphibalanus amphitrite dan Microeuraphia withersii. Namun, jenis teritip yang ditemukan di Teluk Kunyit hanya satu spesies Cthtamalus malayensis..Kata kunci: introduksi, biofouling, zona intertidal, Teluk Lampung. Barnacle is the most common biofouling in the manmade submerged structures. Barnacles are a serious problem which leading the detriment of coastal structures. The aim of the study was to investigate the dataset of barnacale communities in Lampung shores, in order to monitor developing of biofouling. Three coastal areas of Teluk Kunyit, Sariringgung and Mutun were investigated between April and November 2018. It was found that two species, Amphibalanus amphitrite and Microeuraphia withersii, are found in both costal areas. In contrast, only colonial species of Cthtamalus malayensis has been found abundance in Teluk kunyit area.Keywords: introduction, biofouling, intertidal zone, Lampung Bay
Uswatun Hasanah, Ayu Adhita Damayanti, Fariq Azhar
Published: 4 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 46-53; doi:10.29303/jbt.v20i1.1337

Abstract:
Abstrak: Budidaya ikan badut Amphiprion ocellaris terus dikembangkan hingga saat ini guna menghasilkan ikan badut yang memiliki pertumbuhan, kelangsungan hidup dan kecerahan warna yang baik. Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan badut adalah harga pakan yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh laju pemuasaan secara periodik terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup dan kecerahan warna ikan badut Amphiprion ocellaris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P1 (tanpa pemuasaan), P2 (1 hari dipuasakan 1 hari diberi pakan), P3 (1 hari dipuasakan 2 hari diberi pakan), P4 (1 hari dipuasakan dan 3 hari diberi pakan) sehingga terdapat 12 unit total percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji sidik ragam (One way Anova). Hasil penelitian yang diperoleh adalah pertumbuhan, kelangsungan hidup dan kecerahan warna ikan badut yang mengalami laju pemuasaan secara periodik tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan ikan badut yang tidak dipuasakan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan badut Amphiprion ocellaris dapat dipuasakan hingga periode 1 hari dipuasakan dan 1 hari diberi pakan yang mengalami total pemuasaan sebanyak 20 hari tanpa menurunkan pertumbuhannya. Pembudidaya ikan badut Amphiprion ocellaris direkomendasikan dapat menggunakan semua periode pemuasaan seperti yang diterapkan pada penelitian ini, namun untuk waktu pemuasaan yang lebih lama diperlukan penelitian lebih lanjut oleh para peneliti. Kata kunci: Pemuasaan, ikan badut, pertumbuhan, kelangsungan hidup, kecerahan warna Amphiprion ocellaris clown fish cultivation continues to be developed today to produce clown fish that have good survival growth and colour brightness. This study aims to determine the effect of periodic fasting rates on growth, survival and colour brightness of the Amphiprion ocellaris clown fish. The method used in this study is an experimental method using a Completely Randomized Design consisting of four treatments and three replications, namely P1 (without fasting), P2 (1 day fasted 1 day fed), P3 (1 day fasted 2 days fed), P4 (1 day fasted and 3 days fed) so that there are 12 total experimental units. The data obtained were analyzed using the one way Anova variance test. The results obtained were growth, survival and color brightness of clown fish that experienced periodic mastery rates were not significantly different (p> 0.05) from clown fish that were not fasted.This shows that the clown fish Amphiprion ocellaris can be fasted until a period of 1 day fasted and 1 day fed with a total mastery of 20 days without reducing growth. Amphiprion ocellaris clown fish farmers are recommended to be able to use all periods of mastery as applied in this study but for a longer mastery time further research is needed by esearchers.Keywords: Mastery, clown fish, growth, survival, colour brightness
Ahmad Raksun, Mahrus Mahrus, I Gde Mertha
Published: 3 February 2020
Jurnal Biologi Tropis, Volume 20, pp 40-45; doi:10.29303/jbt.v20i1.1420

Abstract:
Upaya meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dapat dilakukan dengan aplikasi mulsa dan pupuk organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh jenis mulsa terhadap pertumbuhan tomat, (2) pengaruh pupuk organik terhadap pertumbuhan tomat, (3) pengaruh interaksi antar jenis mulsa dan dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan tomat. Dalam penelitian ini digunakan rancangan 2 faktor. Faktor pertama adalah 3 jenis mulsa yaitu mulsa plastik hitam perak, mulsa jerami padi dan mulsa daun-daun kering. Faktor kedua adalah dosis pupuk organik yang terdiri atas 6 level yaitu: P0 = 0 kg pupuk organik (kontrol), P1 = pemberian 0,4 kg pupuk organik per 1 m2 lahan, P2 = pemberian 0,8 kg pupuk organik per 1 m2 lahan, P3 = pemberian 1,2 kg pupuk organik per 1 m2 lahan, P4 = pemberian 1,6 kg pupuk organik per 1 m2 lahan, P5 = pemberian 2,0 kg pupuk organik per 1 m2 lahan. Data penelitian dianalisis dengan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perbedaan jenis mulsa berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat (2) perbedaan dosis pupuk organik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat, (3) interaksi antara jenis mulsa dan dosis pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat, (4) mulsa plastik hitam perak memberikan hasil tinggi batang, panjang helaian daun dan lebar helaian daun yang lebih baik dibandingkan jenis mulsa yang lain, (5) dosis optimum pupuk organik untuk tanaman tomat adalah 1,6 kg per 1 m2 lahan pertanian.Kata kunci : mulsa, pupuk organik, pertumbuhan tomat Efforts to increase growth and yields can be done with the application of mulch and organic fertilizer. The purpose of this study is to find out. The research objective is to find out: (1) the effect of mulch type on tomato growth, (2) the effect of organic fertilizer on tomato growth, (2) the effect of interaction between types of mulch and the dose of organic fertilizer on tomato growth. This research used 2 factors design. The first factor is 3 types of mulch namely black silver plastic mulch, rice straw mulch and dried leaf mulch. The second factor is the dose of organic fertilizer consisting of 6 levels, namely: P0 = 0 kg of organic fertilizer (control), P1 = giving 0.4 kg of organic fertilizer per 1 m2 of land, P2 = giving 0.8 kg of organic fertilizer per 1 m2 of land, P3 = giving 1.2 kg of organic fertilizer per 1 m2 of land, P4 = giving 1.6 kg of fertilizer organic per 1 m2 of land, P5 = giving 2.0 kg of organic fertilizer per 1 m2 of land. Research data were analyzed by analysis of variance. The results showed that (1) the different types of mulch significantly affected the growth of tomato, (2) the difference in organic fertilizer dosages significantly affected the growth of tomato, (3) the interaction between the types of mulch and the dose of organic fertilizer did not significantly affect the growth of tomato, (4) silver black plastic mulch gives better stem height, leaf length and leaf width...