Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Ekologi Kesehatan: 103

(searched for: journal_id:(865885))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Asep Hermawan, Miko Hananto
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 101-111; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.3085

Abstract:
The High morbidity of dengue requires effective and efficient prevention efforts. Breaking chain of transmission through the eradication of mosquito nests (PSN) is a way that is believe an effective and efficient in controlling dengue. However, a nation-wide study shows that PSN has not been fully implemented in Indonesia. The aim of study was to described the relations between sociodemographic factors and mosquito bite prevention behaviour of PSN action in Indonesia, using Riskesdas 2018 data. The Population was used households is as samples in Indonesia as much as 262,917. The dependent variable is PSN actions and the independent variables are age group, occupation, education level, urban and rural areas as well as mosquito bite prevention practice by households and individuals. Data were analyzed using multiple logistic regression. The result was shown that the age group, education, occupation of the head of the household (KRT) and housewife (IRT) (P value
Mujiati Mujiati, Sugiharti Sugiharti, Siti Masitoh, Eva Laelasari
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 119-133; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.2931

Abstract:
Indonesian Health Program with Family Approach (PIS-PK) is one of the health development priority programs by visiting family to increase target coverage and access to health services. This research was conducted by quantitative approach through interview using a structured questionnaire to Head of PHC or Head of Administration Division or PIS-PK officer) or PHC officer who understand about PIS-PK in 9699 PHC in 34 provinces. Data were analyzed descriptively. The results showed that PHC that had been trained in PIS-PK was better prepared in management compared to PHC that had not been trained. PHC that had been trained by PIS-PK were better prepared in availability of human resources, budget, RUK and RPK, availability of PIS-PK instruments, presence of socialization, availability of computers with internet access, monthly and quarterly administration has been carried out, and presence evaluation. PHC are expected to prepare these aspects so that they can be prepared management to carry out PIS-PK. It is expected that District/ city health offices able to carry out routine monitoring and evaluation, supervision and technical assistance to the PHC. Keywords: Readiness; Primary health care’s management; Indonesian Health Program with Family Approach ABSTRAK Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) merupakan salah satu program prioritas pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas dengan cara mendatangi keluarga untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan akses pelayanan kesehatan. Program PIS-PK dilaksanakan secara bertahap sejak tahun 2016, oleh karena itu perlu dilakukan analisis tentang kesiapan manajemen Puskesmas dalam menjalankan PIS-PK. Analisis dilakukan dengan menggunakan data laporan Riset Ketenagaan Kesehatan (Risnakes) 2017 terpublikasi. Data Risnakes dikumpulkan dengan pendekatan kuantitatif melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada Kepala Puskesmas, Kepala Bagian Tata Usaha atau Penanggungjawab PIS-PK atau petugas puskesmas yang memahami tentang PIS-PK di 9.697 Puskesmas di 34 provinsi. Hasil analisis menunjukkan Puskesmas yang sudah melaksanakan pelatihan PIS-PK (78,8%) lebih siap secara manajemen dibanding dengan Puskesmas yang belum melaksanakan pelatihan PIS-PK (49,9%). Kesiapan dalam pelaksanaan PIS-PK karena puskesmas lebih siap dalam aspek ketersediaan SDM, anggaran, telah disusunnya RUK dan RPK, ketersediaan instrumen PIS-PK, adanya sosialisasi, ketersediaan komputer dengan akses internet, telah dilakukannya lokmin bulanan dan triwulanan, serta adanya evaluasi kehadiran. Puskesmas diharapkan dapat menyiapkan aspek-aspek tersebut agar siap secara manajemen untuk menjalankan PIS-PK. Diharapkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat melakukan monitoring, evaluasi, supervisi dan bimbingan teknis program secara rutin kepada puskesmas. Kata kunci: Manajemen puskesmas, pelatihan, PIS-PK
Ika Dharmayanti, Dwi Hapsari Tjandrarini
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 84-93; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.3192

Abstract:
Diarrhea is a major health problem in Indonesia with high morbidity and mortality rates. Unhealthy environment and unhygienic behavior are closely related to diarrhea disease. This study aims to identify the association between environmental conditions and behavior with the occurrence of diarrhea in Jawa and Bali. Data source used was the integration data of March’s Susenas and Riskesdas 2018. A logistic regression analysis was chosen to elicit the relationship between sanitation and drinking water facilities, open defecation practice, and other factors with the prevalence of diarrhea. The results showed that open defecation (OR = 1.2; 95% CI: 1.12 to 1.29; P
Dwi Septia Nengsih, Sigit Ari Saputro, Khuliyah Candraning Diyanah
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 94-100; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.2893

Abstract:
Small intestine infection caused by Giardia lamblia (giardiasis) occurs mostly in children living in developing country with poor sanitation. This study aims to determine the risk of giardiasis and personal hygiene conditions in pre-school students at KB-TK Al Amin Paciran Lamongan aged 2-6 years. Number of samples were 61 students, the dependent variable was the incidence of giardiasis, and independent variable was personal hygiene including nail hygiene, hand washing habit, footwear habit, and defecating habits. The result showed that 5 out of 61 students (8,2%) were infected with Giardia lamblia. All children (100%) with giardiasis had poor nail hygiene, footwear habit, and defecating habit. As many as 80% of students with giardiasis have poor handwashing habits. Students with poor footwear habit (OR=43,71; 95% CI 3,98-2046,9); open defecation habits (OR=13,33; 95% CI 1,40-628,05); poor nail hygiene (OR=12,31; 95% CI 1,29-580,49); poor hand washing habits (OR=5,73; 95% CI 0,5-290,96) had a greater risk of developing giardiasis. Supervision and healthy behavior are highly recommended, including using footwear when playing on the ground, defecating in the latrine, maintaining nail hygiene, and washing hands with soap before eating or after defecating. Keywords: Prevalence, giardiasis, personal hygiene, pre-school students ABSTRAK Infeksi usus halus disebabkan oleh Giardia lamblia (giardiasis) banyak terjadi pada anak-anak yang tinggal di negara berkembang dengan tingkat sanitasi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko terjadinya giardiasis dan kondisi hygiene perorangan pada murid PAUD di KB-TK Al Amin Paciran Lamongan usia 2-6 tahun. Jumlah sampel adalah 61 murid, variabel dependen adalah kejadian giardiasis, dan variabel independen adalah hygiene perorangan meliputi kebersihan kuku, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan menggunakan alas kaki, dan kebiasaan buang air besar (BAB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 61 murid (8,2%) terinfeksi Giardia lamblia. Seluruh murid (100%) dengan giardiasis mempunyai kebersihan kuku, kebiasaan menggunakan alas kaki dan kebiasaan BAB yang kurang baik. Sebanyak 80% murid dengan giardiasis mempunyai kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik. Murid dengan kebiasaan menggunakan alas kaki kurang baik (OR=43,71; 95% CI 3,98–2046,9); kebiasaan BAB sembarangan (OR=13,33; 95% CI 1,40–628,05); kebersihan kuku kurang baik (OR=12,31; 95% CI 1,29-580,49); kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik (OR=5,73; 95% CI 0,5–290,96) mempunyai risiko lebih besar terkena giardiasis. Pengawasan dan berperilaku hidup sehat sangat dianjurkan antara lain menggunakan alas kaki ketika bermain di tanah, membiasakan BAB di jamban, menjaga kebersihan kuku, dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau setelah buang air besar. Kata kunci: Prevalensi, giardiasis, hygiene perorangan, murid PAUD
Ekowati Rahadjeng, Enung Nurhotimah
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 134-147; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.3653

Abstract:
Posbindu PTM is one of NCD risk factor prevention and control programs in Indonesia. About 50.6% of villages already carry out Posbindu PTM, but the prevalence of PTM risk factors remains high. This article aims to inform the results of the evaluation of Posbindu PTM implementation in residential environment, including benefits, utilization, constraints and implementation opportunities. Evaluation is carried out through a systemic review of articles related Posbindu PTM implementations published online in 2015-2020. Articles searched through google scholar search engine, Garuda portal, and Pubmed/PMC with keywords: Posbindu PTM implementation, utilization of Posbindu PTM, constraints and opportunities. As a selection criterion is the article is the result of research or evaluation of the implementation of Posbindu PTM and its utilization, and the article can be accessed in full text. Publications totaled 44 articles, and 19 articles met the criteria. Posbindu PTM activities generally have not been implemented regularly and comprehensively. The problem with the implementation of Posbindu PTM is that the officer is not precise in setting targets, lack of operational funds, and limited ability of cadres. Improving the benefits of Posbindu PTM requires the coaching of health workers, strengthening cadre competencies in counseling/education, and strengthening regulation in the region. Keywords: Posbindu PTM, implementation, benefits, obstacles, opportunity ABSTRAK Posbindu PTM merupakan salah satu program pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM di Indonesia. Sekitar 50,6% desa sudah melaksanakan Posbindu PTM, namun prevalensi faktor risiko PTM tetap tinggi. Artikel ini bertujuan menginformasikan hasil evaluasi pelaksanaan Posbindu PTM di lingkungan tempat tinggal, meliputi manfaat, pemanfaatan, kendala dan peluang pelaksanaanya. Evaluasi dilakukan melalui sistematik reviu artikel terkait pelaksanaan Posbindu PTM yang dipublikasi secara online pada tahun 2015-2020. Artikel ditelusuri melalui mesin pencari google scholar, portal garuda, dan Pubmed/PMC dengan kata kunci: pelaksanaan Posbindu PTM, pemanfaatan Posbindu PTM, kendala dan peluang Posbindu PTM. Sebagai kriteria seleksi adalah artikel merupakan hasil penelitian atau evaluasi pelaksanaan Posbindu PTM dan pemanfaatannya, dapat menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, dan artikel tersebut dapat diakses secara full text. Jumlah publikasi terkait berjumlah 44 artikel, dan 19 artikel memenuhi kriteria seleksi. Kegiatan Posbindu PTM umumnya belum dilaksanakan secara rutin dan komprehensif. Kegiatan dimanfaatkan oleh usia 35 tahun ke atas dan pasien PTM. Permasalahan pelaksanaan Posbindu PTM adalah Petugas kurang tepat dalam menetapkan sasaran, kurangnya dana operasional, dan keterbatasan kemampuan Kader melakukan konseling. Dukungan pemangku kepentingan merupakan peluang berkembangnya Posbindu PTM. Peningkatan manfaat Posbindu PTM memerlukan pembinaan petugas kesehatan, penguatan kompetensi kader dalam melakukan konseling/edukasi, dan penguatan regulasi di daerah. Kata kunci: Posbindu PTM; pelaksanaan; manfaat; kendala; peluang
Muhammad Rasyid Ridha, Budi Hairani, Gusti Meliyanie, Wulan Rasna Giri Sembiring, Abdullah Fadilly, Akhmad Rosanji
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 112-118; https://doi.org/10.22435/jek.v19i2.3060

Abstract:
Dengue hemorrhagic fever is a global health problem and can be transmitted through vectors, namely Aedes aegypti. One of the controls can be through lethal ovitrap combined with attractant. This study aims to compare the percentage of trapped eggs, the number of eggs hatched, and larval mortality in the lethal ovitrap that were given two additional types of attractants. The insecticides used were temephos, while the attractants used were 20% straw soaking water, and water that Ae. aegypti have used to lay eggs. The type of research is an experiment with a completely randomized design. The sample used was female mosquito of Ae. aegypti that is full of blood from laboratory colonization. The results showed that straw soaking water was more influential attractant than the former Ae. aegypti colonization water in attracting Ae. aegypti mosquitoes to lay eggs. The highest larval mortality was found in a combination of lethal ovitrap with straw soaking water. Statistically there is an influence of the type of attractant on hatchability and the development of Ae. aegypti into adult mosquitoes. The combination of lethal ovitrap and attractant of straw soaking water can be an alternative control strategy for DHF program managers to reduce the density of Ae. aegypti mosquitoes and minimize transmission of dengue hemorrhagic fever in an area. Keywords: Aedes aegypti, attractant, lethal ovitrap, straw soaking water ABSTRAK Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan global dan dapat ditularkan melalui vektor yaitu Aedes aegypti. Salah satu pengendaliannya dapat melalui lethal ovitrap yang dipadukan dengan atraktan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan persentase jumlah telur terperangkap, jumlah telur menetas, dan mortalitas larva pada lethal ovitrap yang diberi tambahan dua jenis atraktan. Insektisida yang digunakan adalah temefos, sedangkan atraktan yang digunakan adalah air rendaman jerami dengan konsentrasi 20%, dan air bekas kolonisasi/telur larva Ae. aegypti. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Sampel yang digunakan adalah nyamuk Ae. aegypti betina yang kenyang darah hasil kolonisasi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rendaman jerami merupakan atraktan yang lebih berpengaruh dibandingkan air bekas kolonisasi Ae. aegypti dalam menarik nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur. Mortalitas larva tertinggi terdapat pada kombinasi lethal ovitrap dengan air rendaman jerami. Secara statistik ada pengaruh jenis atraktan terhadap daya tetas dan perkembangan Ae. aegypti menjadi nyamuk dewasa. Kombinasi lethal ovitrap dengan atraktan air rendaman jerami dapat menjadi strategi pengendalian alternatif bagi pengelola program DBD untuk mengurangi kepadatan nyamuk Ae. aegypti dan meminimalisasi transmisi penyakit demam berdarah dengue di suatu wilayah. Kata kunci: Aedes aegypti, atraktan, lethal ovitrap, rendaman jerami
Athena Athena, Eva Laelasari, Tities Puspita
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 1-20; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.3146

Abstract:
When the Covid-19 pandemic was established, various countries made efforts to prevent the transmission of the disease; Indonesia is no exception. One way to break the chain of transmission is to disinfect. This article is a scoping review with the aim of getting an overview of the implementation of disinfection in preventing Covid-19 transmission in public areas and possible health risks posed in several regions in Indonesia. The data/information were collected by searching websites of various ministries/institutions and online media within 3 (three) months, starting from March 2020 (establishment of the Covid-19 pandemic) until May 2020. Data and information collected includes location, procedures, and targets of disinfection, as well as disinfectants used, and their effects on health. Data analysis was performed descriptively. The results showed that disinfection in public areas were conducted in offices, health facilities (hospitals and health centers), housing, shopping centers/malls/market, transportation areas (highways, terminals, bus stops, and vehicles). Disinfection has been carried out by spraying directly on surfaces/objects that are often touched and by spraying in the disinfection booth using irritant disinfectants. It can be concluded that the implementation of disinfection in public areas has the potential to cause health risks. It needs supervision in the implementation of disinfection, socialization and education about potential health risks to the community. Keywords: Disinfection, spraying, disinfection booths, public areas, disinfectants, health risks ABSTRAK Saat ditetapkannya status pandemi Covid-19, berbagai negara melakukan upaya pencegahan penularan penyakit tersebut; tidak terkecuali Indonesia. Salah satu cara untuk memutus rantai penularan adalah dengan melakukan disinfeksi. Artikel ini merupakan scoping review dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan disinfeksi dalam pencegahan penularan Covid-19 di area publik dan kemungkinan risiko kesehatan yang ditimbulkan. Cara pengumpulan data/informasi adalah dengan penelusuran website berbagai kementerian/lembaga dan media online dalam kurun 3 (tiga) bulan, yaitu mulai Maret 2020 (penetapan pandemi Covid-19) sampai dengan Mei 2020. Data dan informasi yang dikumpulkan meliputi acuan, lokasi, cara, sasaran disinfeksi, serta disinfektan yang digunakan, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa disinfeksi di area publik, di perkantoran, fasilitas kesehatan (rumah sakit dan puskesmas), perumahan, pusat perbelanjaan/mall/pasar, dan area transportasi (jalan raya, terminal, halte, dan kendaraan) dilakukan dengan cara penyemprotan langsung terhadap permukaan/benda yang sering disentuh dan di dalam bilik disinfeksi, menggunakan disinfektan yang bersifat iritatif. Pelaksanaannya disinfeksi di beberapa area publik masih belum sesuai dengan Protokol/Pedoman Disinfeksi dalam Pencegahan Penularan Covid-19 sehingga berportensi menimbulkan risiko kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan disinfeksi di area publik berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Perlu adanya pengawasan dalam pelaksanaan disinfeksi dan sosialisasi serta edukasi tentang potensi risiko kesehatan terhadap masyarakat. Kata kunci: Disinfeksi, penyemprotan, bilik disinfeksi, area publik, disinfektan, risiko kesehatan
Nuryani Zainuddin, Khariri Khariri, M Ma'arif, E Riani, Susan M Noor
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 45-58; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.1613

Abstract:
Indonesia regulates post-entry observations of slaughter animals through the Animal Quarantine Installation (AQI). For the continuation of the existence of AQI, it is necessary to carry out an analysis of the sustainability of AQI waste management, because errors in waste management can cause disease and environmental pollution. The purpose of this study is to evaluate and determine the sustainability of AQI based on 5 dimensions, namely the dimensions of ecology, economics, technology, social, and institutions. AQIs taken as research objects are one government AQI and one private AQI. The study was conducted by observation. The results of the observations were analyzed using a modification of the Rap-fish method with Multidimensional Scaling called Rap-AQI. The results showed the sustainability of private AQI in multidimensional aspects showing a sustainability index of 57.47, each indicated from the dimensions of ecology (54.17), economy (70.12), social (57.47), technology (54.89), and institutional (50,73). Whereas the government's AQI showed unsustainable results with a sustainability index of 45.02, each from ecological dimensions (49.24), economic (45.30), social (55.77), technology (29.27) and institutional dimensions (43.53). Leverage attribute analysis shows that of 54 existing attributes, there are 12 sensitive attributes as a key factor in the sustainability of AQI waste management. Keywords: Sustainability, animal quarantine installation, atribute, dimention ABSTRAK Indonesia mengatur pengamatan pasca-masuk hewan potong melalui Instalasi Karantina Hewan (IKH). Pemerintah telah melakukan kebijakan untuk pencegahan atau meminimalkan risiko penyebaran organisme penyakit hewan dan zoonosis pada kegiatan impor hewan dipintu masuk yaitu IKH. Untuk keberlanjutan keberadaan IKH, perlu dilakukan analisis keberlanjutan pengelolaan limbah IKH, karena kesalahan dalam pengelolaan limbah dapat menimbulkan dampak penyakit dan pencemaran lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan evaluasi dan menentukan keberlanjutan IKH berdasarkan 5 dimensi, yaitu dimensi-dimensi ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan. IKH yang diambil sebagai objek penelitian adalah satu IKH pemerintah dan satu IKH swasta. Penelitian dilakukan dengan pengamatan. Hasil pengamatan dianalisa dengan menggunakan modifikasi metode Rap-fish dengan Multidimensional Scaling yang disebut Rap-IKH. Hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan IKH swasta dalam multidimensi aspek menunjukkan indeks keberlanjutan 57,47, masing-masing ditunjukkan dari dimensi ekologi (54,17), ekonomi (70,12), sosial (57,47), teknologi (54,89), dan kelembagaan (50,73). Sedangkan IKH pemerintah menunjukkan hasil yang kurang berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan 45,02, masing-masing dari dimensi ekologi (49,24), ekonomi (45,30), sosial (55,77), teknologi (29,27) dan dimensi kelembagaan (43,53). Analisis leverage atribut menunjukkan bahwa dari 54 atribut yang ada, terdapat 12 atribut sensitif sebagai faktor kunci keberlanjutan pengelolaan limbah IKH. Kata kunci: Keberlanjutan, instalasi karantina hewan, atribut, dimensi
Yunita Arihandayani, Evi Martha
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 76-83; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.2685

Abstract:
The proportion of sedentary behavior is increasing in all age groups, both in adults and children, from year to year. Various adverse health effects in children and adolescents can occur due to sedentary behavior carried out continuously over a long period of time. Several factors are associated with the practice of sedentary behavior in children and adolescents. This study aims to determine factors associated with sedentary behavior in junior high school students in Cibinong sub-district, Bogor regency, West Java province. The research used cross sectional study design with 312 junior high school students of 7th and 8th grade. Data were collected using questionnaires that had been pre-tested for validity and reliability and were analyzed using chi-square test and multiple logistic regression in SPSS. The results showed 50.6% of respondents performed sedentary behavior more than 6 hours. Age (OR= 1.9), peer support (OR=1.8) and school facilities (OR=0.2) were associated with sedentary behavior. Students who are older, do not have peer support, and attend school with insufficient facilities are more likely to conduct sedentary behavior. For that reason, in order to prevent sedentary behavior among students, it is important to consider the age of the student, the fulfillment of adequate school facilities and the presence of peer support among students. Keywords: Sedentary behavior, student, parenting patterns, school regulations and facilities ABSTRAK Proporsi perilaku sedentari semakin meningkat pada semua kelompok umur, baik pada orang dewasa dan anak-anak, dari tahun ke tahun. Pada anak-anak dan remaja, berbagai dampak kesehatan merugikan dapat terjadi akibat perilaku sedentari yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Beberapa faktor berhubungan dengan terjadinya perilaku sedentari pada anak-anak dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sedentari pada siswa SMP di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 312 siswa SMP kelas 7 dan kelas 8. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan regresi logistik ganda. Sebanyak 50,6% responden melakukan perilaku sedentari lebih dari 6 jam. Hasil analisis membuktikan faktor umur (OR=1,9), dukungan teman sebaya (OR=1,8), dan fasilitas sekolah (OR= 0,2) berhubungan dengan perilaku sedentari. Ini artinya bahwa siswa dengan usia lebih tua, yang tidak memiliki dukungan teman sebaya, dan yang bersekolah di sekolah dengan fasilitas kurang memadai kemungkinan lebih besar untuk berperilaku sedentari. Untuk itu, dalam upaya pencegahan perilaku sedentari pada siswa, perlu diperhatikan umur siswa, pemenuhan fasilitas sekolah yang memadai serta adanya dukungan teman sebaya dalam pergaulan siswa. Kata kunci: Perilaku sedentari, siswa, pola asuh, fasilitas sekolah, peraturan sekolah
Novianti Novianti, Ning Sulistiyowati, Oster Suriani Simarmata, Rachmalina S Prasodjo, Athena Anwar, Eva Laelasari, Joko Irianto
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 59-75; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.2633

Abstract:
The Healthy Indonesia Program with Family Approach (PIS-PK) is an effort to strengthen basic health that began in 2015. To get more comprehensive data and information on the implementation of PIS-PK, in 2017 the Center for Public Health Efforts to carry out a PIS-PK evaluation study in several districts/cities in Indonesia. This study uses a quantitative and qualitative approach, in one puskesmas in Labuan Bajo Regency, North Sumatra Province and Semarang City, Central Java Province. Data collection was carried out by means of in-depth interviews about the implementation of PIS-PK including input indicators (personnel, funds, tools and methods), processes (planning, implementation, supervision), and output. The results of the study show that the implementation of input indicators, such as the limited number of Puskesmas human resources in data collection and data entry, also not yet clear about the sources of funding for implementing PIS-PK. On output (results of family visits), there are differences in the results of the calculation of indicators between the results of data collection conducted by PIS-PK puskesmas officers and study results. When compared between the two puskesmas, Puskesmas H Semarang is more ready for PIS-PK than Puskesmas P in Labuan Batu Regency. It can be concluded that in the implementation of PIS-PK in both puskesmas still encountered problems, both in terms of inputs (personnel, funds, tools and methods), processes (planning, implementation, supervision), and output. As a suggestion, there needs to be more comprehensive planning in implementing PIS-PK. Keywords: PIS-PK, evaluation research, input, process, and output indicator ABSTRAK Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) merupakan program upaya penguatan kesehatan dasar yang mulai dilaksanakan pada tahun 2015. Untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih komprehensif tentang pelaksanaan PIS-PK, pada tahun 2017 Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat melakukan studi evaluasi PIS-PK di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, di salah satu puskesmas di Kabupaten Labuan Bajo, Provinsi Sumatera Utara dan Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam mengenai pelaksanaan PIS PK meliputi indikator input (tenaga, dana, alat dan metode), proses (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan), dan output. Hasil studi menunjukkan bahwa pelaksanaan untuk indikator input, seperti masih terbatasnya SDM puskesmas dalam melakukan pendataan maupun entri data, juga belum jelasnya sumber pembiayaan pelaksanaan PIS-PK. Pada output (hasil kunjungan keluarga) terdapat perbedaan hasil perhitungan indikator antara hasil pendataan yang dilakukan oleh petugas PIS-PK puskesmas dengan hasil studi. Jika dibandingkan diantara ke dua puskesmas, Puskesmas H Kota Semarang lebih siap PIS-PK daripada Puskesmas P Kabupaten Labuan Batu. Dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan PIS-PK di kedua puskesmas masih menemui permasalahan, baik dalam hal input (tenaga, dana, alat dan metode), proses (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan), maupun output. Sebagai saran, perlu adanya perencanaan yang lebih komprehensif dalam implementasi PIS-PK. Kata kunci: PIS PK, riset evaluasi, Indikator input, proses, dan output
Kenti Friskarini, Totih Ratna Sundari
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 21-34; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.3058

Abstract:
Awareness of running Clean and Healthy Behavior (PHBS) in elementary school in general is still lacking. One part of PHBS is Handwashing with Soap (CTPS) which has an important impact on health. This paper explores the challenges and opportunities for implementing this program in elementary schools in Bogor from officers at schools, puskesmas, and health offices in 2018. Data were obtained by in-depth interviews with informants who was chosen by purposive sampling from the health office, education office, school principals and teachers from 5 selected schools. The results showed this activity was not yet a priority in the program, marking that health promotion was not yet maximally carried out at the policy holder level. Even though the elementary school which was the location of the study did not have a problem in providing facilities for washing hands, but not all could provide soap to get the maximum effect. This shows that the cooperation of various parties has not been optimal to support the success of this activity. As a suggestion, besides requiring support from various parties,it should be complemented by health promotions for students and the whole school environment so healthy behavior can be achieved. Keywords: Handwashing, healthy behavior, health promotion ABSTRAK Kesadaran menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah dasar (SD) pada umumnya masih kurang. Salah satu bagian dari PHBS adalah Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang memiliki dampak penting untuk kesehatan. Tulisan ini mengangkat tantangan dan peluang pelaksanaan CTPS pada SD di kota Bogor dari pihak sekolah, puskesmas dan dinas kesehatan pada tahun 2018. Desain penelitian adalah survey potong lintang dengan pemilihan sampel secara purposive. Data kualitatif didapatkan dengan wawancara mendalam kepada informan dari dinas kesehatan, dinas pendidikan, kepala sekolah dan guru dari 5 sekolah yang terpilih di Kecamatan Bogor Utara. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan ini belum menjadi prioritas dalam program, menandai belum maksimalnya promosi kesehatan dilakukan di tingkat pemegang kebijakan. Walau secara keseluruhan SD yang menjadi lokasi penelitian tidak memiliki masalah dalam penyediaan sarana mencuci tangan, namun tidak semua dapat menyediakan sabun sehingga mempengaruhi hasil maksimal CTPS. Hal tersebut menunjukkan belum maksimalnya kerjasama berbagai pihak untuk mendukung keberhasilan kegiatan ini. Sebagai saran, CTPS selain memerlukan dukungan dari berbagai pihak, seharusnya dilengkapi dengan promosi kesehatan kepada para siswa, dan seluruh lingkungan sekolah sehingga terwujud perilaku yang baik dan sehat. Kata kunci: CTPS, perilaku kesehatan, promosi kesehatan
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 19, pp 35-44; https://doi.org/10.22435/jek.v19i1.2360

Abstract:
Muara Enim Regency has plateau and a relatively broad flood plain so that improving the quality of water that has been utilized by the community so far is a realistic solution to meet the needs of clean water. The study aimed to identify the relationship of the physical condition of water sources to chronic diseases suffered by residents and to explore water quality factors that had the potency to influence chronic diseases in the Muara Enim Regency. The research used a descriptive statistical approach and was cross-sectional by utilizing raw data from the 2015 and 2017 Integrated Database completed with water quality testing and literature studies. The variables including the physical condition of the water source, chronic diseases suffered, and water quality parameters. Data were analyzed using proportional difference tests and mapping of causal relationships. The results showed that stroke and rheumatism were chronic diseases that could potentially be caused indirectly by the physical condition of the water source. Clean water samples are known to contain organic materials that are difficult to decompose through microbiological processes, have the iron and H2S content that exceeds the Threshold Limit Value (TLV). The study concluded that deterioration of water sources was one of the main obstacles to supply safe and affordable clean water using the local water sources. Materials that exceed the TLV known had the potency to causing a chronic illness indirectly. Keywords: chronic disease, clean water provision, dissolved organic matter, physical condition of water sources ABSTRAK Kabupaten Muara Enim memiliki dataran tinggi dan dataran banjir yang relatif luas sehingga peningkatan kualitas air yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat selama ini merupakan solusi realistis untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kondisi fisik sumber air dengan penyakit kronis yang diderita oleh penduduk dan untuk mengeksplorasi faktor kualitas air yang berpotensi mempengaruhi penyakit kronis di Kabupaten Muara Enim. Penelitian ini menggunakan pendekatan statistik deskriptif dan bersifat potong lintang dengan menggunakan data mentah dari Basis Data Terpadu 2015 dan 2017 yang dilengkapi dengan pengujian kualitas air dan studi literatur. Variabel penelitian diantaranya kondisi fisik sumber air, penyakit kronis yang diderita, dan parameter kualitas air. Data dianalisis menggunakan uji perbedaan proporsional dan pemetaan hubungan sebab akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stroke dan rematik adalah penyakit kronis yang berpotensi disebabkan secara tidak langsung oleh kondisi fisik sumber air. Sampel air bersih diketahui mengandung bahan organik yang sulit terurai melalui proses mikrobiologis, memiliki kandungan besi dan H2S yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB). Studi ini menyimpulkan bahwa kerusakan sumber air adalah salah satu kendala utama untuk memasok air bersih yang aman dan terjangkau menggunakan sumber air setempat. Bahan yang melebihi NAB diketahui memiliki potensi menyebabkan penyakit kronis secara tidak langsung. Kata kunci: penyakit kronis, penyediaan air bersih, senyawa organik terlarut, kondisi fisik sumber air
Tri Noviyanti Nurzanah, Zakianis Zakianis, Bambang Wispriyono, Athena Anwar
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 159-170; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.2471

Abstract:
Bengkulu Province is the fourth-lowest province in Indonesia for sanitation facilities and drinking water availability. The difference in socioeconomic conditions and very low access to sanitation in Bengkulu Province poses a major challenge to ensuring water and sanitation services for all, so as to attempt to control a large number of infectious diseases. The purpose of this study was to determine the description of sanitation and drinking water between urban and rural areas in Bengkulu Province. Data analyzed were Village Potential data (PODES) in 2018 and the sample were 148 villages. Research results show that sanitation facilities and the availability of clean water in urban areas are better than in rural areas. In rural areas the majority of sewage is unsanitary or without latrines/open defecation, garbage disposal is carried out by dumping it into the pit of natural soil or being burnt, the sewage is still open, the water source is still a dug well as a source of clean water. In conclusion, there are still gaps in terms of access to sanitation in rural areas and urban safe drinking water. An evaluation is needed to increase community access to sanitation in rural areas and drinking water in cities. Keywords: Saniation, drinking water, urban areas, rural areas ABSTRAK Provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi dengan sarana sanitasi dan ketersediaan air minum ke empat terendah di Indonesia. Perbedaan kondisi sosial ekonomi dan akses sanitasi yang sangat rendah di Provinsi Bengkulu menimbulkan tantangan besar untuk memastikan layanan air dan sanitasi bagi semua, sehingga membantu mengendalikan sejumlah besar penyakit menular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sanitasi dan air minum antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Bengkulu. Data yang dianalisis adalah data Potensi Desa (PODES) tahun 2018 dengan unit analisis desa. Jumlah sampel sebesar 148 desa di daerah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Bengkulu. Hasil analisis menunjukkan bahwa sarana sanitasi dan ketersediaan air bersih di wilayah perkotaan lebih baik daripada di wilayah perdesaan. Di wilayah perdesaan mayoritas pembuangan tinja tidak saniter atau tanpa jamban/buang air besar sembarangan, pembuangan sampah dilakukan sdengan membuang ke dalam lubang tanah atau dibakar, saluran pembuangan air limbah masih terbuka, dan sumber air adalah sumur gali sebagai sumber air bersih. Dapat disimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan dalam hal akses sanitasi dan air minum antara di perdesaan dan perkotaan. Perlu adanya evaluasi peningkatan akses masyarakat terhadap sanitasi di pedesaan dan air minum di perkotaan. Kata kunci: Sanitasi, air minum, perkotaan, pedesaan
Suparmi Suparmi, Siti Masitoh, Anissa Rizkianti, Iram Barida Maisya, Ika Saptarini, Andi Susilowati, Sugiharti Sugiharti, Heny Lestary, Novianti Novianti, Joko Pambudi, et al.
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 192-200; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.2307

Abstract:
Reducing maternal and neonatal mortality still have many challenges. One of the Ministry of Health’s strategy is to collaborate with universities through the assitance of pregnant women by students. This study aims to determine the effect of students’mentoring on increasing knowledge of pregnant women on dangerous sign of pregnancy, postnatal and newborns. The study is an operational research with quasi-experimental design that was conducted in seven districts/cities in Indonesia. Two Puskesmas were chosen for each district and it categorized as intervention and control group with the number of samples was 280 pregnant women for each group. The results of pre-test showed no difference in the level of knowledge about the dangerous signs of pregnancy, postnatal and newborns between the intervention and control groups, but after mentoring there were significant differences (p-value
Wahyu Mustika Dewi, Partaya Partaya, Susanti Susanti
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 171-182; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.2133

Abstract:
Rats are a reservoir of various zoonotic diseases that have the potential to spread disease in animals and humans through ectoparasites. The study was conducted in the coastal inundation area of ​​Semarang City with different status of tidal flood hazards. Using the area sampling method, the number of traps used was 50 traps with 4 times repetitions. The number of rats obtained was 84, the species identified were B. indica, R. norvegicus, R. tanezumi, R. exulans, and S. murinus. Trap high categorical success in the Village Tugurejo was 15.5%, moderate category was in the Village Bangetayu Kulon (14%) and low category was in the District of Bandarharjo (12%). The number of ectoparasites obtained from three locations was 761, which were identified as Xenopsylla cheopis fleas, Laelaps echidninus mites and Hoplopleura pacific mites. The number of ectoparasites captured in Bangetayu Kulon Village 456 (high category), Bandarharjo Village 219 (medium category) and Tugurejo Village 86 (low category). Bandarharjo and Bangetayu Kulon Kelurahan have 100% prevalence of rat ectoparasites, whereas in Tugurejo Kelurahan, the prevalence of ectoparasites infestation in Bandicota indica was 50%, Rattus norvegicus was 80% and Rattus tanezumi was 72.2%. Keywords: Ectoparasites, coastal inundation, rats, zoonotic diseases ABSTRAK Tikus merupakan reservoir berbagai penyakit zoonotic yang berpotensi menyebarkan penyakit pada hewan dan manusia melalui ektoparasit. Penelitian dilaksanakan di kawasan rob Kota Semarang dengan status kerawanan banjir rob yang berbeda. Menggunakan metode area sampling, jumlah perangkap yang digunakan sebanyak 50 perangkap dengan 4x pengulangan. Jumlah tikus yang diperoleh sebanyak 84 ekor, spesies yang teridentifikasi yaitu B. indica, R. norvegicus, R. tanezumi, R. exulans, dan S. murinus. Trap sukses kategori tinggi di Kelurahan Tugurejo sebanyak 31 ekor (15,5%), trap sukses kategori sedang di Kelurahan Bangetayu Kulon sebanyak 28 ekor (14%) dan trap sukses kategori rendah di Kelurahan Bandarharjo sebanyak 25 ekor (12%). Jumlah ektoparasit yang diperoleh dari tiga lokasi sebanyak 761 ekor, yang teridentifikasi pinjal Xenopsylla cheopis, tungau Laelaps echidninus dan kutu Hoplopleura pasifica. Jumlah ektoparasit tikus yang tertangkap di Kelurahan Bangetayu Kulon 456 (kategori tinggi), Kelurahan Bandarharjo 219 (kategori sedang) dan Kelurahan Tugurejo 86 (kategori rendah). Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Bangetayu Kulon prevalensi infestasi ektoparasit tikus 100%, sedangkan di Kelurahan Tugurejo prevalensi infestasi ektoparasit pada Bandicota indica 50%, Rattus norvegicus 80% dan Rattus tanezumi 72,2%. Kata kunci: Ektoparasit, kawasan rob, tikus, zoonosis
Novianti Novianti, Oster Suriani Simarmata, Dina Bisara Lolong
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 135-148; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.2399

Abstract:
Tuberculosis remains a major public health problem, with an estimated 9 million TB incidence cases, 300,000 of which are drug resistant TB cases and resulted in 1.5 million deaths worldwide in 2013. However, only 58% of new cases, TB cases were confirmed bacteriologically using WHO recommended test including the Xpert® MTB/RIF Rapid Diagnosis. The use of GeneXpert in Indonesia has existed since 2014 and has never been evaluated in its utilization, including in the city of Denpasar, namely in Wangaya Hospital as one of the recipients of the GeneXpert pulmonary TB diagnostic aid. The results of this study showed that the results of GeneXpert examination were much higher in the percentage of Positive TB Case Findings compared to microscopic examination so that there is an increase in the number of positive TB cases by 14.3%. The GeneXpert examination succeeded in giving positive results compared to the microscopic results showing negative results, which were sensitive Rifampicin (14.6%) and resistant Rifampicin (2.4%). However, the utilization of TB suspect examination with GeneXpert has not been maximized in increasing the number of TB patients suspected of having TB, in fact, the percentage of positive TB case finding compared to TB suspicion is increasing. Keywords:GeneXpert, rapid diagnosis of tuberculosis, pulmonary tuberculosis ABSTRAK Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama, diperkirakan telah terjadi 9 juta kasus insiden TB, 300.000 di antaranya adalah kasus TB multidrug resistant (TB MDR) dan mengakibatkan 1,5 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2013. Namun, baru 58% dari kasus baru, kasus TB dikonfirmasi secara bakteriologis menggunakan tes yang direkomendasikan oleh WHO termasuk Tes Cepat Molekuler (TCM) GeneXpert® MTB/RIF (Xpert). Pemanfaatan TCM GeneXpert di Indonesia ada sejak 2014 dan belum pernah dilakukan evaluasi dalam pemanfaatannya termasuk di Kota Denpasar yaitu di RSUD Wangaya sebagai salah satu penerima bantuan alat diagnostik TB Paru TCM GeneXpert. Hasil studi menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan dengan TCM GeneXpert jauh lebih tinggi persentase penemuan kasus positif TBC dibanding dengan pemeriksaan mikroskopis sehingga terdapat peningkatan jumlah kasus positif TBC sebesar 14,3% di RSUD Wangaya pada tahun 2018. Pemeriksaan TCM GeneXpert berhasil memberikan hasil yang positif di saat hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan hasil negatif yaitu Rifampisin sensitif (14,6%) dan Rifampisin resisten (2,4%). Pemanfaatan pemeriksaan terduga TB dengan TCM GeneXpert belum maksimal dalam meningkatkan jumlah pemeriksaan pasien terduga TB Paru, walaupun persentase penemuan kasus positif TB dibanding terduga TB meningkat. Kata kunci: Tes cepat molekuler, geneXpert, tuberkulosis paru
Arinil Haq, Umar Fahmi Achmadi, Dewi Susanna
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 149-158; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.80

Abstract:
Tuberculosis (TB) is a disease that has become one of the global concerns. Various factors can increase the incidence of TB and facilitate transmission, one of which is environmental factors. This study aimed to understand the correlation between altitude, population density, and healthy home coverage with the proportion of smear-positive pulmonary TB in Pariaman, Bukittinggi and Dumai in 2010-2016. This study is an ecological study. The data of smear-positive pulmonary TB cases obtained from District Health Office were processed in aggregate at each sub-district in Pariaman, Bukittinggi and Dumai areas. Data were analyzed by correlation test and spatial analysis. The results of this study indicate that there is a strong correlation between altitude with the proportion of smear-positive pulmonary TB in Bukittinggi with direction of the correlation is negative, which mean that the higher the altitude the lower the pulmonary Tb case. It is suggested that area with lower altitude can focus more on promotion and prevention of pulmonary TB through health education or other health promotion measures. Keywords: Spatial analysis, pulmonary TB cases, altitude, population density, healthy home coverage ABSTRAK Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang menjadi salah satu perhatian global. Berbagai faktor dapat meningkatkan kejadian TB dan mempermudah penularan, salah satunya adalah faktor lingkungan. Penelitian ini merupakan studi ekologis yang bertujuan untuk mengetahui korelasi antara ketinggian wilayah, kepadatan penduduk, dan cakupan rumah sehat dengan proporsi TB paru basil tahan asam (BTA) positif di Kota Pariaman, Bukittinggi, dan Dumai tahun 2010-2016. Data dianalisis dengan uji korelasi dan analisis spasial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diantara variabel yang diuji, hanya ketinggian wilayah yang berkorelasi kuat dengan proporsi TB paru BTA positif di Kota Bukittinggi. Semakin tinggi wilayah maka semakin rendah kasus TB paru BTA positif di Kota Bukittinggi. Disarankan daerah dengan dataran yang lebih rendah dapat lebih fokus untuk melakukan upaya preventif dan promotif TB paru melalui kegiatan penyuluhan dan upaya promosi kesehatan lainnya. Kata kunci:Analisis spasial, angka kejadian TB paru, ketinggian wilayah, kepadatan penduduk, cakupan rumah sehat
Arnati Wulansari, Puput Herliana
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 183-191; https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.2489

Abstract:
Chronic Energy Deficiency (CED) is one of the many nutritional problems occurring in pregnant women. The causes of CED are related to food availability and food consumption vulnerability that is affected by poverty, low education, and customs or beliefs including food taboos. The purpose of this study is to describe the types of food taboos, symbolic meaning tabooed by pregnant women, and the incidence of CEDs in pregnant women in Anak Dalam tribe in Bungku Village, Bajubang District, Batanghari Regency, Jambi. The study design was a cross-sectional study and carried out in January-July 2019. Respondents in this study were 31 pregnant women. Data collected include mid upper arm circumference (MUAC), respondent characteristics, and food culture of pregnant women. Data analysis was performed descriptively. The results showed that various foods were regarded as the taboo foods including carbohydrate, protein and vitamin sources The symbolic meaning of each group is hot food that causes miscarriage, the membranes become thick and blood can clot, miscarriages, and infants become fertile. The measurement results show that two-thirds of respondents are at risk of CED. Education is needed to straighten out the taboo food misperception of pregnant women. Keywords: Pregnant women, CED, food taboos, Suku Anak Dalam ABSTRAK Kurang Energi Kronik (KEK) merupakan salah satu masalah gizi yang banyak terjadi pada ibu hamil. Penyebab KEK terkait dengan ketersediaan makanan dan kerawanan konsumsi makanan yang dipengaruhi oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan adat atau kepercayaan termasuk tabu makanan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis tabu makanan, makna simbolis yang ditabukan ibu hamil, dan kejadian KEK pada ibu hamil di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi. Desain penelitian crossectional study dan dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2019. Responden pada penelitian ini adalah 31 orang ibu hamil. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi lingkar lengan atas (LILA), karakteristik responden, dan budaya makanan ibu hamil. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan makanan yang ditabukan meliputi makanan sebagai sumber karbohidrat, protein dan vitamin. Makna simbolis dari masing-masing kelompok berturut-turut adalah makanan panas yang menyebabkan keguguran, ketuban menjadi tebal dan darah mudah membeku, keguguran, dan bayi menjadi subur. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dua pertiga responden berisiko KEK. Perlu edukasi untuk meluruskan mispersepsi tabu makanan terhadap ibu hamil. Kata kunci: Ibu hamil, KEK, tabu makanan, Suku Anak Dalam
, Muhammad Umar Riandi, Yuneu Yuliasih
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 80-87; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.2077.80-87

Abstract:
The uses of repellent are an effort to prevent mosquito bites in the community. Therefore, a study was conducted to find out the difference in the level of knowledge with the use of repellent/liniment on people in areas that received the Filariasis Mass Prevention Drug Program. This research is the result of secondary data analysis from multicenter research "Filariasis elimination evaluation study" in 2017 conducted in Subang district, West Java Province. Total respondents surveyed were 555 people. The respondents were the people who received mass drug administration. The data collected respondent’s knowledge about the cause and transmitter of filariasis diseases and the repellent use activity of respondents. This study used chi-square analysis to see the relationship between knowledge and the use of repellent in respondents. The results showed that a total of 307 (55.3%) respondents stated they were using liniment / repellent drugs; and 248 (44.7%) respondents did not use repellent. There is a difference in the level of knowledge of respondents with filariasis (p
Tiara Amelia, , Kencana Sari, Dwi Sisca Kumala Putri, Puput Oktamianti, Agustina Agustina
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 122-134; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.1060.122-134

Abstract:
Nowadays, phubbing phenomena occur in various social groups, including college students. This has an impact on social relationships and physical health. This is a qualitative study which aims to describe the causes, behavior, and impact of phubbing. The informants were fifth semester Faculty of Public Heath, University of Indonesia undergraduate students’ year 2018. Data collected through focus group discussions on female students and in-depth interviews with male students. The results of this study indicate that students understand phubbing as a phenomenon where a person is more engaging with mobile phones than interacting with the surrounding environment. Duration of internet usage starts from 5 hours to almost 24 hours a day. Phubbing among students was due to the desire to get updated information and events, entertainment, and shows the activities or achievements of themselves. The influence of the social environment and the demands of the academic environment encourage the use of smartphones frequently. Some students experience physical health problems (tiredness, sore eyes, dizziness, nausea) and sign of mental problem (sad, depressed, lost confidence) due to improper use of smartphones. Therefore, education students regarding the use of the internet wisely to prevent phubbing behavior and its effects are needed. In addition, academic and student activities through direct interaction rather than internet need to be maintained. Keywords: Phubbing, student, internet, smartphone ABSTRAK Saat ini fenomena phubbing terjadi di berbagai kelompok sosial, tidak terkecuali mahasiswa. Hal ini berdampak pada hubungan sosial maupun kesehatan fisik seseorang. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui penyebab, perilaku, dan dampak phubbing. Informan adalah mahasiswa FKM UI Strata 1, semester 5 tahun 2018. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus group discussion (FGD) kelompok mahasiswa perempuan dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengetahui phubbing sebagai fenomena dimana seseorang lebih banyak berkutat dengan handphone dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Durasi penggunaan internet sehari mulai dari 5 jam sampai hampir 24 jam. Phubbing yang terjadi di kalangan mahasiswa dikarenakan keinginan agar tetap update informasi dan kejadian yang berlangsung, hiburan, dan juga menunjukkan kegiatan atau capaian diri sendiri. Pengaruh lingkungan sosial dan tuntutan lingkungan akademik mendorong penggunaan smartphone setiap saat. Sebagian mahasiswa mengalami gangguan kesehatan fisik (lelah, mata pedih, pusing, mual) dan tanda gangguan kesehatan mental (sedih, depresi, hilang percaya diri) akibat penggunaan smartphone yang tidak tepat. Perlu adanya upaya edukasi kepada mahasiswa mengenai penggunaan internet secara bijak sehingga mencegah perilaku phubbing dan dampaknya. Selain itu juga, perlu dipelihara kegiatan akademis maupun kegiatan mahasiswa yang dilakukan melalui interaksi secara langsung dibandingkan melalui internet. Kata kunci: Phubbing, mahasiswa, internet, smartphone
, Amirullah Baharudin
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 99-110; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.2079.99-110

Abstract:
South Halmahera is a malaria-endemic area in Indonesia. One of the efforts to control the vector is to get information on Anopheles spp mosquito bionomics. This study aims to understand the Anopheles spp blood-sucking behavior in Saketa Village, South Halmahera Regency. The study was conducted from May 2013 to April 2014. Catching mosquitoes was carried out from morning to evening using the Human Landing Collection (HLC) method. The results found 9 species of Anopheles namely, An. barbumbrosus, An. farauti, An. kochi, An. indefinitus, An. koliensis, An. punctulatus, An. subpictus, An. tesselatus and An. vagus. The highest Man Hour Density (MHD) is found at an altitude of 25 meters above sea level, namely An. kochi, and An. indefinitus (2.15 and 1.45 mosquitoes/person /hour). MHD at an altitude of 3 masl is dominated by An. kochi and An. indefinitus (1.95, and 1.8 mosquitoes/person/hour). Man Biting Rate (MBR) at an altitude of 25 meters above sea level is dominated by An. kochi and An. indifinitus (25,90 and 17,47 mosquitoes/person/day), at an altitude of 9 masl, dominated by An. punctulatus and An.indefinitus (4,82 and 4,22 mosquitoes/person/day), at an altitude of 3 meters is dominated by An.indefinitus and An. kochi (21.69 and 23.49 mosquitoes/person/day). Anopheles spp. the number of caught at 06.00-07.00 is very low, but the density An. kochi and An. indefinitus increased at 07.00-08.00 and decreased after 17.00. Other Anopheles species remain with low populations throughout capture. Keywords: Anopheles spp., Malaria, Saketa village ABSTRAK Halmahera Selatan merupakan daerah endemis malaria di Indonesia. Salah satu upaya pengendalian vektor adalah mendapatkan informasi bionomik nyamuk Anopheles spp. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku menghisap darah Anopheles spp di Desa Saketa, Kabupaten Halmahera Selatan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei 2013 hingga April 2014. Penangkapan nyamuk dilakukan dari pagi hingga sore hari dengan metode Human Landing Collection (HLC). Hasil penelitian menemukan 9 spesies Anopheles yaitu, An. barbumbrosus, An. farauti, An. kochi, An. indefinitus, An. koliensis, An. punctulatus, An. subpictus, An. tesselatus dan An. vagus. Man Hour Density (MHD) tertinggi ditemukan pada ketinggian 25 mdpl yaitu An. kochi, dan An. indefinitus (2,15 dan 1,45 nyamuk/orang/jam). MHD pada ketinggian 3 mdpl didominasi oleh nyamuk An. kochi dan An. indefinitus (1,95, dan 1,8 nyamuk/orang/jam). Man Biting Rate (MBR) pada ketinggian 25 mdpl didominasi An. kochi dan An. indifinitus (25,90 dan 17,47 nyamuk/org/hari), pada ketinggian 9 mdpl, didominasi oleh An. punctulatus dan An. indefinitus (4,82 dan 4,22 nyamuk/org/hari), pada ketinggian 3 meter didominasi oleh An.indefinitus dan An. kochi (21,69 dan 23,49 nyamuk/org/hari). Anopheles spp. yang tertangkap pada jam 06.00-07.00 jumlahnya sangat rendah, namun kepadatan An. kochi dan An. indefinitus meningkat pada pukul 07.00-08.00 dan menurun setelah pukul 17.00. Spesies Anopheles lainnya tetap dengan populasi yang rendah sepanjang waktu penangkapan. Kata kunci: Anopheles spp., malaria, Desa Saketa
Nurhalina Sari, Eliza Eka Nurmala
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 88-98; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.1372.88-98

Abstract:
Leprosy is a disease that can cause pain and disability, which in the end can affect a person's quality of life. Through the 2013 Bangkok Declaration, Indonesia declared itself that 2020 was a leprosy-free country. However, until 2015, there were still reports of leprosy cases, including in Lampung Province. This study aims to analyze spatial leprosy and its risk factors to get priority areas for leprosy handling in Lampung Province. The study used ecological study designs. The sources of leprosy data and risk factors came from secondary data at the Central Statistics Agency and Health Office in Lampung for the year 2011 to 2015. Data analysis using spatial analysis. The analysis shows that leprosy cases are divided into two categories, namely paucibacillary and multibacillary. Spatial analysis results for 5 years indicate that leprosy cases are dominant in Central Lampung and East Lampung Districts. Based on population density, number of poor people, sanitation, nutritional status, and health facilities, several districts have a high risk of leprosy. The conclusion of this study is the priority in handling leprosy cases should be focused in the Central Lampung District and East Lampung District. Keywords: Leprosy, Lampung, spatial analysis, ecological study ABSTRAK Kusta merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kesakitan dan kecacatan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Melalui Deklarasi Bangkok 2013, Indonesia menyatakan bahwa tahun 2020 menjadi negara bebas kusta. Namun, hingga 2015 masih terdapat laporan kasus kusta, termasuk di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara spasial kusta dan faktor risikonya untuk mendapatkan prioritas penanganan kusta di Provinsi Lampung dengan desain studi ekologi. Sumber data kusta dan faktor risiko berasal dari data sekunder di Badan Pusat Statistik dan Dinas Kesehatan di Lampung 2011 sampai dengan 2015. Analisis data menggunakan analisis spasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kasus kusta terbagi dalam dua kategori yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB).Hasil analisis spasial selama 5 tahun menunjukkan bahwa kasus kusta dominan di Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan kepadatan penduduk, jumlah orang miskin, sanitasi, status gizi, dan fasilitas kesehatan, beberapa kabupaten memiliki risiko tinggi terhadap kasus kusta. Kesimpulan penelitian ini adalah prioritas penanganan kasus kusta sebaiknya difokuskan di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Kata kunci: Kusta, Lampung, analisis spasial, studi ekologi
, Sugiharti Sugiharti, Suparmi Suparmi
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 111-121; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.2160.111-121

Abstract:
Since 2014, Indonesia has been implementing universal health coverage to increase health insurance coverage. However, health insurance utilization by the community for maternal health is still low. This research aimed to determine factors related to the use of health insurance for antenatal care and delivery services among pregnant and childbirth women. The research conducted in 7 districts/cities, namely Kota Bandar Lampung, Kota Palembang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Karawang, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Makasar. A total of 517 respondents has been interviewed. The results showed that most respondents aged 21-34 years (68.5%), unemployed (74.7%) and graduated from high school or higher (58.4%). Around 11% of the respondent had health insurance. 73.0% of respondents who had health insurance used it for antenatal care and 88.3% used it for delivery. Multivariate analysis shows that the level of income is related to the use of health insurance for antenatal care and delivery, whereas mothers who have income level higher than Rp 2,000,000 had lower odds to utilize health insurance for antenatal care (OR=0,56; 95%CI:0,35 - 0,91) and delivery (OR=0,52; 95%CI:0,27 - 1,02). Therefore, there is a need for broader socialization of health insurance utilization for antenatal and delivery, especially for couples at reproductive age. Keywords: Health insurance, health services, maternal health ABSTRAK Pada tahun 2014, Indonesia mulai melaksanakan Universal Health Coverage untuk meningkatkan cakupan jaminan kesehatan. Namun, pemanfaatan jaminan kesehatan oleh masyarakat untuk kesehatan ibu masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan jaminan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan dan pelayanan persalinan pada ibu hamil dan bersalin. Penelitian dilaksanakan di 7 (tujuh) kabupaten/kota, yaitu Kota Bandar Lampung, Kota Palembang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Karawang, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Makasar. Sebesar 517 responden yang berhasil diwawancarai. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 21 – 34 tahun (68,5%), tidak bekerja (74,7%) dan berpendidikan tamat SMA+ (58,4%). Sekitar 11,0% responden tidak memiliki jaminan kesehatan. Dari responden yang memiliki jaminan kesehatan, hanya 73,0% di antaranya yang memanfaatkan untuk pemeriksaan kehamilan dan 88,3% memanfaatkan untuk persalinan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berhubungan dengan pemanfaatan jaminan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan, dan persalinan, dimana ibu yang memiliki tingkat pendapatan ≥Rp 2.000.000,- memiliki kemungkinan lebih rendah untuk memanfaatkan jaminan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan (OR=0,56; 95%CI:0,35 - 0,91) maupun persalinan (OR=0,52; 95%CI:0,27 - 1,02). Oleh sebab itu, perlu sosialisasi lebih luas agar memanfaatkan jaminan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan, terutama pada Pasangan Usia Subur (PUS). Kata kunci: Jaminan kesehatan, pelayanan kesehatan, kesehatan ibu
, Rina Marina, Jusniar Ariati, Roy Nusa Res
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 70-79; https://doi.org/10.22435/jek.18.2.2138.70-79

Abstract:
Dengue cases are increasingly widespread in all parts of Indonesia, but currently, the priority of control is prevention through fogging focus on endemic DHF areas. The purpose of this study was to determine the entomology indicator of dengue vector mosquitoes about the susceptibility status of the Ae aegypti mosquito. The study design was a cross-sectional study and data analysis using Pearson Correlation statistical tests. This research was conducted in seven provinces in Sumatra, which consisted of three districts with three regions endemic to dengue fever centers in each province. The larvae collection was carried out in 100 houses in each selected Puskesmas. The susceptibility test of adult mosquitoes to six types of insecticide active ingredients was carried out by the WHO Bioassay method while the larval susceptibility test used the Elliot method. The results showed that index of entomology at 7 provinces in Sumatra were; HI and CI the highest in Kota. Pematang Siantar (58,60 % and 64 % ) and the lowest in Kabupaten Prabumulih and Palembang ( 22,70 and 0 % ), the highest of BI in Kabupaten Bangka Barat ( 87,40 % ) and the lowest in the Kota Metro ( 31,10 % ); the highest of ABJ in Kota Palembang ( 77,30 % ) and the lowest in Kota Pematang Siantar ( 41,40 %). Malathion 0.8 % still effective as an mosquito control by the presence of strong and moderate relationship was for CI and HI. Whether there are mosquitoes control using chemical insecticides in several locations in 7 provinces of Sumatra show resistant condition, thus controlling by PSN, 3M plus is still a major strategy to be done to break the chain of transmission of dengue fever. Keywords: DHF, Aedes, Correlation, Suceptibility ABSTRAK Kasus DBD semakin meluas di seluruh wilayah Indonesia, namun saat ini prioritas pengendaliannya berupa pencegahan melalui fogging focus pada wilayah-wilayah endemis DBD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui indikator entomologi nyamuk vektor DBD hubungannya dengan status kerentanan nyamuk Ae. aegypti. Desain penelitian adalah studi potong lintang dan analisis data menggunakan uji statistik Pearson Correlation. Penelitian ini dilakukan di tujuh Provinsi yang ada di wilayah Sumatera yang terdiri dari tiga kabupaten dengan masing-masing tiga wilayah Puskesmas endemis DBD di setiap Provinsi. Pengumpulan jentik dilakukan pada 100 rumah di setiap Puskesmas terpilih. Uji kerentanan nyamuk dewasa terhadap enam jenis bahan aktif insektida dilakukan dengan metode Bioassay WHO sedangkan uji kerentanan jentik menggunakan metoda Elliot. Hasil penelitian menunjukkan indeks entomologi di 7 Provinsi di wilayah Sumatera yang diperiksa menunjukkan nilai HI dan CI tertinggi di Kota Pematang Siantar (58,60% dan 64%) dan terendah di Kab. Prabumulih dan Kota Palembang (22,70 % dan 0%), BI tertinggi di Kab. Bangka Barat (87,40%) dan terendah di Kota Metro (31,10%), ABJ tertinggi di Kota Palembang (77,30%) dan terendah di Kota Pematang siantar (41,40%). Pestisida Malathion 0,8 % masih efektif sebagai upaya pengendalian nyamuk dengan adanya hubungan yang kuat dan sedang terhadap Container Indeks (CI) dan House Indeks (HI) di 7 Provinsi di Wilayah Sumatera. Pengendalian jentik dengan menggunakan insektisida kimiawi di beberapa lokasi di 7 Provinsi di wilayah Sumatera menunjukkan kondisi resisten nyamuk vektor DBD dengan demikian pengendalian dengan PSN 3M Plus masih merupakan strategi utama yang harus dilakukan untuk memutus rantai penularan DBD. Kata kunci: DBD, Aedes, Korelasi, Suseptibilitas
Ika Dharmayanti, Khadijah Azhar, Dwi Hapsari Tjandrarini, Puti Sari Hidayangsih
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 60-69; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.1777.60-69

Abstract:
Antenatal care (ANC) is a prevention healthcare for maternal health and their babies. In order to fulfill the needs of them, an accessible health facility that provides ANC with qualified services for the community is needed. This study aims to determine the utilization of maternal health services as preparation for safe delivery. Analysis of this study used the data from National Health Indicator Survey (Sirkesnas) 2016 and Village Potential Census (Podes) 2014. The analysis technique was multivariable logistic regression. The results showed that the use of qualified ANC tended to be used by mothers who were examined by midwives in health centers, highly educated mothers, those who were living in moderate and good neighborhoods, not living in slums (social environment) and residing in Java-Bali region. It can be concluded that midwives and location of ANC provided important role to improve the utilization of ANC services as an ideal preparation for safe delivery. Keywords: Quality of ANC, maternal health, living environment, social environment ABSTRAK Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) merupakan upaya untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan bayinya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan fasilitas kesehatan yang mudah diakses oleh masyarakat serta pelayanan pemeriksaan ANC yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu hamil sebagai persiapan persalinan yang aman. Analisis menggunakan data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 dan Potensi Desa (Podes) tahun 2014. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi logistik multivariabel. Hasil uji regresi logistik multivariabel menunjukkan bahwa pemanfaatan ANC berkualitas cenderung digunakan oleh ibu yang diperiksa bidan di puskesmas, ibu berpendidikan tinggi, tinggal di lingkungan permukiman sedang dan baik, tidak tinggal di wilayah kumuh (lingkungan sosial) serta bertempat tinggal di Regional Jawa-Bali. Dapat disimpulkan bahwa bidan dan tempat ANC mempunyai peran sangat penting untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan ANC ideal sebagai persiapan persalinan yang aman. Kata kunci: Pelayanan kehamilan berkualitas, kesehatan ibu hamil, lingkungan permukiman, lingkungan sosial
Sri Irianti,
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 1-14; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.1831.1-14

Abstract:
ABSTRAK Pada tahun 2014 Indonesia mulai menerapkan Universal Health Coverage (UHC), yang akan meningkatkan cakupan asuransi kesehatan. Artinya bahwa pemanfaatan layanan kesehatan akan meningkat juga, sehingga pengelolaan limbah medis di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) akan menjadi semakin penting. Artikel ini merupakan analisis data Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) yang dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan tahun 2011 tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan limbah dan pembuangan akhir limbah layanan kesehatan di Puskesmas. Jumlah sampel adalah 8.599 Puskesmas. Variabel yang dianalisis meliputi sistem pembuangan limbah, perilaku pemisahan limbah, dan pengolahan limbah dengan cara dibakar. Analisis data dilakukan secara multivariat dengan model logistik biner multivariabel dan regresi multinomial pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil analisis regresi multivariabel menemukan bahwa ada ketidaksetaraan berbasis geografis di mana Puskesmas yang terletak di wilayah Jawa-Bali, di daerah perkotaan, bukan di daerah terpencil, dan di pulau-pulau utama, cenderung melakukan pemisahan limbah medis, dan cenderung tidak melakukan praktik pembakaran terbuka. Puskesmas yang memiliki sistem pembuangan limbah yang layak, mengindikasikan bahwa memiliki kecenderungan mempraktikkan pemisahan limbah medis (tidak pembakaran terbuka). Sebaliknya puskesmas di daerah pedesaan, tidak melakukan pemilahan limbah dan cenderung mengelola sampah dengan cara dibakar. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya untuk menerapkan pengelolaan limbah layanan kesehatan yang tepat di Puskesmas, termasuk fasilitas dasar, pelaksanaan pemisahan di sumber, dan pengolahan serta pembuangan limbah yang tepat menjadi sangat penting. Kata kunci: Limbah medis, fasilitas kesehatan, analisis regresi, pengelolaan limbah, Indonesia ABSTRACT In 2014, Indonesia started implementing Universal Health Coverage (UHC). As coverage of health insurance expands, healthcare utilisation will increase. Therefore, sustainable healthcare waste management (HCWM) in public health centres (PHCs) will become more important. This paper addresses the drivers of waste segregation and the final disposal of healthcare wastes. We obtained data on health care waste management (HCWM) in 8,599 PHCs from the 2011 Health Facility Research (Rifaskes). We then fitted multivariable binary logistic and multinomial regression models at the 0.05 level of significance. The multivariable regression analyses found that there were geographically based inequalities where PHCs located in Java­Bali region, in the urban area, not in the remote area, in main islands, were more likely to practice medical waste segregation, and less likely to practice open burning. Owning a sewerage system corresponds to a higher likelihood of practising medical waste segregation and lower likelihood of open burning. Moreover, PHCs with better basic amenities were more likely to segregate their waste and less likely to practice open burning. This paper recommends the importance of resource for establishing proper HCWM in PHCs including basic amenities, implementation of segregation at source, and appropriate waste treatment and disposal. Keywords: Medical waste; health facilities; regression analysis; waste management; Indonesia
, Hana Panggabean, Rustono Marta Farady
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 37-47; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.167.37-47

Abstract:
Stunting is an indicator of chronic malnutrition in the first 1000 days of a child’s life. This threatens the quality of human resources of Indonesia. The local communities generally interpret stunting as “short” and use different terms such as ‘kerdil’, ‘cebol’, ‘kuntet’, and ‘kuntring’. Having short posture is frequently perceived as heredity rather than as malnutrition. Inadequate meanings derived from social perception process may lead mothers to ignore such behavior that will increase risks of stunting and undermine community participation in government-led programme to reduce stunting. This qualitative study aims to describe facts on how community preceived stunted children. Data were obtained through field observation and in-depth interviews with four mothers having under-five-aged children in Tangerang. Thematic analysis was used to analyse the collected data. This study revealed that stunting is not being associated with health or nutrition issues. In fact, participants perceive stunted children as smart children. Holding on to such perception may jeopardize optimal community participation in government’s efforts to reduce stunting prevalences. Design of appropriate activities may need to consider social perception held by local communities where the intervention will be implemented. Keywords: Stunting, social perception, childhood nutrition ABSTRAK Stunting adalah indikator kekurangan gizi kronis dalam periode 1000 hari pertama kehidupan seseorang. Hal ini mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia. Masyarakat setempat pada umumnya memaknai stunting sebatas “berbadan pendek” dengan menggunakan istilah yang berbeda, misalnya ‘kerdil’, ‘cebol’, ‘kuntet’, dan ‘‘kuntring’’ sebagai akibat dari faktor keturunan. Perspektif persepsi sosial penting dalam pemaknaan tersebut, karena berpotensi mengabaikan perilaku berisiko anak stunting oleh para ibu dan menghambat partisipasi masyarakat dalam program pemerintah menurunkan kejadian stunting. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana masyarakat memaknai balita berbadan pendek. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan empat orang ibu yang memiliki anak balita di kabupaten Tangerang. Data diolah dengan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan balita pendek tidak dikaitkan dengan masalah kesehatan maupun gizi, bahkan responden memandang anak ‘‘kuntring’’ sebagai anak yang pintar. Persepsi demikian dapat berdampak pada keterlibatan masyarakat yang tidak optimal dalam upaya pemerintah mengurangi kejadian stunting. Perencanaan intervensi pencegahan yang tepat perlu mempertimbangkan persepsi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kata kunci: Stunting, persepsi sosial, gizi anak balita
Eva Laelasari, Rachmalina S Prasodjo, Cahyorini Cahyorini, Kartika Handayani, Yuwana Wiryawan, Athena Anwar
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 15-26; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.1472.15-26

Abstract:
To overcome community health problems, the government has launched the Healthy Indonesia Program through Family Approach (PIS-PK) since 2015. Until early 2018 the progress of this program over regions varies. The aim of this operational research conducted in Semarang in 2018 was to provide assistance for regions in implementing PIS-PK stages based on guidelines in order to produce an intervention model that can be sustainably applied with the commitments of related sectors and community participation. The result showed that Puskesmas Purwoyoso has implemented management of health service program throughout P1, P2, and P3 stages correctly in accordance with the guidelines. Based on healthy family indicators, RW 11 Purwoyoso Village was chosen as a priority area to be intervention model of hypertension prevention. The PIS-PK indicator showed that hypertension sufferers who were regularly treated was small in number. Several models used in handling hypertension cases through community empowerment approach including picking up patients with severe hypertension; blood pressure checking activity during social group gathering, so-called ‘arisan’ (CETAR), and anti-hypertension gardens. The intervention model had been implemented and established in RW 11 of Puskesmas Purwoyoso working area, therefore, other sectors involvement and community participation in hypertension prevention were expected Keywords: Intervention model, hypertension, PIS-PK ABSTRAK Sejak tahun 2015 Pemerintah telah meluncurkan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) untuk menangani masalah kesehatan di masyarakat. Hingga awal tahun 2018, kemajuan pelaksanaan PIS PK di beberapa daerah bervariasi. Riset operasional yang dilakukan di Semarang pada tahun 2018 ini bertujuan untuk mendampingi daerah dalam melaksanakan tahapan pelaksanaan program PIS PK yang sesuai dengan pedoman, hingga menghasilkan model intervensi yang dapat diimplementasikan dengan melibatkan lintas sektor dan melibatkan peran serta masyarakat.Hasil pendampingan menunjukkan, Puskesmas Purwoyoso sudah menerapkan manajemen program pelayanan kesehatan Puskesmas melalui tahapan P1, P2, dan P3 sesuai pedoman. Berdasarkan nilai IKS dan cakupan indikator PIS PK yang belum berjalan dengan baik yaitu penderita hipertensi yang berobat teratur, maka dipilih RW 11 Kelurahan Purwoyoso sebagai wilayah prioritas untuk mendapat intervensi model penanggulangan hipertensi. Pemilihan model intervensi hipertensi melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat adalah jemput pasien gawat hipertensi, cek tensi saat arisan (CETAR), dan taman hepi (anti hipertensi). Model intervensi telah ditetapkan dan diimplementasikan di RW 11 yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso, dan diharapkan keterlibatan lintas sektor serta masyarakat untuk ikut berperan dalam penanggulangan hipertensi. Kata kunci: Model intervensi, hipertensi, PIS-PK
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 48-59; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.1367.48-59

Abstract:
One of the government's efforts to reduce the high maternal mortality rate (MMR) is to implement the National Health Insurance (JKN) program. The purpose of the study was to determine the description of the implementation of the national health insurance program and its problems in an effort to reduce MMR. This research was conducted in Solok District, West Sumatra Province in 2017using qualitative methods with in-depth interviews with several informants from the Solok District Health Office, health workers, families who experienced cases of maternal deaths and community leaders. The results revealed that several public health insurance (JKN) efforts for pregnant and childbirth mothers, especially for the poor, have been provided and the outcome were quite good. However, there are still a number of problems including limited access to JKN, non-optimal JKN socialization and utilization of JKN service access, inadequate availability of health facilities and health workers. The alternative suggestions proposed include increasing periodic socialization of JKN programs and participation, especially in remote areas by involving cross-sectors, optimizing the utilization of JKN membership access through increasing the availability, quality and affordability of maternal health services, increasing health financing for the poor, and optimizing the system referral through strengthening application-based delivery referrals. Keywords: National health insurance, maternal health services, maternal mortality ABSTRAK Salah satu upaya pemerintah untuk menekan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) adalah dengan menerapkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran implementasi program jaminan kesehatan nasional dan permasalahannya dalam upaya penurunan AKI. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017. Desain penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada beberapa informan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Solok, petugas kesehatan, keluarga yang mengalami kasus kematian ibu dan tokoh masyarakat. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beberapa upaya penjaminan kesehatan masyarakat untuk ibu hamil dan melahirkan terutama bagi masyarakat miskin sudah dilaksanakan, dan hasilnya sudah cukup baik. Namun, masih terdapat beberapa permasalahan di antaranya adalah masih terbatasnya akses kepesertaan JKN, belum optimalnya sosialisasi JKN, belum optimalnya pemanfaatan akses pelayanan JKN, belum memadainya ketersediaan sarana prasarana/fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Alternatif saran yang diusulkan antara lain adalah meningkatkan sosialisasi program dan kepesertaan JKN secara berkala terutama di daerah terpencil dengan melibatkan lintas sektor, mengoptimalkan pemanfaatan akses kepesertaan JKN melalui peningkatan ketersediaan, kualitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan ibu, peningkatan pembiyaan kesehatan pada kelompok miskin, dan mengoptimalkan sistem rujukan melalui penguatan rujukan persalinan yang berbasis aplikasi. Kata kunci: Jaminan kesehatan nasional, pelayanan kesehatan ibu, kematian ibu
Bunga Ch Rosha, Dwi Sisca Kumalaputri, Indri Yunita Suryaputri
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 18, pp 27-36; https://doi.org/10.22435/jek.18.1.1602.27-36

Abstract:
The incidence of diabetes has been increasing gradually each year. According to WHO, diabetes is the leading cause of blindness, kidney failure, heart attack, and stroke. Prevention strategies are needed, especially for people with Impaired Glucose Tolerance (IGT), as IGT is an intermediate stage in the natural course of type 2 diabetes and a predictor of type 2 diabetes. This paper is a secondary-data analysis of 2013 Basic Health Research aiming to identify IGT predictors. Samples were the respondents aged 15 years and over, with a total of 38,149. Analysis was carried out using logistic regression with odds ratios and 95% confidence intervals. Results showed that factors associated with IGT were age (OR (95% CI): 1.51 (1.43-1.59)), gender (OR (95% CI): 1.54 (1.46- 1.62)), education ((OR (95% CI): 1.18 (1.10-1.26), overweight (OR (95% CI): 1.24 (1.17-1.31) ) and fruit and vegetable consumption (OR (95% CI): 0.89 (0.80-0.99)). To conclude, obesity is a risk factor of IGT prevalence, while consumption of fruits and vegetables less than 4 portions per day was protective against IGT. There is a need of IGT prevention strategy, such as regular blood sugar checks, weight control and increased physical activity (exercise) and consume fruits and vegetables that are low in glucose and fluctose. Keywords: IGT, obesity, fruit and vegetable consumption, Riskesdas ABSTRAK Kejadian diabetes dari tahun ketahun semakin meningkat. Menurut WHO, diabetes merupakan penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, dan stroke. Perlu upaya pencegahan terutama pada orang dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), karena TGT merupakan tahap pertengahan di dalam perjalanan alamiah DM tipe 2 dan faktor prediktor terhadap terjadinya DM tipe 2. Artikel ini adalah analisis lanjut Riskesdas 2013, yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor prediktor TGT. Sampel adalah responden dengan umur 15 tahun ke atas berjumlah 38.149. Analisis dilakukan dengan regresi logistik dengan odds ratio dan 95 % confidence Interval. Hasil menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan TGT ialah umur (OR (95% CI): 1,51 (1,43-1,59)), jenis kelamin (OR (95% CI): 1,54 (1,46-1,62)), pendidikan ((OR (95% CI): 1,18 (1,10-1,26), kegemukan (OR (95% CI): 1,24 (1,17-1,31)) dan konsumsi buah dan sayur (OR (95% CI): 0,89 (0,80-0,99)). Dapat disimpulkan bahwa kegemukan berisiko terhadap kejadian TGT dan konsumsi buah dan sayur < 4 porsi perhari protektif terhadap kejadian TGT. Perlu adanya upaya pencegahan TGT, seperti pemeriksaan gula darah secara berkala, mengontrol berat badan meningkatkan aktifitas fisik (olahraga), serta mengkonsumsi jenis buah dan sayur yang rendah glukosa dan fluktosa. Kata kunci: TGT, kegemukan, konsumsi buah dan sayur, Riskesdas
, Tities Puspita
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 146-154; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.613.146-154

Abstract:
Knowledge about filariasis is one of many importance dimensions of succsessing filariasis elimination in Indonesia. This study aims at forming knowledge index about filariasis using principal component analysis. Principal component analysis methods have been used to reduce the researcher subjectivity in making knowledge composit. Data was from multicentre research on filaria 2017 by Indonesian National Institute of Health Research and Development. It was a cross sectional study conducted in 23 districts with 13,266 respondents. Ten questions about the causes and impacts of filariasis were asked with a structured questionnaire. Tetrachoric correlation and principal component analysis were used in data analysis. The knowledge index could explain 45.18% (rho=0.4518) of knowledge variations from the ten questions. This index can potentially be used as an output or a predictor variable in advance analysis. Future studies should take into account all levels and depths of knowledge when forming a knowledge composit. Keywords: knowledge, filaria, filariasis, principal component analysis ABSTRAK Pengetahuan tentang filariasis merupakan salah satu dimensi penting dalam keberhasilan eliminasi filariasis di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk membentuk indeks pengetahuan tentang filariasis menggunakan metode analisis komponen prinsipal. Metode analisis komponen prinsipal digunakan untuk mengurangi subjektifitas peneliti dalam membentuk komposit pengetahuan. Data yang digunakan berasal dari penelitian multisenter filariasis 2017 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Penelitian tersebut merupakan penelitian potong lintang di 23 Kabupaten dengan 13.266 responden. Terdapat sepuluh pertanyaan yang ditanyakan melalui kuesioner terstruktur mengenai penyebab dan akibat dari filariasis. Data dianalisis dengan korelasi tetrakorik dan analisis komponen prinsipal. Indeks pengetahuan filariasis yang terbentuk dapat menjelaskan 45,18% (rho=0,4518) variasi pengetahuan dari 10 pertanyaan. Indeks ini dapat digunakan dalam analisis lanjutan sebagai variabel output atau prediktor. Disarankan untuk mempertimbangkan tingkatan dan kedalaman pengetahuan apabila hendak membentuk komposit pengetahuan filariasis. Kata kunci: pengetahuan, filaria, filariasis, analisis komponen prinsipal
, Anissa Rizkianti
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 165-181; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.882.165-181

Abstract:
The reduction of maternal mortality remains the main focus of health development target of achievement in many parts of the world as the highest contribution of deaths occurred in developing countries. Social network system developed within community has obstacles in achieving target of maternal mortality reduction. In general, this study used quantitative and qualitative approach. Sampling for each respondent and informant was done using purposive sampling method. Quantitative data collection was undertaken among 90 postpartum women, and 25 qualitative informants. Quantitative results show attitude and behavior of women: most women chose delivery at health facility (96.7%) with assistance by health professionals (100%). Almost all respondents received ANC (95.6%), mostly reported of having socialization and information on safe delivery, obtained by health workers, village health volunteers, head of village and traditional birth attendant (TBA). Most respondent chose to not have childbirth with assistance by TBA. Result of in-depth interview among community members involved in P4K acknowledged that strategy to overcome obstacles in social network is to include TBA in the social network of P4K, train and provide knowledge on emergency action that is hygienic and safe, as well as report promptly if encounter difficulties in helping childbirth and using Tabulin to overcome the economic problems of the family. The social network works by exploiting the potential that exists in the community agreed upon and built on initiation within the community itself and proven to be able to overcome various obstacles to prevent and handle the emergency of pregnancy and childbirth. Keywords: Social Network P4K, Maternal Mortality, Community Development ABSTRAK Penurunan angka kematian ibu (AKI) masih menjadi fokus utama target pencapaian pembangunan kesehatan di berbagai belahan dunia dengan penyumbang kematian tertinggi adalah negara-negara berkembang. Sistem jaringan sosial yang telah terbentuk pada kelompok masyarakat memiliki hambatan dalam mencapai target penurunan AKI. Secara garis besar penelitian ini menggunakan pendekatan campuran kuantitatif dan kualitatif. Penarikan sampel untuk setiap responden dan informan dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan terhadap 90 ibu-ibu pasca melahirkan dan informan kualitatif berjumlah 25 orang. Hasil kuantitatif menunjukkan sikap dan perilaku ibu: sebagian besar memilih persalinan di fasilitas kesehatan (96,7%) dengan penolong persalinan dengan tenaga kesehatan (100%). Hampir seluruh responden ibu melakukan ANC (95,6%), sebagian besar responden mengaku sudah pernah mendapat sosialisasi dan informasi mengenai persalinan yang aman, dimana informasi didapat dari tenaga kesehatan, kader desa, kepala desa dan juga dari dukun beranak. Sebagian besar responden memilih tidak melahirkan dengan pertolongan dukun (65,6%). Hasil wawancara mendalam terhadap anggota masyarakat yang terlibat dalam kegiatan P4K menyatakan bahwa strategi untuk mengatasi hambatan bekerjanya jaringan sosial adalah mengikutsertakan dukun beranak untuk terlibat dalam jaringan sosial kegiatan P4K serta melatih dan memberikan pengetahuan terkait tindakan darurat yang steril dan aman serta harus segera melapor jika menemui kesulitan dalam menolong persalinan serta mengembangkan tabulin (tabungan persalinan) untuk mengatasi persoalan ekonomi keluarga ibu yang akan melahirkan. Jaringan sosial bekerja dengan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat yang disepakati serta dibangun atas inisiasi dari dalam masyarakat itu sendiri dan terbukti mampu mengatasi berbagai hambatan dalam upaya pencegahan dan penanganan kegawatdaruratan kehamilan dan persalinan. Kata kunci: Permukiman, status ekonomi, mental emosional
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 123-134; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.996.123-134

Abstract:
ABSTRAK Pembakaran sampah rumah tangga yang tidak terkendali menciptakan banyak polutan berbahaya. Menurut Riskesdas 2013, satu dari dua rumah tangga Indonesia dilaporkan membakar sampah mereka di tempat terbuka. Oleh karena itu, analisis ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pembakaran terbuka limbah padat rumah tangga dan pengalaman ISPA pada anak-anak di Indonesia dari sumber data yang sama. Kami memasang model regresi logistik sederhana dan multivariabel untuk menguji hubungan antara paparan pembakaran terbuka limbah padat rumah tangga dan pengalaman ISPA pada anak di bawah 5 tahun dari data Riskesdas 2013. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara pembakaran terbuka limbah rumah tangga dan pengalaman ISPA pada anak-anak Indonesia. Secara khusus, kami menemukan proporsi yang lebih tinggi dari pembakaran terbuka di area ini terkait dengan risiko ISPA yang lebih tinggi. Hubungan ini tetap signifikan secara statistik setelah variabel penjelas lainnya dimasukkan. Namun, kami tidak menemukan hubungan yang signifikan antara pembakaran terbuka di tingkat rumah tangga. Temuan ini mengindikasikan bahwa anak-anak juga dapat terkena polusi udara luar ruangan selain dari polusi udara dalam ruangan yang berasal dari penggunaan bahan bakar memasak yang tidak aman. Dengan temuan ini, kami merekomendasikan semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat untuk mengatasi praktik umum pembakaran sampah secara terbuka. Kata kunci: Riskesdas 2013, pembakaran sampah terbuka, pencemaran udara, ISPA ABSTRACT Uncontrolled burning of household solid waste creates many harmful pollutants. The Basic Health Research (Riskesdas) 2013 found that one in two Indonesian households burned their solid waste in the open. Therefore, the study is aimed at examining the relationship between open burning of household solid waste and experience of ARI among under-5 children in Indonesia using the same source of data.We fitted simple and multivariable logistic regression models to the 2013 Riskesdas to examine the association between exposure to open burning of household solid waste and ARI experience among U-5 children.The results showed a significant association between open burning of household waste and ARI experience among Indonesian children. Specifically, we found a higher proportion of open burning in the area is associated with a higher risk of ARI. This relationship remains statistically significant after the other covariates were included. We did not observe, however, a significant association between open burning at the household level.These findings imply that children may also be exposed to outdoor air pollution besides from indoor air pollution emanating from the use of unsafe cooking fuel. Given these findings, we urge all stakeholders including the community to tackle the prevalent practice of open burning. Keywords: Riskesdas 2013, household solid waste, open burning, air pollution, ARI
Jusniar Ariati, Dian Perwitasari, Rina Marina, Shinta Shinta, Doni Lasut, Roy Nusa, Anwar Musadad
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 135-145; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.847.135-145

Abstract:
The long-term use of insecticides causes resistance to targeted insects, so that a study of its resistance in Indonesia is needed. A cross-sectional study was conducted to determine the resistance status of Aedes aegypti to organophosphates and pyrethroids in 102 districts in 2015 with reference to WHO standard bioassay test. Sampling and testing of Ae. Aegypti larvae from 100 houses were carried out from three area of each health center. Test results on 0.8% malathion revealed that 84% districts were resistant, 13% districts were tolerant, and 3% districts were vulnerable. The test results for temephos of 0.02% also found that 49% districts were resistant, 29% districts were tolerant and 22% districts were vulnerable. While for 0.05% cypermethrin insecticide test; 98% were resistant, and 1% was tolerant. The test on 0.025% alpha cypermethrin found that 40% were resistant, 51% were tolerant and 9% were vulnerable. Test on 0.025% deltamethrin found that 65% were resistant, 22% districts were tolerant and 14% districts were vulnerable. With the high resistance to organophosphate and pyrethroid groups, it is recommended to rearrange the application of insecticide types in each region cyclically. Keywords: Insecticides, resistance, organophosphates, pyrethroid, Aedes aegypti ABSTRAK Penggunaan insektisida dalam jangka waktu lama menyebabkan resistensi terhadap serangga sasaran, sehingga diperlukan uji status kerentanan Ae.aegypti di Indonesia. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel uji (jentik Ae. aegypti) dilakukan di 102 Kabupaten/kota di Indonesia pada 100 rumah di setiap tiga wilayah kerja puskesmas. Metode uji kerentanan menggunakan bioassay test standar WHO. Hasil uji terhadap malathion 0,8% mendapatkan 86 (84%) kabupaten telah resisten, 13 kabupaten (13%) toleran dan 3 (3%) kabupaten rentan. Hasil uji terhadap temephos 0,02% menunjukkan 50 (49%) kabupaten resisten, 30 (29%) kabupaten toleran dan 22 (22%) kabupaten rentan. Hasil uji insektisida sipermetrin 0,05%, sebanyak 100 (98%) kabupaten resisten, dan 1 (1%) kabupaten toleran. Hasil uji terhadap alfa sipermetrin 0,025%, sebanyak 18 kabupaten (40%) resisten, 23 (51%) kabupaten toleran dan 4 (9%) kabupaten berstatus rentan. Hasil uji terhadap deltametrin 0,025% sebanyak 66 (65%) kabupaten resisten, 22 (22%) kabupaten toleran dan 14 (14%) kabupaten rentan. Dapat disimpulkan bahwa telah terjadi resistensi terhadap insektisida golongan organofosfat dan piretroid. Disarankan untuk mengganti kedua jenis insektisida tersebut di setiap wilayah yang teridentifikasi resitensi tinggi. Kata kunci: Insektisida, resitensi, organofosfat, piretroid, aedes aegypti
, Sahat P Manalu, Dasuki Dasuki, Aria Kusuma
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 155-164; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.319.155-164

Abstract:
One of SDG's 2030 targets is that households have access to drinking water. The phenomenon is some of community use bottled water/refill as drinking water. The aim of this article are knowing household proportion with improve clean water source and water collecting time that use bottled water/refill drinking water, and relation of clean water source characteristics with using bottle/refill drinking water. Research design is cross sectional. Dependent variable is household drinking water sources type, independents are household clean water source characteristics, and travel time collecting water. Bivariate data analysis was carried out to analyze the relationship between the proportion of bottled / refilled water users by households with adequate water sources and households that use inappropriate water sources. The results showed that proportion of households with unimproved drinking water sources, unimproved clean water source and unimproved water collecting time are greater using bottled/refill drinking, each (7,6%) and (26,7%). There are statistic significances relation between household with unimproved drinking water source, unimproved travel time collecting water with using bottled/ relill drinking water (p = 0,000). Also found statistic significances between household with improved drinking water source, unimproved clean water source and unimproved travel time collecting water with using bottled/ relill drinking water (p = 0,000). Keywords: Bottled water, refill drinking water, improved water ABSTRAK Salah satu target SDG’s 2030 adalah rumah tangga memiliki akses terhadap air minum. Sebagian masyarakat menggunakan air minum kemasan/ isi ulang sebagai air minum. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengguna air minum kemasan/isi ulang sebagai sumber air utama. Desain penelitian adalah potong lintang. Variabel terikat adalah jenis sumber air minum rumah tangga, sedangkan variabel bebas terdiri dari karakteristik sumber air utama dan waktu yang diperlukan untuk mengambil air. Analisis data secara bivariat dilakukan untuk menganalisis hubungan antara proporsi pengguna air minum kemasan/isi ulang oleh rumah tangga dengan sumber air layak dengan rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak layak. Hasil menunjukkan bahwa proporsi pengguna air minum kemasan/isi ulang oleh rumah tangga dengan sumber air minum yang belum layak lebih tinggi diibandingkan dengan rumah tangga dengan sumber air minum layak, yaitu masing-masing (7,6%) dan (26,7%). Terdapat hubungan bermakna antara rumah tangga dengan sumber air minum belum layak, dengan waktu tempuh pengambilan air belum layak terhadap penggunaan air minum kemasan/ isi ulang (p=0,000). Pada rumah tangga dengan sumber air minum layak, sumber air utama belum layak dan waktu pengambilan belum layak juga ditemukan hubungan bermakna secara statistik terhadap penggunaan air minum kemasan/ isi ulang (p=0,000). Kata kunci: Air kemasan, air minum isi ulang, air layak
, Evi Martha, Athena Anwar
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 182-196; https://doi.org/10.22435/jek.17.3.666.182-196

Abstract:
Half of the women (48%) had hypertension at the age of menopause and the majority of hypertension was uncontrolled. For hipertensive patients, behavioral factors (knowledge, attitude and practice) and environment related to the prevention and control of blood pressure. This study explored further from the research data " The Dynamics of Change in Body Mass Index and Blood Pressure in Postmenopausal Women in Bogor on 2011-2014, focus on knowledge, attitude and practice of preventing and controlling hypertension in Bogor City. Data collection was carried out with indepth interviews on key informants responsible for health program and Focus Group Discussion (FGD) for 4 groups of hypertensive and normotensive informants, respectively. The qualitiative data analyzed using theme analysis, triangulation was carried out for data validation. Analysis of drinking water quality data was done by independent t test. The majority of postmenopausal women were 55 years old and senior high school education. Most of them already have good knowledge and attitudes in the prevention and control of blood pressure, but are still lacking in practice. Aluminum and lead (Pb) contamination in drinking water has exceeded the standard value and has the potential to increase blood pressure. For hypertensive patient, health workers should have a strategy to increase the motivation to practice the prevention and control of blood pressure with various counseling methods that are more innovative and applicative to specific local potential and routine monitoring of drinking water sources to maintain good drinking water quality. Keywords: Hypertension, menopause, behavioral factors, control of blood pressure ABSTRAK Separuh wanita (48%) mengalami hipertensi saat memasuki usia menopause dan mayoritas hipertensi tidak terkontrol. Bagi penderita hipertensi, faktor perilaku dan lingkungan berhubungan dengan pencegahan dan pengontrolan tekanan darah. Penelitian ini adalah eskplorasi lebih lanjut dari data penelitian “Dinamika Perubahan Indeks Massa Tubuh dan Tekanan Darah pada Wanita Pasca Menopause di Kota Bogor, tahun 2011-2014 tentang Pengetahuan Sikap dan Perilaku (PSP) dan lingkungan wanita pasca menopause dalam mencegah dan mengendalikan hipertensi. Pengumpulan data PSP dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan kunci penanggung jawab program kesehatan, dan Diskusi Kelompok Terpadu (DKT) pada 4 kelompok informan hipertensi dan 4 kelompok normotensi. Pengumpulan data lingkungan fisik dilakukan dengan observasi dan mengukur kualitas air dengan pemeriksaan parameter kimiawi air minum. Analisis data kualitatif menggunakan analisis tematik, sedangkan analisis data kualitas air minum dengan uji beda mean (independent t test). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas wanita pasca menopause yang normotensi dan hipertensi berumur 55 tahun dan pendidikan SMA, sebagian besar sudah memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam pencegahan dan pengontrolan tekanan darah, tetapi masih kurang dalam prakteknya. Cemaran aluminium dan timbal (Pb) dalam air minum sudah melebihi nilai baku mutu dan berpotensi meningkatkan tekanan darah. Disarankan bagi petugas kesehatan sebaiknya mempunyai strategi peningkatan motivasi praktek pencegahan dan pengontrolan tekanan darah dengan berbagai metode konseling yang lebih inovatif dan aplikatif berbasis potensi lokal spesifik dan monitoring rutin sumber air minum untuk menjaga kualitas air minum tetap baik. Kata kunci: Hipertensi, menopause, faktor perilaku, pengontrolan tekanan darah
Jek Managerxot, , Sitti Chadijah, Ni Nyoman Veridiana, Octaviani Octaviani, Hayani Anastasia, Rosmini Rosmini, Mujiyanto Mujiyanto, Leonardo Taruk Lobo
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 93-103; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.361.93-103

Abstract:
Program pengobatan massal filariasis telah dilakukan selama tiga tahun berturut-turut di KabupatenMamuju Utara, namun penilaian terhadap keberhasilan pelaksanaan pengobatan tersebut belum pernahdilakukan. Untuk mengetahui perubahan situasi filariasis serta perubahan pengetahuan, sikap dan perilakumasyarakat pasca tiga tahun pelaksanaan pengobatan massal, telah dilakukan Survei Darah Jari (SDJ) danwawancara pada masyarakat setempat dari bulan Maret sampai dengan November 2015. Survei darah jaridilakukan di dua desa terpilih pada masyarakat yang berusia lima tahun keatas (≥ 5 tahun), dan wawancaradilakukan pada masyarakat di 30 desa terpilih yang berusia lima belas tahun keatas (≥ 15 tahun). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa angka microfilaria rate di Kabupaten Mamuju Utara sebesar 1,39%, dengan spesies Brugia malayi. Hasil wawancara terhadap 1.586 responden menunjukkan bahwapengetahuan tentang penyakit filariasis dan kegiatan pengobatan massal masih rendah, demikian halnyadengan perilaku masyarakat terkait pencegahan dan konsumsi obat massal. Sebaliknya masyarakatcenderung bersikap positif terhadap kegiatan pencegahan, pengendalian dan pengobatan filariasis. Angkamicrofilaria rate yang masih diatas 1% (≥1%), serta pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang penyakitfilariasis dan perilaku masyarakat terkait pencegahan dan konsumsi obat massal masih kurang, hal inimenunjukkan pelaksanaan POMP belum menunjukan hasil seperti yang diharapkan. Disarankan kegiatanpengobatan massal filariasis di Kabupaten Mamuju Utara masih perlu dilanjutkan sampai dengan limatahun, sesuai dengan prosedur dan dilakukan pemantauan yang ketat terhadap daerah dengan kasus kronisdan positif mikrofilaria.
Jek Managerxot, Milana Salim, Yahya Yahya, Tri Wurisastuti, Rizki Nurmaliani
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 82-92; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.360.82-92

Abstract:
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi SumateraSelatan. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penularan DBD adalah dengan melakukanpengendalian vektor nyamuk pada tingkat jentik. Penggunaan insektisida dalam pengendalian vektor DBD,selain dapat menimbulkan resistensi, juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan lingkungan. Saat inipengendalian vektor DBD di Kabupaten OKU dilakukan secara hayati (biological control), yaitu denganmenggunakan ikan pemakan jentik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat partisipasimasyarakat dalam pengendalian vektor DBD menggunakan ikan pemakan jentik. Lokasi penelitian beradadi Kelurahan Baturaja Lama dan Kelurahan Sekar Jaya. Populasi adalah seluruh rumah tangga di keduakelurahan tersebut. Jumlah sampel ditentukan dengan mengacu pada ketentuan WHO mengenai standarminimal sampel survei entomologi DBD yaitu 100 rumah. Jumlah sampel rumah tangga yang berhasildidapatkan sebanyak 217 yang dipilih dengan cara acak. Hasil perhitungan indeks jentik menunjukkanangka HI di Kelurahan Baturaja Lama sebesar 42,1% dan di Kelurahan Sekar Jaya sebesar 48,2%. AngkaCI di Kelurahan Baturaja Lama sebesar 19,2% dan Sekar Jaya sebesar 16,2%. Angka BI di KelurahanBaturaja Lama sebesar 51,4% dan Sekar Jaya sebesar 75,5%. Analisis statistik terhadap perilakumemelihara ikan menunjukkan hubungan bermakna terhadap keberadaan jentik, namun persentase jumlahrumah tangga yang memelihara ikan pada kedua kelurahan masih tergolong rendah yakni kurang dari 10%.Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan pengembangan potensi jenisikan pemakan jentik dalam upaya pengendalian DBD.
Sugiarto Sugiarto, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Lukman Hakim, Jusniar Ariati
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 114-122; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.148.114-122

Abstract:
Nunukan Regency is one of the malaria endemic areas in North Kalimantan Province. This study aims to identify the entomology indicators in integrated vector management in Nunukan District to further be considered in achieving malaria elimination in the region. The study was carried out on Sebatik Island, Nunukan Regency, North Kalimantan Province. Data analysis was carried out descriptively. The results showed that the value of vectorial capacity (VC) calculation for An. peditaeniatus (0.008) and An. sundaicus (0.057). Entomological inoculation rate (EIR) An. peditaeniatus and An. sundaicus is 0.08 (~ 28 infective bites / person / year). It can be concluded that vectorial capacity and entomological inoculation rate can be used as an indicator of entomology of malaria transmission and malaria transmission patterns in Sungai Nyamuk Village. Intensification of vector control in an integrated manner is needed in order to accelerate malaria elimination in Nunukan District. Integrated Vector Managemen (IVM) on Sebatik Island involves cross-sectoral participation, namely from the Health Office, the Public Works Agency, the Agriculture and Livestock Services Office, the Plantation Service Office, and the active community participation approach. Keywords: Malaria, Anopheles sp, integrated vector manajemen ABSTRAK Kabupaten Nunukan merupakan satu di antara daerah endemis malaria di Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator entomologi dalam pengendalian vektor terpadu di Kabupaten Nunukan, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah tersebut. Penelitian dilaksanakan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utara. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai penghitungan vectorial capacity (VC) untuk An. peditaeniatus (0,008) dan An. sundaicus (0,057). Nilai entomological inoculation rate (EIR) An. peditaeniatus dan An. sundaicus adalah 0.08 (~28 gigitan infektif /orang/tahun). Dapat disimpulkan bahwa vectorial capacity dan entomological inoculation rate dapat digunakan sebagai indikator entomologi penularan malaria dan pola penularan malaria di Desa Sungai Nyamuk. Intensifikasi pengendalian vektor secara terpadu sangat diperlukan dalam rangka akselerasi eliminasi malaria di Kabupaten Nunukan. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) di Pulau Sebatik melibatkan peran serta lintas sektor yaitu dari Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Perkebunan serta pendekatan partisipasi aktif masyarakat. Kata kunci: Malaria, Anopheles sp, V.C., E.I.R., pengendalian vektor terpadu
Rina Marina, Ema Hermawati
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 105-113; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.99.105-113

Abstract:
The cycle of dengue virus transmission is influenced by the interaction between humans, dengue virus, vector (mosquito), and the environment. Density of Aedes sp. larvae can affect the transmission status of DHF cases. The research was conducted to determine the relationship between the characteristics of the larval density of Aedes sp. This is an observational with a cross sectional study design, with a total sample of 280 households. The results showed that for regions with high DHF transmission, entomology indices showed House Index (HI), Container Index (CI), Bretau Index (BI) and Density Figure (DF) respectively were 36%, 20%, 54 with density figures at high risk of transmission. In areas with low DHF transmission, the figure is 19%, 8%, 24, and the density figures at moderate risk of transmission. Characteristic factors of containers in areas with high transmission status that can affect the presence of Aedes sp. larvae are species (p = 0.00; OR = 12.26), location (p = 0.00; OR = 5.05) and ingredients (p = 0.00; OR = 2.9), whereas in the low transmission region are types (p = 0.01; OR = 15.15), color (p = 0.00; OR = 4.29) and ingredients (p = 0.00; OR = 4.05). It can be concluded that abandoned containers have a great chance to become habitat for Aedes sp. larvae which can contribute to the transmission of dengue virus. There is a need for community participation, which is supported by community leaders and cross-sectoral officers, to properly manage outdoors and neglected containers so they do not have the chance to become larval habitats. Keywords: Dengue, larvae, habitat, Aedes sp. ABSTRAK Siklus penularan virus dengue dipengaruhi oleh interaksi antara manusia, virus dengue, vektor (nyamuk), dan lingkungan. Kepadatan dari larva Aedes sp. dapat mempengaruhi status transmisi kasus DBD. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dengan kepadatan larva Aedes sp. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi potong lintang, dengan total sampel sebanyak 280 rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan untuk wilayah dengan transmisi DBD tinggi, indeks entomologi berturut-turut menunjukkan House Indeks (HI), Container Index (CI), Bretau Index (BI) dan Density Figure(DF) adalah 36%, 20%, 54 dengan kategori density figure pada risiko penularan tinggi. Pada wilayah dengan transmisi DBD rendah menunjukkan angka 19%, 8%, 24, dan density figure pada risiko penularan sedang. Faktor-faktor karakteristik dari kontainer pada wilayah dengan status transmisi tinggi yang dapat mempengaruhi keberadaan larva Aedes sp. adalah jenis (p=0,00; OR=12,26), letak (p=0,00; OR=5,05) dan bahan (p=0,00; OR=2,9), sedangkan pada wilayah transmisi rendah adalah jenis (p=0,01; OR=15,15), warna (p=0,00; OR=4,29) dan bahan (p=0,00; OR=4,05). Dapat disimpulkan bahwa kontainer yang terbengkalai berpeluang besar menjadi habitat larva Aedes sp. yang dapat berkontribusi terjadinya transmisi virus dengue. Diperlukan adanya peran serta masyarakat, yang didukung oleh tokoh masyarakat dan petugas lintas sektor, untuk mengelola dengan baik kontainer-kontainer di luar rumah dan terbengkalai agar tidak berpeluang menjadi habitat larva. Kata kunci: Dengue, larva, habitat, Aedes sp
Ina Kusrini, Muhamad Samsudin, Muhamad Arif Musoddaq, Sidiq Purwoko, Basuki Budiman
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 75-84; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.173.75-84

Abstract:
Iodine is the micronutrient needed for synthesis of thyroid hormones. Excess or lack of iodine will cause disruption of thyroid function. The results of previous studies indicate that there is an increased prevalence of excess iodine in school-age children. The purpose of this study was to determine the determinants of excess iodine in school-age children aged 6 to 12 years in Demak, Grobogan, and Dharmasraya Regencies. The number of sample of school-age children was 750 in three district, with the inclusion criteria for length of stay in the study area was >6 months, and the exclusion criteria was they did not have severe illness. The status of iodine was measured through iodine content in urine using spectrophotometric methods. To determine iodine intake, iodine levels were measured in salt and in water, and the interview used food frequency questionaire (FFQ). The results showed that the iodine status of respondents in Dharmasraya Regency was at the optimal category (EIU: 225 µg / l, whereas in Demak and Grobogan districts the iodine were at excess category (EIU: 446 /l and 453µg / l) with the intake source came from drinking water and noodles (more than 10 ppb). It can be concluded that the determinants of excess iodine in three locations were iodine levels in drinking water, and noodles with consumption >3 times per week. It is recommended that the iodized salt program in the three research locations needs to be reconsidered. Keywords: Determinant, iodine, excess ABSTRAK Iodium adalah mikronutrien yang diperlukan untuk sintesa hormon tiroid. Kelebihan maupun kekurangan iodium akan menyebabkan gangguan fungsi tiroid. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi ekses iodium pada anak sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan ekses iodium pada anak usia sekolah 6 sampai dengan 12 tahun di Kabupaten Demak, Grobogan dan Dharmasraya. Jumlah sampel anak sekolah sebanyak 750 anak usia sekolah di tiga kabupaten tersebut, dengan kriteria inklusi lama tinggal di wilayah penelitian lebih atau sama dengan 6 bulan, dan kriteria ekslusi tidak memiliki sakit berat. Status iodium diukur melalui kadar iodium dalam urin menggunakan metode spektrofotometri. Untuk mengetahui intake iodium, dilakukan pengukuran kadar iodium dalam garam dan dalam air dan wawancara menggunakann food frequency questionaire (FFQ). Hasil menunjukkan bahwa status iodium responden di Kabupaten Dharmasraya dalam kategori optimal (EIU: 225 µg/l, sedangkan di Kabupaten Demak dan Grobogan dalam kategori ekses iodium (EIU: 446 µg/l dan 453 µg/l) dengan sumber intake berasal dari air minum dan mie (lebih dari 10 ppb). Dapat disimpulkan bahwa determinan ekses iodium di tiga lokasi adalah kadar iodium dalam air minum dan mie dengan konsumsi lebih dari 3 kali per minggu. Disarankan pemberian garam beriodium di keitga lokasi penelitian perlu dipertimbangkan kembali. Kata kunci: Determinan, ekses, iodium
Eva Laelasari, Dewi Kristanti, Basuki Rahmat
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 85-95; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.150.85-95

Abstract:
The use of glue in shoe manufactures may cause health impacts among workers due to hazardous chemical exposure in glue such as benzene and toluene. The government has issued policies to prevent the workers from occupational illness by reducing the hazardous chemical exposure in the workplace. This study was conducted to find out health impacts due to benzenae and toluene exposure from the use of glue in the workplace of shoe manufactures in Ciomas, Bogor in 2017. Design of the study was cross sectional with variables of benzene and toluene content in indoor workspace, consentration of urinary S-PMA, and perceived health symptoms of workers. Samples of 34 respondents were obtained from 5 selected workshop. Analysis of the data was carried out descriptively. It was found that the content of benzene and toluene in glue are 0.1% and 55% respectively, indoor benzene vapor was below detection limit of the instrument (undetected), and concentration of urinary S-PMA was 0.24 µg/g creatinine. There was no benzene exposure to the workers in this study. High percentage of worker risk behavior were smoking, the use of PPE, and hand washing. Perceived symptoms of workers (more than 60%) were fatigue, headache, tingling. It is necessary to improve workplace with healthier and more conducive environment, and educate workers to use the PPE. Keywords: Shoe glue, benzene, toluene, exposure, small scale shoe manufacture ABSTRAK Penggunaan lem pada industri sepatu kemungkinan memberikan dampak kesehatan terhadap pekerja karena lem biasanya mengandung bahan berbahaya, seperti benzena dan toluena. Pemerintah sudah berupaya membuat kebijakan untuk mengendalikan penyakit akibat kerja, salah satunya adalah mengurangi pajanan bahan kimia berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kesehatan akibat pajanan benzena dan toluena yang berasal dari penggunaan lem di tempat kerja di sentra industri sepatu Ciomas, Bogor pada tahun 2017. Desain penelitian adalah potong lintang dengan variabel kandungan benzena dan toluena di udara ruang kerja, kandungan S-PMA dalam urin, dan gangguan kesehatan yang dialami oleh pekerja. Jumlah sampel pekerja sebanyak 34 orang yang berasal dari 5 bengkel kerja. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar benzena dan toluena dalam lem masing-masing adalah 0,1% dan 55%, kadar uap benzena di udara ruang kerja berada di bawah limit deteksi alat (tidak terdeteksi), dan rerata kandungan S-PMA dalam urin adalah 0,24 µg/g kreatinin. Tidak terjadi pajanan benzena terhadap pekerja industri sepatu di lokasi penelitian. Perilaku berisiko pekerja dengan persentase cukup tinggi adalah merokok, penggunaan APD, dan cuci tangan. Keluhan/gangguan kesehatan yang dirasakan (lebih dari 60%) adalah cepat lelah, sakit kepala, kesemutan. Perlu perbaikan lingkungan kerja yang lebih sehat dan nyaman, dan mengedukasi pekerja untuk menggunakan APD. Kata kunci: Lem sepatu, benzena, toluena, pajanan, industri sepatu rumahan
Halimatussa’Diah Halimatussa’Diah, Zahra Zahra, Athena Anwar
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 96-104; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.377.96-104

Abstract:
Gastroenteritis is an inflammation of the mucous membranes of the digestive tract which is characterized by diarrhea or vomiting. One of the causes is the consumption of unhygienic food. This study aims to determine the incidence of gastroenteritis in elementary students in Beji Timur Village, Depok City and its determinant factors. The study design was cross-sectional. The data collected included the incidence of gastroenteritis obtained by interviewing 120 students from two elementary schools, the content of Salmonella sp. bacteria in 46 types of school snacks (PJAS), students' hygienic behavior and PJAS handlers / sellers. The results showed that 11.5% of students experienced gastroenteritis and 4% of PJAS contained Salmonella sp.. Bivariate analysis of several risk factor variables showed contamination of Salmonella sp bacteria in snack foods had the highest risk of gastroenteritis in elementary students (OR 7.86 ; 95% CI: 2.07–29.86). It is recommended to improve supervision of PJAS and its handlers / sellers, and improve the public health promotion efforts, especially the habit of washing hands using soap and running water before consuming food or after defecation. Keywords : Gastroenteritis, elementary students,kids school snack ABSTRAK Gastroenteritis adalah radang selaput lendir saluran pencernaan yang ditandai dengan diare atau muntah. Salah satu penyebabnya adalah konsumsi pangan yang tidak higienis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian gastroenteritis pada siswa sekolah dasar (SD) di Kelurahan Beji Timur, Kota Depok dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Disain penelitian adalah cross-sectional. Data yang dikumpulkan meliputi kejadian gastroenteritis yang diperoleh dengan wawancara terhadap 120 siswa dari dua SD, kandungan bakteri Salmonella sp dalam 46 jenis pangan jajanan anak sekolah (PJAS), perilaku higienis siswa maupun penjamah/penjual PJAS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11,5% siswa yang mengalami kejadian gastroenteritis, dan 4% PJAS mengandung Salmonella sp. Analisis bivariat terhadap beberapa variabel faktor risiko menunjukkan kontaminasi bakteri Salmonella sp dalam makanan jajanan memiliki risiko terhadap kejadian gastroenteritis pada siswa SD (OR 7,86 ; 95% CI: 2,07–29,86). Disarankan untuk meningkatkan pengawasan terhadap PJAS maupun penjamah/ penjualnya, dan meningkatkan upaya promosi kesehatan siswa khususnya kebiasaan cuci tangan memakai sabun dan air mengalir sebelum mengkonsumsi makanan maupun sesudah BAB. Kata kunci : Gastroenteritis, siswa SD, pangan jajanan anak sekolah
Ika Dharmayanti, Dwi Hapsari Tjandrarini, Puti Sari Hidayangsih, Olwin Nainggolan
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 64-74; https://doi.org/10.22435/jek.17.2.149.64-74

Abstract:
Conditions of housing and residential environment are one of the factors that cause mental emotional disorder. This is related to the quality of residential environment and socio-economic conditions of the community. Residential environment derived from variabels of healthy housing, overcrowding, and residence area. Social economy was a combination of economic quintile, housing ownership, subsidized rice for the poor programmed and healthcare for the poor. Family history of mental disorders and the search for medical treatment was also been studied. The aim of this analysis was to find the relationship between residential environment and economic status as well as family history of mental emotional condition and the pursuit for medical treatment among population aged 15 years old and over. To measure mental emotional was Self Reporting Questioner (SRQ) consisted of 20 items in Riskesdas 2013 instrument. The results showed the relationship between residential environment and economic status of individual mental health. A history of mental disorders in the family also contributes to improving mental health disorders. Housing environment is a dominant factor associated with mental disorders. People who has a mental illness family member has a risk of 4,5 times experiencing mental disorders. Therefore, government support was needed to provide a decent, affordable and healthy housing for the poor. Keywords: Residential, economic status, mental emotional ABSTRAK Kondisi perumahan dan lingkungan permukiman merupakan salah satu faktor yang menyebabkan gangguan kesehatan mental emosional. Hal ini terkait dengan kualitas lingkungan permukiman dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kondisi permukiman meliputi variabel rumah sehat, kepadatan hunian dan wilayah tempat tinggal. Sosial ekonomi merupakan kombinasi dari indeks kepemilikan, kepemilikan rumah, pemberian beras miskin dan fasilitas kesehatan gratis. Selain itu, riwayat keluarga yang memiliki gangguan jiwa dan upaya pencarian pengobatan untuk mengobati gangguan kesehatan mental yang diderita juga dianalisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kondisi lingkungan permukiman dan status sosial ekonomi serta riwayat keluarga dengan kesehatan mental emosional, dan upaya pencarian pengobatan gangguan mental penduduk usia 15 tahun ke atas Pengukuran kesehatan mental menggunakan Self Reporting Questioner (SRQ) yang berisi 20 butir pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner Riskesdas 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kondisi lingkungan permukiman dan status sosial ekonomi terhadap kesehatan mental individu. Lingkungan rumah merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan gangguan kesehatan mental. Seseorang yang tinggal bersama anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa berat mempunyai risiko 4,5 kali mengalami gangguan mental emosional. Oleh karena itu, perlu dukungan pemerintah untuk menyediakan permukiman yang layak, terjangkau dan sehat bagi masyarakat menengah ke bawah. Kata kunci: Permukiman, status ekonomi, mental emosional
Jek Managerxot, Muhammad Arif Musoddaq, Ina Kusrini
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 73-81; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.359.73-81

Abstract:
Salah satu faktor mendasar penyebab munculnya Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) adalahiodium lingkungan yang rendah. Penelitian-penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa permasahanGAKI dijumpai di daerah yang dinyatakan sebagai daerah miskin iodium, tetapi tanpa data hasilpengukuran. Di Kabupaten Magelang, terdapat daerah replete, yaitu daerah yang mempunyai riwayatpermasalahan GAKI di masa lalu, dan telah dilakukan intervensi, sehingga diharapkan permasalahantersebut telah dapat diatasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kadar iodium lingkungan didaerah replete dan non-replete di Kabupaten Magelang.Disain penelitian adalah potong lintang denganvariabel kadar iodium dalam sampel air permukaan dan air tanah. Jumlah sampel adalah 71 berasal dari 71titik sampling, rincian 17 air permukaan dan 54 air. Analisis kandungan iodium dalam sampel air dilakukandengan metode Sandell-Kolthoff, yang dilakukan di Laboratorium Balai Litbang GAKI Magelang. Hasilmenunjukkan Kadar iodium pada air permukaan berada dalam rentang yang cukup lebar, yaitu 0 sampai22µg/Ldi daerah replete 0 sampai dengan 115µg/Ldi daerah non-replete. Kadar iodium dalam air tanah didaerah replete berkisar antara 0 sampai 77µg/L, di daerah non-replete antara 3 sampai 48µg/L. Terdapatperbedaan kadar iodium yang bermakna antara sampel air yang berasal dari daerah replete dengan nonreplete(P
Jek Managerxot, Roy Nusa, Nunik Kusumawardani
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 112-120; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.363.112-120

Abstract:
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator multi dimensi penting untuk menilaikesejahteraan masyarakat secara lebih komprehensif (kesehatan, pendidikan dan standar hidup yang layak).Secara khusus untuk bidang kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, KementerianKesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)tahun 2008 dan tahun 2014 yang meliputi 30 indikator kesehatan terpilih. Penelitian ini dilakukan dengantujuan untuk mendapatkan metode alternatif (metode geometrik) dalam menghitung IPKM berdasarkanlaporan IPKM tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Badan Litbang Kesehatan dan data IPM tahun 2013 yangdikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan nilaikorelasi dan koefisien determinasi antara nilai IPKM tahun 2014 yang dihitung dengan rata-rata aritmatikdan yang dihitung dengan rata-rata geometrik terhadap nilai IPM tahun 2013. Hasil penelitianmenunjukkan adanya perbedaan hasil IPKM antara perhitungan rata-rata geometrik dan perhitungan ratarata aritmatik. Perhitungan rata-rata geometrik menunjukkan korelasi yang lebih tinggi antara nilai IPKMdan IPM dibandingkan dengan perhitungan rata-rata aritmatik. Selain itu perhitungan rata-rata geometrikdalam formulasi IPKM memiliki karakteristik yang stabil terhadap nilai ekstrim pada komponenindikatornya. Hasil perhitungan dengan rata-rata geometrik berimplikasi untuk memperoleh IPKM yangtinggi harus mempertimbangkan semua indikator yang dibangun dengan cara yang lebih setara.
Jek Managerxot, Sugiarto Sugiarto, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Lukman Hakim
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 104-111; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.362.104-111

Abstract:
Dalam upaya melakukan eliminasi malaria, pemerintah berusaha mengendalikan vektor penyakit tersebutmelalui pembagian kelambu berinsektisida. Dalam proses penggunaannya, pengguna kelambu jenis iniperlu melakukan pemeliharaan untuk menjamin efektifitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan maksuduntuk menganalisis efektifitas kelambu berinsektisida terhadap nyamuk Anopheles sp. dan mengetahuipengetahuan, sikap, perilaku masyarakat terhadap penggunaan dan pemeliharaan kelambu tersebut.Penelitian dilakukan di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utaradengan desain cross sectional. Data efektivitas kelambu diperoleh dengan cara melakukan Bioassay ConeTest (uji efikasi) terhadap kelambu berinsektisida dan yang tidak berinsektisida di rumah tangga yang telahmenggunakan kelambu lebih dari 6 bulan. Data PSP masyarakat diperoleh dengan cara wawancaraterhadap responden terpilih dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan dan analisis data dilakukan secaraunivariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelambu berinsektisida yang paling efektifadalah kelambu telah digunakan selama 6 bulan. Kelambu yang telah digunakan 12-24 bulan sudah mulaitidak efektif. Seluruh responden (100%) setuju dengan pembagian kelambu berinsektisida, tetapi hanya87% yang menyatakan bersedia menggunakannya. Seluruh responden (100%) melakukan pemasangan kelambu dengan benar, dan belum pernah mencuci kelambu yang dibagikan. Dapat disimpulkan bahwakelambu berinsektisida yang telah digunakan lebih dari 12 bulan sudah mulai tidak efektif dalammengendalikan vektor nyamuk Anopheles sp. Hampir seluruh responden tidak merawat/melakukanpencucian kelambu berinsektisida yang dibagikan. Dalam rangka eliminasi malaria di Desa SungaiNyamuk perlu adanya peningkatan partisipasi aktif masyarakat (perawatan kelambu) dalam upayapengendalian vektor (Anopheles sp.).
Eva Laelasari, Athena Anwar, Rachmalina Soerachman
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 16, pp 57-72; https://doi.org/10.22435/jek.16.2.348.57-72

Abstract:
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi beberapa penyakit (underweight, stunting, hipertensi, TB, AIDS, dll). Dalam rangka mengatasi hal tersebut, pemerintah melakukan penguatan upaya kesehatan dasar yang salah satunya dilakukan melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). Penelitian ini merupakan studi evaluatif yang bertujuan untuk menilai kesiapan provinsi dalam melaksanakan PIS-PK tahun 2016 di beberapa kabupaten yang telah melakukan pendataan lebih dari 50% (OKI dan Jeneponto), kurang dari 50% (Muara Enim, Gowa, Serang), dan belum melakukan pendataan (Lebak). Metode evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap kepala dinas dan penanggung jawab PIS-PK dinas kesehatan kabupaten/kota, dan diskusi kelompok dengan kepala dan penanggung jawab PIS-PK di puskesmas. Hasil studi menunjukkan bahwa di seluruh lokasi yang telah maupun belum melakukan pendataan, telah mempunyai perencanaan SDM, anggaran, sarana dan prasarana. Beberapa lokasi telah melakukan pendataan meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Salah satu penyebab belum dilakukannya pendataan di kabupaten Lebak, karena adanya kendala anggaran. Dukungan lintas sektor dalam pelaksanaan PIS-PK di kabupaten yang telah melakukan pendataan lebih dari 50% maupun kurang dari 50% cukup baik. Dukungan lintas sektor di kabupaten yang belum melakukan pendataan, belum maksimal. Dapat disimpulkan bahwa meskipun ditemui kendala, PIS-PK dapat tetap berjalan. Keterlibatan lintas sektor sangat penting dalam menggerakkan aparat pemerintahan untuk kelancaran kegiatan pendataan PIS-PK.
, Mara Ipa, Aryo Ginanjar, Yuneu Yuliasih, Endang Puji Astuti
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 31-40; https://doi.org/10.22435/jek.17.1.138.31-40

Abstract:
The filariasis mass drug administration (MDA) program is one of the strategies to eliminate lymphatic filariasis. First round coverage in Kuningan Regency was 85.4%, but only 50% of sub-districts have reached the target. The aim of this research was to determine the improvement of knowledge, attitude, and practice (KAP) of health cadres through intervention to increase the filariasis MDA coverage in Kuningan Regency. A quasi-experimental research was conducted in Cibeureum and Cibingbin Sub-District of Kuningan Regency using pretest-posttest design from May to October 2016. Selected subjects of this research were 32 health cadres who were given intervention in the form of workshop utilizing leaflets, handbooks, and video. The difference is treatment group was taught about filariasis related materials by an expert but the control group was not. Data were analyzed with paired t-test. The result showed that there was a significant difference between pre-test and post-test in terms of KAP in both groups with p-value of 0,000, but there was no difference in value between the two groups. Thus, the study concluded that training on cadres with a filariasis expert could be an effective strategy as to increase MDA coverage. Keywords: Intervention, filariasis MDA, knowledge, cadre ABSTRAK Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) merupakan salah satu strategi eliminasi filariasis di Indonesia. Hasil cakupan POMP putaran pertama di Kabupaten Kuningan mencapai 85,4% dari total target penduduk, namun hanya 50% kecamatan yang mencapainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kader setelah dilakukan intervensi dalam rangka meningkatkan cakupan pengobatan filariasis di Kabupaten Kuningan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cibeureum dan Cibingbin, Kabupaten Kuningan pada bulan Mei - Oktober tahun 2016 dengan eksperimen semu menggunakan desain pretest-posttest control group. Sampel penelitian adalah 32 kader yang diberi intervensi berupa pelatihan dengan media cetak dan video. Perbedaan antara kelompok intervensi dengan kontrol adalah bahwa kelompok intervensi diajarkan materi terkait filariasis oleh seorang ahli dan kelompok kontrol tidak diberikan pelatihan. Data dianalisis menggunakan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada skor nilai pretest-posttest pengetahuan, sikap, dan perilaku pada masing-masing kedua kelompok dengan hubungan bermakna (p-value 0,000), tetapi tidak terdapat perbedaan nilai pretest-posttest antara kelompok intervensi dan kontrol. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulannya bahwa pelatihan pada kader menggunakan media cetak dan video dengan narasumber pakar filariasis merupakan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan cakupan pengobatan POMP filariasis. Kata kunci: Intervensi, POMP, pengetahuan, kader
Puti Sari H, Khadijah Azhar, Julianty Pradono, Noor Edi W Sukoco
Jurnal Ekologi Kesehatan, Volume 17, pp 41-51; https://doi.org/10.22435/jek.17.1.139.41-51

Abstract:
Hepatitis is still a health problem in Indonesia and several efforts has been implemented to control it, such as the implementation of Community Led Total Sanitation (CLTS). The aim of this analysis was to identify the association between environment condition and sanitary behaviour with the occurrence of hepatitis in Indonesia. Data analysis using the 2013 Riskesdas data. A logistic regression analysis was chosen to elicit the relationship between sanitary behaviors and environment factors with the prevalence of hepatitis. The analyses revealed that most of respondents behaved unsanitary (97.5%). The affected respondents were those who had unsanitary behaviors (3.3%). Of the five sanitary behaviors, the most dominant behavior associated with hepatitis was hand washing with soap (Adjusted OR=1.77) and water management (Adjusted OR=1.29). Other factors are healthy homes (Adjusted OR=2.64), economic status (Adjusted OR=1.45) and living in rural area (Adjusted OR=1.39) had significant associated with hepatitis. It could be concluded handwashing and water management are the essential factors of hepatitis. It is suggested to pay more attention to behavior aspect and environmental health in order to control hepatitis, such as handwashing and proper drinking water management, provision of sanitation facilities and healthy homes especially for the rural poor by involving related sectors and community participation. Keywords: Hepatitis, unsanitary behavior, handwashing, drinking water, healthy home ABSTRAK Hepatitis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Beberapa upaya pengendalian hepatitis telah dilakukan di antaranya melalui program lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), akan tetapi belum mendapatkan hasil yang optimal. Tujuan analisis ini untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku saniter terhadap kejadian hepatitis di Indonesia. Analisis data menggunakan data Riskesdas 2013. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk melihat hubungan antara perilaku saniter dan faktor lingkungan dengan prevalensi hepatitis. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih berperilaku kurang saniter (97,5%). Mayoritas responden yang terkena hepatitis memiliki perilaku tidak saniter (3,3%). Dari lima perilaku saniter, perilaku yang paling dominan berhubungan dengan penyakit hepatitis adalah cuci tangan pakai sabun (OR=1,77) dan pengelolaan air (OR=1,29). Faktor lain yang memiliki hubungan dengan penyakit hepatitis adalah rumah sehat (OR=2,64), status ekonomi (OR=1,45) dan lokasi tempat tinggal (OR=1,39). Dapat disimpulkan bahwa perilaku cuci tangan dan pengelolaan air merupakan faktor penting terhadap penyakit hepatitis. Disarankan agar dalam upaya pengendalian hepatitis perlu memperhatikan aspek perilaku dan kesehatan lingkungan yaitu perilaku cuci tangan dan pengelolaan air minum secara baik dan benar, penyediaan fasilitas sanitasi dan rumah sehat terutama untuk penduduk miskin di perdesaan dengan melibatkan sektor terkait dan partisipasi masyarakat. Kata kunci: Hepatitis, perilaku saniter, cuci tangan, air minum, rumah sehat
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top