Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Elektronik WACANA ETNIK: 92

(searched for: journal_id:(6137107))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Yuyun Yuyun, Patriantoro Patriantoro
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 10; doi:10.25077/we.v10.i1.155

Abstract:
Peneliti memilih tindak tutur ilokusi sebagai fokus penelitian karena merupakan tuturan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Novel dipilih menjadi objek penelitian karena mengandung tuturan yang disampaikan oleh tokoh melalui dialog. Masalah yang dibahas dalam penelitian adalah bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi yang meliputi asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi dalam novel Guru Aini Karya Andrea Hirata serta implementasi dalam pembelajaran di sekolah, dengan tujuan untuk mendeskripsikan masalah tersebut. Manfaat penelitian yaitu menambah wawasan terhadap bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi dalam novel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif . Bentuk dalam penelitian ini merupakan bentuk kualitatif. Sumber data yaitu novel Guru Aini Karya Andrea Hirata dan data yang digunakan yaitu jenis tindak tutur ilokusi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi dokumenter yaitu membaca isi keseluruhan isi novel, mengidentifikasi, menandai, mengklasifikasikan dan memasukkan ke kartu data teknik menguji keabsahan data yaitu ketekunan pengamatan dan kecukupan referensial. Hasil analisis tindak tutur ilokusi dalam novel Guru Aini Karya Andrea Hirata yaitu: tindak tutur asertif meliputi menyatakan, memberitahukan, melaporkan, menjelaskan, menolak, dan mempertahankan; tindak tutur direktif meliputi meminta, memohon, mengajak, bertanya, memerintah, menyarankan; tindak tutur komisif meliputi berjanji, bernazar, bersumpah, dan ancaman; tindak tutur ekspresif meliputi meminta maaf, Berterima kasih, ucapan selamat, memuji, dan mengkritik; tindak tutur deklarasi meliputi setuju, tidak setuju, dan benar-benar salah. Berdasarkan hasil analisis, tindak tutur ilokusi direktif adalah paling dominan dalam novel Guru Aini karya Andrea Hirata . Implementasi pembelajaran dalam penelitian ini terdapat pada jenjang SMP kelas VIII semester genap pada Kompetensi Dasar pengetahuan 3.14 Menelaah struktur dan kebahasaan teks persuasi, 4.14 Menyajikan teks persuasi secara tulis dan lisan dengan memperhatikan struktur, kebahasaa, atau aspek lisan.
Tiwi Amelia Agustina, Reniwati Reniwati, Lindawati Lindawati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 10; doi:10.25077/we.v10.i1.157

Abstract:
Artikel ini mendeskripsikan bahasa yang membentuk peristiwa campur kode, mendeskripsikan satuan lingual, dan menjelaskan penyebab terjadinya campur kode pada tuturan penjual dan pembeli online shop dalam akun facebook.Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ialah teori di bidang sosiolinguistik yang berkait dengan peristiwa campur kode dan dan faktor penyebab terjadinya campur kode.Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ialah metode simak dengan teknik dasar sadap, kemudian dilanjutkan dengan teknik lanjutan catat. Dalam analisis data digunakan metode padan translasional dengan teknik dasar teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan teknik teknik hubung banding memperbedakan. Populasinya ialah seluruh tuturan campur kode pada akun facebook online shop. Sampelnya yaitu tuturan yang memperlihatkan peristiwa campur kode pada 11 akun yang berteman dengan akun milik peneliti.DarianalisisdatacampurkodepadafacebookonlineshopberbahasaMinangkabau ditemukan tiga bahasa yang membentuk peristiwa campur kode, yaitucampurkodebahasaMinangkabaudenganbahasaIndonesia,bahasaMinangkabau dengan bahasa Inggris, dan bahasa Minangkabau dengan bahasaIndonesia dan bahasa Inggris. Ujud dari campur kodeberbentuk satuan lingual kata, frasa, klausa, dan kalimat. Faktor yang menyebabkanterjadinya campur kode ialah latar belakang penutur, latar belakang kebahasaanpenutur,danfaktorkebutuhan.
Mellisa Jupitasari
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 10; doi:10.25077/we.v10.i1.156

Abstract:
This research aims to describe the etnomedicine lexicon in skin illness theraphy of Sukadana Malay.The etnomedicine lexicon in skin illness theraphy of Sukadana Malay includes lexicons of Sukadana Malay skin illness's names, lexicons of herb's names that are used to heal Sukadana Malay skin illness and lexicons of the way of healing Sukadana Malay skin illnes. This research uses a descriptive qualitative method and uses an ecolinguistic study approach to analyze the ethnomedicin lexicon in the treatment of Sukadana Malay skin disease. The source of data is the interview result from the informant ( Sukadana Malay citizen) about etnomedicine lexicon in skin illness therapy of Sukadana Malay. The result of the research gathers 22 lexicons of Sukadana Malay skin illness's names, 39 lexicons of herb's names that are used to heal Sukadana Malay skin illness and 9 lexicons of the way of healing Sukadana Malay skin illness.
Yolanda Oktaviani, Agus Syahrani, Mellisa Jupitasari
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 10; doi:10.25077/we.v10.i1.158

Abstract:
Masyarakat Bugis Wajo’ Isolek di Padang Tikar khususnya Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya masih menjaga dan melestarikan bahasa daerah. dalam hal ini penelitian ini difokuskan pada tuturan keinterogatifan bahasa Bugis Wajo’ Isolek di Padang Tikar melalui kajian fonetik akustik. Masalah dalam penelitian ini mencangkup aspek intensitas, durasi serta frekuensi bunyi pada bahasa Bugis Wajo’ isolek di Padang Tikar. Peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan menggunakan pendekatan kajian fonetik akustik sebagai alat kajian analisis. Sumber data dalam penelitian ini, peneliti ambil dari penutur asli bahasa Bugis Wajo’ Isolek di Padang Tikar. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara secara mendalam, teknik simak libat cakap, perekaman dan pencatatan dengan menggunakan alat pengumpulan data, yaitu alat perekam, komputer jinjing, alat tulis, dan handpone.Penelitian ini berhasil menghimpun 28 kalimat tuturan interogatif bahasa Bugis Wajo’ Isolek di Padang Tikar yang di tuturkan oleh 4 informan. Selain itu, hasil akhir dari pengelolah data dari penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan angka-angka dengan menggunakan aplikasi Praat sebagai alat analisis data. Data tersebut dianalisis berdasarkan ciri akustiknya, intensitas, durasi, serta frekuensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat terinventarisasi dan terdokumentasi, serta dapat menyubang literatur kebahasaan khususnya literatur bahasa daerah.
Kiki Nofrijum, Yerri Satria Putra, Eka Meigalia
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 10; doi:10.25077/we.v10.i1.154

Abstract:
Puwau (perahu tradisional) yang terdapat di Nagari Limo Koto masih digunakan sampai sekarang ini oleh masyarakatnya sebagai penunjang pekerjaannya. Termasuk juga dalam mempertahankan produksi pembuatan puwau atau yang dikenal dengan mambuek puwau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan dan mengklasifikasikan bentuk dan jenis folklor yang ada dalam prosesi mambuek puwau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode etnografi dan folklor diperoleh melalui teknik penelitian pendekatan etnografi, kemudian pra wawancara di tempat, wawancara di tempat dan teknik pengarsipan folklor. Pada prosesi mambuek puwau terdapat 7 prosesi yaitu 1) maniliak, 2) manobang, 3) mambuek karangko, 4) maelo/manuwunan puwau, 5) maondom, 6) mangombang puwau, dan 7) masang pongge.
Firdaus Zar’In, Mellisa Jupitasari
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i2.141

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menginventarisasikan kosakata nama benda bahasa Melayu Sukadana, mendeskripsikan pemahaman siswa terhadap kosakata nama benda bahasa Melayu Sukadana berdasarkan gender, dan mendeskripsikan pemahaman siswa terhadap kosakata nama benda bahasa Melayu Sukadana berdasarkan siswa berbahasa ibu bahasa Melayu Sukadana dan bukan berbahasa ibu bahasa Melayu Sukadana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang ditunjang dengan metode kuantitatif. Sumber data penelitian ini adalah 10% populasi siswa SMA Negeri 1 Sukadana, yaitu 52 siswa. Hasil penelitian ini menghimpun 150 kosakata kata benda yang terdiri atas 23 kata hewan, 25 kata tumbuhan, 21 kata makanan, 25 kata mainan/permainan, 39 kata alat rumah tangga, dan 17 kata penyakit yang diteskan kepada 52 siswa SMA Negeri 1 Sukadana. Berdasarkan hasil tes mengenai pemahaman siswa terhadap kosakata kata benda, seluruh siswa dari total sampel tersebut hanya memahami 69% kosakata nama benda bahasa Melayu Sukadana. Berdasarkan klasifikasi gender, siswa laki-laki memiliki pemahaman 71 % dan siswa perempuan 68 %. Selanjutnya, siswa berbahasa ibu bahasa Melayu Sukadana memiliki pemahaman 72% terhadap kosakata tersebut, sedangkan siswa yang bukan berbahasa ibu bahasa Melayu memiliki pemahaman sekitar 63%.
Rafika Duri, Eka Meigalia, Pramono Pramono
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i2.152

Abstract:
Artikel ini mendeskripsikan klasifikasi hasil dokumentasi cerita prosa rakyat yang ada di sekitar Surau Tuanku Mudiak Tampang, Rao, Kabupaten Pasaman. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan dengan langkah-langkah observasi, wawancara, pencatatan, transkipsi, klasifikasi, serta analisis cerita. Hasilnya, ditemukan dua puluh tiga cerita prosa rakyat di sekitar Surau Tuanku Mudik Tampang, Rao, Kabupaten Pasaman. Setelah didokumentasikan dan dilakukan pengklasifikasian semua cerita prosa rakyat dikelompokkan ke dalam legenda, lima cerita jenis legenda setempat, satu cerita legenda alam gaib, tujuh cerita legenda perseorangan, dan sepuluh cerita legenda keagamaan.
Vebria Marta Ningsih, Silvia Rosa, Muchlis Awwali
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i2.153

Abstract:
Artikel ini mengungkap perjodohan yang terdapat dalam kaba Bujang Piaman Jo Puti Payuang Lauik. Penelitian ini menggunakan analisis sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah metodologi penelitian sosiologi sastra dan teknik yang dilakukan adalah teknik kepustakaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam kaba Bujang Piaman Jo Puti Payuang Lauik versi Selasih terdapat beberapa fakta cerita yaitu pemilihan perjodohan harus dengan orang yang babangso, orang yang jelas asal usulnya dan memiliki karib kerabat di daerah yang ditempatinya, selanjutnya yaitu peran mamak yang telah digantikan oleh seorang ayah dan peranan perempuan yang tidak sesuai lagi dengan perempuan Minangkabau pada umumnya.
Dahlia Delfitri, Herry Nur Hidayat, Yerri Satria Putra
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i2.151

Abstract:
Tulisan ini merupakan deskripsi nilai-nilai didaktis yang ada dalam novel Kutub Tak Bersalju. Nilai-nilai didaktis diperoleh melalui analisis menggunakan teori struktural, yakni unsur intrinsik. Melalui unsur intrinsik tersebut dapat ditemukan nilai-nilai didaktis yang terdapat dalam novel Kutub Tak Bersalju. Hasilnya, nilai-nilai didaktis dalam novel Kutub Tak Bersalju antara lain: nilai tauhid yaitu nilai keimanan dan ketakwaan, kepedulian dan kasih sayang, kegigihan keuletan, kerja keras dan mandiri, kesabaran, cinta damai, dan menghargai prestasi.
Fahmi Fahrozi, Silvia Rosa, Pramono Pramono
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i1.137

Abstract:
Artikel ini menguraikan proses kreatif penggarapan naskah randai yang bertemakan merantau antara dua orang pengarang yang berbeda domisili. Naskah randai yang dituliskan oleh Jamaluddin Umar yang berjudul Galombang Dunie dituliskan di daerah asal (kampung) Minangkabau; sedangkan naskah randai yang ditulis Namlani yang berjudul Bujang Marantau dituliskan di daerah rantau Minangkabau (Denpasar, Bali). Penelitian ini menggunakan metode penelitian sosiologi sastra. Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis, dalam penarikan simpulan. Untuk menganalisis proses kreatif, dalam penelitian ini dilakukan analisis latar belakang sosial, proses kreatif kedua pengarang, dan faktor pendorong terjadinya proses kreatif.Hasilnya, proses kreatif kedua pengarang dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan dan latar belakang pekerjaan. Selanjutnya proses kreatif naskah randai Galombang Dunie dan naskah randai Bujang Marantau meliputi proses mendapatkan ide, proses inkubasi, proses iluminasi, proses verifikasi dan proses publikasi karya. Terakhir, faktor pendorong terjadi proses kreatif terhadap naskah randai Galombang Dunie dan naskah randai Bujang Marantau meliputi pengaruh pengalaman dalam menentukan tema dan pengaruh psikologis dalam menentukan tema dan hasil kreativitas dalam menentukan tema.
Riri Novianti, Wasana Wasana, Silvia Rosa
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i1.138

Abstract:
Artikel ini membahas gambaran lingkungan flora, fauna dan gambaran lingkungan sosial budaya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hikayat Bujang Jilatang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan keadaan lingkungan alam yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hikayat Bujang Jilatang. Metode dan teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekokritik sastra. Ekokritik sastra adalah strategi pembacaan karya sastra yang bermuatan tentang aspek lingkungan (flora, fauna, dan budaya) yang terdapat dalam karya sastra. Teknik yang digunakan adalah menentukan cerpen yang mengandung pesan moral atau kritikan terhadap lingkungan dan menganalisis data-data yang ditemukan.Hasil analisis data yang dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kumpulan cerpen Hikayat Bujang Jilatang merupakan refleksi lingkungan flora, fauna dan sosial budaya masyarakat. Pesan moral dan kritikan yang ada dalam kumpulan cerpen tersebut berperan untuk menjaga ekosistem alam. Kepercayaan rakyat yang ada dalam kumpulan cerpen Hikayat Bujang Jilatang merupakan kearifan lokal masyarakat yang hidup di desa untuk menjaga lingkungannya.
Yasin Habibillah Pratama, Lindawati Lindawati, Diah Noverita
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i1.139

Abstract:
Objek dari penelitian ini adalah awalan (prefiks) yang terdapat pada lirik pantun KIM. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk, mendeskripsikan proses, dan mendeskripsikan makna leksikal prefix yang terdapat pada lirik pantun KIM dalam Album KIM ‘Kaleng Kuncang’ Nedi Gampo. Metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dan teknik yang digunakan oleh Sudaryanto (1993). Pengumpulan data menggunakan metode simak. Menganalisis data menggunakan metode agih, dengan teknik dasar berupa Bagi Unsur Langsung (BUL), dan teknik lanjutan berupa teknik ganti. Untuk penyajian hasil analisis data, digunakan metode formal dan informal. Simpulan dari penelitian ini yaitu: (1) bentuk-bentuk afiks yang ditemukan Bentuk-bentuk afiks yang ditemukan sebanyak empat macam, yakni prefiks, sufiks, konfiks, dan kombinasi afiks. Pada prefiks ditemukan 6 macam jenis, yaitu prefiks {maN-}, prefiks {ba-}, prefiks {di-}, pefiks {sa-}, prefiks {ta-}, dan prefiks {paN-}.
Arif Rahman Hakim, Herry N Hidayat, Pramono Pramono
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i1.150

Abstract:
Penelitian ini mendeskripsikan konflik-konflik tokoh yang mengalamipertikaian kondisi sosial di dalam novel Maransi. Konflik yang dibahas dalamnovel ini berupa perkara-perkara rumah gadang, tanah pusaka, gelar pusaka, hargadiri dan peran mamak dalam membimbingkemenakan.Penelitian ini dibatasipada konflik sosial yang terjadi antara mamak dan kemenakan.Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian berupa studi kepustakaan. Data terdiri dari data primer berupa teks yang bersumber pada novel Maransi dan data sekunder berupa referensi yang berdekatan dengan objek penelitian. Teknik analisis data dengan memilah danmemilihkonflik-konflikyangmenunjukkanpermasalahanpadamamakdankemenakan.Sesuaidengantujuanpenelitian,hasilanalisisyangdihasilkanmenunjukkankonflik-konfliksosialberupapergeseranperanmamaksebagaiorang yang dituakan dalam kaum pada pengambilan keputusan mendirikan rumahgadang.HilangnyacitrakepemimpinanmamakdandatukdimasyarakatMinangkabauyanglebihmengedepankankepentinganpribadinyadanmendahulukan kepentingan keluarga dan anaknya. Terjadinya pergeseran peranmamak dalam mengendalikan harta pusaka dan sako sebagai warisan yang harusditurunkankepadakemenakan.Kurangnyaperanmamakberupabimbingankepada kemenakan. Tidak adanya komunikasi yang kondusif antara mamak dankemenakan.
Amelia Khairunissa, Pramono Pramono, Yerri Satria Putra
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i2.140

Abstract:
Meme merupakan salah satu sarana dalam menyampaikan informasi, pendapat atau opini bahkan sebagai sindiran untuk suatu kebijakan. Hadirnya meme humor menjadi cara kreatif dalam menyuarakan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan meme apa saja yang menampilkan humor berbahasa Minang di Instagram, serta bagaimana proses dan makna meme tersebut dalam perspektif analisis wacana kritis. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seratus meme humor berbahasa Minang di media sosial Instagram. Hasilnya, sebuah meme humor lahir tidak terlepas dari kaitannya dengan ‘teks’ lain seperti komentar warganet, meme lainnya yang memiliki makna serupa dan fenomena sosial yang melatarbelakangi munculnya meme tersebut. Fenomena-fenomena tersebut berangkat dari berbagai isu yang terjadi seperti isu budaya, isu politik, isu pendidikan, isu sosial serta isu ekonomi.
Dhea Pebri Yolanda, Rona Almos, Reniwati Reniwati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 9; doi:10.25077/we.v9.i1.136

Abstract:
Tulisan ini mendeskripsikan bentuk dan jenis tindak tutur direktif yang terdapat dalam Kaba Cindau Mato. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindak tutur dan teori jenis-jenis tindak tutur. Selanjutnya, metode dan teknik yang digunakan dalam analisis data ialah metode padan translasional dengan menggunakan teknik dasar pilah unsur penentu. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan lima bentuk tindak tutur direktif, yaitu tindak tutur memberi perintah, tindak tutur nasihat, tindak tutur menyarankan, tindak tutur meminta, dan tindak tutur melarang. Dari kelima bentuk tindak tutur direktif tersebut ditemukan sebanyak delapan puluh enam tuturan direktif. Jenis tindak tutur yang ditemukan dalam Kaba Cindua Mato karya Syamsuddin St. Rajo Endah adalah jenis tindak tutur langsung, tindak tutur tidak langsung, tindak tutur literal, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur tidak langsung literal.
Silvia Wandira, Lindawati Lindawati, Diah Noverita
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i2.149

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini ialah (1) mendeskripsikan bentuk leksikon rempah-rempah dalam masakan Minangkabau. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yakni (i) tahap pengumpulan data, (ii) tahap analisis data, (iii) tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan saat penyediaan data adalah metode simak dan cakap. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik pancing. Teknik lanjutannya yaitu teknik simak libat cakap, teknik cakap semuka dan teknik catat. Metode yang digunakan dalam proses analisis data adalah metode padan referensial dan metode padan translasional. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik pilah unsur penentu (PUP), dan teknik lanjutannya adalah teknik Hubung Banding Membedakan (HBB). Dalam melaporkan hasil analisis data, metode yang digunakan adalah metode penyajian formal dan informal. Dari hasil analisis data dan identifikasi yang telah dilakukan diperolehempat belas buah leksikon berupa kata dengan kategori kata benda/nomina dan sembilan belas buah leksikon berupa frasa dengan kategori frasa nomina.
Nahdatul Naumi, Yerri Satria Putra, Eka Meigalia
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i2.148

Abstract:
Tulisaninimerupakanhasilpenelitianmengenaiteka-tekiyangada di KabupatenAgam, Sumatera Barat. Pentingnyapewarisansejakdinibergunauntukmempertahankanbahasadaerahmaupunkebudayaansetempat.Tujuannya adalahmendokumentasikandanmengklasifikasikanjenisdankategoriteka-tekiyangadadiKabupatenAgam.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan folklor,dan menggunakan tiga tahap penelitian. Pertama, tahap prapenelitian ditempat, kedua tahap penelitian di tempatyang sesungguhnya dan ketiga, carapembuatan naskah folklor untuk pengarsipan. Teknik pengumpulan data dilakukandengan studi lapangan, wawancara, pengujian kebenaran data wawancara, dan alatbantuanbagi dayapengamatan.Dari 80 data yang diperoleh, diklasifikasikan berdasarkan sifat dan terdapat tujuh kategoriumum yaitu:1) persamaan dengan makhluk hidup, terdapat tiga belas data 2) persamaandengan binatang, terdapat enam belas data ditambah satu data yang dipersamakan ke dalampersamaandenganmanusia,3)persamaandenganmanusia,terdapatdelapan belasdata, ditambahsatudatayangdipersamakanke dalampersamaandenganbinatang4)persamaan dengan tanaman, terdapat empat data dan 5) persamaan dengan benda,terdapattiga puluh satu data.
Isneli Darmawati, Bahren Bahren, Rona Almos
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i2.134

Abstract:
Tulisan ini mendeskripsikanbentukdan menjelaskan makna katapenyukatyangdigunakandiPasarSumpurKudusKabupaten Sijunjung. Tahap penyedian data menggunakan wawancara metode cakap dengan teknik dasar yaitu teknik pancing, dan tekniklanjutan yaitu teknik cakap semuka, teknik catat, dan teknik rekam.Hasilnya, ditemukan sebanyak tiga puluh empat kata penyukat. Dari semua kata penyukat tersebut terdapat tiga kata kerja serta kata penyukat lainnya merupakan kata benda yang mengandung makna leksikal.
Melani Niko Sari, Wasana Wasana, Eka Meigalia
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i2.135

Abstract:
Artikel ini mendeskripsikan peribahasa Minangkabau dalam bentuk meme di Instagram. Menggunakan kajian semiotika, meme yang diperoleh terlebih dahulu dipilih dan dikelompokkan berdasarkan ragam visualnya. Dengan sampel yang diperoleh melalui tagar tertentu, diperoleh hasil ragam visual meme peribahasa Minangkabau dalam Instagram berbentuk tulisan dan meme dengan tulisan dan gambar. Meme berbentuk teks dan gambar dikelompokkan lagi dalam meme dengan gambar yang beranalogi dengan teks dan meme dengan gambar yang tidak beranalogi dengan teks. Secara keseluruhan meme peribahasa Minangkabau umumnya tidak hanya mampu untuk membangkitkan kembali nilai-nilai tradisional pada ungkapan tradisional masyarakat Minangkabau.
Ikchiana Maryantika, Diah Noverita, Rona Almos
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i2.147

Abstract:
Artikel ini mendeskripsikan bentuk-bentuk satuan lingual grafiti, makna-makna grafiti, serta fungsi grafiti berbahasa Minangkabau pada truk di Kota Padang. Teori yang digunakan dalam menganalisis data adalah teori sosiolinguistik. Pada tahap pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri dan mengumpulkan sumber-sumber data. Pada penelitian ini grafiti yang difokuskan pada grafiti berbahasa Minangkabau yang berupa tulisan saja, dilakukan dengan menggunakan metode simak dengan menggunakan simak bebas, libat, cakap. Penyajian hasil analisis data disusun berdasarkan kelompok-kelompok data, klasifikasi bentuk-bentuk kata grafiti berbahasa Minangkabau. Hasil penelitian ini disusun berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan dengan cara dirumuskan berdasarkan kata-kata biasa. Grafiti berbahasa Minangkabau di tampilkan dalam bentuk gambar, foto dan tulisan. Fungsi bahasa yang ditemukan ada 5 yaitu ; fungsi bahasa interaktif sebanyak 3 buah, fungsi bahasa perorangan sebanyak 6 buah, fungsi bahasa imajinatif sebanyak 2 buah, fungsi bahasa regulasi sebanyak 4 buah, fungsi bahasa personal sebanyak 2 buah.
Anissa Ulvia, Lindawati Lindawati, Bahren Bahren
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i1.131

Abstract:
Artikel ini mendeskripsikan peribahasa Minangkabau yang mengandung leksikon peralatan dapur tradisional. Leksikon peralatan dapur diperoleh melalui metode yang digunakan saat penyediaan data leksikon adalah metode simak, yaitu dilakukan dengan menyimak penggunan bahasa oleh informan dalam wawancara, Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap. Sementara teknik lanjutannya yaitu teknik simak libat cakap. Kemudian dalam penelitian ini juga menggunakan teknik catat. Sementara itu, peribahasa diperoleh melalui buku Peribahasa Minangkabau oleh Anas Nafis. Hasil analisis menunjukkan tiga puluh empat leksikon peralatan dapur tradisional di Minangkabau, dua puluh leksikon termasuk ke dalam morfem bebas dan lima belas leksikon termasuk ke dalam frasa nominal. Makna yang ditemukan dalam penelitian mengenai peralatan dapur tradisional di Minangkabau ini adalah makna leksikal dan diperoleh tiga puluh peribahasa yang mengandung peralatan dapur tradisional.
Dewiati Dewiati, Eka Meigalia, Pramono Pramono
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i1.132

Abstract:
Artikel ini adalah hasil dokumentasi ronggeng Pasaman grup Ganto Pasaman yang ada di Kecamatan Bonjol. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan informan, observasi, dan pengamatan langsung saat pertunjukan. Selain itu data tambahan diperoleh dari buku dan hasil penelitian yang terkait dengan penelitian ini.Ronggeng grup Ganto Pasaman adalah salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang dipertunjukkan dengan cara menggabungkan keahlian berpantun dan menari dalam satu pertunjukan dan diiringi oleh musik yang dimainkan oleh sepuluh orang. Ronggeng biasanya dipertunjukkan dalam acara ulang tahun Kabupaten Pasaman, acara-acara pemberian gelar, acara perhelatan perkawinan dan lain-lain. Teks yang digunakan adalah pantun, jenis pantun yang dibawakan adalah pantun muda-mudi, isi pantun biasanya berkaitan dengan perasaan rindu, dendam, kesedihan, gurauan,pengajaran, norma-norma dan lain-lain.
Silvia Fransiska, Reniwati Reniwati, Lindawati Lindawati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i1.133

Abstract:
Artikel ini membahas nama-nama serta asal penamaan makanan berbahan baku ubi di Minangkabau. Metode yang digunakan pada penyedian data adalah metode cakap. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik pancing. Teknik lanjutannya yaitu teknik cakap semuka, teknik catat dan rekam. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan referensial. Teknik dasar yang digunakan adalah Teknik Pilah Unsur Penentu (PUP), dengan Teknik Lanjutan Teknik Hubung Banding Membedakan (HBB). Hasil analisis data menggunakan metode penyajian formal dan informal. Hasil analis diperoleh tiga puluh empat nama makanan berbahan baku ubi di Minangkabau. Asal-usul penamaannya ditemukan yaitu peniruan bunyi, sifat khas, penemu atau pembuat, tempat asal, bahan, keserupaan, dan penamaan baru
Sufi Anugrah, Rona Almos, Reniwati Reniwati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i1.145

Abstract:
Artikel ini adalah hasil penelitian klasifikasi terhadap bentuk dan makna leksikon nama-namagerak SilatPauhdiKotaPadang. Teori yang digunakan antropolinguistik. Adapun metodedanteknikpenyediaandatayang digunakan dalampenelitianiniialah metodecakapdenganteknik dasarteknikpancingdanteknik lanjutteknikcakapsemuka. Selanjutnya, metode dan teknik yang digunakan dalam analisis data ialahmetodepadantranslasionaldenganmenggunakanteknikdasarpilahunsurpenentu.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh leksikon yang berupa kata danfrasa. Leksikon gerak Silat Pauh berjumlah delapan puluh sembilan data, berupa tiga puluh lima kata yang terdiridari empat kata kompleks, tiga kata majemuk, dua puluh delapan kata tunggal, dan lima puluh empat frasa yang terdiridari dua frasa endosentrik modifikatif, tiga frasa endosentrik koordinatif, dan empat puluh sembilan frasaendosentrik atributif. Dari seluruh data yang dikumpulkan ada yang bermaknaleksikal, gramatikal, dan kontekstual dalam bidang Silat Minangkabau. Sementaradari segi makna, leksikon gerak Silat Pauh di Kota Padang dibagi atas lima kelompok, yaitu dua puluh data langkah dan pola langkah; tiga puluh dua data ragam gerak tangan; delapan belas dataragamgerak kaki; sepuluh datakuncian; dan sembilandatapolapertahanan.
Melia Roza, Pramono Pramono, Yerri Satria Putra
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 8; doi:10.25077/we.v8.i1.146

Abstract:
Tulisan ini menyajikan hasil suntingan teks pidato adat Minangkabau yang dapat terbaca oleh khalayak umum. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori filologi, dengan menggunakan pendekatan modern, yaitu menitikberatkan kajiannya pada teks sebagai suatu hasil kreativitas dari penyalin atau penulisnya. Metode yang digunakan adalah metode kritik teks, dengan penerapan edisi naskah tunggal. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian adalah: pengumpulan data, deskripsi naskah, menentukan metode, melakukan transliterasi.
Roza Saidi Naali, Rona Almos, Bahren Bahren, Herry Nur Hidayat
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i2.79

Abstract:
This article describes the meaning contained Facebook status uses Minangkabau language. Data were collected through the searching method. Each sorted word is sought by referents so that can be interpreted and classified according to their form and type.The results show besides four types of diction; diction related to scientific and popular words, diction related to conversation words, diction related to slang, and diction related to a foreign language, also found three types of meanings; conceptual meaning, connotative meaning, associative meaning.
Wita Harmaini, Khairil Anwar, Pramono Pramono
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i2.82

Abstract:
This article contains a brief description of the badantam tradition that lives in the Kampung Kandang village in Pariaman. Badantam tradition is part of a tradition that lives in the community, which is in the traditional wedding ceremony. Badantam tradition aims to raise funds from the community donations of someone who married his child.Through this description, obtained the meaning contained in this tradition badantam. The meaning of badantam tradition includes self-esteem, social control, and cooperation.
Silvia Nilmayani, Rona Almos, Reniwati Reniwati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i2.83

Abstract:
This paper describes the fisheries lexicon in Lake Diatas Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok. Also, it explains the meaning of lexicon.Methods and techniques for providing data use the SLC method, note-taking technique, and record technique. Data analysis methods and techniques use basic PUP techniques and HBB techniques. It found 50 words and 21 phrases. The description of the meaning relates to the catching equipment and its parts, supporting equipment, and catches. In general, the cultural meaning of the fisheries lexicon in Lake Diatas is prohibitions. Some of the prohibitions are "manunjuak-nunjuak", "mangarensiangi", "takopue", "ka danau di tangah ari", and "bapusa-pusa duo biduak".
Memory Hidayat, Rona Almos, Reniwati Reniwati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i2.80

Abstract:
This article describes the classification and the meaning of the lexicon that exists in gambir processing activities in Lima Puluh Kota District. The theoretical framework used is anthropolinguistics. Methods and techniques for providing data use the SLC method, note-taking technique, and record technique. Methods and data analysis techniques using PUP techniques and HBB techniques.Based on the results of the analysis found lexicon forms of words and phrases. The number of lexicon data found was 72 words and 15 phrases. Also, 34 lexicon data were subjected to morphological processes. As for the grouping of gambier processing activities in Lima Puluh Kota Regency, namely naming parts of fields, opening fields, nurseries, clearing fields, picking gambier leaves, and gambier processing terms.
Rifki Kurniawan, Silvia Rosa, Yerri Satria Putra
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i2.81

Abstract:
This article is the comparative analysis result of the film "Jangan Panggil Aku Cina" and the novel "Mengurai Rindu" through intertextual studies. The film "Jangan Panggil Aku Cina" and the novel "Mengurai Rindu" have three formulas of hypograms (1) expansion, found in conflict, character, and characterization, (2) conversion, found in the cast of Minangkabau and Chinese Ethnic figures and social status of the main character, (3 ) Modifications or changes, found in the “Mengurai Rindu” about the rejection of mamak over the future husband, and the way of the main character deals with mamak's rejection.
Irmayani Putri, Reniwati Reniwati, Bahren Bahren
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i1.74

Abstract:
This article describes the form and meaning of the sign language used by a child with a deaf mother. Data provided by referral method which are using tapping techniques. Data analyzed uses a pragmatic method with speech partners and determination of other languages. The results show that the object communicates with his mothers occurs hand gestures and body gestures. In this case, the sign language used is not the standard sign language but a habit that is formed because of the similarity with the subject.
Nia Kurnia, Silvia Rosa, Muchlis Awwali
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i1.78

Abstract:
This paper presents the ideological theme of the text Memang Jodoh. The method used is the method of suprasegmental and intertextual. This method tries to find the intertextual functions that exist in the text. This function is a code that is related to social contexts and history.The results show that social and historical texts found in the text Memang Jodoh has similarities or parallels with social and historical contexts which are mamak, kemenakan, inheritance, marriage, uang jemputan, sumando, rumah gadang and rangkiang, malakok, school during colonial era, colonialism, and military aggressions. The social and historical texts are dominated by Minangkabau culture. This dominance illustrates the exclusivity of culture.
Rina Elvia, Khairil Anwar, Eka Meigalia
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i1.76

Abstract:
This paper describes the tradition of uang japuik contained in the Mahar Cinta Gandoriah novel. Uang japuik is unique gift of a bride to a bridegroom. This tradition is still carried out even though it is difficult. Through negotiations and agreements, those problems can be overcome and continue in the next process. This uang japuik is usually given in goods, but some provide cash. Novel Mahar Cinta Gandoriah tells about the refusal of matchmaking because the uang japuik amount is too high. Also, in this novel, the role of mamak is not displayed properly.This study uses a qualitative method with structural and intertextual approach. As a result, the ideal mamak kandung must find a mate, maintaining customs, has responsibility to niece. Besides, the intertextuality of the role of mamak and pick-up money in the Mahar Cinta Gandoriah novel is seen from the title, author and work, and the issue of the role of mamak and uang japuik.
Kasmi Waldisen Manrates, Lindawati Lindawati, Eka Meigalia
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i1.75

Abstract:
This paper aims to identify the type of semantic meaning and identify the meaning contained in the dendang lullabies.The methods and techniques used in this study consist of three stages: 1) methods and techniques for providing data, the referral method and the basic techniques which are tapping techniques and advanced techniques, Simak Libat Cakap (SLC) and recording; 2) data analyzed with translational methods: Pilah Unsur Penentu (PUP) technique. The results show cognitive meaning, connotative meaning, lexical meaning, and grammatical meaning in the object. The meaning contained implies useful in society, nationalism, life spirit, mastery of things, position in society, can eliminate the maternal disease, provident and pride.
Tisa Sirefina, Khairil Anwar, Hasanuddin Hasanuddin
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 7; doi:10.25077/we.v7.i1.77

Abstract:
Novel Warisan with a Minangkabau social background that tells the story of a dispute over inheritance. In this case, the novel is analyzed by a genetic structuralism approach that analyzes the structure of the story and relates it to the social structure of the community, then reveals the author's worldview that it reflects.This study concluded that Warisan's novel by Chairul Harun reflected the worldview of the author as a member of the Minangkabau community who had changed. Changes seen in the patterns of behavior and actions of the people are no longer in line with the Minangkabau philosophy, namely Basandi Syarak Customary, Syarak Basandi Kitabullah. Changes are caused by the influence of colonialization and modernization. The world view is the collective mind, in this case the Minangkabau educated group.
Redo Ilhamsyafitra
Published: 14 November 2017
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i2.71

Abstract:
This article describes the implementation of the Batagak Urang Tuo Nagari ceremony. Batagak Urang Tuo Nagari is one of the most important ceremonies in the traditional order in the Balai Baru because traditional communities are beginning to be aware of the importance of the role of Urang Tuo Nagari in society and in other areas of Minangkabau.In Batagak Urang Tuo Nagari the ninik mamak, bundo kanduang, cadiak pandai, and anak kemenakan still retain the important elements contained in the procedures for their implementation. Keywords: Traditional Ceremony, Batagak Urang Tuo Nagari, Balai Baru
Rona Almos, Pramono Pramono, , Seswita Seswita
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i2.70

Abstract:
The extinction of regional languages is a phenomenon that needs to be examined and addressed seriously and wisely. Minangkabau language is also feared to be extinct. The Minangkabau language has undergone a change that occurs in the direction of reducing vocabulary. Classic vocabulary, for example, has been replaced by a new vocabulary and even completely disappeared.This study will specifically find out the kinds of Minangkabau classical texts originating from text edits. Data sources were obtained from the results of research on philology and folklore, namely the edits of manuscripts and folklore documentation. The Lexicon of Minangkabau classical texts in this paper are grouped into three groups, namely, nouns, verbs, and adjectives. Keywords: classical text, Minangkabau, vocabulary, manuscript
Werni Werni
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i2.73

Abstract:
This article describes words that have changed the Minangkabau language vocabulary by Old Speakers and Young Speakers in Kanagarian Gunuang Rajo and the causes of these changes.The method used consists of three stages, the provision of data, the data analysis stage, and the stage of presenting the results of data analysis. The methods and techniques used in the data provision stage are competent methods and referring methods. In the skillful method used proficient techniques, fishing techniques, note-taking techniques, and recording techniques, while the listening method was used tapping technique, then continued with several techniques, namely SLC technique and SBLC technique. In data analysis used referential and translational matching methods with basic techniques, namely PUP techniques. The follow-up technique is the HBB technique.The results of data analysis and classification found two forms of changes in vocabulary usage in Kanagarian Gunuang Rajo, namely 1) Words that are lost or not used anymore caused by internal and external factors. Internal factors, namely: homonymic conflict. External factors, namely: social aspects, age, education and foreign languages, 2) The emergence of new vocabulary found only in the form of new words formed from outside Kanagarian Gunuang Rajo.Keywords: Change, vocabulary, factors, old speakers, speakers
Vinni Annisa Putri
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i2.72

Abstract:
This article is a description of Batimbang Salah tradition in Nagari Salimpek Lembah Gumanti, Solok Regency. Batimbang Salah is a customary law procession carried out if there are people breaking adat. The aim is to provide punishment and provide a deterrent effect to the Salimpek community.The Batimbang Salah tradition is part of the application of customary law in the Minangkabau region, especially for the Salimpek community. This tradition is one form of tradition that is important to maintain. This Batimbang Salah tradition is still relevant to maintain its existence in the life of the Minangkabau people today.Keywords: batimbang salah, customary law, Minangkabau, Salimpek
Chesil Rulianty, Lindawati Lindawati, Bahren Bahren, Herry Nur Hidayat
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i2.69

Abstract:
This article describes the use of metaphoric words of T-shirt design produced by the Kapuyuak and Konco Clothing stores. T-shirts in both stores contain many metaphors about the daily life of Minangkabau people. This study discusses metaphorical forms and functions in the product's design of those two shops. The theory used is the theory of the metaphor form proposed by Stephen Ullman and the theory of functions by Geoffrey Leech.The results show metaphorical forms in the T-shirts design produced by the Kapuyuak and Konco Clothing stores, which are 6 anthropomorphic metaphors, 4 animal metaphors, 7 metaphors from concrete to abstract, and 3 synaesthetic metaphors. Whereas, the functions found are 4 informational functions, 4 expressive functions, 1 directive function, 1 fatigue function, and 10 aesthetic functions.Keywords: metaphor, shirt design, metaphorical form, metaphorical function
Ilham Maulana Priyadi
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i1.68

Abstract:
This article describes batarewai procession. Batarewai is a tradition that involves datuak and newly married grooms to parade around the village.Data on this research is obtained through observation, interview, and data testing techniques. Additional data is obtained from books, results of previous studies, and other sources related to this study.There are three stages of the batarewai procession (1) manjapuik datuak (2) kaliliang kampuang (3) naik ka balai adat. The purpose of the batarewai was explained, to introduce the newly married bride and through the nagari discussion.
Haris Septian
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i1.64

Abstract:
This article describes the motives of Minangkabau people to merantau in kaba. Through intrinsic analysis, the analysis of kaba was continued using the socio-literary approach based on the sociology of the Minangkabau communityThe motive of merantau in kaba are (1) cultural factors, (2) economic factors, (3) deepening knowledge, (4) social factors, and (5) accompanying the husband. The professionals involved in the majority are trading. The area that is the destination of nomads is cities with a high level of the trade such as the City of Bukittinggi, the City of Padang, and the City of Medan.
Sandra Mulyana Rahmat
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i1.66

Abstract:
This paper describes the meaning of the eatery names in Bukittinggi. Data provide with simak method. The basic technique is sadap and the advanced technique is simak libat cakap technique and simak bebas libat cakap technique continued with an interview. Data were analyzed with padan technique.The results show that the names of eatery in the Bukittinggi have different meanings, namely based on the background of owner origin, the unique characteristic, similarity, and an abbreviation. The use of these meanings can be classified in the form of lexical and referential meanings.
Misnawati Misnawati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i1.65

Abstract:
This article explains the types of greeting words used by Minangkabau people in Ujuang Batuang and how the words are used. The basic technique used in this study is tapping technique, while the advanced technique used in this study is the simak libat cakap (SLC) technique and simak bebas libat cakap (SBLC) technique, continued with note technique.The results found three categories of greeting words used by the Ujuang Batuang community, namely: (1) general greeting words, (2) adat greeting words, and (3) religious greeting words.
Sucy Kurnia Wati
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 6; doi:10.25077/we.v6.i1.67

Abstract:
This paper aims to analyze and describe the field of meaning of the word “tajatuah”. Data are analyzed using the matching method and the method used.It can be concluded that the words that include the field of meaning of the word “tajatuah” are “tumbang, tagolek, tarambau, taguliang, taserak, tajungkek, tadorong, talapeh, tasungkua, rabah, balambin, taampeh, taambua, badabuak, taduduak, tasanduang, tatungkai, tatunggik , tasialia, tajilapak, tapaleset, tagalincia, tajirangkang, tataruang, tatilantang, tagurajai, tatungkuik, luruah, roboh, rontok, runtuah, tabantiang, tabuang, tacampak, lareh” and “taambuang”. It can be concluded, the word “tajatuah” includes the types of lexical meanings, contextual meanings, associative meanings, idiomatic meanings, and proverbs. Based on the classification of the field of tajatuah there are (1) the basic meaning and additional meaning, (2) the value of taste, (3) the prevalence of usage and (4) the distribution.
Ding Choo Ming
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 5, pp 37-54; doi:10.25077/we.v5.i1.58

Abstract:
The interest in reading printed books has tapered off in this digital age as shownby reports of continual loss from many book publishers over the years. What todo to whet reading habits, especially among the young? What are the optionsin store in book publishing? What can publishing experts predict? What can wesay how to whet reading habit? We know that without reader, more publisherswill wind up their business. Thus, new ways and outlets have to search.Though Malay hikayat are considered important, they are not interesting. Tomake them interesting, relevant and acceptable to young readers, publishersmust recognize the twin purposes of instruction and delight that have longbeen accepted as the primary goals of books for children and the fact that theyare important and form a distinctive category of readers with separate needsand interests. Only by making the books interesting, relevant and acceptableto them, Malay hikayat can hope to live on. Though physically weak, they arespiritually, emotionally and imaginatively strong. Stories about animals, fantasyand legends are popular with them. They love the illustrated books, cartoons,comics, movies and others on Pak Pandir, Pak Belalang, Singapura DilanggarTodak, Puteri Gunung Ledang, Hang Tuah dan Hang Jebat. These stories arealso among the  nest examples of moral tales that encourage them to focus onself-improvement like Aesop fables, stories from Grimn’s brothers. This meansthat integration of visual and verbal elements has remained a signi cant featureto attract children. In this paper, we argue that publishers must adapt storiesfrom Malay classical literature to illustrated books, movies, comics, movies,  lmsand e-books. Linking the best visual and verbal elements in these publicationsis the way forward to teach literacy, history and moral to young readers.
Azwar Azwar
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 5, pp 1-12; doi:10.25077/we.v5.i1.55

Abstract:
Indonesia sebagai negara yang memiliki kearifan lokal dan nilai-nilai luhur bangsasepantasnya diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu cara untuk mewariskannyaadalah dengan mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalam manuskrip kuno.Salah satu manfaat mempelajari manuskrip kuno adalah memetik kearifan danperbandingan antara apa yang telah terjadi di masa lalu dan kenyataan hidup yangdihadapi pada saat ini. Namun sayangnya, karena manuskrip kuno itu adalah artefakbudaya yang langka dan kondisinya yang sudah sangat tua, maka harus ada upaya untukmengalihmediakannya ke dalam bentuk lain, seperti digitalisasi. Karena digitalisasihanya sebatas menyelamatkan kandungan manuskrip kuno itu, juga harus ada usahamengalihmediakanya ke dalam bentuk yang kreatif seperti buku, komik, kartun dan lm agar kandungan manuskrip kuno itu bisa diakses oleh masyarakat banyak.Mengalihmediakan dengan media kreatif kontemporer itu tidak hanya menyelematkannilai-nilai yang dikandungnya, ternyata juga bisa mengembangkan ekonomi kreatif.Namun sayangnya tidak semua orang sepakat dengan mengalihmediakan manuskripkuno sebagai sumber inspirasi untuk pengembangan ekonomi kreatif. Sebagianpihak berpendapat bahwa menarik kebudayaan tinggi (manuskrip kuno) ke ranahindustri kreatif akan mendegradasi nilai-nilai kebudayaan tinggi itu. Pendapat inisetidaknya didengungkan oleh Theodore W Adorno dan Max Horkheimer denganmenggagas Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Pendapat lain menyatakan bahwa menarikkebudayaan tinggi ke ranah industri adalah usaha melanggenggakan kebudayaanitu sendiri. Pendapat ini setidaknya dipegang teguh oleh Herbert J Gans, pengamatindustri kebudayaan dari Amerika. Makalah ini bermaksud untuk memaparkansecara mendalam, persoalan apa sebenarnya yang terjadi terhadap manuskripkuno ketika dijadikan sumber inspirasi untuk pengembangan ekonomi kreatif.
Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 5, pp 13-24; doi:10.25077/we.v5.i1.56

Abstract:
Di Malaysia, genre kepustakaan ilmu tradisional Melayu secara relatifnyaboleh dikatakan baharu, selepas ia diperkenalkan oleh Harun Mat Piahpada dekad terakhir kurun ke-20. Genre yang diguna pakai dalam menelaahbidang kesusasteraan tradisional ini mempertegaskan tentang konsep ilmuorang Melayu yang terkandung di dalam naskhah-naskhah mereka, sebagaisuatu korpus karya yang bersifat ilmu pengetahuan dan juga pedoman(treatise) yang mengandungi kepercayaan dalam konteks pengamalanilmu-ilmu tersebut. Salah satu cabang karya kepustakaan ilmu tradisionalyang dirujuk adalah ilmu yang berkait dengan penggunaan senjata apiatau dinamakan sebagai ilmu bedil. Kalau hendak dibandingkan dengannaskhah-naskhah ilmu yang lain, setakat ini naskhah ilmu bedil masihterlalu kecil liputannya. Justeru, kertas kerja ini akan memperkatakanbeberapa hal berkenaan naskhah ilmu bedil Melayu dan potensinyadalam memperkayakan konsep dan konteks kepustakaan ilmu tradisional.
Hermansyah Hermansyah
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Volume 5, pp 25-36; doi:10.25077/we.v5.i1.57

Abstract:
Tahun 2004 menjadi titik balik Aceh berbenah dan bangkit dari keterpurukan.Pasca bencana alam (gempa-tsunami) dan bencana kemanusiaan (kon ik)menuntun adanya proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan olehPemerintah Daerah, Indonesia dan pihak asing (luar negeri) dalam berbagai bidangturut menumbuhkan perekonomian dan sosial masyarakat Aceh dengan pesat.Proses itu tidak hanya fokus di infrastruktur, akan tetapi juga di bidang sosialkeagamaan dan cagar budaya, serta mempengaruhi pola pikir dan cara pandanggenerasi sekarang.Sebagai daerah kaya potensi alam dan mewariskan nilai sejarah dan budayamasa lampau, Aceh bergulir dalam beragam cuaca politik dan kebijakan, mulaidari periode kesultanan, kolonial, hingga kemerdekaan Indonesia. Pergolakan danpeperangan panjang juga menghiasi tiga periode tersebut di Aceh, baik pertikaianinternal, perang saudara, maupun kon ik vertikal dan horizontal. Akibatnya,cagar budaya dan kearifan masyarakat terkubur oleh bencana kemanusia tersebut,terlebih “kekayaan alam dan kearifan” musnah saat bencana alam terbesar terjadidi abad ke-21.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top