Refine Search

New Search

Results in Journal Damianus Journal of Medicine: 31

(searched for: journal_id:(5338831))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Giovani Indah G.P, Ricky Yue, Yunisa Astiarani
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 133-140; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1465

Abstract:
Pendahuluan: Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah memengaruhi berbagai domain kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat domain kualitas hidup yang dominan serta menganalisis keterkaitan faktor-faktor sosial dan kualitas hidup siswa dengan gangguan pendengaran.Metode: Penelitian dengan studi potong lintang menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dilakukan pada siswa Sekolah Luar Biasa B (SLB-B). Pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri diawali dengan penjelasan oleh wali kelas. Analisis deskriptif karakteristik responden dan domain kualitas hidup dilakukan pada tahap awal, analisis multivariat dengan empat domain kualitas hidup sebagai dependen variabel diaplikasikan pada tahap selanjutnya untuk melihat keterkaitan pada faktor usia, jenis kelamin, keterlibatan dalam komunitas dan status ekonomi keluarga.Hasil: Seluruh responden berjumlah 34 siswa. Domain lingkungan memiliki skor kualitas hidup tertinggi (65,5±14) dan domain interaksi sosial memiliki skor terendah (51,7±10). Domain lingkungan dan interaksi sosial berkorelasi positif dengan keterlibatan siswa pada komunitas tuli (p=0,04). Korelasi negatif ditemukan pada domain lingkungan dengan usia siswa (p=0,0001).Simpulan: Keterlibatan siswa di komunitas tuli memiliki korelasi positif dengan domain lingkungan dan interaksi sosial pada kualitas hidup siswa. Rendahnya skor interaksi sosial menunjukkan pentingnya motivasi untuk bergabung dengan komunitas yang memberikan dukungan postif dan pengembangan diri. Perhatian khusus pada siswa yang lebih tua diperlukan dalam mempersiapkan masa depan dimana persiapan mencari lapangan pekerjaan, informasi luas tentang akses kesehatan dan dukungan keluarga menjadi poin penting yang perlu ditingkatkan.
Angela Shinta Dewi Amita, Kristian Dernitra, Thendy Foraldy
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 151-160; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1781

Abstract:
Pendahuluan: Posner-Schlossman Syndrome (PSS) atau glaucomatocyclitic crisis merupakan kelainan pada mata dengan karakteristik munculnya serangan unilateral yang akut dan rekuren, diikuti dengan peningkatan tekanan intraokular (TIO) dan inflamasi ringan pada segmen mata anterior tanpa adanya faktor pencetus yang jelas. Laporan kasus ini memaparkan mengenai neuropati optik karena ethambutol (EON) bersamaan dengan munculnya episode serangan rekuren PSS. Kombinasi dari kedua komorbid sangat jarang terjadi, namun dapat memengaruhi prognosis dari kedua kondisi.Kasus: Seorang wanita 41 tahun dengan nyeri dan pandangan kabur pada mata kiri dalam 24 jam terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya uveitis anterior mata kiri dan peningkatan tekanan intraokular ODS 21,4 / 56,7 mmHg. Pasien didiagnosis sebagai PSS. 5 tahun kemudian pasien menderita EON setelah 5 bulan penggunaan etambutol dalam terapi tuberkulosis. Pemeriksaan koreksi visus terbaik saat itu 20/80 OD, 20/70 OS, dengan skotoma sekosentral yang tidak spesifik. 1 bulan setelah etambutol dihentikan, pasien mengalami episode serangan rekuren PSS dan mulai memengaruhi progresivitas dari penurunan visus kedua mata mencapai 20/400 OD, 20/200 OS. Pasien ditangani dengan injeksi metilprednisolon 500 mg intravena, setelah beberapa dosis pemberian visus mulai membaik (VODS 20/100).Simpulan: Evaluasi secara berkelanjutan oleh dokter spesialis mata dibutuhkan sebelum dan selama pemberian etambutol, yang difokuskan kepada penggalian riwayat penyakit, faktor risiko sebelumnya, danstatus oftalmologi selama pengobatan. Pemeriksaan lengkap untuk mencari etiologi pada PSS penting untuk mengurangi risiko rekurensi. Faktor psikogenik juga perlu dipertimbangkan.
Dylan Putra, Jojor Lamsihar Manalu
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 105-112; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1141

Abstract:
Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Prevalensi penderita diabetes di Indonesia meningkat dari sebelumnya 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Biji alpukat dan daun yakon mengandung senyawa flavonoid dan astringen yang diduga memilliki efek menurunkan kadar gula darah. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbandingan efektivitas ekstrak biji alpukat dan ekstrak daun yakon dalam menurunkan kadar gula darah pada tikus.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan uji tikus. Tikus dibagi ke dalam kelompok yang diberikan dosis 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 450 mg/kgBB. Kelompok tikus perlakuan diinduksi aloksan untuk meningkatkan kadar gula darah dan dilihat hasilnya 2 hari sebelum dilakukan pemberian ekstrak selama 5 hari. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Analisis statistik menggunakan uji One Way Anova.Hasil: Terdapat penurunan kadar gula darah pada tiap kelompok tikus perlakuan yang diberikan alpukat dan daun yakon. Perbandingan efektivitas antara kedua perlakuan didapatkan hasil yang tidak bermakna (p>0,05).Simpulan: Ekstrak biji alpukat sama efektifnya dengan ekstrak daun yakon dalam penurunan kadar gula darah pada tikus yang diinduksi aloksan.
Nadela Nadela, Denio Adrianus Ridjab, Dwi Jani Juliawati
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 141-150; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1185

Abstract:
Pendahuluan: Kurangnya jumlah jam tidur dan kualitas tidur yang buruk sering dialami oleh populasi umum. Keduanya, dapat berdampak banyak hal pada tubuh, salah satunya adalah kapasitas fungsional fisik. Kapasitas fungsional fisik dapat diukur menggunakan six-minute walk test (6MWT). Penelitian yang membahas mengenai 6MWT sudah banyak namun belum ada yang secara spesifik mencari hubungan antara kualitas dan kuantitas tidur dengan 6MWT pada dewasa muda dan dewasa tua.Metode: Penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif analitik yang dilakukan secara potong lintang pada dua kelompok, yaitu kelompok dewasa muda dan dewasa tua. Data diambil dari kuesioner demografi, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan pengukuran six-minute walk test secara langsung. Analisis bivariat dilakukan dengan metode uji kai kuadrat dan uji T tidak berpasangan.Hasil: Dari 40 dewasa muda, 62,5% dewasa muda mempunyai kualitas tidur buruk sedangkan dewasa tua hanya 26,7%. Sebanyak 67,5% dewasa muda mempunyai kuantitas tidur yang kurang sedangkan untuk dewasa tua hanya 48,9%. Dari 39 dewasa tua, 57,9% dewasa tua laki-laki dan 65% dewasa tua perempuan menempuh jarak normal sedangkan dewasa muda laki-laki hanya sebanyak 50% dan perempuan sebanyak 44,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kualitas tidurdengan six-minute walk test (p=0,03) namun tidak terdapat hubungan signifikan antara kuantitas tidur dengan six-minute walk test (p=0,797).Simpulan: Dewasa tua yang memiliki kualitas tidur baik dan kuantitas tidur cukup lebih banyak, menempuh jarak normal lebih banyak dan mempunyai rata-rata jarak lebih jauh dibandingkan dewasa muda. Terdapat hubungan positif antara kualitas tidur dengan six-minute walk test pada kedua kelompok. Pemeriksaan dengan menggunakan six-minute walk test perlu lebih banyak digunakan.
Yurika Elizabeth Susanti, Teguh Wahyudi
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 91-98; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1265

Abstract:
Pendahuluan: Kejang demam adalah jenis kejang tersering yang ditemukan pada pasien anak. Kejang demam dialami pada anak usia 6 bulan – 5 tahun disertai dengan peningkatan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik demografis dan klinis kejang demam pada anak. Metode: Desain penelitian adalah potong lintang, dilakukan pada 41 pasien kejang demam yang dirawat inap di Rumah Sakit Baptis Batu periode Januari 2017 – Oktober 2018. Data rekam medis dikumpulkan dan karakteristik klinik pasien digambarkan dalam bentuk tabel. Hasil: Kejang demam lebih banyak diderita oleh anak laki-laki (61%), sebagian besar berusia 1 sampai 2 tahun (46,3%). Kejang umum (97,6%) merupakan jenis kejang yang sering ditemukan dengan durasi
Gladys Jane Octavia, Surilena Surilena, Erfen Gustiawan
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 113-117; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1243

Abstract:
Pendahuluan: Adiksi online game merupakan gangguan perilaku bermain online game yang tidak terkontrol. Dampak negatif yang dapat terjadi akibat bermain online game antara lain menurunnya prestasi akademik karena motivasi dan konsentrasi belajar yang kurang. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara adiksi online game dengan motivasi belajar pada siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta Utara.Metode: Penelitian potong lintang dengan sampel berurutan dilakukan pada 1.474 siswa SMP dengan mengisi kuesioner adiksi online game Indonesia (IOGAQ) dan Kuesioner Strategi Pembelajaran Motivasi (MSLQ). Kriteria inklusi adalah semua siswa SMP kelas I sampai kelas III di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak bersedia menandatangani persetujuan sebagai responden. Uji bivariat dan regresi logistik multivariat dilakukan untuk menganalisis data.Hasil: Dari 1.474 siswa, mayoritas adalah perempuan (37.8%) dan berusia 14 tahun (52.5%). Adiksi online game banyak dialami oleh responden laki-laki (90,1%) dan perempuan (79,1%) yang kebanyakan adalah siswa SMP kelas 1 (87,3%). Adiksi online game lebih banyak dilakukan dengan frekuensi bermain online game ≥4 hari/minggu (95%), durasi bermain online game pada hari sekolah (95,5%) atau hari libur (94,2%) adalah >4 jam/hari. Jenis online game yang sering digunakan adalah role playing game (85,8%) dan jenis perangkatnya berupa perangkat portable (94,8%). Mayoritas responden memiliki motivasi belajar rendah (86,3%). Walaupun demikian, hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara adiksi online game dan motivasi belajar (p≥0.05).Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara adiksi online game dengan motivasi belajar. Meskipun begitu, adiksi online game perlu diperhatikan agar tidak mengganggu motivasi belajar siswa.
Magistra Cylvia Margaretha, Yuda Turana, Jimmy Barus, Nelly Tina Widjaja
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 125-132; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1248

Abstract:
Pendahuluan: Penurunan fungsi kognitif lansia merupakan salah satu perubahan yang terjadi dalam tubuh akibat penuaan. Faktor internal dan eksternal dapat memengaruhi terjadinya penurunan fungsi kognitif lansia. Penelitian ini berfokus pada gula darah dan tekanan darah serta karakteristik lansia sebagai faktor penurunan fungsi kognitif lansia.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain potong lintang pada 101 responden. Variabel independen penelitian ini adalah kadar gula darah, tekanan darah, dan karakteristik demografi. Variabel dependen adalah fungsi kognitif lansia. Data dianalisis secara univariat dan bivariate menggunakan metode uji kai kuadrat.Hasil: Tekanan darah memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan fungsi kognitif lansia (p0,05).Simpulan: Tekanan darah berhubungan dengan fungsi kognitif lansia. Sebaliknya, kadar gula darah tidak memiliki hubungan dengan fungsi kognitif.
Marshaly Safira Masrie, Jonas Nara Baringbing
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 161-166; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1276

Abstract:
Pendahuluan: Amniosentesis adalah suatu prosedur invasif pengambilan cairan amnion untuk mendapatkan sel-sel janin dalam rangka pemeriksaan kromosom, salah satu teknik dan prosedur diagnosis prenatal yang diperkenalkan selama 10 tahun terakhir. Hal ini penting diperkenalkan karena besarnya insiden kelainan kromosom pada bayi yaitu 90 kejadian per 10.000 kelahiran.Tujuan: Artikel ini digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk meningkatkan wawasan mengenai amniosentesis yang merupakan metode diagnostik prenatal invasif yang paling sering digunakan dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi serta membantu agar dapat melakukan pencegahan dan deteksi dini penyakit keturunan dan kelainan bawaan pada janin yang belum lahir.Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan naratif sebagai bagian dari studi literatureDiskusi: Amniosentesis memiliki tujuan lainnya seperti menilai tingkat pematangan paru janin dan mengetahui apakah terdapat infeksi pada janin. Prosedur amniosentesis biasanya dilakukan pada usia kehamilan 15 – 20 minggu. Jika prosedur amniosentesis dilakukan di bawah usia kehamilan 15 minggu, dapat meningkatkan kejadian keguguran. Analisis fosfolipid cairan amnion dapat menentukan tingkat pematangan paru janin. Cairan amnion juga dapat digunakan untuk analisis biokimia, studi molekuler, dan microarray chromosome analysis (CMA).
Gabi Vania Sally, Sandy Vitria Kurniawan, Sem Samuel Surja
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 99-104; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1193

Abstract:
Pendahuluan: Preservasi yang baik dan tepat dapat mempertahankan koleksi kultur dengan baik. Teknik preservasi subkultur berkala merupakan teknik lama yang kurang dapat menjamin sifat-sifat genetik jamur dalam jangka waktu lama. Air steril adalah salah satu metode alternatif dalam berbagai penelitian dalam menjamin sifat-sifat genetik jamur dalam waktu lama dan dapat dilakukan pada konsep laboratorium sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk melihat metode preservasi berkala dan dengan air steril. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain eksperimental laboratorium pada jamur Aspergillus sp. dan Candida albicans.Penelitian ini melihat metode subkultur berkala dan dengan air steril dalam menjaga viabilitas, tingkat kontaminasi, morfologi dan resistensi terhadap antijamur setelah enam bulan. Hasil: Jamur dapat hidup setelah dipreservasi dengan subkultur berkala tanpa kontaminasi, perubahan morfologi dan resistensi. Aspergillus sp. dan Candida albicans juga hidup setelah dipreservasi dengan air steril selama enam bulan dengan morfologi yang sama dan tanpa kontaminasi. Zona inhibisi Aspergillus sp. mengalami penurunan namun pada Candida albicans tetap sama. Simpulan: Preservasi jamur dengan subkultur berkala dan dengan air steril dapat diterapkan pada Aspergillus sp. dan Candida albicans.
Monica Regina Ngantung, Rita Dewi, Jojor Lamsihar Manalu
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 118-124; https://doi.org/10.25170/djm.v19i2.1225

Abstract:
Pendahuluan: Hiperlipidemia merupakan penyebab 18% penyakit kardiovaskular dan 56% penyakit jantung iskemik di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian pertama di seluruh dunia. Pada perannya terhadap penyakit kardiovaskuler, teh hijau dan teh hitam dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif dalam menurunkan kadar trigliserida.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo. Penelitian ini menggunakan 16 tikus Rattus norvegicus galur Sprague-Dawley yang telah dikondisikan menjadi hiperlipidemia dengan minyak babi dan kuning telur puyuh mentah dan dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok teh hijau dan teh hitam. Perlakuan dilakukan selama 17 hari dan pengecekan trigliserida dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan alat dan strip test merek Lipid Pro. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji Saphiro-Wilk, paired t-test, dan unpaired t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (uji Saphiro-Wilk p>0,05). Perlakuan teh hijau dan teh hitam selama 17 hari menyebabkan terjadinya penurunan trigliserida yang signifikan (uji paired t-test p
Safira Nurrezki, Robi Irawan
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 1-7; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1200

Abstract:
Pendahuluan: Gangguan mental emosional seperti stres, cemas, dan depresi saat ini menjadi perhatian global bagi kaum dewasa muda, khususnya pada mahasiswa kedokteran. Kurikulum pendidikan dokter dapat berkontribusi terhadap tingginya prevalensi gangguan mental emosional di kalangan mahasiswa kedokteran yang dapat meningkatkan risiko timbulnya migrain. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ) Jakarta dengan menggunakan metode proportional sampling. Stres, cemas, dan depresi dinilai menggunakan kuesioner DASS 42 sedangkan migrain dinilai menggunakan Migraine Screen Questionaire (MS-Q). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil: Sebanyak 196 mahasiswa yang terdiri dari 98 laki-laki dan 98 perempuan dengan rentang usia 18-21 tahun mengalami stres (41,3%), cemas (57,1%), dan depresi (26,5%). Migrain ditemukan sebanyak (28,1%), responden, di antaranya lebih tinggi pada perempuan (61,8%). Stres, cemas, dan depresi memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian migrain (p
Yohanes Jason, Zita Arieselia
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 37-43; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1164

Abstract:
Pendahuluan: Olahraga futsal termasuk ke dalam 10 olahraga yang paling sering menyebabkan cedera, dengan tingkat insidensi mencapai 55,2 cedera per 10000 jam partisipasi olahraga. Cedera pergelangan kaki atau ankle merupakan cedera yang paling banyak terjadi. Cedera ankle yang tidak ditangani dengan baik bisa berakibat pada chronic ankle instability. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya terhadap tingkat pengetahuan anggota futsal FKIK UAJ. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental dengan pendekatan cross-sectional, yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya dengan purposive sampling. Edukasi kesehatan diberikan dengan menggunakan alat bantu slideshow dan tingkat pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji t-test berpasangan. Hasil: Total responden adalah 36 mahasiswa. Tingkat pengetahuan mahasiswa sebelum diberikan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya memiliki nilai rata-rata 66,3 s.d.11,6 (kisaran 40,0 - 93,3) yang meningkat bermakna menjadi rata-rata 78,5 s.d. 6,3 (kisaran 63,3 - 96,7) setelah diberikan edukasi kesehatan tentang cedera ankle dan terapi latihannya (p
Beatus Bibang, Jimmy Fransisko Abadinta Barus,
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 44-55; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1155

Abstract:
Pendahuluan: Prevalensi orang yang mengalami gangguan pada fungsi penghidu meningkat seiring dengan pertambahan usia. Gangguan fungsi penghidu dianggap sebagai salah satu faktor risiko terjadinya malnutrisi pada lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara gangguan fungsi penghidu dan status gizi pada lansia. Metode: Penelitian analitik secara komparatif dengan pendekatan potong lintang terhadap kelompok lansia. Responden berasal dari di Pusat Santunan Keluarga/PUSAKA di Jakarta Barat (periode Mei-Juni 2016) dengan pengambilan sampel random sampling. Status nutrisi, fungsi kognitif dan penghidu dinilai dengan penilaian MNA, instrumen MMSE dan penilaian fungsi penghidu. Hasil: 207 orang ikut serta pada penelitian ini; 67,1% responden merupakan perempuan. Gangguan fungsi penghidu dan status gizi malnutrisi ditemukan sebanyak 46,5% dan 42,5%. Analisa bivariat menemukan adanya hubungan bermakna antara fungsi penghidu dan status gizi (p=0,006), fungsi penghidu terhadap skor MMSE (p=0,001). Pada analisa multivariat regresi logistik tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara fungsi penghidu dan status gizi terhadap variabel-variabel yang diteliti. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara fungsi penghidu dan status gizi lansia.
Jodi Visnu
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 80-90; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.780

Abstract:
Pendahuluan: Dunia bisnis dalam beberapa tahun terakhir banyak diminati oleh generasi muda dari berbagai latar belakang pendidikan. Dunia medis pun harus berhadapan dengan persaingan bisnis dalam penyediaan layanan kesehatan. Pada hakikatnya, mahasiswa kedokteran mendapatkan pembelajaran tentang bisnis dalam kurikulum Ilmu Kesehatan Masyarakat lewat materi teori manajemen. Hal tersebut tidak dapat sepenuhnya terlaksana karena keterbatasan kurikulum pembelajaran. Bisnis dalam dunia kesehatan selayaknya linear dengan pelayanan kesehatan holistik dan berkualitas, komunikasi dokter-pasien yang efektif, sehingga perjalanan proses terapeutik berlangsung efektif dan terhindar dari berbagai hal negatif seperti ketidakpuasan pasien yang berujung pada tuntutan medis.Tujuan: Artikel ini digunakan sebagai bahan ajar perkuliahan health-entrepreneurship yang bertujuan untuk mengeksplorasi potensi entrepreneurship dalam bidang kesehatan, mengidentifikasi peran ilmu kesehatan masyarakat yang potensial dalam dunia bisnis untuk pembelajaran mahasiswa kedokteran dan merangsang adanya ide baru untuk berinovasi agar terwujud suatu kreativitas dan karya yang berkualitas. Metode: Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan naratif sebagai bagian dari studi literatur. Diskusi: Materi entrepreneurship dalam bidang kedokteran tidak jauh dari ilmu kesehatan masyarakat. Mahasiswa belajar mengenai pemasaran, khususnya komunikasi dalam konteks promosi kesehatan yang berfokus kepada permintaan pasar dalam kurikulum entrepreneurship yang diajarkan. Seorang entrepreneur kesehatan diharapkan dapat menjaga kaidah pemasaran dalam etis kedokteran, dapat menjadi praktisi, problem solver, serta turut berkontribusi dalam bidang epidemiologi, kesehatan lingkungan, biostatistik, kebijakan kesehatan, manajemen pelayanan kesehatan, serta ilmu perilaku dan sosial.
Anastasia Christella Christella, Robby Makimian, Rita Dewi
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 24-29; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1204

Abstract:
Introduction: Indonesia as a tropical country is vulnerable to mosquito-borne diseases like dengue fever, chikungunya, and zika by Aedes aegypti mosquito. Various efforts have been made to eradicate mosquitoes, one of which is by fogging. But this method only eradicates adult mosquitoes and its smoke can also have a bad impact for human health. Therefore, a variety of herbal plants began to be used as biolarvacide, including basil plants (Ocimum basilicum). Methods: This is an experimental research by comparing the lethal effect between concentration and time. In this experiment there were 10 larvas used for each concentration, which were 0,4%, 0,7%, 1,0%, 1,5%, and 2,0%. The lethal effect arising in larval groups is observed every 1 hour in the first 6 hours, and subsequently every 3 hours until 24 hours after exposure. Results: With one way ANOVA test, the result is p=0,012 (p
Felix Setiadi, Dharmady Agus
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 62-69; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1199

Abstract:
Pendahuluan: Fear of Missing Out (FoMO) adalah gangguan cemas ketika seseorang merasa takut dirinya tertinggal akan pengalaman baru yang dialami orang lain. Hal ini ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang orang lain lakukan. Salah satu penyebab dari FoMO adalah meningkatnya durasi penggunaan jejaring sosial. Jejaring sosial digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan telah mendunia. FoMO terjadi pada semua usia, namun lebih sering ditemukan pada usia remaja dan dewasa muda karena individu tersebut lebih mudah beradaptasi dengan teknologi dan kurangnya regulasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat FoMO durasi penggunaan jejaring sosial pada usia remaja dan dewasa muda khususnya pada mahasiswa kedokteran di Universitas Katolik Atma Jaya. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan studi cross sectional yang melibatkan 150 responden yang berasal dari mahasiwa kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta angkatan 2016, 2017 dan 2018 yang dipilih secara cluster random sampling. Pengukuran tingkat FoMO menggunakan kuesioner Fear of Missing Out scale (FoMOs) dan durasi penggunaan jejaring sosial dengan SONTUS. Kemudian data dianalisa menggunakan program komputer. Hasil: Mayoritas responden adalah wanita (n=99), responden memiliki rentang usia 18-21 tahun. Prevalensi tingkat FoMO yang tinggi pada mahasiswa adalah sebanyak 35 mahasiswa (23,3%). Pada kelompok responden yang memiliki tingkat FoMO yang tinggi, mayoritas responden adalah wanita (n=21) dan mayoritas responden memiliki durasi penggunaan jejaring sosial yang tinggi (n=23). Didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat FoMO dan durasi penggunaan jejaring sosial (p=0,034). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat Fear of Missing Out dengan durasi penggunaan jejaring sosial.
Clarence Marks Alief, Jojor Lamsihar Manalu
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 30-36; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1146

Abstract:
Pendahuluan: Diabetes adalah penyakit metabolik yang disebabkan oleh pankreas yang tidak mampu memproduksi insulin (hormon yang mengatur kadar gula darah) atau tubuh yang tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Diabetes dapat menyebabkan gangguan penglihatan, penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal dan penyakit lainnya. Diabetes biasa diobati dengan obat kimia anti-diabetes atau dengan insulin. Namun saat ini, masyarakat sudah mulai mencari pengobatan alternatif yang menggunakan bahan alami. Salah satu bahan alami yang dapat dipakai sebagai pengobatan alternatif untuk diabetes adalah ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill.). Biji alpukat dipilih karena memiliki zat aktif seperti astringen dan flavonoid yang sudah diteliti memiliki efek anti-diabetes. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan uji tikus Sprague-Dawley. Kelompok tikus dibagi menjadi 4, yaitu kelompok I sebagai kelompok kontrol negatif, dan kelompok II, III dan IV. Kelompok tikus perlakuan diinjeksi dengan aloksan sehingga menginduksi kondisi diabetes, kemudian tikus diberikan ekstrak biji alpukat dengan konsentrasi berbeda setiap hari selama 5 hari. Ekstrak biji alpukat diperoleh dengan menggiling biji alpukat sehingga menjadi serbuk halus, lalu ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi. Hasil: Setelah pemberian ekstrak biji alpukat, terdapat penurunan kadar gula darah pada kelompok II, III, dan IV. Hasil uji statistik one way anova menunjukkan hasil p=0,046, dengan demikian terjadi penurunan kadar gula darah yang bermakna. Namun berdasarkan hasil uji statistik Tukey HSD, kelompok uji tidak ada yang berbeda secara signifikan antara satu dan lainya. Simpulan: Pemberian ekstrak biji alpukat (dosis of 150mg/kg, 300mg/kg, and 450mg/kg) menyebabkan penurunan kadar gula darah yang bermakna secara statistik, namun tidak terdapat dosis ekstrak yang paling efektif dari antara ketiganya.
Nabila Ananda Kloping, David Nugraha, Andro Pramana Witarto, Komang Agung Irianto
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 8-23; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1273

Abstract:
Pendahuluan: Penggunaan antibiotik yang tidak tepat indikasi berkontribusi dalam meningkatkan resistensi lebih dari satu jenis bakteri. Penelitian terhadap terapi dan agen antibiotik baru tidak dapat mengikuti cepatnya resistensi antibiotik terhadap bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pola sensitivitas dan resistensi antibiotik di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya. Metode: Penelitian dilakukan secara observasional dengan rancang bangun potong lintang deskriptif terhadap data sekunder pada tahun 2016-2018. Kriteria inklusi penelitian ini adalah catatan rekam medik pasien yang menerima terapi antibiotik di RSOT Surabaya dan mempunyai hasil uji kepekaan antibiotik. Hasil: Hasil uji sensitivitas dari semua antibiotik -lactamase inhibitor dan cephalosporin menunjukkan penurunan sensitivitas setiap tahunnya dengan pola covarage yang beragam. Golongan fluoroquinolone memiliki peningkatan sensitivitas selama periode pengamatan. Sebaliknya, terjadi penurunan sensitivitas gentamicin yang diikuti dengan peningkatan resistensi. Peningkatan resistensi ini juga terlihat pada meropenem dengan pola sensitivitas beragam. Sensitivitas linezolid meningkat, sedangkan sensitivitas teicoplanin tetap 100%. Simpulan: Tidak ditemukan pola tertentu dalam perubahan sensitivitas antibiotik dan resistensi bakteri di RSOT Surabaya, selain golongan antibiotik cephalosporin yang tiap tahunnya mengalami peningkatan resistensi dan penurunan sensitivitas secara konsisten.
Ellen Wijaya
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 70-79; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1279

Abstract:
Pendahuluan: Pendidikan merupakan bagian dari proses belajar seorang anak untuk membentuk kemampuan kognitif dan kepribadian yang baik. Anak yang tidak mampu melakukan koordinasi kemampuan berpikir, sistem integrasi sensorik dan motorik, atau fungsi verbal dan non-verbal dapat mengalami gangguan belajar. Ketidakmampuan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), maupun berhitung (diskalkulia) merupakan domain dari gangguan belajar spesifik pada anak. Identifikasi dan intervensi pada anak dengan gangguan belajar memerlukan kerja sama tenaga medis, guru dan orangtua. Kasus: Anak laki-laki, usia tujuh tahun memiliki hambatan dalam membaca berdasarkan pengamatan selama enam bulan oleh guru sekolah sejak anak belajar di kelas satu sekolah dasar. Anak sehat secara fisik, tumbuh kembang sesuai usia dan mampu berinteraksi baik dengan teman sekolah maupun lingkungan rumah. Pasien memenuhi kriteria gangguan belajar spesifik domain membaca sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Pasien sudah menjalani intervensi yang adekuat untuk mengatasi gangguan belajar spesifik dan berhasil naik kelas dua sekolah dasar dengan kemajuan kemampuan membaca. Simpulan: Pentingnya identifikasi dan intervensi dini serta permantauan berkelanjutan pada anak dengan gangguan belajar spesifik untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.
Markus Julian, Felicia Kurniawan
Damianus Journal of Medicine, Volume 19, pp 56-61; https://doi.org/10.25170/djm.v19i1.1184

Abstract:
Pendahuluan: Gangguan makan dapat memengaruhi kualitas tidur, terutama remaja karena masa remaja merupakan masa terjadi perubahan fisik dan psikologi. Pelepasan hormon dan metabolisme glukosa terjadi saat tidur, sedangkan nafsu makan dipengaruhi oleh sistem neuroendokrin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko gangguan makan terhadap kualitas tidur remaja karena remaja zaman sekarang kurang memedulikan waktu makan dan makanan yang dikonsumsi. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 275 siswa-siswi SMP dan SMA salah satu sekolah internasional di Jakarta Barat yang memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner demografi, kuesioner skrining, Eating disorder Examination Questionnaire (EDE-Q) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) diisi secara mandiri. Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan risiko gangguan makan dengan kualitas tidur responden.Hasil: Responden paling banyak adalah wanita sebanyak 173 orang (62,9%), sedangkan laki-laki sebanyak 102 orang (37,1%). Usia responden sebagian besar berusia 12-13 tahun sebanyak 125 orang (45,5%) dan kelas terbanyak yang menjadi responden adalah kelas 8 sebanyak 62 orang (22,6%). Responden dengan risiko gangguan makan sebanyak 156 orang (56,7%), sedangkan dengan kualitas tidur buruk sebanyak 240 orang (87,3%)%, dengan perincian 151 orang dengan risiko gangguan makan (96,8%) mempunyai kualitas tidur yang buruk, dan 5 orang (3,2%) mempunyai kualitas tidur yang baik. Hasil uji Chi square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara risiko gangguan makan dengan kualitas tidur (p=0,000). Simpulan: terdapat hubungan bermakna antara risiko gangguan makan terhadap kualitas tidur pada siswa-siswi SMP dan SMA di salah satu sekolah internasional di Jakarta Barat pada tahun 2019, sehingga perlu diberikan edukasi mengenai perilaku dan pola makan yang sehat kepada para remaja agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Levina Benita, Cisca Kuswidyati, Febie Chriestya
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 50-57; https://doi.org/10.25170/djm.v18i2.2216

Abstract:
Introduction: Dry Eye Syndrome (DES) is a multifactorial disease of the eye characterized by loss of homeostasis from the tear film and is accompanied by ocular symptoms. One of many factors that can cause DES is the use of contact lenses. This research was conducted to determine the relationship of water content in contact lenses with the occurrence of DES. Methods: This research was conducted in 2019 with a cross-sectional study design with the Tear Break Up Time (TBUT) test, Schirmer test and questionnaire. The research respondents were students of Atma Jaya School of Medicine and Health Sciences (FKIK UAJ) whose eyes were examined as samples (n = 84). The water content of the respondent's contact lenses was obtained using a questionnaire. The inspection methods used to determine DES are TBUT test and Schirmer test. Data analysis using chi-square test with significance level of p 50% is 25.5% . Conclusion: There is no significant relationship between water content in contact lenses with the occurrence of DES in FKIK UAJ students (p=0.963).
Fariz Abdul Mujib Dailami, Regina Satya Wiraharja, Febie Chriestya Chriestya
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 67-73; https://doi.org/10.25170/djm.v18i2.2221

Abstract:
Introduction: One of the biggest health problems faced by community is pulmonary tuberculosis (TB).TB is an respiratory tract infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. World Health Organization (WHO) recommends TB treatment with Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) strategy, one of which is through the help of treatment supporter (PMO or Pengawas Minum Obat) who supervises the patient during the treatment period. Methods: This was an analytic descriptive study with cross sectional approach.. Respondents were taken by consecutive sampling, based on medical records at Atma Jaya Hospital. We applied inclusion criteria such as newly diagnosed TB patient with positive sputum smear microscopy results, adult TB patient who has finished 6 month of treatment and patients who have done sputum smear microscopy test after finishing their TB treatment. The exclusion criteria were TB-HIV patients and Milliary TB patients. After fulfilment of those criteria, a total of 81 respondents were selected. Data was analysed by Chi Square test (Fisher Exact test). Results: Most of patients were 15-50 years old (70,4%) with mean age at 38.49±17.83 years old),male (53.1%), had family as treatment supporter (91.4%) and had successful TB treatment (74.1%). TB patients with treatment supporter had more successful treatment (66.7%) than TB patients with no treatment supporter (7.4%), however there was no significant among the avalibility of treatment supporter and the success of TB treatment (p=0.670). Conclusion: Despite the insignificant result, this study gives good insight to implementation of TB DOTS strategy in Atma Jaya Hospital. The implementation of this strategy contributes to imbalance number of samples between patient with and without treatment supporter, leading to overestimate results on with TB treatment supporter group.
Fiani Clarissa, Danny Gunawan
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 74-79; https://doi.org/10.25170/djm.v18i2.2223

Abstract:
Introduction: Acne vulgaris (AV) is a common dermatological condition among adolescent. Although considered a benign condition and a self-limiting disease, AV can cause psychological problems such as anxiety, depression, and reduce self confidence especially in adolescence because it is a crucial period in psychological and mental development. The purpose of this study is to determine the correlation between AV severity and psychosocial burden on students at Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine and Health Sciences (FKIK UAJ). Methods: This research is an analytic descriptive study with cross sectional method. Sample of this study consist of 141 active preclinic male students at FKIK UAJ year 2016, 2017, and 2018. AV severity was determined by Global Acne Grading System (GAGS). Cardiff Acne Disability Index (CADI) questionnaire was used to measure psychosocial burden caused by AV in the past month. This data was analyzed using Spearman correlation test with significant p
Clarisa Seravine, Nawanto Agung Prastowo
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 58-66; https://doi.org/10.25170/djm.v18i2.2220

Abstract:
Introduction: Excessive daytime sleepiness is a person's tendency to fall asleep when they should be awake. This can cause various problems in the performance of daily activities such as a decrease in workplace productivity, traffic accidents, and a lower academic score among medical students. Therefore, this study was conducted to determine the factors that influence the occurrence of excessive daytime sleepiness among the students of Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine dan Health Sciences (FKIK UAJ). Methods: This research is a descriptive analytic study with a cross-sectional approach on respondents consisting of preclinical students from the year 2015 -2017. Respondents were given questionnaires containing demographic data, Epworth Sleepiness Scale (ESS), and subjective sleep duration. Data on height, weight, and waist circumference of the respondents were taken using their corresponding measuring instruments. The analysis was conducted using logistic regression in order to find which factors has the most influence on excessive daytime sleepiness. Results: In this study, 132 students from FKIK UAJ who met the inclusion criteria were were selected as respondents. Data analysis showed that excess body mass index was the most statistically significant factor in the occurrence of excessive daytime sleepiness among FKIK UAJ students with an OR of 14,584 (95% CI 5,651-37,637) followed by inadequate sleep duration with an OR of 3.693 (95% CI 1,183-11,533). Conclusion: This research has found that the greatest factors on the occurrence of excessive daytime sleepiness on the students of FKIK UAJ are excessive body mass index and inadequate sleep duration.
Natasha Gabby Ratimanjari, Hanna Yolanda
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 80-86; https://doi.org/10.25170/djm.v18i2.2224

Abstract:
Introduction: Development of medicine in Indonesia goes along with the diseases that emerged from lifestyle. Prevention can be done by implementing clean and healthy life protection (PHBS). One of the diseases that can occur due to lack of PHBS is worm infection. One of the worms that often infects children is Enterobius vermicularis. This study was conducted to assess the relationship between personal hygiene and E. vermicularis infection. Methods: This is a cross-sectional study with data taken from 110 children (2-10 years) with parents / guardians at Rumah Susun Penjaringan, North Jakarta. The independent variable of this study is personal hygiene and the dependent variable is E. vermicularis infection in children that uses data from questionnaires and lab exams. Results: The study was attended by 110 respondents. It is found that more than 80% of respondents wash their hands with soap before eating, wash their hands with soap after using the toilet, do not scratch the anus at night, routinely clip nails at least once a week, and use footwear while playing outdoors. More than 90% of respondents change their bed sheets regularly and took a bath twice a day. All respondents bathed using clean water and soap. More than 70% of respondents do not bite their nails, wash their hands after going to play, and consume anthelmintics. More than 50% of respondents do not wear other people's underwear. The results of the laboratory study found no E. vermicularis eggs. Conclusion: There is no infection of E. vermicularis in children age 2 – 10 at Rumah Susun Penjaringan
Sandy Theresia, Nelly Tina Widjaja, Maria Dara Novi Handayani
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 16-22; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2195

Abstract:
Introduction: The increase in the elderly population causes many health problems. One of them is the decline in physical function, making the elderly have difficulty performing daily activities. Some studies suggest the relation between decreased hemoglobin level with aerobic endurance and muscle strength. This study aims to determine the relation between hemoglobin and aerobic endurance, muscle strength in the elderly. Methods: This research is an analytic-correlative research conducted cross-sectionally on 84 respondents in Kelurahan Cideng, Central Jakarta. The data is collected from questionnaires, hemoglobin level (sodium lauryl sulfate-hemoglobin method), and physical performance tests (2-minutes test, arm curl test, and chair stand test). Results: The mean hemoglobin level is 14.37 g/dL. There was a significant relation between hemoglobin with aerobic endurance (p0.05). Conclusion: There was a relation between hemoglobin level with aerobic endurance in the elderly.
Jeremiah Mai Nugraha, Hanna Yolanda, Linda Suryakusuma
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 33-39; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2203

Abstract:
Introduction: Cognitive function is essential for medical students to support learning at the university. One part of cognitive function that is very important in student learning is visual concentration. Visual concentration is the process of maintaining a concentration of thought on a visual object by putting aside other things that are not related. Concentration can be increased in several ways, one of which is to consume nutritious foods that contain flavonoids such as dark chocolate. The purpose of this study was to determine the effect of dark chocolate consumption on visual concentration of cognitive function in Atma Jaya’s medical students.Methods: This was an experimental study and the data were tested using t-paired statistical test. The research was conducted from March to April 2019 at Atma Jaya Catholic University of Indonesia School of Medicine and Health Sciences, Jakarta. The data ovtained from Stroop Test before and after intervention of dark chocolate. A total of 51 respondents were selected according to the research criteria.Results: As many as 48 people (94.1%) experinced an increase in the Stroop Test Score, a person (2%) did not experience a change in the Stroop Test Score, and two people (3.9%) experinced a decrease in the Stroop Test Score. The result of statistical test show significant results (p
Fidel Corona, Freggy Spicano Joprang
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 8-15; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2193

Abstract:
Introduction: Aedes aegypti is the major vector of dengue virus. Dengue virus can cause dengue hemorrhagic fever (DHF). DHF is dangerous because it can cause death. World Health Organization (WHO) noted Indonesia as state with the highest dengue cases in Southeast Asia. Effort to control A. aegypti vector that can be done is by using natural substances that have the effect of biolarvicides. This study aims to determine natural biolarvicides potencial of fruit seeds and leaf papaya (Carica papaya) extracts against A. aegypti larvae. Methods: This study was an experimental study and conducted in 2016 using two groups of samples with the design before and after intervention. Samples were A. aegypti larval instar III and IV with the number of 10 larvaeper concentration and 10 larvae of control for each types of extracts. The concentration used was 0 mg / L (control), 50 mg / L, 100 mg / L, and 150 mg / L for both types of extracts, then observed at 6 hours, 12 hours, 18 hours, and 24 hours after exposure. Results: This study using Kruskal Wallis test, p value = 0.352. (P> 0.05) means there is no significant difference in the effect of biolarvicides concentration between the two types of extracts that used to the number of dead larvae of A. aegypti. Conclusion: Fruit seeds and leaf papaya extracts (C. Papaya L.) with concentrations of 50 mg / L, 100 mg/ L, and 150 mg / L are not effective to kill the larvae of A. aegypti. Other studies show concentrations above 21.9 ppm of leaf extract and 442 ppm of fruit seed extract can effectively kill larvae, therefore future studies are needed to determine effective extract concentrations to kill the larvae of A. aegypti.
Heidy Heidy, Tena Djuartina, Robi Irawan
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 1-7; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2189

Abstract:
Introduction: An individual’s overall muscle strength is commonly assessed by a power grip measurement, a reliable indicator of functional capacity and physical condition. The development of muscle parallels the changes of body composition during growth. Aim of this study is to examine the correlationship between hand grip strength and anthropometric. Methods: This cross-sectional study involved 76 male students of Dhammasavana School, aged between 12 – 16 years old, North Jakarta. Hand grip strength was examined using a digital dynamometer on the dominant side. Statistical analysis was computed using SPSS ver. 15.0 program with Spearman correlations test. Significance was set at p
Stephani Dwiyanti, Mora Octavia
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 40-49; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2204

Abstract:
Introduction: Loss of teeth leads to many problems anatomically and physiologically, leading to nutritional intake disturbances, and even affect patient’s psychological condition. There are several alternatives for tooth replacement such as removable denture, fixed partial denture (bridge), and implant. This case report described a loss of a single molar and its replacement with implant.Case Report: A 36-year-old female patient came with a chief complaint of missing lower left posterior teeth 5 years ago due to big caries. Patient wanted to replace with implant. Comprehensive evaluation was done to make sure that she was indicated for dental implant. Insertion of megagen implant was done on the first phase of surgery. Implant was left for 3 months for osseointegration. Insertion of healing abutment was done on the second phase of surgery and was left for 1 week. Impression was done and a screw-retained metal porcelain crown was made for the implant.Conclusion: Rehabilitation of tooth loss with implant requires several steps which are time-consuming and expensive. However, many patients still opt for implant therapy. Compared to other alternative therapy, implant is the most comfortable form of denture, does not damage adjacent teeth, has a high survival rate, and are more cost-effective in the long run.
Yunisa Astiarani, Kevin Kristian
Damianus Journal of Medicine, Volume 18, pp 22-32; https://doi.org/10.25170/djm.v18i1.2202

Abstract:
Introduction: A community-based health post called ‘pos pembinaan terpadu’ (Posbindu) is a vital approach to NCDs prevention and control strategy in the community. However, the posts appear to receive low appreciation in urban areas, with less than 10% of the population at risk visiting the post. This study presented a descriptive evaluation in Posbindu visitors after half-year implementation in two hamlets in Pejagalan. Methods: A survey-based study was conducted in two Posbindu, each in a hamlet. A self-questionnaire regarding sociodemography, NCDs status, risk factors, visiting frequency and health-seeking behaviour were asked to all visitors and collected during Posbindu schedule. Results: Posbindu visitors in hamlet A and B (131 and 160) share common demographic characteristics, with women participation higher in both (Hamlet A= 90.1% and Hamlet B=80.6%) mostly in their 30-44 age group for hamlet A (38.9%) and 45-59 age group for hamlet B (50%). Homemakers and unemployed were more than 70% of the proportion with low education preceding (40%) in both hamlets. NCDs status slightly higher in hamlet A (54.1%) than in B (53.7%), with hypertension, occupied the most. More than 90% of visitors lack in physical activity. Health seeking behaviour is better in diabetes sufferer than hypertension. Conclusion: Posbindu visitors are usually housewives or unemployed group due to limitation of schedule. School and workplace-based NCDs prevention program have to be in consideration. Open space facilities on increasing the community's physical activity and intensive health literacy are necessary to maintain their healthy life years.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top