Refine Search

New Search

Results in Journal Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan: 132

(searched for: journal_id:(517296))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Serri Hutahaean, Abdul Karim, Dosmaida Nababan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8; doi:10.20527/dk.v8i1.7543

Abstract:
Tuberculosis is an infectious disease that mainly attacks the parenchyma, tuberculosis can also be transmitted to other parts. Including meningens, kidney, bone and lymph nodes. Until now, there has not been a single country that is free of Tuberculosis. The mortality and morbidity due to Tuberculosis germs in the world are also high. In 2009, in the world, there were 1.7 million people who died of Tuberculosis (600,000 of them women) while there were 9.4 million new cases of Tuberculosis (3.3 million of them women). One-third of the world's population is infected with Tuberculosis, where most Tuberculosis sufferers are of productive age (15-55 years). To reduce the number of pulmonary Tuberculosis events, there needs to be high motivation from the patients themselves and the need for support from family and the surrounding environment. The purpose of this study was to identify the effect of family support on motivation to recover in patients with pulmonary Tuberculosis in the Kronjo District Health Center, Tangerang-Banten Regency. This research method was a quantitative study using a descriptive analytic design with a crosssectional approach, which is a study that methods to study the dynamics of the correlation between independent variables and dependent variables. The sample in this study was Tuberculosis patients who were on outpatient treatment for the past four months at the Puskesmas District of Kronjo, Tangerang-Banten Regency as many as 55 people. The results of this study were that there was no significant effect between family support on motivation to recover in pulmonary Tuberculosis patients. Therefore, to reduce the incidence of pulmonary Tuberculosis, high motivation is needed to recover from the patient himself.
Chairunnisa Mei Yuni, Noor Diani, Ichsan Rizany
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 17-25; doi:10.20527/dk.v8i1.6998

Abstract:
Diabetes mellitus (DM) is a chronic complex disease that requires medical care, self management education and ongoing support to prevent complications. Health education is one of steps to increase knowledge and skills of diabetes management independently to avoid the complication of DM, one of them is Diabetes Self Management Education and Support (DSME/S). The aim of this study was to determine the effect of DSME/S on increasing the knowledge of patients with type 2 DM. This study use pre experimental method with one group pretest-posttest design. There were 30 patients with type 2 DM at Idaman Kota Banjarbaru Hospital from March to April 2018. This study used consecutive sampling technique. Follow up was conducted after intervention on the third day. The instruments were module, demographic questionnaire and DM knowledge questionnaire. Based on Paired t test results, there is an effect of DSME/S on increasing the knowledge of patients with type 2 DM was 0.0001 (p<α; α=0.005), with an increase of 15.97%. DSME/S is effective on improving knowledge of patient with type 2 DM, so it can be given to patients with type 2 DM as self-management education to prevent complications. Keywords : DSME/S, type 2 DM, knowledge, health education ABSTRAKDiabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis kompleks yang membutuhkan perawatan medis, pendidikan manajemen mandiri serta dukungan yang berkelanjutan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan manajemen diabetes secara mandiri sehingga terhindar dari komplikasi DM, salah satu pendidikan kesehatan tersebut adalah dengan Diabetes Self Management Education and Support (DSME/S). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh DSME/S terhadap peningkatan pengetahuan pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode pre experimental with one group pretest-postest design Sampel penelitian ini sebanyak 30 pasien DM tipe 2 di RSD Idaman Kota Banjarbaru pada Maret sampai April 2018. Penelitian ini menggunakan teknik consecutive sampling. Pelaksanaan follow up dilakukan pada hari ketiga setelah intervensi dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah modul, kuesioner demografi dan kuesioner pengetahuan mengenai DM. Berdasarkan hasil uji Paired t test, terdapat pengaruh DSME/S terhadap peningkatan pengetahuan pasien DM tipe 2 yaitu 0.0001 (p<α; α=0,005), dengan peningkatan sebesar 15,97%. DSME/S efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien DM tipe 2, sehingga dapat diberikan kepada pasien DM tipe 2 sebagai pendidikan manajemen diri untuk mencegah komplikasi.Kata kunci: DSME/S, DM tipe 2, pengetahuan, pendidikan kesehatan
Agus Rahmat Rahmat, Devi Rahmayanti, Kurnia Rachmawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 48-58; doi:10.20527/dk.v8i1.6919

Abstract:
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria (mikrofilaria) dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres dan Aedes. Tahun 2012 Kabupaten Barito Kuala dinyatakan endemis filariasis dengan Mf-rate 2,19%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor perilaku masyarakat dan lingkungan biologi yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menggunakan desain case control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel dengan populasi kasus 15 orang dan kontrol 30 orang dengan rasio 1 : 2. Instrumen penelitian berupa lembar kuesioner dan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan kebiasaan menggunakan kelambu dengan kejadian filariasis (p = 0,015 OR : 6,91), ada hubungan kebiasaan menggunakan kawat kasa pada ventilasi dengan kejadian filariasis (p = 0,441 OR : 2,04), ada hubungan keradaan kandang ternak dengan kejadian filariasis (p = 0,011 OR : 14,00), tidak ada hubungan kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian filariasis (p = 0,044 OR : 5,23), dan tidak ada hubungan keberadaan eceng gondok dengan kejadian filariasis (p = 0,587 OR : 1,75). Kebiasaan menggunakan kelambu, kawat kasa pada ventilasi, dan keberadaan kandang ternak berhubungan dengan kejadian filariasis. Saran dari penelitian ini yaitu masyarakat diharapkan dapat meningkatkan usaha pencegahan filariasis dengan menggunakan baju lengan panjang dan obat anti nyamuk pada saat di luar rumah pada malam hari, serta melakukan pencegahan dari gigitan nyamuk seperti menggunakan kelambu dan obat nyamuk pada saat tidur, memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, serta apabila ingin membuat kandang ternak jarak kandang ternak harus lebih dari radius 100 meter dari rumah.
Linda Kamelia Saputri, Dhian Ririn Lestari, Rika Vira Zwagery
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 34-42; doi:10.20527/dk.v8i1.7245

Abstract:
Kepercayaan diri merupakan aspek yang sangat penting dalam perkembangan remaja. Kepercayaan diri tumbuh dari lingkungan pola asuh di keluarga. Jika remaja memiliki kepercayaan diri yang rendah, maka remaja akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh dengan kepercayaan diri remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian korelasional dengan desain cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 87 remaja di SMK Borneo Lestari Banjarbaru. Pemilihan subjek dengan teknik stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner pola asuh dan kuesioner kepercayaan diri dengan analisis data menggunakan korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pola asuh dalam kategori demokratis sebanyak 74 responden (85,1%) dan sebagian besar kepercayaan diri dengan kategori tinggi adalah 54 responden (62,1%). Hasil analisis data menemukan ada hubungan antara pola asuh dengan kepercayaan diri remaja di SMK Borneo Lestari Banjarbaru (p-Value = 0,001). Hasil ini menunjukkan pendekatan orang tua kepada remaja melalui pola asuh yang sesuai sangat penting untuk perkembangan remaja, salah satunya adalah kepercayaan diri. Remaja akan memiliki kepercayaan diri yang baik jika orang tua memberikan pola asuh yang sesuai.
Narmawan Narmawan, Irwanto Irwanto, Diah Indriastuti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 26-33; doi:10.20527/dk.v8i1.7251

Abstract:
Pasien preoperative yang menjalani operasi pertama akan merasa cemas yang mengakibatkan respons tubuh seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan. Jika berlebihan, kerja jantung termasuk kebutuhan oksigen tubuh akan mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tanda-tanda vital sebagai respon kecemasan pada pasien preoperasi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif komparatif pada 44 pasien preoperative. Subjek diambil dari populasi dengan cara accidental sampling, kemudian diukur tekanan darah, nadi, dan pernapasandua kali, sehari sebelum operasi, dan lima menit sebelum anestesi. Analisis statistic menggunakan uji wilcoxon menunjukan nilai ρ < α (ρ < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan tekanan darah (Sistol-Diastol), frekuensi nadi, dan pernafasan sehari sebelum operasi dan lima menit sebelum anastesi. Kesimpulan bahwa terdapat perbedaan tanda-tanda vital pada pasienpreoperative sebagai respon kecemasan sehari sebelum operasi dan lima menit sebelum anastesi. Saran perlu meningkatkan kesadaran, pemahaman,wawasanterkaitmutu pelayanan keperawatan dalam menerapkan asuhan keperawatan dan edukasi tentang psikologis pasien preoperative.
Susanti Niman, Achir Yani S Hamid, Ice Yulia W
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 9-16; doi:10.20527/dk.v8i1.7679

Abstract:
The prevalence of CHF is increasing every year. The impact of a psychosocial condition requiring comprehensive treatment for CHF in all aspects. One contributing factor to success is the involvement of the family. Purpose: This study aimed to determine the differences of social support towards clients with CHF who were receiving family psychoeducation. Method: This study used a Quasi -experimental pre-post test without a control group”. A sample of 25 respondents and sample retrieval techniques with a purposive sampling procedure. The instrument used was an ISSB questionnaire for measuring social support. The intervention group was provided with family psychoeducation that performed 5 sessions. Result and conclusion: The finding this study showed was a significant change before and after the family support family psychoeducation (p-value 0.00<α). Characteristics of the family and the client is not associated with social support. Family psychoeducation research way recommended developed in a public hospital.
Sahrudi Sahrudi, Agung Waluyo, Masfuri Masfuri
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 142-152; doi:10.20527/dk.v7i2.6892

Abstract:
Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sangat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan yang akan diterima oleh pasien. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan tersebut salah satunya dengan mengaplikasikan teori virginia henderson. Tujuan : Penerapan teori Virginia Henderson pada pasien dengan neglected fracture of left shaft femur. Metodologi yang digunakan adalah dengan menggunakan studi literatur dan studi kasus. Hasil : Penerapan teori Virginia Henderson efektif diterapkan pada pasien dengan neglected fracture of left shaft femur. Kesimpulan : teori Virginia Henderson dapat digunakan pada asuhan keperawatan pasien dengan neglected fracture left shaft femur untuk meningkatkan kemandirian akibat perubahan fisik dan psikologis.
, Etika Ma’Rifatul Ulum, Tri Cahyo Sepdianto
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 118-127; doi:10.20527/dk.v7i2.6488

Abstract:
Stroke menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan dengan beban penyakit yang semakin meningkat dua kali lipat di Indonesia. Tingginya angka kecacatan memperpanjang waktu perawatan dan tirah baring sehingga berisiko tinggi terjadinya luka decubitus apabila 24-48 jam setelah serangan tidak segera dilakukan mobilisasi dini. Tujuan studi kasus ini menggambarkan pencegahan decubitus pasien stroke hamorrhagic setelah 24 jam serangan. Studi kasus ini menggunakan pendekatan asuhan keperawatan. Subyek adalah pasien stroke hemorrhagic setelah 24 jam serangan beserta keluarganya dengan masalah keperawatan risiko dekubitus. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan penilaian risiko dekubitus dengan skala Norton. Tindakan keperawatan yang dilakukan pemberian mobilisasi/alih baring setiap 2 jam dan massage kulit pada area yang tertekan. Hasil studi kasus menunjukkan pemberian mobilisasi/alih baring setiap 2 jam dan pemberian massage kulit pada area yang tertekan terbukti efektif menurunkan risiko dekubitus yang dibuktikan dengan kenaikan skor skala Norton. Diharapkan perawat/keluarga menerapkan pemberian alih baring/mobilisasi setiap 2 jam dan massage kulit pada area tertekan sedini mungkin untuk pencegahan decubitus
, Dewi Siyamti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 153-162; doi:10.20527/dk.v7i2.6926

Abstract:
Kemampuan anak yang berlebutuhan khusus berbeda dengan anak yang normal, di satu sisi, anak luar biasa harus dapat mandiri, beradaptasi dan bersaing dengan orang normal, di sisi lain ia tidak secara otomais dapat melakukan aktifitas. Setiap anak yang memiliki karakteristik, kelebihan, kekurangan serta tingkat kemampuan dan tingkat kecacatan yang bervariatif maka pengajaran individualisasi sangat efektif. Bisa disimpulkan bahwa anak yang berkebutuhan khusus membutuhkan pendampingan khusus untuk belajar. Melalui bermain anak dapat mengeksplorasi semua kemampuan yang dimilikinya. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahyudin, MJ (2016). Bimbingan kelompok dengan teknik bermain peran efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran program bimbingan melalui terapi bermain pada anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Ungaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan metode diskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pada pelaksanaannya terdapat kategorisasi secara kuantitatif, dan disimpulkan dengan deskripsi kualitatif.. Seleksi responden yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu anak tunagrahita dan anak Autis usia 4 tahun-11 tahun. Hasil dari penelitian ini terdapat gambaran peningkatan kemampuan adaptif siswa pada self help general, self eating,self dressing, self direction, locomotion,occupation, socialization dan komunikasi). Kesimpulan: pemberian metode bimbingan melalui terapi bermain dapat memberikan stimulus kepada siswa tunagrahita dan autis untuk meningkatkan perilaku adaptif sehari hari. Key word: program bimbingan, terapi bermain, tunagrahita, autis
, Cecep E Kosasih, Urip Rahayu
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 71-81; doi:10.20527/dk.v7i2.6239

Abstract:
Cedera kepala merupakan penyakit terbanyak yang mampu mengubah tingkat kesadaran seseorang dan menyebabkan kematian dengan case fatality rate (CFR) sebesar 4,37%. Selain itu, dampak dari cedera tersebut juga dapat menimbulkan kerusakan kognitif dan fungsi fisik. Pemberian stimulasi sensorik berupa stimulasi auditori sedini mungkin sangat penting untuk kelangsungan hidup, kualitas hidup dan prognosis jangka panjang pada pasien cedera kepala karena pendengaran merupakan fungsi indera yang paling akhir berfungsi pada penurunan kesadaran. Tujuan sistematik review ini untuk mengevaluasi pengaruh stimulasi auditory pada pasien cedera kepala dengan penurunan kesadaran. Studi ini merupakan systematic review dari beberapa penelitian Randomized Clinical Trial (RCT). Databased yang digunakan yaitu ProQuest, CINAHL, PsycINFO, Google Schoolar, PubMed, EBSCHO dan ScienceDirect dengan kata kunci yang digunakan adalah Traumatic Brain Injury, Auditory Stimulation, Comatoes Patient, Level of Consciousness. Kriteria inklusi artikel yang diambil yaitu penelitian yang diterbitkan pada tahun 2008-2018, jenis penelitian Randomized Clinical Trial (RCT), sampel penelitian adalah pasien cedera kepala dengan penurunan kesadaran, intervensi yang diberikan berupa stimulasi auditory dan artikel ditulis dalam Bahasa Inggris. Hasil studi literature ini diperoleh 6 artikel penelitian yang sesuai dengan tujuan dan kriteria review. Hasil telaah menyimpulkan bahwa stimulasi auditori pada pasien cedera kepala berpengaruh signifikan terhadap peningkatan status kesadaran. Oleh karena itu, stimulasi auditori dapat direkomendasikan sebagai terapi tambahan secara non farmakologis terhadap pasien cedera kepala yang mengalami penurunan kesadaran.
, Rr Tutik Sri Hariyati, Laurentia Dewi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 97-105; doi:10.20527/dk.v7i2.6601

Abstract:
Preceptor memiliki peranan penting dalam menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh perawat baru.yang sedang dalam masa transisi. Komitmen seorang preceptor sangat penting dalam optimalisasi program preceptorship. Tujuan penulisan adalah untuk melakukan identifikasi pelaksanaan preceptorship, pemberian pelatihan, dan evaluasi komitmen preceptor di ruang rawat inap Rumah Sakit Militer di Jakarta. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan pilot studi yang dilaksanakan dari identifikasi, analisis situasi, penetapan masalah, pembuatan perencanaan tindakan, implementasi, evaluasi dan analisis kesenjangan menggunakan literatur review. Analisis situasi dilakukan dengan menggunakan analisis diagram fish bone. Sampel yang digunakan dalam pengkajian awal adalah 10 ruang rawat inap yang meliputi 10 kepala ruangan, 19 preceptor, dan 36 preceptee. Pada saat implementasi melibatkan 25 perawat untuk dipersiapkan menjadi preceptor dengan melibatkan dalam workshop preceptorship. Hasil identifikasi menunjukkan adanya masalah dalam pelaksanaan program preceptorship terutama pada fungsi manajemen dalam implementasi program preceptorship di ruang rawat inap. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100% preceptor memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan perannya setelah mengikuti pelatihan preceptorship. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah untuk terus mempertahankan komitmen preceptor dan mengoptimalkan preceptorship hendaknya manajemen rumah sakit memberikan dukungan berupa kebijakan, alur pengembangan program, dan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program di ruang rawat inap.
Khairus Sadiq, Abdurrahman Wahid, Ifa Hafifah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 82-90; doi:10.20527/dk.v7i2.4396

Abstract:
ABSTRAKProses keperawatan termasuk pengkajian keperawatan memiliki kendala dalam aplikasinya termasuk dalam lingkup IGD yang kompleks dengan beban kerja tinggi. Falsafah keperawatan memandang individu secara holistik sebagai kesatuan yang utuh memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual. Penelitian ini bertujuan mengetahui deskripsi pelaksanaan pengkajian keperawatan holistik oleh perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif pada 34 orang perawat di ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin yang diambil secara total sampling. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20-27 November 2017. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran pengkajian keperawatan holistik menunjukkan hasil aspek biologis kategori aplikatif 76%, aspek psikologis kategori aplikatif 91%, aspek sosial kategori aplikatif 76%, aspek spiritual kategori tidak aplikatif 59% dan aspek budaya kategori aplikatif dan tidak aplikatif dengan persentase 50%. Perawat sebagai tenaga kesehatan profesional memberikan pelayanan kesehatan khususnya asuhan keperawatan yang komprehensif. Disarankan perawat perlu meningkatkan kemampuan untuk menunjang pelaksanaan pengkajian keperawatan holistik terutama pada aspek spiritual. Kata-kata kunci : Pengkajian Keperawatan, Biologis, Psikologis, Sosial, Spiritual, Budaya ABSTRACTThe nursing process including nursing assessment has constraints in it’s application including within the complex scope of IGD with high workload. The nursing philosophy views the individual in a holistic way as a whole, which had biological, psychological, social, cultural and spiritual dimensions. Objective To determine the description of holistic implementation nursing assessment by nurses at IGD RSUD Ulin Banjarmasin. This study used Descriptive research on 34 nurses in IGD room of Ulin Banjarmasin General Hospital taken in total sampling. The study was conducted on 20-27 November 2017. Pursuant to result of research got description of nursing holistic study showed result of biological aspect of applikative category 76%, psychological aspect of applikative category 91%, social aspect of applikative category 76%, spiritual aspect category not applicative 59% and culture aspect applicative and non applicative category with percentage of 50%. Nurses as health professionals provide health services, especially comprehensive nursing care. It was suggested that nurses need to improve their ability to support the implementation of holistic nursing assessment especially on the spiritual aspect.
, Eka Setiawati, Ghina Pangestika, Nor Hayatunnisa Hayatunnisa, Rosina Apriani, Siti Munawarah, Asmadiannor Asmadiannor
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 91-96; doi:10.20527/dk.v7i2.6636

Abstract:
Introduction: Some of the main nursing problems that arise in patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis are problems with excess fluid volume.The aim of this study was to describe increased fluid intake in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at Ulin General Hospital of Banjarmasin.Methods: This was a descriptive cross sectional study. 80 respondents were taken using consecutive sampling. The instruments used in this study were questionnaire of demographic, knowledge, attitude, family support, involvement of health workers and Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) calculation sheets.Results: The results showed that the majority of respondents were women (53.8%), the education of respondents was high school (28.8%), the average age of respondents was 48.19 years old, most respondents had been undergoing hemodialysis for less than 12 months (57.5%), the frequency of hemodialysis was 2 times each week (93.8%), the level of knowledge was good (42.5%) and moderate (42.5%), the family support was good (86.3%), the attitude was positive (55%), the involvement of health workers was good (60%), and the majority of respondents had moderate IDWG criteria (47.5%).Conclusion: Almost half of patients with chronic kidney disease who were undergoing hemodialysis at Ulin General Hospital of Banjarmasin had moderate IDWG. Further study is needed to investigate related factors of excessive fluid intake in patients undergoing hemodialysis.
, Rika Budi Agustinah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 128-133; doi:10.20527/dk.v7i2.6094

Abstract:
Hipertensi yang membutuhkan pengobatan lama, menjadikan seseorang berada dalam kekhawatiran dan ketakutan yang menyebabkan stresss. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama menderita hipertensi dengan tingkat stresss . Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas kedungdoro Surabaya dengan jumlah 79 orang. Teknik sampling pada penelitian ini adalah purposive sample dimana sampel dipilih berdasasrkan kriteria inklusi. Sampel dalam penelitian ini adalah 38 orang. Penelitian ini di analisis dengan menggunakan uji Spearman Rank dan didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan lama mederita hipertensi dengan tingkat stresss, dengan nilai p= 0, 541 ( p.value>0,05). Semakin lama seseorang menderita hipertensi maka semakin rendah tingkat stresssnya.. Koping yang adaptif dapat menghasilkan adaptasi yang positif.
Dahlia Dahlia, Noor Diani, Husaini Husaini, Paula Paulina, Makmun Makmun, Efriliana Efriliana, Elyana Fadian, Siti Nurjannah, Winda Permatasari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 134-141; doi:10.20527/dk.v7i2.6426

Abstract:
Manajemen ulkus kaki salah satunya adalah dengan memastikan suplai darah yang cukup yang dapat dilihat dari nilai ABI serta perawatan luka lokal (termasuk pengendalian infeksi) yang dapat dilihat dari Skor MUNGS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran nilai ABI dan karakteristik luka berdasarkan instrumen pengkajian luka MUNGS pada pasien diabetes mellitus dengan ulkus diabetik. Metode penelitian ini berupa deskripsi kuantitatif melalui wawancara dengan pedoman. Teknik sampling menggunakan Accidental sampling dan jumlah sampel sebanyak 32 orang pasien Diabetes Mellitus dengsn ulkus diabetik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Skor ABI pada responden Diabetes Mellitus dengan ulkus diabetik yang memiliki skor ringan sebanyak 19 orang (59%) dan skor pengkajian luka (MUNGS) kategori sedang (6-10) sebanyak 17 orang (53%). Semakin tinggi skor MUNGS maka status luka buruk, sebaliknya semakin rendah nilai skor maka kondisi luka semakin baik.
Ridlo Cahya Ilhami, Retno Purwandari, Alfid Tri Afandi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7, pp 106-117; doi:10.20527/dk.v7i2.6611

Abstract:
Proses belajar di perguruan tinggi harus diselenggarakan dengan prinsip berpusat kepada mahasiswa (Student Centered Learning). Penerapan Student Centered Learning (SCL) memiliki beberapa komponen yang bisa berpengaruh dalam penerapan SCL. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran penerapan model pembelajaran SCL di Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif dengan teknik purposive sampling pada 26 dosen dan teknik stratified sampling pada 260 mahasiswa. Hasil menunjukkan penerapan SCL pada mahasiswa mencapai 80,19% (dari nilai maksimal 36) dan penerapan SCL pada dosen mencapai 81,7% (dari nilai maksimal 33). Hal ini memperlihatkan penerapan SCL dari segi mahasiswa dan dosen memiliki persentase ketercapaian yang baik. Terdapat tujuh indikator yang diteliti pada mahasiswa dan empat indikator pada dosen. Nilai terendah pada mahasiswa yaitu bahan ajar (71%) dan nilai terendah pada dosen yaitu kondisi kelas (68,4%). Fasilitas yang kurang maksimal bisa berdampak terganggunya proses belajar menggunakan SCL sehingga mahasiswa dan dosen tidak memperoleh hasil yang maksimal.
Elfira Husna
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7; doi:10.20527/dk.v7i1.5614

Abstract:
Asuhan keperawatan tidak hanya berfokus pada curing tapi juga caring. Sebagai tenaga kesehatan yang profesional seorang perawat dalam memberikan pelayanan harus berdasarkan fungsi holistik, mencakup semua aspek baik biologi, psikologis,sosiologi maupun spiritual. Dalam memberikan palayanan perawat yang caring perawat dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan klien baik dalam kondisi sehat, sakit, maupun kritis. klien kritis selain membutuhkan tindakan yang tepat dan cepat, juga tidak lepas dari kebutuhan caring dan aspek spritual, karena di kondisi kritis biasanya klien maupun keluarga berada dalam kondisi pasrah dan membutuhkan tindakan yang berbeda di bandingkan dengan klien yang berada dalam kondisi stabil. Keadaan kritis membutuhkan ketenangan batin dan kedekatan pada sang pencipta, baik bagi pasien maupun keluarga agar dapat melalui kondisi kritisnya dengan cara yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman perawat. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan caring dan memenuhi kebutuhan spiritual pasien kritis. Partisipan dalam penelitian ini adalah 11 perawat yang bekerja di ruang ICU dengan pengalaman minimal 1 tahun di ICU. Data dianalisa menggunakan teknik collaizi dengan tujuh tahap sehingga menghasilkan empat tema penelitian yaitu: 1) melayani sepenuh hati,2) meningkatkan pemulihan pasien, 3) dampak terhadap perawat,4) harapan perawat terhadap pelayanan pasien kritis. Saran Penelitian ini diharapkan perawat selaku tim medis yang dekat dengan pasien dapat meningkatkan aspek caring dan pemenuhan aspek spiritual pasien kritis, begitu juga pihak rumah sakit agar dapat meningkatkan fasilitas agar asprek tersebut dapat optimal
Muhammad Arsyad, Eka Santi, Emmelia Astika
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7; doi:10.20527/dk.v7i1.6214

Abstract:
ABSTRAK Neonatus BBLR mempunyai proporsi 20% dari seluruh angka kelahiran bayi di dunia dan sering mengalami stress yang dimanifestasikan dengan peningkatan denyut jantung dan respirasi serta penurunan saturasi oksigen. Diperlukan terapi stimulasi yang dapat menunjang tumbuh kembangnya. Terapi suara dapat memberikan ketenangan bagi neonatus, sejauh ini belum diketahui pengaruh suara sholawat bagi neonatus BBLR. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh suara sholawat terhadap denyut jantung, respirasi dan saturasi oksigen pada neonatus BBLR. Metode penelitian menggunakan Pra Experimental One Group Pra-Post Test Design dilakukan pada 15 subjek dan dipilih secara purposif sampling dari Oktober hingga Desember 2018. Instrumen yang digunakan MP3 berisi suara sholawat Simtubdhurar berdurasi 40 menit diperdengarkan melalui speaker dengan maksimal suara yang sampai ke subjek 60 desibel di ukur dengan sound level meter. Nilai rerata denyut jantung dan respirasi setelah mendapat perlakuan menunjukkan penurunan dan peningkatan saturasi oksigen. Terdapat penurunan yang signifikan pada denyut nadi (Sig. (2-tailed)= 0,001) dan respirasi (Asymp. Sig. (2-tailed)= 0,009) serta peningkatan saturasi oksigen (Asymp. Sig. (2-tailed)= 0,004) pada hari ketiga perlakuan. Suara sholawat mempunyai pengaruh terhadap denyut nadi, respirasi dan saturasi oksigen pada neonatus BBLR. Suara sholawat dapat dijadikan pilihan terapi komplementer selama menjalani perawatan di ruang NICU. Keywords : Sound therapy, low birth weight, sholawat ABSTRACT LBW neonates have a proportion of 20% of all infant birth rates in the world and often experience stress that is manifested by increased heart rate and respiration and decreased oxygen saturation. Stimulation therapy is needed that can support growth and development. Sound therapy can provide peace for the neonate, so far there is no known sound effect of sholawat for LBW neonates. This study aims to look at the sound effect of sholawat on heart rate, respiration and oxygen saturation in LBW neonates. The research method using Pre Experimental One Group Pre-Post Test Design was carried out on 15 infants treated at the NICU and used purposive sampling technique from October to December 2018. The instruments used by MP3s containing the sound were Simtubdhurar prayer 40 minutes of playing through speakers with maximum sound get to the subject of 60 decibels measured by a sound level meter. The mean heart rate and respiration after receiving treatment showed a decrease and increase in oxygen saturation. There was a significant decrease in pulse (Sig. (2-tailed)= 0.001) and respiration (Asymp. Sig. (2-tailed)= 0.009) and increased oxygen saturation (Asymp. Sig. (2-tailed)= 0.004) on the third day of treatment. The sound of prayer has an influence on pulse, respiration and oxygen saturation in LBW neonates. Sholawat sounds can be a choice of complementary therapies while undergoing treatment in the NICU room. Keywords : Sound therapy, low birth weight, sholawat
Titis Nurhidayah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7; doi:10.20527/dk.v7i1.4408

Abstract:
Diabetes mellitus tipe 2 adalah terjadinya hiperglikemi akibat resistensi insulin, tujuan utama pengobatan diabetes mellitus adalah untuk mengendalikan glukosa darah, dan salah satu caranya yaitu dengan kepatuhan diet. Kualitas hidup adalah hal yang penting dalam kesehatan, dan sebagai tujuan akhir dari intervensi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan diet dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2. Desain penelitian ini adalah korelasi. Sampel diambil sebanyak 37 responden dengan accidental sampling, kemudian dilakukan analisis data menggunakan uji chi-square. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner kepatuhan diet dan WHOQOL-BREF. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikan p= 0,028 < 0,05 sehingga H0 ditolak. Artinya ada hubungan antara kepatuhan diet dan kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2. Hal ini menunjukkan tingkat kepatuhan diet dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 di RSUD Ratu Zaalecha Martapura.
Devi Rahmayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7; doi:10.20527/dk.v7i1.5677

Abstract:
ABSTRAKMasa remaja merupakan suatu periode dalam lingkaran kehidupan diantara masa anak-anak dan masa dewasa. Selama masa remaja awal, mulai timbul tingkah laku impulsif secara bertahap, tanpa kemampuan kognisi untuk memahami penyebab tingkah laku tersebut yang mengakibatkan remaja bertingkah laku. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku yang berisiko adalah faktor predisposisi lingkungan endogen seperti keadaan efektif mencari sensasi, agresifitas, perkembangan psikologik dan fisiologik yang tidak sinkron, kognisi, pemicu perkembangan selama remaja, jenis kelamin, efek hormon internalisasi keterlibatan teman sebaya, harga diri yang rendah, faktor lingkungan eksoden seperti faktor keluarga, kurangnya pengetahuan tentang konsekuensi tingkah laku, tingkah laku teman sebaya, transisi sekolah, penyangkalan sosial dan tidak berespon. Penelitian dilaksanakan pada salah satu SMA di Tambang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah 40 remaja pada daerah tambang Tanah Bumbu. Cross-sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor dengan efek, dengan cara pencekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approad) pemilihan sampel (sampling) dengan cara stratified random sampling. Variabel bebas atau independent penelitian adalah faktor-faktor lingkungan yang meliputi faktor keluarga, faktor perilaku teman sebaya, faktor transisi sekolah, dan faktro penyangkalan sosial. Variabel terikat atau dependent penelitian adalah tanda-tanda fisik perilaku berisiko. Uji korelasi spearman menunjukkan terdapat hubungan antara faktor keluarga dengan perilaku berisiko remaja tambang (sig. 0,02), faktor teman sebaya menunjukkan terdapat hubungan antara faktor teman sebaya dengan perilaku berisiko remaja tambang (sig. 0,00), faktor transisi sekolah menunjukkan terdapat hubungan antara faktor transsi sekolah dengan perilaku berisiko remaja tambang (sig. 0,08), sedangkan faktor penyangkalan sosial tidak menunjukkan adanya hubungan dengan perilaku berisiko reaja tambang (sig. 0.963). Analisis Multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor keluarga mempengaruhi perilaku berisiko remaja tambang dengan nilai signifikansi 0,031. Kata-kata kunci: Perilaku berisiko, Remaja, Faktor keluarga, Faktor teman sebaya, transisi sekolah, penyangkalan sosial. ABSTRACTAdolescence is a period in the circle of life between childhood and adulthood. During early adolescence, impulsive behavior begins to emerge gradually, without the ability of cognition to understand the causes of behavior that causes adolescents to behave. Factors that influence risky behavior are endogenous environmental predisposing factors such as effective conditions for sensation, aggressiveness, asynchronous psychological and physiological development, cognition, triggers for development during adolescence, gender, the effects of hormone internalisation of peer involvement, self-esteem low, exodent environmental factors such as family factors, lack of knowledge about behavioral consequences, peer behavior, school transition, social denial and not responding. The research was conducted in one of the high schools in the Mine. This study was an analytic observational study with a cross-sectional approach. The sample of this study was 40 teenagers in the Tanah Bumbu mining area. Cross-sectional is a study to study the dynamics of correlation between factors and effects, by way of sticking, observation or collecting data at one time (approad point time) selection of samples (sampling) by means of stratified random sampling. The independent or independent variables of the study are environmental factors which include family factors, peer behavior factors, school transition factors, and social denial factors. Dependent or dependent variables are physical signs of risky behavior. Spearman correlation test shows there is a relationship between family factors and risk behavior of juvenile mines (sig. 0.02), peer factors indicate there is a relationship between peer factors and risk behavior of juvenile mines (sig. 0.00), school transition factors indicate there are the relationship between school transition factors and risk behavior of juvenile mines (sig. 0.08), while social denial factors do not indicate a relationship with risky risk management behavior (sig. 0.963). Multivariate analysis using logistic regression tests showed that family factors influence the risk behavior of juvenile miners with a significance value of 0.031.Key words: Risk behavior, Adolescence, Family factors, Peer factors, school transition, social denial.
Krisna Yetti, Roro Tutik Sri Hariyati, Rona Cahyantari Merduati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 7; doi:10.20527/dk.v7i1.5993

Abstract:
Background: Someone who will die should be supported and accompanied spiritually for passing their end of life. The spiritual involvement is needed a convenient place since its support will transform a frightening moment to be a peaceful one. Purpose: the aim of the study was describes the convenient place to die peacefully using philosophical approach.Methods: This study used method of Actual Problem, it is a philosophy reflective study about the assumption of researcher that a patient with terminal illness wants to be accompanied by people who proper to deliver the prayers. In this study, problems in the place of die are directly exposed, then it is synthesized to solve a fundamental problem. Analysis and synthesis of unsatisfied place to die to be expected can solve the problem. Results: Hospice care is a program or facility which gives specific care for the patient in end of life. It can be said that hospice is a way of care based on philosophy about the end of life. Hospice can be a convenient place to die because there are its staff who will substitute the role of family, in case they experience physical and emotional burden. Conclusion: Hospice can be an alternative of convenient place for patient with dying process and its nursing care can make the process as peaceful as possible Keywords:Convenient Place, Dying Process, Hospice, Peaceful, Terminal illness
, Devi Rahmayantin, Emmelia Astika Fitri Damayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.4410

Abstract:
ABSTRAK Pemberian MP-ASI dini dipengaruhi oleh faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong. Umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan sikap merupakan faktor predisposisi. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi dengan perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini. Penelitian deskriptif korelasi menggunakan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 65 orang. Hasil penelitian menjelaskan sebagian besar responden berumur 20-35 tahun, tingkat pendidikan dasar, tidak bekerja, memiliki pengetahuan baik, memiliki sikap positif dan responden memberikan MP- ASI dini. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara faktor predisposisi pendidikan (p=0,000) dan tingkat pengetahuan (p=0,046) yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini dan tidak ada hubungan antara faktor predisposisi umur (p=0,155), pekerjaan (p=0,480) dan sikap (p=0,569) dengan perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini. Disarankan kepada masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap ASI eksklusif sehingga MP-ASI diberikan sesuai umur bayinya. Kata-kata kunci: faktor predisposisi, perilaku ibu, MP-ASI dini. ABSTRACTThe factors that influence of early giving food complementary of breast milk consist of predisposing factors, supporting factors and driving factors. Predisposing factors consist of age, education, occupation, knowledge and attitude. The purpose of this research was to know analyze predisposing factors influencing mother's in early giving food complementary of breast milk. Descriptive correlation research used cross sectional design. Sampling used purposive sampling technique amounted to 65 people. The results showed that most respondents were 20-35 years of age, primary education, unemployment, good knowledge, positive attitude and many respondents gave early breastfeeding. The result of the analysis showed that there was a correlation between education predisposing factor (p = 0.000) and knowledge level (p=0.046) that influenced mother behavior in early breastfeeding and no correlation between age predisposing factor (p=0.155), job (p=0,480) and attitudes (p=0.569) affecting mother's behavior in early breastfeeding. It was advisable to the community to provide support for exclusive breastfeeding so that MP-ASI was given according to the age of the baby. Keywords: early giving food complementary of breast milk, mother’s behavior, predisposing factors
, Dhian Ririn Lestari, Anggi Setyowati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.4412

Abstract:
Sebagian remaja mengalami permasalahan pada kualitas tidur yang disebabkan oleh tuntutan sosial seperti tuntutan akademik yang berkontribusi terhadap terjadinya stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres dengan kualitas tidur pada remaja SMP Darul Hijrah Puteri. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik secara cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 149 remaja diambil dengan teknik cluster random sampling pada tanggal 23 Desember 2017. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Educational Stress Scale for Adolescent (ESSA) untuk menilai stres dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran stres pada remaja SMP Darul Hijrah Puteri dengan nilai rata-rata sebesar 54,83 dan kualitas tidur dengan nilai rata-rata sebesar 8,26. Berdasarkan hasil kolerasi Spearman Rho’, tidak ada hubungan stres dengan kualitas tidur pada remaja SMP darul Hijrah Puteri (p=0,342, r=0,078). Kualitas tidur dipengaruhi oleh sejumlah faktor, sehingga faktor stres tidak dapat menjadi faktor tunggal penyebab permasalahan dalam kualitas tidur.
Endang Sri, Dyah Yuspitasari, Zainab Zainab
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.5557

Abstract:
AbstrakMunculnya berbagai gejala klinis pada pasien IMA (Infark Miokard Acut) seperti adanya nyeri dada saat beraktifitas, dispnea, letargi dan gangguan kebutuhan istirahat dan tidur menganggu kebutuhan istirahat dan tidur. Gangguan tidur yang dialami dapat meningkatkan hormon adrenalin yang menyebabkan perangsangan kerja jantung dan menyempitkan pembuluh darah dan dapat menstimulasi serangan jantung. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian serangan jantung pada pasien infark miokard akut di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan correlative study dengan tehnik accidental sampling terhadap 35 pasien di RSUD Ulin Banjarmasin. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas tidur diadopsi dari The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan untuk kejadian serangan jantung menggunakan observasi catatan pada rekam medis. Hasil penelitian ini, didapatkan hasil kualitas tidur baik 22,9%, kualitas tidur buruk 77,1%. Responden dengan serangan ulang 57,1% dan serangan awal 42,9%. Hasil analisis statistik dengan uji fisher exact didapatkan p-value 0,000, maka ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian serangan jantung pada pasien IMA RSUD Ulin Banjarmasin. Penting bagi perawat untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan istirahat pasien agar meningkatkan kualitas tidur pasien. Kata Kunci: Kualitas Tidur, Infark, Miokard AbstractThe various clinical symptoms among IMA patients (Infarct Myocard Acute) are chest pain during activity, dyspnea, lethargy and disruption of rest and sleep. These symptomps have impact on rest and sleep disturbance. Sleep disturbances increases adrenaline that stimulate of heart work, constrict blood vessels, and also heart attacks. The aim of this study was to determine the relationship between sleep quality and incidence of heart attacks among patients with infarct myocard acute at Ulin Hospital Banjarmasin. This study used correlative study with accidental sampling technique. Total sample was 35 patients in RSUD Ulin Banjarmasin. The instrument was used to measure the quality of sleep were adopted from The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and incidents of a heart attack was measured by record observations on the medical record. The results of this study showed that good sleep quality was 22.9%, poor sleep quality was 77.1%. Respondent with re-attack was 57.1% and initial attack was 42.9%. Statistical analysis with fisher exact test showed p-value was 0.000, hence there was correlation between sleep quality and incidence of heart attack among IMA patients at Ulin Hospital Banjarmasin. It is important for nurses to facilitate and conduct intervention in term of patients’ rest needs in order to improve sleep quality. Keywords: Sleep Quality, Heart Attack, Acute Miocard Infarct
, Devi Rahmayanti, Emmelia Astika
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.5556

Abstract:
ABSTRAKMasa remaja adalah masa pertumbuhan dan perkembangan dalam semua aspek. Permasalahan paling menonjol yang berkaitan dengan tumbuh kembang remaja yaitu permasalahan seputar kesehatan reproduksi. Untuk mengatasi masalah masalah tersebut pemerintah membuat suatu program bernama PIK-R yang merupakan suatu pelayanan dan konseling terkait Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMP tentang kesehatan reproduksi remaja berdasarkan keikutsertaan pada program PIK-R. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian komparatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 46 responden yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu 23 orang dalam kelompok PIK-R dan 23 orang kelompok bukan PIK-R. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner karakteristik responden, kuesioner pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, dan kuesioner sikap tentang kesehatan reproduksi. Teknik analisis data yang digunakan adalah Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMP tentang kesehatan reproduksi remaja berdasarkan keikutsertaan pada program PIK-R dengan p-value pengetahuan 0,372 dan p-value sikap 0,104. Kata- kata Kunci: Kesehatan Reproduksi Remaja, PIK-R, Pengetahuan, Sikap ABSTRACTAdolescence is a period of growth and development in all aspects. The most prominent problem related to teenage growth is the problem of reproductive health. To solve the problem, the government made a programme called PIK-R which is a service and counseling related to the KRR managed from, by, and for adolescents. This study aims to determine differences in the level of knowledge and attitude of junior high school students about adolescent reproductive health based on participation in PIK-R programme. This research used comparative research design with cross sectional approach. Sample counted 46 respondents. The sampling technique was accidental sampling. The instruments used was questionnaire of respondent characteristics, questionnaire knowledge about reproductive health, and questionnaire about reproductive health attitude. The results showed that there was no difference in the level of knowledge and attitude of junior high school students about adolescent reproductive health based on participation in PIK-R programme with p-value of knowledge 0,372 and p-value of attitude 0,104. Keywords: Adolescent reproductive health, Attitude, PIK-R, Knowledge
Agianto Agianto
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.5226

Abstract:
Background: The increasing of stroke prevalence is high year by year, and Indonesia is the number one for cause of mortality. After three months, stroke survivors require long-term care. A stroke is a lifelong change for both the stroke survivor and the family. Family caregiver is included in multidisciplinary that should provide the patients with stroke because of the unique demands on that population. There is lack of study about stroke care in Indonesia.Objective: to explore the role and function of family in care of patients with stroke in community, Indonesia.Method: A critical ethnography design used in this study to explore and critically analyze role and function of family in care of patients with stroke in community. There were 15 key informants (family caregivers) in this study using purposive sampling. Content analysis was used to answer the research question.Result: Daily care activity, spiritual activity, rehabilitation and offering medicine, decision maker, and financial support are the role and function of family in care of patients with stroke in community setting.Conclusion: Family caregivers are playing an important role in caring for their relatives who have suffered from strokes. They should work together with health workers to help the patient for enhancing the quality of life of patient.
, Khrisna Wisnusakti, Febrynia Febrynia
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.4963

Abstract:
Penderita gangguan jiwadi Provinsi Jawa Barat tercatat sebanyak 1.065.000 jiwa penderita atau 2,37% penduduk. Halusinasi menjadi salah satu gejala yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan jiwa skizofrenia. Pada skizofrenia, halusinasi pendengaran dan penglihatan adalah dua jenis halusinasi yang paling sering terjadi. Saat ini telah dikembangkan cara menghardik untuk mengontrol halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan pasien dalam melakukan tehnik menghardik pada saat halusinasi muncul di RSJ Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Partisipan ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian yang didapat yaitu pasien mampu mengungkapkan tentang halusinasinya baik dari isi, waktu, frekuensi, situasi dan perasaan saat halusinasinya muncul. Terdapat 3 tema yang didapatkan berkaitan dengan cara menghardik, yaitu pelaksanaan, lamanya, dan manfaat teknik menghardik. Diharapkan untuk perawat dapat mengevaluasi lebih lanjut tentang pandangan pasien dalam melakukan teknik menghardik dengan menggunakan metode penelitian lain dan perlu dipertimbangkan dengan menggunakan teknik lain.
, Tri Hartiti, Muhamad Rofi’I
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.5152

Abstract:
ABSTRAKKejadian flebitis yang tinggi mencerminkan rendahnya mutu pelayanan keperawatan dalam hal pencegahan dan pengendalian infeksi. Flebitis tinggi disebabkan oleh faktor biologis yaitu perawatan selama prosedur intravena. Kualitas perawatan selama prosedur intravena dipengaruhi oleh kemampuan supervisor ruangan dalam melaksanakan supervisi klinis. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh supervisi klinis Model Proctor terhadap kualitas perawatan selama prosedur intravena di RSUD Ulin Banjarmasin. Metode penelitian yang digunakan quasy experimental dengan desain penelitian pre-post test with control group dengan jumlah sampel 68 responden diambil dengan teknik sampel non probability sampling terbagi dalam kelompok intervensi dan kontrol. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah terdapat pengaruh supervisi klinis Model Proctor terhadap kualitas perawatan selama prosedur intravena dengan nilai p=< 0,000. Terdapat pengaruh supervisi klinis Model Proctor terhadap kualitas perawatan selama prosedur intravena di RSUD Ulin Banjarmasin. ABSTRACTHigh phlebitis events reflected low quality of nursing care in terms of infection prevention and control. High phlebitis caused by a biological factor of treatment during an intravenous procedure. The quality of care during intravenous procedures has influenced by the ability of the supervisor to perform clinical supervision. The purpose of this research is to know the influence of clinical supervision Proctor model on the quality of treatment during intravenous procedure at Ulin General Hospital Banjarmasin. The research method used quasy experimental with pre-post research design with control group with total sample 68 responden taken with sample technique non probability sampling divided into group of intervention and control. The results obtained in this study were the influence of clinical supervision of Proctor Model on the quality of care during intravenous procedure with p =
Dyci Marantika, Endang Pertiwiwati, Herry Setiawan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.4395

Abstract:
ABSTRAKSBAR merupakan teknik komunikasi antara tim kesehatan tentang kondisi pasien, terutama kondisi kritis yang membutuhkan tindakan segera, sedangkan Tulbakon merupakan proses verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan dengan cepat. Penerapan SBAR dan Tulbakon yang baik dapat meningkatkan keselamatan pasien. Mengetahui gambaran penerapan SBAR dan Tulbakon dalam komunikasi interdisipliner di RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian deskriptif pada 43 responden di ruang perawatan VIP Intan dan Assami RSUD Ratu Zalecha Martapura. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran penerapan SBAR secara keseluruhan menunjukan hasil kategori sangat baik 76,7% responden, kategori baik 21,0% responden, dan kategori cukup 2,3% responden. Gambaran penerapan Tulbakon secara keseluruhan menunjukan hasil kategori sangat baik 46,5% reposnden, kategori baik 41,9% responden dan kategori cukup 11,6% responden. Penerapan SBAR dan Tulbakon diyakini dapat meningkatkan keselamatan pasien. Ketaatan pada SPO sudah sangat baik dilakukan, akan tetapi sangat lebih baik lagi apabila semua perawat melaksanakan sesuai dengan SPO rumah sakit. Kata Kunci : SBAR, Tulbakon, komunikasi interdisipliner. ABSTRACTSBAR is a technique of communication among the medical team about the condition of patient, especially critical condition which needed a direct an action. Meanwhile Tulbakon is a verification process on the accuracy of oral communication quickly. The good implementation of SBAR and Tulbakon in interdisciplinary communication are able to increase the salvation of patient. To know the description of the application of SBAR and Tulbakon on the interdisciplinary communication at RSUD Ratu Zalecha Martapura. Description research of 43 respondents at VIP Intan ward and Assami wardat RSUD Ratu Zalecha Martapura. Based on the result of the research found the whole description of the application of SBAR shows that 76,7% respondents included in very good category, 21,0% respondents included in good category , and 2,3% respondents included in adequate category. The description of the whole application of Tulbakon shows that 46,5% respondents included in very good category, 41,9% respondents included in good category, and 11,6% respondents included in adequate category. The description of the application of SBAR and Tulbakon are believed both SBAR and Tulbakon can increase the salvation of patient. The loyalty on the SOP has been already used well, yet it would be better if all of the nurses apply its based on the SOP hospital. Keywords: SBAR, Tulbakon, communication interdisciplinary
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6; doi:10.20527/dk.v6i2.5555

Abstract:
ABSTRAKPertumbuhan penduduk lansia mengalami peningkatan cepat di Indonesia. Permasalahan kesehatan lansia pun meningkat. Sebagian besar lansia menginginkan untuk tinggal di rumah sendiri daripada di rumah perawatan atau panti sosial. Perawatan lansia di rumah berfokus pada peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan pencegahan disabilitas akibat penuaan. Tujuan kajian literatur iniadalah terkait penggunaan geronteknologi pada lansia di komunitas. Metode yang digunakan yaitu studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan geronteknologi dapat mengoptimalkan perawatan lansia yang tinggal di rumah.Geronteknologi merupakan istilah untuk bidang profesional yang mengombinasikan gerontologi dan teknologi. Banyak jenis geronteknologi yang dapat digunakan yaitu assistive technologies, telehealth / telecare / telemedicine / telemonitoring / telesurveillance, virtual reality dan gaming, social connectedness dan smart home. Perawat gerontik memainkan peran penting dalam menerapkan geronteknologi khususnya di Indonesia. Perawat harus kreatif dalam pelaksanaannya mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi. Modifikasi teknologi dengan peralatan yang mudah ditemukan dan murah dapat dikembangkan. Kata-kata kunci: geronteknologi, lansia, perawatan, rumah. ABSTRACTThe growth of the elderly population has experienced a rapid increase in Indonesia. Elderly health problems alsohaveexperienced increase. Most old people want to stay at home instead of at a nursing home or social institution. Elderly care at home focuses on improving quality of life, independence and prevention of disability due to aging. The purpose of this literature study is related to the use of gerontechnology in community-dwelling elderly. Literature study is conducted. The results of the thisstudy show that the use of gerontechnology can optimize the care of elderly who live at home. Gerontechnology is a term for professional fields that combine gerontology and technology. Many types of technology that can be used are assistive technologies, telehealth / telecare / telemedicine / telemonitoring / telesurveillance, virtual reality and gaming, social connectedness and smart home. Gerontological nurses play an important role in implementing gerontechnology especially in Indonesia. Nurses must be creative in their implementation due to the many challenges faced. Modification of technology with easy-to-find and inexpensive equipment can be developed. Keywords: gerontechnology, elderly, care, home.
Fitri Ayatul Azlina
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 49-56; doi:10.20527/dk.v6i1.5083

Abstract:
ABSTRAKAngka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Berbagai program yang telah dilakukan pemerintah berupaya untuk menurunkan AKI baik secara promotif maupun preventif selama kehamilan dan menjelang persalinan. Perawat berperan penting dalam upaya meminimalkan serta menurunkan AKI melalui berbagai metode salah satunya dengan pemanfaatan teknologi informasi. Tidak hanya perawat, ibu hamil harus berperan aktif dalam menemukan gejala dan faktor resiko selama kehamilan. Maternal Emergency Screening (MES) merupakan sebuah rencana rancangan teknologi informasi menggunakan sistem pakar yang dapat mempermudah ibu hamil dalam mengidentifikasi secara dini faktor resiko dalam kegawatdaruratan kehamilan serta mampu mengambil keputusan layaknya seorang pakar. Metode yang digunakan adalah literature review melalui pencarian berbagai refernsi yang berkaitan dengan topik yang diinginkan. Penggunaan Maternal Emergency Screening (MES) diharapkan memberikan peluang sebagai sistem skrining dini dalam menemukan resiko kegawadaruratan kehamilan serta membantu perawat untuk melakukan tindakan perawatan secara tepat dalam rangka menurunkan AKI.Kata-kata kunci : Maternal Emergency Screening (MES), sistem pakar, skrining.ABSTRACTMaternal mortality rate (MMR) in Indonesia is still high. Various programs that have been done by the government try to decrease the AKI both promotively and preventively during pregnancy and before childbirth. Nurses play an important role in efforts to minimize and reduce MMR through various methods one of them with the utilization of information technology. Not only nurses, pregnant women should play an active role in finding symptoms and risk factors during pregnancy. Maternal Emergency Screening (MES) is an information technology design using expert systems that can facilitate pregnant women in identifying early risk factors in emergency emergency and able to make decisions like an expert. The use of Maternal Emergency Screening (MES) provides an opportunity as an early screening system in finding risks of emergency pregnancy and helps nurses to take appropriate care measures in order to reduce MMR.Keywords : Maternal Emergency Screening (MES), expert system, screening.
Hammad Hammad, Khairir Rizani, Rinne Agisti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 27-33; doi:10.20527/dk.v6i1.4957

Abstract:
ABSTRAKKelelahan kerja perawat yang tidak dapat diatasi akan menimbulkan berbagaipermasalahan kerja yang fatal. Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan tingkat kelelahan perawat di ruang ICU RSD Idaman Banjarbaru dan RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian menggunakan rancangan penelitian komparatif. Populasi dalam penelitian ini perawat di ruang ICU RSD Idaman Banjarbaru sebanyak 15 orang dan perawat di ruang ICU Ratu Zalecha Martapura sebanyak 16 orang, yang diambil dengan teknik cluster sampling, data dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Terdapat perbedaan antara Tingkat kelelahan perawat di ICU RSD Idaman Banjarbaru dengan mayoritas ringan sedangkan RSUD Ratu Zalecha Martapura dengan mayoritas sedang dengan P Value 0.015. Penting bagi pihak manajemen rumah sakit untuk mengkaji kesesuaian jumlah perawat dan beban kerja sebagai cara meningkatkan pelayanan diruangan.Kata-kata Kunci : kelelahan perawat; kelelahan fisik; kelelahan psikologisABSTRACTFatigue of nurses that not resolved would cause various problems. This research aims to assess the comparative level of nurse fatigue in intensive care unit of idaman banjarbaru hospital and ratu zalecha martapura hospital. This research used comparative. The population of this research were nurses of ICU in Idaman Banjarbaru Hospital as many as 15 people and nurses of ICU Ratu Zalecha Martapura Hospital as many as 16 people, the data presented by cluster sampling; analyzed with the Mann-Whitney test. This study showed difference difference between level of fatigue of both hospital. The majority of nurses fatigue in ICU RSD Idaman Banjarbaru has light fatigue while the majority of nurses in ICU Ratu Zalecha Martapura had mild fatigue with P Value 0.015. Forhospital management must to assess the suitability of the number of nurses andworkloads to improve the service.Keywords : nurse fatigue; physical fatigue; psycological fatigue
Muhammad Al-Ihsan, Eka Santi, Anggi Setyowati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 63-70; doi:10.20527/dk.v6i1.5086

Abstract:
ABSTRAKHospitalisasi dapat menimbulkan respon kecemasan pada anak usia prasekolah. Dampak kecemasan pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang, proses penyembuhan, dan trauma. Terapi bermain origami merupakan salah satu intervensi yang dapat mengurangi kecemasan anak selama menjalani hospitalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi bermain origami terhadap kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani hospitalisasi di RSUD Idaman Banjarbaru. Metode pada penelitian ini bersifat quasi eksperimental dengan rancangan penelitian pretest posttest non equivalent control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dengan sampel 30 anak usia prasekolah yang terbagi atas 15 anak kelompok intervensi dan 15 anak kelompok kontrol. Pengukuran kecemasan anak usia prasekolah menggunakan Preschool Anxiety Scale. Hasil analisis data menggunakan uji non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test terdapat pengaruh terapi bermain origami terhadap kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani hospitalisasi di RSUD Idaman Banjarbaru(p-value 0,001).Kata-kata kunci: hospitalisasi, kecemasan, terapi bermain origami.ABSTARCTHospitalization can cause anxiety responses among preschool age children. Impact of children's anxiety when undergoing hospitalization may interfere with growth and development, healing process, and trauma. Origami therapy is one of the interventions to reduce anxiety among children during their hospitalization. The objective of this study was to measure the effectiveness of origami therapy on the anxiety among preschool children (3-6 years) during hospitalizatio Idaman Banjarbaru Public Hospital. The Method this study was quasi-experimental with nonequivalent pretest posttest control group design. The consecutive sampling technique was used in this study to select the samples of 30 preschool children, divided into 15 intervention group and 15 control group. Measurement of anxiety preschoolers using Preschool Anxiety Scale. The Results Analyzed using non-parametric test Wilcoxon Signed Rank Test, there was an effect of origami therapy on the anxiety preschool age children during Hospitalization at Idaman Banjarbaru Public Hospital (p-value 0.001).Keywords: anxiety, hospitalization, origami therapy.
Hartanti Wisnu Wardani, Rismia Agustina, Emmelia Astika Fitri Damayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 1-10; doi:10.20527/dk.v6i1.4946

Abstract:
ABSTRAKIbu hamil mengalami kecemasan pada akhir kehamilan khususnya kehamilan pertama (primigravida). Studi pendahuluan pada 10 orang ibu hamil primigravida trimester III menunjukan 9 ibu hamil mengalami kecemasan dan 10 ibu hamil menilai kualitas tidur yang dirasakan cukup buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester III di RSUD Idaman Banjarbaru. Metode penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 30 ibu hamil primigravida trimester III di RSUD Idaman Banjarbaru. Instrumen penelitian menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Pregnancy Related Anxiety Questionnaire-Revised 2 (PRAQ-R2). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman menyatakan bahwa tingkat kecemasan signifikan berhubungan dengan kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester III (p value=0,013, r=0,449). Tingkat kecemasan mempengaruhi kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester III. Semakin rendah tingkat kecemasan ibu hamil primigravida trimester III maka semakin baik kualitas tidurnya.Kata-kata kunci: kehamilan trimester III; kualitas tidur; primigravida; tingkat kecemasan.ABSTRACTThe pregnant women experienced anxiety at the end of pregnancy especially the first pregnancy (primigravidae). The previous of the study on 10 pregnant women in primigravidae trimester III showed 9 pregnant women experienced anxiety and all of the pregnant women appraised the quality of sleep was felt bad enough. The objective of the research was to know the correlation between the level of anxiety with the quality of sleep on the pregnant women in primigravidae trimester III at Idaman General Hospital Banjarbaru. The method of this research was the correlation research with cross sectional design on 30 pregnant women in primigravidae trimester III at Idaman General Hospital Banjarbaru. The instruments of the research were Pittsburgh Sleep Quality Index and Pregnancy Related Anxiety Questionnaire-Revised 2 (PRAQR2). The data analysis used correlation Spearman test. The analysis of correlation showed that the levelof anxiety was significant related to the quality of sleep primigravidae trimester III pregnant women (p value=0.013, r=0.449). The level of anxiety influenced the quality of sleep primigravidae trimester III pregnant women. The lower the level of anxiety is, the better the sleep quality of sleep gets.Keywords: level of anxiety; primigravidae; quality of sleep; the pregnancy of third trimester.
Endang Pertiwiwati, Alfianur Alfianur
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 57-62; doi:10.20527/dk.v6i1.5084

Abstract:
AbstrakKedudukan komite berada dalam struktur oleh peran fungsional rumah sakit yang tujuannya menghimpun,merumuskan,dan mengkomunikasikan pendapat dan ide- ide perawat sehingga memungkinkan penggunaan Tujuan penelitian menganalisis hubungan peran komite keperawatan terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin. Metode penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, Sampel dalam penelitian ini seluruh perawat yang bertugas di rawat Inap di rumah sakit umum daerah Ulin Banjarmasin Teknik sampel dengan metode Simple Random Sampling. jumlah sample ada 92 orang. Hasil penelitian Peran komite keperawatan dalam pelayanan keperawatan di RSUD ULIN Banjarmasin menunjukkan bahwa 79 responden atau 85,9% dikategorikan perannya optimal.,Mutu Pelayanan Keperawatan di rawat inap RSUD Banjarmasin sebanyak 70 responden atau 76,1%,dikategorikan baik. Hasil analisis hubungan optimalisasi peran komite keperawatan terhadap peningkatan mutu pelayana keperawatan di rumah sakit umum daerah ulin Banjarmasin(p value = 0,043 < 0.05 ). Optimalisasi peran komite keperawatan dapat mempengaruhi peningkatan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan mempertahankan kompetensi dan menerima segala tanggung jawab setiap tindakan dan keputusan yang telah dibuat.Kata - kata kunci : komite keperawatan, mutu pelayanan, peranAbstractThe position of the committee is in structure by the functional role of the organization whose purpose was to collected, formulated, and communicated the opinions and ideas of the nurse. The purpose of the study was to analyzed the optimization of the role of nursing committee toward the improvement of nursing service quality at the inpatient of Ulin Banjarmasin General Hospital. The research method was analytical descriptive with cross sectional approached. The samples in this research were all nurses who served in Inpatient at Ulin Banjarmasin general hospital. The sample technique using Simple Random Sampling method. the number of samples were 92 people. The result of this research is Role of nursing committee in nursing service in RSUD ULIN Banjarmasin shows that 79 respondent or 85,9% is categorized its role optimally. Quality of Nursing Service in RSUD Banjarmasin as many as 70 respondents or 76.1%, categorized well. Result of analysis of relationship of optimization of nursing committee role to improvement of quality of nursing service in ulin general hospital of Banjarmasin (p value = 0,043
Fatma Zulaikha, Enok Sureskiarti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 19-26; doi:10.20527/dk.v6i1.4949

Abstract:
ABSTRAK Perkembangan anak dapat ditinjau dari berbagai aspek yaitu fisik, mental, sosial dan emosi. Perkembangan emosi merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak pra sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status perkembangan anak terhadap perkembangan emosi anak usia 36-72 bulan di Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden berjumlah 138 anak usia 36-72 bulan di Kota Samarinda diambil secara purposive sampling dengan instrumen berupa lembar observasi KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) dan KMME (Kuesioner Masalah Mental Emosional). Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak dalam tahap perkembangan sesuai usia (81,9%) dan memiliki perkembangan emosi yang normal (84,8%). Hasil analisis uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,204, hal ini berarti bahwa ada hubungan yang positif antara status perkembangan anak terhadap perkembangan emosi anak usia 36-72 bulan di Kota Samarinda.Kata-kata kunci : anak; emosi; perkembangan.ABSTRACTChild development can be viewed from various aspect such as physical, mental, social and emotional. Emotional development is an important aspect in the pre school child development. This research aims to analyze the corellation between the children development status and children emotional development with aged 36-72 months in Samarinda city. this research used anaylitical method with cross sectional approach. The respondent of this research were 138 children aged 36-72 months in Samarinda, using purposive sampling with instrument in the form of observation sheet of KPSP and KMME. Research showed that majority of children were in developmental stage according to age 81.0% and have normal emotional development of 84.8%. The result of the analysis showed the value of corellation coefficient of 0.204 with significance value (2- tailed) of 0.017 > 0.05. This means that there was a weak corellation between the child's developmental status with the emotional development of children aged 36-72 months in Samarinda City. Keywords : children; development; emotional.
Ifa Hafifah, Noor Fithriyah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 11-18; doi:10.20527/dk.v6i1.4948

Abstract:
ABSTRAKPengalaman keluarga saat pengambilan keputusan pada pasien kritis bukan hal yang mudah. Ditemukan banyak masalah yang dialami keluarga saat pengambilan keputusan seperti masalah fisiologis, psikologis, spiritual, sosial, dan budaya. Masalah tersebut harus diatasi agar keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang terbaik untuk pasien dan keluarga. Tujuan penelitian mengungkap secara mendalam tentang pengalaman keluarga dalam pengambilan keputusan pada pasien kritis. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Penelitian dilakukan di ICU RSUD Ulin tanggal 20 Juli-6 Agustus 2017. Jumlah informan mencapai saturasi yaitu 7 orang keluarga. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam. Analisis data menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian ditemukan 6 tema yaitu diskusi dengan keluarga terkait perawatan pasien, informasi terkait tindakan yang akan dilakukan, kesembuhan pasien prioritas utama, lama perawatan pasien di ICU, pendanaan perawatan pasien, keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan kepada perawat dan tenaga kesehatan terkait kebutuhan pelayanan yang harus diberikan kepada keluarga sebelum pengambilan keputusan.Kata-kata kunci: ICU; paliatif; pengalaman keluarga; pengambilan keputusan.ABSTRACTFamily experience when making decisions in critical patients is not an easy thing. Found many problems experienced by the family when making decisions such as physiological, psychological, spiritual, social, and cultural issues. Those problems must be overcome and the resulting decision is the best decision for the patient and the patient's family. The aim of this research was to explore about family’s experiences in making decision in critical patients. The research design used qualitative research with descriptive phenomenology approach. This research have been done in ICU of Ulin Hospital on July 20 to August 6, 2017. The number of informants had reached saturation that was 7 informants family of critical patients in ICU. The techniques of data collection in this study has been used in-depth interviews. Data analysis used thematic analysis of Braun and Clarke. The Result found that 6 themes are discussions with family-related to patient care, information about the action to be taken, patient's cure a top priority, length of patient care, patient care funding, and family involvement in patient care. The Advice for nurses and health personnel are to provide all needs of services that must be given to the family before making decision.Keywords: decision making; family experience; ICU; palliative.
Apriani Apriani, Rismia Agustinah, Ifa Hafifah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 34-40; doi:10.20527/dk.v6i1.4969

Abstract:
ABSTRAKPengkajian nyeri pada pasien penurunan kesadaran yang tidak mampu mengekspresikan respon nyeri yang dialami secara verbal merupakan hal penting yang harus dicermati. CPOT merupakan instrumen untuk menilai nyeri pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal , sedangkan Wong Bekker merupakan pengkajian nyeri yang mudah dan cepat dalam memprediksi. Pengkajian nyeri yang sistematis pada pasien penurunan kesadaran akan menurunkan lamanya hari rawat serta menurunkan angka infeksi nasokomial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pengkajian nyeri menggunakan instrumen CPOT dan Wong Bekker pada pasien penurunan kesadaran di Ruang ICU RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian observasional analitik dengan cross sectional pada 31 responden di ruang ICU RSUD Ratu Zalecha Martapura dengan purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan September – Oktober 2017. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil CPOT lebih efektif yaitu 17,48 di bandingkan Wong Bekker 12,54. (P= 0,000 < 0,05) dengan uji mann whitney. Pengkajian nyeri dengan instrumen CPOT lebih unggul karena evaluasi nyeri didasarkan pada tanda-tanda perilaku dan indikator komprehensif. Rumah sakit dapat menggunakan pengkajian nyeri dengan instrument CPOT.Kata – kata Kunci : CPOT, Pengkajian Nyeri, Penurunan Kesadaran, Wong BekkerABSTRACTPain assessment of unconsciousness patiens who unable to show their pain respon verbally is an important thing to learn. CPOT is an instrument for scoring the pain of patients who couldn’t doing verbal communication, and Wong Bekker is an easier and faster instrument for pain scale prediction. A sistematic pain assessment on critical unconsciousness patients will reduce long of stay and Healthcare-Associated Infections number. Objective for this research were knowing the effectivity of pain assessment used CPOT and Wong Bekker on critical unconsciousness patients in ICU of Ratu Zalecha Hospital Martapura. Analytic observational experimental by cross sectional on 31 responden in ICU of Ratu Zalecha Martapura, used purposive sampling. This experiment in September up October 2017. Based on the experiment that the CPOT was more effective (17.48) than Wong Bekker (12,54). P Value < 0,05 by mann whitney test. Pain assessment used CPOT was better because pain evaluating based on comprehensive behave signs and indicators. Hospitals may doing pain assessmenet used CPOT.Keywords : CPOT, Pain Assesment, Unconciousness, Wong Bekker.
Syawalludin Rahman, Yeni Mulyani, Ichsan Rizany
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 6, pp 41-48; doi:10.20527/dk.v6i1.5081

Abstract:
ABSTRAKKepuasan pasien selama dirawat di suatu rumah sakit masih dalam kategori rendah. Rendahnya kepuasan pasien tersebut dipengaruhi beberapa faktor yang salah satunya adalah penjadwalan dinas perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penjadwalan dinas perawat dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin. Desain penelitian ini menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional dan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Responden penelitian berjumlah 92 orang. Waktu penelitian bulan Desember 2017 dan alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran penjadwalan dinas perawat rata-rata sebesar 37,29 mengarah ke rentang tinggi dan gambaran tingkat kepuasan pasien rata-rata sebesar 64,73 mengarah ke rentang rendah. Hasil analisis didapatkan adanya hubungan yang positif antara penjadwalan dinas perawat yang dipersepsikan pasien dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin. (P Value= 0,000). Saran penelitian ini diharapkan untuk kepala ruangan dan perawat agar bekerjasama dalam menentukan penjadwalan dinas yang baik dengan arahan manajer demi terciptanya pelayanan yang optimal untuk kepuasan pasien.Kata-kata kunci: Penjadwalan dinas perawat, Perawat, Tingkat kepuasan pasien, ABSTRACTPatient satisfaction during hospitalization is still in low category. The low patient satisfaction is influenced by several factors, one of which is the scheduling of nurse service. This study was made to know the correlation between scheduling of nurse service and patient satisfication level at RSUD Ulin Banjarmasin hospital. This research used correlation design with cross sectional approach and accidental sampling technique. Research respondents amounted to 92 people. December 2017 research period and measuring instruments used in the form of questionnaires. The result of the analysis shows that there is a positive relationship between scheduling of nurses service that is perceived by patient with patient satisfaction level in ward of RSUD Ulin Banjarmasin. (P Value = 0,000
Dewi Risma Nurmayanti, Agustine Ramie, Herawati Herawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 121-128; doi:10.20527/dk.v5i2.4109

Abstract:
ABSTRAKPemilihan metode kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah niat yang muncul dari sikap yang berdasarkan pada kepercayaan, aturan di masyarakat dan aturan pokok yang ada dalam lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepercayaan akseptor KB wanita dengan pemilihan metode kontrasepsi di Desa Lok Besar wilayah kerja Puskesmas Birayang Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden berjumlah 66 orang yang diambil secara simple random sampling dengan instrumen berupa kuesioner kepercayaan akseptor KB wanita dan ceklist pemilihan metode kontrasepsi. Penelitian menunjukan bahwa kepercayaan akseptor KB wanita yang positif sebanyak 48 orang (72,7%) dan kepercayaan akseptor KB wanita yang negatif sebanyak 18 orang (27,3%). Analisis data hasil penelitian ini menggunakan uji Fisher’s Exact Test didapatkan nilai p=1,000, α=0,10, yang berarti tidak ada hubungan antara kepercayaan akseptor KB wanita dengan pemilihan metode kontrasepsi di Desa Lok Besar wilayah kerja Puskesmas Birayang Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kepercayaan akseptor KB wanita tidak berhubungan dengan pemilihan metode kontrasepsi. Bagi akseptor KB wanita agar lebih meningkatkan kesadaran dalam hal menggunakan kontrasepsi, baik kontrasepsi MKJP ataupun Non-MKJP.Kata-kata kunci: Kepercayaan, Akseptor KB Wanita, Pemilihan Metode Kontrasepsi.ABSTRACTSelection of contraceptive method is influenced by several factors, one of which was the intention arising from the attitude based on the belief, the rules in society and the basic rules that exist in the environment. The purpose of this research was to know the relation of belief woman KB acceptor with the contraception method selection in Lok Besar Village work area of Puskesmas Birayang of Hulu Sungai Tengah Regency. This research used analytic observational method with cross sectional approach. Respondents amounted to 66 people taken by simple random sampling with instruments in the form of a questionnaire of women's KB acceptor trust and checklist of selection of contraceptive method. Research showed that positive female family planning acceptor acceptance was 48 people (72,7%) and negative woman acceptor acceptance is 18 people (27,3%). Data analysis result of this research using Fisher's Exact Test obtained p value = 1,000, α = 0,10, meaning there is not relation of belief of woman KB acceptor with selection of contraception method in Lok Besar Village work area of Puskesmas Birayang of Hulu Sungai Tengah Regency. The beliefs of female FP acceptors are not related to the choice of contraception methods. For female KB acceptor to increase awareness in contraception, either LTCM or Non-LTCM contraception.Keywords: Belief, Acceptors KB Women, Contraception Method Selection.
Stefani Andani, Eka Santi, Dhian Ririn Lestari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 137-144; doi:10.20527/dk.v5i2.4118

Abstract:
ABSTRAKPerkembangan anak pada usia 5-6 tahun dapat terjadi secara biologis, psikologis dan sosiologis. Perkembangan sosial emosional (keterampilan sosial dan masalah perilaku) anak usia 5-6 tahun dapat ditingkatkan dengan cara storytelling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh storytelling terhadap perkembangan sosial emosional (keterampilan sosial dan masalah perilaku) anak usia 5-6 tahun di PAUD Panenga Palangka Raya, menggunakan pre-experimental designs dengan one group pretest-posttest design. Responden berjumlah 14 orang yang diambil secara total sampling dengan instrumen yaitu Preschool and Kindergarten Behavior Scales (PKBS) dan instrumen storytelling. Analisis data menggunakan Wilcoxon Test didapatkan nilai p value 0,002 untuk keterampilan sosial dan p value 0,007 untuk masalah perilaku yang berarti (p
Noor Diani, Devi Rahmayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 101-106; doi:10.20527/dk.v5i2.4114

Abstract:
Abstrak Tuberkulosis (TBC) mengakibatkan penurunan asupan dan malabsorbsi nutrien serta metabolisme tubuh berubah sehingga terjadi massa otot dan lemak menurun akibat mekanisme malnutrisi dari energi protein. Malnutrisi pada TBC berpengaruh terhadap prognosis dan tingkat kematian. Peningkatan produksi IFNl- γ dan IL-6, TNF α menghambat dari aktivitas Lipo Protein Lipase (LPL) dijaringan lemak. Enzim LPL berperan dalam proses bersihan trigliserida. Peningkatan ini meningkatkan trigliserida sehingga proses sintesis lemak menurun dan proses lipolisis lemak meningkat di jaringan. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan trigliserida dan status gizi pada klien TBC. Metode penelitian ini korelasi analitik dengan pendekatan cross-sectional, sampel 25 orang, dengan uji korelasi Pearson-Product Moment. Hasil penelitian status gizi dibawah normal 56%, normal 40% dan kelebihan berat badan 4%. Kadar Trigliserida normal 84%, trigliserida tinggi 16%. Kesimpulan ada hubungan antara kadar trigliserida dan status gizi yakni r hitung sebesar 0,5: r tabel = 0,396 sehingga r hitung > r tabel dengan korelasi positif.Kata Kunci : Trigliserida, Status Gizi, Tuberkulosis.AbstractTuberculosis(TB) resulting the decreasing of nutrient intake and malabsorbsi as well as changing the metabolism of the body. The wasthing are decreased protein energy. Malnutrition on TB affects the prognosis of the treatment and death rates. The increase TNF α will inhibit the enzyme activity of Lipoprotein Lipase (LPL) in the fat tissue. LPL enzyme plays a role in cleavage process of triglycerides. This research was to analyze the relationship of triglycerides and nutrition status on the client with tuberculosis. The design was cross-sectional approach. The respondents were gathered from 25 newly TB patients. The analyzed using Pearson Product-Moment correlation. The results showed 56% respondents undernutrition, and normal 40% and over nutrition 4%. Most triglyceride level of the respondent were normal (84). The concluded was a relationship between triglycerides and the nutritional status with a positive correlation ( P value 0,396).Keywords : Triglycerides, Nutritional Status, Tuberculosis
Aloysia Ispriantari, Dian Pitaloka Priasmoro
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 115-120; doi:10.20527/dk.v5i2.4116

Abstract:
ABSTRAKDiabetes tipe 1 merupakan penyakit kronis yang paling banyak diderita oleh anak dan remaja di dunia. Remaja dengan diabetes tipe 1 membutuhkan manajemen diabetes yang lebih kompleks dibandingkan dengan anak-anak maupun dewasa. Penerimaan diri akan kondisinya pada remaja dengan diabetes tipe 1 sangat dibutuhkan agar kualitas hidup remaja tetap optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerimaan diri pada remaja dengan diabetes tipe 1. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua remaja berusia 10-19 tahun yang tergabung dalam IKADAR (Ikatan Diabetesi Anak dan Remaja) Kota Malang yang berjumlah 24 anak. Variabel yang diteliti adalah penerimaan diri yang diukur dengan menggunakan kuisioner Berger’s Self Scale Acceptance yang kemudian dianalisis univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil yang didapatkan adalah mean skor penerimaan diri remaja dengan diabetes tipe 1 sebesar 44,25 yang artinya memiliki penerimaan diri yang baik. Hal ini dipengaruhi oleh kematangan emosional, dukungan sosial yang baik dan lama menderita diabetes.Kata Kunci: Diabetes tipe 1, Remaja, Penerimaan DiriABSTRACTType 1diabetes is the most common chronic disease of children and adolescents in the world. Adolescents with type 1 diabetes require more complex diabetes management than children and adults. Acceptance of their condition is needed for optimum the quality of life. The purpose of this study was to describe self-acceptance in adolescents with type 1 diabetes.The method on this study was descriptive. The samples were all adolescents aged 10-19 years who joined IKADAR (Ikatan Diabetesi Anak dan Remaja) in Malang City, which were 24 children. The variable of this study was self-acceptance measured by Berger's Self Scale Acceptance questionnaire and then analyzed and presented in the form of frequency distribution and percentage. The results were mean score was 44.25 so it can be condludes that adolescents with type 1 diabetes has a good self-acceptance. It was influenced by emotional maturity, good social support and long suffering from diabetes.Keywords: Adolescents, Diabetes Type 1, Self-Acceptance
Senna Qobita Dwi Putri, Devi Rahmayanti, Noor Diani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 90-95; doi:10.20527/dk.v5i2.4112

Abstract:
ABSTRAKGout artritis merupakan penyakit peradangan pada persendian dimana dampak yang di timbulkan berupa nyeri. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, Kalimantan Selatan menempati urutan ke 17 penderita Gout artritis sebesar 9.5 %. Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres jahe terhadap intensitas nyeri gout artritis pada lansia di PSTW Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian Quasy Eksperimental dengan dua kelompok Pretes-postest yang terbagi kelompok perlakuan pemberian kompres jahe dan kelompok kontrol pemberian kompres hangat. Teknik Sampling menggunakan Probability Sampling dan jumlah sampel sebanyak 32 orang lansia. Instrument yang digunakan adalah Kompres jahe, Kompres hangat, dan Lembar Observasi Skala nyeri Numerik. Hasil Penelitian Menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian kompres jahe (P-value = 0,00), Sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak, dimana terdapat pengaruh pemberian kompres jahe terhadap intensitas nyeri gout artritis pada lansia di PSTW Budi Sejahtera Kalimantan Selatan.Kata-kata kunci: kompres jahe, intensitas nyeri, lansia.ABSTRACKGout artritis is a inflammatory disease where the impact caused form in the of pain. Based of information from the Riskesdas in 2013, south Kalimantan Ranks seventh gout arthritis sufferers 9.5%. the purpose of this study is to know the effect of ginger compress on the intensity of gout arthritis pain in elderly in PSTW Budi Sejahtera South Kalimantan. This research is an Quasy Eksperimental two goup pretest-postest The study was divided into treatment group of ginger compress and control group of warm compress. The sampling technique using probability sampling and sample 32 the number of older people. The instruments used were in the form of ginger compress, warm compress, and observational numeric rating scale. The results showed is a effect of ginger compress (P-value = 0,00), so it could be concluded that H0 was rejected, where there is effect of ginger compress on the intensity of gout arthritis pain in elderly in PSTW Budi Sejahtera South Kalimantan.Keywords : ginger compress, pain intensity, elderly
Dian Pitaloka Priasmoro, Aloysia Ispriantari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 96-100; doi:10.20527/dk.v5i2.4113

Abstract:
ABSTRAKPrediksi tingkat depresi pada remaja menunjukkan tidak depresi, yang dimungkinkan dipengaruhi oleh lama terdiagnosa, kunjungan rutin untuk berobat, penggunaan obat, dan lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi tingkat depresi pada remaja dengan IDDM di Ikatan Diabetesi Anak dan Remaja (IKADAR) Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampel total sampling pada 24 orang tua remaja usia 10-19 tahun di IKADAR Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2017. Instrumen yang digunakan Center for Epidemiological Studies Depression Scale for Children (CES-DC) yang memiliki 20 item dengan rentang nilai keseluruhan 0 – 60, dengan nilai cut point < 15 tidak depresi dan > 15 ada depresi. Sebelum instrumen digunakan untuk mengambil data dilakukan uji validitas dengan Product Momen Pearson Correlation dengan r hitung 1,00 > r tabel 0,549 dan reliabilitas Alpha Chronbach’s 0,911 > r tabel dengan df=(10-2). Sehingga disimpulkan instrument valid dan reliable. Setelah data terkumpul akan dilakukan pengolahan data dengan tahap editing, coding, tabulating dan analisis statistik. Hasil analisis univariat diasajikan dalam bentuk deskriptif. Hasil analisis menunjukkan mean empirik skor tingkat depresi 13,79 atau tidak depresi. Sehingga disarankan bagi remaja untuk terus mencari lingkungan yang adaptif sehingga dapat mencegah depresi.Kata Kunci: Depresi, Remaja, Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)ABSTRACTPredicted levels of depression in adolescents show no depression. Possible affected by long diagnoses, regular visits to treatment, drug use, and school environment. This study aims to predict depression rates in adolescents with IDDM in the Association of Child and Rehabilitation Diabetesi (IKADAR) Malang. This research uses descriptive method with sampling technique of total sampling in 24 parents aged 10-19 years old in IKADAR Malang. The study was conducted in June-July 2017. The instrument used was the Center for Epidemiological Studies Depression Scale for Children (CES-DC) which had 20 items with an overall value range of 0-60, with a cut-point value 15 depression. Before the instrument is used to retrieve the data tested the validity with Pearson Correlation Moment Product with r count 1.00> r table 0,549 and reliability Alpha Chronbach's 0.911> r table with df = (10-2). So concluded the instrument valid and reliable. After the data collected will be done data processing with the stage of editing, coding, tabulating and statistical analysis. The results of univariate analysis were presented in descriptive form. The analysis results showed the empirical mean score of depression level 13,79 or not depression. So it is advisable for adolescents to continue looking for an adaptive environment so as to prevent depression.Keywords: Depression, Adolescent, Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Winda Fitriani, Eka Santi, Devi Rahmayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 65-74; doi:10.20527/dk.v5i2.4107

Abstract:
ABSTRAK Kecemasan merupakan salah satu gangguan psikis yang dapat terjadi pada anak yang menjalani kemoterapi. Puzzle adalah salah satu bentuk permainan yang diduga mampu menurunkan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi menggunakan permainan puzzle terhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani kemoterapi di ruang Hematologi Onkologi Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental dengan One Group pre-post test design. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah 14 responden. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner kecemasan anak usia prasekolah yang di uji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menggunakan wilcoxon sign rank test didapatkan p-value 0,005 menunjukkan bahwa terapi bermain puzzle memberikan pengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani kemoterapi di ruang Hematologi Onkologi Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Terapi bermain menggunakan puzzle dapat disarankan sebagai salah satu terapi bermain untuk menurunkan tingkat kecemasan. Kata kunci: kecemasan, kemoterapi, puzzle, terapi bermain. ABSTRACT Anxiety was one of the psychological distress that can occur in children undergo chemotherapy. Puzzle is one of play form that allegedly could decrease anxiety levels in preschoolers. The purpose of this research was to know the effectiveness of puzzle play therapy on decreasing anxiety levels in preschoolers (3-6 years) undergo chemotherapy in Pediatric Hematology Oncology RSUD Ulin Banjarmasin. This study was a pre-experimental study with One Group pre-post test design. Sampling used consecutive sampling technique with 14 respondents. The instrument used an anxiety questionnaire of preschoolers that has been tested for validity and reliability. The result of research using wilcoxon sign rank test got p-value 0,005 showed that puzzle play therapy had an effect to decrease anxiety level in preschoolers undergo chemotherapy in Pediatric Hematology Oncology RSUD Ulin Banjarmasin. Play therapy using a puzzle can be suggested as one of the play therapy to decrease anxiety levels. Keywords: anxiety, chemotherapy, play therapy, puzzle.
Yunita Wahyu Wulansari, Yuyun Yueniwati Prabowowati Wadjib, Tony Suharsono
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 129-136; doi:10.20527/dk.v5i2.4117

Abstract:
ABSTRAKJumlah bystander RJP sebagai penolong pertama korban out of hospital cardiac arrest (OHCA) yang masih rendah menjadi sorotan di berbagai negara. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan pelatihan RJP di komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media pembelajaran dengan VAF (Video Animasi Fabel) terhadap pengetahuan tentang RJP. Penelitian ini menggunakan metode true eksperimental dengan rancangan randomized subject, pretest-posttest control group design pada 120 responden yang dibagi menjadi dua kelompok penelitian, yaitu kelompok eksperimen dengan media VAF dan kelompok kontrol dengan media modul yang diambil dengan tiga kali pengukuran. Lokasi penelitian di SDN Kampungdalem 3 dan 4 Kota Kediri. Hasil analisis menunjukkan pada kedua kelompok penelitian memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan (p = 0,000). Perbedaan yang signifikan (p < 0,05) antara kelompok VAF dan modul yaitu pada setelah dan satu minggu setelah pelatihan RJP. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan RJP dengan menggunakan media VAF lebih efektif daripada modul terhadap pengetahuan tentang RJP pada anak usia SD.Kata Kunci: modul, pelatihan RJP, video animasiABSTRACTThe number of bystander CPR as the first helper of out of hospital cardiac arrest (OHCA) is still low in various countries. The effort that can be done is by providing CPR training in the community. This study aims to analyze the influence of learning media with fabel animation video (VAF) to knowledge about CPR. This true experimental study with randomized subject, pretest-posttest control group design have been done on 120 respondents divided into 2 groups that is VAF and module with three times measurement in SDN Kampungdalem 3 and 4 Kota Kediri. The result of this study indicate that in both groups has a significant influence on knowledge (p = 0,000). Significant differences between VAF and module are on after and one week after CPR training. This suggest that CPR training using VAF provides more effective than module on CPR knowledge in children.Keywords: animation video, CPR training, module
Agianto Agianto, Herry Setiawan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 107-114; doi:10.20527/dk.v5i2.4115

Abstract:
ABSTRAKKematian dan morbiditas banyak disebabkan oleh stroke. Di ASEAN, stroke penyebab utama kematian keempat dan Indonesia nomor satu. Kalimantan Selatan merupakan empat besar untuk prevalensi di Indonesia. Pasien stroke memerlukan perawatan jangka panjang di rumah dan kualitas hidup mereka baik jika mendapat perawatan dan dukungan yang tepat dari caregiver. Sehingga kualitas hidup caregiver juga perlu diperhatikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui supportive care needs pada keluarga pasien stroke saat merawat di rumah. Penelitian deskriptif digunakan di klinik syaraf, dengan 112 responden dan menggunakan kuesioner. Analisa data adalah distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini supportive care needs pada caregivers di masyarakat berada pada tingkat sedang (100%, n = 112); Dengan domain emosional (27.11 ± 8,47), domain psikososial (26,84 ± 6,36), domain informasi (23,74 ± 4,20), domain praktek (16,3 ± 4,24), domain spiritual (6,43 ± 1,30), dan domain fisik (3,06 ± 1,17). Perawat di komunitas perlu memperbaiki kualitas dan sistem perawatan kesehatan untuk membantu caregiver dalam merawat pasien dengan perawatan jangka panjang.Kata-kata kunci: keluarga pasien stroke; komunitas; supportive care needs.ABSTRACTMortality and morbidity were caused by stroke. In ASEAN, stroke is the fourth leading and Indonesia is number one. South Kalimantan is the top four for high prevalence in Indonesia. Stroke patients require long-term care at their home and their quality of life will be good if they get the appropriate long-term care and support from caregivers. Quality of life of caregivers also need to be considered. The purpose of study was to determine the supportive care needs of stroke caregivers when take care at home. A descriptive study used at neurological clinic, with 112 caregivers, and using questionnaire. Data analysis used frequency distribution. The results showed that the supportive care needs among stroke caregivers in the community is at a moderate level (100%, n = 112); with emotional domain (27.11 ± 8.47), psychosocial domain (26.84 ± 6.36), informational domain (23.74 ± 4.20), practice domain (16.3 ± 4.24), spiritual domain (6.43 ± 1.30), and physical domain (3.06 ± 1.17). Nurses in the community need to improve the quality and the health care system to help stroke caregivers in taking care for long term. Keywords: community; stroke caregiver; supportive care needs
Siska Christianingsih, Titin Andri Wihastuti, Mukhamad Fathoni
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 75-82; doi:10.20527/dk.v5i2.4108

Abstract:
ABSTRAKCedera kepala masih menjadi masalah kesehatan yang mengakibatkan dampak serius bagi penderitanya, trauma menjadi penyebab utama terjadinya kematian diseluruh dunia. Penyebab paling umum yang memicu terjadinya cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Prevalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristik responden yaitu pada kelompok umur 15-24 tahun (11,7%). Minimnya kompetensi masyarakat dalam mencegah terjadinya cedera sekunder yang seringkali menyertai pasien dan justru menjadi penyebab utama terjadinya kematian. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelatihan penanganan pertama pada cedera kepala terhadap peningkatan pengetahuan pada siswa SMA Negeri 6 Malang. Metode dalam penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan rancangan non equivalent control groupdesign. Jumlah sampel sebanyak 52 responden dengan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Hasil analisis uji independent t test menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada variabel pengetahuan (0,017) antara sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan. Perlunya pelatihan pada masyarakat agar dapat mengenali kebutuhan dan memberikan perawatan awal yang tepat pada korban trauma akut dan memberikan informasi yang lebih akurat kepada ambulans.Kata Kunci : cedera kepala, pelatihan pertolongan pertama, siswa SMAABSTRACTHead injuries still a health problem that has serious consequences for the sufferer, where trauma is the leading cause of death. The most common cause is a motor vehicle accident. The highest prevalence of injury is in the age group 15-24 years (11.7%). The lack of community competence in preventing secondary injury that often accompanies the patient and is the main cause of death. This study aim to analyze the effect of head injuries first aid to increase knowledge in students of SMA Negeri 6 Malang. The method in this research was quasy experimental. The samples was 52 respondents using proportionate stratified random sampling technique. The result of independent t test showed that there was significant difference in knowledge variable (0,017). The need for training in common people to recognize the needs and provide appropriate early care to victims of acute trauma and can provide more accurate information to the ambulance.Keywords: head injuries, first aid training, high school students
Fatma Zulaikha, Laili Ramadhani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 5, pp 83-89; doi:10.20527/dk.v5i2.4111

Abstract:
ABSTRAKPenerapan ASI eksklusif dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengetahuan dan pendidikan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan ASI Eksklusif di Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan metode korelasional secara cross sectional dengan tehnik cluster sampling pada 62 ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan di wilayah Loa Bakung Samarinda. Penelitian dilakukan sejak April hingga Mei 2017 dengan kuesioner. Faktor- faktor yang diteliti meliputi pekerjaan Ibu, pendidikan, pengetahuan dan dukungan suami. Hasil analisis menunjukkan faktor yang berhubungan dengan penerapanASI eksklusif meliputi pengetahuan (p= 0,007
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top