Refine Search

New Search

Results in Journal Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan: 42

(searched for: journal_id:(4409034))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ani Roisatul Muna, Universitas Muhammadiyah Malang
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 4, pp 1-14; doi:10.29408/fhs.v4i1.2188

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya beberapa temuan mengenai ketidaksesuaian analisis buku siswa pada kurikulum 2013. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis materi buku siswa. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan agar sesuai dengan analisis yang telah dilakukan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan (library research). Sumber data yang digunakan penelitian ini berupa buku, jurnal, dan situs internet yang terkait dengan topik yang dipilih. Teknik pengumpulan data dengan identifikasi wacana dari buku-buku, jurnal dan informasi lainnya yang terkait. Selanjutnya dianalisis dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut. Dari hasil analisis buku siswa Sejarah Kebudayaan Islam, maka hasil yang diperoleh dari peneliti yaitu banyaknya keterampilan / maharah yang diberikan pada siswa tidak menjamin bagi peserta didik dalam memahami semua materi yang disajikan oleh guru, kemungkinan dengan memberikan hanya beberapa keterampilan saja, namun materi akan dikuasai dengan baik oleh peserta didik. Dengan begitu, meskipun ada banyak maupun sedikitnya keterampilan yang disajikan pada KD tidak mempengaruhi keterampilan pada peserta didik. DOI: 10.29408/fhs.v4i1.2188
Atika Rahmania Putri, Universitas Pgri Palembang, Kabib Sholeh, Sukardi Sukardi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 4, pp 48-59; doi:10.29408/fhs.v4i1.2439

Abstract:
Sejarah toponim pada suatu wilayah sangat penting untuk diketahui dan dipelajari oleh siswa-siswi sebagai pembalajaran sejarah kelokalan. Untuk saat ini sejarah toponim wilayah kota Lahat belum banyak diketahui nilai-nilai sejarah yang terkandung pada tempat tersebut terutama bagi masyarakat luas, padahal kota Lahat merupakan wilayah yeng menyimpan nilai-nilai sejarah dalam perjalanannya hingga seperti sekarang ini. Pada sisi lain nilai sejarah toponim ini juga dapat dijadikan sumber pembalajaran sejarah yang menarik. Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganlsis nilai-nilai sejarah toponim wilayah kota Lahat. Metode yang digunakan adalah metode sejarah (historis), mulai dari heuristic atau pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, studi Pustaka. Langkah kedua adalah ferivikasi data, Teknik analisis datanya menggunakan interpretasi sejarah atau penafsiran sejara. Langkah terakhir adalah historiografi atau penulisan sejarah. Hasil penelitian adalah terdapat toponim wilayah yang mengandung nilai-nilai sejarah penting bagi kota Lahat seperti toponim Jl.Balai Yasa Kreta Api, Pasar Belande, Terowongan Gajah dan lain sebagainya. Pada toponim wilayah tersebut mengandung nilai-nilai sejarah seperti nilai perkembangan ekonomi kota lahat, nilai kemajuan tekhnologi dan nilai lainnya. Nilai-nilai sejarah toponim kabupaten kota Lahat dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah. DOI: 10.29408/fhs.v4i1.2439
Nurhajjah Nurhajjah, Universitas Hamzanwadi, Badarudin Badarudin, B Fitri Rahmawati
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 4, pp 14-23; doi:10.29408/fhs.v4i1.2254

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru sejarah tentang eksistensi museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai sumber dan media pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriftif. Penelitian ini berfokus pada persepsi guru sejarah tentang keberadaan museum Negeri Nusa Tenggara Barat dalam pembelajaran sejarah di Madrasah Aliyah Kecamatan Aikmel. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Teknik triangulasi sumber dan metode peneliti gunakan untuk menguji keabsahan data. Analisis data dapat dilakukan dengan cara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas. Hasil dari penelitian ini adalah Eksistensi Museum Negeri NTB dapat memberikan manfaat sebagai sumber dan media dalam pembelajaran sejarah. Terdapat beragam manfaat yang diperoleh dalam pembelajaran sejarah ketika memanfaatkan museum sebagai sumber dan media pembelajaran yaitu: 1) siswa memiliki pengalaman yang konkrit dalam belajar sejarah, karena museum memiliki koleksi mengenai bukti-bukti dari peristiwa sejarah yang dipelajari. Hal ini dapat memberikan hasil belajar yang lebih bermakna; 2) guru memiliki referensi tambahan dalam membelajarkan sejarah, sehingga dapat melengkapi kekurangan sumber pembelajaran; 3) guru dapat menerapkan metode karya wisata sebagai alternatif untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bervariasi; 4) siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar sejarah; 5) menghilangkan rasa bosan dalam belajar sejarah. DOI: 10.29408/fhs.v4i1.2254
Mira Bella, Universitas Pgri Palembang, Sukardi Sukardi, Kabib Sholeh
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 4, pp 34-47; doi:10.29408/fhs.v4i1.2433

Abstract:
Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia sehingga kehidupan masa kuno hingga masa sekarang ini telah meninggalkan berbagai peninggalan dan bukti sejarah terutama peninggalan-peninggalan masa kolonial Belanda di komplek Pertamina Plaju Palembang. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sebenarnya secara tidak langsung banyak masyarakat mengetahui tetapi sayangnya nilai-nilai sejarah yang terkandung pada peninggalan tersebut tidak banyak yang tahu sehingga hanya sebagai benda atau bangunan peninggalan sejarah yang dianggap biasah saja dan kurang diminati atau dimanfaatkan. Padahal nilai-nilai sejarah peninggalan masa Kolonial tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah yang menarik dan penting untuk dipelajari. Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai sejarah peninggalan masa Kolonial di Komplek Pertamina Plaju Palembang sebagai sumber pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, dimana diawali mulai dari Heuristik atau proses pengumpulan data lapangan dan studi pustaka, kedua verifikasi data, ketiga Interpretasi sejarah atau teknik menganalisis atau penafsiran sejarah yang terakhir adalah Historiografi atau proses penulisan sejarah itu sendiri. Hasil penelitian ini adalah temuan peninggalan-peninggalan sejarah masa kolonial di komplek Pertamina Plaju adalah bagunan gedung olahraga SMA Patra Mandiri, saluran air terdiri dua tingkat, bangunan rumah arsitektur Eropa, bangunan rumah sakit dan temuan lainnya. pada peninggalan tersebut tentu mengandung nilai-nilai sejarah penting sehingga menarik untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah. DOI: 10.29408/fhs.v4i1.2433
Abdul Hafiz, Universitas Hamzanwadi, Zidni Zidni, Muhammad Shulhan Hadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 4, pp 24-33; doi:10.29408/fhs.v4i1.2312

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sejarah pandangan Tan Malaka dan Soekarno (2) mengetahui makna dari pandangan Tan Malaka dengan Soeakrno dalam persepektif kemerdekaan Indonesia (3) mengetahui pandangan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir mengenai pandangan Tan Malaka. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif, karena data yang akan diperoleh di lapangan lebih banyak bersifat informasi atas keterangan-keterangan. Penelitian kualitatif atau penelitian naturalistik sebagaimana pendapat menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik bahwa data dinyatakan dalam keadaan yang sewajarnya atau sebagaimana adanya (natural seting) dengan tidak merubah kedalam bentuk simbol atau bilangan. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah adalah sekumpulan prinsip dan aturan yang sistematis, yang dimaksudkan untuk memberikan bantuan yang efektif dalam mengumpulkan sumber, kemudian menyajikan sebagai suatu sintesis biasanya dalam bentuk tertulis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pandangan Tan Malaka tentang kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari kerja keras masayrakat Indonesia karena tanpa mereka Indonesia tidak akan mendapatkan kemerdekaan 100%, sedangkan pandangan Soekarno mengenai kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari kerja keras dari Soekarno sendiri dan campur tangan dari Jepang yang ikut serta membantu dalam mengalahkan sekutu. Selain perbedaan pandangan tersebut, Tan Malaka juga berpendapat pada tanggal 17Agustus 1945 itu Indonesia belum merdeka sepenuhnya. DOI: 10.29408/fhs.v4i1.2312
, Universitas Hamzanwadi, Muhammad Shulhan Hadi, Abdul Hafiz
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 66-72; doi:10.29408/fhs.v3i2.1899

Abstract:
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk (1). Sejarah berkembangnya perekebunan kopi di Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur (2). Mengetahui perubahan sosial ekonomi masyarakat petani kopi di Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, metode sejarah yaitu usaha untuk menetapkan fakta dan mencari kesimpulan mengenai hal-hal yang telah dilakukan secara sistimatis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masa lalu tersebut (Kuntowijoyo, 2003:1). Hasil Penelitian, tanaman kopi dibawa dari Provinsi Bali oleh salah seorang Kepala Dusun yang ada di Desa Jurit Baru sekitar tahun 1990-an, yaitu Amaq Sodah, Amaq Sodah pergi ke Provinsi Bali dalam rangka pelatihan, sepulangnya dari Provinsi Bali Amaq Sodah membawa bibit kopi dan memperkenalkannya kepada masyarakat yang ada di Desa Jurit Baru. Dengan adanya perkebunan kopi tentu akan membutuhkan cukup banyak tenaga kerja, ini artinya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Jurit Baru, sehingga dapat mengurangi pengangguran. Peningkatan penyerapan angkatan kerja akan berdampak pada peningkatan prekonomian masyarakat, sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan.
, Universitas Negeri Yogyakarta,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 11-22; doi:10.29408/fhs.v3i1.667

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses masuk dan persebaran peninggalan kebudayaan Proto-Deutero Melayu di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah sebagai berikut: (1) heuristik, (2) kritik sumber, (3) interpretasi, (4) historiografi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: (1) Proto-Melayu berlayar dan menetap di Indonesia sekitar 3000 SM melalui dua jalur yaitu: Jalur barat dari Yunan melalui Selat Malaka kemudian masuk ke Pulau Sumatra dan masuk ke Pulau Jawa. Jalan utara (timur) yaitu dari Yunan berpindah melalui Formosa kemudian masuk ke Filipina dilanjutkan penyeberang ke Pulau Sulawesi dan masuk ke Pulau Papua, sedangkan Deutero-Melayu masuk ke wilayah Indonesia tahun 200 SM melalui jalur Barat yaitu dari Yunan lalu Vietnam, Malaysia, hingga akhirnya tiba di Indonesia, (2) Proses Persebaran Budaya Proto-Melayu di Indonesia dengan bertempat tinggal menetap, bersawah atau menanam padi, berternak, bermasyarakat, berperahu cadik, membuat kain dari kulit kayu, menggembangkan gaya seni tertentu dan membawa kebudayaan batu muda (Neolitikum) berupa gerabah, beliung persegi, kapak lonjong dan tembikar. Sedangkan peninggalan kebudayaan Deutero-Melayu di Indonesia terbuat dari perunggu dan logam, yaitu kapak corong, nekara, perhiasan dan manik-manik. Perhiasan dan manik-manik inilah yang nantinya semakin memperjelas status sosial yang berkembang di masyarakat Nusantara. Kata kunci: Proto-Melayu, Deutero-Melayu, Kebudayaan
, Universitas Hamzanwadi, Andi Sulastri, Lalu Murdi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 109-117; doi:10.29408/fhs.v3i2.2147

Abstract:
Penelitian bertujuan menghasilkan metode Pembelajaran Sejarah berbasis Budaya Maritim untuk siswa SMA. Produk ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Kelautan. Penelilitian ini adalah penelitian pengembangan. Langkah penelitian pengembangan meliputi : 1) studi pendahuluan; 2) pengembangan desain metode dan bahan ajar, 3) Validasi Produk. Penelitian menghasilkan produk bahan Ajar Sejarah berbasis Budaya Maritim. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Rambu-rambu dalam analisis data hingga menghasilkan kesimpulan merujuk metode Huberman yakni kegiatan reduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa SMA Kota Selong mengalami kesulitan menjelaskan materi ajar Sejarah yang berhubungan dengan Sejarah dan budaya maritim. Guru belum mampu menyampaikan materi ajar secara integral antara materi Sejarah dengan dunia kemaritiman Indonesia termasuk dengan budaya maritim Pulau Lombok. Kondisi ini berpengaruh pada rendahnya wawasan siswa terhadap budaya maritim yang berdampak pada rendahnya minat kebaharian siswa pada hal Indonesia dan Pulau Lombok adalah wilayah maritim yang sangat potensial dalam bidang perdagangan, pariwisata dan perikanan.Bahan ajar Sejarah yang berbasis Budaya maritim belum ada di sekolah sehingga Guru dan siswa mengharapkan adanya Metode pembelajaran dan bahan ajar Sejarah berbasis Budaya Maritim. Penelitian ini menghasilkan Metode pembelajaran dan bahan ajar Sejarah berbasis budaya Maritim dan menunjukkan metode pembelajaran dan bahan ajar yang dirancang tergolong sangat baik dan relevan dalam pembelajaran sejarah.
Arif Al Anang, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 98-108; doi:10.29408/fhs.v3i2.2129

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui periodisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan teknik analisis deskriptif yang didukung dengan analisis kesejarahan. Pendekatan sejarah lebih mengutamakan orientasi pemahaman atau penafsiran terhadap fakta sejarah. Temuan dari penelitian ini adalah bahwasanya pada perkembangan ilmu pengetahuan di masa modern ini, ilmu pengetahuan menjadi lebih saling terhubung satu sama lain. Hal ini disebut sebagai integasi interkoneksi ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana al-Qur’an sebagai pusat integrasinya, dan kemudian Hadits. DOI: 10.29408/fhs.v3i2.2129
, Universitas Pendidikan Indonesia
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 73-87; doi:10.29408/fhs.v3i2.2059

Abstract:
Pada masa Hindia Belanda sudah ada beberapa komunitas Tionghoa-Kristiani yang ditandai dengan adanya Gereja Tionghoa. Masa Demokrasi Liberal perkembangan Umat Tionghoa-Kristiani mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah terkait masalah identitas keagamaan bagi Masyarakat Keturunan. Pasca kejatuhan Demokrasi Terpimpin dengan lahirnya Orde Baru, perkembangan Umat Tionghoa-Kristiani meningkat tajam. Politik yang dilakukan Masa Orde Baru yakni ‘’politik asimilasi’’ dengan berusaha menghilangkan unsur kebudayaan pada masyarakat tertentu. Hal tersebut ditandai dengan kebijakan Pemerintah Orde Baru yang melarang adanya praktik Ajaran Konfusianisme bagi Masyarakat Keturunan Tionghoa karena dianggap sebagai bentuk propaganda Komunisme Tiongkok. Selama Mas Orde Baru Keturunan Tionghoa melakukan konversi keagamaan secara besar-besaran. Dampak lain yang ditimbulkan bagi Masyarakat Keturunan adalah perubahan nama dengan berunsurkan nama layaknya orang Indonesia pada umumnya. Penelitian ini melahirkan rumusan masalah yakni 1) bagaimana awal perkembangan sosial Masyarakat Keturunan Tionghoa?, 2) bagaimana respon Masyarakat Tionghoa Indonesia terhadap kebijakan Pemerintah Masa Soekarno dan Soeharto?, 3) bagaimana upaya rekonsiliasi dalam upaya melestarikan kembali nilai-nilai budaya dan filosofis bagi masayarakat Keturunan Tionghoa?.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 88-97; doi:10.29408/fhs.v3i2.2120

Abstract:
Artikel ini memfokuskan pada kegiatan perdagangan dan pelayaran orang-orang Asia Tenggara di Makassar. Makassar adalah salah satu kota pelabuhan yang jadikan sebagai pusat perdagangan maritim di kawasan timur Indonesia yang telah berkembang menjadi zona perdagangan di abad ke-14. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan antar pulau sudah mulai sejak beberapa abad sebelumnya. Artikel ini membahas tentang kegiatan perdagangan dan pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Asia Tenggara dalam tatanan perubahan kondisi sosial-ekonomi dalam masyarakat pelaut orang-orang Asia Tenggara di Makasssar. Penelitian ini merupakan studi sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mencari referensi melalui buku dan ditelaah pustaka lainnya. Data yang didapatkan kemudian di olah sedemikian rupa dengan menggunakan metode sejarah yaitu herustik, kritik, interprestasi dan historiografi. DOI: 10.29408/fhs.v3i2.2120
B. Fitri Rahmawati, Universitas Hamzanwadi,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 1-10; doi:10.29408/fhs.v3i1.1844

Abstract:
Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dibelajarkan secara terintegarasi di tingkat SMP. Pembelajaran terintegrasi ini menimbulkan persoalan tersendiri dalam pembelajaran IPS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran IPS. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Informan yang digunakan adalah guru-guru dan siswa dari tujuh sekolah SMP/MTs. Metode pengumpulan data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diidentifikasi empat permasalahan yakni perilaku disruptif siswa, kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran, guru kurang memahami materi di luar bidang ilmunya serta metode pembelajaran yang kurang variatif. Perilaku disruptif siswa yang teridentifikasi adalah berkeliaran dan bermain-main ketika pembelajaran berlangsung, susah diatur, tidak mengerjakan tugas yang diberikan, membuat keributan di dalam kelas, tidak memperhatikan, dan mengantuk. Sedangkan sarana-dan prasarana pembelajaran yang dianggap masih kurang adalah buku dan media pembelajaran. Guru juga merasa kesulitan dalam memahami materi pelajaran di luar bidangnya dan metode pembelajaran yang digunakan kurang variatif karena lebih banyak menggunakan metode ceramah.
, Universitas Sriwijaya, Farida Farida, Aulia Novemy Dhita Sbk
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 51-65; doi:10.29408/fhs.v3i1.1684

Abstract:
Persatuan Guru Republik Indonesia atau disingkat PGRI merupakan wadah organisasi yang menampung semua guru di Indonesia. PGRI memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam perbaikan kualitas guru di Indonesia. PGRI juga berperan aktif dalam pembangunan pendidikan dengan adanya universitas atau sekolah yang dikelola oleh PGRI. PGRI juga berperan dalam perlawanan guru-guru dalam kemerdekaan Indonesia. Selain itu perjuangan PGRI tidak terlepas dari dinamika setiap masa di Indonesia antara lain; masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi sampai sekarang. Dalam sejarah berdirinya PGRI sampai sekarang tidak terlepas dari tantangan dan hambatan yang muncul dari factor internal maupun eksternal. Pada masa orde lama menuju orde baru, muncul konflik didalam organisasi PGRI, yaitu dimana diakibatkan oleh oleh ikut campurnya PKI yang menyebabkan dualisme organisasi dan kepemimpinan. Dimana PKI membentuk sebuah organisasi serupa dengan PGRI, akan tetapi bermuatan paham komunis. Upaya PKI ini merupakan cara agar PGRI runtuh dan digantikan organisasi guru yang berafiliasi dengan PKI. Perseteruan ini muncul dalam kongres-kongres PGRI. Upaya yang dilakukan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI adalah mengganggu semua kegiatan yang dilakukan PGRI. Basis-basis kekuatan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI terdapat di beberapa daerah di pulau Jawa, sedangkan untuk diluar wilayah jawa dukungan untuk kelompok-kelompok ini sangat kecil, bahkan tidak ada. Setelah munculnya pemberontakan PKI yang gagal pada saat itu, berakhir juga kelompok-kelompok tersebut dalam menggangu kegiatan organisasi PGRI. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana PGRI mengokohkan kekuatan organisasinya dalam mempertahankan ideologi organisasi yang berlandaskan Pancasila dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh PKI dalam upayanya untuk menggangu kesetabilan oraganisasi PGRI. Tujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamika perseteruan antara PKI dengan PGRI. Fase ini ditandai dengan bermunculan sekelompo orang yang berafiliasi dengan PKI dan berupaya membuat seluruh kegiatan PGRI terhambat dan 2) menjelaskan bagaimana berakhirnya perseteruan tersebut. Ada dua kesimpulan penting dalam tulisan ini yaitu: 1)Oranisasi PGRI sejak dibentuk memiliki dasar Ideologi Pancasila yang kokoh dan berhasil bertahan dari upay-upaya pembubaran organisasi tersebut; 2)PGRI merupakan wadah untuk para guru dalam memperjuangkan kesejahteraan guru. Metodologi yang digunakan adalah kajian literature dengan mengkaji berbagai referensi terkait gerakan guru di Indonesia dan kongres-kongres PGRI. Hal penting yang harus dilakukan oleh PGRI dalam mengkokohkan organisasi adalah memperkuat ideologi pancasila dan memperjuangkan kesejahteraan guru .Dalam pengambilan data penelitian ini, penulis mengambil dari beberapa sumber-sumber tertulis, dengan metode kualitatif.
, Universitas Sriwijaya, Hudaidah Hudaidah, Alian Sair
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 33-50; doi:10.29408/fhs.v3i1.1374

Abstract:
Penelitian ini mengungkapkan perkembangan agama Islam di Desa Tanjung Sari yang diawali dengan adanya kolonialisasi Belanda yang mentransmigrankan orang-orang dari Jawa ke Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 15 Maret 2019 hingga 20 April 2019 di Desa Tanjung Sari menggunakan metodelogi penelitian sejarah dengan proses pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini mendapatkan hasil tentang dinamika internal hubungan umat Islam di daerah transmigran yang menunjukkan dua pola perkembangan hubungan, yaitu Hubungan antara agama dengan tradisi lokal dan hubungan antara agama dengan pemikiran keagamaan. Sehingga hubungan antara agama dan budaya dapat digunakan sebagai strategi dalam upaya mengembangkan agama internal di Desa Tanjung Sari dan terdapat naskah tauhid yang dijadikan pedoman untuk pengajaran agama Islam sehingga pola fikir keagamaan masyarakat di Desa Tajung Sari mengalami perkembangan. DOI: 10.29408/fhs.v3i1.1374
, Universitas Hamzanwadi, Bambang Eka Saputra
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 23-32; doi:10.29408/fhs.v3i1.1893

Abstract:
This study aims to analyze the importance of media in the history of learning that not only uses digital in accordance with current developments with era 4.0, but also how a teacher is able to bridge the past by presenting artifacts, relics, images, even miniatures of the past for easier understood. The existence of a laboratory or museum in this case can be a direct bridge to connect what they have learned with their empirical reality in the past. This research uses a qualitative approach with a phenomenological method with several methods of data collection ranging from interviews, observations, document studies and documentation. The results showed that students involved as totor who were assigned to explain each period with some media available at the Hamzanwadi University history education laboratory showed many developments starting from the ability to understand the historical context at a certain period and their ability to explain to the public or students who normally visit the laboratory. One interesting approach that Hamzanwadi University's history education program has tried to develop in recent years is to make students as tutors to explain to students who visit the history education laboratory. Students who are assigned are randomized every semester in turn, so that each of them truly understands each historical object as assigned.
, Universitas Negeri Makassar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 169-182; doi:10.29408/fhs.v2i2.1422

Abstract:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Fungsi dari di laksanakannya mattampung di Desa Harapan selain meneruskan kebiasaan orang tua terdahulu, mattampung juga berfungsi sebagai penanda untuk generasi-generasi berikutnya dalam menegenali anak saudara atau keluarga yang telah lebih dahulu meninggal. (2) mattampung massal dilaksanakan satu kali dalam satu tahun setiap bulan oktober.setelah adanya keputusan dari dewan adat yang didapatkan melalui proses musyawarah.mattampung massal dilaksanakan dengan mempersiapkan ayam kampong daun sirih dan buah pinang,ayam sebanyak tiga ekor akan di bacakan doa kemuadia di berikan kepada ketua adat dan dibawa ke makam orang yang telah meninggal sebagai makanan orang yang telah meninggal karena masyarakat mempercayai ketika orang yang telah meninggal belum ditampung maka masih bisa makan layaknya orang yang masih hidup. (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan mattampung dalam segi social adalah nilai gotong royong,nilai kearifan atau kebersamaan dan nilai silaturahmi. Sedangkan dalam segi ekonomi masyarakat sangat terbantu dengan adanya mattampung massal. DOI: 10.29408/fhs.v2i2.1422
, Universitas Hamzanwadi, , Bambang Eka Saputra
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 142-154; doi:10.29408/fhs.v2i2.1372

Abstract:
Pembelajaran konvensional dianggap sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan masyarakat. Selama ini masih banyak ditemukan guru menggunakan metode yang kurang tepat seperti model pembelajaran konvensional, pembelajaran didominasi oleh guru. Metode pembelajaran yang digunakan cenderung monoton dan berpusat pada guru seperti penggunaan metode ceramah dan mencatat yang tentunya tidak bisa melibatkan siswa secara utuh sehingga menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan. Kondisi tersebut dapat membuat peserta didik menjadi pasif dan proses belajar yang diharapkan tidak akan terjadi. Ketika proses belajar tidak terjadi, maka tidak akan didapatkan hasil pembelajaran seperti yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan suatu metode yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat mengkonstruksi makna peristiwa sejarah yang dipelajarinya untuk kemudian dapat dihubungkan dengan kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Model pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah Kelas X MA NW Lenek Lauq. Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan True Eksperimental Design. Sampel penelitian adalah siswa kelas X MA NW Lenek Lauq. 30 siswa sebagai kelas eksperimen, 30 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik sampel yang digunakan adalah simple random sampling dan instrument yang digunakan dalam bentuk test pilihan ganda. Uji persyaratan analisis dilakukan dengan uji normalitas data dengan Chi-kuadrat dan uji homogenitas data dengan uji Bartlet, sedangkan analisis data dilakukan dengan statistik inferensial parametrik uji t-test. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai rata-rata kelompok eksperimen 78,1 dan kelompok kontrol 61,1. Kemudian dari hasil hipotesis diperoleh thitung ˃ ttabel yaitu 14,049˃2,002, sehingga kesimpulan dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran kontekstual berpengaruh terhadap hasil belajar sejarah siswa kelas X MA NW Lenek Lauq tahun pelajaran 2018/2019.
Celine Nurfitri, Universitas Hamzanwadi, Badarudin Badarudin, B. Fitri Rahmawati
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 132-142; doi:10.29408/fhs.v2i2.1371

Abstract:
The preliminary study shows that History is an unattractive, boring, difficult subject, etc. that shows students actually don't like the lesson. This situation can be aggravated if the teacher who teaches it is monotonous, too theoretical, and abstract, lack of textbooks, plus an ever-changing curriculum. Students' critical thinking skills can be very diverse, especially can be seen from the lack of active participation of students in learning, the low response and courage of students to express opinions. Facing this reality, researchers want to try reciprocal teaching method that is assumed to have a positive effect on students' critical thinking skills. The purpose of this study was to determine the effect of Reciprocal teaching models on students' critical thinking skills in History subjects in the XI IPS class in SMAN 2 academic year 2017/2018. This type of research is experimental research. The experimental group was given treatment using the Reciprocal Teaching method while the control group using conventional methods. Data on the results were collected through observation sheet. data analysis was performed with t-test formula. Based on the results of data analysis obtained t-count = 6.370 and t-table 2.00 with dk 58 and a significance level of 5% so that the null hypothesis is rejected and the alternative hypothesis is accepted, which means there is a positive and significant influence using the reciprocal method (Reciprocal Teaching ) on students' critical thinking skills in History subjects in class XI IPS students of SMAN 2 Aikmel academic year 2018/2019.
Akhmad Sarjana
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 106-117; doi:10.29408/fhs.v2i2.1370

Abstract:
The purpose of this study was to explain the application of problem-based cooperative learning with a jigsaw model to improve student achievement in class XI at SMAN 4 Praya Academic Year 2018-2019. The results showed that the application of Problem Based Cooperative Learning with the Jigsaw Model made: First, improve the performance of teaching staff in the material that the Development of Imperialism and Westhern Colonialism in each cycle. Second, increasing students in the learning process in globalization material in each cycle. Third, Increase the average student learning outcomes in the material Development of Imperialism and Westhern Colonialism in each cycle. DOI: 10.29408/fhs.v2i2.1370
, Universitas Negeri Makassar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 155-168; doi:10.29408/fhs.v2i2.1421

Abstract:
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Lembaga Adat Pasitabe lahir sebagai akibat dari pergolakan yang terjadi di Sulawesi Selatan Pada dekade 50 hingga 60 yang membuat kondisi dan situasi sangat tidak aman bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan khususnya di Tana Luwu yang sebagian besar masyarakatnya terdiri dari sub-sub etnis. Dengan alasan inilah kemudian sub etnis yang berada di Tana Luwu termaksud juga Suku Padoe, Karunsi’e danTambe’e eksodus ke tempat lain. Rangkaian pertemuan telah dilakukan untuk demi tercapainya tujuan membentuk kelompok kesatuan antara Suku Padoe, karunsi’e, dan Suku Tambe’eyaitu pada tahun 1962 di Taliwan, pertemuan kedua pada tahun 1984 di Pakatan dan pertemuan ketiga terjadi di Wawondula pada tahun sekaligus sebagai tahun terbentuknya Lembaga Adat Pasitabe secara resmi dengan jalan musyawarah mufakat. Masa perkembangan Lembaga Adat Pasitabe dimulai diri tahun 1992 dimana di tahun ini Pasitabe telah resmi mendeklarasikan diri sebagai sebuah Lembaga Adat kemudian pelestarian budaya yang dilakukan hingga saat ini memberikan hasil yang positif dengan cara memberi pendidikan kepada generasi muda serta selalu menjadikannya sebagai sebuah peradaban nenek moyang yang semestinya dijaga. Lembaga Adat Pasitabe memberi pengaruh pada beberapa aspek kehidupan baik sosial, budaya dan politik, dalam aspek sosial Pasitabe telah berhasil mengembalikan kepercayaan diri masyarakat adat.Budaya dan adat istiadat kembali lestari dan antusias dalam berpartisipasi politik pun sangat besar. Karena berdasarkan hasil temuan yang telah diperoleh disarankan agar pemerintah lebih memperhatikan lembaga adat dengan baik apa lagi terkait dengan tanah ulayat dan pelestarian budaya setempat.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 118-131; doi:10.29408/fhs.v2i2.1438

Abstract:
This study aims to determine the patterns of interaction, customs, language and behavior of nobles and non-nobles in Sakra village. The research method used in this study is the phenomenology method. Data collection by observation, interviews, and documentation. The data collected in this study is data about the patterns of interaction of the Sakra Village community. The results of this study indicate that in Sakra Village there are two distinct groups of social identities known as aristocrats (perwangse) and non-aristocrats (jajarkarang). As for this group of perwangse, there are those who are native nobles and immigrant nobles. These two different social groups have different identities both in language, customs, marriage system, social status and others. The perwangse group has a higher social status than jajar coral, and of course its identity is also different. But over time because several factors such as education, economics, and social status of the high nobility experienced a shift and a kind of cultural erosion. So it can be concluded that the nobility in Sakra Village was once the most influential social group, but because of several declining status factors or in short there has been a cultural shift and kinship system in the Sakra Village community
Lalu Murdi, Universitas Hamzanwadi, Muhammad Shulhan Hadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 183-204; doi:10.29408/fhs.v2i2.1484

Abstract:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Fungsi dari di laksanakannya mattampung di Desa Harapan selain meneruskan kebiasaan orang tua terdahulu, mattampung juga berfungsi sebagai penanda untuk generasi-generasi berikutnya dalam menegenali anak saudara atau keluarga yang telah lebih dahulu meninggal. (2) mattampung massal dilaksanakan satu kali dalam satu tahun setiap bulan oktober.setelah adanya keputusan dari dewan adat yang didapatkan melalui proses musyawarah.mattampung massal dilaksanakan dengan mempersiapkan ayam kampong daun sirih dan buah pinang,ayam sebanyak tiga ekor akan di bacakan doa kemuadia di berikan kepada ketua adat dan dibawa ke makam orang yang telah meninggal sebagai makanan orang yang telah meninggal karena masyarakat mempercayai ketika orang yang telah meninggal belum ditampung maka masih bisa makan layaknya orang yang masih hidup. (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan mattampung dalam segi social adalah nilai gotong royong,nilai kearifan atau kebersamaan dan nilai silaturahmi. Sedangkan dalam segi ekonomi masyarakat sangat terbantu dengan adanya mattampung massal. DOI: 10.29408/fhs.v2i2.1484
Mastati Mastati
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 89-105; doi:10.29408/fhs.v2i1.1289

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis pelaksanaan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran sejarah pada Sekolah Menengah Atas di SMAN 2 Aikmel Lombok Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi dan penerapan kurikulum 2013 di SMAN 2 Aikmel berjalan dengan baik meskipun terdapat berbagai hal yang dalam prosesnya perlu mendapatkan peningkatan yang berarti. Penerapan kurikulum 2013 di SMAN 2 Aikmel telah memberikan arah baru dalam pengembangan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.1289
Irwan Irwan, Universitas Negeri Makassar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 15-24; doi:10.29408/fhs.v2i1.693

Abstract:
This study aims to investigate the influence of character formation in environmental education ethnic Chinese family in the city of Makassar, the role of teachers in the school environment, and efforts to maintain the culture of Chinese ethnic studies. This study used a descriptive approach qualitative data collection techniques, observation, interviews, and observations. Through the results showed that, education environment ethnic Chinese families in the process of guiding, teaching, and training were influenced family circumstances. The role of parents is very influential in implementing and running a learning culture that taught the value of Chinese ethnic ancestry. The teacher's role in guiding the cultural values of ethnic Chinese are not optimally obtained in the school environment. This is due to the absence of a special school in Makassar ethnic Chinese. In the process of the social life of the Chinese people has always maintained a culture that will continue to exist and survive in the community are the majority so that they retain their culture. By continuing to learn traditional Chinese people, this is what makes the Chinese people to survive until today. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.693
, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 39-54; doi:10.29408/fhs.v2i1.1288

Abstract:
Masyarakat Sasak-Lombok dengan segala keunikan budayanya memiliki nilai-nilai tersendiri baik yang berkembang dalam ranah internal maupun merupakan hasil akulturasi dari etnis lain. Beberapa nilai goyongroyong yang berkembang pada masyarakat Sasak seperti banjar dan besiru juga dikenal pada masyarakat Bali namun memiliki warna dan ciri khas sesuai dengan masyarakat Sasak-Lombok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjar dan besiru baik pada masa lalu maupun saat ini di pedesaan masih memberikan kontribusi yang positif dalam menciptakan nilai-nilai kebersamaan yang khas. Tentu saja dalam perkembangannya saat ini sudah banyak terjadi perubahan, salah satunya disebabkan oleh pandangan masyarakat yang dipengaruhi baik oleh perkembangan ekonomi, pekerjaan, sistem sosial, dan lain sebagainya, namun hal ini penting untuk dimunculkan sebagai bagian dari khasanah budaya masyarakat yang baik untuk mendeskripsikan keunggulan mereka dalam menjalankan kerjasama baik pada masa lalunya maupun saat ini. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.1288
Haerudin Haerudin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 70-88; doi:10.29408/fhs.v2i1.735

Abstract:
Keberadaan pendidikan mata pelajaran sejarah memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidkan nasional. Namun dalam tataran implementasi, konsepsi ideal tersebut masih banyak menemui kendala. Kecendrungannya, pembelajaran sejarah pada saat-saat tertentu dan pada kelas-kelas tertentu kurang menggembirakan. Ketika pembelajaran sejarah mengedepankan model ataupun metode pembelajaran yang monoton, seringkali berbagai permasalahan muncul. Suasana kelas menjadi kurang dinamis dan siswa sangat pasif serta terasa bahwa guru seperti mengajar beberapa orang saja. Munculnya berbagai pemasalahan seperti di sebutkan di atas menginspirasi peneliti mengkaji salah satu model atau metode dalam pembelajaran sejarah yang disebut dengan model Jigsaw Plus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sejarah materi orde reformsi melalui penerapan model Jigsaw Plus pada siwa kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Selong tahun pembelajaran 2017/2018. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dilaksanakan di kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Selong, waktu pelaksanaan pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2018 dengan subyek penelitian sebanyak 33 orang siswa. Faktor yang diselidiki meliputi faktor siswa dan faktor guru, Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dan tes, serta teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Jigsaw Plus dalam pembelajaran Masa Orde Reformasi telah berhasil meningkatkan keaktifan siswa kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Selong tahun pembelajaran 2017/2018. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.735
Muhammad Shulhan Hadi, Universitas Hamzanwadi, Muhammad Sawaluddin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 25-38; doi:10.29408/fhs.v2i1.1290

Abstract:
Banjar di Lombok merupakan tempat berkembangnya semangat dan gagasan kolektif orang-orang sasak, semangat gotong royong sangat nampak kental berjalan dalam kearifan lokal etnis sasak tersebut. Ikatan erat dan kokoh jiwa sosial dan rasa untuk saling tolong menolong dan saling membutuhkan lahir dengan alami dan berkembang secara sponta. Banjar terbentuk hambpir bersamaan dengan terbentuknya suatu gubuk di desa-desa di Lombok, ketika UU No. 5/1974 dan UU No. 5/1979 tentang pemerintahan desa diberlakukan, hampir seluruh kreatifitas kearifan lokal yang mewarnai kebhinekaan dimatikan dan terlibas oleh uniformitas/keseragaman konsep desa ala Jakarta, maka banjar di Lombok seolah-olah hilang dan tidak berfungsi lagi, kini di era keterbukaan ini banjar sebagai akar tradisional etnis sasak di Lombok yang sarat dengan spirit kebersamaan/kolektif itu muncul dan berkembang kembali, kemunculan banjar di Lombok tidak seperti dululagi. Metode yang digunakan dalam menyelesaikan masalah penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, penelitian ini tidak menggunakan populasi tapi menggunakan narasumber/responden, dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah : Obsrvasi, Wawancara, Dokumentasi. Berdasarkan analisis dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Revitalisasi Banjar Tradisional Menjadi Lembaga Sosial Masyarakat Moderen Dusun Jurang Koak Desa Bebidas Kecamatan Wanasaba merupakan upaya kreatif dan sistimatis serta berkelanjutan untuk memperkuat modal sosial masyarakat yang ada di dalam banjar, agar energi sosial yang besar dan spontan yang ada di banjar bisa terkelola untuk hal-hal yang produktif. Revitalisasi banjar tradisional ini merupakan jawaban terhadap persoalan sosial kultural masyarakat yang selama ini dihadapi yaitukemiskinan. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.1290
Jumaisa Jumaisa, Universitas Negeri Makassar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 2, pp 1-14; doi:10.29408/fhs.v2i1.692

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang terbentuknya dan perkembangan Kampung Kajang di Makassar (1995-2015). Penelitian ini adalah penelitian sejarah yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode sejarah, melalui tahapan: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni studi kepustakaan dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa orang-orang Kajang yang saat ini bermukim di Kampung Kajang Makassar merupakan para pendatang dari Kajang Kawasan Luar. Kedatangan mereka telah berhasil menjadikan Kampung Kajang yang sebelumnya hanya berupa rawa-rawa dan hutan, menjadi daerah layak huni hingga saat ini. Meski tinggal selama puluhan tahun di luar daerah Kajang, namun mereka tetap menggunakan Bahasa Konjo sebagai bahasa keseharian mereka. Sehingga interaksi terjalin baik dengan penduduk setempat yang berasal dari suku lain selama puluhan tahun semakin menguatkan keberadaan mereka sebagai kesatuan penduduk Kelurahan Tamangapa. DOI: 10.29408/fhs.v2i1.692
, Universitas Hamzanwadi,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.588

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah; (1) Untuk mengetahui sejarah Tradisi Jati Suara dalam acara khitanan di Desa Darmasari Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur; (2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan Tradisi Jati Suara dalam acara khitanan di Desa Darmasari Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur; dan (3) Untuk mengetahui dampak tradisi Jati Suara terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Darmasari Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah dalam pengertian yang lebih umum adalah penelitian suatu atas masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis. Peneliti menggunakan metode sejarah, karena dalam penelitian ini mengkaji eksistensi tradisi Jati Suara dalam Acara Khitanan di Desa Darmasari Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Metode sejarah merupakan cara atau teknik dalam merekonstruksi peristiwa masa lampau melalui empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.Kata Kunci: Eksistensi, Tradisi, Jati Suara, Khitanan.
, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.591

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah, bentuk pelaksanaan dan pandangan Islam terhadap peraktik Aik Mel-Mel di desa Tebaban Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil peneltian menunjukkan bahwa lahir dan berkembangnya kepercayaan Aik Mel-Mel sejak tahun 1930 hingga sekarang. Di pulau Lombok pada umumnya dan desa Tebaban khususnya berawal dari kebudayaan Bali. kebudayaan ini masih primitive, percaya pada sesuatu mengandung kekuatan-kekuatan gaib diluar akal dan kemampuan manusia. Bentuk kepercayaan Aik Mel-Mel merupakan persenyawaan dari kepercayaan animisme yakni, memedan atau ketemuk ( ketemuk pada roh nenek moyang yang sudah meninggal dunia dan pedan pada benda-benda yang dikeramatkan). Kata Kunci: Masyarakat, Tradisi, Aik Mel-Mel.
Hudaidah Hudaidah, Universitas Sriwijaya
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.586

Abstract:
Kegiatan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Motif Berafiliasi, Komunikasi interpersonal dan Efikasi Diri terhadap motif berprestasi Mahasiswa Program Studi Sejarah FKIP Unsri. Penelitian ini berbentuk studi pengaruh dengan menggunakan analisis regresi ganda untuk melihat pengaruh antar variabel penelitian. Penelitian dilakukan di Program Studi Sejarah FKIP Unsri tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian 52 orang mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan yaitu : (1) motif berafiliasi berpengaruh secara signifikan terhadap motif berprestasi mahasiswa, (2) komunikasi interpersonal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap motif berprestasi mahasiswa, (3) efikasi diri berpengaruh secara signifikan terhadapat motif berprestasi mahasiswa, dan (4) secara simultan motif berafilaisi, komunikasi interpersonal, efikasi diri berpengaruh terhadap motif berprestasi mahasiswa. DOI: 10.29408/fhs.v1i2.586
, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.587

Abstract:
Pergerakan kaum perempuan Indonesia pada abad XIX tentunya dengan menyoroti pergerakan wanita dalam bidang pendidikan, yang merupakan pondasi dasar munculnya gender di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut dalam skripsi ini dijelaskan pemaparan mengenai munculnya gender di indonesia, serta deskripsi doktrin dari gender itu sendiri terhadap kajian sejarah wanita tentunya dalam bidang pendidikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Untuk mendapatkan data yang valid, maka ada beberapa teknik yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: (1) heuristik (pengumpulan sumber), (2) kritik sumber (verifikasi), (3) interpretasi (penafsiran), dan (4) historiografi (penulisan). Pergerakan kaum perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan tidak terlepas dari kondisi budaya masyarakat pada masa tradisional dan masa kolonial. Adanya persepsi masyarakat yang menganggap perempuan sebagai the second sex membuat ruang gerak kaum perempuan sangat terbatas. Kaum perempuan merasakan ketidakadilan yang dilakukan budaya masyarakat pada waktu itu. Untuk itulah terjadi pemberontakan kaum perempuan untuk menghancurkan ketidakadilan yang disebabkan oleh budayanya sendiri. RA Kartini dan Dewi Sartika muncul sebagai pelopor emansipasi wanita dalam pendidikan yang merupakan gambaran pemberontakan terhadap budaya tersebut.Kata Kunci: Perjuangan, Gender, Sejarah Wanita.
Muchamad Triyanto, Universitas Hamzanwadi, Badarudin Badarudin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.589

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan motivasi dan prestasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran fish bowl dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran buzz group. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Teknik pengambilan data menggunakan cluster random sampling dengan mengambil dua kelas. Kelas pertama diterapkan model pembelajaran fish bowl dan kelas kedua mengggunakan model pembelajaran buzz group. Instrument yang digunakan adalah lembar angket dan tes. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket dan tes sedangkan teknik analisis data menggunakan t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan motivasi dan prestasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran fish bowl dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran buzz group. Hasil analisis pengujian perbedaan motivasi belajar menghasilkan t hitung sebesar 10,105 yang lebih besar dari t tabel 2,0021. Sedangkan hasil pengujian terhadap perbedaan prestasi belajar menghasilkan t hitung sebesar 6,264 yang lebih besar dari t tabel 2,0021.Kata Kunci : Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, Model Pembelajaran Fish Bowl, Model Pembelajaran Buzz Group.
B. Fitri Rahmawati, Universitas Hamzanwadi,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.590

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan motivasi dan prestasi belajar di IPS subjek sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran VCT. jenis penelitian ini adalah pra eksperimen, ada satu kelas, itu kelas eksperimen tanpa kelas kontrol, untuk mengumpulkan data penelitian, peneliti memberikan pre test dan post test, dan non tes dalam bentuk kuesioner. Penelitian dilaksanakan di kelas SMP IT Islam Pancor Kopong VIII pada tahun akademik 2015/2016. Total sampel penelitian ini adalah 18 siswa, variabel penelitian terdiri dari variabel dependen, itu VCT (nilai memperjelas) dan variabel bebas adalah motivasi dan prestasi belajar IPS subjek. Instrumen penelitian ini adalah tes untuk prestasi belajar, jenis tes adalah pilihan ganda, 20 item, dan non tes adalah kuesioner untuk motivasi siswa, 44 butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada prestasi perbedaan siswa antara sebelum dan sesudah Model VCT digunakan. Yang dilihat dari rata-rata post test lebih tinggi dari pre test, dan hipotesis dianalisis, itu hipotesis diterima. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa menggunakan model VCT adalah efek motivasi dan prestasi siswa pada siswa tahun kedua SMP IT Islam Pancor Kopong pada tahun akademik 2015/2016.Kata Kunci: VCT (Nilai Memperjelas), Motivasi, Prestasi Siswa di IPS Subjek.
Lr Retno Susanti, Universitas Sriwijaya
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i2.585

Abstract:
Peninggalan purbakala bangsa Indonesia telah diketahui berkembang sejak masa Prasejarah sampai masa kini, dan merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang sangat tinggi nilainya, baik sebagai sumber sejarah maupun sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan bangsa masa kini dan yang akan datang. Oleh karena itu pemahaman mengenai nilai-nilai budaya peninggalan purbakala sangat penting untuk dapat mengetahui sejarah kehidupan nenek moyang kita. DOI: 10.29408/fhs.v1i2.585
, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.580

Abstract:
Kearifan lokal adalah bagian dari kearifan bangsa yang dapat menjadi landasan pendidikan karakter. Kearifan lokal masyarakat Sasak Lombok yang sudah mengakar dalam sejarah suku bangsanya memiliki nilai universal, sehingga proses engkulturasi perlu dilakukan pada masyarakat mulai dari sekolah dasar sampai pendidikan karakter orang dewasa. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa pentingnya kearifan lokal (local wisdom) sebagai landasan dari pendidikan karakter tersebut, sekaligus menawarkan pemahaman konsep dan praktik bagaimana seharusnya pendidikan karakter yang berakar pada budaya lokal tersebut diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Kata Kunci: Sejarah Lokal, Kearifan Lokal, Pendidikan Karakter.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.566

Abstract:
Pelacakan hermeneutis-historis terhadap artefak-artefak Kebudayaan Indonesia sebagai bentuk keprihatinan dari setiap gejala kepunahan tradisi. Gejala pengabaian tradisi mulai muncul seiring dengan datangnya gelombang globalisasi yang meluluhlantakkan tradisi. Negara terlambat mengantisipasi berbagai kecenderungan yang muncul, terutama pada aspek kekayaan ilmu pengetahuan lokal, filsafat lokal dalam kebudayaan Nusantara. Kekayaan tersebuthendaknya dapat menjadi sebuah ilmupengetahuan yang mempola sistem pemikiran rasional tentang materi keilmuan di masyarakat. Pelacakan hermeneutis-historis menjadi strategi penyadaran dengan mengetengahkan tafsir sejarah terhadap fenomenologi sejarah yang terabaikan seperti kearifan lokal (local wisdom). Intinya manusia Indonesia perlu mengem­bangkan seluruh potensi kodrat yang dimiliki, terutama kodrat yang positif, yaitu jiwa (akal, rasa, karsa), sosial, dan spiritual. Ketiga potensi tersebut berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual/ moral (SQ), dan kecerdasan hambatan menjadi peluang/Adversity Quotient (AQ). Keempat kecerdasan tersebut merupakan modal setiap warga Indonesia untuk bisa memenangkan persaingan yang semakin ketat di era global ini.
, Universitas Hamzanwadi,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.583

Abstract:
Tulisan ini merupakan resensi dari buku yang berjudul “Studi Sejarah dan Budaya Lombok”. Secara umum buku ini mencoba menjelaska tentang budaya masyarakat Sasak-Lombok. Masyarakat Sasak dijelaskan dalam perspektif budayanya dan menunjukkan bahwa budaya pada masyarakat Sasak masih terjaga dengan baik. Perlu menjadi catatan dalam buku ini adalah kepustakaan yang menjadi acuan. Artinya, kepustakaan yang digunakan belum begitu menunjukkan kualitas yang sesungguhnya.Kata Kunci: Studi Sejarah, Budaya Lombok
, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.581

Abstract:
Upacara adat kelahiran yang ada pada masyarakat Desa Pengadangan merupakan tradisi turun temurun yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak. Pelaksanaan ritual upacara adat kelahiran ini sebagai upacara keagamaan dan memiliki nilai-nilai yang dibentuk dari masyarakatnya. Agama sebagai pengontrol tingkah laku manusia. Pelaksanaan upacara adat kelahiran menggunakan simbol-simbol berupa benda aktivitas ritual dan perilaku sosial serta adanya pertalian antara tokoh adat dan anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan ritual upacara adat kelahiran, mendeskripsikan fungsi-fungsi upacara adat kelahiran, dan mendeskripsikan nilai-nilai dari adat kelahiran sehingga upacara adat kelahiran ini tetap dipertahankan sebagai nilai sosial budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Validasi data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi ritual upacara adat kelahiran meliputi upacara bertes/retesembet (menghormati ari-ari), molang maliq (pemberian nama pada bayi), ngurisan (potong rambut), dan nyunatang (khitanan). Dari beberapa proses ritual tersebut terdapat fungsi spiritual dan fungsi sosial pada pelaksanaan upacara adat kelahiran. Upacara adat kelahiran sebagai upacara keagamaan, hiburan, sarana komunikasi, dan sarana dalam menjaga keharmonisan norma-norma dalam adat. Berdasarkan fungsi dari upacara adat kelahiran ini timbul nilai-nilai kearifan adat yakni nilai keagamaan, nilai gotong royong, nilai solidaritas, cinta tanah air, nilai kepemimpinan, dan nilai tanggung jawab. Kata Kunci: Adat, Kelahiran, Nilai, Sosial Budaya.
Muhammad Shulhan Hadi, Universitas Hamzanwadi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.582

Abstract:
Tujuan penelitian ini berusaha menggali dan mengnalisa peranan Syair Melayu Islam dalam budaya Sasak di Lombok Timur khususnya di desa Rumbuk. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses masuknya Syair Melayu Islam bersamaan dengan proses masuknya Islam yang terus berkembang sampai saat ini; (2) Nilai yang terkandung dari beberapa kitab Syair Melayu Islam secara umum sangat berperan dan dapat mempengaruhi nilai keberagamaan masyarakat di desa Rumbuk; (3) Pewarisan budaya Syair Melayu Islam dilakukan melalui proses internalisasi, adapts, sosialisasi, serta enkulturasi atau pembudayaan. Kata Kunci: Pola Pewarisan, Syair Melayu Islam.
, Universitas Negeri Makassar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1, pp 1-11; doi:10.29408/fhs.v1i1.565

Abstract:
Tulisan ini berisi uraian mengenai konsep pendidikan karakter yang berlandaskan pada kearifan lokal, potret karakter pendidikan kita dewasa ini, tantangan yang harus diperjuangkan bersama untuk menjadikan pendidikan Indonesia yang berkarakter dengan landasan budaya lokal, serta solusi masa depan pendidikan Indonesia yang berlandaskan kearifan lokal dalam bingkai pendidikan Nasional yang berkarakter. DOI: 10.29408/fhs.v1i1.565
, Universitas Hamzanwadi,
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 1; doi:10.29408/fhs.v1i1.578

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Pemecahan masalah terhadap motivasi berprestasi dan prestasi belajar IPS. Penelitian ini dilaksanakan di MTs. Mu’allimat NW Pancor dengan menguunakan post-test control group design, yang hanya memperhitungkan skor post test. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran Pemecahan masalah dan variabel terikatnya adalah motivasi berprestasi dan prestasi belajar IPS. Instrumen berupa kuisioner motivasi berprestasi dan prestasi belajar IPS. Sampel Penelitian berjumlah 30 sebagai kelompok eksperimen dan 30 sebagai kelompok kontrol yang diambil secara acak. Data yang diperoleh dari kuisioner dan tes tersebut selanjutnya ditabulasi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok peserta didik yang mengikuti pelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Pemecahan masalah (kelompok eksperimen) dan kelompok peserta didik yang mengikuti pelajaran IPS tanpa menggunakan konvenional (kelompok kontrol). Setelah uji asumsi analisis ini terpenuhi barulah pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji Manova. Hasil analisis pada penelitian menunjukkan bahwa: hasil belajar kelompok peserta didik yang mengikuti pelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Pemecahan masalah (kelompok eksperimen) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok peserta didik yang mengikuti pelajaran IPS yang menggunakan konvensional atau tanpa model pembelajalaran Pemecahan masalah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajarlan Pemecahan masalah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap motivasi berprestasi dan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VIII MTs Mu’allimat NW Pancor. DOI: 10.29408/fhs.v1i1.578
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top