Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal TESLA: Jurnal Teknik Elektro: 63

(searched for: journal_id:(4323824))
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Hendrianto Husada, Samsurizal Samsurizal
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 21, pp 113-122; doi:10.24912/tesla.v21i2.7182

Abstract:
Virtual instrumentation is a new technology that combines hardware and software computer technology which replace instrument traditional in measurement so that more efficient and accurate. One of the softwares that is used within building a virtual instrumentation is made by National Instrument and called Labview .Combination electronics digital hardware and software labview build an instrument that can do measurement as needed withquite cheap investatment .In this case Laptop and Labview is used to display temperature and Humidity that are captured by arduino system in the display that is easy to see . Wihin this article writer do researching about monitoring temperature and humidity using labview with Arduino system for preventing fire disaster. The sensor used to measure temperature and humidity is DHT11 and the microcontroller used is Arduino Un. The monitoring humidity and tenperature are did at Laboratory of Industrial Electronic STT PLN Jakarta. The results of this study are monitoring temperature and humidity can be done continuously with the Virtual Instrumentation System. Early detection of fire hazard occurs when the temperature change is monitored, the value rises and the humidity value decreases in a very short period of timeABSTRAK:Instrumentasi virtual adalah suatu teknologi baru yang menggabungkan teknologi perangkat keras dan perangkat lunak komputer menggantikan alat ukur tradisional dalam pengukuran agar lebih efisien dan akurat. Salah satu perangkat lunak yang digunakan dalam membangun suatu instrumentasi virtual adalah perangkat lunak buatan perusahaan National Instrument yang disebut Labview. Penggabungan perangkat keras dan perangkat lunak Labview bisa membentuk alat ukur yang bisa melakukan pengukuran yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan dengan investasi biaya yang tidak mahal. Dalam hal ini Laptop dengan Labview berfungsi untuk menampilkan hasil penangkapan data temperatur dan kelembaban oleh Sistem Arduino dalam bentuk tampilan yang mudah dilihat. Dalam artikel ini penulis melakukan penelitian mengenai pemantauan temperatur dan kelembaban untuk pencegahan bahaya kebakaran. Sistem tersebut digunakan sebagai pendeteksi dini bahaya kebakaran. Sensor yang digunakan untuk mengukur temperature dan kelembaban udara adalah DHT11 dan mikrokontroler yang digunakan adalah arduino uno. Pemantauan temperatur dan kelembaban dilakukan di Laboratorium Elektronika Industri STT PLN Jakarta. Hasil penelitian ini adalah pemantauan temperatur dan kelembaban dapat dilakukan secara terus menerus dengan Sistem Instrumentasi Virtual. Pendeteksian dini bahaya kebakaran terjadi saat adanya perubahan temperatur yang dipantau nilainya semakin naik dan nilai kelembaban yang semakin turun dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Mochammad Aziz, Yosua Marcellino, Intan Agnita Rizki, Sri Anwar Ikhwanuddin, Joni Welman Simatupang
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 22, pp 45-55; doi:10.24912/tesla.v22i1.7898

Abstract:
: Indonesia's population growth is still ongoing and energy demand for transportation continues to increase from year to year. Moreover, the use of fossil fueled-based motor vehicle is increasing and filling the city main roads and highways. Petroleum which is used as conventional vehicle fuel today is a non-renewable energy. Electric vehicle is one of the means of transportation that can meet the needs of the society mobility, but still environmentally friendly because it does not have exhaust gas or emissions. There are so many negative effects from exhaust gas or emissions resulting from combustion of conventional car engines. Among other negative impacts are on health and human well-being and also the environment. The Indonesian government plans seriously in realizing the conversion of electric-based vehicles (EV). However, many people do not know the technology used in the electric vehicle yet. In this descriptive-explanatory paper, we will discuss this technology development and types of electric vehicle in general, and also a bit of autonomous vehicle. In addition, it was also discussed regarding the support of the Indonesian government for public concerns about the lack of facilities for electric vehicle such as public charging facilities. In addition, support for policies and other incentive will also be elaborated in this paper. This policies and incentive are expected to have a significant impact in-line with the increasing of consumer awareness to switch from conventional cars to electric vehicles.ABSTRAK:Pertumbuhan penduduk Indonesia masih terus berlangsung dan kebutuhan energi untuk transportasi terus meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil (fossil fueled-based motor vehicle) semakin meningkat dan memenuhi jalan-jalan raya perkotaan dan tol. Minyak bumi yang digunakan sebagai bahan bakar mobil konvensional saat ini merupakan energi yang tidak terbarukan. Mobil listrik merupakan salah satu sarana transportasi yang bisa memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat namun tetap ramah lingkungan karena tidak memiliki polusi atau emisi gas buang. Banyak sekali dampak negatif dari polusi atau emisi gas buang yang dihasilkan dari pembakaran mesin mobil konvensional. Antara lain dampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia serta lingkungan hidup. Pemerintah Indonesia berencana serius dalam mewujudkan konversi kendaraan berbasis listrik (KBL). Namun masyarakat belum mengetahui teknologi yang digunakan pada mobil listrik. Dalam tulisan yang bersifat descriptive- explanatory ini akan dibahas mengenai perkembangan teknologi mobil listrik ditambah sedikit tentang kendaraan otomatis (autonomous vehicle). Selain itu juga akan membahas dukungan pemerintah Indonesia terhadap mobil listrik sebagai solusi bagi kekuatiran masyarakat mengingat fasilitas pengisian umum yang masih minim atas kendaraan mobil listrik. Selain itu dukungan terhadap kebijakan dan insentif lainnya pun juga akan dibahas dalam artikel ini. Kebijakan dan insentif ini diharapkan bisa berdampak signifikan sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen untuk beralih dari mobil konvensional menjadi mobil listrik
Rizki Priya Pratama
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 22, pp 56-68; doi:10.24912/tesla.v22i1.7862

Abstract:
The smart home is a system that provides comfort, safety, and energy savings, automatically. This system can be used to control electrical equipment such as lights, water pumps, air conditioners, etc. By replacing any conventional switch into a wireless switch, users can control this device from inside and outside the home automatically. The design of this lamp controller uses the ESP8266 module, relay driver, Tenstar Robot SMPS power supply, and TTP223 touch sensor. This control device is made as small as possible so that it can fit into inbow dus switch. The ESP8266 programming platform is Arduino by implementing the PubSubClient library for communication on the MQTT protocol. With the MQTT protocol, the system is created by giving orders via the topic "/order/(ruang)" and see the status of the lights with the topic "/ status/(ruang)". The command and status method is also applied to the Android application "Kontrol Rumah MQTT" so users can more easily. Besides, this control device is equipped with a schedule that can be set through the Android application. Based on the test results, the system has worked according to plan and can control all lights with the Android application, Kontrol Rumah MQTT. Messages "/order/(ruang)" from the Android application to the lamp controller can be received and sent back via "/status/(ruang)" properly. By using the MQTT broker address: broker.hivemq.com, the publish-subscribe process has 100% success. Meanwhile, testing the lamp schedule on the lamp control device can work correctly according to the schedule given.ABSTRAK: Rumah pintar adalah sebuah sistem yang memberikan kenyamanan, keamanan dan penghematan energi, secara otomatis pada sebuah rumah. Sistem ini dapat digunakan untuk mengendalikan peralatan-peralatan listrik seperti lampu, pompa air, pendingin ruangan dll. Dengan mengganti setiap saklar konvensional menjadi saklar wireless, pengguna dapat mengontrol perangkat ini dari dalam maupun dari luar rumah secara otomatis. Perancangan pengendali lampu ini menggunakan modul ESP8266, driver relay, power supply SMPS Tenstar Robot dan sensor sentuh TTP223. Perangkat pengendali ini dibuat sekecil mungkin sehingga dapat masuk pada inbow dus saklar. Platform pemrograman ESP8266 adalah Arduino dengan menerapkan library PubSubClient untuk komunikasi pada protokol MQTT. Dengan protokol MQTT, sistem dibuat dengan memberikan perintah melalui topik “/order/(ruang)” dan melihat status lampu dengan topik “/status/(ruang)”. Metode perintah dan status tersebut juga diterapkan pada aplikasi Android “Kontrol Rumah MQTT” sehingga pengguna dapat lebih mudah. Selain itu, perangkat pengendali ini dilengkapi dengan jadwal yang dapat diatur melalui aplikasi Android. Berdasarkan hasil pengujian, sistem telah bekerja sesuai dengan perencanaan dan mampu mengendalikan lampu seluruhnya dengan aplikasi Android, Kontrol Rumah MQTT. Pesan “/order/(ruang)” dari aplikasi Android ke pengendali lampu ESP8266 dapat diterima dan dikirim kembali melalui “/status/(ruang)” dengan baik. Dengan menggunakan alamat MQTT broker : broker.hivemq.com, proses publish - subscribe mempunyai keberhasilan 100%. Sedangkan, pengujian jadwal lampu pada perangkat pengendali lampu dapat bekerja dengan benar sesuai jadwal yang diberikan.
Nurwijayanti Kusumaningrum, Fitriah Fitriah
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 22, pp 12-22; doi:10.24912/tesla.v22i1.7810

Abstract:
Cotton candy is one of Indonesia's traditional foods which was quite popular in its time. Cotton candy is made from sugar that is given food coloring, cotton candy is made using a special tool that rotates and produces refined sugar fibers. Most cotton candy consists of air cotton candy feels sweet and sticky. Even though it looks like wool yarn ... The design of this cotton candy maker uses an arduino uno microcontroller, equipped with a temperature sensor, 3 push buttons and a heating stove as a heating container for the sugar container design of this tool. All Arduino Uno microcontroller working systems have been programmed using the C program language on the Arduino Uno microcontroller. Using a dose of 1/2 spoonful sugar, the average initial temperature (54.5 ° C) and the average final temperature (64.8 ° C) were obtained. Measuring one (1) spoonful of sugar, the initial heating temperature with an average (68.8oC) average final temperature (74.2oC). The dose of sugar 1 1/2 spoon, the initial temperature of the heater with an average (70.4 ° C) the average temperature of the final heater (77.4). This tool takes time to heat the heating stove in approximately 2 minutes to reach ambient temperature (54oC). Testing to find out the exact time of each dose of sugar. as in the dose of half a sugar (1/2) a spoon an average of about 120 seconds is obtained, a dose of sugar (one) spoon is obtained an average time of about 150 seconds and in a sugar one and a half (1½) spoon an average time is obtained about 180 seconds. ABSTRAK:Permen kapas adalah salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang cukup populer pada masanya. Permen kapas dibuat dari gula yang diberi pewarna makanan, permen kapas dibuat menggunakan sebuah alat khusus yang berputar dan menghasilkan serat – serat gula yang halus. Sebagian besar permen kapas terdiri dari udara permen kapas terasa manis dan lengket. Meskipun terlihat seperti benang wol..Perancangan pembuat permen kapas ini menggunakan mikrokontroler arduino uno, dilengkapi sensor suhu, 3 buah push button dan kompor pemanas sebagai pemanas wadah penampung gula perancangan alat ini. Semua sistem kerja mikrokontroller arduino uno sudah diprogram menggunakan bahasa program C pada mikrokontroler Arduino Uno.Menggunakan takaran gula 1/2 sendok, didapatkan suhu awal rata-rata (54,5oC) dan suhu akhir rata-rata (64,8oC). Takaran gula satu (1) sendok, suhu awal pemanas dengan rata-rata (68,8oC) suhu akhir rata-rata (74,2oC). Takaran gula 1 1/2 sendok, suhu awal pemanas dengan rata-rata (70,4oC) suhu akhir pemanas rata-rata (77,4). Alat ini membutuhkan waktu untuk memanaskan kompor pemanas dalam waktu kurang lebih 2 menit untuk mencapai suhu sekitar (54oC). Pengujian untuk mengetahui waktu yang tepat dari setiap takaran gula. seperti pada takaran gula setengah (1/2) sendok diperoleh rata-rata waktu sekitar120 detik, takaran gula satu (1) sendok diperoleh rata-rata waktu sekitar150 detik dan pada takarang gula satu setengah (1 ½) sendok diperoleh rata-rata waktusekitar 180 detik.
Budi Santosa Haryanto, Hadian Satria Utama, Dali Santun Naga
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 20, pp 70-81; doi:10.24912/tesla.v20i1.2969

Abstract:
This design aims to create a robot that can search the ball, approach the ball, and keep the ball from the field/own goalpost towards the pitch area/the opponent's goalpost also pay attention to the position of the obstacles and the robot’s position in the field. There are various movements such as looking for the ball, dribbling, and avoid the opponent. To be able to perform that movements the robot must be able to know what is the definition of the ball, the opponent, and goalpost. To know these objects then there must be a sensor that can read and that sensor is camera. The robot can know the object based on the different colors of each object caught by the camera. The capture of the camera then processed into a processor and the processor will determine the movement on the robot by sending current to the circuit driving the robot. Processor filters out the colors in turn at each color used. Processor then looks for the coordinates of the midpoint, and the area of the object detected. All values of the coordinates of the midpoint and the area of each color are used to determine the movement of the robot. Robot driving uses 3 driver motors DC, motors DC, and Omni wheels. The movements of the robot are going forward, rotating left/right, and standing still. The test results of the designed the robot successfully searched for the ball, approached the ball, kept the ball from the field/own goalpost towards the pitch area/the opponent's goalpost, and was prevented from going off the field. Perancangan ini bertujuan untuk membuat robot yang dapat mencari bola, mendekati bola, dan menjauhkan bola dari daerah lapangan/gawang sendiri ke arah daerah lapangan/gawang lawan dengan memperhatikan juga posisi halangan dan posisi robot di lapangan. Terdapat berbagai macam gerakan seperti mencari bola, menggiring bola, dan menghindari lawan. Untuk dapat melakukan gerakan-gerakan tersebut, robot harus dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan bola, lawan, dan gawang. Untuk mengetahui benda-benda tersebut maka harus terdapat sensor yang dapat membacanya yaitu kamera. Robot dapat mengetahui benda yang dimaksud berdasarkan warna-warna yang berbeda dari setiap benda hasil tangkapan kamera. Hasil tangkapan kamera kemudian diproses ke sebuah pemroses lalu pemroses menentukan penggerak pada robot dengan mengirim arus pada rangkaian penggerak robot. Pemroses memfilter warna yang ingin dideteksi saja secara bergilir pada setiap warna yang digunakan. Pemroses kemudian mencari koordinat titik tengah, dan luas dari benda yang dideteksi. Nilai-nilai koordinat titik tengah dan luas dari tiap warna yang digunakan ini lah yang menentukan pergerakan robot. Penggerak robot menggunakan 3 buah driver motor DC, motor DC, dan roda omni. Pergerakan robot yang dapat dilakukan adalah maju, berputar tempat kanan/kiri, berputar mengelilingi bola kanan/kiri, dan diam. Hasil pengujian robot yang dirancang berhasil mencari bola, mendekati bola, menjauhkan bola dari daerah...
Firmansyah Jaenaldi, Harlianto Tanudjaja, Suraidi Suraidi
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 20; doi:10.24912/tesla.v20i1.2825

Endah Setyaningsih, Jeanny Pragantha, Rizki A. Mangkuto
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 20, pp 7-15; doi:10.24912/tesla.v20i1.2815

Abstract:
Tunnel lighting during the day is very dependent on sunlight, especially access zones and threshold zones. The intensity of light in the zone must be able to compensate for the intensity of sunlight in front of the tunnel. For that artificial lighting will be placed in the access zone and the threshold zone must be arranged according to the presence of sunlight in front of the tunnel. At night, the threshold zone up to the exit zone must have the same illumination and luminance, and the value is not much different from the illumination and luminance that is on public roads before and after the tunnel. But in the daytime each zone must have different illuminations and luminance. This study took data from the Tomang tunnel, this tunnel consists of tunnels in the direction of Tangerang with an estimated average vehicle speed of 60 km / hour. The tunnel length is 120 m, width 7 m, height 4 m. The research in the form of this simulation uses LED lights, according to which currently there are 15 pieces installed, previously using 250 Watt HPS lights, as many as 20 pieces, with a distance between 6 m lights. The results showed that the lighting of the Tomang tunnel is currently not appropriate for daylight, because the lighting threshold zone is less able to meet the sun's luminance. As a result, during the day the threshold zone appears dark (there is a black hole phenomenon). While at night it produces excess illuminance and luminance, namely 104 lux illumination and 9.96 cd / m2 luminance greater than SNI standard 20 lux - 25 lux and 2 cd / m2. The use of LED lights produces higher luminance with less power, than HPS lamps. Pencahayaan terowongan pada siang hari sangat tergantung pada cahaya matahari, khususnya zona akses dan zona ambang. Intensitas cahaya pada zona tersebut harus dapat mengimbangi intensitas cahaya matahari di muka terowongan. Untuk itu pencahayaan buatan yang akan ditempatkan di zona akses dan zona ambang harus di tata sesuai adanya cahaya matahari di muka terowongan. Pada malam hari, zona ambang sampai dengan zona exit harus mempunyai iluminansi dan luminansi yang sama, dan nilainya tidak jauh berbeda dengan iluminansi dan luminansi yang ada pada jalan umum sebelum dan sesudah terowongan. Namun pada siang hari setiap zona harus mempunyai iluminansi dan luminansi yang berbeda. Penelitian ini mengambil data dari terowongan Tomang, terowongan ini terdiri dari terowongan ke arah Tangerang dengan perkiraan kecepatan rata-rata kendaraan sebesar 60 km/jam. Panjang terowongan 120 m, lebar 7 m, tinggi 4 m. Penelitian yang berupa simulasi ini menggunakan lampu LED, sesuai yang saat ini terpasang sejumlah 15 buah, sebelumnya menggunakan lampu HPS 250 Watt, sebanyak 20 buah, dengan jarak antar lampu 6 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan terowongan Tomang saat ini kurang tepat untuk siang hari, karena pada zona ambang pencahayaannya kurang dapat memenuhi luminansi cahaya matahari. Akibatnya pada siang hari zona ambang nampak...
Ramdhan Nugraha, Nur Ibrahim
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 19, pp 184-193; doi:10.24912/tesla.v19i2.2700

Abstract:
Robot as electro-mechanical devices is unseparated from our daily life. Many researches has been developed in robotics which one of them is wheeled soccer robot using differential steering method. These robots have advantages in their ai, responses of commands and sensors reading accuracies. In this study, a soccer robot has been developed as integrated systems between a camera, a computer as host and a robot agent. The robot’s ability to recognize 3 colors in objects averagely is 3s in starting up, 2.4s in response of 450 commands and 0.4s in response of pid control system with kp=20, kd=1 and ki=10 robot sebagai perangkat elektro mekanika yang dapat berfungsi sebagai alat bantu manusia, sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan sehari-hari. Berbagai riset mengenai robot sudah banyak berkembang, diantaranya adalah wheeled soccer robot dengan kategori differential steering yang digunakan untuk riset robot sepak bola. Robot jenis ini memiliki kemampuan kecerdasan yang baik, kemampuan merespon perintah, dan keakuratan pembacaan sensor menjadi hal penting untuk pengujian robot ini. Pada penelitian ini dirancang sebuah sistem robot sepak bola yang saling terintegrasi antara kamera, komputer host, dan robot agen. Kemampuan sistem dalam mengenali 3 buah objek warna yaitu merah dan biru pada robot serta oranye pada bola memiliki rata-rata waktu pengidentifikasian selama 3 detik di awal sistem dihidupkan. Kemampuan robot untuk merespon perintah setiap 450 adalah rata-rata 2,4 detik. Sedangkan untuk sistem kontrol pid yang ditanam di dalam robot, memiliki waktu respon 0,4 detik dengan nilai kp=20, kd=1, dan ki=10.
Riza Buddy Septyanto, Endah Setyaningsih, Fahraini Bacharuddin
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 19, pp 108-123; doi:10.24912/tesla.v19i2.2694

Abstract:
Demand of higher data speed communication must be supported by good system and precise Evolved Node B allocation to give a good service quality. In the future especially Indonesia telecommunication network keep growing, data traffic with effective perfomance keep developed by mobile operator (service provider). Mobile telecomunication networking need cell planning with aim to meet cell coverage which is showed by number of base station, with minimal allocation but can meet the requirement of traffic capacity and coverage area.Chance to develope Long Term Evolution (LTE) Technology is at frequenies 1200 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz and 2300 MHz. eNode B Allocation uses genetic algorithm and evolutionary programming. In Genetic Algorithm and evolutionary programming, searching technique is done by analyzing the size of the the population. Individual in one population is called by the term of chromosome. This chromosome is one of solution in the shape of symbol. In the beginning, population developed randomly, next population will be result of chromosomes evolution by iteration which is called by the term of generation. This eNode B allocation generates the best cell radius, observed by number of generations and eNode B allocation uses by using genetic algorithm and evolutionary programming which generate same cell radiusKebutuhan akan komunikasi membutuhkan kecepatan data yang semakin tinggi sehingga harus didukung oleh sistem yang handal dan penempatan Evolved Node B yang tepat agar dapat memberikan kualitas layanan dengan baik. Dimasa depan khususnya di Indonesia jaringan telekomunikasi terus berkembang, lalu lintas data dengan performansi yang efektif terus dikembangkan oleh operator seluler (service provider). Jaringan komunikasi seluler membutuhkan perencanaan sel dengan tujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pencakupan sel yang ditunjukkan oleh jumlah base station, dengan penepatan seminimal mungkin tetapi dapat memenuhi kapasitas trafik dan coverage area yang dibutuhkan. Peluang untuk membangun teknologi Long Term Evolution (LTE) yaitu difrekuensi 1200 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz dan 2300 MHz. Penempatan eNode B menggunakan algoritma genetika dan evolutionary programming. Pada algoritma genetika dan evolutionary programming teknik pencarian dilakukan dengan menganalisa banyaknya populasi. Individu yang terdapat dalam satu populasi disebut istilah kromosom. Kromosom ini merupakan suatu solusi yang masih berbentuk simbol. Populasi awal dibangun secara acak, sedangkan populasi berikutnya merupakan hasil evolusi kromosom-kromosom melalui iterasi yang disebut dengan istilah generasi. Penempatan eNode B ini menghasilkan jari-jari sel yang terbaik dilihat dari banyaknya generasi yang ditentukan dan penempatan eNode B menggunakan algoritma genetika dan evolutionary programming menghasilkan nilai jari-jari sel yang sama.
Rudy Rudy, Lukas Lukas
TESLA: Jurnal Teknik Elektro, Volume 19, pp 211-220; doi:10.24912/tesla.v19i2.2711

Abstract:
Over the years, natural disasters such as volcano eruption, landslide, as well as flood have occurred and caused victims. Immediate response is required to rescue them, however, detecting and rescuing victims accurately in natural disasters is not easy to be done. The dangerous area with a slippery and sloppy land, as well as the worry that there could be an aftershock disaster, makes it hard to be reached by the rescue team, to get into the area and detect victims. It takes so much time for them to detect and drive the ambulance to the desired location and bring the victims into the car. To solve those problems mentioned by using a robotic technology. The robotic technology can be used to rescue victims during natural disasters with design the prototype of a hexapod that implements inverse kinematics and gait algorithm. Hence, the robot can walk passing the uneven surface and keep being balanced. The hexapod robot is chosen because it has a good stability level when running. The hexapod robot is successfully tested in six different field conditions and is fully capable of maintaining stability in every test such as standing still on a moving surface, running on sloping surfaces, grass and sandy surfaces with a percent error of less than 10%. Beberapa tahun terakhir, bencana alam seperti gunung meletus, tanah longsor, dan banjir sering terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Upaya penyelamatan korban jiwa dalam bencana tersebut menjadi sulit dilakukan, karena daerah bencana sangat sulit dicapai oleh tim penyelamat. Permukaan tanah daerah bencana yang tidak rata dan potensi bencana susulan menjadi salah satu kendala dalam penyelamatan korban oleh tim penyelamat. Proses penyelamatan korban biasa dilakukan oleh tim penyelamat dengan membawa mobil ambulans ke lokasi bencana dan tim penyelamat menyusuri daerah bencana untuk menemukan korban. Masalah yang akan muncul adalah tim penyelamat saat mencari korban membahayakan diri saat berada di daerah bencana yang masih berpotensi mengalami bencana susulan, mobil ambulans untuk mengangkut korban tidak bisa menuju lokasi korban karena permukaan tanah daerah bencana yang tidak rata. bila korban berada jauh dari lokasi mobil ambulans, tim penyelamat akan membutuhkan waktu untuk membawa korban menuju mobil ambulans. Sehubungan dengan ini diusulkan suatu rancangan pemecahan masalah dengan menggunakan teknologi robot. Robot digunakan untuk melewati daerah yang memiliki permukaan yang tidak rata berupa sebuah prototype robot hexapod yang menerapkan inverse kinematic dan algoritma gait, sehingga robot dapat melewati daerah yang memiliki permukaan tidak rata serta menjaga kestabilan badan robot saat berjalan. Robot hexapod dipilih karena memiliki tingkat kestabilan yang baik saat berjalan. Robot hexapod berhasil diuji dalam enam kondisi bidang berbeda dan sepenuhnya mampu menjaga kestabilan di setiap pengujian seperti ketika berdiri diam di permukaan yang bergerak, berjalan di permukaan miring, pemukaan rumput...
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top