Refine Search

New Search

Results in Journal Journal of Pharmaceutical And Sciences: 38

(searched for: journal_id:(4320142))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Athaillah Athaillah, Ugi Diana Lestari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 93-99; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.51

Abstract:
This research is aimed to find out the extract activity dried simplisia of garlic (Allium sativum L.) as an antibacterial which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium, to find out the alkaloid secondary of metabolites, flavonoid, tannin and saponin that contained in dried extract of garlic and to find out a concentration that has the most antibacterial activity which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium. Garlic was extracted by maceration method using a solvent ethanol 96%. After the extract obtaned, then phtochemical screening and standardization test. Thickening technique by evaporation used vacum rotary evaporator until thick extarct was obtained. Antibacterial activity thest by using disk diffusion method. This research was used seven concentrations which were 20% (b/v), 30% (b/v). 40% (b/v), 50% (b/v), 60% (b/v), 80% (b/v)and100% (b/v). The result of phytochemical screening test, ethanol extract garlic (Allium sativum L.) positive contained compound alkaloid, flavonoid, saponin and tannin. Standardization of power simplisia fulfill the requirements set by Depkes RI 2000. The result of activity test of optimum antibacterial was obtained inhibitory power with the number 27 mm on 40% (b/v) concentration. This proves that garlic (Allium sativum L.) have antibacterial affects against Bacillus cereus bacterium
Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, Salman Sulaiman
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 64-76; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.44

Abstract:
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang sangat popular. Sediaan tablet dapat dibuat dengan berbagai cara, diantaranya dengan metode kempa langsung, granulasi basah, granulasi kering, fast melt granulation, dan foam granulation. Masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode kempa langsung memiliki kelebihan pada prosesnya yang cepat yaitu hanya membutuhkan proses pencampuran dan pengempaan. Tidak semua bahan aktif dapat langsung dikempa karena memiliki kelemahan pada sifat alirnya yang jelek dan tidak kompresibel. Proses kempa langsung memerlukan bahan tambahan atau eksipien yang disebut filler-binder. Artikel review ini akan mendiskusikan tentang perkembangan eksipien untuk pembuatan tablet secara kempa langsung. Saat ini banyak eksipien kempa langsung yang ditawarkan di pasar, dengan berbagai keunggulannya. Eksipien tersebut merupakan material co-processed yang dikembangkan dari material asal yang tidak dapat digunakan untuk eksipien kempa langsung. Berbagai co-processing yang dilakukan pada akhir akan menghasilkan material baru yang memiliki sifat-sifat yang lebih baik. Dengan tersedianya berbagai jenis eksipien kempa langsung, maka formulator memiliki pilihan yang beragam untuk diaplikasikan dalam formula yang dirancang. Hal ini akan memberikan keleluasaan dalam memilih eksipien untuk diaplikasikan pada berbagai zat aktif sehingga akan menghasilkan sediaan yang bermutu.
Fauziah Fauziah, Adyani Maulinda, Azmalina Adriani
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 77-84; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.47

Abstract:
Salah satu sediaan kosmetika yang telah menjadi kosmetika utama bagi para wanita adalah lipstik. Lipstik yang digunakan harus terbebas dari cemaran terutama cemaran logam berat seperti timbal (Pb). Persyaratan kandungan cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kosmetik menurut BPOM RI Nomor Hk.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011, tidak melebihi nilai ambang batas sebesar 20 mg/kg atau 20 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat timbal (Pb) dalam sediaan lipstik yang beredar di Kota Banda Aceh secara spektrofotometri serapan atom. Populasi dalam penelitian ini yaitu sampel lipstik yang dijual dikota Banda Aceh, pengambilan sampel lipstik dilakukan dengan metode random sampling, sebanyak lima sampel lipstik. Hasil penelitian diperoleh kadar timbal bertutut-turut pada sampel kode sampel 1 yaitu 6,83 mg/kg, sampel 2 yaitu 0,12 mg/kg, sampel 3 yaitu 0,72 mg/kg, sampel 4 yaitu 2,99 mg/kg dan sampel 5 yaitu 1,2 mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari lima sampel lipstik keseluruhannya memenuhi persyaratan, nilai ambang batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam sampel masih dibawah 20 mg/kg atau 20 ppm.
Reqgi First Trasia
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 58-63; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.41

Abstract:
Skabies merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO memasukkan skabies ke dalam daftar neglected tropical disease. Pengobatan skabies saat ini masih mengalami kendala karena kesalahan pemilihan obat. Sulitnya penegakan diagnosis skabies menyebabkan obat yang diresepkan pun tidak tepat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas jenis-jenis skabisida yang dapat digunakan serta meninjau kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Skabies dapat diobati dengan skabisida, seperti sulfur presipitatum, gama benzen heksaklorida, benzil benzoat, krotamiton, permetrin, ivermektin, dan terapi herbal. Dari beberapa skabisida tersebut, permetrin adalah obat yang paling banyak digunakan karena efikasinya yang lebih tinggi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi acuan para klinisi dalam memilih skabisida yang tepat bagi penderita.
M. Rifqi Efendi, Mesa Sukmadani Rusdi, Fitria Anisa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 85-92; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.42

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit yang terdapat pada daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) serta menguji aktivitas antibakterinya. Isolasi jamur endofit dilakukan dengan kultivasi dan subkultivasi jamur yang tumbuh dari daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang sebelumnya telah disterilkan pada media potato dextrose agar (PDA). Identifikasi jamur endofit dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap morfologinya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar. Dari daun dan rimpang kencur diperoleh lima isolat jamur endofit yang diidentifikasi sebagai Torulla sp. (KG001), Mucor sp. (KG002), Fusarium sp. (KG003), Geotricum sp. (KG004), dan Drechslera sp. (KG005). Tiga ekstrak etil asetat jamur endofit Torulla sp. (KG001), Fusarium sp. (KG003), dan Drechcera sp. (KG005) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus and Vibrio cholera) dan Gram negatif (Bacillus subtilis and Eschericia coli) pada konsentrasi 3.75 %. Jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter hambat 10-20 mm) adalah Torulla sp. (KG001) dan Drechslera sp. (KG005). Sedangkan, jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri sedang (diameter hambat 5-10 mm) adalah ekstrak etil asetat jamur Fusarium sp. (KG003). Aktivitas antibakteri terbesar ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat isolat jamur Drechslera Sp. dengan diameter hambat 16 mm terhadap bakteri uji Vibrio cholera.
Yuska Noviyanty Noviyanty, Herlina Herlina, Cahyan Fazihkun
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 100-105; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.52

Abstract:
Biduri plants (Calotropis gigantea L) are used as medicinal plants, namely as cough and anti-allergic medicines. Research conducted by (Suchita Siggn. 2014) shows the presence of glycoside compounds, saponins, alkaloids, flavonoids, and tannins. then the researchers are interested in carrying out research on the identification and determination of saponin levels from the extract of the baby root (Calotropis gigantea L) by the Gravimetri method. Qualitative test was carried out by inserting 500 mg of biduri root extract (Calotropis gigantea L) into a test tube, then adding 10 ml of hot water, shaking vigorously for 10 seconds and adding HCL, then a quantitative test was carried out using the gravimetric method. Based on the results of research that has been carried out the extract of the betel root (Calotropis gigante L) positive containing saponin compounds with saponin content is 2.6% with a weight of 1.16 gram saponins using the gravimetric method
Muhammad Gunawan, Muharni Saputri, Suci Indah Sari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 42-50; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.43

Abstract:
Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan yang mengalami kesulitan dalam berhubungan seksual. Disfungsi seksual meliputi disfungsi ereksi, impotensi, ejakulasi dini dan gangguan hasrat (libido). Pengatasan gangguan seksual salah satunya dengan menggunakan afrodisiaka. Afrodisiaka merupakan semacam zat perangsang yang dapat meningkatkan gairah seks. Salah satu buah yang memiliki efek afrodisiaka yaitu buah semangka, tepatnya pada lapisan putih pada kulit yang mengandung sitrulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi afrodisiaka dan jumlah dosis yang efektif dari ekstrak etanol albedo (mesocarp) semangka (EEAS) terhadap mencit dengan menggunakan ICC (Introducing, Climbing and Coitus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan 30 ekor mencit dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (kontrol negatif) CMC 0,5 %; kelompok II (kontrol positif) jamu pasak bumi; kelompok III; IV;V EEAS dengan dosis 7; 13; dan 27 g/kgBB. Pemberian pada mencit secara oral dan dihitung intensitas ICC. Intensitas ICC dianalisis secara statistik menggunakan metode One Way ANOVA dan uji Post-Hoc Duncan menggunakan SPSS 24.0. Hasil uji statistik intensitas ICC antara kelompok jamu pasak bumi dan EEAS menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan nilai α > 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa EEAS berpotensi sebagai afrodisiaka pada mencit dengan dosis yang paling efektif sebesar 13 g/kgBB.
Vriezka Mierza, Sudewi Sudewi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 50-57; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.45

Abstract:
Kapulaga lokal (Amomum compactum Sol. ex Manton) mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan senyawa sineol. kapulaga lokal yang bersifat sebagai anticendawan dan mengandung antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol buah kapulaga yang diformulasikan menjadi sediaan obat kumur yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutanspada konsentrasi tertentu. Adapun metode dari penelitian ini adalah dengan menggunakan pengujian aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dari sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga.Sediaan dievaluasi stabilitas fisik penyimpanan selama 4 minggu, uji pH dan pengujian antibakteri. Seluruh sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga yang dibuat memiliki bentuk fisik yang baik dan stabil pada penyimpanan selama 4 minggu, tidak memiliki pH yang sesuai dan hasil uji aktivitas antibakteri sedian obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga dengan konsetrasi ekstrak 2%, 4%, dan 6% pada Streptococcus mutans, menghasikan diameter daya hambatnya berurut-turut 8,42 mm; 9,03 mm; dan 9,48 mm, sedangkan Staphylococcus aureus diameter daya hambatnya secara berurutan 12 mm, 11 mm, dan 10 mm. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga dapat diformulasikan menjadi obat kumur dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6% yang memiliki daya hambat kategori sedang terhadap bakteri Streptococcus mutans dan memiliki daya hambat kategori kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
, Rina Desni Yetti, Desi Ratnasari, Nessa Nessa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 14-21; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.35

Abstract:
Umbi bit merah (Beta vulgaris L.) mengandung senyawa betasianin 5-O-beta-glikosida yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan uji antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) diekstraksi dengan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) menggunakan pelarut air dan dikeringkan dengan metode freeze drying selama 48 jam. Pengujian betasianin dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dimana diperoleh nilai Rf = 0,7166 dan panjang gelombang 535 nm yang dianalisis dengan metode spektofotometri UV-Vis. Spektrum FT-IR menunjukan bahwa isolat mengandung gugus-gugus fungsi yang identik dengan betasianin standar (Sigms Alderich). Betasianin diperoleh dalam ekstrak umbi bit merah dengan kadar sebesar 98,6474 %. Umbi bit merah stabil pada suhu 40 °C dan pada pH 5. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylylhydrazyl) dengan panjang gelombang 515,50 nm. Hasil penelitian ini menunjukan adanya aktivitas antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) dengan nilai IC50 21,8878 µg/mL dibandingkan dengan nilai IC50 vitamin C 7,1099 µg/mL. dapat disimpulkan bahwa umbi bit merah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat (antioksidan tinggi
Ridho Asra, Rusdi Rusdi, Riri Nofrianti
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 22-32; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.37

Abstract:
The mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) contains anthocyanin pigments, which has an important role in coloring. This study aims to determine the physicochemical properties of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) with two methods, which is an examination with UV-Vis and FTIR spectrophotometry. Then the extract was characterized, identified, and analyzed for its stability against temperature, pH, and applied as a coloring agent in the formulation of pharmaceutical preparations (tablets). The results showed that the yield of mangosteen peel extract obtained 13.0975 %, drying losses 5.2822 %, total ash content 14.488 %, acid insoluble ash content 0.684 %, water-soluble extract content 29.58 %, extract content dissolved in ethanol 37.78 %, total anthocyanin content with λmax = 367 nm which is = 9.58 mg / 100 g and with λmax = 289 nm which is = 52.43 mg / 100 g. In this study, the anthocyanin pigment content in mangosteen peel extract cannot be used as an alternative to natural dyes for pharmaceutical preparations (tablets).
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 7-13; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.33

Abstract:
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap kerusakan jaringan yang dimediasi oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun malur (Brucea javanica (L.) Merr.) dan daya hambatnya terhadap enzim COX-2. Hewan yang digunakan pada penelitian ini ialah tikus putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu dosis 250 mg/kg BB, dosis 500 mg/kg BB, pembanding (Celecoxib), kontrol positif dan kontrol negatif. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan cara menginduksi telapak kaki tikus dengan karagen kemudian diukur volume udemnya menggunakan pletismometer dan pengukuran daya hambat COX-2 menggunakan microplate readers. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun malur dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi secara signifikan (p < 0,05). Dosis 500 mg/kg BB memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan (p < 0,05) sedangkan dosis 250 mg/kg BB tidak memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun malur memiliki efek antiinflamasi pada dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB dan daya hambat terhadap COX-2 pada dosis 500 mg/kg BB.
, Asri Mei Linda
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 1-6; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.34

Abstract:
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman obat didunia. Wilayah hutan tropis indonesia memiliki keanekaragaman hayati tettinggi ke-2 didunia setelah Brazil. Tanaman senduduk (Melastoma malabathricum L) merupakan salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol bunga senduduk (Melastoma malabathricum L). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% selama 7 hari. Ekstraksi yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. kandungan metabolit sekunder diidentifikasi dengan reaksi warna flavonoid diuji dengan reagen Mg dan HCL, alkaloid diuji dengan mayer, dragendrof, dan wagner saponin diuji dengan reaksi busa, tanin diuji dengan reagen Fecl3 dan triterpenoid/steroid diuji dengan reaksi asam asetat anhidrat. Kemudian dilakukan uji penegasan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukan adanya perubahan warna yang positif ditunjukkan dengan adanya mengandung flavonoid, tannin, dan saponin, dan berdasarkan hasil uji penegasan uji kromatografi lapis lipis (KLT) didapatkan hasil positif flavonoid, tannin, dan saponin.
Shinta Putri Larasati, Nina Jusnita
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 33-41; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.38

Abstract:
Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Kurkumin dari kunyit diketahui mempunyai senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai antioksidan tetapi kelarutan dan bioavailabilitasnya rendah. Untuk memperbaiki sifat tersebut, maka dibuatlah kunyit (Curcuma longa L.) dalam formulasi baru berbentuk nanoemulsi. Penelitian ini menggunakan metode homogenisasi inversi suhu 30°C dan 10°C. Konsentrasi ekstrak yang digunakan sebanyak 30% dan Tween 3% sebagai emulsifier. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran partikel nanoemulsi pada pembuatan suhu 30°C memiliki ukuran lebih kecil yaitu 18,1 nm. Aktivitas antioksidan dari sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit memiliki IC50 sebesar 31,16% dan 32,11%. Hasil ini lebih besar dibanding ekstrak yaitu sebesar 30,01%. Sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit stabil pada penyimpanan 40°C serta kelarutannya meningkat
, Ginda Haro, Masfria Masfria
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 24-28; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.22

Abstract:
Kucai (Allium schoenoprasum, L.) adalah tanaman yang berumur panjang (perrenial) yang sangat mudah tumbuh. Tanaman ini dikenal sebagai sayuran dari keluarga Liliaceae. Secara tradisional, kucai digunakan sebagai obat anti hipertensi dan peluruh batu ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui perbedaan kandungan kalium, kalsium, dan natrium pada kucai yang segar dan direbus. Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah secara spektrofotometri serapan atom yang dilakukan pada panjang gelombang 766,5 nm , 422,7 nm, dan 589,0 nm. Hasil penelitian ini menunjukkan kadar kalium pada daun kucai segar sebesar (321,1147±0,9891) mg/100 g dan pada daun kucai rebus sebesar (169,2157±1,9352) mg/100 g. Kadar kalsium pada daun kucai segar sebesar (47,4054±0,7960) mg/100 g dan pada daun kucai rebus sebesar (43,8424±0,1995) mg/100 g. Kadar natrium pada daun kucai segar sebesar (10,0729±0,0619) mg/100 g sedangkan pada daun kucai rebus sebesar (4,2025±0,0564) mg/100 g. Sedangkan persentase penurunan kadar mineral setelah direbus untuk kalium adalah 47,30%, untuk kalsium sebesar 7,52%, dan untuk natrium sebesar 58,28 %.Secara statistik uji beda rata-rata kandungan kalium, kalsium, dan natrium antara daun kucai segar dan rebus dengan menggunakan distribusi F, menyimpulkan bahwa kandungan kalium, kalsium, dan natrium pada daun kucai segar lebih tinggi secara signifikan dari daun kucai rebus.
Emi Inayah Sari Siregar
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 29-35; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.30

Abstract:
Gaya hidup sebagai salah satu faktor tidak langsung, memegang peranan penting dalam mempengaruhi status gizi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh gaya hidup terhadap status gizi. Desain penelitian menggunakan cross sectional dengan sampel pegawai Direktorat Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan sebanyak 70 sampel. Metode penarikan sampel menggunakan total sampling. Faktor-faktor yang diukur adalah pola makan (kecukupan asupan karbohidrat dan lemak, jenis makanan dan frekuensi makan), aktivitas fisik, durasi tidur dan status gizi. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi status gizi responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh kecukupan asupan karbohidrat (p=0,000), kecukupan asupan lemak (p=0,022), aktivitas fisik (p=0,000) dan durasi tidur (p=0,000) dengan kejadian obesitas. Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi status gizi yaitu jumlah asupan karbohidrat.
, Rika Putri, Rino Wahyudi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 43-48; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.25

Abstract:
Telah dilakukan Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Antibiotik Di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi. Kurangnya pengetahuan terkait penggunaan antibiotik dapat menyebabkan ketidaktepatan akan penggunaan antibiotik itu sendiri. Ketidaktepatan ini dapat menimbulkan permasalahan kesehatan berupa resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner dengan metode deskriptif dan cara pengambilan responden dengan teknik Accidental Sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Data dianalisi dengan menggunakan program komputer. Berdasarkan hasil data penelitian tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa 17 orang (17%) responden memiliki pengetahuan yang kurang, 60 orang (60%) responden memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 23 orang (23%) memiliki pengetahuan baik. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik berada dalam kategori cukup. Dengan demikian peningkatan pengetahuan terhadap penggunaan antibiotik perlu lebih ditingkatkan, salah satunya adalah meningkatkan peran petugas kesehatan terutama apoteker untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan cara komunikasi, memberikan informasi dan edukasi (KIE) terhadap penggunaan antibiotik.
Boy Chandra, Rezza Puspita Sari, Sestry Misfadhila, Zikra Azizah, Ridho Asra
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 1-8; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.20

Abstract:
Penelitian tentang uji fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun kemangi (Ocimum tenuiflorum L.) telah dilakukan. Simplisia daun kemangi dimaserasi dengan metanol 98 % diperoleh ekstrak sebesar 45,5479 g dengan rendemen 22,77 %. Ekstrak metanol daun kemangi megandung senyawa alkaloid, flavanoid, fenol, tanin, saponin, dan steroid. Ekstrak diketahui memiliki aktivitas antioksidan dengan menurunnya absorban DPPH. Aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun kemangi dilakukan menggunakan metode DPPH untuk penentuan IC50. Dari pengujian dapat diketahui bahwa ekstrak daun kemangi memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 1370,92 ppm. Berdasarkan nilai IC50 menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kemangi memiliki aktivitas antioksidan yang sangat lemah
, Nolani Nurlita Bengi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 9-17; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.21

Abstract:
Decreased sexual desire is one of the factors of disharmony in the marital relationship and quite disturbing in domestic life, Medicine is traditionally widely taken, one using plants containing aphrodisiac. Aphrodisiac a kind of aphrodisiac to increase sex drive.In general, the plant compound that has potential as aphrodisiac is citrulline. Melon (Cucumis melo L.) is a plant that contains citrulline, which is used in the coating of white / albedo (mesocarp).This study aims to determine the melon fruit mesocarp have afrodisiaka effect on the effective dose. This study is an experimental method is percolation extraction using 30 mice were divided into 5 groups. Group I (CMC 0.5%), group II (herbal pegs the earth), Group III, IV, and V respectively using albedo Ethanol Extract Melon (EEAM) doses of 9, 18 and 36 g / kg. Oral administration by introducing watching, climbing and coitus. Observations were made for 5 days in a row. Statistical testing using test methods Post-Hoc Duncan SPSS 24.0. Statistical analysis showed no significant differences between the test group with α> 0.05 and an effective dose of 18g / kg.
Alfi Sapitri, Intan Afrinasari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 18-23; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.23

Abstract:
Escherichia coli ditemukan di usus manusia dan hewan. Bakteri ini mudah menyebar dengan mencemari air dan makanan. itu bisa terjadi pada cincau (Mesona palustris) yang memiliki karbohidrat, serat dan nutrisi yang tinggi. Sebagian orang menggunakan campuran minuman cincau dan juga obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontaminasi bakteri E. coli cincau yang dijual di Pasar Baru Stabat. Sampel dalam penelitian ini adalah cincau yang berasal dari 5 pedagang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode penelitian adalah MPN (Most Probable Number) untuk menghitung bakteri coliform, diikuti dengan pemeriksaan media Lactosa Broth, Brilliant Green Lactose Broth media, media Eosin Metilyene Blue Agar, pewarnaan gram dan tes Biokimia. Hasil penelitian ini menunjukkan lima sampel yang diuji, ada satu sampel positif yang terkontaminasi dengan bakteri E. Coli dan 4 sampel negatif yang terkontaminasi E. coli. Sehingga empat sampel cocok untuk dikonsumsi dan satu sampel tidak sesuai untuk konsumsi.
Yenni Sri Wahyuni, Erjon Erjon, Reza Aftarida
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 36-42; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.27

Abstract:
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh suhu penyimpanan terhadap stabilitas klindamisin fosfat dalam sediaan emulgel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju penguraian klindamisin fosfat dikarenakan variasi suhu penyimpanan dalam sediaan emulgel Emulgel klindamisin fosfat dilakukan penyimpanan pada suhu 30˚C, 50˚C, dan 70˚C. Pengukuran kadar dilakukan pada tiap interval waktu pada jam ke-0; 1; 2; 3; 4, dan jam ke-5. Penetapan kadar emulgel klindamisin fosfat menggunakan spektrofotometri UV-Vis kemudian hasil perolehan data dianalisa secara statistik menggunakan uji t berpasangan. Dari hasil penelitian didapatkan adanya penurunan kadar emulgel klindamisin fosfat pada sediaan dengan suhu penyimpanan 30˚C sebesar 99,0874%, suhu penyimpanan 50˚C sebesar 96,9314%, dan suhu penyimpanan 70˚C sebesar 96,0114% sehingga dapat dikatakan bahwa klindamisin fosfat dalam sediaan emulgel stabil secara kimia selama 5 jam pada suhu penyimpanan 30˚C, 50˚C, dan 70˚C dan kinetika laju penguraian klindamisin fosfat dalam sediaan emulgel mengikuti orde-2. Berdasarkan hasil pengolahan data secara statistik dapat dinyatakan bahwa suhu penyimpanan 30˚C, 50˚C, dan 70˚C menunjukkan data ada perbedaan signifikan (< 0.005)
, Dameria Siahaan, Iksen Iksen
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 49-54; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.28

Abstract:
Jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) have health benefits as an antimicrobial. The leaves contain flavonoids, tannins, saponins which act as antimicrobials. The purpose of this study was to study the potential antibacterial activity of ethanol extract of jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) On the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. This research conducted with an experimental method that included the collection and processing of samples, the examination of the simplicia characterization and phytochemical screening. The concentration of jackfruit leaf ethanol extract. Used was at a concentration of 500 mg mL, 400 mg/mL, 300 mg/mL, 200 mg/mL, 100 mg/mL, 100 mg/mL, 50 mg/mL , 25 mg/mL, 10 mg/mL 30 mg/ml chloramphenicol and blanks. Using the disk diffusion method to measure the clear zone against the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. Antimicrobial inhibition of ethanol extract of jackfruit leaves against Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 500 mg/mL has a strong antibacterial inhibition with a diameter of 10.8 mm. The bacteria Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi at a concentration of 500 mg/mL have inhibitory power, 9.2 mm, 9.6 mm, and 8.8 mm in the medium category. Positive control chloramphenicol has powerful antibacterial inhibition with an inhibition zone diameter of 28.6 mm.
Siti Maimunah, Rita Marthalena Zega, Alfi Sapitri
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 55-62; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.29

Abstract:
The shampoo is a dosage material used as a hair cleanser and epicarp head, especially the problem of dandruff caused by fungus. Kaffir lime has the content of essential oils, flavonoids and tannins are efficacious as an antifungal. The purpose of this study was to test the shampoo of kaffir lime and to know its inhibitory power to growth of Microsporum gypseum fungus. The type of this research is experiment with using agar diffusion method. Samples studied were epicarp juice of lime and mesocarp of kaffir lime with concentration respectively 10%, 20%, 30%, 40%, 50%. Shampoo dosage evaluation tests include inhibitory test, organoleptic test, pH test, high foam test and wetting test. The results showed that the lime mesocarp juice had inhibitory at 10% (13,09 mm) concentration, 20% (14,9 mm) concentration, 30% (18,52 mm) concentration, 40% concentration (20,86 mm ) and a concentration of 50% (22.53 mm). While the results of epicarp water of lime juice have a weak inhibitory power with a concentration of 10% (5,66 mm), Concentration of 20% (7,09 mm), concentration of 30% (8,09 mm), concentration of 40% (10,19), and concentration of 50% (11,36). Effective concentration on the preparation of shampoo preparations is the concentration of 20% and 30% of the lime juice mesocarp juice. The results of the evaluation test of two anti-dandruff shampoo formulations meet the requirements of a good shampoo and have respective inhabitants of F1 (20%) has a resistance of 14,54 mm and F2 (30%) has a resistance of 19,12 mm. Both dosage preparations are anti-dandruff.
, Helmice Afriyeni
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 24-29; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.13

Abstract:
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin). Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) (2015), Indonesia berada pada peringkat ke-7 dunia dengan prevalensi DM sebanyak 10 juta jiwa. DM dapat menjadi serius dan menyebabkan kondisi kronik yang membahayakan apabila tidak diobati dan tidak patuh dalam minum obat. Risiko utama terkait penyakit DM adalah hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetik, dehidrasi dan trombosis. Kejadian hipoglikemia dapat dipengaruhi oleh faktor umur, durasi menderita DM, berat badan, dan kontrol glikemik. Komplikasi akut dan kronis dari hipoglikemia dapat mengganggu kehidupan, seperti interaksi sosial, tidur, aktivitas seks, mengemudi, olahraga, dan aktivitas lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hipoglikemia pada pasien DM tipe 2 terhadap kepatuhan terapi dan kualitas hidup. Desain penelitian ini adalah cross sectional study atau studi potong lintang dengan subjek penelitian pasien DM Tipe 2 dewasa yang menggunakan obat Anti Diabetes Oral (ADO) lebih dari 6 bulan. Pasien yang memiliki riwayat hipoglikemia dibagi menjadi 3 grup, yaitu (1) Mengalami hipoglikemi 3 bulan terakhir; (2) Tidak mengalami hipoglikemi dalam 3 bulan terakhir; (3) Tidak pernah mengalami kejadian hipoglikemia. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale(MMAS), pengukuran kualitas hidup dengan Diabetes Quality of Life Questionnaire (DQoL), data yang diperoleh akan diolah secara statistik dengan menggunakan Uji Chi Square. Pada penelitian ini belum bisa membuktikan hubungan hipoglikemia terhadap kepatuhan terapi (p = 0,756; p>0,05) dan kualitas hidup pasien (p=0.143; p> 0,05).
, Nize Ria Azni, Rusdi Rusdi, Nessa Nessa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 30-37; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.17

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun kapulaga (Elettaria cardamomum (L.) Maton). Simplisia daun kapulaga diekstraksi dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70 %, kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi berdasarkan tingkat kepolaran dengan pelarut heksan, etil asetat dan air. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan asam galat sebagai pembanding. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan fraksi air daun kapulaga mengandung senyawa fenol, flavonoid, tanin dan saponin, untuk fraksi etil asetat mengandung fenol, flavonoid dan tanin, untuk fraksi heksan didapatkan hasil yang negatif pada semua senyawa yang diuji. Hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun kapulaga dengan IC50 berturut-turut 4058,7 μg/mL, 8419,3 μg/mL, 2281,7 μg/mL and 3889,6 μg/mL, sedangkan IC50 asam galat 4,89 μg/mL. Berdasarkan nilai IC50 ekstrak etanol, fraksi heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air dari daun kapulaga memiliki aktivitas antioksidan yang lemah jika dibandingkan dengan asam galat yang memiliki aktivitas antioksidan yang kuat
, Desy Natalia Siahaan
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 52-56; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.26

Abstract:
Penyalahgunaan antibiotik dengan cara penggunaan secara sendiri tanpa konsultasi kepada dokter pada mahasiswa terus menjadi masalah yang signifikan di negara maju dan negara berkembang. Hal tersebut disebabkan karena banyak kasus antibiotik digunakan secara tidak rasional sehingga berhubungan langsung dengan kemungkinan terjadinya resistensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien Medan terhadap penggunaan antibiotik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan dari 232 mahasiswa sebanyak 52% mahasiswa memiliki pengetahuan yang tinggi, 38% mahasiswa memiliki pengetahuan sedang dan 10% mahasiswa memiliki pengetahuan rendah.
M. Rifqi Efendi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 38-44; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.18

Abstract:
Latar belakang: Antibiotik adalah obat yang paling efektif melawan infeksi mikroba namun, perlahan kehilangan efikasinya terhadap mikroorganisme dikarenakan resistensi. Sehingga, pada beberapa tahun terakhir ini, penelitian terkait pencarian senyawa baru dari alam untuk penanganan penyakit infeksi menjadi penting untuk dilakukan. Bunga Nusa Indah (Mussaenda frondosa L.) merupakan tumbuhan tropis asli Indonesia. Secara tradisional, Mussaenda frondosa L. telah digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti sakit kepala dan jaundice. Studi literatur terhadap aktivitas antibakteri bunga nusa indah masih sangat terbatas, sehingga perlu dilakukan penelitian terkait aktivitas antibakteri Tujuan: untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas antibakteri dari fraksi kelopak bunga Mussaenda frondosa L. dan apakah signifikan aktivitas antibakteri fraksi kelopak bunga Mussaenda frondosa L dibandingkan dengan pembanding kloramfenikol. Metode: Metodologi penelitian ini dimulai dari pengambilan sampel, identifikasi sampel, ekstraksi dan fraksinasi. Skrining pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar Hasil: Aktivitas antibakteri paling potensial adalah fraksi etil asetat dengan diameter hambat 5,6 – 8,3 mm terhadap 12 bakteri patogen uji, kecuali Streptococcus mutans ATCC 25175. Fraksi n-heksana menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923, Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dan Vibrio cholerae inaba dengan diameter hambat 6,0 – 7,5 mm. Sedangkan, fraksi butanol hanya memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan diameter hambat 7,5 mm. Kesimpulan: fraksi yang paling potensial dalam menghambat bakteri uji adalah fraksi etil asetat, dengan menghambat 12 bakteri patogen uji, diikuti oleh fraksi n-heksana yang menghambat 3 bakteri.
Fauziah Fauziah, Siti Arum Widiyanti, Rinaldi Rinaldi, Ernita Silviana
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 45-51; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.19

Abstract:
Daun pare mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, steroid, alkaloid, dan terpenoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Daun pare dapat dimanfaatkan sebagai obat, salah satunya yaitu untuk mengobati luka karena mempunyai daya hambat bakteri dan dapat menutup luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh basis terhadap stabilitas salep dan untuk mengetahui formulasi mana yang memenuhi syarat stabilitas sediaan salep. Jenis penelitian ini ialah eksperimental. Dasar salep yang digunakan yaitu dasar salep hidrokarbon dan dasar salep serap. Penyarian ekstrak daun pare dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Salep ekstrak etanol daun pare dibuat sebanyak 3 formula dengan menggunakan basis yang sama dan konsentrasi ekstrak yang bebeda. Pembuatan sediaan salep menggunakan metode peleburan. Evaluasi sediaan salep dilakukan dengan uji organoleptik, uji homogenitas, uji pengukuran pH dan uji daya sebar. Hasil pengujian semua sediaan salep dari formula I, formula II dan formula III memenuhi parameter kualitas uji organoleptis, homogenitas dan uji pH. Untuk pengujian daya sebar pada masing-masing formula hanya formula I yang mendekati parameter uji stabilitas fisik.
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 17-23; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.12

Abstract:
Research on the influence of polysaccharides from the jackfruit rags (Artocarpus Heterophyllus Lamk) on the content of glucose syrups on hydrolyzing with HCl 30% has been done. A sample has got with simple random sampling. The cellulose was isolated from the seeds of rags. The cellulose was hydrolyzed by HCl 30% to produce glucose syrups. The content was analyzed by the Nelson-Somogyi method and calculated by regression analysis. The results of analysis show that the content of glucose syrups from the cellulose from the jackfruit rags were 2.47%. Keywords: cellulose, jackfruit rags, glucose syrups, Hydrolysis
, Sudewi Sudewi, Masrina Prihatini
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 1-9; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.10

Abstract:
Collagen is one of the proteins that make up the body or the organic structure that builds bones, teeth, joints, muscles, and skin. Collagen is very often used by the community because it is to maintain healthy skin and maintain skin elasticity. This study aims to determine collagen from bovine bones can be formulated into transparent soap preparations. Bovine bone collagen (Bos sp.) was extracted by immersion using 1N NaOH. The production of transparent soap formulas in several concentrations is 0.5%, 1%, 2.5%, and 5% collagen. The bovine bone collagen yield was obtained 27.5%. Collagen in a variety of concentrations produces different colors and the ability to moisturize the skin. Bovine bone collagen (Bos sp.) was formulated in transparent soap preparations from bovine bone collagen (Bos sp.) with a concentration of 0.5% including the category "moist" and transparent soap preparation from bovine bone collagen (Bos sp.) 1% , 2.5%, and 5% including the category of "very humid" and the results of testing on volunteers showed that transparent soap from collagen in bovine bone (Bos sp.) did not cause irritation.
, Maisitoh Maisitoh, Rusdi Rusdi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 10-16; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i1.11

Abstract:
Analysis of metal contents lead and cadmium in jamu asam urat using atomic absorption spectrophotometric has been done. The aim of this study is to analyze metal contents (lead and cadmium) in jamu asam urat with diffrent brands which are circulate in Padang cyti. Three samples of jamu asam urat with diffrent brands were analyzed the metal contents of lead and cadmium using atomic absorption spectrophotometric. The level of lead metal was obtained using regression equation y = 0.05378 + 0.02963x with R = 0.9977, and the level of cadmium metal was obtained using regression equation y = 0.08236 + 0.23186x with R = 0.9945. The result of this study showed that three samples were not detected containing metal cadmium, but three samples were positive containing metal lead, 2.2055 ppm (samples I), 3.6465 ppm (samples II), and 3.0156 ppm (samples III). The renits showed that all samples qualified for healy metal contamination by BPOM that less than 10 ppm for Pb and less than 0.3 ppm for Cd heavy
, Muhammad Gunawan, Maizatun Maghfirah
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 39-44; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.6

Abstract:
Green Okra is one vegetable that contains minerals is quite high. One such mineral is phosphorus, which is an essential mineral needed for growth and repair of cells in the body. This study aims to determine the levels of phosphorus in raw green okra, steamed, and stew as commonly consumed by people. The research method using wet digestion analysis and measurement with visible spectrophotometry with the addition of phosphorus reagent color developer which is a mixture ammonium molibdat 4%, ascorbic acid 0.1 N, antimonil potassium tartrate, and 5N sulfuric acid produces a blue color and is measured at a wavelength of 722, 50 nm with the working time in the 30th minute to the 38th minute. Levels of phosphorus obtained from raw green okra 62.115 mg / 100 g, steamer 60.130 mg / 100 g,
, Desi Ardilla, Mariany Razali, Maya Handayana Sinaga
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 7-15; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.2

Abstract:
Indonesia is the country with the largest level of Muslim population in the world. Guarantees for the safety and protection of consumers in the food sector must be considered. One of the parameters used in product halal is total microbial analysis. The sample used was processed tuna which is adulterated with lard (1: 1). The research method uses Factorial Completely Randomized Design method which consists of two factors, Factor I: Solvent Concentration (K) consists of 4 levels, namely: K1 = 20%, K2 = 30%, K3 = 40%, K4 = 50%, Factors II: Maseration Time (W) consists of 4 levels : W1 = 06 Hours, W2 = 12 Hours, W3 = 18 Hours, and W4 = 24 Hours. The results showed that the n-hexane concentration had a very significant effect (p
, Festires Kurnia Harefa, Zulharmita Zulharmita, Nessa Nessa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 32-38; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.5

Abstract:
Telah dilakukan penetapan kadar logam kalsium dan besi pada sampel daun kelor yang diperoleh dari daerah Purus, Kecamatan Padang Barat. Dalam penelitian ini proses destruksi yang digunakan adalah destruksi basah. Hasil dari destruksi ini selanjutnya diukur dengan spektrofotometer serapan atom menggunakan lampu katoda berongga Ca dan Fe sebagai sumber cahaya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan garis regresi linier dari larutan standar kalsium dengan persamaan y = 0,03818 + 0,17036x, dengan r = 0,9997, sedangkan untuk larutan standar besi didapatkan y = 0,03831 + 0,064275x, dengan r = 0,9986. Nilai batas deteksi (BD) dan batas kuantitasi (BK) dari kalsium yaitu 0,0678 mg/kg dan 0,2261 mg/kg, sedangkan nilai batas deteksi (BD) dan batas kuantitasi (BK) dari besi yaitu 0,5790 mg/kg dan 1,9292 mg/kg. Dari persamaan garis regresi linier tersebut diperoleh kadar kalsium dalam daun kelor dengan tiga kali pengulangan yaitu 1277,986 mg/kg, 1269,178 mg/kg, 1229,063 mg/kg sehingga rata-rata kandungan kalsium dalam daun kelor yaitu 1258,742 mg/kg. Sedangkan, hasil dari penetapan kadar besi dalam daun kelor dengan tiga kali pengulangan yaitu 210,509 mg/kg, 198,985 mg/kg, 206,117 mg/kg sehingga rata-rata kandungan besi dalam daun kelor yaitu 205,204 mg/kg
Nurisma Kemalasari, Sumardi Sumardi, Yessi Febriani
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 1-6; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.1

Abstract:
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) merupakan tumbuhan lokal yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Pohon nangka ini biasanya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak etanol kulit batang nangka terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit ayam broiler dan penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode kalorimetri.Penelitian ini dimulai dengan identifikasi tumbuhan, pengambilan kulit batang nangka, pengolahan simplisia kulit batang nangka, pembuatan ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam), pengukuran kandungan flavonoid total ekstrak etanol kulit batang nangka, penyiapan hewan uji, penyayatan luka pada kulit ayam, uji efektivitas flavonoid total ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) terhadap penyembuhan luka sayat pada ayam broiler (Gallus domesticus), analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit ayam broiler (Gallus domesticus) memberikan efek daya penyembuhan yang lebih baik dari kontrol negatif. Hasil pengolesan 4 kali dalam 24 jam paling cepat memberikan efek penyembuhan terhadap luka sayat pada kulit ayam broiler (Gallus domesticus). Berdasarkan hasil statistik terdapat 86,1% flavonoid yang mempengaruhi luas kurva dan mempengaruhi kesembuhan luas luka sayat pada ayam.
Salman Salman,
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.7

Abstract:
Cover, Daftar Isi, Dewan Redaksi
, Intan Purnama Sari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 23-31; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.4

Abstract:
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker. Pelayanan kefarmasian suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi konsumen apotek terhadap pelayanan apotek dan tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan apotek di Kecamatan Binjai Kota. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif yang bersifat cross-sectional. Pengambilan data penelitian dilaksanakan di Apotek yang berada di Kecamatan Binjai Kota pada bulan Juni-Juli 2017. Sampel yang diambil sebesar 313 orang. Analisis data menggunakan program Statistical Product and Service Solutions (SPSS) dengan metode uji Chi Square. Parameter uji dalam penelitian ini adalah kehandalan, ketanggapan, keyakinan, empati dan fasilitas berwujud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi konsumen Apotek terhadap pelayanan Apotek di Kecamatan Binjai Kota memperoleh rata-rata sebesar 36,45 dari total kepuasan konsumen dengan kategori puas. Hasil tingkat kepuasan konsumen di apotek berdasarkan variabel kehandalan, ketanggapan, keyakinan, empati dan fasilitas berwujud berada pada kategori puas yaitu 77,3%, 78,6%, 53,0%, 71,9% dan 83,1%. Hasil pengaruh karakteristik umur, pendidikan dan pekerjaan konsumen terhadap kepuasan konsumen dengan menggunakan uji Chi Square Test menunjukkan pengaruh yang signifikan (P< 0,05). Persepsi konsumen terhadap pelayanan apotek di Kecamatan Binjai Kota termasuk kategori puas. Tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan apotek di Kecamatan Binjai Kota termasuk kategori puas.
Salman Salman
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.9

, Nurul Hidayah
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 1, pp 16-22; doi:10.36490/journal-jps.com.v1i1.3

Abstract:
Inflamasi merupakan suatu reaksi lokal organisme terhadap suatu iritasi atau keadaan non fisiologis. Pengobatan antiinflamasi yang ada memiliki banyak efek samping jika dipakai dalam waktu yang lama. Masyarakat Indonesia telah mengenal dan menjadikan daun salam sebagai obat antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak air daun salam (Sygyzium polyanthum Wight.) pada telapak kaki tikus Wistar jantan yang diinduksi karagenan 1%. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Data yang diperoleh dianalisis dengan SPSS 20.0 metode ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil dari karakteristik simplisia daun salam menunjukkan bahwa kadar air 6,6%, kadar sari larut air 35%, kadar sari larut etanol 21%. Hasil uji antiinflamasi, pada pengamatan persen radang kelompok induksi memiliki persen radang yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok uji lainnya pada menit ke (T300), sedangkan pada persen inhibisi radang, semua kelompok ekstrak uji memiliki efektivitas yang sebanding dengan kelompok pembanding pada (T300). Kelompok EADS 50 mg/kgbb merupakan dosis ekstrak terbaik sebagai antiinflamasi pada (T300) dimana senyawa flavonoid diperkirakan bertanggung jawab terhadap penurunan volume radang kaki hewan uji
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top