Refine Search

New Search

Results in Journal Journal of Applied Agricultural Science and Technology: 67

(searched for: journal_id:(3601384))
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Sardino Sardino, Hari Andi Ilham, Adek Saputra, Rully Syahta, Fithra Herdian, Jamaluddin Jamaluddin
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 2, pp 72-82; doi:10.32530/jaast.v2i2.47

Abstract:
Pemanjatan kelapa umumnya dilakukan secara tradisional yaitu dengan memanjat pohon kelapa secara langsung tanpa menggunakan alat. Pemanjatan secara langsung mempunyai resiko kecelakaan yang besar, karena tidak adanya pengaman saat memanjat. Untuk mengatasi masalah tersebut dirancang sebuah alat panjat kelapa portable yang aman, nyaman dan mudah dioperasikan karena dilengkapai dengan safety belt. Alat ini bekerja melalui efek jeratan pada pohon kelapa Berdasarkan pengujian yang dilakukan, didapatkan hasil kecepatan pemanjatan dengan alat panjat kelapa portable ini adalah 0.27 meter/detik, kecepatan pemetikan 3 detik/buah dan biaya pokok alat Rp. 8,02 /meter. Dengan alat ini pemanjat lebih bebas menggunakan kedua tangan dalam membersihkan tajuk kelapa dan pemetikannya karena tubuh kita ditopang/ditahan oleh safety belt. Secara umum alat ini efektif digunakan untuk melakukan pemanjatan kelapa.
Sefrimon Sefrimon
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 2, pp 41-54; doi:10.32530/jaast.v2i2.45

Abstract:
Tembakau merupakan tanaman perkebunan jangka pendek, sehingga petani akan mudah beralih usahatani lain jika harga komoditi ini kurang menguntungkan. Selain itu persoalan yang dihadapi petani tembakau adalah petani hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga) dalam pemasaran tembakau dan lemahnya konsolidasi kelembagaan yang ada sehingga tidak mampu untuk membantu petani merubah posisinya sebagai price maker (pembuat harga). Kecamatan Bukit Barisan adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota yang memiliki luas 394,85 km2 dan terdiri dari 5 nagari. Kecamatan Bukit Barisan merupakan salah satu sentra produksi tembakau jenis tembakau payakumbuh cukup tinggi yaitu 14,40 ton/ha dibandingkan kecamatan lainnya. Salah satu nagari penghasil tembakau terbesar di kecamatan Bukit Barisan adalah nagari Baruah Gunung. Pengelolaan tembakau rakyat kurang intensif dibandingkan penanganan oleh perkebunan besar swasta atau perkebunan negara. Teknik budidaya dan teknologi tradisional, input tidak optimal dan sejumlah faktor tidak terkontrol lain seperti iklim, merupakan masalah utama peningkatan produksi tembakau rakyat seperti di nagai tempat penelitian. Produktivitas tembakau rakyat rendah disebabkan ketersediaan benih tidak murni dan manipulasi agronomis bersifat tradisional. Penelitian ini juga menggunakan metode survey, yaitu penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual tentang sosial ekonomi petani. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa: Rata-rata tingkat produksi tembakau petani sebesar 308,38 kg. Tingkat kelayakan Usahatani tembakau : R/C = 329.705.000/232.381.657 = 1.42. R/C > 1, berarti usahatani tersebut layak untuk dilanjutkan.
Veronice Veronice, Helmi Helmi, Henmaidi Henmaidi, Ernita Arif
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 2, pp 1-10; doi:10.32530/jaast.v2i2.38

Abstract:
Kegiatan Pengembangan Kapasitas petani kecil dan kelembagaannya merupakan bagian dari proses penyebaran tahapan inovasi, yang membutuhkan sumber daya yang memadai diperlukan untuk dapat menciptakan inovasi. Sumber daya ini dapat berupa teknologi, dukungan keuangan, pemimpin inovatif, termasuk sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai. Kondisi ini menjadi ide untuk dieksplorasi dalam penelitian ini, "mengapa inovasi yang diberikan belum sepenuhnya diterapkan oleh petani kecil dan apa yang terjadi dengan pengembangan kapasitas petani kecil dan kelembagaan saat ini"?. Dalam hal ini, pendekatan manajemen pengetahuan dapat berperan dalam mendukung dan mempercepat proses inovasi di bidang pertanian Penelitian ini dilakukan melalui tinjauan jurnal terdahulu, data primer dan sekunder serta studi pendahuluan.Data primer diperoleh melalui informan kunci yang terdiri dari petani, penyuluh, pedagang input, pedagang hasil, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah Data dikumpulkan dari Oktober2015 hingga Juni 2016.Studi pendahuluan ini mengidentifikasi kelompok petani dan kelembagaan penyuluhan di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Hasil analisis menunjukkan masih banyaknya kelompok petani yang berada pada kelas kelompok tani pemula yaitu di Nagari Alahan Panjang (53 persen), nagari Salimpek (64 persen), nagari Sungai Nanam (61 persen), dan nagari Aie Dingin (62,5 persen) serta jumlah penyuluh yang belum ideal untuk Kecamatan Lembah Gumanti. Berdasarkan temuan di atas, kapasitas petani kecil dan kelembagaandapat terwujud pada peningkatan usaha dan kehidupan petani di kawasan pertanian melalui pendekatan Manajemen Pengetahuan .
I K Budaraga, Eva Susanti, Asnurita Asnurita, Elliza Nurdin, Ramaiyulis Ramaiyulis
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 3, pp 226-238; doi:10.32530/jaast.v3i2.106

Abstract:
Agricultural and plantation wastes, especially cocoa plants, have not been widely used, although in some conditions they have potential as animal feed ingredients and raw materials for composting. So needs a program potential utilization of waste produced by the plant cocoa is cocoa shell waste such as being liquid smoke. Liquid smoke is a natural food preservative. One of the advantages of liquid smoke is antioxidant compounds. This study aims to know the antioxidant activity of cocoa shell liquid smoke on a variety of different water content. This research is an experimental quantitative descriptive method so that an analysis of the antioxidant activity of liquid smoke from cocoa peel is obtained. The results showed that the liquid smoke of cocoa peels at a moisture content of 25%, 20%, 15%, and 10% had strong antioxidant activity because the IC 50 values obtained were below 50 ppm.
Rina Sriwati, Tjut Chamzhurni, Alfizar Alfizar, Bonny Pw Soekarno, Vina Maulidia, Irza Sahputra
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 3, pp 202-212; doi:10.32530/jaast.v3i2.120

Abstract:
Molleculler study was conducted to identify several species of Trichoderma isolate from several plant (Pine, Cacao, Gliceria, Nutmeg, Bamboo, Coffee, Potato). The growth of eight species Trichodermaafter pelleting formulation has been observed. Pellet Trichoderma harzianum have good ability to growth on PDA medium after 4 weeks storage. Base on their mycelium diameter growth on PDA, T. harzianum have selected as potential species on pellet formulation growth. Several dose of pellet formulation have been applied for controlling Phythopthora disease. The application of T. harzianum pellets in the form of a 2 g / 100 ml (S1) suspension effective in inhibiting the development of Phytophthora sp in cacao seedlings, when the higher concentrations of T. harzianum pellets applied to cacao seeds,the disease severity increase. Pellet Trichoderma could be use as biological control agent of cacao seedling in certain dosage.
Yun Sondang, Khazy Anty, Ramond Siregar
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 3, pp 213-225; doi:10.32530/jaast.v3i2.121

Abstract:
The productivity of land and plants have decreased slowly, due to the use of inorganic fertilizers continuously. Efforts to improve productivity are reducing inorganic fertilizers and returning organic matter to the soil. The aim of this research are (1) to identify the chemical characteristics of biofertilizer with an indigenous microorganism as bioactivators and (2) to study the effect of biofertilizer on nutrient uptake of maize plant. The research was conducted at Laboratory, Greenhouse, and Experimental Field of Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, West Sumatra Indonesia. The first step experiment in the Laboratory was produced indigenous microorganism from banana humps. The second step of making bio-fertilizers in Greenhouse used a Completely Randomized Design with four treatments of indigenous microorganism (IMO) level 0%, 10%, 20%, 30% in biofertilizer with five replications. The third step of biofertilizer application on the Experimental Field used Randomized Block Design Factorial arranged with two factors and three replications, the first factor IMO level in biofertilizer (M) 0%, 10%, 20%, 30% and the second factor was the dosage of inorganic fertilizer (P) 0%, 50%, 100% of the recommended dosage, 12 combinations of treatments were obtained. Results showed that microbe consortium (Enterobacter cloacae, Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, Aspergillus niger, and Trichoderma asperellum) in biofertilizers with different levels would affect the chemical characteristics of biofertilizer. Biofertilizers influences nutrient uptake of P and K maize plant, while inorganic fertilizer influences nutrient uptake of N and P maize plant.
Fithra Herdian, Sri Aulia Novita, Indra Laksmana, Mohammad Riza Nurtam, Rildiwan Rildiwan, Zulnadi Zulnadi
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 3, pp 309-319; doi:10.32530/jaast.v3i2.125

Abstract:
West Sumatra-Indonesia has potential to plant coconut due to the coastal location, sunshine level with average temperature 27oC. Coconut is a very productive plant. Coconut dehusking is one of the process that takes a lot of time and energy. Most of the farmer still using human manual labour with the help of tools made of iron or wooden crowbar that is mounted standing vertically with the blade facing upward about 80 cm from the ground. To increase the number of coconut products, it is designed the coconut dehusker machine. The main component of the machine were two rollers that rotate each other in opposite directions with each roller embedded iron-shaped nails that work to tear the coconut husk. Each roller has a different rotational speed. This machine has dimensions of 98 cm x 51 cm x 95 cm. Roller length is 50 cm and diameter 4 inches. The power source of the machine is a 2 HP electric motor, the speed was reduced by using 2 speeds reducer with the ratio of 1:20 and 1:30 respectively. From the performance test of this machine can dehusk 100 coconuts per hour. The operational basic cost of the machine equal to Rp 129.89 per coconut (about 1 cent) and Break Event Point is 12.387 coconut per year from the result of the performance test. From the economic analysis machine can be concluded that the use of this machine is better when compared to human labour which has limitation to duration and capacity.
Suhas Sridhar, Rohan Patil, Aaquib Ashfaq, Harsha Vardhan, Anil Kumar
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 3, pp 179-188; doi:10.32530/jaast.v3i2.105

Abstract:
Nowadays the position of natural fibers in the world fiber is stable, growing in the area of their application, not only in textiles but also in more eco-friendly composites. This work is focused on study of the effect of SiC as filler material on the banana peduncle/Carbon fibers reinforced hybrid composites. Four different laminates are fabricated by varying the matrix composition (BP, BP+SiC, carbon+BP, Carbon+BP+SiC ). The alkaline treatment with 6% NaoH of the BP fibers improves the specific strength and binding properties. The filler added composites laminates shows higher mechanical properties. From the results, it is seen that mechanical properties like Tensile, Flexural, ILSS, Impact and hardness are improved by 89, 75, 99, 68 and 64% by the addition of the SiC to the banana peduncle/Carbon fiber composite laminate.
Rafi Sarif, Muhammad Ibnu Afif, Gilang Ramadhan, Hendra Hendra, Irzal Irzal, Irwan Anas, Musdar Effy Djinis
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 2, pp 1-10; doi:10.32530/jaast.v2i1.12

Abstract:
Gambir merupakan komoditi ekspor unggulan dari daerah Sumatera Barat. Hampir 90%ekspor gambir Indonesia berasal dari daerah Sumatera Barat. pengolahan gambir di SumateraBarat terdiri dari 6 tahapan, yaitu ; perebusan, pengempaan, pengendapan, penirisan,pencetakan, dan pengeringan. Dari keenam tahap operasi tersebut, pengempaan merupakantahap operasi yang paling berat. Hal ini disebabkan karena pada cara pengolahan gambir diSumatera Barat pengeluaran getah gambir atau ekstrak dititik beratkan pada tahappengempaan. Mesin penggiling daun dan ranting gambir digunakan untuk melakukan prosespengolahan gambir. Mempunyai kinerja yang cukup baik, namun masih terdapat kekuranganyaitu kurang kuatnya kontruksi rangka dalam menahan getaran pada saat mesindioperasikan,untuk itu dilakukan modifikasi dan melengkapi kembali mesin penggiling daundan ranting gambir. Mesin penggiling ranting daun gambir dilakukan modifikasi denganmerombak dan menambah kerangka utama yang bertujuan untuk meningkatkan hasil gambir,mengurangi penggunaan tenaga kerja dan waktu pengolahan yang lebih singkat. Mesinpenggiling ranting daun gambir dilakukan modifikasi dengan merombak dan menambahkerangka utama. Kerangka terbuat dari besi siku berukuran 60 mm x 60 mm. Panjang rangka 120cm dan lebar 110cm. Hasil uji kinerja mesin didapatkan kapasitas optimal penggilingangambir sebesar 8,45Kg/jam.Hasil analisa ekonomi operasional mesing penggiling ranting dandaun gambir didapatkan biaya pokok sebesar Rp. 1.739,8/Kg , BEP akan tercapai padaproduksi 2.247,6 Kg/tahun atau 6,49 kg/ hari.
Shinta Elvita Bella, Rahmat Padrikal
Journal of Applied Agricultural Science and Technology, Volume 2, pp 27-34; doi:10.32530/jaast.v2i1.15

Abstract:
Makanan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar bagi populasi suatu negara. Karena itu, Negara harus melakukan kedaulatan pangan dan mencari pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk. Namun, dalam penerapan konsep tersebut belum diimplementasikan dengan baik, terutama menyangkut dalam hal sistem pertanian yang berkelanjutan. Sulitnya mencapai kedaulatan pangan ini disebabkan karena meningkatnya lahan yang kualitasnya menurun akibat kegiatan budidaya pertanian secara intensif. Salah satu inovasi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggabungkan penggunaan pupuk buatan dengan pupuk organik dari limbah cangkang sawit yang diubah menjadi biochar dengan pupuk NPK untuk memenuhi defisiensi unsur hara di lahan pertanian Biochar dianggap sebagai pembawa bioamelioran dengan bahan aktif bahan agregat. Bio-char memiliki keunggulan dalam hal ruang pori total dan kapasitas air yang tersedia lebih tinggi. Dalam aplikasi untuk pertumbuhan tanaman jagung, Pertumbuhan terbaik jagung di tanah ultisol diperoleh dari penggunaan pupuk NPK tunggal 100% dikombinasikan dengan 4,2 g bioamelioran / tanaman. Sementara itu, 100% dosis tunggal pupuk NPK yang dikombinasikan dengan 2,1 g bioamelioran / tanaman (112 kg / ha) menghasilkan bobot kiln kiln kering yang lebih tinggi (+ 15,7%) bila dibandingkan dengan perlakuan 100% pupuk tunggal NPK. Hasilnya mampu mengurangi pengeluaran petani dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top