Refine Search

New Search

Results in Journal Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis: 357

(searched for: journal_id:(2088074))
Page of 8
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
, Pandi Pardian, Hepi Hapsari, Risyad M. Ikhsan, Bobby Rachmat Saefudin
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.563

Abstract:
Tingginya tingkat konsumsi kopi yang ada di Indonesia membuat peluang bagi banyak pelaku usaha kedai kopi untuk mengembangkan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana sikap dan perilaku konsumen terhadap pembelian kopi yang mereka lakukan di Armor Kopi Garden, Bandung. Metode analisis data yang digunakan adalah theory of reasoned action dari Fishbein yang terdiri dari sikap dan perilaku konsumen dengan sampel sebanyak 95 orang. Atribut yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasa, variasi menu, desain produk, layanan pelengkap, harga, dan promosi. Hasil analisis menunjukan bahwa konsumen yang datang rata-rata adalah laki-laki berstatus mahasiswa/i. Alasan mereka datang ke kedai kopi yang paling dominan adalah karena suasana yang nyaman (44%), kemudian keinginan untuk sekedar mencoba (22%) lalu karena faktor rasanya yang khas (10%) dan berbagai alasan lainnya (22%). Sikap konsumen terhadap pembelian produk kopi secara keseluruhan menunjukan hasil yang baik. Sikap yang dianggap paling baik ada pada atribut desain produk dan yang dianggap paling tidak baik ada pada atribut promosi. Hasil analisis perilaku konsumen di Armor Kopi Garden berdasarkan angka skor rata-rata menunjukan bahwa yang berperan paling dominan dalam membuat keputusan konsumen adalah teman dan media sedangkan skor yang terendah ada pada keluarga. Potensi yang dimiliki antara lain produk yang beragam, fasilitas yang lengkap, serta barista yang handal. Kedala yang dimiliki dalam menjalankan usaha adalah adalah adanya competitor yaitu Armor Kopi Tahura yang menyebabkan pengunjung terbagi-bagi.
, Tomy Perdana
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.462

Abstract:
Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Katata dengan tujuan untuk menganalisis sistem produksi pada manajemen rantai pasok produk sayuran dalam memenuhi permintaan pasar terstruktur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengadaan produk di Kelompok Tani Katata saat ini belum mampu memenuhi permintaan dari Giant Supermarket akibat dari replikasi perencanaan sistem produksi yang dilakukan berdasarkan sistem produksi untuk produk reguler dan tidak disesuaikan dengan permintaan pasar. Sistem produksi yang dapat dilakukan oleh Kelompok Tani Katata dalam memenuhi permintaan pasar terstruktur adalah dengan merubah sistem produksinya dalam hal ini dilakukan penjadwalan produksi dan pengalokasian input sesuai dengan permintaan dari Giant Supermarket. Kata kunci: Sistem Produksi, Model Perencanaan Produksi, Manajemen Rantai Pasok
Elly Rasmikayati, Lies Sulistyowati, Bobby Rachmat Saefudin
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.564

Abstract:
Permintaan konsumen terhadap buah, khususnya mangga semakin besar, seiring dengan meningkatnya pendapatan dan kesadaran konsumen akan pentingnya mengkonsumsi buah sebagai salah satu penjaga kesehatan. Konsumen sekarang ini menghendaki mangga selalu tersedia di pasar disertai dengan kualitas yang terjaga prima. Untuk memenuhi tuntutan konsumen tersebut, petani tidak bisa berperilaku seadanya dalam menangani mangga, tetapi perlu lebih bersikap professional terutama dalam usahatani dan pemasaran mangganya. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskipsikan dan mengkaji dampak dari risiko produksi dan pemasaran terhadap pendapatan petani mangga serta mengidentifikasi kelompok mana yang paling berisiko. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Petani mangga di Kabupaten Cirebon dan Majalengka diambil sebanyak 240 orang dengan menggunakan teknik Multi Stage Cluster Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko produksi dan risiko pemasaran seperti risiko jumlah pohon, risiko biaya pupuk kandang, risiko biaya pestisida dan risiko harga jual mangga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Sementara itu, Terdapat perbedaan perilaku petani dalam produksi dan pemasaran mangganya jika petani dibagi kedalam tiga kelompok, berdasarkan jumlah pohon yang dikuasai, yaitu petani yang jumlah pohonnya terbatas, cukup dan banyak. Diantaranya perbedaan tersebut adalah dalam hal rata-rata harga jual mangga per kilogram. Fakta selanjutnya, petani yang jumlah pohonnya terbatas dibanding dengan petani dari kelompok lainnya, kurang berani mengambil risiko produksi, tetapi mereka lebih berani mengambil risiko pemasaran.
Siti Maemunah, Agus Yuniawan Isyanto
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 169-184; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.404

Abstract:
The study was conducted with the aim to find out the determinants of technical inefficiency in PE goat livestock farming. The study was conducted using case study on As-Salam Agribusiness Group in Sirnagalih Village, Indihiang Sub-district, Tasikmalaya City. Group members of 26 peoples were taken entirely as samples or conducted by census. The data obtained were analyzed by using multiple regression equation where parameter estimation was done by using SPSS 16. The results showed that the determinants of technical inefficiency in PE goat livestock farming were age, education, number of livestock ownership, family size and credit.
, Elly Rasmikayati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.355

Abstract:
The purpose of this research is to describe the dynamics of mango commodity agribusiness activity, to describe the description of market selection by mango farmers, to identify factors influencing market selection, and to know the potency and constraints of mango farmers in Panyingkiran District of Majalengka in mango agribusiness activities. Quantitative research design with survey method. Data analysis was done by descriptive statistical data analysis. The results show that there has been little change in mango farming activities since the farmers started to date. The majority marketing objective is to collecting traders/middlemen chosen because of the factors of accessibility, proximity/family, cash payment system, and the prevailing means of production loan. Easy capital, good quality mango results into the potential of mango agribusiness activities while the constraints occur due to weather with high rainfall and expensive stimulants grow price. Keywords: Agribusiness Dynamics, Agribusiness System, Market Selection, Marketing Channel.  ABSTRAK  Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan dinamika yang terjadi pada kegiatan agribisnis komoditas mangga, mendeskripsikan gambaran pemilihan pasar oleh petani mangga, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pasar, dan mengetahui potensi serta kendala petani mangga di Kecamatan Panyingkiran dalam dalam kegiatan agribisnis komoditas mangga. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survey. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan dinamika agribisnis komoditas mangga cenderung statis. Tujuan pemasaran mayoritas adalah ke pedagang pengumpul/tengkulak dipilih karena adanya faktor kemudahan akses, kedekatan/keluarga, sistem pembayaran tunai, dan pinjaman saprotan. Mudahnya permodalan, hasil mangga yang berkualitas baik menjadi potensi kegiatan usahatani komoditas mangga sedangkan kendala terjadi akibat cuaca dengan curah hujan tinggi dan harga ZPT mahal. Kata kunci: Dinamika Agribisnis, Sistem Agribisnis, Pemilihan Pasar, Saluran Pemasaran.
, Lies Sulistyowati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3; https://doi.org/10.25157/ma.v3i2.341

Abstract:
Gapoktan Kopi Arjuna merupakan salah satu gabungan kelompok tani kopi yang berlokasi di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Dalam perkembangannya Gapoktan mengalami kemunduran dalam kekompakan antar anggota Gapoktan, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi dan kinerja Gapoktan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan manfaat yang diperoleh anggota dengan tingkat partisipasi anggota Gapoktan, dan hubungan tingkat partisipasi anggota Gapoktan dengan kinerja Gapoktan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan pengambilan responden menggunakan teknik purposive. Metode analisis menggunakan korelasi Rank Spearman dan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa manfaat yang diperoleh anggota adalah kerjasama yang baik dengan pengurus, berhubungan baik dengan sesama anggota, mengikuti kegiatan pembinaan dan pelatihan, jaminan pemasaran kopi dan peningkatan pendapatan. Tingkat partisipasi anggota yang tinggi adalah menjual kopi ke Gapoktan. Hasil uji korelasi antara manfaat yang diperoleh anggota dan tingkat partisipasi anggota menunjukkan hubungan yang signifikan dan termasuk kategori korelasi yang lemah. Demikian juga korelasi antara tingkat partisipasi anggota dan kinerja Gapoktan menunjukkan hubungan yang signifikan dan termasuk kategori korelasi yang lemah. Kata kunci : Manfaat, tingkat partisipasi, kinerja Gapoktan, kopi.
Sudrajat Sudrajat
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 53-63; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.75

Abstract:
This study aims to determine the perception of farmers on the use of the incubator in domestic poultry breeding. The data used in this study consisted of primary data and secondary data. The primary data obtained through interviews with domestic poultry livestock farmers use pre-prepared questionnaires, while secondary data obtained from the offices/institutions associated with the research. Respondent conducted a census of all members of the Prosperous Farmers Group, as many as 43 people who participated in the livestock reproductive technology application training organized domestic poultry in the village LPPM Galuh University in Utama Village, District of Cijeungjing District, Ciamis Regency. Perception of farmers on the use of the incubator in domestic poultry breeding nature of the innovation seen from the indicators are relative advantage, compatibility, complexity, triability, and observability. Data analysis was performed using analysis of the average score. The results showed that the perception of farmers on the use of the incubator in domestic poultry breeding included into the category quite well. Thus the technology incubator is unacceptable and likely to be adopted by livestock farmers free-range chicken.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 29-39; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.73

Abstract:
Raskin is one of the Indonesian government programs that have been implemented since 2002, aimed at reducing the burden of expenditure of poor households as a form of support to improve the food security of society. However, in practice often the target of five right is not reached or less effective and efficient. This study aimed to analyze the effectiveness and efficiency of the distribution of Raskin to get to the target beneficiary households (RTS-PM) Raskin. Jatinangor District and BuahduaDistrict. The design study is quantitative descriptive survey techniques. Sampling techniques Two--stage random cluster sampling, with 82 recipients Raskin. The results of the study concluded that overall assessment of the effectiveness of RTS-PM Raskin distribution is effective (a weighted average of 2.94). While per indicator: in terms of targeting accuracy of 2.29 (not exact), the accuracy of the amount of 1.96 (not exact), the accuracy of the price 3.65 (right), timeliness of 3.80 (right) and accuracy of quality 3.05 (quite rightly). Raskin distribution efficiency level of 0.025, then the distribution of Raskin in Sumedang can be said to be efficient. If compared beetwen JatinangorDistrict and Buahdua District, then the implementation of Raskin in District Jatinangor more effectively and efficiently than in the District Buahdua.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 269-280; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.47

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran bahasa mahasiswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing; khususnya mengenai jenis strategi yang paling sering digunakan serta kecenderungan mahasiswa dalam menggunakan strategi-strategi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metoda studi kasus deskriptif (descriptif case study) yang melibatkan 26 mahasiswa Prodi Agrobisnis Fakultas Pertanian di sebuah universitas swasta di Jawa Barat. Mereka dipilih secara acak berstrata (stratified random sampling). Instrument yang digunakan adalah satu set kuesioner yang diadaptasi dari Oxford (1990). Hasil kajian menunjukan bahwa mahasiswa tidak begitu menyadari akan penggunaan strategi pembelajaran belajar bahasa dalam mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa asing karena mereka jarang menggunakannya. Namun, mahasiswa memiliki prioritas strategi affective (30.8%). Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa memerlukan pengendalian emosi yang memadai, motivasi, dan sikap keberminatan yang kuat dalam pembelajaran bahasa Inggris. Kemudian diikuti oleh strategi metacognitive (28.8%), compensation (13.5%), cognitive (5.8%), social (3.85%), dan memory (1.9%). Penemuan lainnya adalah ternyata mahasiswa laki-laki menggunakan berbagai jenis strategi disbanding mahasiswa perempuan. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal dan belajar strategi pembelajaran bahasa asing secara komprehensif, yang harus di terapkan secara berkesinambungan untuk mecapai keberhasilan.
Tintin Febrianti
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 71-78; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.34

Abstract:
Berbagai pendekatan teoritis kemiskinan seringkali memandang kemiskinan sebagai kondisi dengan berbagai indikator “ketiadaan” seperti tidak memiliki pendapatan dengan jumlah tertentu, tidak memiliki rumah dengan kriteria tertentu, tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan kesehatan dan sebagainya. Dalam realitas, orang miskin seringkali berjuang melawan kemiskinan dengan mengoptimalkan segala yang mereka miliki dan selama ini hal tersebutlah yang membuat mereka bertahan dari serangan kemiskinan tersebut. Dalam paradigm keberfungsian sosial, orang miskin memiliki berbagai sumberdaya (assets) baik aset finansial, aset sosial, aset fisik serta aset keluarga. Dengan berbagai kepemilikan aset tersebut, mereka mencari berbagai strategi coping supaya kehidupan mereka berkelanjutan. Berbagai paradigma dalam memandang kemiskinan tersebut akan menjadi dasar dalam berbagai program pengentasan kemiskinan. Tulisan ini bermaksud membandingkan berbagai paradigma dalam memandang kemiskinan tersebut yaitu paradigma neoliberal, paradigma demokrasi sosial serta paradigm keberfungsian sosial.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 37-44; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.30

Abstract:
Upaya memaksimalkan agar pencapaian Program Kelembagaan Lumbung Pangan tersebut berhasil, diperlukan adanya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, salah satu upaya tersebut melalui kegiatan pembinaan bagi Kelompok Lumbung Pangan. Dengan demikian pelaksanaan program tersebut diharapkan Kelompok Lumbung Pangan dapat menjadi kelembagaan ekonomi yang dimiliki dan dikelola petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anggota kelompok dalam pengembangan lumbung pangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada Kelompok Lumbung Pangan Jambesari di Desa Sidaharja Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis, jumlah anggota 25 orang sebagai responden. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa aktivitas Kelompok Lumbung Pangan berada pada kategori tinggi.
Siti Maemunah, Dedi Sufyadi, Ida Hodiyah
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 40-52; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.74

Abstract:
The purpose of this study was to determine: (1) The factors that affect the production of PE goats in Agribusiness Farmers Group As-Salam, and (2) The level of technical efficiency is achieved on PE goat raising in Agribusiness Farmers Group As-Salam.The research was conducted by using a case study on agribusiness farmer group As-Salam consisting of 26 people and all of them were taken as a sample or census conducted. Factors that affect the production of milk goats and technical efficiency levels achieved on PE goat raising in Agribusiness Farmers Group As-Salam analyzed using stochastic frontier production function where the parameter estimation is done using software Front41.The results showed: (1) The factors that affect the production of milk PE goats in Agribusiness Farmers Group As-Salam is the number of livestock ownership, labor, feed concentrates and drugs. While forage no significant effect on PE goat milk production, and (2) The level of technical efficiency is achieved on PE goat raising in Agribusiness Farmers Group As-Salam ranged from 39.78% to 99.04% with an average of 77.46%. Farmers who achieve technical efficiency above 70% as many as 17 people, while achieving technical efficiency below or equal to 70% as many as 9 peoples.
, Cecep Pardani
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 73-88; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.77

Abstract:
Kabupaten Ciamis telah mengembangkan komoditas pangan utama dalam kerangka agribisnis dengan komoditas pangan utamanya adalah padi, jagung, dan kedelai, produktivitas tiga komoditas pangan utama di Kabupaten Ciamis tersebut lebih tinggi dibandingkan produktivitas di Provinsi Jawa Barat maupun Nasional. Namun sayangnya, belum dapat diketahui keunggulan kompetitifnya, karena pada dasarnya komoditas pangan utama yang diusahakan Kabupaten Ciamis sama dengan komoditas di kabupaten lain seperti Kota Banjar, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Majalengka, ditambah lagi sebagian komoditas pangan dari Provinsi Jawa Tengah juga dipasarkan di Kabupaten Ciamis. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui : (1) Keunggulan kompetitif dari tanaman pangan utama di Kabupaten Ciamis, (2) Efisiensi usahatani dari tanaman pangan utama di Kabupaten Ciamis. Metode penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survai yang berlokasi pada 2 kecamatan yaitu Kecamatan Cijeungjing dan Kecamatan Banjarsari, dengan pertimbangan bahwa dua kecamatan tersebut memiliki produktivitas tertinggi dari salah satu pangan utama (padi, jagung, kedelai) di Kabupaten Ciamis. Penentuan petani responden dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) sebanyak 62 orang petani. Alat analisis untuk mengetahui tingkat keunggulan kompetitif dari tanaman pangan utama di Kabupaten Ciamis dilakukan melalui pendekatan produktivitas, karena menurut Ramli dan Swastika (2005), Analisis keunggulan kompetitif pada dasarnya analog dengan penentuan tingkat produktivitas minimal dari suatu komoditas agar kompetitif terhadap usahatani komoditas lain. Sedangkan untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani dilakukan dengan cara membandingkan nilai R/C dari tiga komoditas pangan utama.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut : (1) Kedelai memiliki nilai R/C lebih besar dibanding komoditas padi sawah dan jagung, oleh karena itu usahatani kedelai lebih efisien dibandingkan usahatani padi sawah dan jagung. (2) Produktivitas minimum padi agar kompetitif terhadap kedelai adalah 4.099 ton/ha sedangkan produktivitas minimum jagung agar kompetitif terhadap kedelai adalah 2.722 ton/ha. (3) Harga minimum padi agar kompetitif terhadap kedelai adalah Rp. 3.425 per kilogram sedangkan harga minimum jagung agar kompetitif terhadap kedelai adalah Rp. 3.734 per kilogram.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 64-72; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.76

Abstract:
Changing a habit is not an easy job, let alone that has great risks as they relate to social and cultural issues. In understanding of technological innovation requires mental readiness to take the decision to adopt it through a process of perception, because the rate of adoption of an innovation depends on the perceptual characteristics of the adopter of innovation that includes the company telnologi relative advantage, the level of conformance level of complexity, can be tried and can be observed. The purpose of this study to examine the relationship between the characteristics of the farmers, the communication behavior and support efforts by the perception of farmers to use organic fertilizer on crops mendong. Partially, the data were analyzed using Spearman Rank analysis, while simultaneously using Kendall concordance coefficient W. Analysis Research was conducted in February-November 2016 using the method of survey. Sampling using simple random sampling against rushes farmers in Sub Manonjaya with a total sample of 30 farmers. The results showed the internal characteristics of the farmers, support the business climate as well as the perception of farmers on organic farming fertilization mendong included in the medium category and communication behavior are included in the low category. Simultaneously there is a relationship between the internal characteristics of the farmers, the communication behavior and support the business climate by perception of farmers on the use of organic fertilizer to the level of the relationship is very close. Partially that have a relationship with the perception of the use of organic fertilizers is the communication behavior and the support of the business climate. Guidance to the farmers both individually and institutionally still needs to be done to encourage farmers to use organic fertilizer on farm mendong.
Eti Suminartika, Iin Djuanalia
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 13-28; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.72

Abstract:
Rice is the staple food for Indonesian people, to maintain domestic supply, rice market must be efficient. The purposes of this study are to analyze: (1) Marketing cost and (2) Marketing efficiency. This study used survey methods, snowball sampling is done in this study, data used consist of primary and secondary data, the data were analyzed by mathematic and descriptive analyze, the location of the study is in the centre of rice production in Ciamis district and centre of rice production in West Java. The results show that thr rice marketing in Ciamis is more efficient than those of West Java Province, this condition is due to low cost of marketing and lower price of paddy, therefore the rice which produced in Ciamis district has competitve advantage in the market in West Java.
Agus Yuniawan Isyanto, , Mohamad Iskandar
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 3, pp 1-12; https://doi.org/10.25157/ma.v3i1.71

Abstract:
This research was conducted with the aim to formulate Sentul chicken development strategies in Ciamis. The research was conducted using the survey method. Research was conducted in September and October 2015. Respondents consisted of: (1) Breeders chicken Sentul many as 36 people, and (2) Other respondents, namely civil servants / government agencies and academia as many as 8 people. The research data consist of primary data and secondary data. Sentul chicken development strategy in Ciamis formulated using SWOT analysis.The results showed that the chicken Sentul development strategy in Ciamis are: (1) Increasing the supply of day old chick (DOC) to meet the needs of farmers, (2) Increase the supply through the improvement of the chicken population Sentul to meet consumer demand for chicken meat, (3) Making the chicken Sentul production centers to anticipate conflict of interest about land using between chicken Sentul farming Sentul and settlement as, also easily to facilitate in monitoring the health of chickens Sentul, (4) The increase in the number of holdings chicken Sentul per farmer via credit scheme program with an emphasis on monitoring and evaluation in order to right on the goals and objectives, (5) Improved technical capacity of farmers in raising chickens Sentul through extension activities, training and technical assistance to improve productivity, (6) Increased efficiency and productivity through production policies are supported by cross-sectoral coordination is good, (7 ) Production subsidies to ensure continuity of production that is not significantly affected by fluctuations in the price of the means of production, and (8) Improved management capabilities of Sentul chicken farmers in health through counseling activities, training and technical assistance to support the achievement of efficiency and high productivity.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 281-290; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.48

Abstract:
Penggunaan sumberdaya yang optimal merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan produksi. Maka dari itu, kombinasi yang tepat dalam penggunaan sumberdaya yang tersedia dalam proses produksi harus dilakukan secara optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi aktual dan optimal agroindustri berbahan baku stroberi serta selisih penerimaan sebelum dan sesudah dilakukan optimasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dan penentuan lokasi secara purposive. Analisis menggunakan Linear Programming. Hasil penelitian menunjukkan Kondisi aktual berdasarkan penggunaan bahan baku adalah 40 kg untuk dodol stroberi, 20 kg untuk selai stroberi dan 20 kg untuk sirup stroberi. Berdasarkan penggunaan tenaga kerja adalah 24 JKO untuk dodol stroberi, 4 JKO untuk selai stroberi dan 4 JKO untuk sirup stroberi, sehingga dengan 30 kg dodol stroberi, 12 kg selai dan 17,5 kg (≈35 botol) sirup stroberi, diperoleh penerimaan sebesar Rp. 2.505.000. Kondisi optimal berdasarkan penggunaan bahan baku adalah 39,67 kg untuk dodol stroberi, 40,33 kg untuk sirup stroberi, dan tidak memproduksi selai stroberi. Berdasarkan penggunaan tenaga kerja adalah 23,86 JKO untuk dodol stroberi, 8,14 JKO untuk sirup stroberi, sehingga dengan 29,83 kg dodol stroberi dan 35,37 kg (≈ 71 botol) sirup stroberi diperoleh penerimaan Rp. 2.552.716. Perbedaan penerimaan sebelum dan sesudah dilakukan optimasi adalah Rp. 47.716.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 291-296; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.49

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) besarnya biaya dan pendapatan agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi, 2) besarnya R/C agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi, 3) besarnya titik impas nilai penjualan dan titik impas volume produksi agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah survai dengan mengambil kasus di Desa Buniseuri. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik penarikan sampel acak sederhana sebanyak 20 persen dari anggota populasi 115 orang, yaitu 23 perajin tahu. Data yang diperoleh dianalisis secra deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Biaya produksi agroindustritahu di Desa Buniseuri dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp 566.912,22, prodkusi yangdihasilkan sebanyak 3.215,63 potong tahu, harga produk 225 per potong tahu. Penerimaan perajinsebesar Rp 723.516,63 per satu kali proses produksi dan pendapatan sebesar Rp 156.603,41 per satukali proses produksi; 2) R/C agroindustri tahu di Desa Buniseuri sebesar 1,28. Artinya untuk setiapsatu rupiah biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan agroindustri tahu, maka akan diperolehpenerimaan sebesar Rp 1,28. Sehingga pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 0,28; 3) Titik impas(BEP) agroindustri tahu di Desa Buniseuri tercapi pada nilai penjualan sebesar Rp 48.575,29 dan volume produksi minimum sebanyak 214,66 potong.
Ida Maesaroh, Saepul Aziz
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 253-260; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.45

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan, (2) Faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri keripik ubi kayu, (3) Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan agroindustri keripik ubi kayu di Desa Selamanik Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Penarikan responden dalam penelitian ini dilakukan purposive sampling yaitu penetuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang dipandang dapat memberikan data secara maksimal, maka responden yang diambil satu orang pengusaha keripik ubi kayu di Desa Selamanik Kecamtan Cipaku Kabupaten Ciamis. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh pengusaha keripik ubi kayu dalam satu kali proses produksi sebesar Rp 1.152.500,00 penerimaannya sebesar Rp 2.850.000,00 dan pendapatannya sebesar Rp 1.697.500,00. 2) Faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada pengembangan agroindustri keripik ubi kayu di Desa Selamanik Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis terdiri dari kekuatan, kelemahan dan peluang, ancaman. Faktor-faktor yang menjadi kekuatan yaitu tersedianya cukup jumlah tenaga kerja, produksi mudah dilakukan, produk keripik ubi kayu yang tahan lama, harga produk yang terjangkau. Sedangkan faktor-faktor yang menjadi kelemahan yaitu keterbatasan permodalan, kualitas SDM yang masih kurang, pengemasan produk masih sederhana, dan promosi masih kurang. Faktor-faktor yang menjadi peluang yaitu tidak ada pesaing produk sejenis disatu daerah, pangsa pasar yang masih luas, permintaan semakin meningkat, cuaca tidak mempengaruhi produksi. Faktor-faktor yang menjadi ancaman yaitu kelangkaan bahan baku, fluktuasi harga bahan baku, kurang adanya peran dari pemerintah, dan kenaikan harga sarana produksi. 3) Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan agroindustri keripik ubi kayu di Desa Selamanik Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis yaitu mempertahankan kualitas produksi dan pengembangan pasar, mempertahankan kontinyuitas produksi untuk memenuhi permintaan, optimalisasi kualitas SDM untuk memenuhi permintaan produk, diversifikasi produk untuk memenuhi pangsa pasar, pengelolaan tenaga kerja dan ketersediaan bahan baku, keseragaman harga jual dengan peran serta pengawasan pemerintah, penganekaragaman pengemasan untuk memaksimalkan produksi dan menjalin kerja sama dengan pihak terkait dalam menyikapi permodalan.
Aceng Iskandar
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 245-252; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.44

Abstract:
Dalam peningkatan produksi hortikultura, khususnya sayuran di Indonesia selama ini masih menggunakan sistem pertanian konvensional dengan masukan input luar. Semakin tinggi biaya produksi terhadap pertumbuhan tanaman budidaya, maka akan mengakibatkan semakin tinggi pula masukan input luar seperti pestisida dan pupuk yang diberikan terhadap tanaman.Banyak orang yang menanam kangkung hanya untuk sekedar dikonsumsi sendiri dan melepas hobi bercocok tanam. Namun dalam bercocok tanam sering kali yang menjadikan masalah adalah lahan yang dimiliki tidak dapat ditanami tanaman sesukanya. Jika ingin menanam tanaman, maka dibutuhkan lahan tanah yang cukup luas. Daerah perkotaan saat ini sudah jarang memiliki lahan yang luas yang dapat digunakan sebagai media bercocok tanam. Akan tetapi saat ini banyak berbagai cara yang dapat dilakukan untuk sekedar meluapkan hobi bertanam, salah satunya adalah dengan budidaya kangkung dalam polybag dengan tambahan sekam padi bekas ayam petelur. Polybag adalah menanam tanaman ke dalam kantong plastik hitam. Cara ini dapat digunakan untuk membudidayakan tanaman kangkung, selain tidak membutuhkan lahan yang luas cara ini juga sangat mudah dan hemat untuk dilakukan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil tanaman kangkung darat ( Ipomoea reptans) dilakukan untuk mengetahui pengaruh sekam padi yang berasal dari kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan produksi kangkung darat (Ipomoea reptans), menggunakan bahan dalam berbudidayanya seperti benih kangkung ( Ipomoea reptans), dan sekam padi yang berasal dari kotoran ayam. Budidaya tanaman kangkung merupakan budidaya tanaman yang menggunakan tahapan-tahapan budidaya seperti langkah awal adalah sediakan media tanam dengan menggunakna polybag,masukan tanah dan campuran sekam padi bekas kotoran ayam ke dalam polybag, usahakan untuk memberikan pupuk organik sehingga tanaman yang akan dihasilkan akan terbebas dari bahan kimia yang berbahaya, pilihlah bibit kangkung yang unggul dengan kualitas yang baik dan tidak busuk atau cacat. Penyemaian bibit kangkung dilakukan ke dalam polybag. Setelah bibit kangkung mulai tumbuh hingga terdapat 3 sampai 5 helai daun lalu pindahkan ke dalam polybag yang sudah disiapkan. Dalam satu polybag dapat menampung sekitar 3 sampai 5 batang kangkung untuk mendapatkan nutrisi yang cukup dan juga dapat tumbuh dengan baik. Lakukan penyiraman dalam waktu 2 kali dalam sehari agar tanah tidak kering dan juga tidak terlalu lembab. Hasil analisis usaha kangkung darat memiliki nilai keuntungan yaitu berdasarkan perhitungan R/C ratio yaitu diperoleh 2,59 dengan menggunakan sekam padi bekas kotoran ayam petelur dan yang tidak menggunakan sekam padi ( control) diperoleh R/C ratio yaitu 1,71. Jadi usaha kangkung darat, setiap Rp. 1,- biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 2,59 (perlakuan dengan menggunakan sekam padi bekas kotoran aya) dan Rp. 1,71 ( pada perlakuan control).
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 261-268; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.46

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan penggunaan faktor-faktor produksi terhadap produksi cabai merah. Penelitian telah dilaksanakan di Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan survey melalui analisis deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel petani cabai merah melalui simple random sampling dengan jumlah 33 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi pada usahatani cabai merah di daerah penelitian masih didasarkan pada minat dan pengalaman para petani, penggunaan faktor produksi masih belum sesuai dengan anjuran atau rekomendasi. Faktor produksi lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah sedangkan secara parsial faktor produksi pupuk, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi tetapi faktor produksi lahan dan bibit tidak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 233-244; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.43

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi luas dan klasifikasi lahan pertanian pangan eksisting; identifikasi rata-rata luas lahan pertanian pangan yang beralih fungsi; identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian pangan; dan menyusun strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan di Kota Tasikmalaya.Berdasarkan hasil analisis, hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa luas lahan pertanian Kota Tasikmalaya 12.519 Ha, terdiri dari lahan sawah 5.993 Ha dan lahan pertanian bukan sawah 6.526 hektar. Berdasarkan sistem pengairannnya lahan sawah terdiri dari lahan sawah irigasi 5.055 hektar dan tadah hujan 938 hektar; Dalam periode waktu delapan tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 191 Ha. Faktanya dilapangan luas lahan pertanian yang beralih fungsi lebih luas lagi, karena cukup banyak satuan hamparan lahan sawah yang tidak tercatat beralih fungsi; Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan pertanian dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu: yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal meliputi Faktor Teknis; Faktor Ekonomis dan Faktor sosial. Sementara faktor ekternal yang mempenagruhi alih fungsi lahan pertanian diantaranya adalah laju pertumbuhan penduduk, kebijakan pembangunan pemerintah (daerah) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Rekomendasi pengendalian alih fungsi lahan pertanian ini berbasiskan pada faktor-faktor yang menyababkan alih fungsi lahan pertanian tersebut.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 227-232; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.42

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani cabai dilihat dari system panen yang dilakukan petani yaitu sistem panen merah dan yang melakukan sistem panen hijau di Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode survey, adapun data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Penentuan petani sampel memakai metode sampel acak proporsional (proporsional random sampling), jumlah responden yang diambil sebanyak 36 petani, terdiri dari petani cabai yang melakukan panen merah sebanyak 9 orang dan petani cabai yang melakukan panen sistem hijau sebanyak 27 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai dengan sistem panen merah lebih besar baik dilihat dari segi biaya yang dikeluarkan maupun dari penerimaan dan pendapatan yang diperoleh serta nilai R-C yang dihasilkan.
Cecep Pardani,
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 203-210; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.40

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Kelayakan finansial usaha pupuk organik curah pada Kelompok Tani Serang Kuning di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis, (2) Jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan seluruh modal yang diinvestasikan pada usaha pupuk organik curah Kelompok Tani Serang Kuning di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada Kelompok Tani Serang Kuning yang berada di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis. Penarikan sampel dilakukan secara purposive. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan usaha/finansial yaitu dengan menggunakan rumus NPV, IRR, Net B/C dan Payback Periods. Hasil analisis menunjukkan: 1. Nilai NPV sebesar Rp. 443.274.340,- berarti responden memperoleh keuntungan pada tingkat bunga 12 persen sebesar Rp. 443.274.340,-. Nilai Net B/C sebesar 1,43 ini berarti setiap 1,00 modal yang ditanam pada usaha pupuk organik curah akan memperoleh manfaat sebesar 1,43. Nilai IRR yang diperoleh sebesar 28 persen, berarti tingkat bunga bank maksimum yang mampu dibayar oleh responden sebesar 28 persen per tahun atau lebih besar dari tingkat bunga 12 persen. Dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR maka usaha pupuk organic curah di Desa Salakaria layak untuk diusahakan, karena nilai NPV nya lebih dari 0, Net B/C lebih dari 1, dan IRR nya lebih besar dari tingkat bunga bank yang berlaku. 2. Jangka waktu pengembalian modal yang diinvestasikan dalam kegiatan usaha pupuk organik curah pada kelompok tani di Desa Salakaria yaitu 2 tahun 5 bulan 21 hari.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 211-226; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.41

Abstract:
The aims of this research are to know: level of productivity and income of cow farmers by artificial insemination, and natural farmer; in Tasikmalaya. Survey was the method used. There were 15 farmer as sampling unit of The Insemination Farmer and 17 the natural farmer. The result of the research can be concluded that: The produkductivity of artificial insemination farmer more than the productivity of natural farmer; both of the farmers were on equal fragnant productivity. It were one baby cow for one time of the fragnan. But the artificial insemination farmer have short interval. On 23 Th months the artificial insemination farmers have two times fragnant; the growth rate of the artificial insemination cow was faster then the growth rate of the natural cow. The baby cow by artificial insemination reach 105-110 kg on 4 Th months, but the natural were only 65-75 kg on 6-8 Th months. Net income of artificial insemination farmers were 5,65 percents on the total investments, while the natural farmer were 3,44 percent per month.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 149-158; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.56

Abstract:
Penelitian ini bertujuan: 1) Mengindentifikasikan karakteristik petani kedelai Program SL-PTT Kedelai di lahan sawah dan darat, 2) Mengindentifikasikan respons petani dalam melaksanakan usahatani kedelai Program SL-PTT Kedelai di lahan sawah dan darat, dan 3) Menganalisis hubungan karakteristik dan respon petani dalam Program SL-PTT Kedelai di lahan sawah dan darat.Objek penelitian ini adalah karakteristik dan respon petani dalam melaksanakan program SL-PTT Kedelai yang mengambil lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan adalah metode survey. Dengan jumlah responden dalam penelitian ini 241 petani kedelai lahan sawah dari 4.256 petani, dan 137 petani kedelai lahan darat dari 2.414 petani dengan menggunakan stratifikasi random sampling. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Secara umum karakteristik petani peserta Program SLPTT Kedelai di Kabupaten Ciamis baik lahan sawah maupun lahan darat masuk dalam kategori sedang. Karakteristik petani kategori lahan sempit untuk petani lahan sawah masuk kategori sedang, sedangkan petani lahan darat masuk kategori rendah. Karakteristik petani kategori lahan luas untuk petani lahan sawah masuk kategori tinggi dan petani lahan darat masuk kategori sedang 2) Respons petani peserta Program SL-PTT Kedelai di Kabupaten Ciamis secara umum masuk kategori tinggi. Respon berdasar katebori lahan sempit untuk lahan sawah masuk kategori sedang dan petani lahan darat masuk kategori tinggi. Untuk kategori lahan luas respon petani lahan sawah masuk kategori tinggi dan petani lahan darat masuk kategori sangat tinggi 3) Terdapat hubungan positif antara karakteristik dan respon petani dalam program SL-PTT kedelai di Kabupaten Ciamis. Dengan sifat hubungan semakin tinggi karakteristik petani maka semakin tinggi pula respon petani dalam pelaksanaan program SL-PTT kedelai di Kabupaten Ciamis.
Asep Najmudin
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.38

Abstract:
Dalam era otonomi daerah memerlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sumberdaya kapital untuk sebesar-besarnya dapat diakses oleh pelaku agribisnis dan agroindustri di pedesaan. Meskipun modal merupakan faktor pelancar pembangunan pertanian, namun tanpa kehadiran modal dalam jumlah dan kualitas pelayanan yang memadai akan menjadi salah satu penghambat dalam peningkatan produktivitas nilai tambah hasil pertanian. Selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir alokasi kredit sektor pertanian kurang dari 10 persen dari total kredit yang disalurkan kepada sektor-sektor ekonomi. Sistem perbankan konvensional yang berjalan saat ini sangat mengabaikan sektor pertanian. Alokasi kredit yang timpang tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya kemampuan sektor pertanian untuk mengembalikan kredit, tetapi lebih disebabkan oleh keberpihakan yang sangat rendah pada sektor ini dan aturan main (kelembagaan) kredit yang sangat kaku, utamanya bagi petani pelaku agribisnis dan agroindustri. Akses pelaku agribisnis yang rendah pada sumber modal memerlukan kreasi lembaga keuangan yang tepat bagi sektor ini. Maraknya lembaga keuangan yang bercorak Islam (syari’ah) menjadi satu indikator akan kebangkitan ekonomi Islam. Keberadaan lembaga keuangan mikro syari’ah ini, mulai Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang banyak beroperasi di pedesaan sampai koperasi keuangan syariah, dan Bank syariah, hampir tersebar di berbagai penjuru daerah. Bahkan beberapa bank dan lembaga keuangan konvensional melakukan diversifikasi produk dalam bentuk syari’ah. Belum adanya lembaga keuangan yang menjangkau daerah perdesaan secara memadai yang mampu memberikan alternatif pelayanan (produk jasa) simpan-pinjam yang kompatibel dengan kondisi sosial kultural serta ‘kebutuhan’ ekonomi masyarakat desa menyebabkan konsep BMT dapat ‘dihadirkan’ di daerah perdesaan. Dalam hubungannya dengan mengatasi masalah kemiskinan, BMT memiliki kelebihan konsep pinjaman kebajikan (qardhul hasan) yang diambil dari dana sosial. Dengan adanya model pinjaman ini (Baitul Maal) tidak memiliki risiko kerugian dari kredit macet yang dialokasikan untuk masyarakat paling miskin. Sesuai dengan konsep pemberdayaan maka aktivitas sosial (non profit oriented) seperti pengorganisasian dan penguatan kelompok di tingkat komunitas (jamaah) menjadi langkah awal sebelum masuk pada aktivitas yang mendatangkan keuntungan (profit oriented) melalui model pinjaman/pembiayaan komersial (Baitut Tamwil). Dua sisi keutamaan inilah yang membuat BMT menjadi sebuah institusi yang paling cocok dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di daerah pedesaan dan pertanian.
Agus Yuniawan Isyanto, Sudradjat Sudradjat
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 197-202; https://doi.org/10.25157/ma.v1i3.39

Abstract:
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Tingkat efisiensi usaha ayam Sentul di Kabupaten Ciamis, dan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul di Kabupaten Ciamis. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Ciamis dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 36 peternak. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan sekunder. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Peternak yang inefisien dalam melaksanakan usaha ayam Sentul (R/C1) sebanyak 22 orang (61,11%), dan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul adalah produktivitas, jumlah kepemilikan ayam, dummy pelatihan, pendidikan dan pengalaman. Efisiensi teknis, umur dan jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi usaha ayam Sentul.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 133-138; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.55

Abstract:
Penelitian ini dilakukan di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat dengan menggunakan menggunakan metode survei, dengan pendekatan desk research terhadap kajian lapangan. Objek penelitian adalah pelaku agribisnis florikultura dari hulu sampai hilir yang berada dalam rantai pasokan. Hasil wawancara dan observasi tentang fenomena kajian lapangan dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis dijadikan dasar untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang diteliti secara objektif tentang agribisnis florikultura. Model rantai pasokan agribisnis florikultura, memiliki dua aliran, yaitu aliran produk dan aliran uang. Aliran produk berupa bunga pot dan bunga potong, sedangkan aliran uang adalah perpindahan uang mulai dari konsumen samai pada pelaku paling hulu dalam sistem rantai pasokan florikultura. Terdapat tiga rantai pasokan dalam agribisnis florikultura, baik bunga pot maupun bunga potong. Panjangnya rantai pasokan tersebut, menyebabkan perbedaan harga (margin) antar harga produk yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan konsumen memiliki perbedaan yang sangat jauh. Kondisi ini disebabkan pasar produk bunga tidak terstruktur dan petani sangat tergantung kepada pengepul di desa sebagai tempat menjual bunganya. Berdasarkan temuan dan hasil analisis rantai pasokan agribisnis florikultura tersebut, maka upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani (produsen) agrbisnis florikultura adalah: 1) Usahatani pada teknologi (Non-land base agriculture, 2) Kredit pertanian, 3) Budaya enterpreneur, dan 4) Pusat pasar bunga di tingkat desa atau kecamatan.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 125-132; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.53

Abstract:
Bertambahnya populasi penduduk Indonesia, peningkatan pendapatan perkapita dan kesadaran masyarakat akan gizi makanan serta kebutuhan akan industri pangan dan pakan yang berbahan baku kedelai, dimasa mendatang proyeksi permintaan akan kedelai terus meningkat. Hanya sekitar 35 persen dari total kebutuhan yang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus-menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi, dan sumberdaya lainnya cukup tersedia. Untuk menekan laju impor kedelai dapat diupayakan melalui berbagai strategi diantaranya peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam dan peningkatan efisiensi pada faktorfaktor produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Pengaruh faktor-faktor produksi secara terhadap produksi usahatani kedelai, (2) Efisiensi faktor-faktor produksi secara teknis dan ekonomis pada usahatani kedelai, dan (3) Estimasi penambahan atau pengurangan faktor-faktor produksi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan adalah survai eksplanatory (Explanatory survey). Penarikan sampel menggunakan teknik penarikan sampel berstrata dengan jumlah ukuran sampel sebanyak 97 orang. Data dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglass dan pendekatan fungsi produksi frontier. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh penggunaan faktor produksi secara teknis, dimana lahan, benih dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi pada lahan luas dan lahan sedang, pupuk organik hanya berpengaruh pada lahan luas. Pada lahan sempit, hanya faktor produksi lahan yang berpengaruh terhadap produksi. Secara ekonomis, analisis simultan variabel yang diamati baik itu pada lahan luas, sedang maupun pada lahan sempit berpengaruh nyata terhadap produksi. Sedangkan secara parsial pada lahan luas dan lahan sedang variable lahan, benih dan tenaga kerja berpengaruh nyata. Sedangkan pada lahan sempit, variabel lahan, urea, KCL dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kedelai. Tingkat efisiensi secara teknis pada lahan luas, sedang dan sempit sudah mencapai tingkat yang efisien. Secara ekonomis pada lahan luas, sedang dan sempit tidak ada faktor produksi yang tepat efisien atau NPMXi/PXi=1. Faktor-faktor produksi kebanyakan berada pada kondisi yang tidak efisien baik itu pada lahan luas, sedang maupun sempit, dengan kata lain penggunaannya terlalu berlebihan sehingga perlu dikurangi.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 139-148; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.54

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Besarnya biaya dan penerimaan pada usahatani jagung di Kabupaten Ciamis (2) R/C ratio pada usahatani jagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai dengan mengambil kasus pada komoditi jagung di Kabupaten Ciamis. Teknik penarikan sampel dilaksanakan menggunakan two stage cluster random sampling untuk sampel area dan strata simple random sampling untuk sampel petani. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Usahatani jagung dianalisis dengan analisis biaya, pendapatan dan R/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani jagung di Kabupaten Ciamis sudah mulai pada usahatani komersial, dengan teknik budidaya yang masih konvensional, yang pelaksanaannya dipadukan dengan budidaya ternak. R/C yang didapat sebesar 2,22 menunjukkan bahwa usahatani jagung di Kabupaten Ciamis menguntungkan.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 173-180; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.59

Abstract:
Upaya Pengembangan Agribisnis Ternak Domba Melalui Perbaikan Mutu Pakan dan Peningkatan Peran Kelompoktani di Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis dengan mengambil lokasi Kelompoktani Mekar 1 Desa Golat. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengembangan agribisnis ternak domba melalui perbaikan mutu pakan, meningkatkan peran dan fungsi kelompoktani secara optimal. Untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam pemilihan pakan yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas pakan yang baik, meningkatkan pertambahan berat badan harian ternak domba serta meningkatkan pendapatan petani. Penyuluhan yang dilakukan secara individual maupun kelompok. Metode yang digunakan adalah pertemuan kelompok, ceramah, diskusi, anjangsana dan demostrasi cara. Materi yang disampaikan meliputi subsistem agro input dan agroproduksi diantaranya dalam aspek pemilihan bibit, perbaikan mutu pakan, perkandangan, perawatan ternak, pencegahan, pengobatan penyakit, pengelolaan reproduksi dan subsistem pemasaran hasil. Pembinaan dilakukan pada 20 orang peternak sebagai sampel. Kaji terap teknologi dilaksanakan pada 8 ekor ternak domba dengan kisaran umur 6-8 bulan yang dibagi menjadi 2 perlakuan. Kelompok pertama (Po) diberi rumput saja (Kebiasaan petani), kelompok kedua (P1) diberi rumput 10 % dari berat badan ditambah 200 gr dedak padi dan Bioplus 300 gr per ekor (Satu dosis pemberian).
Dety Sukmawati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 165-172; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.58

Abstract:
Cabai merah merupakan salah satu komoditas yang memiliki fluktuasi harga yang cukup besar. Fluktuasi harga cabai merah dapat disebabkan oleh besarnya jumlah penawaran dan besarnya jumlah permintaan. Semakin tinggi jumlah penawaran maka harga akan rendah, sedangkan semakin sedikitnya jumlah penawaran harga akan semakin meningkat (ceteris paribus). Harga cabai merah yang sangat fluktuatif menjadikan komoditas ini sulit untuk dapat diprediksi (Murhalis , 2007) . Berdasar sifat dan masalahnya rancangan penelitian ini termasuk deskriptip yaitu untuk mengetahui tinjauan harga caba merah keriting dan disertai statistik deskriptif untuk mengetahui fluktuasi/stabilitas harga cabai merah keriting di sentra produksi dan pasar induk . Penelitian ini menggunakan data time series harga cabai merah pada sentra produksi cabai merah keriting Cikajang Kabupaten Garut dan Pasar Induk Kramat Jati, dengan menggunakan data harga cabai merah keriting harian pada tahun 2014 . Data yang digunakan bersumber dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat dan dianalisis dengan menggunakan program EVIEWS 8. Fluktuasi harga cabai merah kertiitng di ke 2 tempat mengalami fluktuasi harga yang tinggi dari jenis sayuran lainnya. Cabai merah merupakan komoditas yang mengalami fluktuasi harga setiap waktu. Dalam kurun waktu 10 tahun perkembangan harga cabai merah di 2 tempat mengalami fluktuasi dengan rentang yang berbeda. Harga di pasar induk lebih berfluktuasi dari sentra produksi . Hal ini berdasar hasil analisis standar deviasi sentra produksi Cikajang (15165,64) dan Pasar Induk Kramat Jati (18302,01). Ketidakstabilan harga tersebut dikarenakan di pasar mekanisme pasar tidak bekerja, distribusi antar pelaku pasar tidak adil hal ini menunjukkan bahwa pasar cabai merah tidak efisien atau tidak sehat. Pasar tidak sehat ditunjukkan dengan harga terlalu murah akan merugikan produsen, dan harga terlalu mahal merugikan konsumen, hal ini terjadi akibat perubahan penawaran dan permintaan yang menimbulkan fluktuasi harga sehingga fluktuasi harga secara ekonomi akan menyulitkan prediksi bisnis.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 113-124; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.52

Abstract:
Seiring dengan terjadinya perubahan pada pertanian global saat ini telah memaksa petani mangga untuk memproduksi komoditas secara kontinyu dan bernilai tinggi (melalui berbagai upaya peningkatan nilai tambah). Salah satu upaya petani untuk memenuhi tujuan tersebut adalah dengan melakukan sistem tebasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan tataniaga petani mangga yang melakukan sistem tebasan dan mengidentifikasi faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi petani mangga dalam melakukan sistem tebasan. Regresi multivariate digunakan sebagai alat analisis utama dalam mengolah data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dengan 30 orang petani di Desa Pasirmuncang, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan penting, yaitu: (1) Dalam kelembagaan tataniaga mangga dengan sistem tebasan terdapat beberapa lembaga yang turut mengalirkan mangga dari produsen ke konsumen akhir, yaitu pedagang pengumpul tingkat Desa/Kecamatan, pedagang besar, para pedagang di pasar tradisional (lokal), eksportir, suplayer dan supermarket. Dalam pemasaran, buah mangga dikelompokan kedalam dua grade, yaitu grade AB merupakan grade utama, dipasarkan secara luas melalui empat saluran dan grade C (non grade) disalurkan ke pasar-pasar tradisional lokal melalui satu saluran pemasaran. Margin pemasaran paling besar terjadi pada saluran pemasaran yang pelaku-pelaku pasarnya melakukan penanganan hasil lebih intensif seperti suplayer dan supermarket dengan sasaran konsumen kelas ekonomi menengah ke atas. Pada seluruh saluran pemasaran grade AB, pedagang agen selalu mendapatkan marjin keuntungan paling besar, yaitu Rp.2.500,-/kg karena mereka merupakan pihak yang paling besar dalam pengeluaran biaya pemasaran dan juga resiko diakibatkan oleh fluktuasi harga jual mangga. Pengembangan produksi mangga masih perlu kerjasama dengan pelaku agribisnis, petani mendapatkan bantuan permodalan dan bimbingan praktek budidaya yang benai sementara pelaku agribisnis dapat memperoleh hasil mangga yang berkualitas, menciptakan peluang pasar baru dar mendirikan industri pengolah mangga segar untuk menjembatani kelebihan produksi pada waktu panen raya.Rata-rata petani mangga bersifat risk averse (penghindar risiko). (2) Secara serempak, faktor umur, pendidikan, pengalaman, luas lahan, biaya produksi, ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga, kemampuan petani menanggung risiko, pendapatan petani dari mangga, dan pendapatan petani dari pekerjaan lainnya) mempengaruhi petani mangga untuk memilih sitem tebasan. Secara parsial, faktor umur petani dan faktor memiliki pekerjaan di luar usahatani mangga mempengaruhi secara negatif terhadap pemilihan sistem tebasan oleh petani mangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi sistem tebasan di mangga merupakan salah satu alternatif untuk peningkatan keuntungan dan pendapatan bagi petani mangga.
Ning Srimenganti
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 159-164; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.57

Abstract:
Kabupaten Sumedang dikenal sebagai daerah penghasil pangan olahan terkemuka di Jawa Barat, terkenal sebagai sentra ‘tahu camilan’ yang lebih dikenal dengan sebutan ‘tahu Sumedang’. ‘Tahu Sumedang’ adalah produk lokal Kota Sumedang, yang memiliki keunikan. Keunikan tersebut misalnya dari rasanya, dari teksturnya, proses pengolahan, hingga cara penyajian dan cara memakannya. Keunikan yang khas ini ternyata hanya dimiliki di Sumedang dan menjadi faktor keunggulan tahu Sumedang dibanding tahu-tahu lainnya.Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Unit analisisnya adalah konsumen yang membeli tahu di Bungkeng. Objek penelitian ini adalah karakteristik pembeli yang dikelompokkan berdasarkan demografi yaitu usia, jenis kelamin, pendapatan per bulan, pekerjaan, pendidikan,agama dan domisili.Segmentasi pembeli tahu Sumedang berdasarkan hasil penelitian, yang menjadi pembeli di BUNGKENG sebagai berikut : berdasarkan rentang usia sebagian besar pembelinya berada pada rentang usia 45 – 49 tahun dengan persentase 21,68%, berdasarkan jenis kelamin pembeli laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan persentase 50,18%. Berdasarkan Agama, pembeli mayoritas beragama islam dengan persentase mencapai 94,18%. Sedangkan dilihat dari segmen pendidikan, pendidikan terakhinya sebagian besar pembeli berpendidikan terakhir SMA dengan persentase 52,13%. Apabila dilihat dari segmentasi pekerjaannya sebagian besar pekerja swasta dengan pendapatan 1 – 1,5 juta rupiah per bulan. Segmen Demografi berdasarkan domisili menunjukan bahwa pembeli berdomisili di Jawa Barat dengan persentase 54,58%.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 95-106; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.50

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi agroindustri stroberi “Kharisma” serta mengetahui strategi yang paling tepat dalam upaya pengembangan agroindustri stroberi “Kharisma” Desa Alam Endah Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada agroindustri stroberi “Kharisma” di Desa Alam Endah Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung. Alat analisis yang digunakan adalah analisis SWOT (Strengths,Weaknesses, Opportunities dan Threats) dan QSPM (Quantitative StrategicPlanning Matrix).Hasil analisis dan pembahasan menunjukan bahwa faktor-faktor yang menjadi kekuatan bagi agroindustri stroberi Kharisma yaitu kualitas bahan baku yang bagus, produk yang dihasilkan memiliki keunggulan rasa dan tanpa bahan pengawet, sumber daya finansial (modal) sepenuhnya berasal dari perusahaan (equity capital), penyediaan bahan baku yang efektif dan efisien serta proses produksi masih sederhana sehingga rasa lebih khas. Faktor-faktor yang menjadi kelemahan bagi agroindustri stroberi Kharisma yaitu belum memiliki outlet penjualan secara khusus, promosi belum dilakukan, keterbatasan suplai tenaga kerja terampil, lokasi usaha tidak terletak di jalan utama, ketersediaan sarana produksi belum optimal dan kapasitas produksi masih kecil.Faktor-faktor yang menjadi peluang bagi agroindustri stroberi Kharisma yaitu pertumbuhan objek wisata yang cukup pesat, selera konsumen yang beragam, pemasok yang mampu menjamin ketersediaan bahan baku, adanya dukungan kebijakan atau program pemerintah bagi pengembangan agroindustri, keberadaan agen yang loyal dan budaya atau kebiasaan wisatawan atau masyarakat membeli oleh-oleh khas daerah. Faktor-faktor yang menjadi ancaman bagi agroindustri stroberi Kharisma yaitu pesaing produk agroindustri sejenis, kenaikan biaya produksi dan faktor musim yang mempengaruhi kualitas buah stroberi sebagai bahan baku.Strategi yang paling tepat dalam upaya pengembangan agroindustri stroberi Kharisma adalah strategi S-O (Strengths- Opportunities)yaitu dengan meningkatkan volume penjualan melalui optimalisasi potensi pasar wisata dan pengembangan produk.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 7-14; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.24

Abstract:
Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani ladang berpindah adalah dengan cara mengubah pola pertanian mereka menjadi pola pertanian menetap di lokasi transmigrasi. Tujuan penelitian adalah : Mengetahui pencapaian adopsi inovasi teknologi oleh petani transmigran lokal dan pengaruhnya terhadap tingkat pendapatan usahatani dan pendapatan total mereka Penelitian ini merupakan kasus di lokasi Transmigrasi Sabung SP 1 Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat. Merupakan penelitian survey dan alat analisis yang digunakan adalah Path Analisis dan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian mendapatkan bahwa Tingkat adopsi inovasi transmigran lokal berpengaruh terhadap tingkat pendapatan usahatani, namun tidak berpengaruh terhadap tingkat pendapatan total mereka. Tingkat pendapatan total mereka setelah mengikuti program transmigrasi lebih besar dibanding sebelum mengikuti transmigrasi.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 85-94; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.36

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi pada usahatani padi sawah; 2) Mengetahui tingkat efisiensi teknis yang dicapai pada usahatani padi sawah; dan 3) Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap inefisiensi teknis pada usahatani padi sawah. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode studi kasus pada Kelompok Tani Raksa Bumi III Desa Sindangsari Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis yang beranggotakan 30 orang petani yang keseluruhannya diambil sebagai sampel atau dilaksanakan sensus. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petani serta menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan data sekunder diperoleh melalui penelusuran pustaka maupun dari dinas/instansi terkait. Identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi pada usahatani padi sawah dan pengukuran tingkat efisiensi teknis yang dicapai dilakukan dengan menggunakan programasi komputer Front 4.1c, sedangkan identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap inefisiensi teknis pada usahatani padi sawah dilakukan dengan menggunakan programasi komputer SPSS ver. 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi pada usahatani padi sawah adalah lahan, benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Walaupun demikian, variabel-variabel tersebut pengaruhnya tidak signifikan terhadap produksi; 2) Rata-rata tingkat efisiensi teknis yang dicapai petani adalah sebesar 78,06, dengan tingkat efisiensi teknis maksimum adalah sebesar 92,87 dan minimum sebesar 49,09; 3) Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap inefisiensi teknis padi sawah adalah umur, pendidikan, dan pengalaman menjalankan usahatani. Bertambahnya umur, meningkatnya pendidikan, serta bertambahnya pengalaman, cenderung dapat meningkatkan inefisiensi teknis petani. Sedangkan ukuran keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap inefisiensi teknis.
Dian Anggraeni
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 107-112; https://doi.org/10.25157/ma.v1i2.51

Abstract:
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia, karena merupakan bahan makanan penghasil karbohidrat kedua setelah padi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui besarnya biaya antara usahatani jagung panen muda dengan panen pipilan (2). Mengetahui pendapatan usahatani jagung panen muda dan panen pipilan, (3) mengetahui kelayakan usahatani jagung di Kabupaten Serang Provinsi Banten. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Metode penentuan sampel dengan cara multistage random sampling dengan total sampel sebanyak 101 petani jagung. Data dianalisis dengan cara tabulasi dan menggunakan rumus biaya, pendapatan usahatani dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Rata-rata besarnya biaya usahatani jagung panen muda per hektar per musim tanam Rp 5.343.950,00 sedangkan biaya usahatani jagung panen pipilan sebesar Rp 5.762.211,00 per hektar per musim tanam; 2) Rata-rata besarnya pendapatan usahatani jagung panen muda sebesar Rp. 10.217.411,00 per hektar per musim tanam. Sedangkan pendapatan dari usahatani jagung panen pipilan sebesar Rp 10.668.564,00 per hektar per musim tanam; 3) R-C ratio untuk usahatani jagung panen muda 2,91 sedangkan besarnya R/C untuk usahatani jagung panen pipilan 2,85. Dengan demikian, usahatani jagung baik yang menggunakan sistim panen muda atau panen pipilan di Kabupaten Serang layak untuk dikembangkan.
Dety Sukmawati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 79-84; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.35

Abstract:
Beberapa indikator empirik yang sering digunakan dalam pengkajian efisiensi pemasaran di antaranya adalah margin pemasaran dan transmisi harga dari pasar konsumen kepada petani atau ke pasar produsen. Adapun transmisi harga yang rendah mencerminkan inefisiensi pemasaran karena hal itu menunjukkan bahwa perubahan harga yang terjadi di tingkat konsumen tidak seluruhnya diteruskan kepada petani, dengan kata lain transmisi harga berlangsung secara tidak sempurna. Pola transmisi harga seperti ini biasanya terjadi jika pedagang memiliki kekuatan monopsoni sehingga mereka dapat mengendalikan harga beli dari petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pembentukan harga cabai merah keriting dengan analisis harga komoditas, data yang digunakan adalah data time series harian harga cabai merah keriting selama setahun pada tahun 2014 yang bersumber dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat dan analisis menggunakan program Eviews 8. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembentukan harga cabai merah keriting bisa dilakukan dengan analisis harga komoditas pertanian hal ini bisa menunjukkan sebagai indikator kesehatan pasar. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien korelasi tertinggi berada antara PI Caringin dan PI Gedebage persentase perubahannya 99 %, artinya perubahan harga yang terjadi di PI Caringin di transmisikan secara sempurna ke PI Gedebage. Pembentukan harga dapat dilihat juga dengan analisis integrasi pasar, analisis ini bertujuan untuk mengetahui pasar mana yang dominan dalam pembentukan harga cabai merah keriting. Hasil analisis menunjukkan kenaikan harga cabai merah keriting 1 rupiah di sentra produksi Cikajang akan menaikkan harga cabai merah keriting sebesar 0.77 rupiah (perubahan 77 %) di PI Kramat Jati, hal ini menunjukkan bahwa PI Kramat jati dominan pembentuk harga cabai merah keriting.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 55-64; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.32

Abstract:
Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan telur ayam ras serta menganalisis tingkat elastisitas permintaan telur ayam ras di Kecamatan Seruyan Hilir. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan faktor yang mempengaruhi permintaan telur ayam ras meliputi harga telur ayam ras itu sendiri, harga ikan asin, harga ikan bandeng, pendapatan rumah tangga, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan ibu rumah tangga berpengaruh nyata terhadap variabel terikat yaitu permintaan telur ayam ras. Secara individual faktor harga telur ayam ras itu sendiri, harga ikan asin, harga beras, pendapatan rumah tangga dan jumlah anggota keluarga berpengaruh nyata terhadap permintaan telur ayam ras sedangkan untuk harga ikan bandeng dan tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Tingkat elastisitas permintaan telur ayam ras di kecamatan Seruyan hilir, untuk elastisitas harga bersifat inelastis, dimana suatu kenaikan harga telur ayam ras akan menyebabkan perubahan jumlah yang diminta lebih kecil dari perubahan harga. Nilai koefisien elastisitas harga adalah -0,175. Untuk elastisitas silang untuk harga ikan asin dan harga beras adalah negatif yang merupakan barang komplementer (pelengkap) dan positif terhadap ikan bandeng yang merupakan barang substitusi (pengganti). Sedangkan elastisitas pendapatan adalah positif 0,843 menunjukkan bahwa permintaan telur ayam ras merupakan elastisitas pendapatan inelastis yang bersifat barang normal yaitu apabila telur ayam ras mengalami kenaikan dalam permintaan sebagai akibat dari kenaikan pendapatan.Berdasarkan hasil ini, disarankan bahwa upaya lebih lanjut untuk meningkatkan produksi telur ayam ras harus selalu dibuat dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan konsumsi dan untuk mengejar standar yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Seruyan.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 65-70; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.33

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Besarnya biaya dan penerimaan pada usahatani cabai merah (2) profitabilitas dan R/C pada usahatani cabai merah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai dengan mengambil lokasi secara purposif di Desa Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Penarikan sampel dalam penelitian ini adalah secara contoh acak kelompok (cluster random sampling). Dari jumlah populasi di sepuluh kelompoktani yang ada di lima desa di Kecamatan Panjalu diambil sebanyak 34 orang responden dari 170 orang yang melakukan usahatani cabai merah atau sebanyak 20 persen dari setiap anggota kelompok tani. Data dari responden ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan : (1) Besarnya biaya produksi total (TC) pada usahatani cabai merah di Kecamatan Panjalu sebesar Rp 34.718.273,25 per hektar per musim tanam, dengan penerimaan sebesar Rp. 147.699.443,41 per hektar per musim tanam; (2) Besarnya profitabiltas usahatani cabai merah per hektar per musim tanam di Kecamatan Panjalu sebesar Rp. 112.981.170,16 dengan R/C 4,25.
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 45-54; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.31

Abstract:
Penelitian ini mengenai strategi pengembangan agribisnis hasil pertanian melalui inovasi dan kreatifitas menjadi produk ; Pengembangan sektor agribisnis dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM). Kendala yang di hadapi SMK Negeri 1 Pacet dalam mengembangkan agribisnis, belum didukung oleh agribisnis penunjang lain seperti pengadaan alat-alat produksi pengolahan hasil pertanian dan pengolahan agribisnis seperti industri pembuat kemasan. Strategi SMK Negeri 1 Pacet sudah menghasilkan out put yang diharapkan, dari lihat hasil analisis pada matrik SWOT diperoleh koordinat (0.7 ; 1,475) yang mana koordinat ini pada kuadran I yaitu Strategi manajemen rotan, Strategi BUMI dan Strategi Pembelajaran Produktif. Strategi ini. Memiliki peluang dan kekuatan, sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada, strategi yang harus diterapkan adalah mendukung kebijakan dengan memanfaatkan peluang pengembangan komoditas unggulan.
Dian Anggraeni
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 31-36; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.29

Abstract:
Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi dan sumber kalori atau makanan pengganti beras disamping itu juga sebagai pakan ternak. Kebutuhan jagung akan terus meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat dan kemajuan industri pakan ternak. Kasryno (2006), mengemukakan bahwa jagung dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan dan bahan baku industri. Tingginya permintaan untuk jagung tua (pipilan) di daerah Banten, tidak secara langsung mendorong petani untuk melakukan pemanenan jagung tua (pipilan). Fenomena menunjukan masih banyak petani yang melakukan pemanenan jagung muda. Dalam memutuskan untuk memilih waktu panen, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut diantaranya umur, pendidikan, pengalaman usahatani, permodalan, luas lahan yang dimiliki petani, faktor harga, serta berkaitan dengan kemudahan uang tunai yang akan diperoleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam memilih waktu panen jagung.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode penentuan sampel menggunakan simplerandom sampling dengan total sampel sebanyak 101 petani jagung. Data dianalisis dengan menggunakan regresi logistik. Hasil dari penelitian ini adalah secara simultan faktor umur, pendidikan, pengalaman usahatani, luas lahan, modal, harga dan kemudahan mendapatkan uang tunai berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan petani dalam memilih waktu panen jagung. Secara parsial, faktor pengalaman (X3), luas lahan usahatani (X4), modal (X5), harga(X6) dan kemudahan mendapatkan uang tunai(D), berpengaruh nyata terhadap keputusan petani dalam memilih waktu panen jagung, sedangkan faktor umu(X1) dan faktor pendidikan (X2) berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan petani dalam memilih waktu panen jagung.
Cecep Pardani
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 23-30; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.28

Abstract:
Desa Cikuya merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya, dimana penduduknya telah melakukan suatu inovasi dalam rangka meningkatkan pendapatanya dengan cara membuat gula semut. Pembuatan gula semut itu merupakan yang pertama kali ada di Kabupaten Tasikmalaya. Gula semut adalah hasil turunan dari gula cetak. Gula semut ini murni tanpa campuran bahan apapun, sehingga rasanya juga sangat khas aroma aren. Butiran yang lembut, warna yang coklat, aroma khas aren memberikan dampak yang baik bagi makanan dan minuman yang dicampurkannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: 1) Besarnya biaya pada agroindustri gula semut per satu kali proses produkis di Kabupaten Tasikmalaya, 2) Besarnya penerimaan dan pendapatan pada agroindustri gula semut per satu kali proses produkis di Kabupaten Tasikmalaya. 3) Besarnya R/C pada agroindustri gula semut per satu kali proses produksi di Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah metode survai yang berlokasi di Desa Cikuya Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya. Penentuan lokasi dan sasaran penelitian yang dilakukan dengan menggunakan purposive sampling terhadap kelompoktani aren yang berjumlah 19 orang. Rancangan analisis data yang digunakan adalah analisis tentang biaya, penerimaan, pendapatan dan R/C pada agroindustri gula aren per satu kali proses produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Rata-rata besarnya biaya agroindustri gula semut per satu kali proses produksi di Kabupaten Tasikmalaya adalah Rp. 300.091,89, yang terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 78.021.89 dan biaya variabel sebesar Rp. 333.070,00.2) Rata-rata besarnya penerimaan agroindustri gula semut per satu kali proses produksi di Kabupaten Tasikmalaya adalah Rp. 590.200,00 dan besarnya nilai pendapatan adalah Rp. 290.108,11.3) Rata-rata besarnya R/C agroindustri gula semut per satu kali proses produksi di Kabupaten Tasikmalaya 1,97. Ini mempunyai artinya, bahwa setiap pengeluaran biaya produksi Rp. 1 dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,97 sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 0,97.Berdasarkan hal tersebut, maka agroindustri gula semut di Kabupaten Tasikmalaya menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
Agus Yuniawan Isyanto
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.27

Abstract:
Peningkatan jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat menyebabkan konsumsi daging sapi secara nasional cenderung meningkat sehingga terjadi peningkatan impor. Sebagian besar usaha peternakan sapi potong merupakan usaha rakyat dengan ciri skala usaha rumah tangga dan kepemilikan ternak sedikit, menggunakan teknologi sederhana, bersifat padat karya, dan berbasis azas organisasi kekeluargaan. Peternakan dengan skala kecil tersebut biasanya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Dalam analisis ketenagakerjaan di bidang peternakan, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan tenaga kerja. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Curahan waktu kerja pada usaha penggemukan sapi potong, dan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap curahan waktu kerja pada usaha penggemukan sapi potong di Kabupaten Ciamis. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Ciamis sebagai salah satu sentra produksi sapi potong di Provinsi Jawa Barat. Ukuran sampel penelitian sebanyak 100 peternak sapi potong di Kecamatan Panjalu dan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, yang dipilih secara purposif sebagai lokasi penelitian. Data yang digunakan berupa data primer usaha penggemukan sapi potong pada tahun 2012. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap curahan waktu kerja pada usaha penggemukan sapi potong dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Curahan waktu kerja berkisar antara 2,14-5,10 jam/hari, dengan rata-rata 3,65 jam/hari., dan (2) Jumlah kepemilikan ternak dan pekerjaan utama berpengaruh positif dan signifikan terhadap curahan waktu kerja pada usaha penggemukan sapi potong.
, Agung Rahmat
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 1, pp 15-22; https://doi.org/10.25157/ma.v1i1.26

Abstract:
Tujuan melakukan penelitian ini adalah untuk mengatahui: (1) Keadaan penerapan budidaya itik pada Kelompok Ternak Itik Putri Mandiri; (2) Keadaan pemasaran itik pada Kelompok Ternak Itik Putri Mandiri. Metode penelitai yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan mengambil kasus pada Kelompok Ternak Itik Putri Mandiri. Pengambilan data dilaksanaan dengan teknik wawancara secara langsung dan analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keadaan penerapan budidaya itik pada Kelompok Ternak Itik Putri Mandiri mencangkup pemberian pakan, pengambilan telur, teknik pencahayaan dan penggunaan litter, biosekuriti dan sanitasi, program pencegahan penyakit, penanganan limbah cukup baik, walaupun masih banyak yang harus diperbaiki semisal tata letak kandang dan program pemberian cahaya; (2) Harga jual telur dalam pemasaran itik antara Rp. 1.200-Rp 1.400,- per telur dan harga itik afkir Rp.32.000- Rp.35.000 per ekor. Rantai. Penjualan ada yang langkung ke konsumen dan ada yang melalui pasar.
Jamilah Jamilah, Mawardati Mawardati, Ghazali Syamni
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 8, pp 387-395; https://doi.org/10.25157/ma.v8i1.6815

Abstract:
Oil palm as a leading export commodity in Aceh Province in its development faces obstacles both at the cultivation and post-harvest and marketing levels which will determine the income and welfare of farmers. This study aims to analyze the contribution of oil palm farming in improving farmer welfare. The research method used a survey method of smallholder oil palm farmers. The results showed that oil palm farming was categorized as contributing enough to improving the welfare of farmer households. To achieve a decent living category, farmers must own 2.08 hectares of land or a minimum selling price of Rp1,553.40 per kg. Increasing productivity of oil palm should be a priority scale in anticipating fluctuations in CPO prices which have implications for fluctuations in the selling price of TBS at the farm level.
Iman Trisman, M. Munandar Sulaeman, Marina Sulistyati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 8, pp 490-501; https://doi.org/10.25157/ma.v8i1.6935

Abstract:
The research was aimed to investigate business of development of livestock product based on animal population and institutional business. The research was conducted using Mix method namely quantitave and qualitative method. Quantitative method was used to determine the basic commodity based on population and institutional variables, then qualitative method was used to analyze the potential development of livestock products. The result showed there were seven regencies that have potential to develop beef cattle commodity businesses, namely Indramayu Regency, Kuningan Regency, Pangandaran Regency, Subang Regency, Tasikmalaya Regency, Sumedang Regency, and Majalengka Regency. Meanwhile, dairy cattle have the potential to be developed in six regencies, namely West Bandung regency, Cimahi Regency, Bandung Regency, Bogor Regency, Kuningan Regency, and Subang Regency. Toward, It is hoped that the business development of beef cattle and dairy cattle can be developed in these areas by empowering livestock groups and utilizing local resources.
Page of 8
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top