Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal Nyimak: Journal of Communication: 57

(searched for: journal_id:(1217255))
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rama Kertamukti
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2880

Abstract:
Activity of human social life is currently mediated by internet technology. Mediation has created space in the activities of social life which previously had an activity in the body replaced by activities in cyberspace. Instagram is a technological social space in the posfenomenological dimension of cyber space. Instagram as social media mediates its user body to be shared with other users. Instagram is a mode of reduced social interaction and transcends bodily space, programmed body, identity constructed in digital form. The metrosexual man enters the Instagram room to image himself and share it with other users. This research analyzes how metrosexual man activities in consumption and presents his identity in cyberspace. This study uses a virtual ethnographic method by tracing metrosexual male Instagram accounts through the hashtag #priadewasa #ganteng. This method can explore deeper about subject interactions on Instagram. The result is identity and consumption activities in the form of fashion, the places they visit are presented making it their class that has their own tastes in activities shared on Instagram. The liquid space provided by Instagram renders de-identification. Instagram space gives a different space unlike theworld off-line. Human life is never static, the dynamics of human life are changes that can never be avoided. These changes are a process of human adaptation to the movement of the surrounding environment. One form of human adaptation is to create technology that aims to simplify and improve the quality of life. Keywords: Instagram, Metrosexual, Identity, Consumption ABSTRAKAktivitas kehidupan sosial manusia saat ini termediasi teknologi internet. Mediasi itu telah menciptakan ruang dalam aktivitas kehidupan sosial yang sebelumnya beraktivitas dalam kebertubuhan tergantikan dengan aktivitas dalam ruang siber. Instagram adalah ruang sosial teknologis yang berada dalam dimensi posfenomenologis ruang siber. Instagram sebagai media sosial memediasi tubuh penggunannya untuk dibagikan ke pengguna lain. Instagram adalah moda interaksi sosial tereduksi dan melampaui ruang kebertubuhan, tubuh terprogramkan, identitas terkonstruksi dalam wujud digital. Pria metroseksual memasuki ruang Instagram untuk mencitrakan dirinya dan dibagi ke pengguna lain. Penelitian ini menganalisa bagaimana aktivitas pria metroseksual dalam berkonsumsi dan menghadirkan identitasnya di dunia siber. Penelitian ini menggunakan metode etnografi virtual dengan menelusuri akun Instagram pria metroseksual melalui hashtag #priadewasa #ganteng. Metode ini dapat mengeksplorasi lebih dalam interaksi subjek di instagram. Hasilnya Identitas dan aktivitas konsumsi berupa fashion, tempat-tempat yang mereka kunjungi menjadikan kelas mereka memiliki selera tersendiri dalam aktivitas yang dibagikan di instagram. Ruang cair yang diberikan instagram mengarahkan de-idetifikasi. Ruang Instagram memberi ruang berbeda tidak seperti dunia off line. Kehidupan manusia tidak pernah dalam kondisi statis, dinamika kehidupan manusia merupakan perubahan yang tidak pernah bisa dihindari. Perubahan-perubahan tersebut merupakan proses adaptasi manusia terhadap pergerakan dari lingkungan sekitarnya. Salah satu bentuk adaptasi manusia adalah dengan menciptakan teknologi yang bertujuan mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup.Kata Kunci: Instagram, Metroseksual, Identitas, Konsumsi
Muria Endah Sokowati, Fajar Junaedi
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2422

Abstract:
The development of digital technology in the past ten years has been transforming the media forms. New media are emerging and presenting its characteristics that blur the boundary between the sender and receiver. New media empowers the receiver to take part as content providers. Then, recently we can see there are new media platform produced by people who previously only became the contents recipients. This media can be an alternative in the dominance of large industrial media. De-professionalized, de-capitalized, and de-institutionalized are the characteristics of alternative media. Mojok.co is one of the examples of the alternative media. In order to maintain its existence, there are problems need to be concerned, especially financial issues. Mojok.co is also considerate to this issue, and once became the crucial case. As an alternative media, Mojok.co run into financial problem, that forced this site to accepted the fund from investor. The involvement of the investors to the media life encouraged the rethinking of the three characteristics of alternative media, which is already mentioned. Investment presents new problem, such as the problem of ownership and control. Those problems will provide many changes in the production of alternative media content. The investment of Tirto.co to Mojok.co implicated to the changes of Mojok.co. Mojok.co lost its independence. There are some requirements charged by Mojok.co, such as certain targets to achieve page views. By pursuing view, Mojok.co actually has no difference from others digital media assigning Alexa rank as the indicator of the achievement of the media. Ideologically, Mojok.co stated that this site would not take sides with certain ideologies. Accommodating all ideologies indicates that Mojok.co is trying to reach all targets. For this reason, a study of political economy needs to be done to understand the problem. Through the study of political economy, this research found the control mechanism, the shifting of editorial policies and the production practices of the Mojok.co after Tirto.co’s investment. Commodification of content become a policy in editorial for gaining more readers.Keywords: Alternative Media, Ownership, Commodification, Mojok.co ABSTRAKPerkembangan teknologi digital dalam sepuluh tahun terakhir telah mengubah bentuk media. Media baru bermunculan dan menampilkan karakteristiknya yang mengaburkan batas antara pengirim dan penerima. Media baru memberdayakan penerima untuk berperan sebagai penyedia konten. Lalu, belakangan ini kita bisa melihat ada platform media baru yang diproduksi oleh orang-orang yang sebelumnya hanya menjadi penerima konten. Media ini bisa menjadi alternatif dalam dominasi media industri besar. De-profesionalisasi, de-kapitalisasi, dan de-institusionalisasi adalah karakteristik media alternatif. Mojok.co adalah salah satu contoh media alternatif. Untuk mempertahankan eksistensinya, ada beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian, terutama masalah keuangan. Mojok.co juga memperhatikan masalah ini, dan pernah menjadi kasus krusial. Sebagai salah satu media alternatif, Mojok.co mengalami masalah keuangan yang memaksa situs ini menerima dana dari investor. Keterlibatan investor dalam kehidupan media mendorong pemikiran ulang ketiga karakteristik media alternatif yang telah disebutkan. Investasi menghadirkan masalah baru, seperti masalah kepemilikan dan penguasaan. Masalah-masalah tersebut akan memberikan banyak perubahan dalam produksi konten media alternatif. Investasi Tirto.co ke Mojok.co berimplikasi pada perubahan Mojok.co. Mojok.co kehilangan kemerdekaannya. Ada beberapa persyaratan yang dibebankan oleh Mojok.co, seperti target tertentu untuk mencapai tampilan halaman. Dilihat dari sudut pandang, Mojok.co sebenarnya tidak berbeda dengan media digital lainnya yang menempatkan Alexa rank sebagai indikator pencapaian media. Secara ideologis, kata Mojok.co, situs ini tidak akan berpihak pada ideologi tertentu. Akomodatif semua ideologi menunjukkan bahwa Mojok.co berusaha untuk mencapai semua target. Untuk itu perlu dilakukan kajian ekonomi politik untuk memahami permasalahan tersebut. Melalui kajian ekonomi politik, penelitian ini menemukan bagaimana mekanisme kontrol, pergeseran kebijakan redaksi dan praktik produksi Mojok.co pasca investasi Tirto.com. Komodifikasi isi menjadi bagian dalam kebijakan redaksi untuk mendapatan pembaca yang lebih banyak.Kata Kunci: Media alternatif, Kepemilikan, Komodifikasi, Mojok.co
Heni Gusfa, Fransiskus Emilus D. Kadjuand
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2685

Abstract:
In this era of third-generation media, political battles not only occur in the real world but also occur in cyberspace. Various strategies and products of political campaigns using social media have become commonplace in political communication. This happens because along with the disruption of public communication media, conventional campaign ideas and models have also expanded into cyber channels and shaped cyber politics reality. The uniqueness of this research is antagonistic narratives such as hoax, ethnicity, religion, race, intergroup, and provocation in the 2019 Presidential Election political campaign on Twitter from January 1st, 2019 to April 13th, 2019. This research intends to critically analyze the narrative of political campaigns on Twitter using the Agonism Cyber-politic approach. The method used in this research is Multimodal Critical Cyberculture Analysis to analyze the multimodality text (text and image components), Using hashtags to amplificated a political narration, and the antagonism narrations that develops on Twitter by supporting accounts of Jokowi and Prabowo. The results showed that the @jokowi and @prabowo accounts were the accounts with the highest engagement in spreading political campaign narratives on Twitter. The @jokowi account uses optimistic narratives, while @prabowo tends to use pessimistic narratives. Nevertheless, there are so many antagonism narratives like hoax, fake news, propaganda, and politicization of SARA which are specified by anonymous accounts. These antagonistic narratives are more developed in cyber politics discourse on Twitter. The result is horizontal conflict among Indonesian people. The community represented by netizens experienced division and formed two clusters. This fact certainly reduces the meaning of Indonesian democracy which should be substantive to mere procedural. It was found out that the concept of agonistic politics becomes practice of Indonesian democracy, based on the philosophy of the Indonesian nation Keywords: Jokowi, Prabowo, 2019 Presidential Election, political campaign, twitter, cyber politic, Indonesian cyber-democracy ABSTRAKDi era media generasi ketiga sekarang ini, pertarungan politik tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga terjadi di dunia maya. Berbagai strategi dan produk kampanye politik menggunakan media sosial menjadi hal yang lumrah dalam komunikasi politik. Hal ini terjadi karena seiring dengan terganggunya media komunikasi publik, ide dan model kampanye konvensional juga merambah ke saluran siber dan membentuk realitas politik siber. Keunikan dari penelitian ini adalah narasi antagonis seperti hoax, etnisitas, agama, ras, antargolongan, dan provokasi dalam kampanye politik Pilpres 2019 di Twitter dari 1 Januari hingga 13 April 2019. Penelitian ini ingin menganalisis secara kritis narasi kampanye politik di Twitter dengan pendekatan Agonism Cyber-politic. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multimodal Critical Cyberculture Analysis, bertujuan untuk menganalisis teks multimodal (komponen teks dan gambar), penggunaan hashtag untuk memperkuat narasi politik, dan narasi antagonisme yang berkembang di Twitter dengan mendukung akun Jokowi dan Prabowo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @jokowi dan @prabowo merupakan akun yang paling banyak terlibat dalam menyebarkan narasi kampanye politik di Twitter. Akun @jokowi menggunakan narasi optimis, sedangkan @prabowo cenderung menggunakan narasi pesimistis. Namun demikian, banyak ditemukan narasi antagonisme, seperti hoax, fake news, propaganda, dan politisasi SARA yang dibocorkan oleh akun anonim. Narasi antagonis ini lebih berkembang dalam wacana politik dunia maya di Twitter. Akibatnya terjadi konflik horizontal dalam kehidupan (politik) masyarakat Indonesia. Komunitas yang diwakili oleh netizen mengalami perpecahan dan membentuk dua kluster. Fakta ini tentu mereduksi makna demokrasi Indonesia yang semestinya substantif menjadi sekadar prosedural. Konsep politik agonistik sendiri sudah menjadi bagian dari praktik demokrasi di Indonesia yang berlandaskan pada falsafah bangsa Indonesia.Kata Kunci: Jokowi, Prabowo, Pilpres 2019, kampanye politik, Twitter, politik siber, demokrasi siber Indonesia
Kiemas Dita Anugrah Susetya, Iis Kurnia Nurhayati
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2341

Andre Ikhsano, Jakarudi Jakarudi
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2358

Abstract:
Hidden Figures is a film based on the true story of three African American women who help NASA in the space race. The three African American women are Katherine G. Johnson, Mary Jackson, and Dorothy Vaughan. With the setting of the 1960s era, these three women are fighting against a climate of segregation (separation based on race or skin color) in their work environment (NASA). This study aims to explore Patricia Hill Collins’ theory of black feminism and to integrate it with Stella Ting-Toomey’s theory of face-negotiation. This research is based on a critical paradigm and uses a qualitative approach. Using Sara Mills’s critical discourse analysis as a data analysis technique, this study found a representation of black feminism in the film Hidden Figures. The discrimination experienced by the characters is in the form of racism, sexism, and classism. However, the resistance carried out by the characters is through self definition, not in safe spaces as mentioned by Collins. The characters also do not avoid conflict, but use a negotiation approach with a compromising style to achieve a win-win solution.Keywords: Black feminism, face-negotiation, racism, sexism, classism ABSTRAKHidden Figures adalah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata tiga perempuan Afro-Amerika yang membantu NASA dalam space race. Ketiga perempuan Afro-Amerika itu adalah Katherine G. Johnson, Mary Jackson, dan Dorothy Vaughan. Dengan setting waktu era 1960-an, ketiga perempuan ini berjuang melawan iklim segregasi (pemisahan berdasarkan pada ras atau warna kulit) di lingkungan kerja mereka (NASA). Penelitian ini bertujuan untuk mendalami teori black feminism Patricia Hill Collins dan hendak mengintegrasikannya dengan teori face-negotiation Stella Ting-Toomey. Penelitian ini didasarkan pada paradigma kritis dan menggunakan penekatan kualitatif. Menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills sebagai teknik analisis data, penelitian ini menemukan representasi black feminism di dalam film Hidden Figures. Diskriminasi yang dialami para tokoh adalah berupa racism, sexism, dan classism. Akan tetapi, perlawanan yang dilakukan para tokoh adalah melalui self definition, tidak dilakukan dalam safe spaces sebagaimana disinggung oleh Collins. Para tokoh juga tidak menghindari konflik, namun menggunakan pendekatan negosiasi dengan gaya compromising style dalam mencapai win-win solution.Kata Kunci: Black feminism, face-negotiation, racism, sexism, classism
Sri Seti Indriani, Ditha Prasanti, Rangga Saptya Mohamad Permana
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2538

Abstract:
This article describes about phenomenon of Filter Bubble for Millennial Generation in online media. Nowadays, we know that people in searching information are likely to be unaware that their search has been chosen. What is most interesting is how people which are aware on how a filter bubble works but seemed to forget when they search on some information. Researchers and critics are worried because these filters isolate people from getting the information on what they want not on what they need. People might not realize that they are led to partial information blindness. This research is acknowledge their awareness on the filter bubble phenomena especially on Y generation who are believed to be a group of people that adapt fast from the analogue era to the digital era. How they search information nowadays, how bubble filters add their self-value on things and how they prevent themselves from being in a bubble. The research was conducted using a qualitative method with an ethnography virtual approach through LINE group of millennial generation. This approach was to gain more information on the virtual culture, and this case the filter bubble phenomena. Results shows that most informants were not aware on the term of ‘Filter Bubble’, but have been assuming it for quite a while. When they were more informed of this term, they realized that they should be more critical on what they read, and being literated is a significant competence in this era. Though, in addition whether or not this filter bubble could construct their identity, some denied that it didn’t have any relevation while others seemed to think that it did give some additional values on it.Keywords: Filter Bubble, Computer-mediated Communication, ethnography virtual, millennials, and self valueABSTRAKPenelitian ini menjelaskan tentang fenomena bubble filter untuk Generasi Milenial di media online. Sekarang ini, orang-orang dalam mencari informasi cenderung tidak menyadari bahwa pencarian mereka telah dipilih. Hal paling menarik adalah bagaimana orang-orang yang menyadari cara kerja bubble filter namun menjadi lupa ketika mereka mencari informasi. Para peneliti dan kritikus khawatir bubble filter ini mengisolasi orang dari mendapatkan informasi tentang apa yang mereka inginkan, bukan tentang apa yang mereka butuhkan. Orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka dituntun pada kebutaan informasi parsial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran generasi Y terhadap fenomena bubble filter: cara mereka mencari informasi saat ini, bagaimana bubble filter menambahkan harga diri mereka pada sesuatu, dan bagaimana mereka mencegah diri mereka dari berada dalam bubble. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi virtual untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang budaya virtual, terutama fenomena bubble filter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan tidak mengetahui istilah "Filter Bubble", namun mereka sudah mengasumsikannya cukup lama. Ketika mereka menjadi lebih tahu tentang istilah ini, mereka menyadari bahwa mereka harus lebih kritis terhadap apa yang mereka baca, dan menjadi literated adalah kompetensi yang signifikan di era sekarang ini. Selain apakah bubble filter dapat membentuk identitas mereka atau tidak, beberapa menyangkal bahwa bubble filter tidak memiliki relevansi apa pun, sementara yang lain tampaknya berpikir bahwa bubble filter memberikan beberapa nilai tambahan.Kata Kunci: Filter Bubble, computer-mediated communication, etnografi virtual, generasi milenial, nilai diri
Mirza Shahreza, Sarwititi Sarwoprasodjo, Hadi Susilo Arifin, Dwi Retno Hapsari
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2878

Eko Purwanto, Sumardjo Sumardjo, Retno Hafsari, Cahyono Tri Wibowo
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2875

Abstract:
This study aims to determine the pattern of communication in the process of developing life skills at the Darul Fallah Islamic Boarding School, Bogor Regency. The research method used is a case study with a qualitative approach. The results showed that the curriculum used was an integrated curriculum, namely a combination of religious material, general material, and life skills consisting of: personal skills, social skills, academic skills, and vocational skills. Personal skill development is carried out through public lectures, muhadhoroh, pencak silat, and sports. Social skill development is carried out through HISDAF which is an organization of students, muhadatsah and scouts. Academic skill development is carried out through learning the Qur’an, Hadith and the Salaf book (Yellow book). Vocational skill development is carried out through an integrated agricultural program. Linear communication patterns are actualized in general lectures and muhadhoroh (discourse) activities. Interactional communication patterns are carried out in muhadatsah (conversation) activities, learning the Qur’an, Hadith and the Salaf books. While transactional communication patterns are carried out in scouting activities, HISDAF student organizations, and agricultural education.Keywords : Life skills, linear communication, interactional communication, transactional communication ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi dalam proses pengembangan life skill di Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan adalah kurikulum terpadu, yaitu gabungan materi keagamaan, materi umum, serta keterampilan (life skill) yang terdiri atas: personal skill, social skill, academic skill, dan vocational skill. Pengembangan personal skill dilakukan melalui ceramah umum, muhadhoroh, pencak silat, dan olahraga. Pengembangan social skill dilakukan melalui HISDAF yang merupakan organisasi santri, muhadatsah dan pramuka. Pengembangan academic skill dilakukan melalui pembelajaran al-Qur’an, Hadis dan kitab salaf (kitab kuning). Pengembangan vocational skill dilakukan melalui program pertanian yang terpadu. Pola komunikasi linier diaktualisasikan dalam kegiatan ceramah umum serta muhadhoroh. Pola komunikasi interaksional dilakukan dalam kegiatan muhadatsah, pembelajaran al-Qur’an, Hadis dan kitab salaf. Adapun pola komunikasi transaksional dilakukan dalam kegiatan pramuka, organisasi santri HISDAF, dan pendidikan pertanian.Kata Kunci: Life skills, komunikasi linier, komunikasi interaksional, komunikasi transaksional
Cosmas Gatot Haryono, Rustono Farady Marta, Maichel Chinmi
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4; doi:10.31000/nyimak.v4i2.2711

Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 89-107; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2225

Abstract:
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan bagaimana preferensi media sosial pada generasi milenial terhadap tingkat pengetahuan atas calon legislatif dalam bentuk penjabaran data secara ilmiah dan sistematis. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih generasi milenial pada Pemilu 2019 proporsinya sekitar 34,2% dari total 152 juta pemilih. Dengan ketergantungan generasi milenial terhadap media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter serta berbagai macam aplikasi instant messanger seperti Whatsapp, kampanye politik melalui media sosial menjadi salah satu cara tepat untuk menarik simpati generasi milenial. Penelitian ini menggunakan salah satu model dalam kajian perilaku konsumen, yaitu TAM (Technology Acceptance Model ) yang kemudian diturunkan menjadi konsep preferensi konsumen dengan operasionalisasi variabel X adalah Preferensi Media Sosial dan variabel Y adalah Tingkat Pengetahuan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif melalui survei terhadap 100 orang responden, yang menunjukan bahwa sebanyak 71 responden (71%) memiliki pengetahuan atas calon legislatif di kota asalnya dari media sosial dan sebanyak 29 responden (29%) menyatakan tidak mengetahui. Berdasarkan hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Technology Acceptance Model (TAM) dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor preferensi perilaku pemilih generasi milenial dalam menggunakan media sosial untuk mendapatkan pengetahuan atas calon legislatif melalui media sosial.Kata kunci: Media sosial, generasi milenial, legislatif ABSTRACTThis research is intended to answer the problem of how social media preferences in millennial generation are towards the level of knowledge of legislative candidates in the form of scientific and systematic translation of data. Based on the record of the General Election Commission (KPU), the number of millennial generation voters in the 2019 Election was around 34.2% of the total 152 million voters. With millennial generation dependence on social media such as Instagram, Facebook, Twitter and various instant messenger applications such as Whatsapp, making political campaigns through social media one of the right ways to attract the sympathy of millennials. This study uses one model in the study of consumer behavior, namely TAM (Technology Acceptance Model) which is then reduced to the concept of consumer preferences with the operationalization of variable X is the preference of social media and variable Y is the Level of Knowledge. The method used is quantitative through a survey of 100 respondents showing that as many as 71 respondents (71%) had knowledge of legislative candidates in their home city from social media and as many as 29 respondents (29%) stated they did not know. Based on the results of the survey, it can be concluded that the use of the Technology Acceptance Model (TAM) can be used to analyze the factors of preference of millennial generation voters in using social media to gain knowledge of legislative candidates through social media.Keywords: Social media, millennial generation, legislative
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top