Refine Search

New Search

Advanced search

Journal MODUL

-
54 articles
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Hana Faza Surya Rusyda, Bangun Ir Harsritanto, Ratih Widiastuti
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 85-88; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.85-88

Abstract:Kota Lama Semarang mempunyai ruang terbuka yang sangat populer dikalangan masyarakat sekitar, antara lainadalah Taman Srigunting dan Polder Tawang. Kedua ruang terbuka tersebut mempunyai berbagai macam material.Berbagai jenis material mempunyai kondisi termal yang berbeda. Oleh karena itu akan diteliti mengenai material yangterdapat pada kedua ruang terbuka tersabut yang terkait dengan termal. Pendekatan yang digunakan menggunakanmetode kuantitatif. Data dari penelitian ini diperoleh dengan obeservasi lapangan dengan pengukuran langsung padaobjek penelitian. Simpulan pada penelitian ini adalah dapat mengetahui material yang berpengaruh besar terhadapkondisi termal pada sebuah ruang terbuka.
I Wayan Andhika Widiantara, Edi Purwanto, Agung Budi Sardjono
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 62-68; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.62-68

Abstract:Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kawasan dengan latar belakang sejarah Kolonial Belanda, terlihat saat ini masih adanya sekitar lima puluh bangunan dengan arsitektur Kolonial Belanda yang membuat kawasan ini menjadi salah satu kawasan konservasi di Kota Semarang. Didalam kawasan ini terdapat sebuah koridor utama, yaitu pada Jalan Letjen Suprapto. Koridor ini dirancang pada jaman Belanda menjadi pusat orientasi kawasan dengan adanya Gereja Blenduk sebagai orientasi utama.Seiring berkembangnya waktu, koridor jalan Letjen Suprapto memiliki pertumbuhan yang cukup cepat. Ditunjukan dengan munculnya bangunan-bangunan komersial seperti halnya cafe, tempat makan, serta adanya museum. Perkembangan yang cukup pesat tersebut perlu disadari akan memicu munculnya pergesekan bangunan-bangunan baru hasil renovasi dengan bangunan-bangunan lama yang ada apabila tidak diperhatikan dengan benar. Hal ini menyebabkan perlunya perlakuan khusus terkait renovasi dan revitalisasi bangunan yang ada pada koridor ini khususnya penataan wajah bangunan yang ada pada koridor tersebut. Sehingga karakter dari koridor Jalan Letjen Suprapto dapat mewakili citra/image dari kawasan Kota Lama Semarang. Karakter visual koridor tersebut dapat dinilai salah satunya adalah melalui amatan-amatan visual secara menyeluruh saat melintasi koridor. Proses amatan tersebut memberikan kesan dan perasaaan tertentu sehingga pengamat dapat merasakan sesuatu yang berbeda saat berada pada koridor tersebut dengan ketika berada pada koridor kawasan lainnya.Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian mengenai Pengaruh Perwajahan Bangunan Terhadap Karakter Visual Koridor di Jalan Letjen Suprapto, Kawasan Kota Lama Semarang yang juga dilakukan oleh peneliti yang sama dengan menggunakan unsur dominasi, irama, kepaduan, garis langit, serta pemandangan berseri dalam menilai karakter visual koridor tersebut dan dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan penelitian studi kasus. Didalam tulisan ini hanya mengangkat mengenai unsur pemandangan berseri dikarenakan dianggap mempunyai nilai keunikan tersendiri dari unsur lainnya. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya elemen dari warna pada bangunan Marba dan atap pada menara Gereja Blenduk sebagai titik amatan yang memberikan rasa penasaran kepada pengamat serta seolah-olah pengamat dibimbing untuk menuju ke area tertentu, serta menjadikan kedua bangunan tersebut sebagai focal poitnt pada koridor Jalan Letjen Suprapto.
Nuthqy Fariz, Agung Budi Sardjono, Titien Woro Murtini
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 56-61; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.56-61

Abstract:Sebagai kota yang berada di pesisir jawa bisa dikatakan Tegal telah mengalami beberapa perkembangan dan perubahan pada masa kolonial sampai dengan sekarang, baik dari segi manusianya, budaya ataupun peniggalannya. Kota tegal merupakan satu dari beberapa kota di pesisir pantai utara yang dijajah atau dikuasai oleh pemerintah belanda pada masa penjajahan dahulu.Bangunan peninggalan di tegal yang pertama yaitu gedung berau atau NIS Tegal yang masih bertahan sampai sekarang, bangunan tersebut dirancang oleh arsitek belanda yaitu Henricus Maclaine Pont, bukan gedung berau saja tetapi juga ada Stasiun Kereta Api Tegal yang masih difungsikan sampai sekarang. Dari beberapa bangunan kolonial yang dibangun pada masa itu banyak dari perumahan atau rumah rumah belanda yang meniru bentuk dan motif bangunan kolonial yang sudah dibangun terlebih dahulu.Dari bangunan yang ditiru yaitu bangunan DPRD Kota Tegal yang memiliki langam arsitektur eropa brgaya romawi dengan ciri bentuk kolom yang besar dan mempunyai gevel pada bagian depan bangunan. Dengan gevel yang semakin banyak digunakan pada bangunan di Kota Tegal tidak lepas dari rumah rumah yang menggunakan gevel sebagai penanda bangunan yang sangat manis pada masa itu.Gevel merupaka bagian dari atap dengan yang dibuat untuk menaungi bagian teras pad bangunan gevel biasanya menyerupai bentuk segitiga dan bentuk persegi atau bujur sangkart, gevel banyak digunakan pada rumah-rumah di kawasan cagar budaya Kota Tegal yaitu di kelurahan mangkukusuman, kelurahan panggung, kelurahan tegalsari .Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan mencari tahu dilapangan rumah-rumah kolonial yang menggunakan gevel, sehingga bisa dkategorikan gevel menjadi karakter dari kawasan tersebut.Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui bahwa gevel menjadi bentuk karakter yang ada pada sepanjang jalan gajah mada Kota Tegal.
Dhony Setyawan, Hermin Werdiningsih
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 78-83; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.78-83

Abstract:Bangunan pengasapan ikan merupakan salah satu bangunan industri rumah tangga yang banyak terdapat di Indonesia,salah satunya di Semarang. Di Semarang sendiri bangunan pengasapan ikan berada di kawasan sentra pengasapanikan di Bandarharjo, Semarang Utara. Pada kawasan sentra pengasapan ikan Bandarharjo, terdapat kuranglebih 35bangunan pengasapan ikan yang aktif melakukan kegiatan produksi ikan asap setiap harinya. Pembahasan mengenaibangunan pengasapan ikan ini akan difokuskan ke arah penataan ruang dan penggunaan material pada bangunanpengasapan ikan yang terdapat di sentra pengasapan ikan Bandarharjo. Mayoritas bangunan pengasapan ikan disentra pengasapan ikan Bandarharjo menggunakan kayu dan bambu sebagai material utama bangunan.Untuk materiallain yang digunakan adalah seng, GRC board dan plesteran yang diaplikasikan pada bagian dinding dan lantaibangunan pengasapan ikan. Sedangkan untuk tata ruang pada bangunan pengasapan ikan cukuplah sederhana, dimanatata ruang yang ada menyesuaikan alur proses yang terdapat dalam kegiatan produksi ikan asap. Melalui pengkajianmengenai penataan ruang dan penggunaan material pada bangunan pengasapan ikan ini didapatkan bahwasannya adabeberapa hal yang masih kurang dalam penataan ruang dan penggunaan material bangunan. Perlu ditingkatkannyakesadaran pelaku produksi ikan asap dan upaya dari pemerintah setempat untuk dapat bergerak bersama dalampeningkatan kualitas bangunan pengasapan ikan yang terdapat di sentra pengasapan ikan.
Aulusia Ika Kosanti, Agung Dwiyanto
Published: 26 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 101-107; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.101-107

Abstract:Kota merupakan salah satu tempat kehidupan manusia yang dapat dikatakan paling kompleks, karena perkembangannya dipengaruhi oleh aktivitas pengguna perkotaan. Kota Semarang yang mempunyai fungsi dan peran sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, menunjukan adanya pertumbuhan fisik yang dilaksanakan oleh berbagai pihak dengan kepentingannya masing-masing. Pembangunan fisik tersebut yang dilaksanakan adalah penyediaan fasilitas perdagangan dan jasa yang didalamnya termasuk bangunan komersial seperti mall. Keberadaan mall yang semakin marak, secara tidak langsung akan meningkatkan persaingan antara mall yang satu dengan mall yang lainnya. Kemampuan untuk menarik konsumen juga sangat perlu dimiliki oleh sebuah mall agar dapat terus mempertahankan keberadaannya salah satunya dengan cara pengaplikasian desain fasad yang menarik dalam perancangan sebuah mall. Keberagaman bentuk fasad bangunan mall berhubungan dengan kualitas visual estetika yang terbentuk dalam setiap bangunan mall yang ada di Semarang. Untuk mengetahui hubungan tersebut, dibutuhkan persepsi pengunjung untuk menilai, sehingga hasil yang didapatkan obyektif.
Ainun Nabilah, Septana Bagus Pribadi, Masyiana Arifah Alfia Riza
Published: 22 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 54-59; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.54-59

Abstract:The development of Islam in Indonesia is very rapidly growing, as the largest religion in Indonesia, the need for spiritual good in terms of worship and social is needed in variousregions in Indonesia. Semarang as the capital of Central Java Province became the city which must be the center of development of all aspects of human needs, including religious facilities for the city of Semarang and surrounding areas. One of the areas that became religious facilities, especially Islam in Semarang is the Great Mosque of Central Java. In addition to being the biggest iconic mosque in Semarang and used as a tourist spot, the area provides various facilities to create a circulation to connect these facilities. Circulation becomes an important part of an area because the circulation is always in the access by the perpetrators of the area, the perpetrators in question one of them is the visitor. Ease and comfort of the circulation become things to note so that visitors will feel at home to come to the area. Circulation in the Great Mosque of Central Java is a concern to be discussed in this paper, because in addition to the needs of the surrounding community will be provided facilities that are always in access by the community, the Great Mosque of Central Java is also used as one of the tourist attractions in Central Java by tourists both local and local outdoors. Signage is also discussed because ease and comfort in the circulation is also determined by good signage.
Rahayu Effendi, Hana Salsabila, Abdul Malik
Published: 22 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 75-82; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.75-82

Abstract:The rapid rise of population, the increasing need of human beings and the development of science and technology causes the environment to be sacrificed to meet the needs of human life. Therefore, the importance of realizing a sustainable, principled environment in maintaining health and addressing ecological and ecosystem balance issues as an effort to ensure the survival of future generations. This paper discusses the sustainable environment, covering the basics of environmental sustainability that is ecology and ecosystems and accompanied by case studies aimed at providing a clearer picture of how the environment is sustainable. The purpose of this paper is to provide understanding to the community what and how the importance of environmental sustainability is so that later can be applied in real terms to create a healthy environment and ensure sustainability of the present and future
Satrio Nugroho, Kurniawan Bayuaji
Published: 22 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 70-74; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.70-74

Abstract:Klinik Bethesda Peterongan merupakan salah satu bangunan Cagar Budaya yang dilestarikan oleh Pemerintah Kota Semarang. Bangunan ini awalnya merupakan rumah tinggal milik keluarga Tan Siang Swie. Namun, seiring berjalannya waktu bangunann ini sekarang difungsikan sebagai klinik yang kepengurusannya menjadi satu dengan GKI Peterongan. Tentunya, sebagai cagar budaya bangunan ini memiliki nilai penting yang patut untuk dilestarikan agar bisa menjadi objek studi di masa yang akan datang. Namun, penggunaan bangunan lama dengan fungsi baru terkadang memaksa pemilik atau pengelola bangunan untuk memenuhi kebutuhan dari bangunan ini, dan terkadang hal tersebut bisa saja bersifat merusak. Maka dari itu, diperlukan sebuah tinjauan mengenai bagaimana tindakan pelestarian yang sudah dilakukan pada bangunan ini, dan bagaimana rekomendasi tindakan yang seharusnya dilakukan pada bangunan ini di masa yang akan datang
Yemima Sahmura, Sri Hartuti Wahyuningrum
Published: 22 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 60-69; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.60-69

Abstract:Pada umumnya masyarakat awam masih menganggap bahwa peninggalan sejarah dan benda-benda cagar budaya tidak memiliki arti dan manfaat bagi kehidupan langsung masyarakat. Masyarakat di sekitar lokasi tempat benda cagar budaya sadar atau tidak sadar, sebenarnya telah menikmati hasil dari keberadaan benda cagar budaya tersebut. Namun pada kenyataannya masyarakat seringkali tidak terlibat dalam upaya pelestarian benda cagar budaya tersebut. Dalam proses plestarian walaupun tidak menghasilkan karya rancangan baru, proses pelestarian terdiri dari beberapa tahap kegiatan yang saling berkesinambungan. Apabila merujuk UU RI no. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka terdapat tiga tahap kegiatan, yaitu : [1] perlindungan, [2] pengembangan, dan [3] pemanfaatan. Adapun tahapannya, Tahap 1 : identifikasi arsitektural objek bersejarah, Tahap 2 : pemetaan kondisi objek dan rekomendasi tindakan pelestarian. Dengan Studi Kasus Poliklinik Bethesda, Semarang, keberadaan bangunannya menjadi satu lingkungan dengan GKI Peterongan. Sekarang bangunan ini termasuk bangunan cagar budaya terdaftar sebagai rumah Tan Siang Swie. Dalam studi ini, digunakan metode deskriptif-eksploratif, analisa deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada Klinik Bethesda Semarang. Melalui tahapan penelitian sebagai berikut: (a) observasi lapangan pada lokasi pengamatan; (b) mengidentifikasi setiap bangunan berdasarkan, kekhasan langgam/gaya, lalu menyesuaikan dengan teori yang berkaitan dengan tipologi wajah bangunan;(c) mengidentifikasi dan menganalisa detail dari setiap elemen wajah bangunan (atap, dinding, dan lantai) dan ditipologikan berdasarkan langgam/gaya bangunannya;(d) menarik kesimpulan dari analisa tersebut tentang tipologi wajah bangunan arsitektur kolonial.
Djudjun Rusmiatmoko Rusmiatmoko, Erni Setyowati, Gagoek Hardiman
Published: 22 November 2018
MODUL, Volume 18, pp 90-96; doi:10.14710/mdl.18.2.2018.90-96

Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all