Refine Search

New Search

Advanced search

Journal MODUL

-
62 articles
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Bambang Setioko, Bangun Ir Harsritanto
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 11-16; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.11-16

Abstract:Pembentukan citra sebuah kawasan kota tua tidak hanya sekedar dilihat dari kualitas fisik bangunannya saja, akan tetapi juga dilihat dari kualitas fisik lingkungan yang diikuti dengan fungsi sosial lingkungan. Fungsisosial lingkungan ini dapat terwujud dalam bentuk ruang komunal.Ruang komunal di kota lama Semarang adalahtaman srigunting (yang sebelumnya merupakan permakaman, halaman gereja, tempat pedagang kaki lima) danpolder tawang (yang sebelumnya halaman stasiun, terminal, lapangan sepakbola. Fenomena tersebut menunjukkanbahwa telah terjadi perubahan/transformasi ruang komunal di kawasan Kota Lama Semarang. Penelitian inibertujuan untuk untuk memperkaya teori transformasi spasial yang berkaitan dengan bentuk dan pola ruangkomunal. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Selain itu, metode pengolaan datadilakukan dengan metode studi kasus dan analisa deskriptif kualitatif.Berdasarkan hasil analisis penelitian,ditemukan bahwa terjadi transformasi bentuk dan pola ruang komunal di Kota Lama Semarang. Kemudian,transformasi tersebut terjadi pada beberapa hal, yaitu: fungsi, bentuk, sirkulasi,aktivitas, dan identitas ruangkomunal
Redi Sigit Febrianto, Lisa Dwi Wulandari, Sciprofile linkHerry Santosa
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 1-10; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.1-10

Abstract:Jagung dan Islam adalah identitas kultur etnis Madura, sehingga dikenal sebagai masyarakat peladang-muslim.Mereka juga dikenal sebagai masyarakat mandiri, subsistensi dan sangat bergantung pada lanskap agrarisnya.Penelitian sebelumnya banyak membahas spasial hunian-kekerabatan dan spasial hunian-kesakralan terutama padahunian Madura perantauan. Penelitian ini berbeda karena berusaha memahami spasial lanskap-hunian padamasyarakat peladang jagung di desa Juruan Laok Madura Timur, pada lingkup mikro. Rancangan penelitian bersifatkualitatif dengan strategi etnografi. Pengumpulan data primer utama berupa wawancara mendalam dengan tak-tikpertanyaan terbuka dan sampling bertujuan. Validasi internal menggunakan observasi, pengukuran dan dokumentasiarsitektural, mengingat sifat subsistensinya dan kepala desa bukan narasumber utama. Diambil empat kasus hunianterpilih berdasarkan civitas, aktivitas, pola hunian, pola lanskap pertanian dan eksistensi obyek penyimpanan panen
Titien Woro Murtini, Sri Hartuti Wahyuningrum
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 17-21; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.17-21

Abstract:Pemanfaatan ruas jalan gang baru sebagai ruang untuk pasar tradisional sangat menarik untuk di kaji ,karena kegiatan tersebut sudah terjadi sejak masa lalu hingga sekarang, walaupun fasilitas perbelanjaan modernsaat ini di kota Semarang sudah tersedia dengan kondisi yang memadahi dan nyaman namun keberadaan pasartradisional termasuk gang baru hingga saat ini masih tetap berlangsung dan diminati oleh masyarakat tidak hanyamasyarakat disekitar Pecinan saja tetapi oleh masyarakat Semarang secara keseluruhan.Penelitian PenggunaanRuas Jalan Sebagai Pasar Tradisional di Gang Baru Pecinan Semarang bertujuan menggali faktor-faktor yangmenyebabkan pasar ini masih diminati hingga saat ini dan untuk mengetahui elemen ruang apakah yangmembentuk ruas gang baru menjadi pasar tradisional. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan rasionalistikdengan paradigma kualitatif. Pendekatan penelitian rasionalistik kualitatif ini sesuai dengan sifat masalahpenelitian yaitu untuk mengungkap dan memahami faktor pendorong pembentukan ruas jalan lingkungan menjadiruang ekonomi yang berpengaruh terhadap pembentukkan karakter di Kawasan Pecinan Semarang dan faktor yangmenyebabkan ruang ekonomi itu tetap bertahan hingga sekarang.
Suzanna Ratih Sari, Arnis Rochma Harani, Hermin Werdiningsih
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 49-55; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.49-55

Abstract:Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah dan juga termasuk dalam kategori kota besar di Indonesia, memiliki ketiga aspek utama dari pengembangan kota berkelanjutan. Konservasi kawasan bersejarah yang termasuk dalam ikon pariwisata, dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah yang menjanjikan dan menjadi fokus utama pengembangannya. Kota Semarang sendiri memiliki beberapa kawasan yang strategis untuk di konservasi keberadaannya seperti Kota Lama, daerah Pecinan, Pasar Johar, dan Kampung Sekayu. Konservasi kawasan dilakukan untuk memberikan perlindungan kawasan bersejarah termasuk isi di dalamnya agar perkembangannya terkendali dan tidak tergusur oleh pembangunan dan modernisasi.Kota Semarang terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang dan unik, yang ditandai dengan berbagai peninggalan sejarah utamanya gedung dan bangunan kuno. Bertolak dari hal ini, kiranya diperlukan suatu konsep pemikiran yang komprehensif untuk menangani mutiara-mutiara yang ada di Kota Semarang ini, yang masih tampak kusam dan tidak kelihatan kilauannya. Pemerintah Kota Semarang sendiri juga tidak dapat melihat bahwa potensi kawasan dan bangunan kuno ini merupakan mutiara-mutiara yang masih kusam dan tersembunyi, yang dapat digosok supaya berkilau dan menarik perhatian. Mereka lebih suka latah membangun gedung-gedung dan mal-mal tanpa perencanaan yang matang, dan justeru sering menggusur bangunan bersejarah tersebut.Dari urian di atas, kiranya penelitian ini diperlukan untuk menangani satu diantara mutiara-mutiara tersebut yakni Kawasan Kota Lama melalui pengembangan konsep konservasi kawasan, yaitu merupakan konsep penataan, pelestarian dan pengembangan kawasan-kawasan bersejarah di kota Semarang, dan tentu saja merupakan salah satu landasan budaya bagi perencanaan dan pengembangan kota.Kegiatan penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data histories-arkeologis di kawasan-kawasan bersejarah khususnya Kota Lama yang dilakukan melalui studi pustaka, studi arsip, studi peta, serta diikuti dengan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi fisik kawasan dan bangunan-bangunan bersejarah. Data-data histories, arkeologis maupun arsitektural, baik berbentuk sumber primer maupun sekunder diklasifikasikan dan dianalisis secara deskriptif.
Bangun Ir Harsritanto, Totok Roesmanto
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 69-74; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.69-74

Nadiah Khamairah, Sri Hartuti Wahyuningrum
Published: 11 January 2018
MODUL, Volume 17, pp 75-77; doi:10.14710/mdl.17.2.2017.75-77

Abstract:Architecture is a science that covers many areas of other scientific aspects. One aspect considered in architectural design is building utilities. Building utilities are the completeness of building facilities aimed at achieving the elements of comfort, health, safety, ease of communication and mobility in the building so that sustainability activity in the building can run with the best. One of the main aspects of building utilities is lighting. Lighting is divided into natural lighting and artificial lighting. Artificial Lighting is the lighting produced by a light source other than natural light. Artificial lighting is necessary if the position of the room is difficult to achieve by natural lighting or when natural lighting is insufficient. This paper will be studied artificial lighting characteristic in cinema Citra XXI Semarang.is a space in certain locations which being owned by some societies and being use together with other societies in needs.
Sri Hartuti Wahyuningrum, Budi Sudarwanto
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 36-41; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.36-41

Abstract:Hambatan struktural dan hambatan fungsional merupakan hambatan utama dalam pengembanganpelestarian KL Semarang. Masalah harmonisasi peran-peran yang terlibat mendukung besarnya hambatan yangada. Terjadi fakta dilapangan melalui kajian gambar sketsa pada even ISSW bahwa KL menunjukan objektifitas dankarakter potensial untuk pengembangan penguatan pelestarian sebagai kawasan historis. Bangunan dan koridorjalan di lingkungan KL, bangunan terevitalisasi dan bangunan kumuh, fakta lingkungan KL adalah spot-spot yangmemberikan fakta upaya pelestarian KL Semarang memiliki nilai signifikan yang perlu ditingkatkan, terutamakarakter bangunan arsitektur kolonial. Hasil temuan kajian atas gambar sketsa dalam ISSW 2016 bahwa gambarsketsa menunjukan nilai positif atas fakta dan kejadian lapangan upaya pelestarian KL Semarang. Upayadiversifikasi kegaiatan kreatif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan KL sebagai kawasan bernilai ekonomi.
Chely Novia Bramiana, Sciprofile linkRatih Widiastuti
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 27-35; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.27-35

Abstract:Nowadays, sustainability has become an important issue in any development project, including area development. Thishappen because the area development requires space, in this case land. As people developing land, it damages theenvironment. It means there will be less balance between built environment and natural environment. This calls forconcern in urban sustainability. One of the ways to restore the balance is to reduce as much land as possible to be builtby maximizing the space. This paper will explore the multiple space use in terms of mixed-use development in differentlevel and also assess mixed land use implementation, which include the concept of diversity in urban sustainability
Arnis Rochma Harani, Fahmi Arifan, Hermin Werdiningsih, Resza Riskiyanto
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 42-47; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.42-47

Abstract:Pengembangan desa wisata menjadi salah satu program pemerintah untuk menjadikan desa-desa tertinggal menjadi desa yang maju, Dalam perkembangannya beberapa desa yang memiliki potensi mulai berubah, namun jika tidak diadakan pemetaan potensi yang ada akan menjadikan desa wisata dimana saja sama, tanpa ada kekhasan khusus. Sehingga diperlukan pemetaan potensi desa yang nantinya akan menjadi salah satu ciri dan dapat dikembangkan menjadi acuan desa wisata. Sehingga setiap desa memiliki karakter yang khas serta dapat menjadikan nilai jual tersendiri. Desa pesantren merupakan desa di daerah pesisir pantai yang lokasinya berada di Kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang. Desa ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata, sehingga dibutuhkan pemetaan potensi yang ada.
Arnis Rochma Harani, Hermin Werdiningsih, Resza Riskiyanto
Published: 19 September 2017
MODUL, Volume 17, pp 22-26; doi:10.14710/mdl.17.1.2017.22-26

Abstract:Kawasan kota lama Semarang merupakan kawasan konservasi yang dipertahankan keasliannya olehpemerintah kota Semarang. Kawasan kota lama Semarang merupakan pusat perdagangan pada abad ke 19-20.Karena merupakan kawasan peninggalan pada masa belanda, maka bangunan yang ada dikawasan ini bergayakolonial. Namun seiring berkembangnya kota Semarang, kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi inimulai ditinggalkan, sehingga menjadi kawasan mati. kawasan kota lama yang masih aktif hanya seperempatnya,sisanya berupa bangunan kosong/gudang
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all