Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 12

(searched for: doi:(10.31959/*))
Save to Scifeed
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Kalsum Lussy
Published: 30 June 2018
JURNAL MANEKSI, Volume 7, pp 26-38; doi:10.31959/jm.v7i1.88

Abstract:
Sumberdaya manusia, modal dan teknologi merupakan faktor-faktor yang sangat penting dalam menciptakan kualitas produk yang harus digerakkan secara efektif, guna mencapai hasil (output) yang optimal. Untuk mencapi tujuan tersebut diperlukan adanya usaha yang didukung oleh semua pihak secara organisasi baik dari pihak manajemen maupun dari pihak karyawan. Alat analisis dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda, populasi mengacu pada keseluruhaan kelompok orang, kejadian atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Berdasarkan pengertian diatas, maka populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan karyawan pada Perusahaan Daerah Panca Karya Ambon berjumlah 65 orang. Hasil yang ditemukan Secara parsial variabel penempatan tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan Hasil uji-t terhadap koefisien regresi pada hubungan ini sebesar 0,235 adalah tidak signifikan (p-value = 0,030), sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian tidak mendukung hipotesis H1 bahwa penempatan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Perusahan Daerah Panca karya Ambon bagian Transportasi Laut. Secara parsial variabel kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Perusahaan Daerah Panca Karya Ambon Bagian Transportasi Laut. Berdasarkan Hasil uji-t terhadap koefisien regresi pada hubungan ini sebesar 0,505 adalah signifikan (p-value = 0,000), sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian mendukung hipotesis H2 bahwa kompetensi.
Maryo Wildo Wenno
Published: 30 June 2018
JURNAL MANEKSI, Volume 7, pp 47-54; doi:10.31959/jm.v7i1.86

Abstract:
Every organization expects every employee to have a high level of job satisfaction. This study aimed to see the relationship between work life balance and job satisfaction by using quantitative methods with product moment correlation technique from Carl Pearson. Hypothesis in this research was a positive and significant correlation between work life balance and job satisfaction. Measuring tool used in this research was work life balance scale by Hayman (2005) with result of reliability test was 0.774 and job satisfaction scale by Spector (1997) with result of reliability test was 0.942. The sample of this research was employees at PT PLN Ambon Area. From product moment correlation analysis obtained r value = 0.337 with significance 0.001 (p
Joy Krismarwaty Tasema
Published: 30 June 2018
JURNAL MANEKSI, Volume 7, pp 39-46; doi:10.31959/jm.v7i1.84

Abstract:
This research aims to know the relationship between psychological well being and job satisfaction by using quantitative methods with the technique of correlation of Product Moment of Carl Pearson. The hypothesis in this study is a positive correlation between psychological well being and job satisfaction on employees in Kantor X . Measuring instrument used in this study is psychological well being Scale Ryff’s (1989) with the reliability test results amounted to 0,915. The second scale of job satisfaction by Brayfield and Rothe (1951) with the reliability test results amounted to 0,825. On average psychological well being variable subject obtain score 81,90 who belongs in the category of variable height, and job satisfaction of the average score obtained 49,25 the subject belongs in the category. Correlation analysis of product moment in earned value r = 0.632 (p < 0.05); thus there is a relationship between significant positive relationship between psychological well being and job satisfaction on employees in Kantor X.
Lucky Nugroho
Published: 30 June 2018
JURNAL MANEKSI, Volume 7, pp 55-65; doi:10.31959/jm.v7i1.89

Abstract:
Currently, the government is prioritizing the development of the manufacturing sector to support national development. Based on the quality of the audit becomes very important to make the right decision for the users of financial statements, especially in the manufacturing sector. Furthermore, this study aims to determine the factors affecting audit quality, especially tenure audit factors, the size of the public accounting firm (KAP), and time budget pressure. Data analysis technique used is logistic regression analysis with the sample of 90 research of manufacture industry sector of consumer goods sector listed in BEI during the year 2014-2016. Based on the result of research indicate that KAP size and time budget pressure have no significant effect on audit quality. While audit tenure has a positive and significant impact on audit quality.
Victor Ringhard Pattipeilohy
Published: 30 June 2018
JURNAL MANEKSI, Volume 7, pp 66-73; doi:10.31959/jm.v7i1.78

Abstract:
ABSTRAKKinerja Pemasaran merupakan salah satu indicator untuk mengukur keberhasilan dan kesuksesan pengelolaan suatu usaha. Semakin baik kinerja pemasaran usaha menunjukan keberhasilan dalam menghadapi persaingan. Inovasi produk dan keungggulan produk merupakan variabel-variabel yang diyakini mampu untuk meningkatkan kinerja pemasaran, terutama bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di bidang kuliner seperti usaha nasi kuning terutama di Kelurahan Batu Meja.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh langsung variabel inovasi produk dan keunggulan bersaing terhadap kinerja pemasaran usaha nasi kuning. Jumlah sampel yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah 50 responden, serta menggunakan judgement sapling sebagai teknik pengambilan sampel. Selanjutnya, Teknik analisa data menggunakan Analisa Regresi Berganda.Hasil penelitian menunjukan bahwa inovasi produk melalui penciptaan produk-produk pendukung yang baru mampu menaikan kinerja pemasaran. Selanjutnya keunggulan bersaing dengan indicator kondisi keuangan yang baik dan kualitas serta rasa produk yang unggul semakin meningkatkan kinerja pemasaran usaha nasi kuning.Kata kunci: Inovasi Produk, Keunggulan Bersaing, Kinerja Pemasaran .
Vicky Salamena
Published: 29 June 2018
JURNAL SIMETRIK, Volume 8; doi:10.31959/js.v8i1.75

Abstract:
Tahanan jenis tanah sangat diperlukan dalam menentukan sistem pentanahan pada peralatan sistem tenaga listrik seperti di stasiun pembangkit atau gardu listrik.Dari hasil pengukuran tahanan jenis tanah dapat ditentukan tahanan pentanahan yang dapat dipakai untuk menentukan sistem pentanahan (grounding) peralatan listrik tersebut.Penelitian ini bermaksud mengukur tahanan jenis materia:l tanah, pasir dan air laut di pulau Ambon dengan metoda Wenner Alfa. Pengukuran dilakukan dengan variasi kedalaman elektroda dari 1-cm sampai dengan 8-cm dengan jarak elektroda 4-cm.Hasil pengukuran untuk tanah makin dalam elektroda tahanan V/I makin kecil untuk kedalaman lebih kecil dari jarak elektroda, untuk kedalaman elektroda lebih besar dari jarak elektroda hasil pengukuran tahanan V/I konstan. Hasil pengukuran jahanan jenis tanah tidak berpengaruh terhadap kedalaman eletroda.Hasil perhitungan tahanan jenis tanah dari pengukuran dengan perubahan elektroda dari 1-cm s/d 8-cm berkisar antara 4.000-Wcm s/d 6.000-Wcm yang reratanya berkisar 5.300-Wcm, tahanan jenis tanah nilainya tetap konstan dengan penambahan kedalaman elektroda.Pengukuran untuk material pasir menunjukkan bahwa kedalaman elektroda lebih kecil dari 4 cm nilai tahanan V/I konstan.Untuk kedalaman elektroda lebih besar dari jarak elektroda nilai tahanan V/I meningkat sebanding dengan kedalman eletroda.Tahanan jenis pasir bernilai konstan pada kedalaman lebih kecil dari jarak eletroda. Pengukuran tahanan V/I air laut konstan pada kedalaman eletroda lebih kecil dari jarak elektroda, selanjutnya akan mengecil bila elektroda semakin dalam. Semakin dalam eletroda, tahanan jenis air laut makin besar untuk kedalman elektroda lebih kecil dari jarak elektroda, untuk kedalaman eletroda lebih besar dari jarak elektroda pengukuran tahanan tahanan jenis air laut semakain kecil.
St. Henriette Dorothy Titaley, Penina T Istia, Nelda Maelissa
Published: 29 June 2018
JURNAL SIMETRIK, Volume 8; doi:10.31959/js.v8i1.93

Abstract:
Terminal Mardika merupakan salah satu terminal yang memiliki andil besar dalam roda perekomunian masyarakat kota Ambon karena selain terletak pada pusat kota, terminal ini berdekatan dengan pasar dan pertokoan yang ada. Dari hasil pengamatan di lokasi, terjadi penyalahgunaan fungsi terminal yang dilakukan baik dari pengemudi kendaraan, para penumpang maupun pedagang-pedagang kaki lima yang melakukan aktivitas masing-masing sehingga menimbulkan masalah lain seperti kemacetan yang terjadi pada akses keluar masuk kendaraan. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan fungsi terminal untuk memberikan kenyamanan bagi para pengguna terminal dalam hal ini pengemudi kendaraan dan penumpang dimana kondisi terminal menjadi semrawut. Dari permasalahan ini maka areal terminal Mardika perlu penataan ulang sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai terminal dengan baik. Penataan dititikberatkan pada model pola parkir yang efektif dan waktu pelayanan bagi kendaraan dengan mengamati pola masuk kendaraan dalam terminal Mardika. Dari hasil rekapan data frekuensi kendaraan pada terminal Mardika memperlihatkan bahwa peak hour keluar masuk kendaraan terjadi pada pukul 07.00-08.00 WIT, 10.00 -11.00 WIT, 15.00-16.00 WIT. Kondisi eksisting menunjukan bahwa kapasitas pelayanan terminal A1 dan A2 perlu penangan terkait dengan pelayanan kendaraan. Dengan mengembalikan fungsi terminal hanya untuk parkiran kendaraan maka permasalahan kemacetan dan antrian yang panjang dapat diatasi.
Penina Istia, Nelda Maelissa, Henriette Titaley
Published: 29 June 2018
JURNAL SIMETRIK, Volume 8; doi:10.31959/js.v8i1.80

Abstract:
Kualitas pelayanan merupakan sesuatu yang berpusat pada upaya pemenuhuan kebutuhan dan keinginan pelanggan”. Dengan adanya kualitas pelayanan yang baik di dalam suatu publik pemerintah akan menciptakan kepuasan bagi para konsumennya. pelayanan di terminal Mardika untuk pelayanan jasa transportasi masih belum teratur artinya belum sesuai yang diharapkan oleh pengguna jasa transportasi. Pengaturan kendaraan yang masuk dan keluar belum tertata rapi sehingga menimbulkan kemacetan dan keresahan dari masyarakat dalam hal ini pengguna jasa transportasi. Bahkan dapat dikatakan juga bahwa pelayanan akan transportasi terasa sempit bergerak disebakan oleh para pedang kaki lima yang sering berjualan dalam terminal mardika sehingga aktivitas kendaraan angkutan umum di dalam terminal mengalami kemacetan.Metode analisa data yang digunakan dalam penulisan ini adalah analisa regresi bergada dangan pengujian statistik berupa uji Uji determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui presentase pengaruh variabel pelayanan jasa terminal angkutan umum mardika secara serentak terhadap variabel kepuasan, uji koefisien regresi bersama (uji F) Uji ini digunakan untuk mengetahui variabel indenden (X1,X2,X3,....Xn) secara signifikan terhadap variable dependen (Y), dan Uji koefisien regresi secara parsial (Uji t) Uji ini digunakan untuk mengetahui model regresi variabel independen (X1,X2,X3,....Xn) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y)Hasil yang diperoleh dari analisa data adalah X10,217 atau sig < 0,05 signifikan, X2 0,727 atau sig < 0,05 signikan, X3 0,486 atau sig < 0,05, X4, X4 0,919 atau sig < 0,05, X5 0,051 atau sig < 0,05. Uji R2 (R square) sebesar 0,086 atau 86%., nilai F hitung sebesar 1,779 sedangakan F tabel menunjukan nilai sebesar 2,30 atau 1,779 > 2,30 maka dengan demikian dapat di katakan bahwa Ho di tolak, uji parsial nilai –t tabel < -t hitung yakni 1,989 < -1,242 dengan demikian Ho di terima. Uji koefisien variabel X2 Tingkat signifikan a = 5%, t hitung sebesar -0,351 dan t tabel sebesar 1,989 dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai variabel X2 = -0,351 > 1,989 maka di tolak.
Lory Marcus Parera, Hendrik Kenedy Tupan, Victor Puturuhu
Published: 29 June 2018
JURNAL SIMETRIK, Volume 8; doi:10.31959/js.v8i1.72

Abstract:
Lighting is one of the most important components in planning a building. To do all the activities that exist in the room of a building then needed a sufficient intensity of lighting, so that it can be carried out with maximal especially related to work practices conducted in the laboratory for the purposes of teaching and learning process. Lighting in the room when viewed from the quality is a strong illumination or lighting level is required where for different types of activities will require different levels of illumination. The results of this study is based on the use of light intensity in the laboratory and workshop through a measurement of the intensity of room lighting using SNI 16-7062-2004 standard and calculate the electrical energy it uses. Measurement of landing intensity was measured using lux meter measuring instrument. Measurements are done at 09.00, 12.00 and 15.00. The room is in accordance with the standard of environmental health requirements of office and industrial work with an area of 118.80 m2 has a lighting intensity (E) of 183.82 lux. While the intensity of illumination (E) 20.85 - 85.44 lux is recommended for the addition of the number of points of light
Hamles Leonardo Latupeirissa, Halomon Muskita, Critter Leihitu
Published: 29 June 2018
JURNAL SIMETRIK, Volume 8; doi:10.31959/js.v8i1.79

Abstract:
Type jaringan distribusi pada kampus Politeknik Negeri Ambon merupakan type radial, dengan 17 titik beban. Memiliki kapasitas terpasang 200 kVA dengan ukuran panjang dan luas penampang kawat yang bervariasi pada setiap titik beban.Titik-titik beban yang berjarak jauh dan ukuran luas penampang tidak ideal seperti (i) gedung aula, (ii) gedung Teknik Elektro, dan (iii) gedung Teknik Sipil. Akibat dari jauhnya titik-titik beban tersebut dan juga ukuran luas penampang, maka mengakibatkan terjadinya jatuh tegangan.Hasil analisis terhadap kualitas tegangan pada jaringan tegangan rendah gardu Politeknik Negeri Ambon, terlihat bahwa ukuran panjang dan luas penampang suatu penghantar sangat mempengaruhi besar-kecilnya presentasi jatuh tegangan atau regulasi tegangan pada saluran penghantar tersebut. Hal tersebut dikarenakan semakin panjang suatu penghantar dan semaki kecil ukuran luas penampangnya, maka akan semakin besar hambatan atau resistansi pada penghantar.Pada perhitungan regulasi tegangan (VR), terlihat bahwa load bus 16 (8,21 %) dan 17 (8,56 %) terjadi regulasi tegangan yang melewati batas maksium 4 %. Hal ini diakibatkan dari panjang penghantar dan ukuran luas penampang penghantar yang kecil (16 mm2). Namun setelah mengganti ukuran luas penampang penghantar dengan yang lebih besar (70 mm2), maka terlihat adanya perbaikan kualitas tegangan, dimana regulasi tegangan pada load bus 16 turun menjadi 2,5 % dan pada load bus 17 turun menjadi 2,6 %.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top