Jurnal Sains Alami (known Nature)

Journal Information
EISSN: 26571692
Total articles ≅ 70

Latest articles in this journal

Dyan Aprillia Susanti, Nour Athiroh Abdoes Sjakoer, Nurul Jadid Mubarokati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 60-66; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.15541

Abstract:
Hypertension is an increase in blood pressure that exceeds normal limits. In patients with hypertension, systolic blood pressure is 140 mmHg and diastolic blood pressure is 90 mmHg and comes from a complex and interconnected environment. Hypertension is a non-communicable disease that can cause death in humans and is closely related to cardiovascular disease. Hypertension is considered the main cause of 9.4 million deaths that occur in the world's population every year. Disorders of blood vessels around the brain due to hypertension can cause death. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the methanolic extract of the combination of Mango Mistletoe and Mistletoe Tea (EMKBTBM) given to rats with hypertension model on the histopathological features of the brain in hypertensive rats (DOCA-salt) preventive model. The method used in this study was the true experimental method and the RAL research design on 25 male wistar rats with 3 treatments (PI, PII, PIII), (K-) group without any treatment (without administration of DOCA Salt and EMKBTBM) and (K+) using DOCA-Salt induction without giving EMKBTBM, and 5 times replication. The EMKBTBM was given with a ratio of mango mistletoe: tea mistletoe which was 3:1 and then given at a dose of 50, 100, 200 mg/KgBB in the treatment of PI, PII, PIII. Data analysis was carried out by using ANOVA statistical test using the JAMOVI application. Based on the results of the study, it was shown that giving EMKBTBM to rats had the effect of reducing the amount of damage (necrosis) in the white matter area of the brain. The administration of EMBTBM at a dose of 50 mg/KgBW was the most optimum dose in reducing the amount of white matter cell necrosis in the male wistar rat brain. Keywords:3Brain Necrosis, Hypertension, Mango Mistletoe, Tea MistletoeABSTRAKHipertensi merupakan bertambahnya tekanan darah melebihi batas normal. Pada penderita hipertensi, tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg serta berasal dari lingkungan yang kompleks dan saling berhubungan. Hipertensi ialah penyakit tidak menular yang dapat mengakibatkan kematian pada manusia dan berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular. Hipertensi dianggap sebagai sebab utama 9,4 juta kematian yang terjadi pada penduduk dunia pada setiap tahunnya. Gangguan pembuluh darah disekitar otak akibat hipertensi dapat menebabkan kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Ekstrak Metanolik Kombinasi Benalu Mangga dan Benalu Teh (EMKBTBM) yang diberikan pada tikus model hipertensi terhadap gambaran histopatologi otak pada tikus hipertensi (DOCA-garam) model preventif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode true eksperimental serta desain penelitian RAL pada 25 ekor tikus wistar jantan dengan 3 perlakuan (PI, PII, PIII), (K-) kelompok tanpa perlakuan apapun (tanpa pemberian DOCA Garam dan EMKBTBM) dan (K+) menggunakan induksi DOCA-Garam tanpa pemberian EMKBTBM, serta 5x ulangan. Pemberian EMKBTBM dengan perbandingan benalu mangga : benalu teh yaitu 3:1 kemudian diberikan dengan dosis 50, 100, 200 mg/KgBB pada perlakuan PI, PII, PIII. Analisis data dilakukan dengan uji statistic ANOVA menggunakan aplikasi JAMOVI. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pemberian EMKBTBM pada tikus mempunyai efek yaitu dapat mengurangi jumlah kerusakan (nekrosis) di area white matter otak. PemberianEMBTBM dengan dosis 50 mg/KgBB merupakan dosis paling optimum dalam menurunkan jumlah nekrosis sel white matter otak tikus wistar jantan. Kata kunci: Benalu Teh, Benalu Mangga, Hipertensi, Nekrosis Otak
Muhamad Atho' Illah, Hasan Zayadi, Hamdani Dwi Prasetyo
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 1-7; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.12505

Abstract:
Birdwatching is a form of nature tourism which has been continuously developed in Indonesia since the 2000s, because it has a promising econimic aspect for the tourism business world. Therefore, bird conservation efforts were needed based on community participation, one of which is through birdwatching activities that are packaged in the concept of ecotourism. Bird observations were carried out roaming on a predetermined observation path. The area used as the observation location is the forest around the Wagir RPH, the area of cultivated land and the residential area. These areas were taken because they are considered to represent the 3 types of ecosystems that exist in the Wagir RPH. Observations were made in two time, the first time started at 06.00-09.00 (morning observation), and afternoon observations at 13.00-17.00. The Pemangkuan Wagir Forest Resort area of KPH Malang has 19 species, namely Aegithina tiphia, Prinia superciliaris, Geopelia striata, Pericrocotus speciosus, Hemipus hirundinaceus, Prinia familiaris, Orthotomus sepium, Spilopelia chinensis, Centropus nigrorufus, Dicaeum trochileum, Lonchura leucogastroides, Halcyon cyanoventris, Nectarinia jugularis, Parus cinereus, Dinopium javanense, Pycnonotus goiavier, Pycnonotus aurigaster, Hypsipetes virescens, Megalaima javensis.With 13 families including Aegithinidae, Columbidae, Campephagidae, Cisticolidae, Cuculidae, Dicaeidae, Estrildidae, Halcyonidae, Nectariniidae, Paridae, Picidae, Pycnonotidae, Ramphastidae. These birds can be found directly or indirectly through sound. The results of this study indicate that the diversity index value=2.724, (medium category) in Precet RPH Wagir, KPH Malang, many interactions with farmers and pine tappers greatly affect the level of diversity of bird species and the presence of birds in that location.Keywords: Bird, Birdwatching, IUCN, KPH MalangABSTRAKWisata pengamatan burung liar (birdwatching) merupakan salah satu bentuk wisata alam sejak tahun 2000-an terus dikembangkan di Indonesia karena mempunyai aspek ekonomi yang cukup menjanjikan bagi dunia pariwisata. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi burung dengan berlandaskan partisipasi masyarakat, salah satunya melalui kegiatan birdwatching yang dikemas dalam konsep ekowisata. Pengamatan burung dilakukan secara jelajah pada jalur pengamatan yang telah ditentukan. Daerah yang dijadikan lokasi pengamatan adalah hutan di sekitar RPH Wagir, wilayah lahan yang diolah dan daerah pemukiman. Daerah-daerah tersebut dianggap mewakili 3 tipe ekosistem yang ada di RPH Wagir. Pengamatan dilakukan pada dua pembagian waktu, pertama dimulai pukul 06.00-09.00 (pengamatan pagi), serta pengamatan sore pukul 13.00-17.00. Wilayah Resort Pemangkuan Hutan Wagir KPH Malang memiliki 19 spesies yaitu Aegithina tiphia, Prinia superciliaris, Geopelia striata, Pericrocotus speciosus, Hemipus hirundinaceus, Prinia familiaris, Orthotomus sepium, Spilopelia chinensis, Centropus nigrorufus, Dicaeum trochileum, Lonchura leucogastroides, Halcyon cyanoventris, Nectarinia jugularis, Parus cinereus, Dinopium javanense, Pycnonotus goiavier, Pycnonotus aurigaster, Hypsipetes virescens, Megalaima javensis. Dengan 13 Famili di antaranya Aegithinidae, Columbidae, Campephagidae, Cisticolidae, Cuculidae, Dicaeidae, Estrildidae, Halcyonidae, Nectariniidae, Paridae, Picidae, Pycnonotidae, Ramphastidae. Burung-burung tersebut dapat dijumpai secara langsung maupun tidak langsung melalui suara. Penelitian yang telah dilakukan pada 3 jalur pengamatan yakni hutan pinus, hutan mahoni dan hutan lindung dengan ulangan sebanyak 5 kali, diperoleh 67 individu yang terbagi atas 19 spesies. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks keanekaragamannya 2,724 (kategori sedang) di Precet wilayah RPH Wagir KPH Malang, banyaknya interaksi dengan para petani maupun penyadap pinus sangat mempengaruhi tingkat keanekaragaman jenis burung dan keberadaan burung di lokasi tersebut.Kata kunci :Burung, Birdwatching, IUCN, KPH Malang
Febrian Priska Amalia Putri, Hari Santoso, Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 32-46; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.13017

Abstract:
The population of east javan langur (Trachypithecus auratus) the number in nature continues to decrease, rehabilitation is one way to preserve the population. This studyaims to compare the daily activity before and after release the east javan langur. To approach the aim of the study, the researcher used focal animal sampling and scans sampling and noted with Instantaneous Sampling then calculated the percentage.  Data of the observation obtained by recording the daily activities of east javan langur in the barn or in the nature  includes the movement activity (walking, running, jumping and climbing) break time activity (sit back, sit alert, standing, sleeping, prone and supine),  agononistic social activity ( sound, chase, and snatch the food, hit and fight),  grooming activity (allo-grooming and auto-grooming) eat, drink, urination and defecation. The finding of this research showed that the presentation of daily activities of east javan langur in the barn is first, the break time activity (42, 9%), second, eat and drink activity (24, 1%), grooming (18.6%), movement (8.2%), social agonistic (3.3%), urination and defecation (2.3%) and  sexual (0.6%).  Then for the daily activities in the nature, movement (34.6%), break time activity (29.0%), eat and drink (22.7%), grooming (8.7%), urination and defecation (0.9%) and sexual (0%). The tentative conclusion before the high released activity in the nature is the break time activity. the highest activity of east javan langur presumed freedom of location area to doing activity like movement, temperature intensity, feed abundance and the presence of the opposite sex.Keywords: Javan Langur, Comparison of Activity, FactorABSTRAKPopulasi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) jumlahnya di alam terus menurun, salah satu usaha pelestarianya dengan melakukan rehabilitasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan aktivitas harian sebelum dan sesudah pelepasliaran Lutung Jawa. Metode yang digunakan yaitu Focal Animal Sampling dan Scan Sampling dengan pencatatan Instantaneous Sampling kemudian dihitung persentasenya. Data pengamatan diperoleh dari pencatatan aktivitas harian lutung jawa di kandang maupun di hutan meliputi aktivitas bergerak (berjalan, berlari, melompat dan memanjat), aktivitas istirahat (duduk rileks, duduk waspada, berdiri, tidur, menelungkup dan terlentang), aktivitas sosial-agonistik (bersuara, mengejar, merebut makanan, memukul dan berkelahi), aktivitas grooming (allo-grooming dan auto-grooming), makan, minum, urinasi dan defekasi. Hasil penelitian menunjukkan persentase aktivitas di kandang yakni istirahat (42.9%), makan dan minum (24.1%), grooming (18.6%), bergerak (8.2%), sosial agonistic (3.3%), urinasi dan defekasi (2.3%) dan seksual (0.6%). Untuk aktivitas harian di hutan yakni bergerak (34.6%), istirahat (29.0%), makan & minum (22.7%), grooming (8.7%), urinasi dan defekasi (0.9%) dan seksual (0%). Kesimpulan sementara sebelum dilepasliarkan aktivitas tertinggi dalam kandang adalah istirahat. Setelah dilepasliarkan aktivitas tertinggi di hutan bergerak bebas. Tingginya aktivitas lutung jawa diduga kebebasan luasan lokasi untuk bergerak, intensitas suhu, kelimpahan pakan dan adanya lawan jenis. Kata kunci :Lutung Jawa, Perbandingan Aktivitas, Faktor
Ulfi Abdul Rahman Oey, Tintrim Rahayu, Gatra Ervi Jayanti
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 47-59; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.15927

Abstract:
Causes of degenerative diseases are caused by activities and unhealthy lifestyle. unhealthy lifestyle which in turn triggers free radicals. free radicals are moleculs that are not oxidized which cause the formation of new molecules that can damage body cells.free radicals can be overcome by giving natural antioxidants, one of which is form the olive plant (Olea europaea L.).The purpose of this study was to determine the effect of temperature treatment on antioxidant activity in olive leaves based on leaf age by calculating the IC50 value. The method used in this research is the DPPH method. Based on the results of the study, it can be concluded that the temperature of 31.6°c in young leaves according to calculations is categorized as a strong antioxidant because it provides a calculated value of 82.778 ppm and 165.093 ppm on old leaves and classified as moderate antioxidants, while temperature of 44°c give dominant level under 31.6°c with IC50 values 123.78 ppm for young leaves and 165.170 ppm for old leaves and classified as moderate antioxidants according to the theory that compounds that have very strong antioxidant activity values IC50 values are less than 50 ppm, strong if the IC50 are between 50 and 100, moderate antioxidant if the IC50 values are feasible 100-250 ppm, weak if the IC50 value is 250-500 ppm and inactive if the IC50 value is more than 500 ppm. and vice versa related to the selection of leaf age also affects the level of antioxidant activity seen from the comparison of results from the two treatments that young leaves have a higher level of antioxidant activity than old leaves in counteracting free radicals.Keywords : Temperature, Antioxidant, Olive (Olea europaea L.), DPPH.ABSTRAK Penyebab penyakit degeneratif disebabkan karena aktivitas dan pola hidup yang kurang sehat. Pola hidup kurang sehat yang pada akhirnya memicu radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak teroksidasi yang menyebabkan terbentuk molekul baru yang dapat merusak sel tubuh. Radikal bebas dapat diatasi dengan pemberian antioksidan salah satunya dari tumbuhan zaitun (Olea europaea L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu terhadap aktivitas antioksidan pada daun zaitun berdasarkan umur daun melalui perhitungan nilai IC50. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode DPPH. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan suhu 31.6°C pada daun muda  menurut perhitungan IC50 dikategorikan sebagai antioksidan kuat karena memberikan nilai hasil perhitungan IC50  sebesar 82.778 ppm dan 165.093 ppm pada daun tua dan tergolong antioksidan sedang, sementara pada perlakuan suhu 44°C memberikan pengaruh lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan suhu 31.6°C dengan nilai IC50 sebesar 123.78 ppm untuk daun muda dan 165.170 ppm untuk daun tua dan tergolong antioksidan sedang sesuai teori bahwa senyawa yang memiliki nilai aktivitas antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 ppm, kuat apabila nilai IC50 bernilai antara 50 sampai 100, antioksidan sedang apabila jika nilai IC50 bernilai 100-250 ppm, lemah jika nilai IC50 bernilai 250-500 ppm dan tidak aktif jika nilai IC50 bernilai lebih dari 500 ppm, begitupun sebaliknya terkait pemilihan umur daun juga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya aktivitas antioksidan dilihat dari perbandingan hasil dari kedua perlakuan bahwa daun muda memiliki tingkat aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua dalam menangkal radikal bebas. Kata Kunci : Suhu, Antioksidan, Zaitun (Olea europaea L.), DPPH.
Muhammad Haris Al Fattah, Saimul Laili, Sama' Iradat Tito
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 24-31; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.13000

Abstract:
The potential of methane gas in the landfill can be a source of renewable energy to meet the energy needs of the people of Malang City. The potential for methane gas for fuel that has been used is currently around 3% to 5% of the existing potential. Based on information from the Department of Hygiene and Landscaping, Malang City Government has provided gas connection pipes including stoves for free to 59 houses in 2012 and 408 houses in 2013. This study uses tools and materials, namely questionnaires to obtain perception data from the public or respondents, digital cameras for documentation, documents on the use of methane gas at the Talangagung TPA, and stationery. The results of interviews with biogas managers show that the management of organic waste into methane gas is an alternative gas (biogas) used by the community in the TPA (Final Disposal Site) Kepanjen Malang Regency This is applied based on an energy utilization system (energy waste). Based on the results of the Percentage Graph, it states that the percentage of people's perceptions who answered the questionnaire on average showed strong or very high scores, very high and/or very strong scores were almost indicated in all respondents' answers.Keywords: Methane Gas, Perception, Talangagung LandfillABSTRAKPotensi gas metan di TPA dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi penduduk Kota Malang. Potensi gas metan untuk bahan bakar yang sudah dimanfaatkan saat ini sekitar 3% sampai 5% dari potensi yang ada. Berdasarkan keterangan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang, Pemerintah Kota Malang sudah memberikan pipa sambungan gas termasuk kompornya secara gratis kepada 59 rumah pada tahun 2012 dan 408 rumah pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan alat dan bahan yaitu kuesioner untuk mendapatkan data persepsi dari masyarakat atau responden, kamera digital untuk dokumentasi, dokumen pemakaian gas metan di TPA Talangagung dan alat tulis. Hasil wawancara dengan pihak pengelola biogas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik menjadi gas metana sebagai gas alternatif (biogas) yang digunakan oleh masyarakat di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kepanjen Kabupaten Malang ini di terapkan berdasarkan sistem pemanfaatan energi (waste to energy). Berdasarkan hasil Grafik Presentase menyatakan bahwa presentase persepsi Masyarakat yang menjawab kuesioner secara rata-rata menunjukan nilai kuat atau sangat tinggi, nilai sangat tinggi dan/atau sangat kuat hampir ditunjuk pada semua jawaban responden. Kata kunci :Gas Metan, Persepsi, TPA Talangagung
Lailatul Istiqomah, Saimul Laili, Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 15-23; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.12819

Abstract:
Global warming that causes climate change is due to increased emissions of greenhouse gases (GHG) in the form of CO2, CH4 and other forms in the atmosphere. The application of the agroforestry system is one of the efforts to overcome the need for agricultural land by maintaining the function of the forest and the environment. The purpose of this study was to determine the potential for carbon stored in Arabica coffee (Coffea arabica) stands and to determine abiotic factors in the locations where Arabica coffee (Coffea arabica) stands grow in agroforestry areas. This research used descriptive method and coffee stand sampling technique using non-destructive purposive sampling. For each stand sample, 25 trees were taken for each Gayo 1, p88 and Ateng coffee varieties so that the total sample size was 75 trees. Calculation data analysis includes allometric Ketterings dry weight = 0.11 D2.62 (2001) and Arifin allometric formula = 0.281 D2.0635 (2001). Analysis of biomass data carbon = dry weight x 0.47. The results showed that the largest carbon storage was found in the Gayo 1 variety, then the p88 variety and the smallest carbon storage was found in the Ateng variety. Abiotic factors in coffee agroforestry show soil moisture 18.3%, air humidity 60-75%, soil pH 7.5%, soil temperature 21°C, air temperature 21-25°C with an altitude of 900-1100 masl. Abiotic factors affect plant growth, and light intensity also affects plant biomass.Keywords: Agroforestry, Allometrics, Abiotic Factors, Carbon, Coffee VarietiesABSTRAKPemanasan global yang menimbulkan perubahan iklim dikarenakan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) dalam bentuk CO2, CH4dan bentuk lainnyadi atmosfer. Penerapan sistem agroforestri merupakan salah satu upaya untuk mengatasi kebutuhan lahan pertanian dengan mempertahankan fungsi hutan dan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi karbon tersimpan pada tegakan varietas kopi Arabika (Coffea arabica) dan untuk mengetahui faktor abiotik di lokasi tempat tumbuh tegakan varietas kopi Arabika (Coffea arabica) di lahan agroforestri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan teknik sampling tegakan kopi menggunakan purposive sampling non-destructive. Tiap sampel tegakan diambil 25 pohon pada setiap varietas kopi Gayo 1, p88 dan Ateng sehingga jumlah sampel keseluruhan 75 pohon. Analisa data perhitungan meliputi allometrik Ketterings berat kering = 0,11 ρ D2,62 (2001) dan rumus allometrik Arifin = 0,281 D2,0635 (2001). Analilis data biomasa karbon = berat kering x 0,47. Hasil penelitian menunjukkan simpanan karbon terbesar terdapat pada varietas Gayo 1, kemudian varietas p88 dan simpanan karbon paling kecil terdapat pada varietas Ateng. Faktor abiotik di agroforestri kopi menunjukkan kelembaban tanah 18,3%, kelembaban udara 60-75%, pH tanah 7,5%, suhu tanah 21°C, Suhu udara 21-25°C dengan ketinggian 900-1100 mdpl. Faktor abiotik berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, dan intensitas cahaya juga berpengaruh terhadap biomassa tanaman. Kata kunci :Agroforestri, Allometrik, Faktor Abiotik, Karbon, Varietas Kopi
Mohammad Miftahussurur, Hasan Zayadi, Sama' Iradat Tito
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 5, pp 8-14; https://doi.org/10.33474/j.sa.v5i1.12510

Abstract:
The purpose of this study was to determine the morphometric and biophysical differences between three types of Madura Cattle, namely Karapan Cattle, Sonok Cattle and Breeder Cattle. The method used is purposive sampling by looking for certain material criteria. The materials used were 7 Karapan Cows, 7 Sonok Cows and 7 Breeder Cows. There are 20 variable measurements in morphometric data collection and obtained 10 variables that have significant differences. This difference is caused by the herbal medicine and the treatment of each cow. In the biophysics of the Karapan Cow, which is to compare the speed and acceleration of the seven Karapan Cows. The results of biophysics on Karapan Cattle show that it has an average speed of 5 m/s. While the superior Karapan Cow was occupied by the 4th Karapan Cow with an acceleration of 1.18 m/s². In biophysics, the Sonok Cow itself has a speed below 0 m/s. Therefore the resulting acceleration is only recorded in seconds. This of course is returned to the function of the Sonok Cow which is only judged on the tame and beauty of its body. Keywords: Morphometric, Biophysical, Karapan Cow, Sonok Cow, Madura Cattle BreedersABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfometrik dan biofisika antara tiga jenis Sapi Madura yaitu Sapi Karapan, Sapi Sonok dan Sapi Peternak. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan mencari kriteria-kriteria materi tertentu. Materi yang digunakan adalah 7 ekor Sapi Karapan, 7 ekor Sapi Sonok dan 7 ekor Sapi Peternak. Terdapat 20 pengukuran variabel dalam pengambilan data morfometrik dan didapatkan 10 variabel yang memiliki perbedaan secara nyata. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor jamu dan perlakuan terhadap masing-masing Sapi. Pada biofisika Sapi Karapan yaitu membandingkan kecepatan dan percepatan dari ketujuh Sapi Karapan ini. Hasil biofiska pada Sapi Karapan menunjukkan memiliki rata-rata kecepatan 5 m/s. Sedangkan Sapi Karapan terunggul diduduki oleh Sapi Karapan ke-4 dengan percepatan 1,18 m/s². Pada biofisika Sapi Sonok sendiri memiliki kecepatan dibawah 0 m/s. Oleh karena itu percepatan yang dihasilkan hanya tercatat dalam hitungan detik. Hal ini tentunya dikembalikan lagi kepada fungsi Sapi Sonok yang hanya dinilai pada kejinakan dan kecantikan tubuhnya. Kata kunci :Morfometrik, Biofisika, Sapi Karapan, Sapi Sonok, Sapi Peternak
Elok Muwafiqoh, Saimul Laili, Hamdani Dwi Prasetyo
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 4; https://doi.org/10.33474/j.sa.v4i2.11871

Abstract:
Pre-harvest fish mortality was often found in polyculture vannamei shrimp and milkfish in Duduksampeyan. This is thought to be caused by declining water quality. This study aims to evaluate water quality based on physico-chemical parameters and biotic index in vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) and milkfish (Chanos chanos) ponds. The study was carried out in February-March 2021 in Duduksampeyan using a purposive sampling method from 3 stations, vannamei shrimp ponds (station 1), milkfish ponds (station 2) and polyculture ponds (station 3) at 3 sampling points located at the inlet/outlet, middle and edge. Data analysis using ANOVA followed Tukey's test to compare data from the three stations. Correlation analysis, PCA and cluster to determine the relationship between environmental parameters and plankton. The physico-chemical parameter values were in accordance with SNI8037.1:2014 except for salinity, suspended solids at the three stations, brightness at station 3, dissolved solids at station 2. Station 1 found 8 classes with 17 genera, station 2 contained 8 classes with 11 genera and stations 3 there are 7 classes with 14 genera. The most common genera found at station 1 were Synechocystis, Spirulina, station 2 Synechocystis, Pandornia, Chaetoceros, station 3 Synechocystis, Pandornia, Spirulina. The diversity index value is between 1.7-3.1ind/L. Human activities such as settlements, livestock and agriculture are thought to be the cause of the decline in water quality from being eutrophic to hypereutrophic (TDI). The relationship between plankton and environmental parameters shows that at station 3 the optimum results are obtained to support the life of aquatic biota.Keywords: Physics-Chemistry, Diversity Index, Water Quality, PlanktonABSTRAKKematian ikan pra panen banyak dijumpai pada tambak budidaya polikultur udang vannamei dan ikan bandeng di Kecamatan Duduksampeyan. Hal ini diduga disebabkan oleh menurunnya kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air berdasarkan parameter fisika-kimia dan indeks biotik di tambak udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dan ikan bandeng (Chanos chanos). Penelitian dilaksanakan pada Februari-Maret 2021 di Kecamatan Duduksampeyan menggunakan metode purposive sampling dari 3 stasiun yaitu tambak udang vannamei (stasiun 1), tambak ikan bandeng (stasiun 2) dan tambak polikultur (stasiun 3) di 3 titik sampling yang berada di inlet/outlet, tengah dan tepi. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan Uji Tukey untuk membandingkan data dari ketiga stasiun. Selanjutnya dianalisis korelasi, PCA dan cluster untuk mengetahui hubungan antara parameter lingkungan dengan plankton. Nilai parameter fisika-kimia telah sesuai SNI 8037.1:2014 terkecuali salinitas, padatan tersuspensi di ketiga stasiun, kecerahan pada stasiun 3 dan padatan terlarut pada stasiun 2. Stasiun 1 ditemukan 8 kelas dengan 17 genus, stasiun 2 terdapat 8 kelas dengan 11 genus dan stasiun 3 terdapat 7 kelas dengan 14 genus. Genus yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 yaitu Synechocystis, Spirulina, stasiun 2 Synechocystis, Pandornia, Chaetoceros, stasiun 3 Synechocystis, Pandornia, Spirulina. Nilai indeks diversitas antara 1.7-3.1ind/L. Aktivitas manusia seperti pemukiman, peternakan dan pertanian diduga menjadi penyebab menurunnya kualitas air menjadi eutrofik hingga hipereutrofik (TDI). Hubungan antara plankton dengan parameter lingkungan menunjukkan bahwa pada stasiun 3 diperoleh hasil yang optimum untuk mendukung kehidupan biota perairan. Kata kunci :Fisika-Kimia, Indeks Keanekaragaman, Kualitas Air, Plankton
Farah Nabila Belqis, Hari Santosa, Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 4, pp 1-9; https://doi.org/10.33474/j.sa.v4i2.10373

Abstract:
one of which is mudskipper. The species Boleophthalmus boddarti is able to survive outside the water for long periods, spending time outside the surface of the water walking, wallowing in mud, and entering burrows it creates. The purpose of this study was to analyze the albumin levels in fresh mudskipper meat of Boleophthalmus boddarti species using the biuret method. The research method is descriptive and is repeated three times. Using the biuret method with the spectrophotometer technique the standard curve equation y = 0.0482x + 0.0036. The highest albumin yield was found in the head meat, weighing 0.085 g with the absorbance in the spectrophotometer was 92.80 nm. Compared with the tail meat, the weight of albumin is 0.080 g and the absorbance is 70.08 nm. The greater the absorbance effect on albumin levels, the average measurement of albumin content of mudskipper species Boleophthalmus boddarti, the highest was found in the head meat, namely 93.667% and the albumin content in the meat of the tail was lower, namely 65.97%.Keywords: Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti ABSTRAK Albumin merupakan komponen protein dalam plasma yang dapat larut dalam air. Albumin dapat di jumpai dalam sebagian besar protein dalam ikan, salah satunya yaitu ikan glodok. Spesies Boleophthalmus boddarti mampu bertahan hidup di luar perairan dalam waktu yang lama, menghabiskan waktunya di luar permukaan air dengan berjalan, berkubang di lumpur, dan memasuki liang yang dibuatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kadar albumin pada daging ikan glodok segar spesies Boleophthalmus boddarti dengan metode biuret. Metode penelitian adalah deskriptif dan pengulangan tiga kali. Menggunakan metode biuret dengan teknik spektrofotometer persamaan kurva standart y = 0,0482x + 0,0036. Hasil albumin tertinggi di dapatkan pada bagian daging kepala yaitu seberat 0,085 gr dengan absorbansi dalam spektofotometer adalah 92,80 nm. Dibandingkan dengan bagian daging ekornya berat albumin yang di dapatkan seberat 0,080 gr dan absorbansi 70,08 nm. Semakin besar absorbansi berpengaruh terhadap kadar albumin, rata – rata pengukuran kadar albumin ikan glodok spesies Boleophthalmus boddarti paling tinggi terdapat pada daging bagian kepala yaitu 93,667 % dan kadar albumin pada daging bagian ekornya lebih rendah yaitu 65,97 %. Kata kunci :Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti
Ririn Alfiatu Rohimah, Hari Santosa, Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature), Volume 4; https://doi.org/10.33474/j.sa.v4i2.11954

Abstract:
Chlorpyrifos is classified as an organophosphate type pesticide, in its use it is often applied to agricultural activities. The uncontrolled use of pesticides has an impact on environmental pollution, especially aquatic biota such as fish. The purpose of this study was to analyze the acute concentration of the pesticide chlorpyrifos on Goldfish (Cyprinus carpio). The organism that is used as the object of this experiment is the goldfish (Cyprinus carpio) because it is considered that this type of fish has characteristics that are sensitive to all environmental change activities in the aquatic ecosystem and have fulfilled the requirements as one of the bioindicators of waters to changes in the surrounding environment. The research method is experiment with preliminary research, acute toxicity test (LC50), real test (sub lethal). The concentration of treatment in experimental animals included sublethal test K0 (control) 0 ppm, K1 0.25 ppm, K2 0.30 ppm, K3 0.35 ppm, K4 0.40 ppm, K5 0.45 ppm. The upper lethal threshold value was 0.5 ppm and the lower lethal threshold was 0.25 ppm based on the results of the preliminary test. Acute toxicity test ranges from K1 0.25 ppm to K5 0.45 ppm. The results of the acute toxicity test (LC50) at K1 0.25 ppm. There is a relationship between increased mortality of test animals with increasing concentrations of pesticides in the research media. An increase in the concentration of chlorpyrifos pesticide in the media of goldfish test animals has a very strong correlation with the number of operculum movements (opening and closing). The greater the concentration of chlorpyrifos pesticide, the faster the goldfish will experience a decrease in operculum movement.Keywords:Goldfish (Cyprinus carpio), Chlorpyrifos pesticide
ABSTRAK Klorpirifos digolongkan pada pestisida jenis orghanoposfat, dalam penggunaannya sering diaplikasikan pada kegiatan pertanian. Penggunaan pestisida yang kurang terkontrol berdampak terhadap pencemaran lingkungan, khususnya biota perairan seperti ikan. Tujuan daripada dilaksanakannya penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap konsentrasi akut pestisida klorpirifos terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio). Organisme yang dijadikan sebagai objek dari eksperimen ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio) karena dinilai ikan jenis ini memiliki karakteristik yang sensitif terhadap segala aktivitas perubahan lingkungan dalam ekosistem akuatik dan telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu bioindikator perairan terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Metode penelitian adalah eksperimen dengan penelitian pendahuluan, uji toksisitas akut (LC50), uji sesungguhnya (sub letal). Konsentrasi perlakuan pada hewan coba meliputi uji subletal K0 (kontrol) 0 ppm, K1 0,25 ppm, K2 0,30 ppm, K3 0,35 ppm, K4 0,40 ppm, K5 0,45 ppm. Diperoleh nilai ambang letal atas sebesar 0,5 ppm dan letal bawah sebesar 0,25 ppm berdasarkan hasil uji pendahuluan. Uji toksisitas akut kisaran K1 0,25 ppm sampai dengan K5 0,45 ppm. Hasil uji toksisitas akut (LC50) pada K1 0,25 ppm. Terdapat hubungan peningkatan mortalitas hewan uji dengan meningkatnya konsentrasi pestisida pada media penelitian. Adanya peningkatan konsentrasi pestisida klorpirifos pada media hewan uji ikan mas berkorelasi sangat kuat terhadap jumlah gerak operculum (membuka dan menutup). Semakin besar konsentrasi pestisida klorpirifos berakibat Ikan Mas semakin cepat mengalami penurunan gerak operculum. Kata kunci : Ikan Mas (Cyprinus carpio), Pestisida Klorpirifos, Uji Toksisitas Akut
Back to Top Top