Jurnal Pendidikan Matematika (jpm)

Journal Information
ISSN / EISSN: 24424668 / 26564564
Total articles ≅ 109

Latest articles in this journal

Ardianik Ardianik, Sucipto Sucipto
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 01-08; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.14382

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan membuktikan ada tidaknya perbedaan prestasi belajar dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS antara motivasi tinggi, motivasi sedang, dan motivasi rendah pada siswa kelas X-IPA SMA Negeri 17 Surabaya. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian ekspos fakto (expost facto). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X-IPA SMA Negeri 17 Surabaya. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-IPA di SMA Negeri 17 Surabaya yang berjumlah 85 siswa dan terbagi menjadi tiga tingkatan motivasi belajar yaitu motivasi tinggi, motivasi sedang, dan motivasi rendah. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu angket motivasi, metode tes, serta dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah One-Way ANOVA Test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan prestasi belajar yang sangat signifikan dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS antara motivasi tinggi, motivasi sedang, dan motivasi rendah pada siswa kelas X-IPA SMA Negeri 17 Surabaya, hal ini dibuktikan besarnya probabilitas (Sig. 2- tailed) = 0,000 < = 0,05 dan bahkan lebih kecil dari . ===================================================== The purpose of this study was to test and prove whether there were differences in learning achievement in solving HOTS type math problems between high motivation, moderate motivation, and low motivation in class X-IPA students of SMA Negeri 17 Surabaya. The approach in this research is a quantitative research approach with the type of expost facto research. The population in this study were all students of class X-IPA SMA Negeri 17 Surabaya. The sampling technique used purposive sampling technique and the sample in this study were students of class X-IPA at SMA Negeri 17 Surabaya, totaling 85 students and divided into three levels of learning motivation, namely high motivation, medium motivation, and low motivation. Data collection methods used are motivation questionnaires, test methods, and documentation. The data analysis method used is One-Way ANOVA Test. The results showed that there was a very significant difference in learning achievement in solving HOTS type math problems between high motivation, moderate motivation, and low motivation in class X-IPA students of SMA Negeri 17 Surabaya, this was evidenced by the magnitude of the probability (Sig. 2-tailed) = 0.000 < α = 0.05 and even smaller than α = 0.01.
Mayang Gadih Ranti
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 27-36; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.14922

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangan perangkat pembelajaran matematika bilingual berbasis kearifan lokal kalimantan Selatan yang dilakukan untuk menjawab tantangan masa kini yaitu pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan pentingnya menjaga kelestarian unsur-unsur kearifan lokal agar tidak tergerus di tengah era globalisasi. Penelitian ini merupakan penelitian Research & Development (R & D) yang menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran matematika bilingual berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan yann terdiri atas Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) dan Tes Hasil Belajar (THB) untuk mata kuliah Statistika Dasar. Perangkat pembelajaran disusun dalam dua bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dan dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Kalimantan Selatan didalamnya. Proses pengembangan dilakukan melalui 4 tahap sesuai model pengembangan 4-D yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Hasil penelitian menunjukkan perangkat pembelajaran matematika bilingual berbasis kearifan lokal yang dihasilkan termasuk kategori valid, praktis dan efektif.Kata Kunci:perangkat pembelajaran, matematika bilingual, kearifan lokal ABSTRACTThis study  aims to develop mathematics bilingual learning pack based on local wisdom  which was done to answer current challenges i.e the need of  English skill for students and  to maintain the local wisdom  in order not to be  eroded  in globalization era. This research was a research & development (R & D) which resulted mathematics bilingual learning pack based on South Kalimantan Local Wisdom consists of Semester Lesson Plan, Worksheet and Evaluation Test on Elemantary Statistics topic.The learning pack was arranged in two languages, English and Indonesian, and integrated South local wisdom on it. The development was done by four phases, Define, Design, Develop and Disseminate. The results show that bilingual mathematics learning pack based on South Kalimantan Local Wisdom was valid, practical and effective.Keywords: Learning Pack, Bilingual Mathematics, Local Wisdom
Siswanti Prastiwi
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 47-60; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.14066

Abstract:
Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan kognitif siswa SMP berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal tes pemahaman luas bangun datar gabungan berdasarkan domain TIMSS, yang meliputi pengetahuan konsep, penerapan konsep, dan penalaran konsep. Subjek penelitian terdiri dari dua siswa kelas VIII SMP berkemampuan matematika tinggi. Instrumen utama adalah peneliti sendiri, dibantu pedoman wawancara, dokumen dan Tes Kemampuan Matematika yang berisi soal-soal mengacu pada soal TIMSS tentang luas gabungan. Data yang diperoleh dari subjek penelitian dianalisis menggunakan domain kognitif TIMSS pada ranah pengetahuan, penerapan, dan penalaran konsep. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedua subjek penelitian memiliki kemampuan kognitif dengan predikat yang berbeda, yaitu predikat sangat baik dan baik. Subjek dengan predikat kemampuan kognitif sangat baik mampu mengolah informasi, merencana, menyelesaikan dan secara konsisten memahami luas gabungan dapat disusun dari bervariasi kombinasi luas bangun datar. Subjek dengan predikat kemampuan kognitif baik mampu mengolah informasi, merencana, dan menyelesaikan permasalahan, namun masih belum memiliki pemahaman yang kuat tentang variasi-variasi kombinasi luas bangun datar penyusun luas gabungan. Hasil ini memberikan gambaran adanya perbedaan kemampuan kognitif siswa, meskipun sama-sama berada pada kemampuan matematika tinggi. This descriptive qualitative research aims to describe the cognitive abilities of highly mathematics-capable junior high school students in completing the combined shapes area comprehension test based on the TIMSS domain, which includes knowing, applying, and reasoning. The research subjects consisted of two students in grade VIII junior high school with high mathematics ability.data collection is done online via Whatsapp by sending test instruments in PDF format. The main instruments are the researchers themselves, assisted by interview guidelines, documents and Math Ability Tests containing questions referring to the TIMSS question about the combined area. Data obtained from the study subjects were analyzed using the cognitive domain TIMSS in the realm of knowing, applying, and reasoning of concepts. The results revealed that both research subjects had cognitive abilities with different predicates, namely excellent and good predicates. Subjects with excellent cognitive ability predicates are able to process information, plan, complete and consistently understand the combined area can be composed of varied combinations of shapes areas.  Subjects with good cognitive ability predicates are able to process information, plan, and solve problems, but still do not have a strong understanding of the variations of the combination of shapes area combined constituents. These results give an idea of the differences in students' cognitive abilities, although they are both in high math ability. 
Adi Candra Kusuma, Mochammad Junus
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 37-46; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.14367

Abstract:
Berbagai kendala dalam mempersiapkan pembelajaran dialami baik oleh mahasiswa maupun dosen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh hasil pengembangan perangkat pembelajaran online dengan pendekatan Problem Based Learning pada mata kuliah matematika yang valid dan praktis. Metode penelitian yang digunakan adalah model penelitian dan pengembangan Plomp. Hasil validasi ahli dan rekan terhadap perangkat pembelajaran matematika seperti RPS (3,96), RPP (4,05), Bahan Ajar (4,08), LKS (4,11) dan soal (4,07) valid dengan kriteria baik). Hasil nilai uji kepraktisan dari rata-rata observasi pelaksanaan pembelajaran 76,9%, rata-rata respon angket mahasiswa 85,1%, rata-rata angket respon dosen 82,4% dan rata-rata observasi aktivitas kemampuan pemecahan masalah matematis 82%. Dari uji validitas dan uji kepraktisan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang dibuat dapat menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa terhadap pemecahan masalah non-rutin. Various of obstacles in preparing learning experienced by both students and lecturers. The purpose of this study was to obtain the results of developing online learning tools with a Problem Based Learning approach in valid and practical mathematics courses. The research method used is the Plomp research and development model. The results obtained by experts and colleagues validation of mathematics learning tools such as RPS (3.96), RPP (4.05), Teaching Materials (4.08), Student Worksheets (4 .11) and the question (4.07) is valid with good criteria). The results of the practicality test score from the average observation of learning implementation 76.9%, the average student questionnaire response 85.1%, the average lecturer response questionnaire 82,4% and the average observation of mathematical problem solving ability activities 82%. From the validity and practicality test that the development of mathematics learning tools made can show an increase in students' mathematical problem solving abilities towards solving non-routine problems
Ahmat Wakit, Erna Zumrotun, Wulan Sutriyani
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 19-26; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.15399

Abstract:
This research is a descriptive qualitative research. The purpose of this study was to determine students' perceptions in carrying out computer-based tests (CBT) and to describe students' mistakes in solving math problems in CBT. Data collection methods used are questionnaires, interviews and documentation. The research subjects were 1 class majoring in religion and 1 class majoring in science. The results of this study indicate that the average score on the computer-based test (CBT) in religion class is 51.16, the score on algebra questions is 56.96, the score on calculus questions is 54.59, the score on geometry and trigonometry questions is 36.61 and the score on statistics questions. and the odds are 42.06. The average score on the computer-based test (CBT) in the Science class is 35.71, the score on algebra questions is 36.97, the score on calculus questions is 25.71, the score on geometry and trigonometry questions is 23.21 and the score on statistics and probability questions is 42.86. Students' perceptions of computer-based exams are classified as very good. The advantage of CBT is that computer-based exams are more effective, there are warnings if there are unanswered questions, for English questions using a headset so that listening questions are clearer and you don't have to worry about the exam paper being damaged. Meanwhile, the weakness of CBT is that it can hurt the eyes because the light from the computer screen is too bright when carrying out a computer-based exam.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif desktiptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa dalam melaksanakan ujian berbasis komputer/computer based test (CBT) dan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa menyelesaikan soal matematika SMA dalam CBT. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan angket, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah 1 kelas jurusan keagaman dan 1 kelas jurusan IPA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata ujian berbasis komputer kelas jurusan Keagamaan adalah 51.16, nilai pada soal aljabar 56.96, nilai pada soal kalkulus 54.59, nilai pada soal geometri dan trigonometri 36.61 dan nilai pada soal statistika dan peluang adalah 42.06. Nilai rata-rata ujian berbasis komputer di kelas Jurusan IPA adalah 35.71, nilai pada soal aljabar 36.97, nilai pada soal kalkulus 25.71, nilai pada soal geometri dan trigonometri 23.21 dan nilai pada soal statistika dan peluang adalah 42.86. Persepsi siswa terhadap ujian berbasis komputer tergolong sangat baik. Keunggulan CBT adalah pelaksanaan ujian berbasis komputer lebih efektif, ada peringatan jika ada soal yang belum terjawab, untuk soal Bahasa inggris menggunakan headset sehingga soal listening lebih jelas dan tidak khawatir kertas ujian rusak. Sedangkan kelemahan CBT adalah dapat membuat mata pedih karena cahaya dari layar komputer terlalu terang saat melaksanakan ujian berbasis komputer.
Marni Zulyanty
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 09-18; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.13885

Abstract:
ABSTRAK Literasi matematika kembali menjadi tren di bidang pendidikan. Berdasarkan observasi dan pengalaman peneliti sebagai pengajar masih ditemukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan masalah yang terkait pemikiran tingkat lanjut dimana soal tersebut merupakan soal literasi matematika. Sejalan dengan ini maka goals penelitian ini adalah menjabarkan kemampuan literasi matematika mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana mahasiswa di Prodi Tadris Matematika UIN STS Jambi angkatan 2019 sebagai subjek penelitian. Instrumen utama adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen pendukung adalah lembar soal literasi matematika dan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan analisis data Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pengerjaan soal satu terlihat bahwa ada 83,33% subjek yang menjawab benar dan 16,67% subjek yang menjawab salah serta tidak ada yang tidak menjawab. Sementara persentase pengerjaan soal dua ada 5,56% subjek yang menjawab benar dan 83,33% subjek yang menjawab salah serta ada 11,11% yang tidak menjawab. Diperdalam lewat indikator kemampuan literasi matematika maka secara umum kemampuan literasi matematika mahasiswa masih berada pada tingkat rendah. Hanya indikator komunikasi, indikator matematisasi, indikator penalaran dan argumen, serta indikator menggunakan simbol, bahasa matematika dan operasinya yang dilalui dengan baik. Sementara indikator representasi, indikator memikirkan strategi untuk memecahkan masalah, dan indikator menggunakan alat matematika belum dilalui dengan baik. Kata Kunci: Literasi Matematika, Soal Literasi Matematika
Awaludin Fitra
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 8, pp 61-70; https://doi.org/10.33474/jpm.v8i1.14964

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain kelompok membandingkan, menganalisis kesulitan dalam pembelajaran online, serta meninjau berbagai artikel sumber literatur. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas eksperimen I yaitu kelas 3/TI/A2/02 yang berjumlah 22 orang, dan kelas eksperimen II yaitu kelas 3/TI/B/02 yang berjumlah 23 orang. Hasil analisis statistik dengan uji-t menghasilkan P Value sebesar 0,00156, dengan taraf signifikansi 0,05. H0 ditolak karena P Value lebih kecil dari 0,005, tetapi Ha diterima karena P Value lebih besar dari 0,005. Terakhir, terdapat perbedaan hasil pembelajaran online dengan Google Classroom dan Zoom yang berbantuan video dengan pembelajaran online dengan Google Classroom dan Zoom. Rata-rata hasil belajar online yang diperoleh dari Google Classroom dan Zoom yang berbantuan Video lebih tinggi dibandingkan yang diperoleh dari Pembelajaran online dengan Google Classroom dan Zoom. Mahasiswa memaparkan kesulitan-kesulitan berikut selama proses pembelajaran online: kepemilikan kuota internet yang terbatas menjadi penghambat pembelajaran online sebesar 67%, gangguan jaringan internet sebesar 18%, dan terjadinya pemadaman listrik saat pembelajaran online terjadi adalah 15%. This type of research is a quasi-experimental research with the design of comparing groups, analyzing difficulties and analyzing difficulties in online learning as well as reviewing various literature source articles. The subjects in this study were the experimental class I, namely class 3/TI/A2/02 consisting of 22 people and the experimental class II, namely 3/TI/B/02 consisting of 23 people. From the results of statistical analysis with t-test obtained P Value = 0.00156, with a significant level = 0.05. Because the P Value is less than 0.005, then H0 is rejected and Ha is accepted. In conclusion, there are differences in the results of online learning with Google Classroom and Video-assisted Zoom with online learning with Google Classroom and Zoom. the average online learning results obtained that online learning with Google Classroom and Video-assisted Zoom is higher than online learning with Google Classroom and Zoom. The difficulties experienced by students during the online learning process are: Limited ownership of internet quota is an obstacle in online learning by 67%, internet network disturbances by 18%, and the occurrence of power outages or blackouts when online learning takes place by 15%. using video is 3.77 (good) material aspects, compatibility aspects 3.59 (good), complexity 3.38 (sufficient), triability aspects 3.51 (good) and usefulness aspects 3, 6 (good). With this video-based learning an effort to provide material in the form of video tutorials practicing data analysis with Spss in statistics courses. 
Yuli Ismi Nahdiyati Ilmi
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 7, pp 88-94; https://doi.org/10.33474/jpm.v7i2.13102

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi matematis mahasiswa selama pembelajaran online pada materi dimensi berdasarkan teori APOS. Jenis penelitan ini yaitu kualitaitif deskriptif, subjek terdiri dari 3, yaitu masing-masing berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi. Subjek merupakan mahasiswa prodi pendidikan matematika semester 2 yang telah menempuh mata kuliah telaah materi sekolah menengah 1, khususnya pada materi dimensi tiga. Sumber data berupa hasil scan jawaban dan dianalisis melalui prosedur reduksi data, pengkategorian, dan penarikan kseimpulan. Adapun kesimpulan yang diperoleh yaitu S1 sebagai kategori subjek berkemampuan rendah, representasi yang tampak hanya pada aksi dan proses, sedangkan S2 sebagai kategori berkemampuan sedang terlihat representasi pada aksi, proses, dan objek, sedangkan S3 memenuhi representasi aksi, proses, objek, dan skema.
Fitri Andriani, Yerizon Yerizon, I Made Arnawa, Ali Asmar
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 7, pp 80-87; https://doi.org/10.33474/jpm.v7i2.11363

Abstract:
Masalah yang ditemui di lapangan adalah kemampuan berfikir kritis matematis peserta didik yang belum optimal. Kemampuan berfikir kritis matematis peserta didik dapat ditingkatkan dengan menggunakan perangkat pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk dalam meningkatkan kemampuan berfikir matematis peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Development Research). Model pengembangan yang digunakan adalah model Plomp yang terdiri dari tiga fase yaitu fase investigasi awal (preliminary research), fase pengembangan atau pembuatan prototype (development or prototyping phase), dan fase penilaian (assessment phase). Pada bagian ini hanya membahas penelitian pada investigasi awal (preliminary research). Instrument yang digunakan pada fase investigasi awal (preliminary research) adalah angket peserta didik, pedoman wawancara guru, catatan lapangan, lembar soal tes pendahuluan. Hasil analisis data pada fase investigasi awal (preliminary research) menunjukkan bahwa 1) rendahnya kemampuan berfikir kritis matematis, 2) kemampuan peserta didik bervariasi, 3) cara belajar peserta didik bervariasi, 4) perangkat yang digunakan guru kurang memfasilitasi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis matematis peserta didik, 5) kurang terlibatnya peserta didik dalam proses pembelajaran, 6) peserta didik sulit memahami Bahasa yang digunakan pada sumber belajar.
The problem encountered in the field is that students' mathematical critical thinking skills are not satisfying yet. Students' mathematical critical thinking skills can be improved by using multiple intelligence-based learning tools. The purpose of this study was to determine the process and the results of the development of learning tools based on multiple intelligence in improving students' mathematical thinking skills. This is a development research. The development model used is the Plomp model which consists of three phases, namely the preliminary research phase, the development or prototyping phase, and the assessment phase. This thesis only discusses the preliminary research phase. The instruments used in this research are student questionnaires, teacher interview guidelines, field notes, preliminary test question sheets. The results of data analysis in the preliminary research phase showed that 1) there is a lack of mathematical critical thinking skills, 2) Students have various kinds of abilities, 3) There are differences in students’ learning styles, 4) There is a lack of teaching tools used by the teacher so that the students are not able to improve their critical thinking mathematically, 5) there is lack of students participation in the learning process, 6) It is difficult for students to understand the language used in the learning resources.
Lutfiyah Lutfiyah, Eric Dwi Putra
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM), Volume 7, pp 71-79; https://doi.org/10.33474/jpm.v7i2.11419

Abstract:
Kecemasan yang terjadi pada siswa saat pembelajaran matematika karena adanya hambatan dalam belajar matematika, salah satu cara yang dapat dilakukan guru yaitu dengan memberikan scaffolding oleh guru kepada siswa dengan arahan-arahan atau katakunci yang terbatas, agar dapat menyelesaikan hambatan yang dialami siswa sehingga struktur berpikir siswa dapat mencapai zone of proximal development. Jenis penelitian ini deskriptif, hasil penelitian ini bahwa struktur berpikir S1 tidak sesuai dengan struktur masalah pada bagian Dt, Y3, Ha, dan K, sedangkan struktur berpikir S2, dan S3 tidak sesuai dengan struktur masalah pada bagian Dk, Dt, Y3, Ha, dan K. Untuk mencapai zone of proximal development masing-masing dari S1, S2 dan S3 sangat berbeda terlihat dari struktur berpikir yang telah dicapai, sehingga dalam penelitian ini siswa diberikan scaffolding dari ahli dimana pada zona perkembangan potensial mementingkan adanya bantuan dari ahli (guru) sehingga struktur berpikir yang dimiliki S1, S2 dan S3 sesuai dengan struktur masalah yang diberikan untuk menuju zone of proximal development. Kesimpulannya bahwa struktur berpikir siswa sesuai dengan struktur masalah yang diberikan dengan pemberian scaffolding oleh ahli (guru) kepada siswa sehingga zone of proximal development tercapai.
Back to Top Top