Sains Peternakan

Journal Information
ISSN / EISSN: 16938828 / 25489321
Total articles ≅ 302

Latest articles in this journal

Lilik Retna Kartikasari, Bayu Setya Hertanto, Ananda Septi Dwi Pamungkas, Inna Siswanti Saputri, Adi Magna Patriadi Nuhriawangsa
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.38738

Andika Hendy Permana, Iman Hernaman, Novi Mayasari
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 53-59; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.37981

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika profil protein (total protein, albumin dan globulin) plasma darah sapi perah pada masa transisi dengan Indigofera zollingeriana sebagai pengganti sebagian konsentrat serta penambahan mineral dalam pakan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dua puluh sapi perah Friesian Holstein (FH) dengan usia kebuntingan 7-8 bulan dibagi ke dalam empat perlakuan yaitu IZ0= 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat, IZ15= 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% Indigofera zollingeriana, IZ0M= 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat + 0,3 mg/Kg BK Se + 40 mg/kg BK Zn, IZ15M = 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% Indigofera zollingeriana + 0,3 mg/Kg BK Se + 40 mg/Kg BK Zn. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa sapi perah bunting yang diberikan Indigofera zolingeriana pada masa transisi menghasilkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai total protein, albumin dan globulin plasma darah sapi perah. Dinamika plasma albumin (-2, -1, 0, 1, 2) menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap perlakuan pada berbagai minggu relatif beranak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Indigofera zollingeriana dan penambahan mineral dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap profil protein plasma darah (total protein, albumin, dan globulin) sapi perah pada masa transisi.
, Hajar Indra Wardhana, Nani Radiastuti, Slamet Diah Volkandari
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 1-7; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.30124

Abstract:
Gene of C/EBPα is a gene associated with lipid composition and distribution, the gene therefore contributes in enhancing of meat quality. There is no information of sequence variations of C/EBPα gene investigation in local and exotic beef cattle in Indonesia. This research was aimed to detect the presence of sequence variations of C/EBPα gene in local beef and exotic cattle. Twelve samples were used in this study such as Bali cattle (2), Ongole grade (2), Pasundan (2), Friesian Holstein (1), Angus (1), Simmental (2), Limousin (1) and Banteng (1). Several steps of the research were DNA extraction and quantification, amplification (PCR), electrophoresis, sequencing and sequence analysis of C/EBPα gene. DNA was collected either from blood or hair bulbs. Determination of homolog bases of C/EBPα gene was based on BLAST result while base sequence variation was analyzed by using MEGA 6. The result showed that all cattle samples were confirmed bearing the C/EBPα gene that amplified along of 1,339 bp. and annealing temperature of 54°C. It was obtained three nucleotide variations at the position of 870 (G→A), 931 (A→G) and 1196 (G→A) only found in Bali cattle and Banteng, but there were no nucleotide variations in the local beef cattle, exotic cattle and the sequence reference of Bos taurus (Japanese Black/Acc No. DQ068270.1; Hanwoo/Acc No. D82984.1; Qinchuan/Acc No. NM_176784.2). Those nucleotide variations caused changing of amino acid of Alanine to Threonine at 931 and Asparagine to Serine at 1196. Mutation at position 271 changed nucleotide Cytosine to Adenine (C271A) that found in PO and Simmental cattle. Further research is needed to confirm the changing of amino acid of C/EBPα gene in Bali cattle might affect to meat quality.
, Idat Galih Permana,
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 38-43; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.35684

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara total digestible nutrient (TDN) dengan komposisi nutrien hijauan (rumput dan legum) dan untuk menentukan prediksi persamaan TDN yang menunjukkan kualitas hijauan pakan tropis. Komposisi nutrien berasal dari data hasil penelitian yang telah dipublikasikan yang terdiri dari 52 hijauan (29 rumput (R) dan 23 legum (L)) meliputi kadar abu, protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, selulosa dan TDN (%BK) digunakan dalam penelitian ini. Data yang diperoleh dianalisis dengan Korelasi Pearson dan regresi linier berganda untuk menentukan model pendugaan TDN. Model dengan koefisien determinasi dan probabilitas paling tinggi akan divalidasi dengan menggunakan mean absolute deviation (MAD), root mean square error (RMSE), mean absolute percentage error (MAPE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi nutrien dapat digunakan untuk menentukan TDN pada hijauan tropis yaitu pada rumput dan legum. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai MAD, RMSE dan MAPE yang lebih rendah dibandingkan dengan rumus TDN lain. Model pendugaan TDN yang diperoleh yaitu TDNR+L = 49,866 3,488 Abu + 0,112 Abu*PK + 0,056 Abu*BETN; TDNR = 49,875 + 0,031 Abu*PK; dan TDNL = 15,212 + 5,084 LK + 0,070 Abu*BETN. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa model pendugaan TDN dapat diestimasi secara akurat dari komposisi nutrien sehingga dapat digunakan untuk merepresentasikan TDN berdasarkan basis data hijauan tropis. Model pendugaan TDN yang dapat digunakan yaitu TDNR+L dan TDNL.
Arif Ismanto, Dominikus Pandego Lestyanto, Muh Ichsan Haris, Yuny Erwanto
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 73-80; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.27974

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan karagenan dan transglutaminase terhadap komposisi kimia, kualitas fisik, dan karekteristik organoleptik sosis ayam. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalan rancangan RAL (Rancangan Acak Lengkap) terdiri dari 4 perlakuan yaitu P0 (sosis dengan penambahan karagenan 3 % dan tanpa penambahan transglutaminase), P1 (sosis + karagenan 3 % + transglutaminase 2 ml), P2 (sosis + karagenan 3 % + transglutaminase 3 ml) dan P3 (sosis + karagenan 3 % + transglutaminase 4 ml) dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 ulangan. Variabel yang diamati komposisi kimia (kadar air, kadar protein, kadar lemak dan kadar abu), kualitas fisik (pH, susut masak dan Daya Ikat Air) dan kualitas organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa). Data komposisi kimia dan kualitas fisik dianalisis menggunakan ANOVA, dan diuji lanjut menggunakan Least Significant Different (LSD). Data kualitas organoleptik dianalisis menggunakan Uji Sensoris Kruskal dan Wallis. Hasil penelitian menunjukkan sosis daging ayam dengan penambahan karagenan dan transglutaminase pada level yang berbeda mempengaruhi kadar air, kadar protein, dan kadar lemak, kadar abu. Sosis daging ayam dengan penambahan karagenan dan transglutaminase pada level yang berbeda berpengaruh pada nilai pH, susut masak, dan daya ikat air Sosis daging ayam dengan penambahan karagenan dan transglutaminase pada level yang berbeda memberikan pengaruh pada kesukaan panelis pada semua parameter (warna, hedonic aroma, hedonic tekstur, rasa) tetapi tidak mempengaruhi penilaian panelis pada mutu hedoniknya. Penambahan transglutaminase sampai dengan 3 ml menyebabkan terjadinya penurunan kualitas kimia tetapi meningkatkan kesukaan panelis pada parameter rasa.
Wahyu Alif Fazrien, Enniek Herwijanti, Nurul Isnaini
Published: 2 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 60-65; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.37986

Abstract:
Penelitian ini dilakukan guna mengetahui adanya pengaruh perbedaan individu terhadap kualitas semen segar dan semen beku Pejantan Sapi Bali. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Malang. Materi penelitian yang digunakan yaitu 5 ekor pejantan Sapi Bali pada umur yang sama yaitu 8 tahun. Dilakukan penampungan semen sebanyak 20 kali pada setiap pejantan, yang selanjutnya dilakukan uji kualitas semen. Variabel penelitian yang digunakan yaitu volume, pH, motilitas individu spermatozoa, konsentrasi spermatozoa, motilitas before freezing, post thawing motility dan recovery rate. Analisa data menggunakan uji Kruskal-Wallis, apabila menunjukkan hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) pada variabel penelitian uji kualitas semen segar secara makroskopis yaitu volume dan pH. Serta menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) pada uji kualitas semen beku (before freezing, post thawing motility dan recovery rate). Pada uji kualitas semen segar secara mikroskopis menunjukkan hasil yang kontradiktif dimana uji konsentrasi menunjukkan taraf signifikansi yang berbeda nyata (P0,05) pada uji motilitas individu spermatozoa. Enam dari tujuh variabel penelitian yang diuji menujukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05), sehingga dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa perbedaan individu berpengaruh terhadap kualitas semen segar dan beku pejantan Sapi Bali.
, Firgian Ardigurnita
Published: 1 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 31-37; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.34258

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat tampilan kondisi vulva dan tanda-tanda berahi pada kambing Peranakan Etawah yang diberi ekstrak buah Parijoto (Medinilla speciosa). Materi yang digunakan 16 ekor kambing Peranakan Etawah betina umur 1,5-2 tahun dengan bobot badan 80±0,57 kg. Parameter yang diambil yaitu panjang vulva (cm), lebar vulva (cm), sekreta lendir (skor 1 sampai skor 3), warna vulva (warna putih, merah muda dan merah), suhu vulva (oC) dan tanda-tanda berahi. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap, 4 perlakuan dan 4 ulangan (0 mg/ekor/bb, 150 mg/ekor/bb, 200 mg/ekor/bb dan 250 mg/ekor/bb). Hasil yang didapat yaitu kualitas tampilan vulva dari panjang dan lebar vulva tidak berbeda nyata (P>0,05) semua perlakuan sampai hari ke-21 pemberian ekstrak buah Parijoto hingga dosis 250 mg/ekor/bb masing-masing adalah 3,37±0,63 cm dan 1,25±0,25 cm. Sekreta lendir, warna vulva dan suhu vulva pada hari ke-21 pemberian ekstrak buah Parijoto dengan dosis 250 mg/ekor/bb menunjukkan sekreta lendir bening dalam jumlah banyak (2,75±0,50), vulva berwarna merah muda dengan suhu 38°C yang diikuti dengan munculnya tanda-tanda berahi untuk bersedia dinaiki pejantan mengalami kenaikan hingga 4 kali pada dosis 250 mg/ekor/bb. Kesimpulannya pemberian ekstrak buah Parijoto sampai level dosis 250 mg/ekor/bb dapat meningkatkan kualitas tampilan vulva dan betina bersedia dinaiki pejantan.
Siti Aminah, Limbang Kustiawan Nuswantara, Baginda Iskandar Moeda Tampoebolon, Sunarso Sunarso
Published: 1 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 44-52; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.35976

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kultur mikroba pencerna serat terbaik dari cairan rumen kerbau dan mengkaji pengaruh perbedaan lama pemeraman dan persentase penggunaan starter mikroba pencerna serat terseleksi terhadap komponen proksimat sabut kelapa fermentasi. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap I adalah seleksi mikroba pencerna serat dari cairan rumen kerbau menggunakan substrat yang berbeda. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Peubah yang diamati adalah aktivitas dan aktivitas spesifik enzim endoglukanase, eksoglukanase dan xilanase. Tahap II adalah perlakuan fermentasi sabut kelapa menggunakan kultur terseleksi dengan perbedaan persentase penggunaan inokulum (0, 2,5 dan 5%) dan lama peram (0, 7 dan 14 hari). Percobaan menggunakan RAL faktorial 3x3 dan 4 ulangan. Peubah yang diamati adalah komponen proksimat. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, dilanjutkan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian tahap I menunjukkan aktivitas spesifik enzim endoglukanase, eksoglukanase dan xilanase tertinggi(P<0,05) pada penggunaan substrat kulit kacang, berturut-turut sebesar 0,020; 0,022; 0,018unit/ml/menit. Hasil penelitian tahap II menunjukkan kadar serat kasar (SK) terendah(P<0,05) terjadi pada kombinasi perlakuan P1H2, P2H1 dan P2H2, berturut-turut sebesar 51,70; 49;90; 49,91%. Kadar lemak kasar (LK) dan abu tertinggi(P<0,05) secara berturut-turut terjadi pada kombinasi perlakuan P2H2 sebesar 16,03% dan P1H2 sebesar 16,99%. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan substrat kulit kacang menghasilkan kultur mikroba pencerna serat terbaik dan meningkatkan kualitas sabut kelapa. Peningkatan kualitas terjadi seiring dengan peningkatan penggunaan inokulum dan lama pemeraman. Kualitas sabut kelapa terbaik terjadi pada penggunaan inokulum sebanyak 5% dan pemeraman selama 14 hari ditinjau dari kadar protein kasar (PK) dan SK.
Sri Suharti, Windawati Alwi, Komang Gede Wiryawan
Published: 1 March 2020
Journal: Sains Peternakan
Sains Peternakan, Volume 18, pp 23-30; https://doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.33228

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri pendegradasi mimosin dari cairan rumen domba dan sapi yang diberi pakan mengandung daun lamtoro dan menganalisis pengaruh inokulasi bakteri pendegradasi mimosin pada karakteristik fermentasi rumen secara in vitro. Tahap pertama adalah isolasi bakteri pendegradasi mimosin dari cairan rumen domba yang diberi pakan mengandung daun lamtoro 30% dan dari rumen sapi Bali di Sumbawa yang diberi pakan daun lamtoro 100%. Tahap kedua adalah inokulasi bakteri pendegradasi mimosin pada fermentasi in vitro dengan substrat mengandung daun lamtoro. Rancangan yang digunakan pada percobaan in vitro adalah rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor. Pengelompokan berdasarkan waktu pengambilan cairan rumen. Faktor pertama terdiri dari 3 taraf daun lamtoro yaitu 0, 30, dan 60% dalam ransum. Faktor kedua terdiri dari 2 inokulasi pendegradasi mimosin yaitu dengan dan tanpa inokulasi bakteri pendegradasi mimosin. Peubah yang diamati adalah populasi bakteri dan protozoa, nilai pH, konsentrasi NH3, produksi volatile fatty acid (VFA), kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO). Hasil penelitian ditemukan 2 isolat bakteri pendegradasi mimosin dari rumen domba dan 3 isolat rumen sapi Bali. Kelima isolat tersebut mempunyai kemiripan dengan Streptococcus sp. Hasil uji in vitro menunjukkan tidak ada interaksi antara taraf pemberian daun lamtoro dengan inokulasi bakteri pendegradasi mimosin pada fermentasi rumen. Inokulasi bakteri pendegradasi mimosin dapat meningkatkan konsentrasi NH3 dan cenderung memperbaiki produksi VFA dibandingkan dengan perlakuan tanpa inokulasi bakteri. Nilai pH, KcBK dan KcBO tidak berbeda antar perlakuan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah inokulasi bakteri pendegradasi mimosin dapat menstimulasi fermentasi rumen secara in vitro.
Back to Top Top