Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem

Journal Information
ISSN / EISSN: 23018119 / 24431354
Published by: Mataram University
Total articles ≅ 132

Latest articles in this journal

Maherawati Maherawati, Tri Rahayuni, Lucky Hartanti
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 184-192; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.391

Abstract:
Pacri nanas merupakan makanan tradisonal suku Melayu yang dibuat dari buah nanas, bumbu rempah, dan santan. Upaya untuk memperpanjang masa simpan pacri nanas telah dilakukan dengan proses pengalengan. Selama penyimpanan dapat terjadi perubahan kualitas bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan karakteristik fisikokimia dan sensoris pacri nanas kaleng selama penyimpanan. Pacri nanas kaleng disimpan selama 12 bulan, pengujian yang dilakukan adalah karakteristik fisik (penampakan kaleng), karakteristik kimia (kadar abu, protein, lemak, serat kasar, karbohidrat, energi, pH), dan sensoris (rasa, aroma, tekstur, warna, kesukaan keseluruhan). Perubahan karakteristik fisik diamati secara visual, data perubahan karakteristik kimia dianalisis menggunakan uji regresi, perubahan karakteristik sensoris dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampakan kaleng masih normal selama penyimpanan (tidak terjadi penggembungan/kebocoran kaleng). Hasil uji regresi menunjukkan bahwa penurunan nilai pH akan mengubah karakteristik kimia pacri nanas kaleng selama penyimpanan sebesar 43,01 poin. Kadar protein memberikan sumbangan 7,66 poin, sedangkan kadar abu memberikan sumbangan 1,61 poin. Karakteristik kimia lainnya memberikan sumbangan kecil (< 1 poin). Nilai pH pacri nanas menurun selama penyimpanan mengikuti persamaan regresi y = -0,015x + 4,6122 dengan R2 = 0,964. Karakteristik sensori pacri nanas kaleng yang dipengaruhi waktu penyimpanan adalah aroma dan kesukaan keseluruhan.
Sasongko Aji Wibowo, Anang Lastriyanto, Vincentia Veni Vera, Bambang Susilo, Sumardi Hadi Sumarlan, La Choviya Hawa, Elok Zubaidah
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 203-212; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.407

Abstract:
Madu berguna untuk proses metabolisme tubuh pada manusia namun memiliki sifat higrokopis sehingga perlu penanganan pascapanen. Kualitas madu dipengaruhi oleh kadar air. Kadar air yang tinggi menyebabkan madu mudah berfermentasi dengan khamir. Proses pengolahan pascapanen madu yaitu pasteurisasi dan evaporasi. Pada proses pasteurisasi dan evaporasi suhu yang digunakan tidak boleh melebihi 70ºC karena akan merusak kualitas madu. Penggunaan ohmic heating untuk pasteurisasi dan vacuum cooling untuk proses evaporasi dan pendinginan menggunakan suhu di bawah 70ºC. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan enzim diastase, kadar air, total padatan terlarut, dan viskositas madu karet setelah proses pasteurisasi menggunakan ohmic heating dan setelah pendinginan cepat menggunakan vacuum cooling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengukuran enzim diastase raw memiliki nilai DN yaitu 12,06 ± 0,146, setelah dipasteurisasi yaitu 8,79 ± 0,132 dan setelah pendinginan yaitu 7,98 ± 0,327. Hasil pengukuran kadar air raw sebesar 17,1 ± 0,153%, setelah pasteurisasi sebesar 16,4 ± 0,306% dan setelah pendinginan menjadi 14,1 ± 0,153%. Hasil pengukuran total padatan terlarut pada madu raw sebesar 62,7 ± 0,577 ºBrix, setelah dipasteurisasi sebesar 64,3 ± 0,577 ºBrix, dan setelah pendinginan menjadi 65± 0,000 ºBrix. Hasil pengukuran viskositas raw sebesar 5,681 ± 0,002 poise, kemudian setelah di pasteurisasi sebesar 5,921± 0,013 poise, dan setelah pendinginan yaitu menjadi 9,506 ± 0,000 poise. Penelitian ini menghasilkan madu dengan kadar air dan enzim diastase yang memenuhi baku mutu, viskositas mendekati baku mutu, walaupun total padatan terlarut belum memenuhi baku mutu.
Slamet Sulistiadi, Hanis Adilla Lestari
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 161-170; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.320

Abstract:
Ukuran partikel pada tepung MOCAF sangat dibutuhkan untuk pengembangan produk dan menyelesaikan permasalahan dalam proses produksi. Penelitian ini mengkaji pengaruh ukuran partikel terhadap karakteristik fisik tepung MOCAF seperti dentitas gembur, densitas padat, swelling index dan dispersibility tepung. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh variasi ukuran partikel MOCAF mesh 60, mesh 80, dan mesh 100 terhadap sifat fisik dentitas gembur, densitas padat, swelling index, dan dispersibility. Tahapan penelitian yang dilakukan, yaitu pembuatan starter MOCAF, pembuatan MOCAF, pengayakan MOCAF, analisis karakteristik fisik, dan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel MOCAF berpengaruh nyata terhadap densitas gembur, densitas padat, swelling index, dan dispersibility. Nilai densitas gembur berkisar 0,30-0,44 kg/L, nilai densitas padat berkisar 0,38-0,58 kg/L, swelling index berkisar 1-1,25, dan nilai dispersibility berkisar 0,4-0,73.
I Dewa Made Subrata, Achmad Zurhafidz Ramadhan, Agus Sutejo
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 171-183; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.389

Abstract:
Tomat cherry adalah salah satu jenis tanaman yang kematangan buahnya mengalami perubahan warna dari warna hijau menjadi merah. Buah tomat cherry sangat digemari di kalangan masyarakat karena rasanya manis keasaman. Mutu buah tomat cherry ditentukan berdasarkan warna dan umumnya dipasarkan dalam tiga kelas mutu, yaitu tomat hijau, oranye, dan merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pendeteksi mutu buah tomat cherry berdasarkan warna menggunakan sensor optis TCS230 dan mikrokontroler Arduino Mega 2560 sebagai pengolah informasi. Sistem pendeteksian tomat cherry dirancang menggunakan sabuk conveyor yang dipasangi sensor optis TCS230. Pengujian kecepatan conveyor optimum dilakukan dengan menggerakkan tomat yang diletakkan di atas conveyor mulai kecepatan 0 cm/s sampai 60 cm/s. Buah tomat cherry dengan tiga tingkat mutu selanjutnya diletakkan di atas conveyor dengan urutan secara acak pada jarak perlakuan antar tomat sebesar 3 cm, 5 cm, 7 cm dan dengan kecepatan conveyor optimum hasil pengujian tahapan sebelumnya. Hasil pengujian menunjukkan kecepatan pergerakan tomat optimum pada saat pendeteksian adalah 30 cm/s dengan jarak antar tomat sebesar 7 cm. Persentase keberhasilan perdeteksian mutu untuk tomat warna merah, oranye, dan hijau secara berurutan adalah 89%, 98%, dan 100%. Data pengujian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa sistem pendeteksi mutu yang dikembangkan sudah bekerja dengan baik walaupun ketelitian pedeteksian mutunya masih perlu ditingkatkan untuk tomat merah dan oranye.
Andreas Wahyu Krisdiarto, Gani Supriyanto
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 193-202; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.420

Abstract:
Gula kelapa merupakan produk yang memberi nilai ekonomi masyarakat cukup besar dalam membantu keluarga petani menambah pendapatan. Meskipun nilai tambahnya tidak terlalu besar, tetapi rantai produksinya melibatkan banyak keluarga (padat karya). Hasil produksi gula kelapa, termasuk mutunya, sering kurang optimal karena kurangnya edukasi dan masih dilakukan secara tradisional. Mutu gula kelapa diawali dari mutu nira kelapa yang disadap. Proses penyadapan sangat mempengaruhi mutu dan jumlah nira. Saat ini banyak penyadap hanya menggunakan wadah (penampung) seadanya, sehingga nira menjadi kotor karena terkontaminasi bahan lain. Selain itu, masuknya air hujan dalam wadah mengakibatkan kadar gula turun. Sistem pemantau penambahan nira dan perubahan karakter selama dalam tampungan diperlukan untuk mengoptimalkan volume dan mutu hasil sadapan. Penelitian ini melakukan perancangan sistem pemantau volume dan keasaman nira selama proses penyadapan, sehingga dapat digunakan untuk menganalisa perubahan mutu dan tingkat penyadapan dari waktu ke waktu. Metode yang digunakan adalah: (1) mempelajari fungsi dan proses penampungan nira di pohon yang digunakan saat ini, (2) merancang dan memasang sistem pantau volume dan pH dalam penampung dengan mikrokontroler, yang dapat mengirim data ke gawai (HP), (3) menguji hasil rancangan, baik fungsional maupun luaran. Pengujian menunjukkan hasil rancangan bekerja dengan baik, dapat mengukur volume dan pH nira dalam penampung dari waktu ke waktu selama penyadapan. Tingkat ketepatan pembacaan volume sebesar 93%, sedangkan pH sebesar 99%. Perangkat hasil rancangan ini dapat diterapkan pada proses penyadapan nira kelapa sehingga volume dan keasaman nira dalam penampung nira di atas pohon dapat dipantau dari gawai dimana pun secara waktu nyata.
Dede Supriatna, Drupadi Ciptaningtyas, Suhono Supangkat
Published: 28 September 2022
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 213-225; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i2.419

Abstract:
Perkembangan teknologi dan peningkatan permintaan sayuran daun segar dengan kualitas tinggi membuat perusahaan berlomba-lomba untuk meningkatkan daya saing terutama kualitas produknya. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam meningkatkan daya saing dan mempertahankan kualitas sayuran daun segar adalah faktor distribusi. Pendistribusian produk kepada konsumen harus dilakukan secara efektif dan tepat waktu. Hingga kini, penentuan rute pendistribusian produk Keboen Bapak kepada konsumen masih ditentukan secara subyektif berdasarkan pengalaman courier, sehingga dapat menyebabkan proses distribusi yang kurang efisien. Masalah ini dapat dikategorikan sebagai permasalahan vehicle routing problem (VRP). Metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah VRP adalah metode saving matrix, sedangkan metode yang dapat digunakan untuk menentukan urutan konsumen yang akan dikunjungi adalah metode nearest insert dan nearest neighbor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rute distribusi optimum produk Keboen Bapak kepada konsumen yang menjadi pelanggan tetap Keboen Bapak dengan menggunakan metode saving matrix, nearest insert dan nearest neighbor dalam 3 kasus berbeda. Hasil penelitian menunjukkan optimasi rute distribusi dengan menggunakan metode nearest insert dan nearest neighbor menunjukkan hasil yang sama. Pada kasus A, rute paling optimum adalah gudang – Borma Kiaracondong – Borma Riung Bandung – Borma Cipadung – Borma Cinunuk – gudang (rute IA) dengan jarak tempuh sebesar 43,4 km, dan gudang – Borma Setiabudi – Borma Dakota – gudang (rute IIA) dengan jarak tempuh sebesar 21,3 km. Rute optimum pada kasus B adalah gudang – Borma Cikutra – Prama Babakan Sari – Borma Cijerah – Borma Gempol – Borma Kerkof – Prama Banjaran – gudang (rute IB) dengan jarak tempuh sebesar 74,7 km, dan gudang – Borma Cikutra – gudang (rute IIB) dengan jarak tempuh sebesar 4 km. Sedangkan pada kasus C rute optimum adalah gudang – Prama Babakan Sari – Borma Cipadung – Borma Cinunuk – Borma Gempol – Borma Kerkof – gudang (rute IC) dengan jarak tempuh sebesar 68,4 km, dan gudang – Borma Dago – gudang (rute IIC) dengan jarak 6,4 km. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh Keboen Bapak dalam penentuan rute distribusi, sehingga proses distribusi dapat terlaksana dengan optimal.
Cicilia Candra Palupi, Ngadisih Ngadisih, Joko Nugroho Wahyu Karyadi, Rose Tirtalistyani, Muhammad Heikal Ismail, Hanggar Ganara Mawandha
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 14-23; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i1.318

Abstract:
Biogas slurry (BS) is a waste used as an organic fertilizer that could improve soil properties. This study was aimed to explore the dynamic of soil consistency and tillage power requirement due to BS fertilizer. Soil consistency and tillage power requirement were analyzed by the liquid (LL), plastic (PL), and adhesive (AL) limits, plasticity index (PI), workability range (WR), and liquidity index (LI). The study was conducted with incubation time and the BS type factors that include control (K), liquid BS (P1), and solid BS (P2). The incubation time factors comprised 2 (I1), 4 (I2), 6 (I3), 8 (I4), 10 (I5), and 12 weeks incubation (I6). The ANOVA test showed that BS fertilizer significantly affected LL, PL, AL, PI, and LI but did not significantly impact WR. The liquid BS fertilizer decreased LL and PI by 2%, increased LI 0.022, and decreased tillage power requirement by 1 horse power (HP). The solid BS, increased LL and PL 3%, PL 3% and AL 2%, while LI decreased by 0.074. The mathematic modeling with a first-order kinetic model was acceptable to describe soil consistency and tillage power requirement (R2>80% and X2<X2 table). The rate of AL for K, P1, and P2 were -0.022/day, -0.032/day, and -0.049/day, respectively. The minus is symbol of decreasing rate. The rate of WR for K, P1, and P2 were 0.024/day, 0.046/day, and 0.079/day, respectively. The form of BS fertilizer (liquid, solid) has changed the soil consistency which in turn has an impact on tillage power requirement.
Angky Wahyu Putranto, Anugerah Dany Priyanto, Teti Estiasih, Widyasari Widyasari, Hadi Munarko
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 39-48; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i1.321

Abstract:
Pulsed electric field (PEF) atau metode kejut listrik tegangan tinggi merupakan salah satu metode pengolahan non-termal yang dapat diaplikasikan untuk membunuh mikroorganisme pada susu segar. Penggunaan PEF untuk pasteurisasi susu dapat dikombinasikan dengan perlakuan pemanasan awal (pre-heating) untuk meningkatkan letalitas terhadap mikroorganisme maupun untuk menghasilkan susu dengan karakteristik mutu yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi waktu pre-heating dan waktu PEF pada pengolahan susu pasteurisasi. Optimasi dilakukan dengan menggunakan metode response surface methodology model central composite design (RSM-CCD). Susu segar dengan volume 2,5 L dipanaskan pada suhu 70°C selama 10-30 menit (perlakuan pre-heating) dilanjutkan dengan pemberian kejut listrik (15 kV/cm, 8,197 kHz, 66 µs) selama 2-6 menit. Proses pasteurisasi dilakukan di dalam bejana berpengaduk dengan kecepatan 50 rpm. Respon yang diuji terdiri dari total cemaran (TPC), viskositas, stabilitas emulsi, dan tingkat kecerahan. Hasil optimasi waktu pasteurisasi yang direkomendasikan berdasarkan analisis RSM-CCD, yaitu pre-heating selama 10 menit dilanjutkan dengan PEF selama 3,907 menit dengan nilai desirability 0,614. Optimasi proses pasteurisasi menghasilkan prediksi nilai TPC, viskositas, stabilitas emulsi, dan kecerahan susu hasil optimasi secara berurutan sebesar 2,126 log cfu/ml, 4,997 cP, 14,862 %, dan 93,703.
Adi Ruswanto, Sri Gunawan, Ngatirah Ngatirah, Reza Widyasaputra
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 49-56; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i1.323

Abstract:
Bahan baku dan proses sterilisasi dalam pengolahan minyak sawit mempunyai peranan sangat penting terhadap sifat minyak sawit. Sampai saat ini bahan baku berupa tandan buah sawit dan proses pemanasan menggunakan uap panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak sawit dari metode pemanasan berbeda dengan bahan baku buah sawit yang lepas dari tandannya (brondolan). Metode penelitian menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan 2 faktor. Faktor I adalah metode pemberian panas terdiri dari 3 taraf ; P1 = pemanasan dengan cara dikukus, P2 = pemanasan dengan udara panas, P3 = pemanasan dengan steam dari sterilizer. Faktor II adalah waktu pemanasan terdiri 3 taraf ; t1 = 30 menit, t2 = 60 menit, t3 = 90 menit. Parameter pengamatan meliputi kadar asam lemak bebas (ALB), kadar minyak mesokarp, deterioration of bleachability index (DOBI), dan kadar kotoran. Hasil penelitian menunjukkan lama waktu pemanasan berpengaruh terhadap ALB, DOBI, dan kadar minyak mesokarp, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar kotoran. Semakin lama pemanasan semakin meningkatkan ALB dan menurunkan DOBI. Metode pemanasan brondolan buah sawit berpengaruh pada ALB dan DOBI, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar kotoran, kadar minyak mesokarp dan metode dikukus memberikan hasil yang lebih baik.
Andi Muhammad Irfan, Nunik Lestari
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian Dan Biosistem, Volume 10, pp 98-115; https://doi.org/10.29303/jrpb.v10i1.328

Abstract:
Blansing suhu rendah dalam waktu yang relatif lama masih jarang dilakukan sebagai perlakuan pendahuluan sebelum pengeringan cabai. Blansing suhu rendah sejatinya juga memberikan dampak positif bagi bahan yang dikeringkan. Kondisi operasi pengeringan cabai merah tersebut dapat dioptimalkan dengan mempelajari kinetika pengeringan dan model matematikanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kinetika pengeringan, menentukan model matematika pengeringan yang paling sesuai, serta untuk menganalisis warna dari cabai kering yang dihasilkan. Proses blansing dilakukan pada suhu 60°C selama 10, 15, dan 20 menit. Proses pengeringan dilakukan menggunakan alat pengering tenaga surya tipe efek rumah kaca. Lima belas model matematika pengeringan lapis tipis dipilih untuk menyimulasikan karakteristik pengeringan cabai merah dengan perlakuan blansing suhu rendah pada beberapa durasi waktu blansing. Nilai moisture ratio (MR) hasil observasi digunakan untuk menentukan MR prediksi dengan curve fitting menggunakan analisis regresi non linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan perlakuan lainnya, perlakuan blansing suhu rendah selama 20 menit sebelum mengeringkan cabai dapat meningkatkan laju pengeringan bahan dan menghasilkan kadar air akhir yang lebih rendah. Warna cabai kering yang dihasilkan juga lebih baik, didukung dengan nilai browning index yang lebih rendah. Adapun model matematika yang paling akurat untuk mendeskripsikan karakteristik pengeringan cabai merah untuk tiap perlakuan adalah Model Modified Midilli-Kucuk, yang dikonfirmasi dengan analisis statistik R2 berkisar antara 0,996 – 0,997, X2 berkisar antara 0,029 x 10-2 – 0,035 x 10-2, SSE berkisar antara 1,027 x 10-2 – 1,239 x 10-2, dan RMSE berkisar antara 1,689 x 10-2 – 1,855 x 10-2.
Back to Top Top