Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN: 14124920 / 27755614
Total articles ≅ 178

Latest articles in this journal

Saptono Saptono
Published: 22 July 2022
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 271-278; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.271-278

Abstract:
Latar belakang: Merokok merupakan faktor risiko tinggi morbiditas dan mortalitas terhadap suatu penyakit. Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 10% atau sekitar 200.000 jiwa dari total kematian di Indonesia disebabkan oleh rokok. Kerugian Negara sebagai akibat dari tingginya jumlah konsumsi rokok di level rumah tangga dan masyarakat dapat mencapai 600 triliun rupiah per tahun atau setara dengan seperempat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Metode: Metode penelitian yang digunakan merupakan hasil evaluasi berdasarkan studi literatur pemanfaatan alokasi anggaran Ditjen P2P Kementerian Kesehatan dalam kegiatan penurunan angka prevalensi merokok di Indonesia. Hasil: Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (2022), usia perokok aktif didominasi oleh usia remaja, namun berdasarkan hasil tren pada kurun waktu 2021 dan 2018 mengarah secara positif dalam mempengaruhi peningkatan jumlah ke usia lebih muda namun dari sisi persentase mengalami penurunan dengan nilai koefisien korelasi R² = 0,9125. Di dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi pilar strategi utama kebijakan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen P2P. Simpulan: Usulan rekomendasi kebijakan yang diberikan untuk Pemerintah dalam mewujudkan kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Upaya Berhenti Merokok (UMB), yaitu : 1) Sosialisasi / Pembinaan KTR dan UMB dengan menggandeng mitra dan organisasi masyarakat, 2) Meningkatkan upaya promotif dan preventif melalui inovasi dengan memasukkan pesan pendidikan bahaya dampak merokok bagi kesehatan di kurikulum pengajaran sekolah, serta 3) Memanfaatkan kebijakan Pemerintah Pusat yang menaikkan besaran cukai rokok sebesar 12% per 1 Januari 2022, dengan upaya Ditjen P2P dalam menghemat APBN melalui program integrasi GERMAS dalam Local Goverment Sosial Responsibility. Kata kunci: Merokok; APBN; Ditjen P2P
ABSTRACTTitle: Evaluation of Smoking Prevalence Reduction in Innovation Efforts to Save State Budget (APBN) Allocations Directorate General of P2P of the Ministry of HealthBackground: Smoking is a high risk factor for morbidity and mortality from disease. The Indonesian Ministry of Health states that as much as 10%, or about 200,000, of the total deaths in Indonesia are caused by cigarettes. State losses as a result of the high amount of cigarette consumption at household and community levels can reach 600 trillion rupiah per year, or equivalent to a quarter of the State Budget (APBN).Method: The research method used is the result of an evaluation based on a literature study on the use of the budget allocation of the Directorate General of P2P of the Ministry of Health in activities to reduce the prevalence rate of smoking in Indonesia.Result: Based on the National Socioeconomic Survey (2022), the age of active smokers is dominated by adolescents, but based on the results of trends in the period 2021 and 2018, it leads positively in influencing the increase in the number of smokers to younger ages. However, in terms of percentage, it decreased with the value of the correlation coefficient R2 = 0.9125. In the 2020-2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN) document, the Smoking Cessation Effort (UBM) service and the implementation of Non-Smoking Areas (KTR) are the main strategic pillars of the Non-Communicable Diseases Prevention and Control program, Directorate General of P2P.Conclusion: Proposed policy recommendations given to the government in realizing the No Smoking (KTR) area and Efforts to Stop Smoking (UMB), namely: 1) Socialization and Guidance of KTR and UMB by cooperating with partners and community organizations; 2) Increasing promotive and preventive efforts through innovation by including educational messages on the dangers of smoking impacts on health in the school teaching curriculum; and 3) Utilizing the Central Government's policy of increasing the amount of cigarette excise by 12% as of January 1, 2022, with the efforts of the Directorate General of P2P in saving the state budget through the GERMAS integration program in Local Government Social Responsibility.Keywords: Smoking; State Budget; Directorate General of P2P
Redhita Rizky Shantania Putri, Andika Dwi Saputra
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 261-270; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.261-270

Abstract:
Latar belakang: Leptospirosis masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Banyumas merupakan salah satu wilayah yang memiliki kasus tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2019 sehingga berpotensi terjadinya endemis. Untuk itu, kami memberikan solusi melalui pengujian “brotokol” yang merupakan gabungan dari ekstraksi Brotowali dan Jengkol. Metode: Brotokol dibuat dalam bentuk sediaan cair yang berfungsi sebagai pengganti rodentisida alami, sehingga aman digunakan untuk lingkungan (tanah, udara, dan perairan) maupun penggunanya. Hasil: Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa tingkat dan intensitas waktu pemaparan yang terlihat dari range hari pengamatan pada pemberian ekstrak “Brotokol” terhadap sampel tikus, memberikan pengaruh yang signifikan pada aktivitas tikus rumah. Hal tersebut terlihat dari nilai signifikansi (2-tailed) pada masing-masing variabel yang menunjukkan nilai P value sebesar 0.001 dengan nilai α = 5 %, maka dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat dan intensitas waktu pemaparan yang terlihat dari range hari pengamatan pada pemberian ekstrak “Brotokol” terhadap penurunan aktivitas tikus, dimana nilai P value < nilai α. Simpulan: Efektivitas ekstraksi brotowali dan jengkol (“Brotokol”) yang dapat berfungsi untuk menghalau hama tikus rumah yang ramah lingkungan adalah hasil ekstraksi dengan tingkat konsentrasi sebesar 75 %. Efektivitas konsentrasi tersebut menyebabkan hambatan aktivitas yang terlihat dari respon aktivitas tikus yang mulai menurun dan mengalami stress hingga menjadi lethal/mati secara lebih cepat, tanpa memberikan efek resisten bagi sasaran target. Kata kunci: Ekstraksi Brotowali dan Jengkol; Hama Tikus; Ramah Lingkungan
ABSTRACTTitle: The Effectiveness of “Brotocol” as an Eco-Green Rat RepellentBackground: Leptospirosis is still one of the public health problems in Indonesia. Banyumas is one of the regions that has the highest cases in Central Java in 2019 so that it has the potential to be endemic. For this reason, we provide solutions through testing "brotocol" which is a combination of Brotowali and Jengkol extraction.Method: Brotokol is made in the form of liquid preparations that function as a substitute for natural rodenticides, so it is safe to use for the environment (soil, air, and waters) as well as its users. Result: Based on this study, it is known that the level and intensity of exposure time seen from the range of observation days on the administration of "Brotokol" extract to rat samples, had a significant influence on the activity of house mice. This can be seen from the significance value (2-tailed) in each variable which shows a P value of 0.001 with a value of α = 5%, it can be seen that there is a significant relationship between the level and intensity of exposure time as seen from the range of observation days on the administration of "Brotokol" extract to a decrease in rat activity, where the P value < the value of α. Conclusion: The effectiveness of the extraction of brotowali and jengkol ("Brotokol") which can serve to dispel environmentally friendly house rat pests is the result of extraction with a concentration level of 75%. The effectiveness of the concentration caused activity inhibitions as seen from the response of rat activity that beganto decrease and experienced stress to the point of becoming lethal / dying more quickly, without providing a resistant effect to the target.Keywords: Extraction of Brotowali And Jengkol; Rat Pest; Eco-Green
Sukrisno Sukrisno, Mardiati Nadjib
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 248-260; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.248-260

Abstract:
Latar belakang: Indonesia termasuk dalam lima wilayah dengan prevalensi Hepatitis B tertinggi di dunia. Penyebaran Hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian imunisasi Hepatitis B yang dimulai dari bayi baru lahir usia 0-7 hari (HB 0). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan akses imunisasi HB 0 di Indonesia. Metode: Metode penelitian menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan menggunakan data Susenas 2016 dan Podes 2014. Sampel adalah bayi dari wanita yang pernah menikah berumur 15-49 tahun dan melahirkan bayi dengan berat lahir ≥ 2,5 Kg pada dua tahun sebelum survei dengan jumlah responden 18.407 individu. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 59,63% bayi memanfaatkan imunisasi HB 0. Hasil: Analisis regresi logistik (logit) menunjukkan variabel pendidikan, jarak, umur ibu, wilayah tempat tinggal, regional, tempat lahir bayi dan penolong persalinan berhubungan dengan akses imunisasi HB 0. Simpulan: Bayi yang dilahirkan di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan memiliki peluang yang lebih baik. Disarankan untuk meningkatkan upaya promosi kesehatan, kemitraan tenaga kesehatan dan mendorong ibu hamil untuk bersalin di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan. Kata kunci: Hepatitis B untuk Bayi Baru Lahir; Imunisasi; Akses
ABSTRACTTitle: Analysis of Related Factor with Access to Hepatitis B Immunization 0-7 Days (HB 0) for Newborns in Indonesia in 2016Background: Indonesiais among the five regions in the world with the highest Hepatitis B prevalence. One of the efforts to prevent Hepatitis B infection is to give Hepatitis B birth-dose vaccine to infants at age 0-7 day (HB 0).  This research aimed to analyze factors related to the access of HB 0 vaccinations in Indonesia.Method: The research methode used a cross-sectional design study using Susenas 2016 and Podes 2014 data, sample size was 18.407 babies of married women whose age between 15-49 years and gave birth baby birth weight ≥ 2,5 Kg in the last two years before the survey was done. The results showed that about 59,63% infants accessed HB 0 vaccination. Result: Logistic regression analysis model (logit) resulted marginal effects which showed variabel of age and education of the mother, region, place of birth, distance and birth attendants had relationship with access the HB 0 vaccination. Conclusion: To increase the HB 0 vaccination coverage, it is recommended that the government or the policy makers should improve programs and access through health promotions, partnerships among health personnels, as well as encourage facility-based delivery.     Keywords: Hepatitis B birth-dose; Vaccination; Access; New Born Infants
Arafah Fadilah, Chahya Kharin Herbawani
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 292-296; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.292-296

Abstract:
Latar belakang: Kecelakaan kerja adalah sesuatu yang tidak di perkirakan sebelumnya dan hal ini tentunya dapat mengganggu pekerjaan. Penyebab dari kecelakaan ini dapat dibagi menjadi lima, yaitu faktor man, machine, material, method, dan environment.Setiap pelaksanaan konstruksi pastinya mengharapkan tidak adanya kecelakaan kerja yang terjadi atau dapat disebut dengan”Zero Accident”. Pengendalian yang dapat dilakukan, salah satunya dengan menerapkan atau melakukan implementasi HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) yang telah dibuat dan ditetapkan oleh perusahaan pada proyek tersebut. HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessmentand Risk Control) adalah metode yang dilakukan dengan dimulainya perencanaan, identifikasi bahaya, menentukan risiko, hingga penentuan berbagai langkah pengendalian. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review, dengan data yang didapatkan dari Google Scholar berasal dari negara Indonesia dan Malaysia dari tahun 2011 – 2021. Kriteria inklusi untuk jurnal ini yaitu menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, terpublikasi 10 tahun terakhir, full paper, dan dapat diakses secara umum. Kriteria eksklusi yang digunakan yaitu tidak sesuai dengan kata kunci yang telah ditetapkan. Hasil: Temuan yang didapat ini biasanya menyimpang dari isi HIRARC dan menjadikan faktor terjadinya kecelakaan, misalnya pekerja tidak menggunakan APD, pekerja merokok, kurang terampil, lelah dalam bekerja, peralatan yang tidak memadai, lingkungan dan perilaku yang tidak aman, dan tidak melakukan inspeksi pada alat sebelum digunakan. Simpulan: Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pekerja dapat memperhatikan lagi terkait perilaku tidak aman, dan kepada perusahaan juga harus meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di area kerja. Kata kunci: HIRARC; kecelakaan kerja; risiko kecelakaan
ABSTRACTTitle: Analysis of Risk Factors for Occupational Accidents Using HIRARC as a Benchmark: Literature ReviewBackground:A work accident is something that is not anticipated in advance and this can certainly interfere with work. The causes of this accident can be divided into five, namely man, machine, material, method, and environmental factors. Every construction implementation certainly hopes that there will be no work accidents that occur or can be called "Zero Accident". One of the controls that can be carried out is by implementing or implementing the HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) which has been made and determined by the company on the project. HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) is a method carried out by starting planning, identifying hazards, determining risks, and determining various control measures.Method: This study uses the literature review method, with data obtained from Google Scholar from Indonesia and Malaysia from 2011 – 2021. The inclusion criteria for this journal are Indonesian and English, published in the last 10 years, full paper, and accessible. in general. The exclusion criteria used are not in accordance with the keywords that have been set.Result:These findings usually deviate from the contents of HIRARC and cause accidents to occur, for example workers not using PPE, smoking workers, being unskilled, tired at work, inadequate equipment, unsafe environment and behavior, and not conducting inspections on tool before use.Conclusion:There are various factors that can cause work accidents. Therefore, the authors expect workers to pay more attention to unsafe behavior, and the company must also improve occupational safety and health in the work area.Keywords: HIRARC; work accident; accident risk
Djembar Wibowo
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 238-247; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.238-247

Abstract:
Latar belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama untuk melihat kualitas hidup negara. Di Indonesia, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih tinggi. Berdasarkan data SUPAS Tahun 2015, AKI di Indonesia sebesar 305/100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan berdasarkan SDKI 2017, Angka Kematian Bayi (AKB) 24 per 1.000 KH. Angka tersebut masih jauh dari target RPJMN untuk penurunan AKI Tahun 2024 menjadi 183/100.000 KH dan AKB menjadi 16/1000 KH. Pendanaan dari dana transfer ke daerah melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) ke dalam sistem pendanaan APBD merupakan bantuan pembiayaan operasional yang disalurkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota). Meskipun tingkat proporsinya terhadap seluruh dana perimbangan nilainya masih kecil (sekitar 8,5%), sehingga perlu dilakukan studi analisis pemanfaatan. Metode: Studi kasus dilakukan melalui analisis penggunaan DAK Non Fisik yang mencakup BOK dan Jampersal terhadap pencapaian kinerja program penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Metode penelitian yang digunakan merupakan hasil analisis gabungan deskriptif dan statistik dengan menggunakan software SPSS, karena analisis ini memberikan kecenderungan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan / pengaruh beberapa variabel penelitian yang diujicobakan. Instrumen penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian terhadap analisis hasil implementasi keberhasilan program penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui studi kasus pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Tahun 2017, diketahui bahwa indikator ketersediaan Tim Evaluasi BOK dari Kab/Kota memiliki peranan lebih potensial terhadap peningkatan realisasi penganggaran program KIA untuk penurunan AKI yang dilaksanakan oleh UPT Puskesmas. Faktor-faktor yang menjadi hambatan di dalam peningkatan capaian realisasi penganggaran DAK Non Fisik di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, yaitu : 1) adanya hambatan dalam perencanaan DAK Non Fisik, 2) terdapat menu BOK yang tidak bisa dianggarkan menggunakan kode rekening daerah, 3) sulitnya proses pencairan BOK dan 4) sulitnya pertanggungjawaban BOK di daerah. Simpulan: Indikator ketersediaan Tim Evaluasi BOK dari Kab/Kota memiliki peranan lebih potensial terhadap peningkatan realisasi penganggaran program KIA untuk penurunan AKI yang dilaksanakan oleh UPT Puskesmas.Kata kunci : DAK Non Fisik; Angka Kematian Ibu (AKI); BOK
ABSTRACTTitle: Analysis of The Successful Implementation of Maternal Mortality Rate Reduction Program through Case Studies of Utilization of Non-Physical Special Allocation Funds in 2017Background: The Maternal Mortality Rate (AKI) is a leading indicator to see the quality of life of the country. In Indonesia, maternal mortality and infant mortality are still high. Based on SUPAS data in 2015, AKI in Indonesia is 305/100,000 Live Births (KH) and based on the 2017 SDKI, the Infant Mortality Rate (AKB) is 24 per 1,000 KH. This figure is still far from the RPJMN target for reducing the 2024 AKI to 183/100,000 KH and AKB to 16/1000 KH. Funding from transfer funds to the regions through DAK (Special Allocation Fund) into the APBD funding system is operational financing assistance distributed by the Central Government to Regional Governments (Regencies/Cities). Although the level of proportion to the entire balance fund is still small (about 8.5%), it is necessary to conduct a utilization analysis study.Method: The case study was conducted through an analysis of the use of Non-Physical DAK which includes BOK and Jampersal on the achievement of the performance of the Maternal Mortality Reduction Program (AKI). The research method used is the result of a combined descriptive and statistical analysis using SPSS software, because this analysis provides a tendency to research results that show the relationship / influence of several research variables being tested. The research instrument uses primary and secondary data. Result: Based on the results of research on the analysis of the results of the successful implementation of the Maternal Mortality Reduction (AKI) program through a case study on the use of the Non-Physical Special Allocation Fund (DAK) in 2017, that the availability indicators of the BOK Evaluation Team from the District / City have a more potential role in increasing the realization of budgeting for the KIA program for reducing AKI implemented by the UPT Puskesmas. Factors that become obstacles in increasing the achievement of non-physical DAK budgeting realization in the District / City Health Office, namely: 1) there are obstacles in the planning of Non-Physical DAK, 2) there is a BOK menu that cannot be budgeted using the regional account code, 3) the difficulty of the BOK disbursement process and 4) the difficulty of BOK accountability in the regions.Conclusion: The availability indicators of the BOK Evaluation Team from the District / City have a more potential role in increasing the realization of budgeting for the KIA program for reducing AKI implemented by the UPT PuskesmasKeywords: Non-Physical DAK; Maternal Mortality Rate (AKI); BOK
Dzikri Tifa Larasati, Chahya Kharin Herbawani
Published: 30 June 2022
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 297-301; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.297-301

Abstract:
Latar belakang: Kecelakaan kerja yang terjadi dipengaruhi oleh 2 (dua) penyebab langsung yaitu unsafe action (tindakan tidak aman) dan unsafe condition (kondisi tidak aman). Lalu, hal tersebut dikuatkan dengan hasil penelitian Heinrich yang menyatakan bahwa terdapat 80% kecelakaan yang terjadi akibat dari tindakan tidak aman atau unsafe action. Gambaran tindakan tidak aman yang dapat berdampak menimbulkan kecelakaan kerja yang biasa dilakukan oleh pekerja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses) dalam memperoleh jurnalnya. Jurnal yang didapatkan berasal dari Google Scholar dan ResearchGate, dengan rentang tahun publikasi 13 tahun terakhir, yaitu dari tahun 2008 – 2021. Hasil: Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seorang pekerja melakukan tindakan tidak aman di tempat kerja. Faktor-faktor yang berkaitan dan sering terjadi antara lain pengetahuan terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3), motivasi yang rendah, kurang ketersediaan APD, sikap, pengawasan dari manajemen, usia, tekanan waktu, maupun psikologis atau stress kerja. Simpulan: Terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi tindakan tidak aman pada pekerja. Oleh karena itu, sebaiknya sebuah perusahaan atau proyek perlu memberikan pengetahuan, melakukan pelatihan, dan lebih ketat dalam pengawasan. Kemudian, untuk pekerja juga harus tetap menggunakan APD, dan memperhatikan keselamatan diri dalam bekerja. Kata kunci: faktor kecelakaan; tindakan tidak aman; pekerja konstruksi
ABSTRACTTitle: Literature Review: Factors Associated with Unsafe Actions on Construction WorkersBackground:Work accidents are caused by 2 (two) direct causes, namely unsafe acts (unsafe actions) and unsafe conditions (unsafe conditions). Then, this is confirmed by the results of Heinrich's research which states that there are 80% of accidents that occur due to unsafe actions or unsafe actions. Description of unsafe actions that can cause work accidents that are usually carried out by workers.Method:This study uses the literature review method and the use of the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses) method in obtaining the journal. The journals obtained are from Google Scholar and ResearchGate, with a range of publication years of the last 13 years, namely from 2008 to 2021.Result:There are several factors that cause a worker to take unsafe actions at work. Factors that are related and often occur include knowledge related to occupational safety and health (K3), low motivation, lack of availability of PPE, attitudes, supervision from management, age, time pressure, as well as psychological or work stress.Conclusion:There are many factors that can influence unsafe acts on workers. Therefore, it is recommended that a company or project needs to provide knowledge, conduct training, and be more stringent in supervision. Then, workers must also continue to use PPE, and pay attention to personal safety at work.Keywords: accident factor; unsafe act; construction worker
Achmad Djunawan, Alif If'Al Lillah, Ratna Sari Dewi
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 224-237; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.224-237

Abstract:
Latar belakang: Jumlah penduduk miskin di perkotaan masih tergolong besar sedangkan maysarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mngidentifikasi kesetaraan utilisasi fasilitas pelayanan kesehatan primer milik pemerintah dan swasta berdasarkan status ekonomi dan kepemilikan jaminan kesehatan oleh penduduk perkotaan Indonesia (analisis data IFLS 5). Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk berumur 15 tahun keatas yang tinggal di perkotaan Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik random sampling berdasarkan strarifikasi provinsi dan karakteristik perkotaan atau pedesaan. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 yang dikumpulkan pada bulan September 2014 sampai Agustus 2015 (Strauss, Witoelar, & Sikoki, 2016). Peneliti menggunakan rancang bangun cross sectional study dengan pendekatan observasional. Hasil: Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa semakin tinggi status ekonomi masyarakat di perkotaan maka mereka cenderung menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan primer milik swasta dibandingkan milik pemerintah. Masih ada ketidaksetaraan utilisasi pelayanan kesehatan primer milik pemerintah di perkotaan pada awal implementasi JKN berdasarkan status ekonomi khususnya pada pemilik jaminan kesehatan BPJS kesehatan. Masih ada ketidaksetaraan utilisasi pelayanan kesehatan primer milik swasta di perkotaan pada awal implementasi JKN berdarkan status ekonomi khususnya pada masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Simpulan: Belum adilnya pemanfaatan pelayanan kesehatan berdasarkan status ekonomi dan kepemilikan jaminan kesehatan. Saran yang dapat diberikan yaitu meningkatkan cakupan jaminan kesehatan ke seluruh masyarakat khususnya masyarakat miskin disertai pembagian manfaat (pooling) berdasarkan status ekonomi atau kepesertaan untuk mencapai kesetaraan. Kata kunci: Kesetaraan; Pelayanan Kesehatan; Utilisasi
ABSTRACTTitle: Primary Health Care Facilities Utilization in Urban Area base on Economic Status and Health Insurance
(IFLS 5 Data Analysis).
Background: The poor people in urban areas are still relatively large, while the community needs quality health services. The purpose of this study was to identify the equality of public and private primary health care facilities utilization based on economic status and ownership of health insurance by Indonesian urban residents (IFLS 5 data analysis).Method:The population in this study is the entire population aged 15 years and over who live in urban Indonesia. Sampling was carried out using a random sampling technique based on provincial stratification and urban or rural characteristics. This descriptive quantitative study uses secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 which was collected from September 2014 to August 2015 (Strauss, Witoelar, & Sikoki, 2016). Result:The researcher used a cross-sectional study design with an observational approach. The results of this study are that the higher the economic status of people in urban areas, the more likely to use private primary health care facilities than public primary health care facilities. There is still inequality of public primary health services utilization in urban areas at the beginning of National Health Insurance (NHI) implementation based on economic status, especially for BPJS health insurance members. There is still inequality private primary health services utilization in urban areas at the beginning of NHI implementation based on economic status, especially for people who do not have health insurance.Conclusion:There are inequity in health services utilization based on economic status and ownership of health insuranceMost of osteoarthritis respondent are obese.Suggestions that can be given are to increase the coverage of health insurance for the entire community, especially the poor, along with benefit-sharing (pooling) based on economic status or participation to achieve equality.Keywords: Equality; Health Services; Utilization
Shela Ayu Melina, Chahya Kharin Herbawani
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 286-291; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.286-291

Abstract:
Latar belakang: Salah satu dampak yang menjadi perhatian akibat pandemi ini adalah kesehatan mental. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, remaja pun secara tidak langsung juga terkena dampak. Kesehatan mental mengacu pada kognitif, perilaku, dan kesejahteraan emosional. Berdasarkan data survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), 93% remaja yang mengalami gejala depresi berada pada rentang 14 – 18 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja pada masa pandemi Covid-19. Metode: Metode penulisan artikel ini adalah tinjauan literatur Artikel ditelusuri menggunakan basis data daring antara lain melalui Google Scholar, Researchgate, dan Pubmed. Kriteria inklusi untuk artikel yang hendak dipilih adalah yang artikel lengkap, dapat diakses bebas, terdapat ISSN, jurnal terindeks SINTA, Arjuna, maupun google scholar, untuk jurnal internasional terakreditasi dan terpublikasi pada masa pandemi (2 tahun terakhir) Hasil: Berdasarkan hasil tinjauan, ditemukan berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja selama pandemi. Faktor-faktor tersebut antara lain proses belajar daring, pola makan, waktu yang habis untuk menatap layar, konsumsi berita dari media, jenis kelamin, komunikasi dengan orang tua, bentuk keluarga, penggunaan media sosial, isolasi sosial, kerentanan individu, dan tingkat pendidikan Simpulan: Terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja selama pandemi. Perlu dilakukan upaya dalam menjaga kesehatan mental seperti meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak serta menggunakan media sosial secara bijak. Kata kunci: faktor pengaruh; kesehatan mental; kecemasan; remaja; pandemi covid-19
ABSTRACTTitle: Factors Affecting Adolescent Mental Health During the Covid-19 Pandemic : Literature ReviewBackground:One of the impacts of concern due to this pandemic is mental health. Not only happens to adults, teenagers are also indirectly affected. Mental health refers to cognitive, behavioral, and emotional well-being. Based on survey data from the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (KPPPA), 93% of adolescents who experience symptoms of depression are in the range of 14-18 years. This study aims to determine the factors that affect the mental health of adolescents during the Covid-19 pandemic.Method:The method of writing this article is a literature review. Articles are searched using online databases, including through Google Scholar, Researchgate, and Pubmed. The inclusion criteria for the articles to be selected are full text, open access, have ISSN numbers, SINTA indexed journals, Arjuna, and Google Scholar, for international journals that are accredited and published during the pandemic period (last 2 years), Result: Based on the results of the review, various factors were found that affect the mental health of adolescents during the pandemic. These factors include online learning, diet, time spent staring at screens, consumption of news from the media, gender, communication with parents, family form, use of social media, social isolation, individual vulnerability, and education level.Conclusion: There are various factors that affect the mental health of adolescents during the pandemic. Efforts need to be made to maintain mental health such as improving communication between parents and children and using social media wisely.Keywords: influence factors; mental health; anxiety; adolescents; the covid-19 pandemic
Hana Livinia Kantasia Purba, Sutopo Patria Jati, Wulan Kusumastuti
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 217-223; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.217-223

Abstract:
Latar belakang: Pelayanan kesehatan primer, Puskesmas adalah penyedia layanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan status kesehatan masyarakat yang letaknya paling dekat dengan masyarakat. Puskesmas memiliki peran penting pada masa pandemi Covid-19 yaitu dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif dinilai sangat efektif untuk memutus penyebaran virus Covid-19. Pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesmas Martoba mengalami penurunan dari tahun 2019 hingga 2020 yaitu sebesar 76,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Martoba oleh pasien rawat jalan pada masa pandemi Covid-19.Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 100 orang yang ditentukan menggunakan rumus Lemeshow. Pengambilan data menggunakan googleform. Variabel bebas yaitu pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, penghasilan, kepemilikan asuransi kesehatan, aksesibilitas pelayanan kesehatan, sikap petugas kesehatan, dan penilaian kesehatan individu. Uji statistik yang digunakan pada analisis univariat adalah distribusi frekuensi dan analisis bivariate adalah uji Chi square. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan nomor 193/EA/KEPK-FKM/2021. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 80% responden memanfaatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Martoba Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,000), aksesibilitas pelayanan kesehatan (p=0,000), sikap petugas kesehatan (p=0,001), dan penilaian kesehatan individu (p=0,000), sedangkan yang tidak berhubungan adalah tingkat pendidikan (p=0,284), pekerjaan (p=0,161), pengetahuan (p=0,108), penghasilan (p=0,917).Simpulan: Pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Martoba pada masa pandemi Covid-19 memiliki hubungan dengan kepemilikan asuransi kesehatan, aksesibilitas pelayanan kesehatan, sikap petugas kesehatan, dan penilaian kesehatan individu. Kata kunci: Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan; Kepemilikan Asuransi; Aksesibilitas; Sikap Petugas Kesehatan; Penilaian Kesehatan Individu; Pandemi Covid-19
ABSTRACTTitle:  The Correlation between Enabling and Supporting Factors, and Needs in the Utilization of Health Services at the Martoba Community Health Center during the Covid-19 PandemicBackground: The Community Health Center, Puskesmas was a health service provider that aimed to improving the health status of people who are closest to the Puskesmas. Puskesmas has a significant role during the Covid-19 pandemic, by prioritizing promotive and preventive that are considered very effective to stop the spread of coronavirus. From 2019 to 2020, utilization of health service at Puskesmas Martoba has decreased by 76,9%. This study aimed to determine the factors related to utilization of health services at Puskesmas Martoba by outpatients during Covid-19 pandemic.Method: This type of research was quantitative research, using a Cross Sectional design. The number of samples were 100 people who were determined using the Lemeshow formula and data collection using google form. The independent variables were education, occupation, knowledge, income, ownership of health insurance, accessibility, attitude of health workers, individual health insurance. The statistical test used in the univariate analysis is the frequency distribution and the bivariate analysis is the Chi Square test. This research has received approval from the Health Research Ethics Commission number 193/EA/KEPK-FKM/202.Result: The result showed that 80% of respondents used health services at Puskesmas Martoba. The result of the Chi-square test indicated that those related to the utilization of health services are ownership of health insurance (p=0,000), accessibility (p=0,000), attitude of health workers (p=0,001), and individual health assessment (p=0,000). The unrelated factors are education (p=0,284), occupation (p=0,161), knowledge (p=0,108), and income (p=0,917). Conclusion: Utilization of health services at Puskesmas Martoba during the Covid-19 pandemic has a relationship with ownership of health insurance, accessibility of health services, attitude of health workers, and individual health assessment.Keywords: Utilization of Health Services; Ownership of Health Insurance; Accessibility; Attitude Of Health Workers; Individual Health Assessment; Covid-19 Pandemic
Arief Fadhilah, Chahya Kharin Herbawani
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Volume 21, pp 279-285; https://doi.org/10.14710/mkmi.21.4.279-285

Abstract:
Latar belakang: Seiring bertambahnya kebutuhan penggunaan laptop di era pandemi, semakin banyak orang yang memiliki keluhan mata lelah, mata kering, penglihatan kabur dan berujung kejadian Computer Vision Syndrome. CVS dapat dipengaruhi oleh durasi dan perilaku seseorang dalam penggunaan laptop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi dan perilaku dalam penggunaan laptop dengan kejadian Computer Vision Syndrom. Metode: Peneliti menggunakan platform Google Scholar dan menggunakan tahapan PRISMA. Artikel yang terpilih berasal dari rentang waktu 2013-2021 dan berasal dari Indonesia dan Brazil. Hasil: Didapatkan bahwa faktor dari durasi penggunaan laptop dan perilaku penggunaan laptop sangat berpengaruh signifikan dengan kejadian computer vision syndrome pada beberapa sampel penelitian yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian computer vision syndrome yaitu durasi penggunaan laptop dan perilaku dalam penggunaan laptop itu sendiri Simpulan: Diharapkan untuk pihak terkait atau seseorang lainnya yang menggunakan laptop dapat mematuhi aturan penggunaan durasi laptop yang seharusnya dan juga menerapkan pencegahan yang telah disarankan oleh AOA. Kata kunci:Computer Vision Syndrome; Durasi Penggunaan Laptop; Perilaku Penggunaan Laptop
ABSTRACTTitle: The Relationship between Duration and Behavior in Laptop Use with the Incidence of Computer Vision SyndromeBackground: Along with the increasing need for laptop use in the pandemic era, more and more people have complaints of tired eyes, dry eyes, blurred vision and the incidence of Computer Vision Syndrome. CVS can be influenced by the duration and behavior of a person in using a laptop. This research aim to analyze the correlation of duration and behavior of computer use with Computer Vision Syndrome.Methods: The researcher uses the Google Scholar platform and uses the PRISMA stage. The selected articles are from the 2013-2021 period and are from Indonesia and Brazil.Result: It was found that the factor of the duration of laptop use and laptop use behavior had a significant effect on the incidence of computer vision syndrome in several existing research samples. The factors that influence the incidence of computer vision syndrome are the duration of laptop use and behavior in using the laptop itself.Conclusion: It is hoped that related parties or someone else who uses a laptop can comply with the rules for using a laptop for the proper duration and also implement the precautions suggested by AOA.Keywords: Computer Vision Syndrome; Duration of Laptop Use; Laptop Usage Behavior
Back to Top Top