Jurnal Teologi Injili

Journal Information
EISSN: 2798303X
Total articles ≅ 15

Latest articles in this journal

Stevanus Parinussa, Fransiska Wahyu Fridawati
Jurnal Teologi Injili, Volume 2, pp 32-44; https://doi.org/10.55626/jti.v2i1.15

Abstract:
Memperhatikan dampak negatif perkembangan teknologi di era milenial membuat generasi saat ini memiliki interaksi komunikasi yang cenderung kurang baik. Selain etika komunikasi yang kurang dijaga tata kesopanannya, perkembangan teknologi juga turut menggerus nilai-nilai etis dan estetika dalam berbusana. Artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka. Tahap pertama, menentukan informasi atau sumber data dari berbagai literatur berupa buku, jurnal, naskah/artikel. Tahap kedua, dari hasil penelitian, peneliti menemukan cara untuk mengkonstruksi filosofi Jawa dalam etika komunikasi dan berbusana. Penelitian ini memiliki arti penting yaitu untuk menyoroti dan memahami aspek epistemologi, ontologi dan aksiologi dalam bingkai filosofi Jawa yang dipandang masih sangat relevan ditularkan kepada generasi milenial saat ini. Filosofi Jawa yang dimaksud yaitu: “Ajining diri saka lathi, Ajining raga saka busana”, artinya harga diri seseorang ditentukan oleh ucapan, kehormatan seseorang ditentukan oleh busana. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana filosofi Jawa dikontruksikan dengan menanamkan nilai etis agar generasi milenial bersikap sesuai tata krama bermakna baik dan sopan.
Samuel Manaransyah
Jurnal Teologi Injili, Volume 2, pp 45-59; https://doi.org/10.55626/jti.v2i1.18

Abstract:
Perubahan hendaknya tidak dipandang sebagai ancaman namun sebagai peluang untuk berinovasi, termasuk dalam berteologi dan praktek pelayanan Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana doktrin Kristen dapat memberi warna tersendiri bagi dunia yang terus berkembang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk melihat pengalaman di Era disrupsi tentang prilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Penulis menemukan dua hal yang bisa diefektifkan dari sekian banyak yang bisa dikembangkan seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin berkembang dan berenovasi: pertama, pemuridan merupakan wadah melengkapi orang-orang Kristen untuk menjadi orang-orang Kristen yang kuat yang tangguh, di tengah ‘ancaman’ dunia yang semakin hari semakin jahat. Kedua, konseling merupakan pelayanan yang vital era sekarang ini, era disrupsi yang identik dengan kompetisi dan persaingan tidak sedikit manusia mengalami depresi yang membutuhkan pendampingan dan pertolongan agar dapat menemukan solusi, dan era disrupsi pelayanan konseling mendapat wadah yang luas, konseling bisa dilakukan kapanpun dimanapun sekalipun terpisah dengan jarak secara geografis.
Roce Marsaulina
Jurnal Teologi Injili, Volume 2, pp 19-31; https://doi.org/10.55626/jti.v2i1.8

Abstract:
Covid-19 adalah penyakit pernapasan paling mematikan dan sangat menular. Peningkatannya mengglobal sehingga berdampak pada pengaruh psikologis, ekonomi, sosial, pendidikan, bahkan religiusitas manusia di dunia. Terkait pendidikan, ada ragam tantangan yang muncul di sana, salah satunya adalah tanggung jawab orang tua menghadapi pola Pendidikan di rumah yang menjadi tuntutan di masa pandemi covid-19. Terkait itu, tulisan ini merupakan suatu jawaban bahwa sebenarnya peran keluarga sangat penting di masa pandemi Covid-19. Secara Alkitabiah, dalam Perjanjian Lama, pentingnya peran keluarga dalam pendidikan tampak dalam Ulangan 6 sebagai sesuatu yang penting dan harus diaktualisasikan turun temurun. Demikian juga halnya dalam Perjanjian Baru, misalnya Timotius yang bertumbuh dalam pendidikan keluarga (2 Tim. 1:5; 3:15). Kesadaran inilah yang harus tetap dilestarikan pada masa pandemi Covid-19. Peran fungsional kepala keluarga di masa pandemi Covid-19 sangat diperlukan sebagai teladan dalam pendidikan, khususnya Pendidikan Kristen. Untuk tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode kualitatif deskriptif melalui proses pengumpulan literatur.
Leniwan Darmawati Gea, Deni, Sulianus Susanto
Jurnal Teologi Injili, Volume 2, pp 60-71; https://doi.org/10.55626/jti.v2i1.26

Abstract:
Fokus penelitian ini terkait denghan keberhasilan dan kegagalan pemimpin sering kali amat memengaruhi hidup manusia yang telah sedemikian terorganisir. Terkait itu maka penelitian ini bertujuan memotret faktor-faktor keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan, serta menyoroti implikasinya bagi pemimpin Kristen masa kini. Beberapa implikasi terkait topik yang diteliti adalah, implikasi teologis yang menekankan segi teologis kepemimpinan Kristen yang penting bagi seorang pemimpin; implikasi etis yang menekankan tentang segi etis seorang pemimpin yang berhasil; serta implikasi paedagogik yang juga merupakan segi penting untuk mendidik seorang pemimpin yang berhasil. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode library research dengan menyelidiki serta menganalisa literatur-literatur yang terkait erat dengan topik yang diteliti.
Sostenis Nggebu
Jurnal Teologi Injili, Volume 2, pp 1-18; https://doi.org/10.55626/jti.v2i1.14

Abstract:
Tujuan artikel ini untuk menjelaskan upaya preventif tindak korupsi menurut iman Kristen. Upaya ini sebagai bagian dari partisipasi kaum Kristen dalam menawarkan nilai-nilai iman yang bersumber dari Firman Allah tentang upaya mencegah terjadinya kasus korupsi. Rumusan pembahasannya memakai jasa metode deskriptif analitik. Hasilnya, memperlihatkan bahwa pencegahan korupsi dapat dimulai dengan tumbuh kembangnya nilai-nilai iman firman Allah, yang dianut kaut dalam batin orang Kristen; nilai itu akan menjadi piranti hakiki yang melindunginya dari godaan keduniawian. Orang Kristen yang dewasa dalam iman merupakan wakil Kristus di tengah dunia ini. Sehingga, dengan citra itu ia hadir mewakili Kristen di tengan masyarakat, sekalipun terbuka peluang untuk korupsi atau dipaksa korupsi, ia akan tetap berpegang teguh pada keyakinan dasarnya; ia memiliki piranti yang kokoh dalam iman Kristennya yakni hidup takut akan Kristus dan memuliakan-Nya.
Hengki Irawan Setia Budi
Jurnal Teologi Injili, Volume 1, pp 72-87; https://doi.org/10.55626/jti.v1i2.11

Abstract:
Generasi merupakan sekelompok orang yang memiliki kesamaan tahun kelahiran dalam kurun waktu tertentu, historis kehidupan tertentu yang berpengaruh secara signifikan pada fase pertumbuhan manusia. Pengelompokan generasi mulai dari generasi baby boomer sampai generasi Z dan bahkan pada abad 22 memasuki generasi Alfa, terjadi kesenjangan usia yang begitu tajam, kesenjangan penampilan dan gaya hidup, kesenjangan persepsi, kesenjangan pengalaman, kesenjangan perilaku dan tentunya kesenjangan komunikasi, ini yang kemudian disebut dengan gap generasi. Gap generasi ini rawan akan konflik. Penanganan kesenjangan yang kurang baik akan berakibat konflik. Konflik yang semakin tajam antar generasi ini akan berakibat output yang bersifat merusak. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana setiap generasi saling mengenal dan memahami, disertai pendekatan gaya komunikasi interpersonal yang efektif dengan harapan meminimalisir konflik. Adapun metode yang digunakan adalah penggabungan teknik wawancara, observasi lapangan dan observasi literatur yang disesuaikan dengan topik bahasan.
Samuel Agus Setiawan, Andrias Pujiono
Jurnal Teologi Injili, Volume 1, pp 102-110; https://doi.org/10.55626/jti.v1i2.10

Abstract:
Artikel ini berasal dari keprihatinan penulis terhadap pelayanan anak-anak sekolah minggu didalam gereja. Sampai saat ini banyak dari pelayan anak belum memahami pentingnya penerapan sebuah kurikulum yang baik dalam pelayanannya. Hal ini memberikan kesan bahwa pelayanan anak sekolah minggu seperti kurang diperhatikan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan masukan terhadap gereja dan para pelayanan anak sekolah minggu terkait pentingnya sebuah kurikulum dalam pelayanan anak sekolah minggu. Dalam proses penelitiannya tulisan ini akan mengkaji urgenitas penerapan kurikulum Pendidikan Agama Kristen dalam pelayanan anak sekolah minggu di gereja. Proses pengkajian dalam tulisan ini juga menggunakan sumber-sumber yang terpercaya baik buku, jurnal ilmiah dan referensi lainnya untuk mendukung tulisan ini. Melalui tulisan ini harapan penulis adalah timbulnya kesadaran bahwa anak-anak sekolah minggu juga memerlukan suatu kurikulum dalam proses belajar dan mengenal kebenaran Firman Tuhan dalam gereja.
Jannen Pangaribuan
Jurnal Teologi Injili, Volume 1, pp 111-121; https://doi.org/10.55626/jti.v1i2.9

Abstract:
Apakah masih relevan untuk membicarakan pilihan Allah atas Israel pada masa kini? Eksistensi Israel hingga masa kini selalu dikaitkan dengan statusnya sebagai bangsa pilihan Allah. Berkembang tiga pemahaman terhadap pilihan Allah atas Israel yang masing-masing memiliki konsekuensi teologis, yakni pertama dari sudut pandang teologi penggantian; kedua dari sudut pandang teologi pemisahan dan ketiga dari sudut pandang teologi sisa. Ketiga pandangan ini akan dikritisi dan diperbandingkan untuk melihat relevansi pilihan Allah atas Israel sebagai bangsa hingga pada masa kini. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian studi pustaka terhadap ketiga pandangan teologis terhadap pilihan atas bangsa Israel. Ditemukan bahwa pandangan teologi sisa memberi pemahaman yang lebih sesuai dengan konsep biblika terhadap pemilihan Allah atas Israel. Pandangan ini juga memberi arahan terhadap sikap yang tepat dalam hubungannya dengan konflik yang masih terus terjadi di Timur Tengah berkaitan dengan tanah Palestina.
Leniwan Darmawati Gea
Jurnal Teologi Injili, Volume 1, pp 61-71; https://doi.org/10.55626/jti.v1i2.12

Abstract:
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keberagaman etnis, budaya dan agama. Karena itulah Indonesia adalah bangsa yang bercorak multikultural. Dalam konteks yang demikian itulah Kekristenan hadir dan eksis dengan penuh ketegangan dan kontradiksi dalam mengupayakan tujuan bersama. Pihak-pihak lain pun berada dalam ketegangan yang serupa, namun ada yang berupaya menyeragamkan perbedaan tersebut dengan mengancam multikulturalitasnya. Dampaknya adalah radikalisme yang mendiskriminasi kaum minoritas dari berbagai sisi. Meskipun demikian, penyeragaman bukanlah cara kekristenan bereksistensi, sebab kekristenan sendiri berdimensi multikultural. Dimensi itulah yang menjadi penekanan Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20. Corak pendidikan yang ditekankan dalam teks tersebut penting, sebab bersinergi dengan konteks multikulturalitas bangsa Indonesia. Oleh karena itulah peneliti merujuk pada teks tersebut sebagai bahan penelitian, sekaligus sebagai salah satu upaya yang ditawarkan untuk merawat keberagaman melalui eksistensi pendidikan Kristen. Pokok pentingnya adalah bahwa, pendidikan Kristen harus berdimensi multikultural, dengan tujuan utamanya yaitu memuridkan dunia bagi Kristus. Untuk tujuan penelitian tersebut, maka peneliti menggunakan metode penelitian pustaka sebagai bahan kajian.
Sabda Budiman, Yabes Doma
Jurnal Teologi Injili, Volume 1, pp 88-101; https://doi.org/10.55626/jti.v1i2.13

Abstract:
Guna memahami konsep teologi Paulus, perlu sekali untuk mempelajari latar belakang kehidupannya. Melalui pemaparan tentang latar belakang kehidupan Paulus, dapat ditarik implikasi bagi pelayan Tuhan pada masa kini, baik yang aktif melayani di organisasi gereja, bidang misi, maupun di sekolah. bagaimana latar belakang kehidupan rasul Paulus dari sebelum dan sesudah ia bertobat? Apa dan bagaimana pelayanan rasul Paulus setelah ia bertobat dan bagaimana masa akhir hidupnya serta bagaimana implikasi dari latar belakang kehidupan dan pelayanan Paulus bagi pelayan Tuhan saat ini? Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif-deskriptif. Dalam pembahasannya, penulis memaparkan tentang latar belakang kehidupan Paulus yang mencakup masa kelahiran Paulus, masa remaja Paulus, keluarga Paulus (termasuk status pernikahan Paulus), dan pelayanan Paulus sebelum ia bertobat, kisah pertobatan Paulus, pelayanan Paulus yang mana perjalanan misinya. Implikasi latar belakang dan pelayanan rasul Paulus bagi pelayan Tuhan ialah pelayan Tuhan dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, memiliki kisah pertobatan yang jelas, menghidupi panggilan, serta memiliki visi pelayanan yang jelas dan terstruktur. Dengan demikian, latar belakang kehidupan Paulus tidak hanya sebagai pengantar bagi seseorang untuk memahami teologi Paulus, tetapi juga ada implikasi yang dapat diterapkan bagi pelayan Tuhan saat ini.
Back to Top Top