Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN: 28278240 / 28278070
Total articles ≅ 25

Latest articles in this journal

Elin Novia Sembiring, Suci Damayanti
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 244-230; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1855

Abstract:
The success of a research is largely determined by the design and methodology as well as understanding and capacity/capability of researchers and sponsors/business actors. In supporting innovation and downstreaming as well as the development of natural product medicines (OBA), assistance is carried out pro-actively from the early stages of product development. The Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) intensively provides assistance starting from the preparation and development of research protocols to its implementation, as well as increasing the understanding of researchers and business actors through webinars, technical guidance on Good Clinical Trials (CUKB) and workshops. This is done so that the clinical trials carried out are of good quality, so that valid, objective and credible data are produced that can be used to support the proof of the efficacy and safety aspects of a phytopharmaca product. Research on assisting OBA clinical trials during the COVID-19 pandemic is interesting to study. This study aims to analyze and describe the assistance of OBA clinical trials during the COVID-19 pandemic conducted by BPOM. This assistance is government support in an effort to downstream research into phytopharmaca. This research uses descriptive qualitative method. The method used in this study uses qualitative methods with a case study approach with a natural background. The research data is in the form of field notes from observations, interview results, and respondents' recordings. The results of the study concluded that the government, in this case BPOM, played an important role in assisting clinical trials of natural medicine as an effort to develop Indonesian OBA. ABSTRAK
Keberhasilan suatu riset sangat ditentukan oleh desain dan metodologi serta pemahaman dan kapasitas/kapabilitas peneliti dan sponsor/pelaku usaha. Dalam mendukung inovasi dan hilirisasi serta pengembangan obat bahan alam (OBA), pendampingan dilakukan secara pro aktif dan sejak tahapan awal pengembangan produk. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara intensif melakukan pendampingan mulai dari penyusunan dan pengembangan protokol penelitian hingga pelaksanaannya, juga peningkatan pemahaman peneliti dan pelaku usaha melalui webinar, bimtek Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) dan workshop. Hal ini dilakukan agar uji klinik yang dilakukan memiliki kualitas yang baik, sehingga dihasikan data yang valid, objektif dan kredibel yang dapat digunakan untuk mendukung pembuktian aspek khasiat dan keamanan suatu produk fitofarmaka. Penelitian tentang pendampingan uji klinik OBA pada masa pandemi COVID-19 menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan tentang pendampingan uji klinik OBA pada masa pandemi COVID-19 yang dilakukan oleh BPOM. Pendampingan ini merupakan dukungan pemerintah dalam upaya hilirisasi penelitian menjadi fitofarmaka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang berlatar natural. Data penelitian ini berupa catatatan lapangan hasil observasi, hasil wawancara, dan rekaman responden. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemerintah dalam hal ini BPOM berperan penting dalam pendampingan uji klinik obat bahan alam sebagai upaya pengembangan OBA Indonesia.
Erna Budiarti, Siti Rohmah, Kasiati Kasiati, Hikmah Pertiwi, Umilia Umilia
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 218-229; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1817

Abstract:
This journal is a research using a qualitative case study method which was carried out at Raudhatul Athfal Al Fata Pasir Agung, Bangun Purba District, Rokan Hulu Regency with the aim of increasing the understanding of parents and students about the importance of eating a balanced nutritious diet through eating together.Previously the teacher planned meal activities together by communicating them to parents during parenting activities, then explained the technical details via messages in the WhatsApp group, urged parents to provide their children with balanced nutritious food, the teacher monitored children's supplies before eating activities were carried out, asked children what provisions brought, and explained the benefits and content of the food brought by the child. Give rewards to children who bring balanced nutritious food and finish their food. Ask parents what difficulties and benefits are felt from carrying out eating together with a balanced nutritional diet. Assessing goal achievement, improving strategies and concluding joint eating activities can increase awareness of the importance of eating a balanced nutritious diet in children aged 5-6 years who are categorized as very well-developed.The results of observations on the introduction of balanced nutrition at the end of the 3rd cycle/meeting are as follows. 1) Children brought and finished the food they brought as provisions (side dishes, vegetables and fruit) which were categorized as very well-developed (BSB) as many as 13 people or 86.6% of 15 children. 2) Children mentioned types of nutritious food that were categorized as very well-developed (BSB) as many as 13 children or 86.6% of 15 people. 2) Children mentioned the benefits of food such as side dishes, vegetables and fruit for body health which were categorized as very well-developed (BSB) as many as 13 children or 86.6% of 15 children ABSTRAK
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif study kasus yang dilaksanakan di Raudhatul Athfal Al Fata Pasir Agung, Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu dengan tujuan Meningkatkan pemahaman orang tua dan murid tentang pentingnya makan makanan bergizi seimbang melalui kegiatan makan bersama. Sebelumnya guru merencanakan kegiatan makan bersama dengan mengkomunikasikannya kepada orang tua pada kegiatan parenting, kemudian menjelaskan detail teknisnya melalui pesan di grup whatsapp, menghimbau orang tua membekali anaknya dengan makanan yang bergizi seimbang, guru memantau bekal anak sebelum kegiatan makan dilaksanakan, menayakan kepada anak bekal apa yang dibawanya, dan menjelaskan manfaat dan kandungan dari makanan yang dibawa oleh anak. Memberi reward kepada anak yang membawa bekal makanan yang bergizi seimbang dan menghabiskan makanannya. Menanyakan ke orang tua apa kesulitan dan manfaat yang dirasakan dari pelaksanaan makan bersama dengan menu makanan begizi seimbang. Menilai ketercapaian tujuan, memperbaiki strategi dan menyimpulkan kegiatan makan bersama dapat meningkatkan kesadaran pentingnya makan makanan bergizi seimbang pada anak usia 5-6 tahun dikategorikan berkembang sangat baik. Adapun hasil observasi terhadap pengenalan gizi seimbang pada akhir siklus / pertemuan ke-3 adalah sebagai berikut. 1) Anak membawa dan menghabiskan makanan yang dibawanya sebagai bekal (lauk, sayur dan buah) yang dikategorikan berkembang sangat baik (BSB) sebanyak 13 orang atau sebesar 86,6% dari 15 anak . 2) Anak menyebutkan jenis-jenis makanan bergizi yang dikategorikan berkembang sangat baik (BSB) sebanyak 13 anak atau sebesar 86,6% dari 15 orang. 3) Anak menyebutkan manfaat makanan seperti lauk, sayur dan buah bagi kesehatan tubuh yang dikategorikan berkembang sangat baik (BSB) sebanyak 13 anak atau sebesar 86,6% dari 15 anak
Ikhsan Ibrahim, Suaib Suaib
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 212-217; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1781

Abstract:
Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia. One way to manage diabetes mellitus is to provide health education regarding diet planning. The diabetes mellitus diet requires adherence so that the diet can be consistent. The aim of the study was to determine the effect of health education on dietary adherence of clients with diabetes mellitus at Mitra Mankarra Mamuju General Hospital. The research design is pre and post test one group. The samples taken were 30 respondents with consecutive sampling. Statistical tests showed that clients who were obedient before being given health education were 4 clients (13%) after being given Health Education there was an increase of 19 Clients (63%). Based on the results of statistical tests, it shows that there is an effect with a significance level of 0.000 (p <0.05). This study found that Health Education had an effect on dietary adherence because by providing Health Education the client's knowledge increased so that awareness to comply with diets could increase ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik ditandai dengan hiperglikemia. Penatalaksanaan diabetes melitus salah satunya dengan memberikan Pendidikan Kesehatan mengenai perencanaan diet. Diet diabetes melitus dibutuhkan kepatuhan agar diet dapat konsisten. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap kepatuhan diet klien diebetes melitus di RSU Mitra Mankarra Mamuju. Desain penelitian adalah pre and post test one group. Sampel yang diambil sejumlah 30 responden dengan consecutive sampling. Uji statistik menunjukkan klien yang patuh sebelum diberikan pendidikan kesehatan sejumlah 4 klien (13%) setelah diberikan Pendidikan Kesehatan , mengalami peningkatan sebanyak 19 Klien (63%). Berdasarkan hasil uji statistik, menunjukkan bahwa ada pengaruh dengan tingkat signifikasi 0,000 (p<0,05). Penelitian ini diketahui Pendidikan Kesehatan berpengaruh terhadap kepatuhan diet karena dengan diberikan Pendidikan Kesehatan pengetahuan klien bertambah sehingga kesadaran untuk patuh terhadap diet dapat meningkat
Tita Fitriana Sukmawati
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 202-211; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1718

Abstract:
The Covid-19 pandemic has affected all aspects of human life, including the health of groups of people with co-morbidities such as diabetes mellitus. According to data from the Ministry of Health (2020) the most patients who have died have contributed to diabetes mellitus. This requires preventive action and treatment in terms of diet and dietary intake of nutrients for patients. One alternative solution that can be done is to fulfill the intake of carbohydrates to replace rice into easily digestible fiber, which comes from tubers or taro. Satoimo tubers have been widely planted by the community but have not been massively developed into healthy food products for people with diabetes mellitus as an effort to control spikes in blood sugar levels and the transmission of Covid-19. This study developed quality standards for the characteristics of satoimo tuber flour and ready-to-eat cereals with a low glycemic index that are safe for consumption. This research is a qualitative research conducted in the chemistry laboratory of SMA N 1 Kembangbahu Lamongan then tested for ash content and total sugar test at BARISTAND Surabaya. The processing of satoimo tubers into satoimo taro flour goes through several stages, namely, peeling, slicing, soaking, blanching, bleaching, drying, milling, sifting. Test the ash content of satoimo flour at 0.20% so it is suitable for consumption. The use of satoimo tuber flour which is dominant in food ingredients makes the total sugar content of A1 cereal 2.98% lower so it is highly recommended for people with diabetes mellitus as a substitute for carbohydrates that are low in sugar and low on the glycemic index. ABSTRAK
Masa pandemi Covid-19 mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali kesehatan kelompok mayarakat dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti penderita diabetes melitus. Menurut data Kemenkes (2020) pasien terbanyak dan mengalami kematian banyak disumbang oleh penderita diabetes melitus. Hal tersebut perlu tindakan preventif dan perawatan dalam segi pola makan dan asupan diet nutrisi bagi pasien. Salah satu solusi alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan pemenuhan asupan karbohidrat pengganti beras menjadi serat yang mudah dicerna yaitu berasal dari umbi atau talas. Umbi satoimo sudah banyak ditanam oleh masyarakat namun belum dikembangkan secara masif menjadi produk pangan sehat untuk penderita diabetes melitus sebagai upaya menjaga lonjakan kadar gula dalam darah serta penularan Covid-19. Penelitian ini mengembangkan baku mutu karakteristik produk tepung umbi satoimo serta sereal siap santap rendah indeks glikemik yang aman dikonsumsi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan di laboratorium kimia SMA N 1 Kembangbahu Lamongan kemudian uji kadar abu dan uji gula total di BARISTAND Surabaya. Pengolahan umbi satoimo menjadi tepung talas satoimo melalui beberapa tahapan yaitu, pengupasan, pengirisan, perendaman, blanching, bleaching, pengeringan, penggilingan, pengayakan. Uji kadar abu tepung satoimo sebesar 0,20% sehingga layak untuk dikonsumsi. Penggunaan tepung umbi satoimo yang dominan pada bahan makanan menjadikan kadar gula total sereal A1 2,98% lebih rendah sehingga sangat direkomendasikan bagi penderita diabetes melitus sebagai pengganti karbohidrat yang rendah gula dan rendah indeks glikemik.
Umu Chabibah Hemi Ristiana, Kiswati Kiswati, Eny Sendra, Ririn Indriani
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 192-201; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1706

Abstract:
The global rate of teenage pregnancy is still high, at 41/1000 women. In Indonesia, approximately 7% of women aged 15 - 19 have given birth or are currently pregnant with their first child. It has impact on the low rate (48,8%) of exclusive breastfeeding among mothers aged under 20 years. That is possibly related to several factors. The purpose of this research was to determine the factors associated with exclusive breastfeeding of mothers aged under 20 years. This research used a traditional review design to conducted a literature review which the literature is scientific articles, both national and international, that are relevant to the research topic. The articles were found using the keywords ("exclusive breastfeeding" AND ("adolescent mother" OR "teenage mother") in the PubMed and Google Scholar databases. Selected articles based on the PEOS framework and research criteria, then compared and contrasted for analysis. From analysis was found that 3 articles mention the lack knowledge of mothers, two of which are in line with the low rate of exclusive breastfeeding. Ten articles showed about family support with mostly supporting exclusive breastfeeding. Two out of 3 articles explained the lack of support from health workers for mothers and the other one did not provide support for exclusive breastfeeding. The results indicated that maternal knowledge, family support, and health workers support were related to exclusive breastfeeding among mothers aged under 20 years. Knowledge and support from families and health workers to mothers aged under 20 years contribute importantly in influencing exclusive breastfeeding. ABSTRAK
Secara global, angka kehamilan pada usia remaja masih tinggi yaitu 41/1000 perempuan. Sekitar 7% perempuan usia 15-19 tahun di Indonesia sudah pernah melahirkan atau sedang hamil anak pertama. Hal tersebut berdampak pada praktik pemberian ASI eksklusif oleh ibu usia di bawah 20 tahun yang dinilai masih rendah yaitu sebesar 48,8% ibu yang memberikan ASI eksklusif. Kondisi tersebut diasumsikan berhubungan dengan beberapa faktor. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu usia di bawah 20 tahun. Jenis penelitian ini yaitu studi literatur dengan desain traditionalreview dimana literatur yang di-review merupakan artikel ilmiah, baik nasional maupun internasional, yang sesuai dengan topik penelitian. Artikel diperoleh dari database PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan keywords (“exclusive breastfeeding” AND (“adolescent mother” OR “teenage mother”)). Penyeleksian artikel dilakukan sesuai dengan PEOS framework dan kriteria penelitian, kemudian dianalisis dengan cara compare dan contrast. Hasil analisis ditemukan sebanyak 3 artikel menyebutkan kurangnya pengetahuan ibu, dua di antaranya sejalan dengan rendahnya ASI eksklusif. Sepuluh artikel membahas mengenai dukungan keluarga dengan dukungan yang sebagian besar mendukung pemberian ASI eksklusif. Dua dari 3 artikel menjelaskan kurangnya dukungan tenaga kesehatan pada ibu dan satu lainnya tidak diberikannya dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian data yang diambil dari Oktober 2016 sampai Juni 2022 menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu usia di bawah 20 tahun. Kesimpulan diperoleh bahwa pengetahuan dan dukungan dari keluarga serta tenaga kesehatan pada ibu usia di bawah 20 tahun berperan penting dalam mempengaruhi praktik pemberian ASI eksklusif.
Yustina Dewi Anggraini, Rahajeng Siti Nur Rahmawati, Ririn Indriani, Eny Sendra
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 176-191; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i4.1674

Abstract:
In Indonesia, the incidence of breast milk retention in postpartum mothers has increased to 10% -20% of the population of postpartum mothers. In Indonesia every year the number of breast milk sufferers in Indonesia is around 2.3 million of the total postpartum mothers. Postpartum mothers who experience breast engorgement can interfere with the breastfeeding process and if not treated immediately will result in mastitis and breast abscess. One way to deal with breast dams is by compressing herbal ingredients. The purpose of this study was to determine the effectiveness of herbal ingredients to treat breast dams. This research method is a literature study or search of previous journal articles and then adjusted to the inclusion and exclusion criteria. This study uses journal articles published in the last five years. The reviewed articles were obtained from the Google Scholar and Research Gate databases. The journal review technique uses Compare and Contrast, namely by looking for similarities and differences from the journals that have been found, then the researcher draws conclusions according to the researcher's specific goals. Results of 10 journal articles reviewed (5 cabbage compress articles, 3 aloe vera compress articles and 2 ginger compress articles). The results of the review show that there is an influence of herbal ingredients to overcome breast dams. Cabbage herbal ingredients are antibiotic, while aloe vera and ginger herbs contain active substances that are anti-inflammatory which can relieve pain and inflammation in the breasts. In conclusion, giving compresses with herbal ingredients is effective for dealing with breast dams. ABSTRAKDi Indonesia tingkat kejadian bendungan ASI pada ibu nifas naik menjadi 10%-20% dari populasi ibu nifas. Di Indonesia setiap tahun jumlah penderita bendungan ASI di Indonesia berkisar 2,3 juta dari total ibu nifas. Ibu nifas yang mengalami bendungan payudara dapat menganggu proses menyusui dan jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan mastitis dan abses payudara. Salah satu cara untuk mengatasi bendungan payudara adalah dengan kompres bahan herbal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas bahan herbal untuk mengatasi bendungan payudara. Metode penelitian ini merupakan penelitian studi literatur atau penelusuran artikel jurnal terdahulu kemudian disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan artikel jurnal publikasi lima tahun terakhir. Artikel yang direview diperoleh dari database Google Schoolar dan Research Gate. Teknik review jurnal menggunakan Compare dan Contrast yaitu dengan mencari suatu kesamaan dan perbedaan dari jurnal yang telah ditemukan kemudian peneliti menarik kesimpulan sesuai dengan tujuan khusus peneliti. Hasil dari 10 artikel Jurnal yang di review (5 artikel kompres kubis, 3 artikel kompres lidah buaya dan 2 artikel kompres jahe). Hasil review menunjukkan terdapat pengaruh bahan herbal untuk mengatasi bendungan payudara. Bahan herbal kubis bersifat antibiotic, sedangkan herbal lidah buaya dan jahe mengandung zat aktif yang bersifat anti inflamasi yang dapat meredakan rasa nyeri dan peradangan pada payudara. Kesimpulan pemberian kompres dengan bahan herbal efektif untuk mengatasi bendungan payudara.
Bambang Setiaji, P.A. Kodrat Pramudho
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 166-175; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i3.1649

Abstract:
In making policy recommendations in the health sector, valid data or information is needed so that the recommendations conveyed are truly in accordance with the facts on the ground. The recommendations developed do not have to go through lengthy research so that it requires large resources. This can be done quickly through searching data and journals by utilizing information technology. The purpose of this study is to provide information, especially to policy recommendation makers to be able to utilize data-based technology and journals in making policy recommendations in the health sector. The methodology used in this study is through literature searches and various reviews from various sources related to the substance of this study. The findings of this study are the obtaining of information related to how to use data-based information technology and journals for policy recommendations in the health sector. This study only explores data and information through secondary data searches. This study is useful in developing policy recommendations in the health sector effectively and efficiently through the use of data-based information technology and journals. ABSTRAKDalam membuat rekomendasi kebijakan di bidang kesehatan dibutuhkan data atau informasi yang valid sehingga rekomendasi yang di sampaikan benar-benar sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Rekomendasi yang dikembangkan tidak harus melalui penelitian yang panjang sehingga memerlukan sumber daya yang besar. Bisa dilakukan secara cepat melalui penelusuran data dan jurnal dengan memanfaatkan teknologi informasi. Tujuan dari studi ini adalah memberikan informasi khususnya kepada para pembuat rekomendasi kebijakan untuk dapat memanfaatkan teknologi berbasis data dan jurnal dalam membuat rekomendasi kebijakan bidang kesehatan. Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah melalui penelusuran kepustakaan dan berbagai review dari berbagai sumber terkait substansi dari studi ini. Adapun temuan dari studi ini adalah diperolehnya informasi terkait bagaimana memanfaatkan teknologi informasi berbasis data dan jurnal untuk rekomendasi kebjakan bidang kesehatan. Studi ini hanya menggali data dan informasi melalui penelusuran data sekunder. Studi ini bermanfaat dalam mengembangkan rekomendasi kebijakan di bidang kesehatan secara efektif dan efisien melalui pemanfaatan teknologi informasi berbasis data dan jurnal.
Nuramalia Nuramalia
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 158-165; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i3.1515

Abstract:
Educational media is a very important component as a means of interaction, one of which is audio-visual media. Health education through the audio-visual media Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) is expected to be able to increase comprehensive knowledge about HIV and AIDS. This study aims to determine the effect of ABAT audio-visual media on HIV and AIDS knowledge of school adolescents in Makassar City. The research design used a quasi-experimental approach with The Nonequivalent Control Group Design. Sampling using random sampling technique, as many as 96 teenagers. The results showed that most of the respondents were in the age group of 17 years (49%), female (52%), grade 12 (51%). Based on the results of the Mann-Whitney U Test, it showed that there were differences in attitudes after the ABAT audio-visual media playback intervention was performed with the frequency of playback three times and once in the intervention group and the control group (p=0.05). Conclusion: there is a significant difference in adolescent attitudes about HIV and AIDS after the intervention. ABAT audio-visual media with three times the frequency of playback is more effective than once. Several comparisons of extension media are needed to better understand the effectiveness of a media. ABSTRAK
Media pendidikan merupakan komponen yang sangat penting sebagai sarana interaksi, salah satunya adalah media audio visual. Pendidikan kesehatan melalui media audio visual Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan secara komprehensif tentang HIV dan AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media audio visual ABAT terhadap pengetahuan HIV dan AIDS remaja sekolah di Kota Makassar. Desain penelitian menggunakan pendekatan quasy eksperimen dengan rancangan The Nonequivalent Control Group Design. Penarikan sampel menggunakan teknik random sampling, sebanyak 96 remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok umur 17 tahun (49%), berjenis kelamin perempuan (52%), tingkatan kelas 12 (51%). Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U Test menunjukkan ada perbedaan sikap setelah dilakukan intervensi pemutaran media audio visual ABAT dengan frekuensi pemutaran sebanyak tiga kali dan satu kali pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,05). Kesimpulan: ada perbedaan yang bermakna pada sikap remaja tentang HIV dan AIDS setelah dilakukan intervensi. Media audio visual ABAT dengan frekuensi pemutaran sebanyak tiga kali lebih efektif dibanding satu kali Diperlukan beberapa perbandingan media penyuluhan agar lebih mengetahui tingkat keefektifan suatu media.
Marina Marina, Hotmaria Julia, Yusnaini Siagian, Liza Wati
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 148-157; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i3.1487

Abstract:
Hypertension is a disease that cannot be cured but can be controlled. Non-pharmacological therapy is used to lower blood pressure, one of the non-pharmacological therapies is using Mozart classical music therapy. Listening to music with a slow rhythm will reduce the release of catecholamines into the blood vessels, so that the concentration of catecholamines in plasma is low. This study aims to determine the effect of Mozart classical music therapy on blood pressure of hypertensive patients in Sungai Enam Kijang Village. The research design was pre-experimental design with one group pretest-posttest design. The number of samples is 20 respondents with purposive sampling technique. Data collection tools using observation sheets and blood pressure measuring devices. Data analysis used the Wilcoxon sign rank test with a significance of 0.05. The results showed that blood pressure before being given Mozart classical music therapy showed a mild category as many as 14 people (70%), while after giving Mozart classical music therapy was normal 3 respondents (21.4%), high normal 3 respondents (21.4%). , mild 7 respondents (50%), moderate 1 respondent (7.1%). Blood pressure before being given Mozart classical music therapy showed a moderate category of 4 respondents (20%), after being given Mozart classical music therapy it became mild 3 respondents (21.4%) and 1 respondent (7.1%). The results of the Wilcoxon sign rank test, p value = 0.008 (?0.05), that there is an effect of Mozart classical music therapy on the blood pressure of hypertension sufferers in Sungai Enam Kijang Village. It is hoped that health workers will be able to optimize classical music therapy as a complementary therapy to reduce blood pressure in patients with hypertension by playing classical songs in the patient's waiting room ABSTRAK
Hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Terapi non farmakologi yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah, salah satu terapi non farmakologi yaitu menggunakan terapi musik klasik mozart. Mendengarkan musik dengan irama lambat akan mengurangi pelepasan katekolamin kedalam pembuluh darah, sehingga konsentrasi katekolamin dalam plasma menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik mozart terhadap tekanan darah penderita hipertensi di Kelurahan Sungai Enam Kijang. Desain penelitian preeksperimental design dengan one gruppretest-posttest desain. Jumlah sampel 20 responden dengan teknik purposive sampling. Alat pengumpul data dengan menggunakan lembar observasi dan alat ukur tekanan darah. Analisa data menggunakan wilcoxon  sign rank test dengan signifikansi ?0,05. Hasil penelitian menunjukkan tekanan darah sebelum diberikan terapi musik klasik mozart menunjukkan kategori ringan sebanyak 14 orang (70%), sedangkan sesudah siberikan terapi musik klasik mozart adalah normal 3 responden (21,4%), normal tinggi 3 responden (21,4%), ringan 7 responden (50%), sedang 1 responden (7,1%). Tekanan darah sebelum diberikan terapi musik klasik mozart yang menunjukkan kategori sedang 4 responden (20%), sesudah diberikan terapi musik klasik mozart menjadi ringan 3 responden (75%) dan sedang 1 responden (25%). Hasil uji wilcoxon  sign rank test nilai p value = 0,008 (?0,05), bahwa ada pengaruh terapi musik klasik mozart terhadap tekanan darah penderita hipertensi di Kelurahan Sungai Enam Kijang. Diharapkan petugas kesehatan mampu mengoptimalkan terapi musik klasik sebagai salah satu terapi komplementer untuk mengatasi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan cara memutar lagu-lagu klasik di ruang tunggu pasien
Tiurlan Mariasima Doloksaribu
Healthy : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Volume 1, pp 132-141; https://doi.org/10.51878/healthy.v1i3.1427

Abstract:
Babies born weighing <2,500 grams are called LBW, the risk of causing death is 20 times higher than normal birth weight babies. Maternal factors, pregnancy factors, fetal factors, placental factors, and environmental factors are risk factors for LBW. The purpose of the study was to determine the dominant factor causing the occurrence of LBW in the perinatology room of RSUD Dr. Pirngadi Medan. This research is descriptive with a cross sectional approach. The population, namely mothers who gave birth to LBW as many as 117 people from January-December 2020, a sample of 32 respondents was taken by consecutive sampling. The results showed that the risk factors for the incidence of LBW were 46.9% age Rp. 1-5 million/month as many as 53.1%, mothers without drinking alcohol and smoking habits as much as 84.4%, mothers experiencing antepartum bleeding as much as 65.6%, maternal intervals <1 and 1 year each 50.0 %, maternal gestational age <37 weeks as much as 53.1%, not gemelli as much as 78.1%, not exposed to infection 100%, premature rupture of membranes as much as 53.1%), no hydramion, living in highland areas as much as 81 ,2%. It was concluded that the highest risk factors for the incidence of LBW were maternal age at pregnancy <20 years, mothers with a history of anemia and hypertension, primiparas, antepartum bleeding and pregnancy <37 weeks. It is recommended that adolescents maintain their health, especially their reproductive health and delay the age of marriage until the age of 20 years to reduce the risk of low birth weight. ABSTRAK
Berat bayi lahir <2.500 gram disebut BBLR, beresiko menyebabkan kematian 20 kali lebih tinggi dibanding bayi berat lahir normal. Faktor ibu, faktor kehamilan, faktor janin, faktor plasenta, dan faktor lingkungan merupakan faktor resiko terjadinya BBLR. Tujuan penelitian mengetahui faktor dominan penyebab terjadinya BBLR di ruang perinatologi RSUD Dr. Pirngadi Medan. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu ibu yang melahirkan BBLR sebanyak 117 orang dari bulan Januari-Desember 2020, sampel sebanyak 32 responden diambil secara consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan faktor resiko terhadap kejadian BBLR adalah faktor umur Rp. 1-5 juta/bulan sebanyak 53,1%, ibu tanpa kebiasaan minum alkohol dan merokok sebanyak 84,4%, ibu mengalami perdarahan antepartum sebanyak 65,6%, jarak kehamilan ibu <1 dan ?1 tahun masing-masing 50,0%, usia kehamilan ibu <37 minggu sebanyak 53,1%, tidak gemelli sebanyak 78,1%, tidak terkena infeksi 100%, ketuban pecah dini sebanyak 53,1%), tidak ada hidramion, bertempat tinggal di daerah dataran tinggi sebanyak 81,2%. Disimpulkan bahwa faktor resiko tertinggi penyebab kejadian BBLR yaitu usia ibu saat hamil <20 tahun, ibu memiliki riwayat penyakit anemia dan hipertensi, primípara, perdarahan antepartum dan kehamilan <37 minggu. Disarankan agar remaja memelihara kesehatan terutama kesehatan reproduksinya dan menunda usia pernikahan sampai usia ?20 tahun untuk menurunkan resiko terjadinya BBLR.
Back to Top Top