Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy

Journal Information
ISSN / EISSN: 27758362 / 2797779X
Total articles ≅ 28

Latest articles in this journal

Nur Laila
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 199-214; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.5443

Abstract:
Psikosufistik sebenarnya sebagai kajian psikologis terhadap pemahaman sufistik yang di definisikan sebagai suatu ilmu tentang tingkah laku manusia yang konsep-konsepnya dibangun atas dasar paradigma tasawuf yang berbasis al-Qur’an dan hadist. Psikosufistik selalu mengedepankan pengembangan pontensi bathin ke arah kesadaran psikologi untuk senantiasa dekat dengan-Nya. Tasawuf dan psikologi memiliki persamaan, yakni keduanya sama-sama menangani permasalahan kejiwaan. Sejak adanya Islam, tasawuf selalu fokus pada perbaikan jiwa seseorang guna mencapai perilaku yang lebih mulia dan ketentraman hidup. Oleh karenanya tasawuf memiliki konsep sifat-sifat kejiwaan, seperti khauf, mahabbah, ridha, zikir, zuhud, dan lain sebagainya. Hal ini juga dilakukan oleh Keluarga Besar Ruqyah Aswaja Pusat Grobogan Purwodadi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep ruqyah sebagai psikosufistik dan bentuk-bentuk psikosufistik yang di lakukan oleh keluarga besar ruqyah Aswaja Pusat Grobogan Purwodadi Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif field research (penelitian Lapangan) yang berusaha menggali informasi untuk memperoleh pemahaman dan analisis yang lengkap, yang di dukung dengan berbagai macam sumber baik berupa buku, makalah maupun penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Dengan menggunakan metode antropologi budaya peneliti akan fokus pada studi kasus dengan mempelajari interaksi dan cara hidup manusia dalam masyarakat.
Ulviana
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 183-198; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.5788

Abstract:
Dalam kehidupan sosial, manusia tidak luput dengan kelompok sosialnya, entah dalam sudut pandang budaya, agama, atau aliran-aliran tertentu yang ideologinya sama. Dari keberagaman tersebut, mereka membutuhkan kebijakan yang cocok untuk semua kalangan, seperti kebijakan Kementrian Agama RI yang menerapkan misi moderasi beragama. Berangkat dari pertanyaan, moderasi beragama yang bagaimanakah yang dimaksud Kementrian Agama RI?. Hal ini membuat konsep moderasi beragama yang dikolerasikan dengan konsep manunggaling kawulo Gusti Syekh Siti Jenar sangat penting sekali dalam kehidupan manusia. Karena hal itu menunjukkan bahwa nilai tasawuf dalam konsep manunggaling kawulo Gusti Syekh Siti Jenar akan ikut eksis dengan dunia moderasi beragama atau tidak. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya dilakukan secara dokumentasi, kemudian menganalisis data dengan analisis isi. Data di dapat dari literatur yang relevan dengan ajaran manunggaling kawula Gusti Syekh Siti Jenar. Dari penelitian ini menyimpulkan moderasi beragama yang dicanangkan Kementrian Agama RI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep manunggaling kawula Gusti dari Syekh Siti Jenar dilihat dari implementasi keduanya, terutama pada prinsip adil dan seimbang.
Ahmed Zaranggi Ar Ridho, Safira Malia Hayati
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 167-182; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6031

Abstract:
Penafsiran dalam kajian sufistik sering kali dilakukan secara parsial dengan hanya menggunakan pendekatan tasawuf praktis saja sehingga tidak menghasilkan pemahaman konsep zikir yang komprehensif. Tafsir karya Mulla Ṣadrā memiliki kajian yang menarik, yakni corak falsafi teoritis dan praktis sehingga mampu membaca ayat-ayat tentang konsep zikir dengan komprehensif. Mullā Ṣadrā dalam tafsir Al-Qur’ān Al-Karīm menawarkan konsep zikir sufistik yang mempertimbangkan aspek tasawuf teoritis dengan hermeneutika wujūdī. Hermeneutika ini menawarkan pembacaan komprehensif yang melibatkan tiga komponen penting yaitu tekstual, intelektual dan spiritual. Sehingga menghasilkan interpretasi yang holistik tentang zikir dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna konsep zikir perspektif Ṣadrā secara lebih komprehensif. Untuk mencapai tujuan tersebut artikel ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Artikel ini menunjukkan tiga konsep penting dalam zikir sufistik perspektif Ṣadrā. Pertama, zikir sufistik harus melibatkan zikir lahir dan batin. Kedua, terdapat enam tingkatan zikir sufistik yang meliputi żikr lisān, żikr jawārih wal arkān, żikr nafs, żikr qalb, żikr rūh dan żikr sirr yang didasarkan pada gradasi wujud (tasykīk al-wujūd). Ketiga, terdapat tiga keadaan seorang penzikir hakiki (ahwāl aż-żākir al-haqīqī) yang didasarkan pada teori kesatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui (Ittiḥād al-āqil wa al-ma’qūl). Tiga konsep kunci ini menggambarkan keutuhan żikr dalam penafsiran Ṣadrā yang memadukan antara tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.
Faiz Badridduja, Lanjar Mustikaningwang, Ahmad Fasya Alfayyadl, Subaidi
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 107-120; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.5663

Abstract:
This article tries to reveal and describe one of the many ways to get closer to Allah Swt., namely through a less common path; the art of dance. This way is considered unique because the combination of dance is accompanied by dhikr and beautiful things are heard in the ears of the salik when the ritual occurs, salik here is also a special dancer who has received a mandate from the mursyid. In addition, the "taqarrub" effort is collaborated with transpersonal psychology where the Sufi Maulawiyyah dance is considered a spiritual experience in order to gain His pleasure. The research method used in this article is to use the library research method or library research, whether it comes from books or scientific journals that have a relationship or relationship in the main discussion of this research, while the type or nature in writing this article is descriptive analysis with an analytical approach. theoretical normative. Based on the findings here, the results of the discussion are considered capable of accommodating the Sufis, especially those who are of the Maulawiyyah sect who came from Turkiye and then spread to various countries including Indonesia, besides that this also proves that in classical Islam they are able to adapt or integrate with the development of the times, especially the development of the art world so as to add and complete insight into intellectual property and social sciences.
Muhammad Nafi, Fitri Tiara Mulyani, Fitria Nur Afifah
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 121-136; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6728

Abstract:
Self-knowledge is a successful understanding of important things about oneself which helps in efforts to build a good and positive attitude towards oneself, to accept and develop oneself. The main attention is directed to the introduction of personality, recognition of self-potential and being able to map oneself regarding one's own strengths and weaknesses. The understanding of self-knowledge can be found in many perspectives, this time it will be discussed according to Al Ghazali's view from an Islamic point of view, and from a psychological perspective, namely Sigmund Freud, both of whom have something in common with their thoughts. The purpose of this research is to know the concept of ma'rifatun nafs and self-knowledge according to Al-Ghazali and Sigmund Freud, both of whom are figures of psychology from Eastern and Western cultures who have different characteristics. This type of research is library research with primary and secondary data collection methods and documentation. Data analysis used qualitative analysis. The results of the study stated that ma'rifatun nafs according to Al Ghazali includes three human characteristics, namely shifatul baha'im, shifatusy syayathin, and shifatul malaikah. Meanwhile, according to Sigmund Freud, self-knowledge by understanding one's psychological processes includes the conscious, preconscious, and unconscious levels. Ways to know yourself include self-introspection, knowing your outer self, knowing your inner self, always remembering the purpose of creation, monitoring yourself and asking for the opinions of others.
Izza Himawanti
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 137-152; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6537

Abstract:
Mahasiswa sering kali dihadapkan oleh berbagai stressor baik internal maupun eksternal, antara lain seperti konflik tengan teman, keluarga, kekasih, masalah keuangan, kesulitan mengatur waktu, tugas-tugas akademik, kesehatan, gambaran tubuh yang tidak ideal, transportasi, dan lain sebagainya. Stressor inilah yang akan menjadi penyebab tingginya tingkat stres pada mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi menulis sebagai media muhasabah dalam menurunkan tingkat stres pada mahasiswa. Terapi menulis dilakukan selama lima hari berturut-turut, dengan menggunakan indikator muhasabah dan teknik-teknik terapi menulis secara psikologis. Metode penelitian pre-experimental, dengan pre and post-test one group design. Variabel terikat pada penelitian ini adalah tingkat stres pada mahasiswa, sedangkan variabel bebas merupakan perlakukan yang diberikan yaitu terapi menulis sebagai media muhasabah. Subjek penelitian berjumlah 88 mahasiswa, dengan kriteria mahasiswa aktif UIN KH. Abdurrahman Wahid, telah mengalami pembelajaran online dan offline dan bersedia pro aktif mengikuti seluruh rangkaian terapi, subjek dipilih dengan cluster random sampling. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan skala stres dan uji hipotesis menggunakan uji-t, berdasarkan hasil uji statistik parametrik uji-t seperti diperoleh signifikansi uji-t sebesar 0,001 dimana lebih kecil dari 0,05. Maka, hal ini menunjukkan bahwa melalui terapi menulis sebagai media muhasabah dapat memberikan pengaruh positif terhadap penurunan tingkat stres mahasiswa.
Adib Aunillah Fasya
Published: 30 November 2022
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 153-166; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i2.6723

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan konsep tasawuf yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali. Dalam dunia Islam, Imam al-Ghazali dikenal sebagai salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dunia tasawuf. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Sumber data diambil dari buku, jurnal, artikel, dan referensi lain yang berkaitan. Hasil dari penelitian ini adalah konsep tasawuf dari Imam Al-Ghazali bermakna keikhlasan kepada Allah dan pergaulan yang baik dengan sesama manusia. Tasawuf mengandung dua unsur. Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia. Kedua, hubungan itu didasarkan pada moralitas. Hubungan dengan Allah didasarkan pada keikhlasan (ketulusan niat), yang ditandai dengan meniadakan kepentingan diri dari pemenuhan perintah Allah. Kemudian, ketika hubungan manusia didasarkan pada etika sosial maka salah satu yang dilakukan adalah menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi selama kepentingan tersebut tidak bertentangan dengan hukum Syariah. Karena menurut Imam Al-Ghazali, siapapun yang menyimpang dari syariat bukanlah seorang sufi. Jika dia mengaku sebagai sufi, klaimnya adalah dusta. Imam al-Ghazali menyentuh tiga masalah tasawuf, yakni merebut kembali disiplin tasawuf dari unsur-unsur spiritual yang jauh tidak terkait dengan ajaran Islam sehingga tasawuf pada akhirnya sesuai dengan hukum Islam, mensintesakan moderasi dan keseimbangan antara nilai-nilai fiqih (syariah) dan tasawuf yang sebelumnya kontradiktif, dan melanjutkan kontribusi sebelumnya yakni berhasil menetapkan tasawuf sebagai aspek spiritual doktrin Islam, di mana itu diterima secara luas oleh komunitas Muslim. Konsep dan pengaruh al-Ghazal tersebar luas di komunitas Muslim Sunni di Timur Tengah dan di berbagai negara termasuk Indonesia.
Miftahul Ula, Faliqul Isbah
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 89-106; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i1.6001

Abstract:
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang gagasan batin atau spiritualitas, sedangkan ilmu nahwu merupakan ilmu yang membahas tentang bagaimana cara untuk bisa berkomunikasi verbal dengan baik. Kedua aspek tersebut harus seimbang dan sejalan pada diri manusia. Salah satu tokoh yang membahas hal ini adalah Ibn ‘Ajibah dalam karya nya yang berjudul al-Futuhat al-Quddusiyyah. Artikel ini berusaha mengungkap dimensi tasawuf dari makna-makna simbolik yang tertuang dalam ilmu Nahwu. Makna simbolik yang terdapat pada kaidah-kaidah nahwu di kitab al-Futuhat al-Quddusiyyah dari perspektif tasawuf adalah bahwa dalam pengajaran nahwu menurut Ibn ‘Ajibah memiliki makna yang dalam kaitannya dengan tasawuf. nahwu yang bersifat ilmu lahir sebenarnya juga memiliki makna batin, seyogyanya manusia memahami dua hal tersebut sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam kehidupan. Pandangan tasawuf yang ada pada kitab ini mengerucut menjadi tiga tahapan yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli adalah makna simbolik fiil (kerja) sebagai sesuatu yang progresif, usaha keras untuk menghilangkan segala hambatan yang menghalangi untuk bisa mencapai makrifat kepada Allah. Tahalli adalah makna simbolik dari jazm, bermakna teguh, sabar dan konsisten menjalani mujahadah dan melawan rintangan. Makna tajalli muncul dari simbol i’rab rafa’ yang berarti tinggi derajat yang akan dicapai oleh mereka yang sudah memiliki nun al-ananiyah atau keakuan sebagai tanda i’rab rafa’.
Annisa Mutohharoh
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 73-88; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i1.5771

Abstract:
Penggunaan kata healing sedang populer di masyarakat Indonesia baru-baru ini, terutama di berbagai media sosial. Healing merujuk pada aktivitas untuk mencari kepuasan seperti: jalan-jalan, makan makanan enak, ataupun pergi ke kafe. Hal ini tidak jarang menyebabkan pengeluaran biaya yang mahal. Selain itu, healing juga digunakan sebagai cara untuk melepaskan diri dari rutinitas. Tren healing semakin meluas terutama karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang mudah terpengaruh. Orang yang menggunakan kata ini dianggap keren atau hebat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjernihkan istilah self-healing melalui penjelasan konsep menurut psikologi dan sufistik sehingga masyarakat tidak lagi keliru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (Library Research). Sumber data berasal dari berita, buku, jurnal, artikel, dan referensi lain yang relevan. Hasilnya kata healing berbeda dengan rekreasi, di mana aktivitas masyarakat yang merujuk pada kegiatan jalan-jalan atau penggunaan uang untuk mendapatkan kepuasan bukan termasuk self-healing. Healing adalah bagian dari terapi yang sering digunakan oleh praktisi kesehatan terutama psikiater dan psikolog klinis. Tujuannya untuk mengobati luka atau menerima masa lalu yang berdampak pada kondisi psikologis yang terganggu. Self-healing bisa dilakukan tanpa mengeluarkan biaya dengan berbagai macam teknik seperti: relaksasi, menulis, mindfulness, positive self-talk, manajemen diri, membaca al qur’an, dan lainnya.
Cintami Farmawati, Endro Puspo Wiroko
Jousip: Journal of Sufism and Psychotherapy, Volume 2, pp 17-32; https://doi.org/10.28918/jousip.v2i1.5658

Abstract:
The indigenous of Javanese is very complex, there are a lot of things to pay attention to, including how to be healthy. In the context of this study, it aims to describe the process of Javanese indigenous healing for physical and mental health. To achieve this goal, this study uses a literature study by collecting data and information about indigenous healing and health of the Javanese. The results of research explain that the concept of Javanese indigenous healing is able to maintain physical and mental health. This research shows that Javanese indigenous healing system for physical health written in the manuscripts of Javanese such as Serat Primbon Jampi Jawi, Serat Primbon Racikan Jampi Jawi, Serat Centhini, Serat Munasiyat Jati and other Javanese manuscripts. In addition, the philosophy of the Javanese community such as nrimo ing pandum is very relevant to the concept of mental health. Maintaining mental health is very important so that the soul is calm and peaceful, so that it can enjoy everyday life and respect others. The people of Javanese who are healthy and feel happiness in their life have the characteristics of being sepuh, wutuh and tangguh. Achieving a healthy personal status and finding happiness is done by holding on to a balanced mind, feeling, word and deed.
Back to Top Top