Jurnal Misioner

Journal Information
ISSN / EISSN: 2776494X / 27764958
Total articles ≅ 21

Latest articles in this journal

Herniwati Hia, Hendi Wijaya
Published: 31 October 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 255-275; https://doi.org/10.51770/jm.v2i2.71

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menjelaskan kehidupan keheningan (solitary life) menurut St. Ishak dari Suriah. Kehidupan keheningan menjadikan kehidupan pengudusan seseorang baik di dalam hati dan pikiran. Penulis akan memaparkan topik ini berdasarkan buku yang ditulis oleh Hilarion Alfeyev “The Spiritual World of Isaac the Syrian”. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa mendatangkan pengudusan hati dan pikiran sehingga melahirkan kehidupan monastik menuju kepada Allah (Theosis). Keheningan dalam pikiran dan hati akan menimbulkan doa dan perbuatan pengudusan itu sendiri.
Melki Bokko'
Published: 31 October 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 237-254; https://doi.org/10.51770/jm.v2i2.80

Abstract:
Pertumbuhan merupakan kemutlakan bagi sebuah jemaat Kristen. Presbiter selaku pemimpin-pemimpin dalam jemaat memiliki peran signifikan di dalamnya. Di Gereja KIBAID Jemaat Mebali, pertumbuhan jemaat hanya mencapai angka 1,46% pertahun. Dengan metode perpustakaan dan teknik wawancara serta observasi terhadap anggota presbiter Gereja KIBAID Jemaat Mebali, penulis menemukan bahwa kemandekan tersebut dikarenakan kurang maksimalnya kinerja para presbiter. Dalam hal ini, kendatipun kinerja presbiter dalam beberapa segi sudah memuaskan, namun penginjilan sebagai satu gerakan mutlak dalam pertumbuhan gereja sesuai amanat agung belum menjadi prioritas untuk dilaksanakan dengan maksimal.
Paulus Dimas Prabowo
Published: 30 October 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 169-192; https://doi.org/10.51770/jm.v2i2.75

Abstract:
The holy communion is a special and sacred gathering for believers, as an occasion where they partake of the body and blood of Christ through the bread and wine. Some Christians respond to the holy communion enthusiastically through various meanings, for example as the real presence of the Lord Jesus in bread and wine (transubstantiation), a means of healing the sick, and as a moment of reconciliation between church members. Others are not very enthusiastic in taking part this sacrament. Thus some Christians see the holy communion as having a supernatural and social function, but some do not understand its function at all. Through a combination of biblical methods and the psychology of religion, this article attempts to present the meaning of the holy communion which is lifted from 1 Corinthians 10-11 through a thematic analysis method and looks at its function from the lens of the psychology of religion. As the results, holy communion can be interpreted as koinonia, eucharistia, memorabilia, kerugma, and self-schema, while its functions include cognitive, emotive, and collective aspects. Perjamuan kudus merupakan pertemuan khusus dan kudus bagi orang percaya, sebagai kesempatan dimana jemaat mengambil bagian dalam tubuh dan darah Kristus melalui roti dan anggur. Sebagian orang Kristen meresponi perjamuan kudus dengan antusias melalui bermacam-macam pemaknaan, misalnya sebagai kehadiran nyata Tuhan Yesus dalam roti dan anggur (transsubstansiasi), sarana penyembuhan sakit-penyait, dan sebagai moment rekonsiliasi antar anggota jemaat. Sebagian lagi tidak terlalu bergairah dalam mengambil bagian dan memaknai sakramen ini. Dengan demikian sebagian orang Kristen melihat perjamuan kudus memiliki fungsi supranatural dan sosial, tetapi sebagian lagi tidak memahami fungsinya sama sekali. Melalui perpaduan antara metode biblika dan psikologi agama, artikel ini bertujuan untuk menyajikan makna perjamuan kudus yang diangkat dari 1 Korintus 10-11 melalui metode analisis tematis dan melihat fungsi dari sudut pandang psikologi agama. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perjamuan kudus dapat dimaknai sebagai koinonia, eucharistia, memorabilia, kerugma, dan self-schema, sedangkan fungsinya meliputi aspek kognitif, emotif, dan kolektif.
Zelinofitasari Daeli
Published: 30 October 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 218-236; https://doi.org/10.51770/jm.v2i2.72

Abstract:
Prayer in silence is a prayer of the mind that is continuously done without stopping to ask for God`s mercy. But in another view says that prayer is only a human request to God. But for Efpherm, it is emphasized that prayer is not just a request, but prayer in human silence can maintain the purity of the heart and unite with God in the book Hymns Preserved In Armenian, No. I . The method used in writing this article is library research, to describe how important it is to pray in silence. By praying in silence, we can become like Christ through constant repentance and asceticism. So that the power of evil is not easy to attack thoughts because there is power from God. Abstrak. Doa dalam keheningan merupakan doa batin yang terus-menerus dilakukan tanpa henti untuk meminta belas kasih Allah. Tetapi dalam pandangan lain mengatakan bahwa doa itu hanya sebatas permohonan manusia kepada Allah. Tapi bagi Efpherm doa itu bukan hanya sebata permohonan, tetapi doa dalam keheningan manusia dapat menjaga kesucian hati dan menyatu dengan Allah dalam buku Hymns Preserved In Armenian, No. I Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah penelitian pustaka, untuk menguraikan betapa pentingnya melakukan doa dalam keheningan. Dengan ada doa dalam keheningan dapat menjadi serupa dengan Kristus melalui pertobatan dan askesis yang terus dilakukan tanpa henti. Sehingga kuasa kejahatan tidak mudah menyerang pikiran-pikiran sebab ada kekuatan yang dari Tuhan.
Irna Allo Rundun
Published: 30 October 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 193-217; https://doi.org/10.51770/jm.v2i2.78

Abstract:
This research is motivated by the fact that there is a lack of attention to Christian education in the family at the KIBAID Church of the Salubarani Congregation. The purpose of this study is to determine the factors that cause families in the Salubarani Congregation not to maximize the implementation of Christian education in the family. This research was developed using a descriptive-library method by placing the families of members of the Salubarani KIBAID Church as the object of research. The results of this study indicate that Christian education is not optimal in the families of the Salubarani Congregation due to the busy work factor which is accompanied by a lack of awareness of the importance of Christian education in the family, as well as the lack of qualifications of faith and Christian character in the parents in the families of the Salubarani Congregation. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi fakta kurangnya perhatian pada pendidikan Kristen dalam keluarga di Gereja KIBAID Jemaat Salubarani. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan keluarga-keluarga di Jemaat Salubarani tidak memaksimalkan pelaksanaan pendidikan Kristen dalam keluarga. Penelitian ini dikembangkan dengan metode deskriptif-kepustakaan dengan menempatkan keluarga-keluarga anggota Gereja KIBAID Jemaat Salubarani sebagai objek penelitian. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak maksimalnya pendidikan Kristen dalam keluarga-keluarga Jemaat Salubarani dikarenakan faktor kesibukan bekerja yang dibarengi dengan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan Kristen dalam keluarga, serta kurangnya kualifikasi iman dan karakter kristiani pada diri para orang tua dalam keluarga-keluarga Jemaat Salubarani.
Gunaryo Sudarmanto
Published: 30 April 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 20-66; https://doi.org/10.51770/jm.v2i1.46

Abstract:
Covid-19 Pandemic has created many personal problems among Christians. Christian Counsellor has not able to cover it through onsite and online ministry. Believers have to face their problem by themselves. So that they need to have ability to treat themselves by Self Spiritual Therapy. The purpose of this research is to design theological foundations in relationship with counselling pastoral principles and ESQ. To reach the aim, this research uses Qualitative approach with inductive mind and Phenomenological paradigm. The method that be used is ‘exegetic biblical theology-systematic theology’ through literature study, observation and questionnaire. The result shows that believers have ESQ that supported by Anthropological, Theological, Christological, Pneumathological, Ecclesiological, Biblical dan Eschatological approaches. Man is the image and likeness of God who have spirit, so that they able to make relationship with God. Because of sin the ability has destroyed. Christ restores the image of God through his role as the Great Therapist. The Holy Spirit applies and Christ work. He becomes Pharacletos for believers. The believers is the body of Christ. They have an unseparated relationship with Christ. So that they can tell their problems to Him. By the Biblical foundations and eschatological hope, the believers can use their faith, prayer and word of God to make Self Spiritual Therapy. Church and Christian Counsellor need to know and socialize the principles and practice Self Spiritual Therapy. They can train Counselors and bilievers. 
Alpian Manganai, Ermin Alperiana Mosooli, Leo Mardani Ruindungan
Published: 30 April 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 67-86; https://doi.org/10.51770/jm.v2i1.45

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana pernikahan dapat mengakibatkan terjadinya konversi agama di kalangan pemuda GPIBK Jemaat Bukit Zaitun Bakum. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang di gunakan peneliti mengunakan teknik wawancara. Informan yang dilibatkan adalah tujuh orang mualaf yang sebelumnya merupakan anggota pemuda GPIBK Jemaat Bukit Zaitun Bakum. Hasil penelitian menunjukan bahwa pernikahan menjadi sebab terjadinya konversi agama karena: 1) rasa cinta pada pasangan, 2) kemauan diri sendiri, 3) kepercayaan bahwa pasangannya adalah jodoh yang disediakan Tuhan
Nelly Nelly, Nicholas Raja Hatigoran Nababan, Jeffry Johanis Rindengan
Published: 30 April 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 87-112; https://doi.org/10.51770/jm.v2i1.40

Abstract:
Pemuridan adalah amanat agung Yesus Kristus. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data-data penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pola pemuridan menurut Injil Matius dan implimentasinya bagi GPPS Jember agar berdampak bagi pertumbuhan jemaat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam Injil Matius menjelaskan pola pemuridan yaitu, berdoa sebelum memanggil murid, mengajar dan keteladanan hidup, pengawasan pelayanan dan pengajaran, serta mengutus untuk memberitakan Injil. Keempat hal ini dapat diimplementasikan bagi GPPS Jember dalam melaksanakan amanat agung Yesus Kristus.
Sartini Sitoki, Iran Morente, Milka Elsin, Ermin Alperiana Mosooli
Published: 29 April 2022
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 2, pp 1-19; https://doi.org/10.51770/jm.v2i1.44

Abstract:
Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah adanya realita perilaku seks bebas pada remaja di lingkungan Gereja Anugerah Bentara Kristus (GABK) Jemaat Hosana Boluni. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) mengetahui apakah apa saja peran gereja dalam mengatasi perilaku seks bebas remaja; 2) bagaimana persepsi pengambil kebijakan dan orang tua di gereja mengenai pendidikan seks untuk mengatasi perilaku seks bebas pada remaja. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan data dianalisa menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa: Pertama, upaya yang telah dilakukan oleh gereja baru sebatas: 1) mengajarkan firman Tuhan, 2) Memberikan nasihat kepada remaja. Kedua, secara umum pendeta, majelis gereja, dan orang tua belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik mengenai pendidikan seks untuk remaja.Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah adanya realita perilaku seks bebas pada remaja di lingkungan Gereja Anugerah Bentara Kristus (GABK) Jemaat Hosana Boluni. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) mengetahui apakah apa saja peran gereja dalam mengatasi perilaku seks bebas remaja; 2) bagaimana persepsi pengambil kebijakan dan orang tua di gereja mengenai pendidikan seks untuk mengatasi perilaku seks bebas pada remaja. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan data dianalisa menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa: Pertama, upaya yang telah dilakukan oleh gereja baru sebatas: 1) mengajarkan firman Tuhan, 2) Memberikan nasihat kepada remaja. Kedua, secara umum pendeta, majelis gereja, dan orang tua belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik mengenai pendidikan seks untuk remaja.
Pira Satria Sitoki, Junni Yokiman, Nanchy Lepong Bulan
Published: 26 November 2021
Journal: Jurnal Misioner
Jurnal Misioner, Volume 1, pp 206-225; https://doi.org/10.51770/jm.v1i2.18

Abstract:
The problem of delinquency is a social problem thet can ruin public relationships and unsavory attitudes. The purpose of this study is: to learn how the church plays a role in overcoming Christian delinquency on mount moriah. In this study, the authors examined the problem using qualitative methods to approach case studies to field exploration in order to gain greater knowledge in a given situation or ini a case. The authors use several sources such as, books, journals, ang media as sources of information. As for the results of the study, the authors find that the church is not yet fully responsible and properly for the young. Among the problems involted was delinquency. This has had a negative effect on the development of a youth in his youth. For this the church must take an active role in overcoming Christian delinquency. Thus the writer sees the topic of the church’s role in overcoming Christian delinquency as highly relevant and contained in a work of writing.
Back to Top Top