Refine Search

New Search

Advanced search

Publisher Journal of Ners and Midwifery

-
242 articles
Page of 25
Articles per Page
by
Yesiana Dwi Wahyu Werdani
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 249-256; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p249-256

Abstract:Abstrak : Kompleksitas perawatan pasien kanker menyebabkan tingginya tingkat ketergantungan pasien kepada caregiver baik ketergantungan fisik maupun psikologis, yang berdampak terhadap timbulnya caregiver burden. Tujuan penelitian membuktikan adanya pengaruh caregiving pada pasien kanker terhadap tingkat caregiver burden. Desain yang digunakan cross sectional. Populasinya adalah caregiver pasien kanker di wilayah kerja puskesmas Kedungdoro dan Pacarkeling Surabaya yang jumlah 60 orang, yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner caregiving dan caregiver burden scale yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji statistik dengan regresi ordinal didapatkan p = 0.000, dengan nilai R = 0.699 yang berarti ada pengaruh caregiving terhadap terhadap tingkat caregiver burden dengan besarnya pengaruh adalah 69.9%. Semakin kompleks keluhan pasien kanker, menyebabkan semakin lamanya durasi perawatan yang diberikan caregiver kepada pasien, hal ini berdampak terhadap ketidaseimbangan waktu kerja pribadi dengan waktu luang yang dimiliki caregiver untuk berelaksasi, hal ini menjadi stresor yang memicu stres, dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan caregiver burden.Kata Kunci : Caregiving, caregiver burden, kankerAbstract : The complexity caring of cancer patients causes the high levels of patient dependences physic and psychology on caregivers, it impact on the the caregiver burden. The purpose was determine the effect of caregiving in cancer patients on the caregiver burden level. The design used cross sectional. The population were caregivers of cancer patients in the working area of Kedungdoro Health Center Surabaya and Pacarkeling Health Center Surabaya amounted 60 people, the total sampling method is taken. The instruments used were caregiving and caregiver burden scale questionnaires that have been tested for validity and reliability. Statistical test with ordinal regression p = 0.000, R = 0.699, it means that there was effect of caregiving in cancer patients on the caregiver burden level with the influence was 69.9%. The more complex complaints of cancer patients cause the longer caring duration provided by the caregiver to the patient, it impact on the imbalance of personal work time and free time of caregiver to relax, it becomes a stressor that triggers stress, and in the long term can cause the caregiver burden.Kata Kunci : Caregiving, caregiver burden, kanker
Thatit Nurmawati
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 257-262; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p257-262

Abstract:Patients with Diabetes Mellitus (DM) have a risk of complications and death. However, management of patients with type II DM has not been implemented optimally and integratedly. Expository health education method consists of three stages, namely the explanation of the material, question and answer and assignment of meal planning can be sought to overcome the case of DM from his diet. This study aims to determine the effect of expository health education about meal planning on dietary patterns of patients with type II diabetes. The research design uses quasy experiments with non equivalent control group design. The population of Type II DM patients is 210 people. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Samples were divided into treatment groups and control groups with the number of each of the 20 people. Data collection was done in Boro Public Health Center Kecamatan Selorejo by identifying respondents and giving compliance questionnaires. The data performed using the Wilcoxon signed rank test. The results of the study in the treatment group showed that there was an effect of health education with the expository method of meal planning in Type 2 DM patients with a p-value of 0,000. The results of the Mann Whitney test showed that there was a difference between the treatment group and the control group with a p-value of = 0,000. The expository method of meal planning affects the diet of type II DM patients. Health workers are encouraged to increase expository health education activities for people with type II diabetes to improve their diet.. Keywords: Ekspository, meal planning, Type II DM, eat patternAbstrak: Penderita Diabetes Mellitus (DM) memiliki resiko komplikasi dan terjadi kematian. Namun pengelolaan penderita DM tipe II belum dilaksanakan secara optimal dan terpadu. Pendidikan kesehatan metode ekspositori terdiri dari tiga tahap yaitu penjelasan materi, tanya jawab dan penugasan tentang meal planning dapat diupayakan untuk mengatasi kasus DM dari pola makannya . Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan metode ekspositori tentang meal planning terhadap pola makan penderita DM tipe II. Desain penelitian menggunakan quasy experiment dengan non equivalent control group design. Populasi penderita DM Tipe II sejumlah 210 orang. Tehnik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan jumlah masing-masing 20 orang Pengumpulan data dilakukan di wilayah Puskesmas Boro Kecamatan Selorejo dengan mengidentifikasi responden dan memberikan questioner kepatuhan. Data dianalisis dengan menggunakan Wilcoxon signed rank tes. Hasil penelitian pada kelompok perlakuan menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode ekspositori tentang meal planning pada pasien DM Tipe 2 dengan p- value 0,000. Hasil uji Mann Whitney didapatkan hasil ada perbedaan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol dengan...
Nur Aini, Erma Wahyu Mashfufah
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 263-267; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p263-267

Abstract:Introduction : One of the learning methods in the professional practice of professional basic nursing department (KDP) nurses is pre and post conference, where students must make a preliminary report (LP) and master the material. The problem that occurs and complained by the supervisor is that students only write reports without understanding the contents so that when their cognitive abilities are lacking in guidance. Therefore, the researchers made innovations to make worksheets as innovative learning media to improve basic nursing competencies in professional student students. Method : Research design was classroom action research (CAR). consists of 4 stages, that were: 1). Planning, preparation of worksheets. 2) Implementation, the application of worksheets, 3). Observation, observe the results of the application of worksheets on student abilities 4). Reflection, reflecting on the results of observation and discussion. The study was conducted on 37 professional students in Ners practice in March - October 2018. Result : The majority of students agree with the use of worksheets, and the percentage of graduation of the final exam is 84%. Discussion: Worksheets make it easier for students to understand basic nursing material, because students must work on the questions so that they make their understanding better. The application of worksheets needs to be applied to other subjects, as well as the need to try other learning models or methods in professional practice, so that student competencies increase.Keywords : ners student, basic nursing, worksheet, classroom action research.ABSTRACTLatar Belakang : Salah satu metode pembelajaran dalam praktik profesi ners departemen keperawatan dasar profesi (KDP) adalah pre dan post conference, dimana mahasiswa harus membuat laporan pendahuluan (LP) dan menguasai materi tersebut. Permasalahan yang terjadi dan dikeluhkan oleh pembimbing adalah mahasiswa hanya sekedar menulis laporan tanpa memahami isinya sehingga saat bimbingan kemampuan kognitif mereka kurang. Oleh karena itu, peneliti membuat inovasi membuat Worksheets sebagai media pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kompetensi keperawatan dasar pada mahasiswa profesi ners. Metode : Jenis penelitian adalah penelitian tindak kelas atau CAR (classroom action research). terdiri dari 4 tahapan yaitu : 1). Perencanaan, dilakukan penyusunan worksheet. 2) Pelaksanaan, yaitu penerapan worksheet, 3). Pengamatan, mengamati hasil penerapan worksheet terhadap kemampuan mahasiswa 4). Refleksi, merefleksi diri berdasarkan hasil observasi dan diskusi. Penelitian dilakukan pada mahasiswa praktik profesi Ners sejumlah 37 mahasiswa pada bulan Maret - Oktober 2018. Hasil : Mayoritas mahasiswa setuju dengan penggunaan worksheet, dan prosentase hasil kelulusan ujian final exam sebesar 84%. Diskusi : Worksheet membuat mahasiswa lebih mudah memahami materi keperawatan dasar, karena mahasiswa harus mengerjakan soal-soal sehingga membuat pemahaman mereka lebih baik....
Fera Yuli Setiyaningsih, Pande Made Dwi Jayasa, Hidayat Sujuti, Diah Prabawati Retnani
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 241-248; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p241-248

Abstract:The use of dyes in food today is very apprehensive. Many foods contain dyes that are prohibited to be used in food. The addition of the dye will have an impact on health. The aim of this research was to know the effectiveness of the administration of extra virgin olive oil to the number of granulosa cell and 17β estradiol level of Rats exposed by rhodamin B. The design of this study was true experimental with post test approach of group design control. The subject of the study was 30 white mice Rattus novergicus in the age of 12 weeks weight average 220 grams and in healthy condition. Rats were divided into 5 groups. Control group without treatment, positive control treatment with rhodamine B 18 mg / 200gr. Treatment 1 administration of rhodamine B 18 mg / 200gr and EVOO (Extra Virgin Olive Oil) 1.5 ml / KgBB, treatment 2 rhodamine B 18 mg / 200gr and EVOO 3 ml / KgBB, treatment 3 rhodamine B 18 mg / 200gr and EVOO 4,5 ml / KgBB. The number of granulosa cells was determined by HE staining, the level of 17β estradiol with ELISA. The data was analyzed by Kruskal Wallis test, Spearman Rank and Simple Linear Regression with degree of significance α
Sri Mugianti, Arif Mulyadi, Agus Khoirul Anam, Zian Lukluin Najah
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 268-278; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p268-278

Abstract:Stunting is a new issue that becomes WHO's focus to shortly been completed since regards physical and functional body and increase painfulness for child. Stunting can be completed if the causal factors in each region are controlled. The purpose of the study described the causes of stunting in children aged 25-60 months of age. The research design is using a descriptive. And using quota sampling technique and take 31 children as respondent. Data collection was done by interview based on questionnaire and 24 hour food recall sheet. Data were collected on 17-22 April 2017. The results of this study showed stunting’s causal factors are low energy intake of (93.5%), infectious diseases of (80.6%), male gender of (64.5%, low maternal education of (48.4%), low protein intake of (45.2%), not exclusive breastfeeding of (32.3%), low father education of (32.3%) and working mother (29%). The factor is due to lack of knowledge of family knowledge in the fulfillment of nutrition because there are parents have a low education that required cross-sector cooperation for handling. Recommendation for health officers District Health UPTD Sukorejo Blitar is to be aware of family counseling on nutrition and supplementary feeding for 3 months for children with low energi and protein intake and colaboration with education authorities for 12-year compulsory socialization.Keywords: Stunting, Causes, Factor, ChildAbstrak: Stunting merupakan isu baru yang menjadi sorotan WHO untuk segera dituntaskan karena mempengaruhi fisik dan fungsional tubuh serta meningkatnya angka kesakitan anak. Stunting dapat dituntaskan bila faktor penyebab stuting disetiap wilayah dapat dikendalikan. Tujuan penelitian menggambarkan faktor penyebab stunting pada anak stunting usia 25-60 bulan. Desain penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini menggunakan teknik quota sampling dengan besar sampel yang diambil 31 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara berdasarkan kuesioner dan lembar food recall 24 jam. Waktu pengumpulan data dilakukan pada 17-22 April 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor penyebab stunting yaitu asupan energi rendah (93,5%), penyakit infeksi (80,6%), jenis kelamin laki-laki (64,5%), pendidikan ibu rendah (48,4%), asupan protein rendah (45,2%), Tidak Asi Ekslusif (32,3%), pendidikan ayah rendah (32,3%) dan ibu bekerja (29%). Faktor tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga tentang pemenuhan gizi dan terdapat orangtua dengan pendidikan rendah yang diperlukan lintas sektor dalam penanganannya. Rekomendasi untuk petugas kesehatan UPTD Kesehatan Kecamatan Sukorejo yaitu melakukan penyuluhan tentang keluarga sadar gizi dan pemberian makanan tambahan selama 3 bulan pada balita dengan asupan energi dan protein rendah serta bekerjasama dengan dinas pendidikan kota Blitar dalam sosialisasi wajib belajar 12 tahun.Kata Kunci: Stunting, Faktor, Penyebab, Anak
Khamida Khamida, Abdul Muhith, Rohmadi Yuda Diharja, Ririn Probowati
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 218-223; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p218-223

Abstract:Aging is something that can cause health problems, both physical and mental health for the elderly. Anxiety is one of mental health experienced in the elderly. If it continues to ignored, it will have an impact to the memories or nightmares experienced by the elderly will recur, therefore the quality of the elderly's sleep will diminish. The purpose of this study was to determine the effect of Tai Chi Gymnastics on Elderly Anxiety.The study design used the One Group Pre-Post Test Design, the sample was elderly at the Posyandu Perintis Ngagel Rejo Surabaya.32 subject taken by Simple Random Sampling technique. The Independent Variable is Tai Chi Gymnastics, the dependent variable is Anxiety. Anxiety instruments were measured using the HRS-A questionnaire. Data were analyzed by the Wilcoxon test with significance ? = 0.05. The results of the study before being given Tai Chi Gymnastics were mostly (59.4%) respondents had mild anxiety. After being given Tai Chi Gymnastics most (59.4%) respondents were not experiencing anxiety (normal). Analysis of the Wilcoxon Sign Rank Test obtained p = 0,000
Agus Priyanto
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 233-240; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p233-240

Abstract:Luka pada pasien diabetes mellitus yang sudah membusuk dan bisa melebar, ditandai dengan jaringan yang mati berwarna kehitaman dan berbau busuk, dan bila tidak tertangani dapat menyebabkan kematian jaringan dan bisa mengakibatkan kematian.Dalam keadan lanjut, amputasi menjadi terapi akhir untuk mencegah pelebaran luka. Penanganan luka pasca operasi dan pengetahuan tentang pencegahan terjadinya luka menjadi hal penting untuk mencegah kekambuhan ulang. Tanpa pengetahuan yang baik tentang perawatan , luka diabetik akan muncul berulang dan mengakibatkan hilangnya bagian tubuh karena kematian jaringan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan kekambuhan luka diabetik di Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Gambiran Kediri.Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasinya pasien Diabed di ruang penyakit Dalam RSUD Gambiran . Sampel diambil dengan teknik consecutive samping sejumlah 29 responden.Variabel independennya adalah tingkat pengetahuan pasien tentang pencegahan luka diabetik dan variable dependennya adalah perilaku pencegahan kekambuhan luka diabetik. Data diambil dengan questioner dan dianalisis dengan Uji Spearman Rank.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pasien tentang pencegahan luka diabetik adalah baik sebanyak 24 responden (82,75 %). Perilaku pencegahan luka diabetik sebagian besar adalah cukup 15 orng (51,726 %). Uji Spearman Rank menunjukkan Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka diabetik di Di Ruang RSUD Gambiran Kota Kediri (spearman rank dengan p = 0,003 < 0,05, artinya H0 ditolak dan H1diterima). Coefficient correlation = 0,404, menunjukkan adanya hubungan ke arah positif artinya semakin baik tingkat pengetahuan maka perilaku pencegahan luka diabetik juga semakin baik. Sebagai tindak lanjut dalam meningkatkan perilaku pencegahan kekambuhan luka dibetik pada pasien yang pernah menderita luka diabetik maupun yang belum pernah, perlu upaya untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan kelarga tentang cara perawatan pasien Diabet terutama dalam menjaga kestabilan gula darah dalam batas normal,melalui pola diet dan cara pemeliharaan integritas kulit agar tidak terjadi luka dibetik. Kata Kunci : Pengetahuan, Perilaku, luka Diabetik, kekambuhanABSTRACTWound on diabetic patient signed by blacknumb tissue and badsmell, ifits not hand ledthet issue will numband tousebedie. In advanced circumstances, amputation becomes a final therapy to prevent widening of the wound.Treatment postoperative wounds and knowledge of prevention of injury are important to prevent recurrence. Without good knowledge about treatment, diabetic wounds will recur and cause loss of body parts due to necrotic tissue . The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of knowledge with behavioral prevention of diabetic wound recurrence in the Internist Room, Gambiran Kediri Hospital. The design used in this study is correlational. The...
Netha Damayantie, Erna Heryani, Muazir Muazir
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 224-232; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p224-232

Abstract:ABSTRAK Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit dengan tekanan sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan diastolik ≥ 90 mmHg. Faktor yang mempengaruhi perilaku penderita hipertensi diantaranya persepsi individu tentang penyakitnya, kelompok sosial, latar belakang budaya, ekonomi dan kemudahan akses pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penatalaksanaan hipertensi oleh penderita di wilayah kerja Puskesmas Sekernan Ilir Kabupaten Muaro Jambi tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan desain penelitian cross sectional, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 responden. Pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling. Pengumpulan Data dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat (T-Test Dependent). Hasil analisis bivariat menunjukan adanya hubungan antara persepsi sakit (p-value=0,001) dan dukungan keluarga (p-value=0,015) dengan perilaku penatalaksanaan hipertensi oleh penderita, dan tidak adanya hubungan antara akses pelayanan kesehatan (p-value=0,605) dengan perilaku penatalaksanaan hipertensi oleh penderita. Perawat memiliki peran dalam mengubah perilaku sakit penderita hipertensi. Pihak Puskesmas Sekernan Ilir diharapkan memberikan pendidikan kesehatan, melaksanakan PIS-PK dengan pendekatan keluarga untuk meningkatkan status kesehatan penderita hipertensi. Bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan rancangan studi yang berbeda agar dapat melihat hubungan variabel yang lain.Kata kunci : Hipertensi, Perilaku, PenatalaksanaanAbstractHigh blood pressure or hypertension is a disease with a systolic pressure ≥ 140 mmHg or diastolic pressure ≥ 90 mmHg. Factors that affect the behavior of hypertension sufferers include the individual's perception about his illness, social groups, cultural background, economic services and ease of access. This research aimed to know some of the factors related to the behavior of hypertension treatment by the sufferers in Puskesmas Sekernan Ilir Kabupaten Muaro Jambi in 2018.This research was quantitative descriptive research with cross sectional design approach. The sample was 68 respondents. The sampling technique used Proportional Random Sampling. The data collection used interviews by questionnaire. The data was analyzed in univariate and bivariat analysis (T-Test Dependent). Bivariat analysis results showed a correlation between pain perception (p-value = 0.001) and family support (p-value = 0,015) with the behavior treatment of hypertension by sufferers, and the absence of a correlation between access to medical services (p-value = 0.605) with the behavior treatment of hypertension by sufferers. Nurses have a role in changing the behavior of sufferers hypertension. Puskesmas Sekernan Ilir is expected to provide health education, carry out PIS-PK to improving the health status of hypertension sufferers. For further...
Ning Arti Wulandari, Erni Setiyorini
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 212-217; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p212-217

Abstract:Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah yang besar namun belum mendapatkan fokus perhatian tatanan kesehatan. Diperkirakan 1,2 juta orang di dunia terbunuh dan 50 juta orang luka-luka setiap tahunnya akibat kecelakaan. Ternyata bukan hanya berkendara di jalan raya saja, berkendaraan di jalur ekstrim seperti yang dilakukan oleh para pecinta trail adventure juga beresiko mengalami kecelakaan. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi kemampuan pecinta adventure sebagai medical first responder pada korban kecelakaan. Desain dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif, dengan jumlah sampel 57 orang anggota CROSSTRABS Komunitas Trail Adventure Blitar Selatan yang diambil dari seluruh populasi. Penelitian ini dilakukan di tanggal 25 November 2018 di Tulungagung dalam acara HOT Enduro 2018, pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini adalah 81% dari 57 responden memiliki kemampuan kurang, 18% mempunyai kemampuan cukup dan 1% mempunyai kemampuan baik dalam berperan sebagai medical first responder pada korban kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pecinta trail adventure sebagai medical first responder terbanyak adalah dalam kategori kurang. Oleh sebab itu sangat di perlukan pelatihan tentang medical first respons pada pecinta trail adventure, sehingga kemampuan sebagai medical first responder meningkat.
Tri Nataliswati, Ririn Anantasari
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), Volume 5, pp 188-194; doi:10.26699/jnk.v5i3.art.p188-194

Abstract:Pneumonia adalah penyakit yang bisa terjadi pada segala usia. Salah satu gejala pneumonia adalah meningkatnya RR yang disebabkan oleh inflamasi alveoli penuh cairan yang membuat tubuh sulit mendapatkan oksigen. Tindakan oleh perawat untuk merawat pasien dengn peningkatan RR pneumonia adalah terapi farmakologi menurut instruki dokter, dan tanpa tindakan non-farmakologi untuk mengatasi dengan menaikkan RR seperti melakukan latihan Pursed Lips Breathing. Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk mengetahui efek latihan Pursed Lips Breathing pada perubahan RR pada pasien pneumonia di ruang flamboyan RSUD Lawang. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental. Dengn tipe metode Nonequivalent Control Group. Jumlah sampel didapat dari 30 responden, mengambil sampel menggunakan metode non probbility sampling dengan accidental sampling. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jam analog di grup intervensi dan grup kontrol. Analisis data dalam pembelajaran ini menggunakan T-Test Pasangan dan T-Test Individu dengan software SPSS untuk Windows 23.0 dengan level signifikan  = 0,05. Hasil menunjukkan bahwa ada efek dari latihan Pursed Lips Breathing dalam perubahan RR di pasien dengan pneumonia (nilai ρ 0.02
Page of 25
Articles per Page
by