Refine Search

New Search

Advanced search

Publisher Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

-
389 articles
Page of 39
Articles per Page
by
Dea Anggriani Pondaag
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 213-216; doi:10.25278/jj71.v16i2.315

Abstract:Jeff Van Vonderen mempopulerkan istilah pelecehan rohani. Latar belakang sejarah praktik ini ditelusuri hingga ke gerakan penggembalaan yang bermula di Amerika. Gerakan ini ditandai oelh tingkat penyalahgunaan ekstrem dan eksploitas luar biasa terhadap karunia roh. Akhirnya lahirlah “nabi” yang tidak kompeten dalam mempertahankan kesucian pribadi mereka.
Agus Prihanto
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 197-212; doi:10.25278/jj71.v16i2.258

Abstract:Masalah saat ini yang banyak dialami oleh gereja-gereja adalah kurangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan pelayanan di gereja. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang memiliki iman yang benar, ilmu yang memadai, dan pengabdian yang sungguh-sungguh, malah mengalami krisis kepemimpinan. Absennya kepemimpinan yang efektif akan mengakibatkan gereja kekurangan pemimpin berkualitas di masa yang akan datang. Untuk itu gereja harus memulai memikirkan bagaimana menghasilkan pemimpin-pemimpin gereja untuk masa yang akan datang. Gereja harus memulai dengan mempersiapkan pemimpin-pemimpin muda yang dapat diandalkan, mulai dari sekarang. Cara yang terbaik dan sesuai dengan firman Tuhan untuk dapat menghasilkan pemimpin adalah dengan cara pemuridan atau yang sekarang sering disebut dengan mentoring. Namun sayangnya masih banyak pemimpin-pemimpin, khususnya pemimpin kaum muda yang kurang memahami tentang mentoring. Mentoring merupakan proses pembentukan pemimpin agar nantinya pemimpin-pemimpin yang dihasilkan merupakan pemimpin yang berkualitas. Pemimpin kaum muda harus memahami bahwa mentoring harus dikerjakan dengan cara memberi teladan kepada setiap anggotanya. Kemudian pemimpin kaum muda harus melatih dan membimbing anggotanya agar dapat memahami tentang kepemimpinan. Tahap selanjutnya adalah mengutus mereka sebagai pemimpin yang baru agar mereka dapat bermultiplikasi. Dampak dari perkembangan pelayanan ini akan menghasilkan jiwa-jiwa dan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.The current problem that many churches face today is the lack of leaders who have sufficient ability to develop ministry in the church. The church that should produce leaders who have true faith, adequate knowledge and genuine devotion, even experience a leadership crisis. The absence of effective leadership will result in the Church's lack of even future leader runs out. For that, the Church must begin to think about how to produce church leaders for the future. The church must begin by preparing reliable young leaders, from now on. The best way and according to the Word of God to be able to produce leaders is by discipleship or what is now called mentoring. But unfortunately, there are still many leaders, especially young leaders who lack understanding about mentoring. Mentoring is the process of forming leaders so that leaders will be produced the qualified leader. Young leaders must understand that mentoring must be done by example of each member. Then the youth leader must train and guide its members to understand leadership. The next stage is to send them as new leaders so they can multiply. A church with good youth leadership will have an impact on the development of youth ministry in the church. The impact of the development of this ministry will produce souls and all of them for the glory of God.
Hengki Wijaya, Arismunandar Arismunandar
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 175-196; doi:10.25278/jj71.v16i2.302

Abstract:Ide tulisan ini adalah dimulai dari permasalahan pembelajaran di kelas yang masih terlihat hanya satu arah melalui metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi dalam kelompok. Sementara generasi saat ini adalah generasi heutagogy di mana generasi ini telah diperhadapkan pada suatu keadaan yang berubah dengan cepat karena informasi teknologi yang sangat maju dalam hitungan menitnya. Tujuan dan target yang ingin dicapai adalah mewujudkan suatu pembelajaran yang berbasis media sosial yaitu suatu model pembelajaran yang memenuhi kebutuhan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penulis mengembangkan model pembelajaran kooperatif STAD berbasis media sosial pada mata kuliah Teologi dan Informasi Teknologi untuk meningkatkan keterampilan kolaboratif mahasiswa. Metode yang digunakan adalah metode pengembangan model (Research and Development) dengan lima langkah pembelajaran kooperatif STAD berbasis media sosial dengan dampak instruksional dan dampak pengiring di dalam modelnya. Luaran yang diperoleh adalah sebuah model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan dan keterampilan mahasiswa secara kolaboratif dan holistik melalui penggunaan media sosial.The idea of this writing is to begin with the problem of learning in the classroom that is still seen only in one direction through the lecture method, question and answer, and discussion in groups. While the current generation is a heutagogy generation where this generation has been confronted with a situation that is changing rapidly due to highly advanced technological information in minutes. The goals and targets to be achieved are realizing a social media-based learning that is a learning model that meets the needs of students to be actively involved in learning. Therefore, the authors developed STAD-based social media cooperative learning models in the Theology and Information Technology courses to enhance students’ collaborative skills. The method used is a model development method (Research and Development) with five steps of STAD-based social media cooperative learning with instructional impact and accompanying impact in the model. The results obtained are a learning model that can increase student involvement and skills collaboratively and holistically through the use of social media.
Peniel C.D. Maiaweng, Christina Ukung
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 161-174; doi:10.25278/jj71.v16i2.308

Abstract:Pernyataan Rut kepada Naomi bahwa “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (1:16-17) telah menimbulkan pertanyaan tentang kekonsistenan Rut menghidupi kata-kata yang telah diucapkannya. Apakah Rut adalah penyembah TUHAN? Ini adalah pertanyaan penting karena tidak ada informasi dalam kitab Rut tentang firman yang diterima secara langsung oleh Rut untuk pergi ke Betlehem-Yehuda; tidak ada firman kepada Rut untuk bekerja di ladangnya Boas; tidak ada firman kepada Naomi untuk merencanakan pertemuan antara Rut dengan Boas pada malam hari di tempat pengirikannya Boas; dan tidak ada firman secara langsung kepada Boas untuk mengambil Rut sebagai istrinya. Namun berdasarkan kitab Rut dan kitab-kitab lain dalam PL dan PB, dapat dibuktikan bahwa Rut (perempuan Moab, janda, meninggalkan orangtuanya dan allahnya, pergi bersama Naomi, mertuanya ke Betlehem-Yehuda, hidup sebagai orang asing, dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan mertuanya) adalah seorang penyembah TUHAN. Keberadaan Rut sebagai penyembah TUHAN terwujud melalui perkataannya dan sikap hidupnya.Ruth's statement to Naomi that "your people are my people and your God my God" (1:16-17) has raised questions about the consistency of Ruth living the words she had spoken. Is Ruth a worshiper of the Lord? This is an important question because there is no information in Ruth about the word that Ruth received directly to go to Bethlehem-Judah; there was no word to Ruth to work in Boaz's field; there was no word to Naomi to plan the meeting between Ruth and Boaz at night at Boaz's threshing floor; and there was no word directly to Boaz to take Ruth as his wife. But according to the book of Ruth and other books in the OT and NT, it can be proved that Ruth (the woman of Moab, widow, left her parents and gods, went with Naomi, her mother-in-law to Bethlehem-Judah, lived as a stranger, and worked to fulfill her needs and his father-in-law) is a worshiper of the Lord. The existence of Ruth as a worshiper of the Lord was realized through her words and attitude of life.
Sonny Zaluchu
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 145-160; doi:10.25278/jj71.v16i2.289

Abstract:Seorang pemimpin tidak dilahirkan tetapi dibentuk. Tuhan menggunakan sejumlah ujian untuk pembentukan para pemimpin. Tujuannya, selain membekali, ujian dapat memurnikan panggilan, melatih keterampilan dan membuat para pemimpin bergantung pada Tuhan. Dengan demikian, kepemimpinan tersebut dijalankan tidak dengan caranya sendiri tetapi dengan cara dan agenda Tuhan. Sejumlah ujian itu adalah Ujian Waktu, Ujian Firman, Ujian Karakter, Ujian Motivasi, Ujian Kehambaan, Ujian Padang Gurun, Ujian Kesalahpahaman, Ujian Kesabaran, Ujian Kehendak Pribadi, Ujian Integritas, dan Ujian Pemberontakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana tanggapan pemimpin dalam menghadapi ujian kepemimpinan. Populasinya adalah para pemimpin gereja yang menjadi mahasiswa pascasarjana (S2) Kepemimpinan Kristen di STT Harvest Semarang. Analisis menggunakan nilai μ dari Confidence Interval menggunakan model eksogenous-endogenous variabel. Hasilnya, level respons pemimpin terhadap ujian kepemimpinan berada di dalam kategori sedang dan ujian padang gurun adalah faktor dominan yang memengaruhi kepemimpinan responden.A leader is not born but formed. God uses tests for the formation of leaders. The goal, in addition to equipping, analyses can refine purity, train skills and make leaders dependent on God. That leadership is exercised not in its way but in God's way and His agenda. Some of the tests are Time Tests, Word Test, Character Test, Motivation Test, Servant Test, Wilderness Test, Misunderstanding Test, Patience Test, Self-Will Test, Integrity Test, and Rebellion Test. This study aims to measure how leaders respond in the face of Leadership Tests. The population is church leaders, who are students of Christian Leadership Postgraduate (S2) in Christian Leadership Program at STT Harvest Semarang. The analysis uses μ values of Confidence Interval using an exogenous-endogenous variable model. As a result, the level of leader's response to the leadership tests is in the medium category, and the wilderness test is the dominant factor affecting their leadership.
Yahya Wijaya
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 129-144; doi:10.25278/jj71.v16i2.287

Abstract:This article compares the leadership model of Jesus with those of the formal prominent leaders in his time. Rooted in a deep spiritual relationship with his Father, and moved by a compassionate heart, Jesus’ leadership challenges today’s church leadership practices in Indonesia which is marked by either institutional centralization, absolute local autonomy, or traditionalism. Artikel ini membandingkan antara model kepemimpinan Yesus dengan model-model kepemimpinan para penguasa formal di zamannya. Berakar pada hubungan spiritual yang mendalam dengan Bapanya, dan digerakkan oleh hati yang berbelaskasihan, kepemimpinan Yesus menantang praktik-praktik kepemimpinan gereja di Indonesia masa kini yang ditandai oleh sentralisasi institusional, otonomi lokal yang absolut, atau tradisionalisme
Armin Sukri Kanna
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 115-127; doi:10.25278/jj71.v16i1.286

Abstract:Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar kembali menerbitkan buku, pada kesempatan ini, berisi tentang sejarah misi yang di tulis oleh Pdt. Dr. Daniel Ronda, dengan judul ‘Kisah-kisah Misi Singkat di Berbagai Belahan Dunia.’. Dari judul yang diberikan, maka dapat diperoleh gambaran mengenai apa yang menjadi isi dari buku tersebut. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa kisah dalam sejarah pelaksanaan misi yang dilaksanakan diberbagai belahan dunia, sekalipun singkat, namun penulis menampilkannya secara komprehensif dan berkesinambungan yang berawal dari pelaksanaan misi mula-mula dalam Kisah Para Rasul, sampai pada pelaksanaan misi moderen di abad ke-21.
Daniel Nuhamara
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 93-114; doi:10.25278/jj71.v16i1.278

Abstract:Indonesia sedang menjalani suatu gerakan nasional “pembangunan karakter” untuk mengatasi berbagai masalah yang menghambat kesejahteraan masyarakatnya. Semua komponen bangsa dan masyarakat diharapkan memberi kontribusinya. Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai salah satu tugas gereja yang strategis dapat memberi kontribusinya yang penting bilamana dalam semua program PAK bagi semua kategori usia dan berbagai konteks (keluarga, gereja dan sekolah) dapat mengutamakan dimensi karakter. Penulis membangun argumentasi betapa dekatnya pendidikan karakter dengan PAK, bahkan merupakan bagian integral sebagaimana karakter Kristiani adalah bagian integral dari iman Kristiani. Untuk itu penulis memperjelas konsep-konsep terkait seperti prinsip, nilai, kebajikan, makna hidup, serta karakter dalam upaya membangun argumentasi di atas. Secara spesifik juga konten dari karakter Kristiani dicarikan contoh-contoh Alkitabiahnya.Indonesia is undergoing a national movement of character building to overcome various problems which hinder the welfare of its society. Every component of the nation and society is expected to give its contribution. Christian Education as one of the strategic tasks or missions of the churches is able to give its significant contribution when its educational programs endeavor to pay more attention to character dimension in its curriculum design for every age category and in all educational contexts. I also argue that character education is closely related to Christian Education even an integral part of it, as Christian character is an integral part of Christian faith. For that purpose I try to clarify some essential concepts such as principles, values, virtues, meaning of life, and Christian character as found in the Bible in order to build on the above argument. Finally, the specific content from the Christian characteristics are found in Biblical examples.
Leonard Sumule
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 77-92; doi:10.25278/jj71.v16i1.281

Abstract:Most Christians inIndonesia, when asked about the term "school" or "Sunday school", they always think that those terms are addressed to children's education. Even the term "Adult Sunday School", which is a very familiar sound in the ears of Christians inAmerica, is not heard of among the churches inIndonesia. Why? According to the Christians inIndonesia, Sunday School is always intended for children. It is also carried in general education. That is why the term education is always directed to the education of the children or young persons rather than to adult education.It is time that theological schools inIndonesiaunderstand the importance of andragogy for adult Christian education. InIndonesia, adults do not like the idea of Sunday school or school because they think Sunday school or school is for children and it is beneath their dignity. However, utilizing the andragogical methods described in this paper, adult can learn in a dignified manner. Instead of being lectured what to know as children would be, adults should realize that each one is an integral part of the learning process. Through respectful participation, each adult can learn through discovery as well as contribute insight to others.
Tirsa Budiarti
Jurnal Jaffray, Volume 16, pp 55-76; doi:10.25278/jj71.v16i1.280

Abstract:Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis model-model pendidikan perdamaian bagi anak dalam konteks gereja. Tulisan ini dimotivasi oleh maraknya tindakan kekerasan dalam berbagai relasi, baik dalam ranah domestik maupun publik yang ada di Indonesia, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan. Tulisan ini membuktikan bahwa pendidikan perdamaian adalah suatu upaya jangka panjang yang efektif yang dapat menjadi budaya tandingan bagi budaya kekerasan tersebut. Pendidikan perdamaian dapat dilaksanakan lebih maksimal apabila ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak dan dalam konteks gereja, karena bersama dengan gereja, anak-anak turut mengemban misi perdamaian demi terwujudnya Kerajaan Allah. Penulis juga menemukan bahwa pendidikan perdamaian perlu dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap penyadaran melalui model kontemplatif dan model problem-posing, tahap penghayatan melalui model integrasi (dengan kalender gerejawi) dan model bermain peran, serta tahap penerapan melalui model aksi-refleksi. Penelitian lanjutan yang berkaitan dengan aplikasi model-model tersebut dalam konteks gereja lokal di Indonesia sangat direkomendasikan.This writing aims to describe and analyze models of peace education for children in the context of the church. This writing is motivated by the emergent acts of violence in various relationships both in the domestic and public sphere in Indonesia, which is causing violence to become culture. This writing proves that peace education is an effective long-term effort, which can be a counter-culture for the violence culture. Peace education can be done more optimally if it is planted early on in the lives of children and in the context of the church, because together with the church, children are also held responsible in taking the mission of peace for the spreading of the kingdom of God. The author also found that peace education needs to be done in three stages: the awareness stage through contemplative model and problem-posing model; the stage of affection through the integration model (with ecclesiastical calendar) and role playing model; then the implementation stage through the action-reflection model. Further research linking the application of these models in the context of local churches in Indonesia is strongly recommended.
Page of 39
Articles per Page
by