Publisher Jurnal Akuakultur Indonesia

-
406 articles
Page of 41
Articles per Page
by
Rizal Akbar Hutagalung, Maheno Sri Widodo, Abdul Rahem Faqih
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 14; doi:10.19027/jai.14.24-29

Abstract:Snakehead fish (Channa striata) is a freshwater fish commodities that have high economic value, while their needs depend on natural catching. In general, hormonal induction commonly used for the efficiency of female parent utilization and enhancement quality and quantity of fish fry. One of the hormones that can be used is pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and antidopamine with trademark Oodev®. These hormones contain many elements follicle stimulating hormone (FSH) which can trigger the early stages of gonad maturity. The purpose of this research was to determine the effectiveness of hormone PMSG on gonadosomatic index (GSI) and hepatosomatic index (HSI). The size of female fish was 30−40 cm, weighing of 500−700 g, adapted in the aquarium and then induced with different doses of PMSG, namely: treatment A dose: 0.75 mL/kg; B: 1.0 mL/kg; C: 1.25 mL/kg; D: 1.5 mL/kg and be repeated three times. Fishes were then reared up to 72 hours to determine the development of GSI and HSI. The results showed that the best treatment was at dose of 1.25 mL/kg with GSI and HSI values of 1.37% and 3.35%, respectively. Keywords: PMSG, GSI, HSI, snakehead fish ABSTRAK Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu komoditas air tawar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Saat ini pemenuhan kebutuhan hanya bergantung pada hasil penangkapan dari alam. Pada umumnya cara pemijahan buatan dengan induksi hormon dilakukan untuk efisiensi penggunaan induk serta peningkatan kualitas dan kuantitas benih ikan. Salah satu hormon yang dapat digunakan adalah pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan antidopamin dengan merk dagang Oodev®. Hormon-hormon tersebut banyak mengandung unsur follicle stimulating hormon (FSH) yang dapat memicu kematangan gonad tahap awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas hormon PMSG terhadap nilai indeks gonadosomatik (IGS) dan indeks hepatosomatik (IHS). Induk ikan gabus yang digunakan berukuran 30−40 cm dengan bobot 500–700 g, diaklimatisasikan di akuarium kemudian diinduksi hormon PMSG dengan perlakuan dosis A: 0,75 mL/kg; B: 1,0 mL/kg; C: 1,25 mL/kg; D: 1,5 mL/kg dan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Selanjutnya ditunggu hingga 72 jam untuk mengevaluasi perkembangan IGS dan IHS nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah dosis 1,25 ml/kg dengan nilai rata-rata IHS 1,37% dan IGS 3,35%, Kata kunci: PMSG, IGS, IHS, ikan gabus
Dinar Tri Soelistyowati, Ida Ayu Amarilia Dewi Murni, Wiyoto
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 13; doi:10.19027/jai.13.94-104

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Zainuddin, Haryati, Siti Aslamyah
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 14; doi:10.19027/jai.14.18-23

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Lisa Fajar Indriana, Marjuky, Sitti Hilyana
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 13; doi:10.19027/jai.13.68-72

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Sukenda, Trian Rizky Febriansyah, Sri Nuryati
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 13; doi:10.19027/jai.13.83-93

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Kukuh Nirmala, Arlina Ratnasari, Syarif Budiman
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 13; doi:10.19027/jai.13.73-82

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Gloria Ika Satriani, Dinar Tri Soelistyowati, Dian Hardianto, Ratu Siti Aliah
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 10; doi:10.19027/jai.10.124-130

Dedi Jusadi, Syarifah Ruchyani, Ing Mokoginta, Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 10; doi:10.19027/jai.10.131-136

Muhammad Agus Suprayudi, Dedy Yaniharto, Hasan Abidin, Nur Bambang Priyo Utomo, Dedi Jusadi, Mia Setiawati
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 10; doi:10.19027/jai.10.116-123

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Priyo Utomo Nur Bambang, Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 10, pp 137-143; doi:10.19027/jai.10.137-143

Abstract:The objective of this study was to study the effect of incubation period on the nutritional content of Azolla sp. meal fermented by Trichoderma harzianum, and its optimum supplementation level in the feed of tilapia Oreochromis sp. In incubation period treatments, fermentation of Azolla meal was performed in two, six, eight, and ten days (AF2, AF6, AF8, AF10) using Trichoderma harzianum as the fermentor. The fish used in this study was tilapia Oreochromis sp. with an average weight of 10.59±1.29 g. The design of the feeding treatments was repeletting commercial feed with Azolla leaves by with different supplementation levels, i.e. 0% (A/control), 30% (B), 60% (C), and 90% (D). Faecal collection for digestibility measurement was conducted for 15 days and fish growth rate was observed for 40 days. Azolla meal fermented for two days (AF2) showed the best results among the other treatments with a crude fiber decrease of 37.19% and protein increase of 38.65%. The results of this study indicate that fermentation can increase the nutritional quality of Azolla meal and its most optimal supplementation level in the diet of tilapia is 30%.Keywords: crude fiber, Azolla sp., tilapiaABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu fermentasi daun mata lele Azolla sp. menggunakan kapang Trichoderma harzianum serta dosis optimal dalam pakan ikan nila Oreochromis sp. Proses fermentasi tepung daun mata lele dilakukan selama dua, enam, delapan, dan sepuluh hari (AF2, AF6, AF8, AF10). Ikan uji pada penelitian ini menggunakan ikan nila Oreochromis sp. dengan bobot rata-rata 10,59±1,29 g yang ditebar sebanyak 6 ekor/akuarium berukuran 50×45×30 cm3. Sebagai pakan perlakuan yakni repeletting daun mata lele dengan pakan komersil pada tingkat suplementasi 0% (A/kontrol), 30% (B), 60% (C), dan 90% (D). Pemeliharaan ikan uji dan pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan feses ikan untuk uji ketercernaan selama 15 hari dan mengamati pertumbuhan ikan selama 40 hari. Tepung daun mata lele yang difermentasi selama dua hari (AF2) memiliki hasil yang paling baik di antara perlakuan lainnya yakni dengan penurunan serat kasar sebesar 37,19% dan peningkatan protein sebesar 38,65%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi dapat meningkatkan kualitas nutrisi daun mata lele serta dosis optimal pemanfaatan tepung daun mata lele fermentasi dalam pakan ikan nila adalah sebesar 30%.Kata kunci: serat kasar, Azolla sp., ikan nila
Page of 41
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search