Refine Search

New Search

Advanced search

Publisher Jurnal Akuakultur Indonesia

-
414 articles
Page of 42
Articles per Page
by
Adang Saputra, Tatag Budiardi, Reza Samsudin, Naufal Dwi Rahmadya
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 104-112; doi:10.19027/jai.17.2.104-112

Abstract:Snakehead Channa striata is a local specific fish species and has high economic value. Until now the production of snakehead still reelies on the catch of nature because cultivation of snakehead is still underdeveloped. The main constraint in snakehead fish farming is high mortality on snakehead juvenile rearing phase. This study was conducted to determine the best stocking density on snakehead juvenile rearing to achieve optimal production. The treatments used in this study were stocking density of 1 juvenile/L, 2 juveniles/L, and 3 juveniles/L. Snakehead juveniles with a length of 3.41 ± 0.39 cm and weight 0.28 ± 0.07 g, were reared for 42 days in the aquarium sized 40×40×40 cm with a volume of 40 L. Fishes were fed by bloodworms in ad libitum method. The result showed that the treatments did not affect the survival, growth and the ratio of RNA/DNA of snakehead juvenile. Survival of juvenile snakehead ranged 92.5‒94.58% (P>0.05). The result of water quality measurement showed that it was on optimum condition to supporting snakehead growth at 3 juveniles/L stocking density. Furthermore, recirculation can be use to maintenance water quality for optimum condition. Thus, the rearing of snakehead fish juvenile in the recirculation system can use a stocking density of 3 juveniles/L, and the recirculation system could maintain the water quality in good condition. Keywords: growth, recirculation system, snakehead fish, stocking density, survival rate ABSTRAK Ikan gabus Channa striata merupakan ikan spesifik lokal dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sampai saat ini produksi ikan gabus masih mengandalkan tangkapan dari alam karena kegiatan budidaya ikan gabus masih belum banyak berkembang. Kendala utama dalam budidaya ikan gabus adalah tingginya mortalitas pada fase pemeliharaan benih. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan padat tebar terbaik dalam upaya memperoleh pertumbuhan dan sintasan terbaik. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah padat tebar 1 ekor/L, 2 ekor/L, dan 3 ekor/L. Benih ikan gabus dengan panjang rata-rata 3,41± 0,39 cm dan bobot rata-rata 0,28 ± 0,07 g dipelihara selama 42 hari di dalam akuarium berukuran 40×40×40 cm dengan volume air 40 L. Benih ikan gabus diberikan pakan berupa cacing sutera secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan padat penebaran yang berbeda tidak memengaruhi sintasan dan pertumbuhan dan rasio RNA/DNA benih ikan gabus (P>0,05). Sintasan benih ikan gabus pada akhir pemeliharaan berkisar antara 92,5‒94,58%. Hasil pengukuran terhadap kualitas air pada kepadatan 3 ekor/L masih dalam kondisi optimum untuk mendukung pertumbuhan benih ikan gabus sehingga sistem resirkulasi yang digunakan dapat mempertahankan kualitas air dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan pemeliharaan benih ikan gabus pada sistem resirkulasi sebaiknya menggunakan padat tebar 3 ekor/L dan sistem resirkulasi dapat mempertahankan kualitas air dalam kondisi baik. Kata kunci: ikan gabus,...
Wellya Wichi Meritha, Muhammad Agus Suprayudi, Juli Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 113-119; doi:10.19027/jai.17.2.113-119

Abstract:This study aimed to evaluate the growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish juvenile reared in biofloc with different feeding rate (FR). The treatments applied in this study were rearing the fish in biofloc with FR 5% and 8% of biomass per day, and rearing the fish with a FR of 8% per day without biofloc system as the control. The fish with an initial average length of 1.81 ± 0.20 cm were stocked in 9 units of 50 L aquaria with density of 40 ind/aquaria (800 ind/m3) for 15 days rearing period. In biofloc systems, the addition of tapioca as a source of organic carbon was done every day with an estimated C/N ratio of 10. No water exchange was done in biofloc systems, whereas regular water exchange was applied in the control. Results of the experiment showed that survival was not significantly different amongst treatments (P>0.05). However, the specific growth rate of the fish in biofloc system with a FR of 8% per day showed the highest value and was significantly different from other treatments (P<0.05). Fish reared in biofloc system tend to have lower feed conversion ratios (FCRs) than the control. The lowest FCR was found in fish reared in biofloc system with 5% FR and significantly lower than control (P<0.05). Salinity stress test was conducted by soaking 15 juveniles in water with a salinity of 20 g/L for an hour. The survival of fish after salinity stress test were significantly higher for fish reared in bifloc system than control (P<0.05). These data showed that rearing striped catfish juvenile in biofloc system could reduce FCR, increase the growth, and robustness of fish. Keywords: biofloc, feeding rate, growth, salinity stress test, striped catfish ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan ketahanan benih ikan patin terhadap stres salinitas yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan tingkat pemberian pakan (FR) berbeda. Perlakuan yang terdapat dalam penelitian ini adalah benih patin yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan FR 5% dan 8% per hari, dan pemeliharaan benih dengan FR 8% per hari tanpa penambahan sumber karbon sebagai kontrol. Benih patin dengan panjang rata-rata awal 1,81 ± 0,20 cm dipelihara dalam 9 unit akuarium dengan volume air 50 L dan kepadatan 40 ekor/akuarium (800 ekor/m3) selama 15 hari. Pada sistem bioflok, penambahan tapioka sebagai sumber karbon dilakukan setiap hari dengan C/N 10. Pada sistem bioflok tidak dilakukan pergantian air, sedangkan pada kontrol dilakukan pergantian air. Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Namun, tingkat pertumbuhan spesifik ikan dalam sistem bioflok dengan FR 8% per hari menunjukkan nilai tertinggi dan berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Benih yang dipelihara pada sistem bioflok memiliki rasio konversi pakan (FCR) yang lebih rendah dibandingkan kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan bioflok (P>0,05). Uji stres salinitas dilakukan dengan...
Harton Arfah, Agus Oman Sudrajat, Muhammad Agus Suprayudi, Muhammad Zairin Junior
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 191-198; doi:10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract:This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol. Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi
Esti Handayani Hardi, Komsanah Sukarti, Maulina Agriandini, Irawan Wijaya Kusuma, Rudi Agung Nugroho
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 158-167; doi:10.19027/jai.17.2.158-167

Abstract:This study was investigated the adjuvant effect of Boesenbergia pandurata (BP), Zingiber zerumbet (ZZ), Solanum ferox (SF) on protection of tilapia with injection Pseudomonas sp. (Pseumulvacc) vaccination. The extract concentrations of BP (600 mg/L), ZZ (200 mg/L), and SF (900 mg/L) were combined with the vaccine, ratio between vaccine and extract was 1:1. Tilapia fish (weight 15 g) were intraperitoneally injected with vaccine mix the extract and challenged at days 7 (d7), 14 (d14), and 21 (d21) post vaccination through intramuscular injection with Aeromonas hydrophila and Pseudomonas fluorescens (105 CFU/mL each pathogen bacteria). The results shown that the fish with BP+V were found in fin rot at d14 days challenge. The same symptoms was found in ZZ+V at d14 challenge as much 11.11% and 42.86%. while, in the vaccine groups (V), after the challenge, tilapia were found fin rot and darkness color until the last experiment. The BP+V and SF+ZZ+V groups shown reducing the number of bacteria in the fish body after challenge test on d7, d14, and d 21. The efficacy of Pseumulvacc vaccine has increased after its administration with BP (BP+V) on day 7 and day 14 after challenge (90%) and 100% at the time of challenge test d21. The conclusion is B. pandurata extract might be a promising adjuvant candidate for fish vaccination, and B. pandurata extract is the best plants as an adjuvant that mixed with the vaccine to against A. hydrophila and P. fluorescens infection. Keywords: Adjuvant, plant extract, vaccine, fish pathogen bacteria ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek adjuvan dari ekstrak tanaman temu kunci (Boesenbergia pandurata/BP), lempuyang (Zingiber zerumbet/ZZ), dan terung asam (Solanum ferox/SF) pada ikan nila yang diberikan bersama dengan vaksin bakteri Pseudomonas sp. (Pseumulvacc) melalui injeksi. Dosis yang digunakan yaitu ekstrak BP 600 mg/L, ZZ 200 mg/L, dan SF 900 mg/L, dengan rasio antara vaksin dan ekstrak adalah 1:1. Pengujian diawali dengan menginjeksi ikan nila (bobot tubuh 15 g) melalui intraperitoneal dengan campuran vaksin dan ekstrak tanaman, dilanjutkan dengan uji tantang pada hari 7 (d7), 14 (d14) dan 21 (d21) pascavaksinasi dengan bakteri gabungan Aeromonas hydrophila dan Pseudomonas fluorescens (kepadatan bakteri masing-masing 105 CFU/mL) melalui intramuskular. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ikan yang diberi vaksin dengan penambahan ekstrak BP (BP+V) masih ditemukan mengalami sirip gripis pada waktu uji tantang hari ke 14, gejala serupa juga ditemukan pada pemberian vaksin yang dicampur dengan ZZ (ZZ+V) pada waktu uji tantang d14, sebesar 11.11 % dan 42.86%. Sedangkan ikan yang diberi vaksin tanpa campuran ekstrak (V) masih ditemukan ikan mengalami sirip gripis dan warna menghitam pada waktu uji tantang d14. Pada perlakuan BP+V dan SF+ZZ+V mampu mengurangi jumlah bakteri di dalam tubuh ikan nila pasca uji tantang d7, d14 dan d21, dan jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya....
Sukenda Sukenda, Arif Lukman Firmansyah, Rahman Rahman, Sri Nuryati, Dendi Hidayatullah
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 168-180; doi:10.19027/jai.17.2.168-180

Abstract:Streptococcus agalactiae is a major bacterial streptococcosis disease that infects tilapia. This study aimed to analyze a specific and nonspecific immune system in fry tilapia that has been given with S. agalactiae vaccine from N3M and N4M strain and examine the protective immunity against S. agalactiae N3M, N4M, N17O, NK1, and N14G strains infection. Fry tilapia used in this study has the weight of 7.086±0.948 g and length of 7.443±0.353 cm. The S. agalactiae strains that used were N3M, N4M, N17O, NK1,and N14G. Fry tilapia was vaccinated through intraperitoneal injection method with 0.1 mL per fish of N3M and N4M vaccines. Fish reared in aquarium sizing of 60×30×50 cm3 with a density of 10 fishes aquarium-1. Two weeks after vaccination, fry tilapia was tested with 0.1 mL fish-1 of each N3M, N4M, N17O, NK1, and N14G strains through intraperitoneal injection method. Antibody level measured with indirect enzym-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The result of antibody level in vaccinated fish after vaccination of N3M, N4M vaccine, N3M and N4M control were 0.767; 0.743; 0.587; and 0.544, respectively. Relative percent survival in N3M vaccinated fish after challenged with N3M and N4M was 87.50% dan 64.70%, respectively, otherwise in N4M vaccinated fish was 62.50% dan 76.47%, respectively. N3M and N4M vaccine strain have better protection as only if it tested with similar bacteria strain. Keywords: formalin-killed cell, tilapia, protection, Streptococcus agalactiae, strains ABSTRAK Streptococcus agalactiae merupakan bakteri utama penyakit streptococcosis yang menginfeksi ikan nila. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sistem imun spesifik dan nonspesifik pada benih ikan nila yang diberi vaksin S. agalactiae strain N3M dan N4M serta mengkaji imunitas protektif terhadap infeksi S. agalactiae strain N3M, N4M, N17O, NK1, dan N14G. Benih ikan nila yang digunakan memiliki bobot 7,086±0,948 g dan panjang 7,443±0,353 cm. Bakteri yang digunakan adalah S. agalactiae strain N3M, N4M, N17O, NK1,danN14G. Benih ikan nila divaksinasi menggunakan metode injeksi pada bagian intraperitoneal sebanyak 0,1 mL ekor-1 vaksin N3M dan N4M. Pemeliharaan dilakukan pada akuarium berukuran 60×30×50 cm3 dengan kepadatan 10 ekor akuarium-1. Dua minggu setelah vaksinasi benih ikan diuji tantang dengan strain bakteri N3M, N4M, N17O, NK1, danN14G menggunakan metode injeksi pada bagian intraperitoneal dengan dosis 0,1 mL ekor-1. Level antibodi diukur dengan metode indirect enzym-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil menunjukkan level antibodi ikan setelah vaksinasi pada perlakuan vaksin N3M, N4M, kontrol N3M, dan kontrol N4M berturut-turut 0,767; 0,743; 0,587; dan 0,544. Kelangsungan hidup relatif ikan yang divaksin N3M setelah diuji tantang dengan strain N3M dan N4M berturut-turut 87,50% dan 64,70%, sedangkan pada ikan yang divaksin N4M berturut-turut 62,50% dan 76,47%. Vaksin strain N3M dan N4M memiliki proteksi lebih baik jika diuji tantang dengan strain...
Lilis Nurjanah, Sri Nuryati, Alimuddin Alimuddin, Kukuh Nirmala
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 147-157; doi:10.19027/jai.17.2.147-157

Abstract:Streptococcosis caused by Streptococcus agalactiae bacteria, is a type of disease that often found in Nile tilapia farming. This study was performed to determine the effectiveness of the concentration and frequency of giving chopped banana stem as the immunostimulant to stimulate the non‒specific immune system of tilapia against S. agalactiae infection. This study used factorial completely randomized design, consisted of two factors: concentration and changing frequency (replacement time interval) of banana stem on Nile tilapia rearing media with 11 treatment and each treatment was given three replications. The concentration of 5 g/L, 10 g/L and 15 g/L and the three days, seven days and no replacement time interval were used in this study. The immersion treatment with the chopped banana stem was done for 14 days, then the challenge test with S. agalactiae was on the 15th day for 14 days observation. The result showed that chopped banana stem contained active compounds of alkaloids, namely: 17.63% flavonoids, 0.02% tannin and 0.24% saponins. This active compounds could increase the non-specific immune system including respiratory burst, lysozyme activity, phagocyte activity, erythrocyte, leucocyte and haemoglobin. Treatment with a concentration of 5 g/L and no replacement of the chopped banana stem was the best treatment with 75% relative percent survival, highest than other treatments. In addition, it also has highest phagocytes (36.3%), respiratory burst (0.58 at O.D. 630), and lysozyme activity (72.7 unit/mL) after four days challenged with S. agalactiae. Keywords: Banana stem, immunostimulant, Nile tilapia, non-specific immune system, Streptococcus agalatiae ABSTRAK Penyakit Streptococcosis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae merupakan jenis penyakit yang sering ditemukan pada budidaya ikan nilaPenelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan frekuensi pergantian cacahan batang pisang sebagai imunostimulan yang optimum sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan nila terhadap serangan penyakit streptococcosis yang disebabkan oleh bakteri S. agalactiae. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu konsentrasi dan frekuensi pergantian cacahan batang pisang pada media pemeliharaan ikan dengan 11 perlakuan dan 3 ulangan. Konsentras batang pisang yang digunakan yaitu 5 g/L, 10 g/L dan 15 g/L, sedangkan frekuensi pergantian batang pisang dalam penelitian ini yaitu tiga hari, tujuh hari dan tanpa pergantian batang pisang. Perlakuan perendaman dengan cacahan batang pisang dilakukan selama 14 hari, kemudian dilakukan uji tantang dengan bakteri S. agalactiae pada hari ke-15 selama 14 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacahan batang pisang ambon mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, flavonoid (17,63%), tanin (0,02%) dan saponin (0,24%). Senyawa aktif tersebut mampu meningkatkan respons imun non-spesifik pada ikan nila yaitu respiratory...
Latifa Fekri, Ridwan Affandi, Muhammad Fajar Rahardjo, Tatag Budiardi, Charles Parningotan Haratua Simanjuntak, Tezza Fauzan, Indrayani Indrayani
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 181-190; doi:10.19027/jai.17.2.181-190

Abstract:This study aimed to analyze the effect of water temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844). This study was conducted in March 2017 at the Physiology Laboratory of Aquatic Animal, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University. The study used a completely randomized design with five different levels of temperature (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, and 30°C) as treatments with two replications. The size of elver was 2‒3 g. Fish were fed with 1 mm pellet containing 45% of protein. The feeding level was 7 % of fish biomass and the feeding frequency was two times a day. The results showed that temperatures range from 24‒30°C could be used for freshwater eel elver rearing and 28‒30°Cwere the best temperatures to support survival and growth performance of eel elver. A temperature of 24°C was the best temperature that could reduce the metabolism rate and did not cause stress on the elver. Keywords: elver, physiological conditions, growth performance, metabolism, temperature ABSTRAK Penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh suhu terhadap kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) telah dilakukan pada bulan Maret 2017 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan suhu berbeda (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C) dengan masing-masing dua ulangan. Ukuran benih yang digunakan 2‒3 g. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran 1 mm dengan kadar protein 45%. Jumlah pakan yang diberikan (FR) adalah 7% dari biomassa ikan dan diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu 24‒30°C dapat digunakan dalam pemeliharaan elver ikan sidat, dan suhu 28‒30°C merupakan suhu yang sangat baik untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan elver ikan sidat. Suhu media 24°C adalah suhu terbaik yang dapat menekan laju metabolisme dengan tidak menyebabkan stres pada elver ikan sidat. Kata kunci: elver, kondisi fisiologis, kinerja pertumbuhan, metabolisme, suhu
Zahidah Zahidah, Yuli Andriani, Yayat Dhahiyat, Isni Nurruhwati, Asep Sahidin, Herman Hamdani, Stephanie Marcelia Victoria
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 130-136; doi:10.19027/jai.17.2.130-136

Abstract:Aquaponics is new aquaculture integrating the technology of fishes and plants due to less availability of land. This study aimed to determine the optimum retention period in the aquaponics farming of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) integrated with water spinach (Ipomoea reptan) to generate the water to support the catfish production. This study conducted in 40 days between May to June 2016 at Ciparanje Fish Hatchery Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran. The design of this study was completely randomized, with five treatments and three replications. The treatments retention periods were 5, 10, 15, 20 minutes, and control (no water flow). The study showed that the retention period affected water spinach’s inorganic nutrient absorption in sangkuriang catfish farm. The 15 minutes retention period gave the most desirable result, with a flow of 0.072 L/s that reduced 58.83% of nitrate, and 33.32% of ammonia has been produced by fish farming activities. The highest specific growth rate of the sangkuriang catfish obtained in 15 minute retention period of 4.01 % Keywords: aquaponics, sangkuriang catfish, water spinach, retention periods AbstrakAkuaponik adalah teknologi akuakultur baru yang mengintegrasikan ikan dan tanaman karena ketersediaan lahan yang semakin rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode retensi optimum pada budidaya akuaponik ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yang terintegrasi dengan kangkung air (Ipomoea reptan) untuk menghasilkan air yang mendukung produksi lele. Penelitian ini dilakukan selama 40 hari di Laboratorium Budidaya Ikan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan berupa periode retensi 5, 10, 15, 20 menit, dan kontrol (tidak ada aliran air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode retensi memengaruhi penyerapan nutrisi anorganik oleh bayam air dalam budidaya ikan lele sangkuriang. Periode retensi 15 menit memberikan hasil yang paling baik, dengan aliran 0,072 L/s mengurangi 58,83% nitrat, dan 33,32% amonia dalam media budidaya ikan. Laju pertumbuhan spesifik ikan lele sangkuriangtertinggi diperoleh pada perlakuan waktu retensi 15 menit, yaitu sebesar 4,01%. Kata kunci: akuaponik, ikan lele sangkuriang, kangkung darat, waktu retensi
Rahim Rahim, Gede Suantika, Harish Muhammad
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 137-146; doi:10.19027/jai.17.2.137-146

Abstract:This research aimed to obtain the performance of super intensive white shrimp rearing using zero water discharge (ZWD) system. This study consisted of four steps, (1) activation and cultivation of nitrifying bacteria, microalgae C. calcitrans and B. megaterium; (2) acclimatization of Pacific white shrimp PL10 with 30 g/L of salinity and decreasing salinity at 2–3 g/L/day; (3) conditioning of ZWD system; (4) white shrimp rearing in 400 L of tank for ten weeks. The experiment used three treatments, (a) shrimp reared without any addition of microbial agent with water exchange conducted every week as much as10–20% of total rearing volume as control (K); (b) ZWD systems with the applications of nitrifying bacteria, (C. calcitrans and B. megaterium) without water discharge (P1); and (c) ZWD system with the application of microalgae C. calcitrans and B. megaterum without water discharge (P2). According to the results, application of nitrifying bacteria, microalgae C. calcitrans and B. megaterium were able to improve the performance of ZWD system performance of white shrimp rearing at low salinity. In addition, the ZWD system was also able to increase the growth rate and survival rate of shrimp when it compared to control. The best rearing performance was found in ZWD system with application of microalgae C. calcitrans and B. megaterium. Keywords: Litopenaeus vannamei, ZWD, low salinity, microalgae, nitrification bacteria. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja budidaya udang putih super intensif bersalinitas rendah menggunakan sistem zero water discharge (ZWD). Penelitian ini terbagi dalam tiga, yaitu (1) aktivasi dan kultur bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterium; (2) aklimatisasi udang putih PL10 salinitas 30 g/L dan penurunan salinitas 2–3 g/L/hari; (3) pengondisian dari sistem ZWD; (4) pemeliharaan udang putih selama 10 minggu di bak bervolume 400 L. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan ; (a) perlakuan kontrol tanpa penambahan mikroba dan pergantian air setiap minggu sebanyak 10–20% (K) ; (b) sistem ZWD dengan bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterium tanpa pergantian air (P1); (c) sistem ZWD dengan mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum tanpa pergantian air (P2). Berdasarkan hasil yang didapat, aplikasi bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum mampu meningkatkan kineja sistem ZWD pada budidaya udang putih L. vannamei bersalinitas rendah. Selain itu, aplikasi bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum pada sistem ZWD juga mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasan udang putih dibanding dengan kontrol. Kinerja pemeliharaan terbaik dijumpai pada sistem ZWD dengan aplikasi mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum. Kata kunci: bakteri nitrifikasi, Litopenaeus vannamei, mikroalga, salinitas rendah, ZWD
Dinamella Wahjuningrum, Acep Muhamad Hidayat, Tatag Budiardi
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 17, pp 94-103; doi:10.19027/jai.17.1.94-103

Abstract:This research aimed to characterize bacteria caused disease in eel Anguilla bicolor bicolor. The research was conducted in two steps. The first step included the isolation and identification of bacteria from the disease infected glass eel (average body length: 5.0±0.5 cm, average weight: 0.5±0.1 g). The observation were colony and cell morphology, physiology, and biochemical characterization of bacteria, hemolysis test, and bacteria identification performed by KIT API 20 E, KIT API 20 Strep, and KIT API 20 Listeria. The second step was Koch’s postulate, tested on healthy elver with an average length of 15.00±0.65 cm and weight of 3.00±0.75 g. The results showed three dominant species of bacteria suspected as a causative agent in eel, namely: Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, and Listeria grayi. Koch’s postulates test proved that the Aeromonas hydrophila and Streptococcus agalactiae were virulent to Anguilla bicolor bicolor. Thus, A.hydrophila and S. agalactiae were disease-causing agent bacteria in eel. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, bacteria, A. hydrophila, S. agalactiae ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri penyebab penyakit pada ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi isolasi dan identifikasi bakteri dari ikan sidat kondisi sakit pada stadia glass eel. Ukuran panjang ikan sidat rata-rata 5±0,5 cm dan bobot rata-rata 0,5±0,08 g, pengamatan bentuk morfologi koloni dan morfologi sel, karakterisasi fisiologi, dan biokimia bakteri, serta uji hemolisis, dan identifikasi jenis bakteri dengan KIT API 20 E, KIT API 20 Strep, dan KIT API 20 Listeria. Tahap kedua yaitu uji postulat Koch pada ikan sidat kondisi sehat stadia elver yang berukuran panjang rata-rata 15±0,65 cm dan bobot rata-rata 3±0,75 g. Hasil penelitian diperoleh tiga jenis bakteri dominan yaitu Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, dan Listeria grayi. Uji postulat Koch membuktikan bahwa bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae bersifat virulen pada ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Dengan demikian maka bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae sebagai bakteri penyebab penyakit pada ikan sidat. Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, bakteri, A. hydrophila, S. agalactiae
Page of 42
Articles per Page
by