Journal Jurnal Hortikultura Indonesia

-
119 articles
Page of 12
Articles per Page
by
Tri Handayani, Diyah Martanti, Yuyu S. Poerba
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 88-96; doi:10.29244/jhi.8.2.88-96

Abstract:Early detection for Fusarium wilt resistant of banana plants can be done at seedling phase under greenhouse condition. The purpose of early detection was to screen and evaluate some number of local and hybrid accession of banana plants for resistance to Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc VCG 01213/16 TR4 or Foc TR4). The treatments were done by immersing the root seedling in Fusarium inoculant at concentration of 106 conidia mL-1, for 2 hours, then planted in sterile sand media and placed in container with "double tray system". Experiments were performed using 15 accessions of banana i.e. 1 accession of wild musa (Musa acuminata var. malaccesis), 7 local accessions and 7 hybrid bananas. Based on greenhouse bioassay, banana Rejang#2 (AA) showed resistance to Foc TR4. The results were consistent in the field condition. Tetraploid plants for pisang Rejang#2 (AAAA) also showed resistant to Foc TR4. Cultivar Cavendish (AAA) and Madu (AA) showed highly susceptible; Ustrali (AAAB) and Goroho (AAA) showed susceptible to Foc TR4. Wild banana (Musa acuminata var. malaccensis) and Mas Jambe 4x (AAAA) showed moderate susceptible. Of the total 7 hybrids accession; 3 hybrids showed moderate susceptible, and 4 other hybrids showed susceptible to Foc TR4.Keywords: banana plants, early detection, Foc TR4, hybrid, local ABSTRAK Deteksi awal tingkat ketahananan tanaman pisang terhadap penyakit layu Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) dapat dilakukan pada masa pembibitan di rumah kaca. Penelitian bertujuan untuk evaluasi awal tingkat ketahanan beberapa aksesi pisang liar, pisang lokal dan pisang hasil persilangan terhadap penyakit layu Fusarium. Akar bibit pisang pada air yang berisi inokulan Fusarium (Foc VCG 01213/16 atau Foc TR4) pada konsentrasi 106 konidia mL-1, selama 2 jam yang selanjutnya ditanam pada media pasir steril dan diletakkan pada kontainer dengan pengaturan “double tray system”. Lima belas aksesi pisang yang terdiri atas 1 aksesi pisang liar (Musa acuminata var. malaccensis), 7 aksesi pisang budidaya dan 7 nomor pisang hasil persilangan dievaluasi tingkat ketahanan terhadap Foc TR4. Dari hasil pengujian di rumah kaca, pisang Rejang#2 (AA) menunjukkan status tahan terhadap penyakit layu Fusarium Foc VCG 01213/16 TR4 yang hasilnya sesuai dan stabil dengan tingkat ketahanannya di lapangan. Pisang Rejang#2 tetraploid (AAAA) juga menunjukkan status tahan terhadap Foc TR4. Pisang Madu (AA) dan Cavendish (AAA) menunjukkan hasil sangat rentan, sedangkan pisang Goroho (AAA) dan pisang Ustrali (AAAB) menunjukkan status rentan. Pisang liar Musa acuminata var. malaccensis (AA) dan pisang Mas Jambe 4x (AAAA) menunjukkan status agak rentan. Pada seleksi pisang hasil persilangan, didapatkan 3 nomor pisang hibrid dengan status agak rentan yakni 816 MDRK, 1060 MDRK, 2284 MMRK, sedangkan 4 nomor hibrid lainnya menunjukkan status rentan.Kata kunci: deteksi dini, Foc TR4, hibrid, lokal, pisang
Atika Fathur Rahmi, Agus Purwito, Ali Husni, Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 79-87; doi:10.29244/jhi.8.2.79-87

Abstract:In vitro breeding technique of citrus is effective when optimum explant regeneration method is obtained. Low germination frequency and high abnormality were barrier in citrus somatic embryogenesis. This research aimed at optimizing somatic embryogenesis in Tangerine var. Batu 55. This research consisted of 3 experiments. First experiment was maturation of embryogenesis, using Completely Randomized Design (CRD) method. Modified MS+MW was used as basic media added with 500 mg L-1 malt extract (control) and addition of 3 mg L-1 BAP, and 2.5 mg L-1 ABA as treatments. Second experiment was SE (cotyledonary phage) desiccation. Factorial CRD used in two factors. First factor was poly-ethylene-glicol/PEG 8000 (0, 2.5, 5, 7.5 and 10%), while second factor was immersed periods (control, 3, 6, and 9 hours), in desiccant solution (base medium + PEG). Third experiment was studied of plantlet growth and development planlets. Based on CRD 2 factor method, the first factor was PEG concentrations from the second experiment. Second factor were active charcoal treatments (with or without), in basic media. The result showed that 2.5 mg L-1 ABA produced has highest mature somatic embryo (SE). Desiccation for 9 hours, induced the highestt germination frequencies (90.29%). The best growth of plantlets shown in previous experiments immersed desiccant PEG 2.5% for 9 hours, and cultured in basic media with 2 g L-1 of activated charcoal.Keywords: desiccant, embryogenic callus, maturation, PEG 8000, somatic embryo ABSTRAK Pemuliaan tanaman melalui teknik in vitro efektif bila metode regenerasi eksplan optimum telah diperoleh. Rendahnya frekuensi perkecambahan dan tingginya abnormalitas, menjadi kendala pada embriogenesis somatik jeruk. Penelitian terdiri atas 3 percobaan paralel, bertujuan mengoptimalkan metode embriogenesis somatik jeruk, khususnya Keprok Batu 55. Percobaan pertama pematangan kalus embriogenik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, dengan perlakuan penambahan ZPT (kontrol, 3 mg L-1 BAP, dan 2.5 mg L-1 ABA) pada media dasar (MS modifikasi vitamin MW) diperkaya 500 mg L-1 ekstrak malt. Percobaan kedua desikasi embrio somatik (fase kotiledon) menggunakan RAL dua faktor. Faktor pertama konsentrasi poly-ethylene-glicol/PEG 8000 (0, 2.5, 5, 7.5 dan 10%), dan faktor kedua waktu perendaman (kontrol, 3, 6, dan 9 jam) pada larutan desikan (media dasar + PEG). Percobaan ketiga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan planlet, menggunakan RAL dua faktor. Faktor pertama konsentrasi PEG planlet pada percobaan kedua, dan faktor kedua perbedaan media dasar (tanpa dan dengan arang aktif). Hasil percobaan menunjukkan penambahan 2.5 mg L-1 ABA menghasilkan maturasi embrio somatik terbaik. Desikasi 9 jam menghasilkan frekuensi perkecambahan 90.29%. Pertumbuhan terbaik ditunjukkan planlet yang pada percobaan sebelumnya direndam 9 jam desikan PEG 2.5%, dan dibesarkan pada media dasar dengan 2 g L-1 arang aktif.Kata kunci : desikan, embrio somatik, kalus...
Ita Madyasari, Candra Budiman, Dyah Manohara, Satriyas Ilyas
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 192-202; doi:10.29244/jhi.8.3.192-202

Abstract:The objective of the study was to obtain the best coating formula for hot pepper seeds, and evaluate the effect of seed coating and biopriming with rhizobacteria on viability of hot pepper seeds and rhizobacteria during storage. Experiment 1 was arranged in a completely randomized design with one factor i.e. 11 coating formula. Experiment 2 was arranged in a nested plot design with two factors, storage period (0, 4, 8, 12, 16, 20, and 24 weeks) as main factor and seed treatment consisted of 11 treatments (control, seed coating with E1+F2B1, ST116B, CM8; biopriming 24 h with E1+F2B1, ST116B, CM8; biopriming 48 h with E1+F2B1, ST116B, and CM8; priming metalaxyl) as nested factor. Result of experiment 1 indicated that the best coating formula for hot pepper seed was sodium alginate 2.5% and was used in experiment 2. Experiment 2 showed that seed coating and biopriming with rhizobacteria were able to maintain seed viability (79-89%) for 24 weeks of storage at 27-30 0C as compared to priming metalaxyl (54%). Biopriming E1+F2B1 24 h or CM8 48 h resulted in the highest index of seed vigor after 24 weeks of storage. Population of rhizobacteria in seed tissue decreased in bioprimed seeds from 105-107 cfu g-1 to 104 cfu g-1 after being stored for 24 weeks. Keywords: rhizobacteria isolates, seed treatment, seed vigor, sodium alginate ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendapatkan formula coating terbaik pada benih cabai dan mengevaluasi pengaruh seed coating dan biopriming dengan rizobakteri dalam mempertahankan viabilitas benih cabai dan rizobakteri selama penyimpanan. Percobaan 1 menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor yang terdiri atas 11 formula coating. Percobaan 2 menggunakan rancangan petak tersarang dua faktor, periode simpan (0, 4, 8, 12, 16, 20, dan 24 minggu) sebagai faktor utama dan perlakuaan benih yang terdiri atas 11 perlakuan (kontrol, seed coating dengan E1+F2B1, ST116B, CM8; biopriming 24 jam dengan E1+F2B1, ST116B, CM8; biopriming 48 jam dengan E1+F2B1, ST116B, dan CM8; priming metalaksil) sebagai faktor tersarang. Hasil Percobaan 1 menunjukkan bahwa formula coating terbaik untuk benih cabai ialah natrium alginat 2.5% dan digunakan pada percobaan 2. Percobaan 2 menunjukkan bahwa seed coating dan biopriming dengan rizobakteri mampu mempertahankan viabilitas benih (78-89%) selama 24 minggu penyimpanan pada suhu 27-30 0C dibandingkan priming metalaksil (54%). Biopriming E1+F2B1 24 jam atau biopriming CM8 48 jam menghasilkan indeks vigor paling tinggi setelah disimpan selama 24 minggu. Populasi rizobakteri di dalam jaringan benih menurun pada benih yang diberi perlakuan biopriming dari 105-107 cfu g-1 menjadi 104 cfu g-1 setelah disimpan selama 24 minggu.Kata kunci: isolat rizobakteri, natrium alginat, perlakuan benih, vigor
Aulia Zakia, Satriyas Ilyas, Candra Budiman, Dyah Manohara
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 171-182; doi:10.29244/jhi.8.3.171-182

Abstract:The objectives of this study was to evaluate biopriming of chili seed with rhizobacteria to improve plant growth and control Phytophthora blight disease in a greenhouse. This experiment used three isolates of rhizobacteria, i.e. E1, E3C2 and F2B1, and isolate Phytophthora capsici (Cb6) isolated from the production center of chili in East Jawa. Laris variety from PT. East West was used in this experiment. This experiment used randomized block design with one factor, i.e. 11 levels of seed treatment (E1 rhizobacteria, E3C2 rhizobacteria, F2B1 rhizobacteria, E1+E3C2 rhizobacteria, E1+F2B1 rhizobacteria, E1+E3C2+F2B1 rhizobacteria, seed soaking in water, without soaking, metalaxyl, positive control and negative control). The result showed that seed treatment with combination of E1+F2B1 isolates when grown in nursery, significantly increased the height and number of leaves in chilli. Besides, seed treatment with F2B1 isolate and combination of E1+F2B1 isolates after transplanting were capable to improve plant growth and control Phytophthora blight disease in greenhouse.Keywords: greenhouse, isolate rhizobacteria, Phytophthora capsici ABSTRAK Tujuan penelitian ini ialah mengevaluasi perlakuan biopriming benih cabai dengan rizobakteri dalam meningkatkan pertumbuhan bibit dan mengendalikan kejadian busuk Phytophthora di rumah kaca. Perlakuan biopriming benih dengan rizobakteri menggunakan tiga isolat rizobakteri E1, E3C2 dan F2B1 dan isolat Phytophthora capsici Cb6 hasil eksplorasi pertanaman cabai Jawa Timur. Benih yang digunakan dalam percobaan merupakan benih varietas Laris produksi PT. East West. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok satu faktor, masing-masing perlakuan diulang empat kali, dengan 11 taraf perlakuan, antara lain R0+ (kontrol positif, benih direndam dalam PDB tanpa perlakuan rizobakteri dengan inokulasi P. capsici), R0- (kontrol negatif, benih direndam dalam PDB tanpa perlakuan rizobakteri dan tanpa inokulasi P. capsici), R1 (perlakuan benih dengan isolat E1), R2 (isolat E3C2), R3 (isolat F2B1), R4 (kombinasi isolat E1+E3C2), R5 (kombinasi isolat E1+F2B1), R6 (kombinasi isolat E1+E3C2+F2B1), R0RA (benih direndam dalam air 24 jam), R0TR (benih tanpa rendam), R0M (benih direndam dalam metalaksil). Tanah inokulum P. capsici diberikan 28 hari setelah pindah-tanam di sekitar pangkal batang tanaman cabai di bawah permukaan tanah. Hasil percobaan menunjukkan, perlakuan dengan kombinasi isolat E1+F2B1 saat persemaian di rumah kaca nyata meningkatkan tinggi dan jumlah daun tanaman cabai. Perlakuan benih dengan isolat F2B1 maupun kombinasi isolat E1+F2B1 setelah pindah-tanam di rumah kaca memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman serta mengendalikan penyakit busuk Phytophthora. Kata kunci: isolat rizobakteri, Phytophthora capsici, rumah kaca
Atika Romalasari, Slamet Susanto, Maya Melati, Ahmad Junaedi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 155-161; doi:10.29244/jhi.8.3.155-161

Abstract:Kristal guava is one of the popular guava cultivars nowadays. The guava has white flesh and not-perfectly-round shaped that resembles a crystal and seedless. However, during the growth period fruit undergoes several physical and chemical changes and susceptible to insect infestation and other damage, all of which can reduce their commercial value and thus cause significant yield and economic losses. The aim of this research was to evaluate the influence of different color and bagging materials on guava fruit development and quality. The research was conducted at farmer farm located in Cikarawang Dramaga, from November 2013 to April 2014. This research was arranged in a randomized block design with one factor, consisted of ten treatments and five replications. The treatments were red plastic, yellow plastic, green plastic, blue plastic, sponnet with red plastic, sponnet with yellow plastic, sponnet with green plastic, sponnet with blue plastic, sponnet with transparent plastic and unbagged. Fruit quality assesment was conducted in Postharvest Laboratory of Agronomy and Horticulture Department, Bogor Agricultural University and Center for Tropical Horticultural Studies. The result showed that bagging improved fruit size, external quality and accelerated fruit maturity. Sponnet with red plastic bagging resulted in the biggest fruit at harvest. Sponnet with yellow or with red plastic baggings were able to maintain fruit peel smoothness up to 85%. Sponnet and plastic bagging resulted in better external quality than bagging with plastic only. Bagging did not show any effect on internal fruit quality. Keywords: colored bag, guava cv. Kristal, soluble solids content, sponnet, titratable acidityABSTRAK Jambu ‘Kristal’ merupakan salah satu kultivar jambu biji yang sedang populer saat ini. Jambu Kristal memiliki daging buah berwarna putih, berbentuk bulat tidak beraturan serta berbiji sedikit. Selama pertumbuhan dan perkembangan buah mengalami berbagai perubahan fisik dan kimia dan rentan terhadap serangan hama, yang secara keseluruhan dapat mengurangi nilai komersial sehingga menyebabkan kehilangan yang signifikan dari segi hasil panen dan kerugian ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh warna dan bahan pemberongsong terhadap perbaikan kualitas buah jambu ‘Kristal’. Penelitian dilaksanakan pada November 2013 sampai April 2014, di kebun petani yang berlokasi di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor yaitu pemberongsongan buah, dengan sepuluh taraf dan lima ulangan. Perlakuan pemberonsongan menggunakan plastik merah, plastik kuning, plastik hijau, plastik biru, sponnet dan plastik merah, sponnet dan plastik kuning, sponnet dan plastik hijau, sponnet dan plastik biru, sponnet dan plastik bening serta tanpa pemberongsong. Pengujian kualitas buah dilakukan di Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor...
Rista Delyani, Ani Kurniawati, Maya Melati, Didah Nur Faridah
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 209-217; doi:10.29244/jhi.8.3.209-217

Abstract:Cat whisker has been known as multifunctional herb. Good agricultural practice of cat whisker is necessary to produce high yield and good quality of simplicia as source of bioactive compound. As ratoon-harvested plant, fertilization and harvest management are important to maintain growth condition and production at each harvest. The objective of this study was to determine the best technique of fertilizer application and cutting height to obtain the highest simplicia of cat whisker production. The experiment was arranged in split plot design with three replications. The treatment were technique of organic fertilizer application (one time/10 ton ha-1 at transplanting time, and split /5 ton ha-1 at transplanting time+5 ton ha-1 at second harvest) as main plot and cutting height (one time /10, 20 and 30 cm above ground level) as sub plot. Growth and production data were collected. Result showed that the application of 10 ton ha-1 manure at transplanting time and harvest at 30 cm cutting height produced the highest simplicia production. One time application of fertilizer produced 3.09 ton ha-1 meanwhile split application only produced 2.81 ton ha-1 of simplicia. Harvest at 30 cm cutting height resulted in higher total simplicia production (3.24 ton ha-1) than at 10 dan 20 cm cutting height (2.66 and 2.95 ton ha-1, respectively. The average total simplicia production in 6 times harvesting during 23 weeks after transplanting was 2.95 ton ha-1. There is no significant interaction effect of the treatments on total simplicia production. Keywords: medicinal plant, organic, perennial plant, ratooning, split application ABSTRAK Kumis kucing dikenal sebagai tanaman obat yang serbaguna. Praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tanaman kumis kucing diperlukan untuk menghasilkan produksi biomassa yang tinggi dan simplisia yang berkualitas sebagai sumber senyawa bioaktif. Sebagai tanaman yang dapat dipanen lebih dari satu kali, pengaturan pemupukan dan panen penting untuk mempertahankan kondisi tanaman dan produksi yang dihasilkan di setiap panen. Penelitian ini bertujuan mendapatkan cara pemupukan dan ketinggian pangkas yang terbaik demi menghasilkan produksi simplisia yang tinggi. Penelitian disusun menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah cara pemberian pupuk (sekaligus /10 ton ha-1 saat pindah tanam dan bertahap /5 ton ha-1 saat pindah tanam +5 ton ha-1 saat panen kedua) sebagai petak utama dan ketinggian pangkas (10, 20, dan 30 cm dari permukaan tanah) sebagai anak petak. Data pertumbuhan dan produksi diamati selama penelitian. Hasil menunjukkan bahwa produksi simplisia daun kumis kucing tertinggi diperoleh dengan memberikan pupuk kandang secara sekaligus sebanyak 10 ton ha-1 saat pindah tanam dan memangkas dengan ketinggian pangkas 30 cm dari permukaan tanah. Pemberian pupuk kandang secara sekaligus menghasilkan simplisia daun sebesar 3.09 ton ha-1....
Rd. Selvy Handayani
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 147-154; doi:10.29244/jhi.8.3.147-154

Abstract:Research that specifically refers to the quality of North Aceh durian is still limited. The objective of this research was to obtain the characteristics and similarity of North Aceh superior durian. The fruits were obtained from Sawang, Langkahan, Paya Bakong, and Kuta Makmur, North Aceh District. The results showed that 22 North Aceh durian accessions has superior criteria based on national standards (Departement of Agriculture) and consumers preferences. This can be seen from the length of the thorns, fruit weight, edible portion, and total dissolved solids. North Aceh superior durian fruits showed low degree of similarity.Keywords: accessions, characterization, exploration, identification ABSTRAKPenelitian yang secara khusus mengarah pada kualitas buah durian asal Aceh Utara sampai saat ini masih sangat terbatas. Keterbatasan informasi mengenai durian asal Aceh dapat menyebabkan lemahnya perlindungan terhadap kekayaan alam kita. Tujuan penelitian ini ialah mendapatkan karakteristik dan tingkat kemiripan buah durian unggulan Aceh Utara. Buah yang digunakan berasal dari tanaman durian unggulan di Kecamatan Sawang, Langkahan, Paya Bakong, dan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 aksesi tanaman durian unggulan Aceh Utara memiliki kriteria unggul berdasarkan standar nasional (Departemen Pertanian) dan tingkat kesukaan konsumen. Hal tersebut dapat terlihat dari karakter panjang duri, berat buah, persentase daging buah dan padatan terlarut total. Tanaman durian unggulan Aceh Utara memiliki karakteristik buah dengan tingkat kemiripan yang rendah (karakter beragam).Kata kunci: aksesi, eksplorasi, identifikasi, karakterisasi
Yulia Nuraini, Rurin Eka Asgianingrum
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 183-191; doi:10.29244/jhi.8.3.183-191

Abstract:The use of inorganic fertilizers to increase crop productivity can be suppressed by switching it to organic fertilizers. The abundance of cow urine waste can be used as organic fertilizer and to be used as biourine. This study was aimed at determining the effect of biofertilizers and molasses toward biourine quality and its effect on productivity of pakchoy. This research was conducted in UPT Compost Brawijaya University, and glasshouses in Sukapura Village, Probolinggo in August to November 2016. This research consisted of two steps. First production of biourine with the addition of organic material such as molasses, biofertilizers, and empon-empon namely turmeric, galangal, and Kaempferia galanga, which consists of 12 treatments with 3 replications arranged in a completely randomized design, and application of biourine on pakchoy consisting of 6 treatments (control, doses of 200, 300, 400, 500, and 600 ml L-1) with three replications. The results of first step showed E1 treatment (10 L biourine + 30 ml + 750 ml molasses) can improve N-total 860%, organic matter 282%, and population of microbe 1229%. The best biourine in first research (E1 treatment) was applied with dose 600 ml L-1 showed the best result. It showed to increase the number of leaves as much as 48% and the fresh weight of pakchoy by 405% when compared to no biourine treatment.Keywords: biofertilizer, inceptisols, soil health, and population of microbe ABSTRAK Penggunaan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanaman dapat ditekan dengan beralih menggunakan pupuk organik. Melimpahnya limbah urin sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan dijadikan biourin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk hayati dan molase terhadap kualitas biourin dan pengaruhnya terhadap produktivitas pakchoy. Penelitian dilakukan di UPT Kompos Universitas Brawijaya, dan rumah kaca di Desa Sukapura, Probolinggo pada bulan Agustus sampai Nopember 2016. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, pertama pembuatan biourin dengan penambahan bahan organik berupa molase, pupuk hayati, dan empon-empon (kunyit, lengkuas, dan kencur) yang terdiri dari 12 taraf perlakuan dengan 3 ulangan pada Rancangan Acak Lengkap, dan kedua pengaplikasian biourin pada tanaman pakchoy yang terdiri dari 6 taraf perlakuan (kontrol, dosis 200, 300, 400, 500, dan 600 ml L-1) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian tahap pertama menujukkan perlakuan E1 (10 L urin + 30ml pupuk hayati + 750ml molase) mampu meningkatkan N-total 860%, bahan organik 282%, dan populasi mikroba sebesar 1229%. Aplikasi biourin terbaik pada penelitian tahap 1 (perlakuan E1) dengan dosis 600 ml L-1 pada tanaman pakchoy menunjukkan hasil terbaik, ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah daun sebanyak 48% dan bobot basah tanaman sebesar 405% jika dibandingkan tanpa pemberian biourin.Kata kunci: inceptisol, kesuburan tanah, mikroba, dan pupuk organik cair
Al Ichsan Amri, Asty Diansyah
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 203-208; doi:10.29244/jhi.8.3.203-208

Abstract:The aim of the research was to determine growth and yield of chili (Capsicum annuum L.) as a result of application of compost and inorganic fertilizer. The research was conducted in experimental field at Jl. Melati Panam and soil laboratory Faculty of Agriculture, Riau University on Bina Widya Campus Km 12.5 Simpang Baru sub-district, Tampan district, Pekanbaru, from September 2015 to March 2016. Research used Completely Randomized Design (CRD) factorial consisting of two factors. The first factor was compost (K) : without compost, compost TKS (oil palm fruit branch + restaurant trash) and JRM (rice straw + market trash) 25 g polybag-1 and the second factor was NPK dose (0, 12.5 and 25) g plant-1.The variables observed were plant height, stem diameter, days to flowering, harvest date , length and weight of fruit per plant. Data obtained from the research were analyzed by analysis of variance followed by Duncan Multiple Range Test at 5%. The results of application of compost with NPK did not show significant effect on plant height, length and weight of the fruit crop, but gave significant effect on stem diameter, harvest and flowering date.Keywords: dose, NPK, plant growth, yield ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman cabai (Capsicum annuum L.) terhadap aplikasi pupuk kompos dan pupuk anorganik. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Jl. Melati Panam dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12.5 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, sejak bulan September 2015 sampai Maret 2016. Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dan terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama ialah percobaan pemberian pupuk kompos (K), terdiri dari tanpa pupuk kompos, pupuk kompos TKS (tandan kosong kelapa sawit + sampah restoran) dan JRM (jerami padi + sampah pasar) masing-masing 25 g polibag-1 dan faktor kedua dosis pupuk NPK (A) terdiri atas (0, 12.5 dan 25) g tanaman-1. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, diameter batang, umur berbunga, umur panen, panjang buah dan bobot buah per tanaman. Data yang diperoleh dari pengamatan dianalisis secara statistik dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk kompos dan penambahan NPK tidak berbeda nyata terhadap variabel tinggi tanaman, panjang buah dan berat buah tanaman-1, namun berbeda nyata terhadap variabel diameter batang, umur panen dan umur berbunga tanaman cabai.Kata kunci: dosis, hasil, NPK, pertumbuhan tanaman.
Edi Santosa, Marcella Putriantari, Hajime Nakano, Yoko Mine, Nobuo Sugiyama
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 8, pp 162-170; doi:10.29244/jhi.8.3.162-170

Abstract:Demand on fruits of Leunca (Solanum nigrum L.) is increasing in Indonesia due to a rapid expansion of ethnic restaurants, especially Sundanese restaurants. Most fruits come from semi-intensive cultivation in intercropping system, leading to low productivity. In order to improve productivity, nitrogen experiment was carried out at field of Leuwikopo Farm of Bogor Agricultural University, Bogor-Indonesia, during rainy season from December 2013 to April 2014. Four levels of nitrogen, i.e., 0, 60, 120, and 180 kg N ha-1, were arranged in a randomized complete block design with four replicates. The results revealed that canopy architecture, dry matter and fruit production, and fruit quality were highly affected by nitrogen application. Increasing nitrogen levels increased biomass and fruit production. Plants treated with nitrogen at level of 60 kg ha-1 produced ideal height for local labor and stable weekly fruit production than other levels. Hence, N fertilizer is essential for achieving high productivity of S. nigrum.Keywords: canopy shape, fruit load, indigenous vegetable, leunca, ranti kebo ABSTRAK Permintaan buah Leunca (Solanum nigrum L.) terus meningkat di Indonesia sejalan dengan perkembangan restoran etnis khususnya restoran Sunda. Sebagian besar buah leunca berasal dari tanaman sampingan secara tumpangsari, sehingga produktivitas rendah. Dalam rangka meningkatkan produktivitas, percobaan pemberian nitrogen dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Bogor pada musim hujan Desember 2013 sampai April 2014. Nitrogen diberikan empat taraf yaitu 0, 60, 120, dan 180 kg N ha-1, yang disusun dalam rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Hasil menunjukkan bahwa bentuk kanopi, produksi bahan kering dan produksi buah serta kualitas buah dipengaruhi oleh pemberian nitrogen. Peningkatan dosis nitrogen meningkatkan bahan kering dan produksi buah. Tanaman dengan perlakuan 60 kg N ha-1 menghasilkan tinggi yang ideal bagi pemanen, dan hasil mingguan yang stabil dibandingkan dengan taraf yang lebih besar. Oleh karena itu, pemupukan nitrogen penting dilakukan untuk meningkatkan produktivitas leunca.Kata kunci: beban buah, bentuk kanopi, leunca, ranti kebo, sayuran tradisional
Page of 12
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search