Journal E-DIMAS

-
171 articles
Page of 18
Articles per Page
by
Helda Jolanda Pentury
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 28-39; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2256

Abstract:Strategi atau teknik yang biasanya digunakan oleh guru dalam mengajar cenderung bersifat konvensional, yaitu setelah mengajarkan melafalkan kosakata secara berulang-ulang (drills), guru menjelaskan kosakata bahasa Inggris dengan menerjemahkan, yaitu memberikan padanannya dalam bahasa ibu (bahasa Indonesia). Pemanfaatan bahasa pertama (L1) bila dilakukan terlalu sering, bahkan mendominasi tidak baik atau tidak membantu siswa menguasai bahasa yang dipelajari. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menjadi model bahasa target dengan baik, yakni lebih banyak menggunakan bahasa Inggris di dalam kelas. Penelitian ini untuk membantu para guru, utamanya yang tidak berlatar belakang kependidikan bahasa Inggris agar dapat meningkatkan kualitas bahasa Inggris yang digunakan di dalam kelas melalui pelatihan penggunaan bahasa kelas (classroom language). Penelitian bagi para guru di TK Limo Depok, ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang penggunaan instruksi bahasa Inggris dalam pembelajaran yang interaktif dan berbagai sumber belajar oleh para guru di dalam kelas. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif melalui pelatihan bagi para guru, antara lain dengan adanya kegiatan workshop.
Sudargo Sudargo, Dias Andris Susanto, Suwarno Widodo, Ismatul Khasanah
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 128-133; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2261

Abstract:Pemerintah Kota Semarang sudah bersusah payah untuk membantu masyarakatnya dalam menanggulangi kemiskinan. Dengan menerbitkan beberapa program pengentasan kemiskinan diharapakan masyarakat bisa terentaskan dari lubang kemiskinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model KKN Posdaya MDGs untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Semarang yang dilakukan oleh institusi perguruan tinggi Universitas PGRI Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi R and D (Research and Development) dengan sample adalah 5 kecamatan di Kota Semarang yaitu; Genuk, Gayamsari, Tembalang, Banyumanik dan Pedurungan. Subject dari penelitian ini adalah mahasiswa, DPL, Perangkat Lurah, Perangkat Kecamatan, Pejabat SKPD/Institusi pemerintah dan masyarakat. Hasil penelitan ini adalah bahwa Model KKN Posdaya MDGs Universitas PGRI Semarang memuat program-program dalam rangka mengentaskan kemiskinan seperti; membuat dan memajukan koperasi, membantu meningkatkan usaha peningkatan penghasilan keluarga prasejahtera, membantu usaha peningkatan penghasilan keluarga, dan membangun kelompok usaha bersama, serta mendirikan usaha ekonomi produktif.
Eny Idayati, M. Basri
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 108-119; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.1467

Abstract:Angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam kategori tinggi. Beberapa kasus banyak dijumpai di daerah-daerah pedesaan yang minim fasilitas sarana dan prasarana kesehatan serta pengetahuan tentang gizi. Berbagai upaya penanganan gizi berimbang tidak hanya diusahakan dari rumah sakit tetapi mulai digiatkan sampai pada unit terkecil yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) agar mempunyai kemampuan dalam penjegahan dan penanganan gizi buruk. Tujuan kegiatan IbM Posyandu Bosen yaitua optimalisasi pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar lingkungan, dan memperkaya kreatifitas pengolahan aneka produk untuk konsumsi dengan : 1) Penerapan optimalisasi budidaya pekarangan sekitar rumah seperti vertikultur sayuran dan biofarmaka serta pelatihan pembuatan pupuk organik, 2) sosialisasi nutrisi dan pelatihan olahan makanan menu keluarga dan produk berdaya simpan panjang dengan tetap mempertahankan kandungan gizinya, dan 3) pelatihan pembukuan rumah tangga, Target utama dari kegiatan ini adalah semua ibu balita pada Posyandu Kolsa dan Makmur beserta kader. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan mitra sekitar 80% mitra mampu terampil, dan mandiri dalam menerapkan pola hidup sehat dan teknik bertanam secara vertikultur sayuran dan biofarmaka ramah lingkungan yang bebas limbah, sikap positif dan motivasi yang tinggi selama mengikuti kegiatan IbM, yang ditunjukkan kehadiran dan minat mitra pada setiap diskusi, pelatihan, dan kegiatan monitoring.
Dian Esti Nurati, Joko Pramono
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 1-14; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2255

Abstract:Pendidikan non formal terutama Pusat Kegiatan Belajar masyarakat (PKBM) yang berada di wilayah Desa Makamhaji, dua di antaranya adalah Pawiyatan Pambyawara atau Pembawa Acara Mangesti Mulyo yang berlokasi di RW. 14 dan Pawiyatan Manunggal Makarti Mulyo yang berada di lingkungan RW. 15. Pawiyatan ini didirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan kedua Rukun warga tersebut sekitar tahun 2000 yang lalu, hingga sampai sekarang telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun. Masing-masing pawiyatan diikuti setiap angkatan kurang lebih 20 sampai dengan 30 warga masyarakat. Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat kelurahan Makamhaji utamanya warga masyarakat di RW. 14 serta RW. 15, sangat mencintai budaya lokal khususnya budaya Jawa di bidang Pambyawara atau Pembawa Acara berbahasa Jawa dengan tata bahasa yang halus (kromo inggil) yang pada awalnya telah sejak lama diajarkan kepada para siswa yang mengikuti pelatihan (gladen) di Keraton Kasunanan Surakarta. Berdasarkan pada materi pelatihan di bidang Pambyawara, Macapat, dan Ngadi Busana yang selama ini secara sederhana telah dilakukan secara rutin, dengan dilakukannya kegiatan IbM ini mampu memberikan peningkatan kualitas materi pelatihan sehingga bermanfaat bagi para peserta pelatihan utamanya masyarakat di wilayah kegiatan IbM ini dilaksanakan. Harapan selanjutnya adalah agar masyarakat setempat mampu memiliki pengetahuan serta keterampilan tersebut secara profesional, sehingga pada akhirnya mampu dipergunakan sebagai profesi yang meningkatkan status sosial dan ekonomi yang bersangkutan.
Isy Royhanaty, Maftuchah Maftuchah
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 77-87; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.1739

Abstract:Posyandu (pos pelayanan terpadu) merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kemandirian melaksanakan kegiatan dalam bidang kesehatan yang salah satunya kegiatannya mencakup pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Balita. Masih adanya 4 Posyandu yang berstrata madya dan 1 Posyandu Pratama merupakan tantangan yang besar baik bagi Kelompok Kerja IV PKK Kelurahan Sambiroto maupun Puskesmas Kedungmundu untuk meningkatkan strata menjadi purnama bahkan mandiri. Salah satu syarat peningkatan strata Posyandu yaitu adanya program tambahan dan dana sehat. Salah satu cara menjawab tantangan tersebut adalah dengan membentuk program tambahan yang sekaligus bisa digunakan sebagai sumber dana sehat mandiri bagi kegiatan Posyandu. Sudah terdapat program tambahan di beberapa Posyandu di Sambiroto yang berjalan dengan baik, seperti Posyandu Lansia dan PAUD, namun belum pernah ada program yang ditujukan untuk optimalisasi tumbuh kembang bayi. Permasalahan yang muncul dikegiatan Posyandu, perlu dicarikan solusi sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan oleh semua masyarakat terutama bayi yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan kepada kader Posyandu dengan mengadakan pelatihan pijat bayi dan mendirikan sanggar pijat bayi sehat. Luaran yang akan dihasilkan berupa pelatihan terstruktur dan Sanggar Pijat Bayi Sehat.
Drajat Indah Mawarni, Hendri Suryanto, Sarip Sarip
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 59-69; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2258

Abstract:Usaha pembuatan wingko merupakan sumber penghasilan utama bagi para pengrajin wingko di Kelurahan Balun Kecamatan Cepu. Kondisi oven yang layak, bersih dan efisien akan berpengaruh pada kualitas wingko yang dihasilkan dan pendapatan pengrajin. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah bahwa oven gas yang digunakan sudah tidak layak dan efisien lagi digunakan. Di samping itu kualitas wingkonya juga tidak bagus karena banyak yang gosong dan kurang higienis. Tujuan dari kegiatan IbM ini adalah mengatasi permasalahan mitra agar biaya produksinya rendah dan wingko yang dihasilkan juga baik kualitasnya dan higienis. Untuk itu ditawarkan solusi yaitu dibuat oven yang lebih efisien dalam penggunaan energi dan higienis serta dibuat rak penyimpanan sehingga wingko yang dihasilkan memenuhi syarat Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Metode pelaksanaan solusi yang ditawarkan adalah pertama, koordinasi dengan mitra untuk menentukan jadwal kegiatan. Kedua, melaksanakan pembuatan oven dan pelatihan-pelatihan. Ketiga, melakukan evaluasi terhadap program pengabdian yang telah dilakukan dengan cara survey lapangan ke mitra, 1 bulan dan 6 bulan setelah program ini selesai. Hasil dari kegiatan IbM ini adalah mitra bisa menurunkan biaya produksi pembuatan wingko sebesar Rp 540.000 dalam satu bulan. Kuantitas produksi wingko meningkat dari 4,6 kg menjadi 8 kg dalam satu kali proses pemanggangan dan kualitas wingkonya bagus, tidak gosong dan higienis. Pemahaman dan keterampilan mitra meningkat dalam memproduksi wingko yang higienis sesuai persyaratan BPOM, mengganti tabung LPG yang habis dengan waktu lebih cepat dan merawat oven gas. Omzet mitra juga meningkat sebesar 15 kg dalam satu bulan.
Asidigisianti Surya Patria, Siti Mutmainah
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 15-27; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2019

Abstract:Karang Werda Wiguna Karya Kelurahan Kebonsari Surabaya merupakan sekelompok masyarakat yang kurang produktif. Persoalan prioritas yang disepakati untuk diselesaikan selama pelaksanaan kegiatan dalam memberdayakan para lansia berpotensi untuk mempelajari keterampilan kerajinan Makrame. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif untuk memudahkan dalam mendeskripsikan beberapa fakta-fakta, dan hasil yang terdapat di kelompok lansia. Subyek penelitian ini adalah Karang Werda Wiguna Karya Kelurahan Kebonsar Surabaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, penelusuran data online, observasi, wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan dan dokumentasi yang dilakukan melalui studi lapangan (field research). Luaran (output) dari kegiatan pemberdayaan ini adalah produk-produk kerajinan berbahan tali kor dengan teknik makrame, yaitu: sarung bantal kursi, tutup galon air mineral, kap lampu dan tas. Media promosi berupa standing banner dan brosur digunakan untuk memasarkan produk-produk kerajinan ketika mengikuti pameran produk unggulan daerah.
Hasbi Yasin, Darwanto Darwanto, Hari Susanta Nugraha
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 98-107; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.1746

Abstract:Kain tenun sebagai kain budaya menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu sentra pengrajin kain tenun berada di desa Troso kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara, yaitu pada UKM Ampel Jaya dan UKM Tiara. Permasalahan yang dihadapi salah satunya adalah masalah manajemen usaha dan produksi. Pada umumnya pengrajin tenun Troso memproduksi kain tenun berdasarkan pesanan dari klien atau pedagang kain dari luar daerah. Oleh sebab itu, maka diperlukan kecermatan agar dapat berproduksi seefisien mungkin. Pengrajin sering kali menghitung biaya produksi hanya berdasar perkiraan dan tidak ada ukuran yang jelas dalam menghitung besar biaya produksi. Tim Pelaksana IbPE memperkenalkan metode perhitungan biaya produksi dengan menggunakan Kartu Biaya Pesan Produksi untuk penetapan harga jual dan pengendalian biaya. Penerapan kartu ini juga sekaligus melengkapi program tahun sebelumnya yaitu tentang penggunaan Papan Informasi Produk dan Papan Informasi Stok. Dengan memanfaatkan media yang ada, UKM mitra dapat terbantu dalam menganalisa kondisi usahanya secara lebih jelas dan akurat sehingga bisa menjadi bahan rujukan dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat.
Abdul Rohman, Heni Rizqiati, Putri Nur Anggraini, Satrio Yudho Widiantoro
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 120-127; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.1450

Abstract:Tujuan PKMM ini adalah memberikan pelatihan pengolahan tanaman singkong menjadi aneka makanan olahan yang bernilai ekonomi tinggi. Target kegiatan PKMM ini adalah memberikan pelatihan kepada ibu rumah tangga di Dusun Mrico Desa Lebak, Grobogan. Setelah diberikan pelatihan maka selanjutnya mereka akan melakukan praktek secara terbimbing dan dilakukan pendampingan usaha. Pelatihan dilakukan secara berkelompok dengan pendekatan andragogi. Materi pelatihan disajikan dengan lebih banyak praktek dari teori, dengan rasio perbandingan 30 % teori dan 70 % praktek. Pelaksanaan PKMM telah memberikan pengetahuan kepada peserta pelatihan tentang diversifikasi olahan singkong, pengemasan dan pelabelan, sertifikasi cara produksi pangan yang baik, tata letak produksi, kewirausahaan, perhitungan harga jual dan titik impas, serta materi praktek pengembangan produk yang meliputi pembuatan keripik singkong aneka rasa. Pengabdian berjalan dengan baik karena adanya koordinasi yang baik antara ketua tim PKMM dengan anggota tim PKMM dan juga komunikasi yang baik dengan pihak eksternal mitra untuk menjalin kerja sama yang berkelanjutan. Namun demikian, masih ada satu kendala yaitu mindset warga yang masih sulit berubah menjadi wirausaha. Oleh karena, untuk merubah mindset tersebut tim PKMM akan fokus di lokasi pelatihan dan memberikan pendampingan dalam pemasaran produk keripik singkong yang dihasilkan.
Sari Purnavita, Herman Yoseph Sriyana, Tantri Widiastuti
Published: 28 March 2018
E-DIMAS, Volume 9, pp 88-97; doi:10.26877/e-dimas.v9i1.2260

Abstract:Tanaman garut termasuk dalam jenis umbi-umbian yang banyak ditanam oleh masyarakat yang tinggal di Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen. Di Kabupaten Sragen terdapat beberapa industri rumah tangga emping garut, dua di antaranya yang memiliki motivasi sangat besar untuk berkembang adalah UKM emping garut “Sumber Rejeki” dan UKM emping garut “Fadilah”. Permasalahan kedua UKM adalah keterbatasan inovasi rasa emping garut, kemasan sangat sederhana, dan sistem pemasaran masih tradisional sehingga sehingga omzet penjualan dan nilai jual produk masih rendah. Untuk meningkatkan omzet penjualan dapat dilakukan dengan perbaikan inovasi dan teknologi pengemasan, teknologi seasoning dengan bumbu tabur, dan memperluas pemasaran dengan media internet. Produk emping garut yang dikemas secara menarik, inovasi produk emping garut aneka rasa, dan pemasaran dengan media internet melalui blogspot dapat menenbus pemasaran secara luas baik di toko-toko besar, harga jual produk meningkat 50%,dan omzet penjualan meningkat 100%.
Page of 18
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search