Journal LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR

-
39 articles
Page of 4
Articles per Page
by
Emilya Kalsum
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 2; doi:10.26418/lantang.v2i1.13842

Abstract:Bangsa Indonesia seringkali mengalami konflik antar etnik, yang dapat terjadi karena kemajemukan suku dan kebudayaan yang dimiliki. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa akar permasalahan konflik adalah perbedaan sistem nilai-nilai budaya dan kemudian konflik dapat menyebabkan segregasi yang berimbas pada pola permukiman. Padahal bukan tidak mungkin konflik tersebut terjadi karena suatu pola permukiman yang menegaskan perbedaan nilai-nilai di antara pemukimnya sehingga proses integrasi tidak dapat terjadi. Kajian ini menyusun model yang dapat digunakan untuk menelaah pengaruh pola permukiman terhadap konflik sehingga mampu dilakukan penelitian yang komprehensif. Kajian dimulai dengan mengupas pengertian pola permukiman dengan tiga unsur (wadah, isi, jaringan) dan melihat konsep hubungan sosial. Wujud proses interaksi sosial dapat membuahkan dua alternatif yang bersifat positif atau negatif. Hal bersifat negatif akan memunculkan suasana hubungan sosial yang tidak harmonis dan kemudian memunculkan konflik. Hubungan sosial antar etnik juga selalu diwarnai prasangka yang dilandasi sikap stereotip dan etnosentris juga karena adanya perbedaan kepentingan. Unsur-unsur dalam pola permukiman dikaitkan dengan hubungan sosial di antara penghuninya. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan perilaku melalui konsep seting perilaku (behavior setting). Hasil kajian adalah sebuah model penelitian yang mengkaitkan antara pola permukiman sebagai wadah (space) kegiatan dan kondisi sosial yang tidak terlepas dari sikap stereotip dan etnosentris serta perbedaan kepentingan Indonesia, with its multi-cultural and ethnic diversity, has suffered many ethnic conflicts. Research has shown that the conflicts roots from the different system of cultural values. The conflicts can lead to segregation which impact on settlement patterns. However, it is possible that conflict occurs due to settlement pattern that asserts the difference in values between the settlers so that the integration process cannot occur. This study is to create a research model that can be used to investigate the effect of the settlement pattern to the conflict. It began with the definition of settlement pattern which includes three elements (place, content, network) and seek the concept of social relationship. Social interaction process can produce two alternatives that are positive or negative. Negative alternative will bring inharmonic atmosphere which let to conflict. Inter-ethnic social relations also always accompanied by prejudices based on stereotype and ethnocentric attitudes; also due to different interests. Elements in settlement pattern was studied with its connection with social relations among its inhabitants. The approach taken was behavioral approach by the concept of behavior setting. The study resulted in a research model which combine settlement pattern as space for activity with social condition which is closely related to stereotype and ethnocentric attitudes as well as different interestsREFERENCESAhmadi, A. 1991. Masalah Carok Di Madura, Samsuri Ed., Madura II, Proyek Penelitian Madura, Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Malang: IKIP.Alqadrie, Syarif lbrahim. 1999. "Konflik Etnik di Ambon dan Sambas: Suatu Tinjauan Sosiologis”. Antropologi Indonesia. Th. XXIII, No. 58.Basset, Keith dan Short, John. 1978. Housing Residential Structure Alternatives Approaches' Ronhedge & Kegan Paul. London: Boston & Henley.Baum, Howeell S. 1998. “Ethical Behavior is Extraordinary. Behavior; It’s The Same As All Other Behavior. A Case Study In Community Planning”. APA Journal Autumn.Bernard, Jessie. 1973. Concencus, Conflict And Criminology. Unpub. PhD, School of Criminal Justice, State University Of N.Y at Albany.Broom, L., Selznick P. 1957. Sociology, Row. New York: Petterson & Co.Broom, L., Selznick P. dan Daroch, D.S. 1981. Sociology. New York: Harper International Edition.Cohen, Bruce J. 1992. Sosiologi Suatu Pengantar. Rineka Cipta.Doxiadis. 1974. “Action For A Better Scientific Approach To The Subject Of Human Settlements" The Journal of Ekistics. Volume 38. No. 229. Desember 1974.Drever, James. 1986. Kamus Psikologi. Jakarta: Bina Aksara.Ellen, Ingrid Gould. 2000. "Race-Based Neighborhood Projection: A Pro-posed Framework for Understanding New Data On Racial Integration”., Urban Studies. Vol. 37, No. 9. p. 1513 – 1533.Friedrichs, Jurgen. 1998. "Ethic Segregation In Cologne, Germany, 1984-94". Urban Studies. Vol. 35 No. 10. p.1745 – 1763.Hardjosudarmo, Soedigdo. 1965. Kebijak-sanaan Transmigrasi Dalam Rangka Pembangunan Masyarakat Desa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.Haryadi & B. Setiawan. 1995. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, Suatu Pengantar Ke Teori, Metodologi dan Aplikasi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Heeren, H.H. 1979. Transmigrasi di Indonesia. Jakarta: Gramedia.Indonesia, Depnakertrans, Badan Penelitian dan Pengembangan. 1978. Laporan Penelitian Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Antar Kelompok Etnik di Daerah Transmigrasi 1977/1978. Jakarta.Kartono, Kartini dan Gulo, Dali. 1987. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.Kempen, R. Van dan Ozuekren, Sule. 1998. "Ethnic Segregation In Cities: New Forms And Explanation In A Dynamic World". Urban Studies. University of Glasgow. Vol. 35. No. 10.Koetjaraningrat. 1974. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Jambatan.Minnery, J.R. 1986. "Urban Planners And Role Conflicts". Journal Of Urban Policy And Research.Murdie, Robert A. & Borgegard, Lars-Erik. 1998. “Immigration Spatial Segrega-tion and Housing Segmentation Of Immigrants In Metropolitan Stockholm, 1960-95". Urban Studies, Vol. 35, No. 10, p. 1869 – 1888.Owusu, Thomas Y. 1999. “Residential Patterns and Housing Choices of Ghanaian Immigrants in Toronto, Canada”. Housing Studies. Vol. 14, No. 1. 1999.Pattiselanno, J.Th.F. 1999. “Tradisi Uli, Pela dan Gandong pada Masyarakat Seram, Ambon dan Uliase”. Jurnal Penelitian Antropologi.Pelly, Usman. 1999. “Akar Kerusuhan Etnis di Indonesia: Suatu Kajian Awal Konflik dan Disintegrasi Nasional di Era Reformasi” dalam seminar Memasuki Abad Ke-21: Antropologi Indonesia Menghadapi Krisis Budaya Bangsa. Kampus Universitas Indonesia. 6-8 Mei 1999.Polak, Mayor .1979. Sosiologi, Suatu Buku Pengantar Ringkas. Jakarta: Ikhtiar Baru.Pondy, Louis R. 1967. “Organizational Conflict: Concepts and Models”. Administrative Science Quarterly. Vol. 12, No. 2. September 1967.Porteous, Douglas J. 1977. Environment And Behaviour. Massachusset: Addison Wishley Publishing Co.Putra, Hedhi Sri Ahimsa. 1978. The Transmigration Village of Sidomulyo Yogyakarta. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Kependudukan UGM.Rahardjo, Chodijah B. 1984. Transmigrasi dari Daerah Asal Sampai Benturan Budaya di Tempat Pemukiman. Jakarta: Rajawali.Rapoport, Amos. 1969. House, Form And Culture. London: Prentice-Hall, Inc.Scott, Suzie & Parkey, Hillary. 1998., "Myths And Reality: Anti-Social Behavior In Scotland". Housing Studies. Vol. 13, No. 1, 1998.Sill, David L. 1968. International Encyclopedia of The Social Sciences. The MacMillan Company & The Free Press.Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.Soelaeman, M. Munandar. 1986. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Jakarta : LP FE-UI.,Soelaeman, M. Munandar. 1993. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Eresco, Bandung.Sudagung, Hendro Suroyo 2001. Mengurai Pertikaian Etnis, Migrasi Swakarsa Etnis Madura Ke Kalimantan Barat. Institut Studi Arus Informasi.Sulistyo, Hermawan. 1982. Aspek-Aspek Sosial Transmigrasi. Economica. Vol. 10, No.2.Suparlan, Parsudi. 1972. The Javanese In Bandung: Ethnicity In A Medium Sized Indonesian City. M.A., Thesis, University Of Illinois.Suparlan, Parsudi, 1999. Kemajemukan, Hipotesis Kebudayaan Dominan Dan Kesukubangsaan, dalam seminar 'Memasuki Abad ke-21 : Antropologi Indonesia Menghadapi Krisis Budaya Bangsa', di Kampus Universitas Indonesia. 6-8 Mei 1999.Susanto, Astrid S. 1979. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Bina Cipta.Watkins, J.W.N. 1974. The Unity of Popper’s Thought, dalam P.A. Schilpp (Ed.), The Philosopy of Karl Popper. The Library of Living Philosophers, vol. XIX. Illinois: Open Court.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompo. Bandung: CV. Armico.
Mithen ., Karina Puteri Rinal
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v4i1.20391

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menelusuri perubahan bentuk rumah tradisional Banua Sulu’ di Masamba Kabupaten Luwu’ Utara. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi eksploratif untuk mencari dokumen-dokumen masa lampau dan menelusuri perubahan bentuk Banua Sulu’ Variabel penelitian, terdiri atas: Tata letak, tata ruang, Fasade, Struktur/material struktur, dan ornamen. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriftif kualitatif, yaitu menganalisis setiap variabel secara deskriptif, memaknai setiap perubahan yang terjadi, yang terdiri atas empat alur kegiatan, yaitu pemilihan data, penyajian data, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan bentuk secara signifikan terutama dalam hal penggunaan material struktur. Hal ini digunakan ketika adanya renovasi, dan elemen wujud fisik yang paling banyak berubah adalah bagian Atap (Botting langi) terutama coppo’ atau timpa’ laja’ yang awalnya bersusun dua, telah berubah menjadi bersusun tiga, material atap juga berubah dari atap daun rumbia menjadi atap seng. Pada bagian badan rumah ( Ale bola ) utamanya lantai dan dinding hampir keseluruhan diganti yang mengakibatkan hilangnya identitas pada bentuk ornamen dinding, jumlah tiang juga bertambah dari 36 menjadi 43 buah, serta adanya penambahan ruang yang disebabkan oleh kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas penghuni, yang telah berubah menjadi masyarakat modern. Kata-kata kunci: perubahan, bentuk, rumah tradisional, Banua Sulu’ THE TRANSFORMATION OF TRADITIONAL HOUSE OF BANUA SULU’ IN MASAMBA LUWU’ UTARA REGENCY SOUTH SULAWESI PROVINCEThis study aimed to see and track changes in the traditional house form of Banua Sulu' in North Masamba Luwu' Regency. This type of research is qualitative research. Data was collected by observation, interview, and exploratory documentation search for past documents and do track changes of Banua Sulu' shape. Variables of research consist of zone layout, spatial layout, facade, structure/material of structures, and ornaments. The data analysis technique used was descriptive qualitative analysis, which analyzed every variable descriptive and interpret the meaning of any changes that occurred, four-flow of activities, namely the selection of data, presentation of data, analysis, and conclusion. The results showed that there has been a significant change in shape, especially in terms of the use of structural materials. It is used when they did renovation and the most changing physical form elements was the roof (Botting langi) mainly coppo' or overwrite timpa’ laja', which was originally duplex, has turned into a three-tiered, roof material was also changed from the roof of sago palm leaves into tin roof. In the main shape of the house (Ale bola), main floor and walls were almost entirely replaced, resulting in a loss of identity in the form of wall ornaments, the number of poles also increased from 36 to 43 pieces, and the additional rooms caused by the need for space to accommodate the occupants, who has transformed into a modern society. Keywords: transformation, forms, traditional house, Banua Sulu’ REFERENCESAlbert, Grubauer. 1911. Foto-foto dokumentasi Keluarga. Altman, Irwin and Werner, Coral M. (1985). Volume 8. Home Environments Human Behavior and Environments. New York and London: Plenum Press. Depdikbud. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: PN Balai Pustaka Le Corbusier.1923. Toward A New Architecture (Vers Une Architecture, Paris: G. Crès et Cie), Frederick Etchells (trans.), New York: Praeger, 1960; John Goodman (trans.) Santa Monica, CA: Getty Publications, 2007. Lullulangi, Mithen dan Sampebua’, Onesimus. (2007). Arsitektur Tradisional Toraja. Makassar : Badan Penerbit UNM. Machmud. (2006). Architecture Articles. Antariksa. diposting 8 Januari 2011. (http://antariksaarticle./, diakses 20 juli 2014) Mangunwijaya, Y.B. (1992). Wastu Citra. Jakarta: Gramedia. Miles, M.B and Huberman, A.M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press. Robinson. (1983). Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar. diposting 2008. Farid. (http://www.rappang.com, diakses 10 Desember 2013). Ronny Sondakh, Julianus Anthon. (2003). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014) Runa, I Wayan. (1993). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014). Ruskin, John.1849. The Seven Lamps of Architecture (London: Smith, Elder, and Co.), New York: Dover Publications, 1989. Said. (2004). Kearifan Lokal Masyarakat Kudus Kulon dalam Tradisi Perawatan Rumah. (http://www.arupadhatu.or.id/artikel/budaya/124-.html, diakses 07 Juni 2014) Soeroto, Myrtha. (2003). Sejarang dan Budaya Kebudayaan Toraja. Jakarta : Myrtle Publishing.
Ferry Juniardi, Heri Azwansyah
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v1i1.18807

Abstract:Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten yang sedang berkembang perlu didukung dengan infrstruktur jaringan jalan yang baik. Studi ini bertujuan mengembangkan infrastruktur jaringan jalan untuk mendukung pergerakan kendaraan di Kabupaten Ketapang. Studi ini membutuhkan data-data pergerakan kendaraan dan jaringan jalan yang diperoleh dari instansi terkait dan survei lapangan. Model bangkitan pergerakan kendaraan dipengaruhi oleh jumlah sarana kesehatan (X3), sedangkan model tarikan pergerakaan kendaraan dipengaruhi oleh jumlah penduduk (X1) dan jumlah sarana kesehatan(X3). Jaringan jalan arteri primer yang dikembangkan meliputi : ruas Jalan batas Kabupaten Sanggau Batas Kecamatan Balai Berkuak; ruas Jalan Batas Kecamatan Balai Berkuak Aur Kuning; ruas Jalan Aur Kuning Sandai; ruas Jalan Sandai Nanga Tayap; dan ruas Jalan Nanga Tayap Batas Provinsi Kalimantan Tengah. Sementara itu, untuk meningkatkan aksesibilitas juga dilakukan peningkatan dan pengembangan terhadap beberapa jalan kolektor primer. Ketapang regency is growing and need to be supported by a good road network infrastructure. This study aims to develop a network infrastructure to support the movement of vehicles in Ketapang regency. This study requires data of movement of vehicles and the road network, obtained from the relevant agencies/departments and field survey. Vehicles trip generation models influenced by number of health facilities (X3), while pull models of vehicle movement influenced by number of residents (X1) and number of health facilities ( X3). Primary artery roads network that was developed include: regency’s boundary road of Sanggau – district’s boundary road of Balai Bekuak; district’s boundary road of Balai Bekuak - Aur Kuning; road segment of Aur Kuning - Sandai; road segment of Sandai - Nanga Tayap, and road segment of Nang Tayap – province’s boundary of Central Kalimantan. In addition, to improve accessibility, it also necessary to makes some improvement and development of the primary collector roadsREFERENCESBPS Kabupaten Ketapang. 2012. Kabupaten Ketapang Dalam Angka. BPS Kabupaten Ketapang. Ketapang.Dirjen Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indoensia. Jakarta.Lubis, Muhammad E. 2012. Penetapan Model Bangkitan Pergerakan Untuk Beberapa Tipe Perumahan di Kota Pematangsiantar, Media Teknik Sipil, Volume 10, Nomor 1, Februari 2012: 27 – 34. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.Raperda RTRW Kabupaten Ketapang 2013 – 2033. KetapangTamin, Ofyar Z. 2008. Perencanaan, Pemodelan, dan Rekayasa Transportasi : Teori, Contoh Soal, dan Aplikasi. Penerbit ITB. Bandung.-----------. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sekretariat Negara RI. Jakarta
Fengky Satria Yoresta
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 2; doi:10.26418/lantang.v2i2.13833

Abstract:Certain wood has a tensile strength that almost equal with steel rebar in reinforced concrete beams. This research aims to understand the capacity and flexural behavior of concrete beams reinforced by wood (wood-concrete composite beam). Two different types of beams based on placement positions of wood layers are proposed in this study. Two kinds of wood used are consisted of Bangkirai (Shorea laevifolia) and Kamper (Cinnamomum camphora), meanwhile the concrete mix ratio for all beams is 1 cement : 2 fine aggregates : 3 coarse aggregates. Bending test is conducted by using one-point loading method. The results show that composite beam using Bangkirai wood is stronger than beams using Kamper wood. More thicker wood layer in tensile area will increase the flexural strength of beams. Crack patterns identified could be classified into flexural cracks, shear cracks, and split on wood layer Beberapa jenis kayu tertentu memiliki kekuatan tarik yang hampir sama dengan tulangan baja pada balok beton bertulang. Penelitian ini bertujuan memahami kapasitas dan perilaku lentur balok beton bertulang yang diperkuat menggunakan kayu (balok komposit beton-kayu). Dua tipe balok yang berbeda berdasarkan posisi penempatan kayu digunakan dalam penelitian ini. Dua jenis kayu yang digunakan adalah kayu Bangkirai (Shorea laevifolia) and Kamper (Cinnamomum camphora), sementara itu rasio campuran beton untuk semua balok menggunakan perbandingan 1 semen : 2 agregat halus : 3 agregat kasar. Pengujian lentur dilakukan menggunakan metode one-point loading. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok komposit dengan kayu Bangkirai lebih kuat dibandingkan balok dengan kayu Kamper. Semakin tebal lapisan kayu yang berada di daerah tarik akan meningkatkan kekuatan lentur balok. Pola kerusakan yang teridentifikasi dapat diklasifikasikan menjadi retak lentur, retak geser, dan pecah pada kayuREFERENCESBoen T. (2010). Retrofitting Simple Buildings Damaged by Earthquakes. World Seismic Safety Initiative. Indonesia.Chauf KA. (2005). Karakteristik Mekanik Kayu Kamper sebagai Bahan Konstruksi. Majalah Ilmiah MEKTEK 7: 41-47.Gangarao HVS, Narendra T & Vijay PV. (2007). Reinforced Concrete Design with FRP Composites. CRC Press, Boca Raton.PKKI (Indonesian Timber Construction Code). (1961). PKKI NI – 5 1961. Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Bandung.Pranata YA, Bambang S & Johannes AT. (2012). Rasio Modulus Penampang Elastik Balok Kayu Laminasi-Baut. Jurnal Teknik Sipil 19: 223-236.Thelandersson S. (2003). Introduction: Wood as a construction material. Pp 15-22 in Sven T & Hans JL (Eds) Timber Engineering. John Wiley & Sons Ltd, West Sussex.
Agustiah Wulandari
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v1i2.18800

Abstract:Ruang terbuka hijau (RTH) pada saat ini banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tidak dipungkiri lagi bahwa RTH di banyak kota di Indonesia sudah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, perhotelan, restauran, pertokoan, perkantoran, jalan raya, tempat parkir, pompa bensin, tempat pedagang kaki lima dan kawasan lainnya. Hal ini menciptakan kelangkaan RTH di banyak daerah perkotaan di Indonesia. Proses perencanaan kota yang berwawasan lingkungan sangat diperlukan di seluruh wilayah perkotaan di Indonesia. Pemanfaatan ruang terbuka yang selama ini belum atau kurang dimanfaatkan harus lebih dimaksimalkan lagi pemanfaatannya, seperti tempat pemakaman. Pemakaman merupakan salah satu bentuk ruang terbuka kota yang belum efektif pemanfaatannya sebagai RTH. Karakteristik dan jenis makam yang ada di Indonesia seperti tempat pemakaman umum (TPU) dan tempat pemakaman khusus (TPK) memiliki kelebihan dan kekurangan untuk dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau. Pemanfaatan tempat pemakaman umum sebagai RTH dilakukan dengan membandingkan variabel-variabel dari tiap indikator fungsi RTH, seperti fungsi sosial, fungsi fisik, dan fungsi estetika. Kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan fungsi fisik RTH kawasan pemakaman saat ini masih belum ada kawasan pemakaman umum yang secara optimal dapat berfungsi sebagai RTH. Kawasan Pemakaman yang memenuhi fungsi sosial RTH adalah TPU Islam, TPU Kristen, dan TPU tionghoa. Sedangkan Fungsi estetika RTH dapat dipenuhi oleh tempat pemakaman Kristen dan Tionghoa. Green open space has now been changed into buildings. urban green space has been converted into residential areas, hotels, restaurants, shops, offices, highways, parking lots, gas stations, street vendors and other areas. This creates a dearth of green space in many urban areas in Indonesia. Ecological city planning is indispensable in all urban areas in Indonesia. Utilization of open space should be maximized ecologically. Cemetery is one of the urban open space that has not been effectively utilized as a green space. Characteristics cemetery in Indonesia as a public cemetery and the private cemetery have advantages and disadvantages for use as green open space. Analysis of the utilization of public cemeteries as open green space is done by comparing the variables of each indicator function of green open space, such as a social function, physical function, and aesthetic functions. The resulting conclusion is that no area of the public cemetery that optimally meets the physical function as green open space. Cemetery area which fulfills a social function of green open space is the Islamic cemetery, Christian cemetery, and Chinese cemetery. While the aesthetic function can be fulfilled by Christian Cemetery dan Tionghoa cemeteryREFERENCESAswad. 2004. Studi Konsep Pengembangan Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Pusat Kota Pangkalan Bun Kalimantan Timur. Jurnal ASPI. Vol 3 , April, 58-79Departemen Dalam Negeri. 1988. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan. Jakarta: Departemen Dalam NegeriDepartemen Dalam Negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Jakarta: Departemen Dalam NegeriSekretariat Negara. 1987. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1987 tentang Penyediaan Dan Penggunaan Tanah Untuk Keperluan Tempat Pemakaman. Jakarta: Sekretariat Negara
Affrilyno
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 2; doi:10.26418/lantang.v2i1.13840

Abstract:Teori Bigness yang digulirkan Rem Koolhaas merupakan teori yang menurut Rem Koolhaas mampu menghasilkan logika sendiri. Sekalipun teori ini dianggap sebagai bentuk yang berbeda dalam wacana arsitektur, namun keberadaannya memiliki pertumbuhan tersendiri. Ihwal teori ini berakar pada tatanan program Manhattanism yang ditulis Rem Koolhaas pada bukunya, Delirious New York (1978). Pada buku selanjutnya, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas secara lebih terperinci memberikan implementasi aktual dari Manhattanism melalui berbagai proyek yang terealisasi maupun tidak terealisasi beserta tulisan-tulisan yang melingkupinya. Melalui karya tekstualnya, Rem Koolhaas telah mengembangkan pendekatan yang spesifik terhadap urbanisme dan arsitektur. Terkait problematika dalam arsitektur dan urbanisme yang menggulirkan permasalahan terhadap penolakan kompleksitas, kurangnya kontrol, oposisi, kontradiksi, dan skala yang besar, Rem Koolhaas justru merangkul kondisi ini dan menyatakannya sebagai titik awal untuk proyek-proyek mereka. Dalam konteks urban secara spesifik, Rem Koolhaas menyatakan permasalahan urban tidak lagi dapat dikendalikan dengan cara 'klasik' Modernisme. Permasalahan yang ada selanjutnya berfungsi sebagai sarana struktural untuk mengakomodasi permasalahan yang tidak dapat dikontrol. Isu-isu ini selanjutnya berperan sebagai instrumen baru dalam tatanan urbanisme dan arsitektur Theory of Bigness as Koolhaas refers to it generates its own logic. Although the concept suffers from neglect in architectural discourse, it has prospered on its own. The program for Manhattanism has been established in 'Delirious New York' (1978). Furthermore, in the next book, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas gives a record of the actual implementation of Manhattanism throughout the various (un)realized projects and texts. Through his books, Rem Koolhaas has developed a very specific approach towards urbanism and architecture. Related to the scope of the problems in architecture and urbanism like instead of denial of complexity, lack of control, opposition, contradiction, and bigness, Koolhaas embrace these conditions and declare them as the starting point for their projects. The urban context specifically, Koolhaas stated, no longer can be controlled in the 'classical' manner of Modernism. These issues serve as the structural means to accommodate what cannot be controlled. They are the new instruments of urbanism and architecture.REFERENCESADIP. Rethinking Berlin | a city and its river. ADIP. Urban and Architectural Research. Diakses dari http://www.adip.tu-berlin.de/wp-content/uploads/2010/10/adipmagazine_01__preview.pdf. 22 Mei 2011.Antonio Negri. 2009. On Rem Koolhaas. Diakes dari http://www.haraldpeterstrom.com/content/5.pdfs/Antonio%20Negri%20%E2%80%93%20On%20Rem%20Koolhaas.pdf. 22 Mei 2011.Archdaily. Seattle Public Library”. Diakses dari http://www. archdaily.com/11651/seattle-central-library-oma-lmn/. 30 Mei 2011Henri Achten. Review: S, M, L, XL, O.M.A.,Rem Koolhaas,Bruce Mau,1995. Diakses dari http://lava.ds.arch. tue.nl/books/ koolhaas.html. 22 Mei 2011.John Rajchman. Thinking big - Dutch architect Rem Koolhaas - Interview". ArtForum. Diakses dari FindArticles.com,http://findarticles.com/p/articles/mi_m0268/is_n4_v33/ai_16547724/. 22 Mei 2011.Joshua Ramus. 2004. Seattle Public. In Rem Koolhaas/ OMA, Content, Taschen, hal. 138-149.Lara Schrijver. 2008. OMA as tribute to OMU: exploring resonance in the work of Koolhaas and Ungers. The Journal of Architecture, Volume 13, No. 3. Diakses dari http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13602360802214927#.VMmnwi42uu8. 22 Mei 2011.Mark Gilbert. 2003. On Beyond Koolhaas : Identity, Sameness and the Crisis of City Planning. Diakses dari http://www.uibk.ac.at/wuv/pdf/ehem/gilbert_city.pdf. 22 Mei 2011.Notablebiographies. Rem Koolhaas. Diakses dari http://www. notablebiographies.com/news/Ge-La/Koolhaas-Rem.html. 31 Mei 2011.O.M.A/Rem Koolhas. Seatle Public Library. Diakses dari www.oma.eu. 29 Mei 2011.Rem Koolhaas, Bigness, or the problem of Large,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL, The Monacelli Press, New York, 1995, hal. 494-517.Rem Koolhaas. 1995. Exodus, or the Voluntary Prisoners of Architecture, in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 2-21Rem Koolhaas. 1995. Field Trip: (A) A Memoir | The Berlin wall as architecture,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 212-233.Rem Koolhaas. 1995. Imagining Nothingness in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 198-203Rem Koolhaas. 1995. Singapore Songlines : Thirty Years of Tabula Rasa ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1008-1089.Rem Koolhaas. 1995. The Generic City in Rem Koolhaas/ OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1238-1269.Rem Koolhaas. 1995. The Terrifying Beauty of the Twentieth Century in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 204-211.Rem Koolhaas. 1995. What Ever Happened to Urbanism? ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 958-971.Rem Koolhaas. 2004. Junkspace', in Rem Koolhaas/OMA/ Content, Taschen, hal. 166-171.Rosemarie Buchanan. Avant-garde architect reinvents Seattle's new library. Diakses dari community. seattletimes.nwsource.com, http://community.seattletimes.nwsource.com/archive/?date=20040517&slug=rem17. 29 Mei 2011Seattle Public Library. Diakses dari http://www.spl.org/Documents/about/libraries_for_all_report.pdf. 28 Januari 2015.Silvana Taher. 2011. Architects Vs. The City or The Problem of Chaos. Diakses dari https://www.aaschool.ac.uk/downloads/awards/Sylvie_Taher_DennisSharpAwardPaper.pdf. 29 Mei 2011.Slate. Going Dutch. Diakses dari www.slate.com, http:// www.slate.com/id/2098574/slideshow/2099123/fs/0//entry/ 2099125/. 30 Mei 2011.William Dietrich. Seattle's New Downtown Library. Diakses dari seattletimes. nwsource.com, http://seattletimes. nwsource.com/ pacificnw/2004/0425/cover.html. 29 Mei 2011
Uray Fery Andi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v4i1.20395

Abstract:Lokasi pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat berada di sepanjang tepian sungai. Sungai menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan kesultanan, yaitu terkait dengan fungsinya sebagai sumber kehidupan dengan beragan jenis flora dan fauna, sebagai aksesibilitas dan jalur transportasi serta komunikasi. Keterbatasan wilayah tepian sungai menyebabkan perkembangan pusat kesultanan melebar sepanjang tepian sungai karena wilayah daratan masih berupa hutan dan kurang aman. Perkembangan aktivitas perdagangan global pada masa pemerintahan kesultanan yang semakin pesat menyebabkan jalur sungai semakin ramai dilalui oleh pedagang lokal, regional dan internasional. Keberadaan kongsi dagang Belanda (VOC) hingga menjadi pemerintahan Hindia Belanda turut mempengaruhi perkembangan pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jaringan perdagangan global terhadap struktur wilayah Borneo Barat dan konfigurasi spasialpusat pemerintahankesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu dengan mengetahui perkembangan sistem jaringan perdagangan global dan korelasinya dengan sejarah pembentukan wilayah kesultanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan jaringan perdagangan mempengaruhi struktur wilayah Borneo Barat dengan sistem hulu-hilir dan konfigurasi spasial wilayah pusat pemerintahan kesultanan Melayu yang terbatas dan melebar sepanjang tepian sungai. Kata-kata kunci: jaringan perdagangan, struktur wilayah, konfigurasi spasial, kesultanan Melayu, Kalimantan Barat THE INFLUENCE OF GLOBAL TRADING NETWORK ON THE MALAY SULTANATES CENTRAL OF GOVERNMENT STRUCTURE AND SPATIAL CONFIGURATION IN WEST KALIMANTANMalay sultanates central government in West Kalimantan were located along the banks of the river. The river became very important factor in the life of sultanates, which was related to its function as a source of life with a variety of floras and faunas, as well as accessibility, transportation lines and communication. Limitations of the riverbank area led to the development of the center of sultanates which extended along the river banks, because land area were still forested and less secure. The development of global trade activities during the reign of sultanates, which grew rapidly, led to increasingly crowded river path, traversed by local, regional and international traders. The existence of Dutch trade partnership (VOC) and later became the Dutch East Indies, also influenced the spatial development of administrative centers in West Kalimantan Malay sultanates. The purpose of this study was to determine the influence of global trading network on the spatial structure of Westeer Borneo Afdelling and on spatial configuration of the Malay sultanates region in West Kalimantan. The study was conducted using historical method, by mapping the development of a global trading network system and its correlation with the history of the region formation of the sultanates. The results showed that the trading systems and networks affected the structure of afdelling by upstream and downstream system, and the spatial configuration of the central region of Malay sultanates government became limited and spread along the riverbanks. Keywords: trading network, regional structure, spatial configuration, Malay sultanates, West Kalimantan REFERENCES_______. Tanpa Tahun. Sejarah Kerajaan Tanjungpura-Matan. Tanpa Penerbit. Andi, Uray Fery. (2016): Sejarah Perkembangan Arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat, Disertasi Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Bandung Barnet, Jonathan. (1974): Urban design as public policy: Practical methods for improving cities, Architectural Record Books Collins, J. T. (2001). Contesting Straits-Malayness : The Fact of Borneo. Journal of Southeast Asian Studies,32(3), 385–395. Coedes, George. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta Damayanti, R., dan Handinoto. (2005). Kawasan “pusat kota” dalam perkembangan sejarah perkotaan di Jawa.Dimensi Teknik Arsitektur, 33 (1),34 – 42. De Graaf, H.J. & Pigeaud, T.H. (1989). Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV. Dick, HW & Rimmer, PJ, 1998: Beyond the third world city: the new urban geography of South-east Asia’, Urban Studies, vol. 35, no. 12, Enthoven, J. J. . (2013)Sejarah dan Geografi Daerah Sungai Kapuas Kalimantan Barat, Terjemahan Bijdragen Tot De Geographie van Borneo’s Wester-Afdeeling 1905. (P. O. C. Yeri, Ed.) (1st ed.), Pontianak, Institut Dayakologi. Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lindblad, J. T. (2012). Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942 (1st ed.). Jakarta: KITLV-Jakarta. Leur, J. C. van. (1967). Indonesia Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History, The Hague, The Hague: W. Van Hoeve Publishers. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lontaan, J.U. (1975). Sejarah, Hukum Adat, dan Adat Istiadat Kalimantan-Barat. Pontianak: Pilindo. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Rahman, Ansar. (2000). Perspektif Berdirinya Kota Pontianak. Pontianak: Tanpa Penerbit.Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Reid, A. (2011). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2: Jaringan Perdaganga Global (2nd ed.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Usman, S. (2011). Kota Pontianak Sedjak Tempo Doeloe: Album dan Dokumen Masa Lampau. Pontianak. Ricklefs, M. C. (2010). Sejarah Indoensia Modern 1200-2008, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta. Schutte, G.J, ed. (1994). State and Trade in Indonesian Archipelago, KITLV Press, Leiden Veth, P. (2012). Borneo Bagian Barat: Geografis, Statistik, Historis Jilid 1, Terjemahan Borneo’s Wester-Afdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch 1854, terjemahan oleh P. O. C. Yeri., Pontianak, Institut Dayakologi
Lestari ., Zairin Zain
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 3; doi:10.26418/lantang.v3i2.18321

Abstract:Keberadaan sungai Kapuas sebagai sumber kehidupan dan jalur transportasi air, memunculkan permukiman-permukiman di tepian sungai Kapuas.Rumah-rumah yang berada di pemukiman tepian sungai Kapuas umumnya didirikan langsung di tepian sungai Kapuas.Rumah tersebut sebagian besar berupa rumah kayu yang terhubung dengan gertak-gertak sebagai jalur penghubung antar rumah.Konstruksi rumah kayu ini menarik untuk diamati mengingat keadaan tepian sungai perlu diselesaikan oleh bangunan agar tetap bertahan.Tulisan ini memaparkan kontruksi rumah kayu pada salah satu kasus daerah tepian sungai kapuas. Daerah kasus yang diambil adalah Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.Dalam tulisan ini dipaparkan konstruksi kayu berdasarkan bagian-bagian rumah mulai dari pondasi, rangka, dinding, sampai atap.Terdapat beberapa tipe konstruksi pada kasus yang diteliti.Pertimbangan umum terletak pada kemudahan konstruksi, tampilan atau fasad dan lokasi keberadaan rumah The existence of the Kapuas river as a source of life and water transportation, led to settlements growth on side the Kapuas river. The houses are located on side Kapuas river are generally directly constructed at the river. The houses mostly made of wood which connected by wooden bridge as connecting lines between houses. Construction of wooden houseis interesting to be identifiedbecause the building must bedurable with the condition around the river. This paper describes the wooden houses construction in one case area of the Kapuas riverside. Case study is taken at Kelurahan Bansir Laut, South East Pontianak District. In this paper described the wooden construction : the foundation, frame, wall, and the roof. There are several types of construction in the cases studied. General considerations is the ease of construction, appearance or facade and location of the house.REFERENCESAbdurachman., Nurwati Hadjib. (2006). Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Untuk Komponen Bangunan. PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 130-148: BogorHidayat, Husnul. (2014). Konteks Ekologi Kota Tepian Sungai dalam Perspektif Lokalitas Bahan Bangunan. Membangun Karakter Kota Berbasis Lokalitas. Architecture Event 2014Hidayati, Zakiah. (2012). Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan Vernakula Rumah Suku Kutai Tenggarong, Kalimantan Timur . JURNAL EKSIS Vol.8 No.1, Mar 2012: 2001 – 2181Khaliesh, Hamdil., Indah Widiastuti., Bambang Setia Budi. (2012). Karakteristik Permukiman Tepian Sungai Kampung Beting di Kota Pontianak. Prosseding Temu Ilmiah IPLBI 2012. BandungNingsih, Deffi Surya., Za’aziza Ridha Julia., Larissa Hilmi., Leo Darmi. (2016). Rayap Kayu (Isoptera) Pada Rumah-Rumah Adat Minangkabau Di Sumatera Barat diakses online padahttp://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/23/23 pada tanggal 28 September 2016Puspantoro, Ign Benny, Ir. (2005). Konstruksi Bangunan Gedung : Sambungan Kayu Pintu Jendela. Penerbit Andi : YogyakartaZain, Zairin. (2012). Pengaruh Aspek Eksternal pada Rumah Melayu Tradisional di kota Sambas. Jurnal NALARSs Vol 11 No. 2 Juli 2012 .Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZain, Zairin., Indra Wahyu Fajar. (2014). Tahapan Konstruksi Rumah Tradisional Suku Melayu di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal Langkau Betang Vol 1 No. 1 2014 . Universitas Tanjungpura. Pontianak
Hamdil Khaliesh
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v1i1.18811

Abstract:Budaya merupakan sebuah proses perkembangan pola pikir yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang lama. Proses ini terjadi selama manusia ada dan terus berkembang sesuai dengan pengembangan wawasan keilmuan. Setting lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan kuat dalam pembentukan karakter budaya. Tionghoa merupakan etnis yang banyak melakukan perpindahan ke daerah lain termasuk diantaranya daerah barat dan asia, baik dengan hubungan perdagangan maupun ekspedisi. Saat ini, banyak ditemukan daerah Permukiman Tionghoa di beberapa tempat, sebut saja Pecinan atau China town. Namun yang menarik adalah perbedaan tempat dan lingkungan tersebut tidak membuat eksistensi Budaya Tionghoa memudar. Dari sekian banyak karakter budaya Tionghoa, yang paling menonjol adalah bentuk arsitekturnya. Hal ini terjadi karena bentuk budaya yang paling mudah dilihat adalah bentuk fisiknya dalam hal ini arsitektur bangunannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana Budaya Tionghoa dapat bertahan dengan eksistensi nilai arsitektur bangunannya. Pemahaman terhadap karakteristik Arsitektur Tionghoa menjadi sangat penting dalam memahami perkembangan budayanya. Penelitian ini dibatasi pada ruang lingkup arsitektur tradisional. Pemilihan wilayah studi juga berkaitan dengan perbandingan Arsitektur Tionghoa pada budaya barat dan timur. Interpretasi deskriptif berdasarkan persamaan dan perbedaan arsitektur bangunan akan menjelaskan bagaimana Etnis Tionghoa mampu meminimalisir pengaruh budaya lain terhadap karakter arsitekturnya. Hasil penelitian menunjukan identitas arsitektur tradisional Tionghoa terbentuk dengan konsistensi terhadap nilai kepercayaanya. Sementara kepercayaan adalah landasan utama yang membentuk Kebudayaan Tionghoa. Oleh karena itu, refleksi eksistensi Budaya Tionghoa akan berimplikasi terhadap eksistensi identitas arsitekturnya Culture is a process of mindset development that occur gradually over a long time. This process occurs during human life on earth and continue to evolve in accordance with the development of scientific knowledge. The environment setting is one of the factors that play a strong role in shaping the cultural character. Chinese is ethnic which has a lot of migration to other areas such as western and asian regions, either by trading or expedition. Currently, many Chinese settlement areas are found in several places, called Pechinan or China town. The interesting one is the difference of environment where they live does not make the existence of their culture are fade. From several characters of Chinese culture, the most prominent is the architecture. This happens because of cultural forms is most easily seen in form of physical or architecture of the building. This study aims to identify how the Chinese culture can survive with the existence of architectural value. Understanding about Chinese architecture characteristic is very important to understand the development of the culture. This study limited only to the scope of traditional architecture. The selection of study area is also related to the comparation of Chinese architecture in western and eastern culture. Descriptive interpretation based on similarities and differences in the architecture of the building were able to explained how the Chinese ethnic minimize other cultural influences on the character of the architecture. The results showed that the traditional Chinese architectural identity is formed by the consistency of the religious value. While religion is the major base in the Chinese cultural forming. Therefore, the reflection of existence of Chinese culture have implications for the existence of their architectural identityREFERENCESBanks, J.A., Banks, & McGee, C. A. 1989. Multicultural education. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.Carey, Peter. 1985. Masyarakat Jawa dan Masyarakat China. Jakarta: Pustaka AzetCatanese, A. J. & Snyder, J. C. (1991). Pengantar Arsitektur. Jakarta: Penerbit ErlanggaChen, Joyce. 2011. Chinese Immigration to the United States:History, Selectivity and Human Capital. The Ohio State University.Damen, L. 1987. Culture Learning: The Fifth Dimension on the Language Classroom. Reading, MA: Addison-Wesley.García. J. F. Culture. Ashland University, Ohio. http://personal.ashland.edu/jgarcia/culture1.html, didownload pada 15 okteober 2011.Guo, Shibao & Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver: Quo Vadis? Discussion Paper No. 2340. Simon Fraser University. Burnaby, BC V5A 1S6. CanadaHandinoto. 2008. Perkembangan Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia (Akhir Abad ke 19 sampai tahun 1960-an). (Prosiding Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2. Petra Christian University – SurabayaKhol, David G. 1984. Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses, Heineman Asia, Kuala Lumpur. Archipel. Volume 33, 1987. p. 185Kupier, Kathleem. 2011. The Culture Of Tionghoa. Britannica Educational Publishing. New YorkMaspero, Henri. Translated by Frank A. Kierman, Jr. 1981. Taoism and Chinese Religion. University of MassachusettsO’Gorman, J. F. 1997. ABC of Architecture. Philadelphia: University of Pennsylvania PressPratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Penerbit Ombak. YogyakartaRummens, Joanna. 2001. An Interdisciplinary Overview of canadian Research on Identity. Department of Canadian Heritage for the Ethnocultural, Racial, Religious, and Linguistic Diversity and Identity Seminar Halifax, Nova ScotiaSalem, MA. A Teacher’s Sourcebook for Chinese Art & Culture. Peabody Essex Museum.Guo, Shibao and Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver:Quo Vadis? IZA Discussion Paper. GermanyTaylor, Rodney L. 1982. "Proposition and Praxis: The Dilemma of Neo-Confucian Syncretism". Philosophy of East and West, Vol. 32, No. 2 pg. 187Wade, Geoff. 2007. The “Liu/Menzies”World Map: A Critique. e-Perimetron, Vol. 2, No. 4, Autumn 2007 [273-280]Widayati, Naniek. 2004. Telaah Arsitektur Berlanggam China di Jalan Pejagalan Raya Nomor 62 Jakarta Barat. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 32, No. 1, Juli 2004: 42 - 56Wigglesworth, S. & Till, J. 1998. The Everyday and Architecture. Architectural Design. New York: Princeton Architectural PressWong, Bernard. 1998. Ethnicity and Entrepreneurship: The New Chinese Immigrants in the San Francisco Bay Area. Allyn &Bacon A Simon & Schuster Company. San Francisco State University. United States of America
Hamka .
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4; doi:10.26418/lantang.v4i1.20390

Abstract:Lansekap merupakan kondisi bentang alam dengan karakteristik unsur dan elemen tertentu pada suatu wilayah. Lansekap pada suatu permukiman merupakan hasil interaksi antara manusia dengan alam dan budaya yang menjadi latar belakang ciri identitas suatu lansekap. Khususnya pada lansekap budaya dengan latar belakang sosial masyarakat yang berbeda-beda di tiap daerah di Indonesia. Peranan kondisi geografis dan budaya pada suatu kelompok masyarakat atau suku menarik dikaji kaitannya dalam hal lansekap budaya pada lingkungan permukiman. Kajian ini akan membahas karakteristik lansekap budaya permukiman Dusun Kajuara Kabupaten Bone dengan pendekatan metode kualitatif analsis deskriptif berdasarkan 13 komponen lansekap budaya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa, letak geografis wilayah dan sosial budaya masyarakat di Dusun Kajuara yang sebagian besar sebagai petani berpengaruh terhadap karakter lansekap budaya permukiman yang masih didominasi oleh unsur dan elemen alami pada softscape dan hardscape lingkungan. Kata-kata kunci: komponenen lansekap, lansekap budaya, lansekap tradisional THE CHARACTERISTICS OF CULTURAL LANDSCAPE IN KAJUARA VILLAGE, BONE REGENCY SOUTH SULAWESILandscape is a condition with its landscape elements characteristic and specific elements of the region. Landscape on a settlement is the result of interaction between human and nature and culture which blends into the background characteristics of the identity of a landscape. Particularly in the cultural landscape with socially different backgrounds of each region in Indonesia. The role of geography and culture of a community or ethnic group is interesting to study in terms of the cultural landscape in the neighborhoods. This review will discuss the characteristics of the cultural landscape settlements of Dusun Kajuara Bone district with qualitative method approach which is based on 13 components of the cultural landscape. The results of the discussion showed that the geographical location and social and cultural area in the Kajuara Village, mostly as farmers, affected the landscape character of the settlement that is still dominated by natural factors and elements on softscape and hardscape settlements. Keywords: cultural landscape, landscape component, traditional landscape REFERENCESHasan, & Prabowo. (2002). Perubahan Bentuk dan Fungsi Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara, Jakarta Utara. International Symposium Building Research and the Sustainability of the Built Environment in the Tropics’ Universitas Tarumanegara. Koentjaraningrat. (1999). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan: Jakarta. Nurjannah & Anisa. (2003). Pola Permukiman Bugis di Kendari. NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Page, Robert. R, Cathy Gilbert, Susan A.Dolan. (1998). Guide of Culture Landscape Report. Hal: 53 Plachter, H. dan Rossler, M. (1995). Cultural Landscape: Reconnecting Culture and Nature. Dalam van Droste, B., Placher, H., dan Rossler, M. (Editors). Cultural Landscape of Universal Value. Suwarno, Nindyo. (2000). Tipologi Spasial Permukiman Transmigran Spontan di Desa Tolai Kecamatan Sausu Kabupaten Donggala. Media Teknik UGM
Page of 4
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search