Journal Kapata Arkeologi

-
90 articles
Page of 10
Articles per Page
by
Nfn Hasanuddin
Published: 31 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 101-110; doi:10.24832/kapata.v14i1.465

Abstract:Banggai memiliki peran strategis dalam jaringan pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi. Letak geografisnya yang menghubungkan antara Gorontalo, Teluk Tomini, Ternate, Buton, dan Makassar. Kondisi ini diperkuat oleh ketersediaan berbagai komoditas, seperti, bijih besi, tripang, sisik penyu, sarang burung, kayu cendana, damar, rotan, dan kopra. Artikel ini bermaksud melihat Banggai dan perannya dalam perdagangan dan pelayaran di kawasan timur Sulawesi pada abad ke-19. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi Banggai meliputi: posisi Banggai dalam jalur pelayaran Nusantara, dinamika perdagangan antar pulau, dinamika dan aktifitas bajak laut di wilayah Banggai, dan kehadiran pemukiman dalam wujud perkampungan pedagang dan pendatang. Penelitian menggunakan metode sejarah yaitu penelusuran arsip dan studi pustaka dengan mengumpulkan data-data sejarah. Kemudian menguraikan suatu peristiwa ke dalam bagian-bagiannya dalam rangka memahami pelayaran dan perdagangan Banggai pada abad ke-19. Artikel ini membuktikan bahwa jaringan maritim Banggai menjadi salah satu faktor penting terbentuknya integrasi di kawasan perairan Sulawesi bagian timur, baik dalam arti komunitas maupun koneksi antar kerajaan dan kekuasaan. Para pedagang dan pendatang dari Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, Cina, dan Arab menjadi faktor pembentuk komunitas yang berkarakter majemuk di Banggai. Kondisi ini melahirkan situasi baru melalui hubungan komunikasi antara pedagang dan pendatang dengan penduduk setempat telah memperlihatkan proses kultural yang dinamis dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Keadaan ini kemudian menciptakan integrasi kawasan timur Indonesia, dan mendorong perkembangan jaringan pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi. Banggai has a strategic role in the shipping and trading networks in eastern Sulawesi. Its geographical location connects between Gorontalo, Tomini Bay, Ternate, Buton, and Makassar. This condition is reinforced by the availability of various commodities, such as iron ore, sea cucumber (teripang), sea turtle scales, bird's nest, sandalwood, resin, rattan, and copra. This article looks at Banggai and its role in trade and shipping in the eastern region of Sulawesi in the 19th century. This article aims to describe the condition of Banggai which includes among others; Banggai position in the archipelago shipping lanes, dynamics of inter-island trade, dynamics and activities of pirates in the Banggai region, and the presence of settlements in the form of merchant and immigrant villages. This study used historical method of archive search and literature study by collecting historical data, then describing an event into its parts in order to understand the shipping and trading of Banggai in the 19th century. This article proves that Banggai maritime network has become an important factor in integration of the waters of eastern Sulawesi, both in terms of community and inter-royal and power connections. The...
Cahyo Pamungkas
Published: 31 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 111-122; doi:10.24832/kapata.v14i1.489

Abstract:Berbagai kajian mengenai Asmat selama ini lebih banyak dari kajian seni ukir dan kekayaan budaya kayunya. Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang menyerang anak-anak Balita di daerah ini sejak Bulan September 2017 sampai pertengahan Bulan Januari 2018 telah membuka mata dunia internasional bahwa keberlanjutan Suku Asmat dipertanyakan. Berbagai analisis ilmiah menjelaskan bahwa peristiwa kematian masal Balita ini disebabkan oleh persoalan rendahnya budaya kesehatan, lingkungan yang kurang mendukung, dan sulitnya menyediakan pelayanan kesehatan pada daerah yang terisolir. Seolah-olah orang dan budaya suku Asmat dan situasi geografisnya menjadi penyebab dari penyakit ini. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menarasikan bagaimana melihat wabah penyakit tersebut dari perspektif sosial dan kultural, yaitu rendahnya ketahanan sosial suku Asmat. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan diskusi terfokus di Jayapura. Kerangka teori yang digunakan adalah pendekatan ekologis dan kebudayaan dalam melihat keberlanjutan suatu komunitas agar sanggup menghadapi perubahan lingkungan eksternalnya. Argumentasi yang dibangun dalam artikel ini adalah menyelamatkan suku Asmat dalam jangka panjang hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan mereka ke habitatnya dan mengurangi ketergantungan pada konsumsi pangan yang disediakan oleh pasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab mendasar KLB Asmat adalah ketercerabutan Orang Asmat dari habitat ekologinya sehingga mereka bergantung pada pangan yang disediakan oleh pasar.Various studies on Asmat ethnicities tend to focus on carving art and cultural richness of wood. Since the malnutrition and measles affecting children under five in this area from September 2017 to mid January 2018 has opened the eyes of international communities that the sustainability of Asmat tribe is questioned. Various scientific analyzes explain that the mass death of children resulted from low health culture, the less supportive environment, and the difficulty of providing health services to isolated areas. It implicitly says that the people, culture, and environment of Asmat tribes are the main causes of this disease. It is as if the Asmat people and culture and the geographical situation are the cause of this disease. Therefore, this article aims to describe the epidemic from a social and cultural perspective, namely the low social resilience of the Asmat. The research method is conducted by using literature studies and a focused discussion in Jayapura. The theoretical framework used is the ecological and cultural approach to viewing the sustainability of a community to be able to cope with environmental change. The argument of this study is to save Asmat tribes in the extended period only by restoring them to their habitat and reducing the dependence on the food consumption provided by the market. Results of this study indicate that the underlying cause of Asmat outbreaks is the...
Irfanuddin Wahid Marzuki
Published: 31 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 89-100; doi:10.24832/kapata.v14i1.475

Abstract:Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera.Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port.
Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 37-48; doi:10.24832/kapata.v14i1.472

Abstract:Bukti-bukti mengenai gunung dianggap sakral dan suci telah didapatkan sejak Masa Prasejarah. Salah Satu gunung yang masih dipercaya sebagai tempat sakral adalah Gunung Lawu. Berdasarkan tinggalan arkeologis Gunung Lawu ini nampaknya mempunyai peranan cukup penting pada masa lalu, bahkan berlanjut hingga sekarang. Studi ini akan menelusuri jejak-jejak pemujaan terhadap parwatarajadewa yang bersemayam di Gunung Lawu. Untuk memecahkan permasahan tersebut digunakan metode pengumpulan data meliputi kajian pustaka, observasi, dan dokumentasi. Setelah itu, data dibedah mengunakan analisis kualitatif dibantu dengan teori Religi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gunung Lawu mempunyai nama kuna (Hindu-Budhha) yaitu katong. Walaupun namanya berubah namun makna yang dikandung tetap memiliki persamaan. Komunitas yang beraktivitas di Gunung Lawu saat itu adalah kaum rsi dan pertapa yang tampaknya memuliakan seorang parwatarajadewa (dewa penguasa gunung). Hal ini berdasar atas banyaknya temuan tinggalan arkeologi di kawasan Gunung Lawu dan didukung pula dengan prasasti yang pernah ditemukan di Candi Sukuh. Nama dewa tersebut menurut Serat Centhini adalah Hyang Girinatha.Evidence of the mountain as considered sacred and sanctified have been obtained since the Prehistoric Period. One mountain that is still believed to be a sacred place is Mount Lawu. Based on archaeological remains, Mount Lawu seems to have played a significant role in the past, even persisting up till now. Mount Lawu is used as a place to live and religious activity from the past. This study traces the worship of Parwatarajadeway residing on Mount Lawu. In order to solve the problem, it used data collection methods including literature review, observation, and documentation. The analysis used qualitative assisted by Religious theory. The results of this study indicate that Mount Lawu has an ancient name that is katong. Although the name had changed but its meaning still have a resemblance. Community’ activities that move on Mount Lawu around the 15th to 16th century are the rsi and the ascetic who seem to glorify the Parwatarajadewa (the god of the mountain ruler). This is based on many findings of archaeological remains in the area of Mount Lawu and also supported with inscriptions ever found in Sukuh Temple. The name of the god according to Serat Centhini is Hyang Girinatha.
Wuri Handoko, Muhammad Al Mujabuddawat, Joss Whittaker
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 49-62; doi:10.24832/kapata.v14i1.507

Abstract:Situs permukiman Kampung kuno Kao terletak di pedalaman Halmahera Utara, berdiri di atas tanah yang relatif basah diapit oleh sungai Aer Kalak, Ake Ngoali, dan Ake Jodo dan dikelilingi oleh hutan sagu dan rawa. Kondisi permukiman di situs ini membuatnya memiliki keterbatasan ruang hunian, namun orang-orang yang menghuni Kampung kuno Kao bermukim di wilayah ini dalam jangka waktu yang relatif panjang, yaitu antara 100-200 tahun, dan bahkan tercatat dalam rekam sejarah bahwa wilayah Kao dahulu menjadi penyuplai makanan pokok Ternate. Penelitian ini bersifat deduktif, yaitu menyusun sebuah hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi lisan yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisa dengan merujuk pada sumber referensi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Kao merupakan permukiman yang cukup maju dan memiliki peran cukup penting sebagai wilayah pusat Islamisasi di Halmahera. Orang-orang di Kampung kuno Kao tinggal dalam waktu lama di satu lokasi didukung oleh sumber air dan potensi tanah-tanah pertanian menjadikan wilayah Kao sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang ramai. Kao menjadi bagian dari strategi dalam penyebaran Islam ke wilayah-wilayah pedalaman lainnya, juga daerah-daerah pesisir di Halmahera Utara.The Kao Ancient Village settlement site is located in the hinterland of North Halmahera, standing on relatively wet ground flanked by the river Aer Kalak, Ake Ngoali, and Ake Jodo and surrounded by sago and swamp forests. The settlement conditions on the site make it limited for residential space, but a community of Kao people settled in this area for a relatively long period of time between 100-200 years and even recorded in history that Kao region is the main food supplier for Ternate in the past. This research conducted surface surveys and limited excavations, then mapped the areas of artifactual findings, and identified patterns of spatial use by analyzing surface features and artifact scatters. Variety of archeological data both artifacts and oral traditions are then analyzed guided by relevant reference sources. The results show that Kao Site is an advanced settlement and has a significant role as the center of Islamicization in Halmahera. The Kao people settled for a long time in one location supported by water sources and the potential of farming lands making the Kao area a part of bustling trade networks. Kao became part of a strategy in spreading Islam to other inland areas, as well as coastal areas in North Halmahera.
Irsyad Leihitu, Raden Cecep Eka Permana
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 15-26; doi:10.24832/kapata.v14i1.496

Abstract:Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, khususnya di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut teori David Lewis-Williams dan David S. Whitley tentang pendekatan neuropsikologi terhadap gambar cadas, mereka mendeskripsikan "beberapa" motif sebagai penggambaran tahapan atau metafora dari Altered State of Consciousness (ASC) yang berhubungan dengan shamanisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana teori ASC dapat diuji dalam gambar cadas Maros-Pangkep, dan juga menunjukkan indikasi keberadaan shamanisme dalam gambar cadas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analogi formal dan studi komparatif tentang motif-motif gambar cadas terpilih di kawasan Maros-Pangkep dengan gambar cadas di Afrika, Siberia, dan juga gambar cadas di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa teori ASC dapat diterapkan dalam gambar cadas Indonesia dan ada beberapa indikasi shamanisme dalam gambar cadas di wilayah Maros-Pangkep.Rock art is an archaeological phenomenon which spread all over the world. Generally, this prehistoric art consists of various forms, motifs, and also meanings. This article discusses Indonesian rock art, particularly the Maros-Pangkep region in South Sulawesi. According to David Lewis-Williams and David S. Whitley’s theory about the neuropsychology approach to rock art, they describe “some” motifs as a depiction of stages or metaphors of the Altered State of Consciousness (ASC) that relates to shamanism. The aim of this study is to demonstrate how the ASC theory can be tested in Maros-Pangkep Rock Art, and also shows an indication of the existence of shamanism in Indonesian rock art. The research methods are formal analogy and comparative studies on the selected motifs of rock art in the Maros-Pangkep region with African, Siberian, and also American rock art. The result shows that the ASC theory can be applied in Indonesian rock art and there are some indications of shamanism in rock art motifs in the Maros-Pangkep region.
Lia Nuralia
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 63-78; doi:10.24832/kapata.v14i1.481

Abstract:Makam Belanda (kerkhof) dengan inkripsi (prasasti) di Kebon Jahe merupakan sumber data arkeologis, menjadi petunjuk awal untuk penelusuran arsip kolonial sebagi sumber data sejarah. Sumber data sejarah dan arkeologis menjadi satu kolaborasi data yang saling melengkapi, yang dapat menjelaskan keberadaan perkebunan zaman Belanda yang sekarang sudah tidak ada. Apa dan bagaimana kedua sumber data tersebut menjadi bukti penting tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, menjadi permasalahan dalam tulisan ini. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan mengungkap jejak sejarah Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, melalui arti inskripsi dan ragam hias makam, serta identitas orang yang dimakamkan melalui sumber arsip Belanda. Hasil yang diperoleh adalah kepastian tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di daerah Cisarua Bogor, dengan bukti fisik berupa tujuh Makam Belanda di Kampung Kebon Jahe, serta dokumen tertulis (rekaman sejarah) dalam Arsip Kolonial Indische Navorsher 1934 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.The Dutch tomb (kerkhof) with the inscription in Kebon Jahe is the source of archaeological data, becoming the initial guidance for searching colonial archives as a source of historical data. The source of historical and archaeological data becomes a collaboration of complementary data, which could explain the existence of a now-defunct Dutch plantation. What and how these two sources of data become important evidence of the existence of South Cisarua Plantation in the past, is a problem in this paper. Thus, this paper aims to reveal traces of the history of South Cisarua Plantation based on colonial archives and inscription of the Dutch tomb. The method used archaeological research with historical approach and symbolic meaning, which explains about the existence of South Cisarua Plantation in the past, through the meaning of inscriptions and decorative graves of the tomb, as well as the identity of people buried through the source of the Dutch archives. The results obtained certainty about the existence of South Cisarua Plantation in Cisarua Bogor area, with physical evidence in the form of seven Dutch Tombs in Kampung Kebon Jahe, as well as written documents as historical record in Colonial Archive of Indische Navorsher 1934 and Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.
I Nyoman Rema, Ni Putu Eka Juliawati, Hedwi Prihatmoko
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 79-88; doi:10.24832/kapata.v14i1.505

Abstract:Situs Doro Bata merupakan situs yang memiliki nilai penting bagi sejarah kebudayaan masyarakat Dompu, yang masih dapat disaksikan jejak-jejaknya hingga saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk, ruang, dan waktu Situs Dorobata. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dengan teknik ekskavasi, studi pustaka, dan wawancara. Data kemudian dianalisis secara spesifik, himpunan, dan konteks. Berdasarkan kegiatan penelitian di situs ini, dapat diketahui bahwa Bukit Dorobata berbentuk teras dengan tujuh undakan dan sebuah tangga masuk dari arah barat, dan pada bagian puncaknya ditemukan struktur pondasi yang diduga sebagai pondasi bangunan dengan konstruksi kayu. Situs ini berada pada sebuah bukit yang layak dijadikan hunian mengingat dukungan sumber daya alam di sekitarnya. Berdasarkan keterangan budayawan dan hasil studi literatur diketahui bahwa situs ini tercipta ketika Dompu mendapatkan pengaruh kebudayaan Majapahit pada abad ke-14, dan diduga ditinggalkan pada abad ke-19 ketika meletusnya gunung Tambora.Doro Bata site is a site that has an important value for cultural history of Dompu society, of which traces can still be witnessed to this day. The purpose of this research is to recognize the form, space, and time of Doro Bata Site. Data collection was done through observation by excavation technique, literature study, and interview. The collected data was then analyzed and summarized. Based on the research activities on this site, it can be evident that the Doro Bata Hill is a seven-step terrace (berundak) and a stairway entering from the west, and at the top part was found a structure presumably as the foundation of a building with wooden construction. This site is located on a hill that deserves to be occupied into the settlement given the support of natural resources in the vicinity area. Based on the information from a number of cultural experts and the results of literature studies, it is known that this site was created when Dompu got the influence of Majapahit culture in the 14th century, and allegedly abandoned in the 19th century during the eruption of Mount Tambora.
Shimona Kealy, Lucas Wattimena, Sue O'connor
Published: 30 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 1-14; doi:10.24832/kapata.v13i2.458

Abstract:Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah meningkatkan jangkauan dan keberhasilan survei arkeologi, namun survei pejalan kaki untuk mengembangkan parameter model dan prediksi kebenaran dasar masih penting untuk keberhasilan suatu penemuan. Penelitian ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs arkeologi ditemukan di kedua pulau tersebut, tujuh diantaranya merupakan situs lukisan cadas baru yang ditemukan di Pulau Wetang. Hasil survei ini menunjukkan keberhasilan penggunaan peta geologi dan topografi di samping citra satelit dalam mendeteksi daerah prospektif untuk survei. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik geologi daerah yang lebih rinci dan komparatif diperlukan sebelum dilakukan survei jarak jauh yang lebih lanjut di wilayah Maluku Barat Daya, Indonesia.Archaeological surveys are essential to the discovery and interpretation of remains left by past human activities. While remote sensing and predictive models have greatly improved the reach and success of archaeological survey, pedestrian surveys to develop model parameters and ground-truth predictions is still imperative for successful discoveries. Here we present the results of the 2017 archaeological survey of islands Babar Besar and Wetang in the Babar Island Group, Maluku Barat Daya, Indonesia. A total of 62 archaeological sites were recorded between the two islands; seven of which represent new rock art sites on Wetang island. Our survey results indicate the successful use of geological and topographic maps alongside satellite images in detecting prospective regions for survey. Results also indicate however that a more detailed and comparative understanding of the regions geology is required before more advanced forms of remote survey are conducted in the Maluku Barat Daya region.
Marlon Nr Ririmasse
Published: 23 July 2018
Kapata Arkeologi, Volume 14, pp 27-36; doi:10.24832/kapata.v14i1.466

Abstract:Mengembangkan kurikulum Sekolah bermuatan sejarah yang representatif merupakan sebuah tantangan di Indonesia. Berbagai macam etnis dan latar belakang budaya di negara ini telah menciptakan situasi manajemen pendidikan yang unik. Suatu pendekatan yang tidak konvensional yang menekankan muatan lokal telah dikembangkan oleh Pemerintah dalam dua dekade terakhir untuk memenuhi permintaan terhadap representasi isu-isu lokal dalam sejarah dan mata pelajaran yang terkait di sekolah-sekolah. Meskipun sudah ada pendekatan yang diinisiasi, namun pelaksanaan program di tingkat nasional masih jauh dari efektif karena keterbelakangan konsep dan kekurangan sumber daya manusia. Partisipasi lembaga, kelompok, atau individu dengan pengetahuan dan keahlian tertentu tentang budaya lokal di luar lembaga pendidikan formal dewasa ini diadopsi sebagai solusi yang mungkin efektif. Dalam hal ini arkeologi sangat mungkin memberikan kontribusi positif. Tulisan ini akan membahas masalah dengan berfokus pada kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir.Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created a unique education management situation. An unconventional approach emphasizing local content (muatan lokal) has been developed by the national government in the last two decades to address the demand for more representation of local issues in history and related subjects at schools. Despite this creative approach, the implementation of the program at the national level is still far from effective due to the underdevelopment of the concept and shortage of human resources. The participation of institutions, groups or individuals with the particular knowledge and expertise on local culture outside the formal educational institution has recently been adopted as a possible effective solution. This is a role in which archaeology might also make a positive contribution. This paper will discuss this issue by focusing on the contribution of archaeology to develop the local content in the education of Moluccas region in Indonesia. The discussion will include the examples of the program and project, which has been conducted in the last ten years.
Page of 10
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search