Journal Kapata Arkeologi

-
80 articles
Page of 9
Articles per Page
by
Ni Komang Ayu Astiti
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 195-208; doi:10.24832/kapata.v13i2.426

Abstract:The contribution of tourism to the global economic development continues to increase, affecting the government's policy to make tourism one of the priority sectors of national development after food and maritime. This becomes an opportunity to explore creatively the potential to fill this opportunity. The main question in this research is focus on how the complex area of megalithic building can play an important role in as a resource in national development, especially in the economic sector through tourism. The objective of the study is to restore megalithic complexes from the archaeological context to the social context of today's society as a resource in the development of contemporary times while maintaining its preservation. The method used a qualitative descriptive approach with data collection techniques through direct observation and interview. The results show that this cultural heritage can be a tourism commodity produces products that provide experience in: 1) important historical value; 2) the value of information; 3) aesthetic value; and 4) symbolic value. Strategies used in the management of integrating cultural heritage and the natural environment (landscape), enhancing the role of communities and other stakeholders, maintaining the originality and authenticity of megalithic and landscape buildings, and fostering the desire to invest and community effort. This management is expected to use a conservation approach to cultural and environmental resources as well as community empowerment.Kontribusi pariwisata dalam pembangunan ekonomi secara global terus meningkat, berdampak pada kebijakan pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan nasional setelah pangan dan maritim. Hal ini menjadi peluang mengekplorasi secara kreatif potensi yang ada. Permasalahan penelitian dalam tulisan ini adalah bagaimana kawasan kompleks bangunan megalitik dapat berperan penting sebagai sumber daya pembangunan nasional khususnya dalam sektor ekonomi melalui kepariwisataan. Tujuan penelitian tulisan ini untuk mengembalikan kompleks bangunan megalitik dari konteks arkeologi ke konteks sosial masyarakat sekarang sebagai sumber daya dalam pembangunan masa kekinian dengan tetap menjaga pelestariannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa warisan budaya ini dapat menjadi komoditas pariwisata yang menghasilkan produk yang memberikan pengalaman (experiences) dalam: 1) nilai penting sejarah; 2) nilai informasi; 3) nilai estetika; dan 4) nilai simbolik. Strategi yang digunakan dalam pengelolaan yaitu memadukan warisan budaya dan lingkungan alam, meningkatkan peran masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, mempertahankan originalitas dan otentisitas bangunan megalitik dan lansekap, serta menumbuhkan keinginan untuk berinvestasi dan usaha masyarakat. Pengelolaan ini diharapkan menggunakan pendekatan pelestarian sumber daya budaya dan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat.
Defri Elias Simatupang
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 209-222; doi:10.24832/kapata.v13i2.429

Abstract:This paper discusses the diversity of Indonesian people that needs to be improved following more susceptible of conflict in the communities with different ethnic, religion , race , and class. The archaeological research institution should be able to contribute for this process by using the research result of the Kota Cina in Medan North Sumatera. One of the approach which can be adopted is the use of arcaheological slogan. These slogans can be produce by using the parameter analysis of measureable mass communication with the content analysis method. The observation shows that the archaeological slogan of the Kota Cina can be produce and contribute to deliver the message in order to revitalize the diversity.Tulisan ini membahas kebinekaan masyarakat Indonesia yang semakin rentan menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs Kota Cina di Kota Medan Sumatera Utara. Dalam upaya merevitalisasi kebinekaan, hasil penelitian Situs Kota Cina diangkat sebagai bahan kampanye slogan arkeologis. Slogan-slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dibuat berdasarkan kajian paramater pengamatan komunikasi massa yang terukur dengan metode analisis isi. Dari hasil pengamatan, slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dapat dibuat dan diyakini mampu berkontribusi menyampaikan pesan dalam usaha merevitalisasi kebinekaan, dengan catatan yang harus diperhatikan menyangkut penguasaan materi seputar hasil penelitian Situs Kota Cina.
Karyamantha Surbakti
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 141-150; doi:10.24832/kapata.v13i2.397

Abstract:Several articles of various legal provisions outside Statutory of Cultural Heritage No. 11/2010 concerning cultural heritage have mentioned the issue of incentives and compensation. The incentives and compensation here is given by the government when the public has an cultural heritage objects. The government provides relief by not imposing tax status to the communities that have cultural heritage in the form of sites or buildings. The purpose of this conceptual framework is to identify and recognize how the government seeks to pay attention to aspects of participating communities to protect and preserved cultural heritage. The approached adopted in this study is literature review, using Statutory of land and bulding tax No.12/1994 and the regulation of Public Works and Public Housing Republic of Indonesia No.1/PRT/M/2015 as the main source and some articles related to cultural heritage. The results of the discussion provide an illustration that the government is pursuing a legal product related to incentives and compensation to people who have ancient relics as an effort for the preservation of cultural heritage pertaining to the community.Beberapa pasal dari berbagai ketetapan hukum di luar Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 mengenai cagar budaya, telah menyebutkan dan mencantumkan perihal pemberian insentif dan kompensasi. Insentif dan kompensasi di sini diberikan oleh pemerintah ketika masyarakat memiliki suatu peninggalan purbakala. Pemerintah memberikan keringanan dengan tidak mengenakan status pajak kepada masyarakat yang memiliki warisan budaya/cagar budaya berupa situs atau bangunan. Tujuan dari kerangka konseptual ini adalah untuk mengenali bagaimana pemerintah berusaha memperhatikan aspek masyarakat yang berpartisipasi untuk melindungi dan menjaga cagar budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah pustaka, dengan menggunakan Undang-undang Pajak Bumi Bangunan Nomor 12 Tahun 1994 serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 1/PRT/M/2015 sebagai sumber utama dan beberapa tulisan yang berkaitan dengan cagar budaya. Hasil pembahasan memberikan gambaran bahwa pemerintah mengupayakan sebuah produk hukum yang berkenaan dengan insentif dan kompensasi kepada masyarakat yang memiliki peninggalan purbakala sebagai usaha untuk pelestarian cagar budaya yang bersinggungan dengan masyarakat.
Nfn Mustafa
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 151-162; doi:10.24832/kapata.v13i2.404

Abstract:This paper aim to examine the local wisdom contained in wérékkada. Wérékkada is a classic Buginese literary form that is still lived by those with Buginese Language and culture backgrounds that serve as an adhesive tool for interpersonal relationships and sources of laws and regulations that can tap the heart, mind and command people to be honest, polite courteous, knowing customs, and manners in social life. This paper describes the local wisdom of Buginese culture that is still practiced in society. The approach used in this study uses two theories namely, pragmatic and sociology of literary approach. The methods and techniques used in this study are descriptive methods, which are described the data as it is. Data was collected using recording techniques, interviews, recording, and literature study. The results can be concluded that wérékkada contains local wisdom such as honesty, an advice (wérékkada) which contains the basic foundation in establishing relationships between people, perseverance, which is an advice that gives an overview of the daily behavior of someone who has a price high self, firm, tough, faithful to faith, and obedient principle. Meanwhile, sirik ‘malu’ is one of the Buginese way of life, which aims to maintain personal dignity, others or groups.Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kearifan-kearifan lokal yang terdapat dalam wérékkada. Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat berlatar belakang bahasa dan budaya Bugis yang berfungsi sebagai alat perekat hubungan antar individu dan sumber hukum serta peraturan yang mampu mengetuk hati, pikiran dan memerintahkan orang untuk berlaku jujur, berperilaku sopan santun, tahu adat istiadat, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Tulisan ini menggambarkan kearifan lokal budaya Bugis yang hingga kini masih berlaku di dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini menggunakan dua teori yaitu, pendekatan pragmatik dan sosiologi sastra. Metode dan teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif, yaitu memaparkan sebagaimana adanya. Pengumpulan data, digunakan teknik pencatatan, wawancara, perekaman, dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa wérékkada dapat mengandung kearifan lokal tentang kejujuran. Petuah-petuah atau wérékkada berisi landasan pokok dalam menjalin hubungan antar sesama, keteguhan, memberikan gambaran dari tingkah laku sehari-hari seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, dan taat asas. Sementara itu, sirik ‘malu,’ adalah salah satu pandangan hidup orang Bugis yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok.
Faradika Darman
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 131-140; doi:10.24832/kapata.v13i2.390

Abstract:One form of the oral literature famously known by Pepole in Maluku is kapata. It is a traditional song by the local language performes in traditional ceremonies and ritual. Bahasa Tana is the term for local language in Maluku. Kapata is always be an important part and give a sacred atmosphere for the ritual. Kapata contains number of histrorical values and norms of life from the ancestors. Hence, studies to reveal the meaning of Kapata is very important to be discussed. It is a form of this oral literature preservation and improved our knowledge on history. Therefore, this paper tries to discussed the historical reality, function and meaning of oral literature of Kapata Perang Kapahaha in Morella, Leihitu, Central Maluku. This paper uses hermeneutic approach to analyze the content, structure and meaning in the Kapata. Analysis result shows that Kapata Perang Kapahaha contain of historical meaning that refelected stories from the past which can be mentioned as the reference for oral history and as the vehichle in the costum ritual.Kapata adalah salah satu bentuk sastra lisan yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Maluku. Kapata merupakan nyanyian adat yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa tana pada saat upacara atau ritual adat. Bahasa tana adalah sebutan untuk bahasa daerah di Maluku. Kapata selalu menjadi bagian dari upacara dan menambah kesakralan upacara tersebut. Kapata menyimpan banyak nilai sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur. Kajian-kajian untuk mengungkap makna dalam kapata penting untuk didiskusikan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian sastra lisan kapata dan menambah pengetahuan terkait dengan sejarah masa lalu. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk mengkaji bagaimana realitas sejarah serta fungsi dan makna dalam sastra lisan kapata perang Kapahaha yang terdapat di Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Kajian ini menggunakan pendekatan hermeneutika dan menggunakan analisis isi untuk melihat struktur dan makna dalam kapata tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapata perang Kapahaha memiliki makna historis yang merefleksikan cerita sejarah masa lalu sehingga dapat dikatakan sebagai sumber penutur sejarah dan sebagai pengiring acara ritual adat.
Wuri Handoko
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 179-194; doi:10.24832/kapata.v13i2.423

Abstract:A few historical source mention the Kingdom of Loloda as one of the great kingdoms of North Maluku, contemporaneous with the four Islamic kingdoms that developed into sultanates, namely Ternate, Tidore, Bacan and Jailolo. However, compared to these powers, the development of Islamic rule in Loloda is not well known through historical sources, and the kingdom is even said to have collapsed in the early 20th century. In this article I discuss the results of research to trace archaeological evidence about the history of the Kingdom of Loloda. Starting with literary sources, I then describe the results of archaeological surveys in the area mentioned in historical text and public information. Archaeological surveys indicate that the center of the Loloda kingdom was located in the Loloda watershed in Loloda Sub-district, Halmahera Barat District. Archaeological research results suggest the Kingdom of Loloda grew from the 15th century and experienced collapse at the time of European colonialism.Kerajaan Loloda dalam teks sumber sejarah yang terbatas, disebut-sebut sebagai salah satu kerajaan besar di Maluku Utara, sezaman dengan empat aliansi kerajaan Islam yang berkembang menjadi kesultanan yakni, Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Namun dibanding keempat kekuasaan Islam itu, Loloda tidak diketahui perkembangannya, bahkan disebut runtuh pada awal abad 20 dan hilang dalam catatan sejarah perkembangan kekuasaan Islam. Penulisan ini berdasar pada hasil penelitian untuk melacak bukti-bukti arkeologi tentang sejarah Kerajaan Loloda. Dimulai dari pengumpulan sumber literatur, kemudian dilanjutkan dengan survei arkeologi di wilayah yang disebut dalam teks sejarah dan informasi masyarakat. Berdasarkan hasil survei arkeologi, diketahui adanya lokasi yang menjadi indikasi pusat kerajaan Loloda di DAS (daerah aliran sungai) Loloda di Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat. Hasil penelitian arkeologi menggambarkan bahwa Kerajaan Loloda berkembang pada abad 16 dan mengalami keruntuhan sesudahnya ketika kolonialisme bangsa Eropa berkembang di wilayah itu.
Dessy Wahyuni
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 163-178; doi:10.24832/kapata.v13i2.407

Abstract:The life of the Malay Duanu community, a remote indigenous community, is started to be exposed recently. Their existence is recognized by the world through the Menongkah Festival that has achieved the MURI record twice. Unfortanely, following the current globalization progress, the expose of this ethnic group starts to erodes their culture and language toward extinction. It is unfortunate as wel that this activity only highlight the ceremonial part. In fact, Duanu people can take advantage of this Menongkah Festival as a medium for the revitalization of Duanu language and culture. If the festival is managed well, then it is believed that this activity will be able to support the emergence of a creative economy that improves the welfare of its supporting community, as well as to revitalize their culture and language. The government should be able to create policies that capable to support the creation of locality-based creative mindset, systems, and practices of the creative industry and to keep prioritizing the existing cultural values. Therefore, through ethnographic methods, the aim of this paper is to offer the model of creative industries based on culture and language of Duanu. If Menongkah Festival is optimally utilized by developing creative undustries, it is believed that the endangered language and culture of Duanu cen be revitalized and people’s live will be more prosperous.Kehidupan masyarakat Melayu Duanu, sebuah komunitas adat terpencil saat ini mulai mengemuka. Eksistensi mereka diakui dunia melalui Festival Menongkah yang mendapatkan rekor MURI sebanyak dua kali. Namun tanpa disadari, seiring arus globalisasi yang menerpa, mengemukanya suku ini mengikis budaya dan bahasa Duanu secara perlahan ke arah kepunahan. Selain itu sangat disayangkan, kegiatan ini hanya menyorot kemeriahan sesaat. Padahal masyarakat Duanu bisa memanfaatkan Festival Menongkah ini sebagai media revitalisasi budaya dan bahasa Duanu. Apabila dikelola dengan baik, diyakini, kegiatan ini akan dapat menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya, sekaligus dapat merevitalisasi budaya dan bahasa mereka. Pemerintah seharusnya dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan nilai-nilai kultural yang ada. Dengan demikian, melalui metode etnografis, tulisan ini bertujuan menawarkan model industri kreatif berbasis budaya dan bahasa Duanu. Jika Festival Menongkah dimanfaatkan secara maksimal dengan mengembangkan industri kreatif, diyakini bahasa dan budaya Duanu yang nyaris punah dapat terevitalisasi serta kehidupan masyarakat pun semakin makmur.
Naniek Harkantiningsih
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 233-246; doi:10.24832/kapata.v13i2.442

Abstract:The Sultanate of Cirebon is the center of the Islamic empire that grew from the 15th century, in fact not only grew in the religious, bureaucratic, and commercial sphere, but also established cooperation with the Dutch, especially in the early 18th century, even become to region of the territory of VOC until the Dutch East Indies government. One of the proofs of the relationship, is the form of ceramic tiles from the Netherlands which until now used as decoration wall of the palace, mosque, and tombs. The pattern of ceramic tiles is biblical story. The existence of ceramic tiles of the biblical story in Cirebon as an area of the Islamic empire that was very influential at that time, certainly be uniqueness. Therefore, the purpose of this papers is to know the reasons for the preservation of the ornamental art of ceramic outboard bible stories in the center of government and sacred buildings characterized by Islam. The method used is qualitative analysis, context analysis, and literature study. The preservation of this ornamental art may also be linked to the tolerance of diversity, which is the current government policy program. The use of ceramic outboard art of Biblical story, both in profane and sacred building makes one of the typical culture of Cirebon, because the people of Cirebon and the Sultanate relatives still maintain the unity and preserve the cultural heritage.Kesultanan Cirebon sebagai pusat kerajaan Islam yang berkembang dari abad ke-15an, pada kenyataannya tidak hanya tumbuh dalam lingkup keagamaan, birokrasi, dan perniagaan, tetapi juga menjalin kerjasama dengan Belanda. Terutama pada awal abad ke-18an, bahkan menjadi wilayah kekuasaan VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda. Salah satu bukti hubungan itu, berupa tegel keramik asal Belanda yang hingga kini dipakai sebagai hiasan tembok keraton, masjid, dan makam. Tegel keramik tersebut bermotifkan cerita Alkitab. Keberadaan tegel keramik cerita Alkitab di Cirebon sebagai wilayah kerajaan Islam yang sangat berpengaruh pada masa itu, tentu menjadi keunikan. Tujuan penulisan ini yaitu, mengetahui alasan pelestarian seni hias tempel keramik cerita Alkitab di pusat pemerintahan dan bangunan sakral bercirikan Islam. Metode yang digunakan ialah analisis kualitatif, analisis konteks, dan studi kepustakaan. Pelestarian seni hias ini mungkin dapat pula dihubungkan dengan toleransi kebinekaan, yang menjadi program kebijakan pemerintah saat ini. Penggunaan seni hias tempel keramik cerita Alkitab, baik di bangunan profan maupun sakral menjadikan salah satu budaya khas Cirebon, karena masyarakat Cirebon dan kerabat Kesultanan masih menjaga keutuhan dan melestarikan tinggalan budaya tersebut.
Iwan Hermawan
Published: 30 November 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 223-232; doi:10.24832/kapata.v13i2.435

Abstract:Romusha was a form of labor force mobilization during the Japanese occupation. They are employed to build military infrastructure and explore mining or digging foxholes. One of the center of romusha was Bayah in South Banten. Romusha were came from different parts of Java Island and employed in the Bayah Kozan coal mine. The coal mining system carried out in Bayah, is a closed mine. Mining is done by making a hole to reach ader (ore tree). The mining pits and coal mining activities were conducted with simple equipment under the pressure and torture of the Japanese soldiers who supervised romusha. This paper aims to uncover traces romusha in South Banten through the remains of Japan in the form of Coal Mine Hole. The writing method used is descriptive analysis. Data collection through the activities of literature studies, field surveys, and interviews. The suffering experienced by the romusha in Bayah reflected from the pits where coal mines are numerous in the region Gunungmadur Bayah.Romusha merupakan bentuk mobilisasi tenaga kerja pada masa Pendudukan Jepang. Mereka dipekerjakan untuk membangun sarana prasarana militer dan menggali bahan tambang atau lubang perlindungan. Salah satu daerah yang menjadi tempat pemusatan romusha adalah Bayah di Banten Selatan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan dipekerjakan di tambang batu bara Bayah Kozan. Sistem penambangan batu bara yang dilakukan di Bayah adalah tambang tertutup. Penambangan dilakukan dengan cara membuat lubang untuk mencapai ader, yaitu pohon bijih. Kegiatan penggalian lubang tambang dan penambangan batu bara dilakukan dengan peralatan sederhana di bawah tekanan dan siksaan tentara Jepang yang menjadi pengawas romusha. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap jejak romusha di Banten Selatan melalui tinggalan masa Jepang berupa lubang tambang batu bara. Metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif analisis. Pengumpulan data melalui kegiatan studi pustaka, survei lapangan, dan wawancara. Penderitaan yang dialami oleh para romusha di Bayah tergambar dari keberadaan lubang-lubang tambang Batu bara yang banyak terdapat di kawasan Gunungmadur, Bayah.
Libra Hari Inagurasi
Published: 25 July 2017
Kapata Arkeologi, Volume 13, pp 21-36; doi:10.24832/kapata.v13i1.375

Abstract:Samudra Pasai, the first Islamic kingdom in Indonesia, its existence was influenced by the discovery of the cruise line across the shores from the Red Sea to India, the Malacca Strait to China. The kingdom is located on the edge of Malacca Strait as maritime kingdom developed as a harbor, commercial city, a heaven for traders from all over the world. The center of Samudra Pasai as a commercial city, many commodities are found. This study aims to provide an overview of the various commodities of the Samudra Pasai, through its cultural expression and identification of historical records, and its continuity in the present. Data collection is done through field observation, interview, and literature study. Archaeological, historical, and ethnographic data have been collected rather then analyzed and interpreted. This research reveals types of commodities of the Kingdom of Samudra Pasai, that is foreign commodities, local commodities, and the continuity of local commodities for export in the present. The artifacts of foreign trade commodities are ceramics, and tombstones. Local trade commodities are pottery, salt, and pepper. Samudra Pasai pottery is allegedly made for storing containers and for dosage units of trade commodities such as pepper and salt. Pepper is a local exported commodity. The making of pottery, salt, and cultivation of pepper in the surroundings Site of the Samudra Pasai in the present, is an economic activity that is likely to be a continuation of the earlier period, which has culture relationship since the Samudra Pasai period. Samudra Pasai, Kerajaan Islam pertama di Indonesia, keberadannya dipengaruhi oleh penemuan jalur pelayaran melintasi pantai-pantai dari Laut Merah hingga India, Selat Malaka hingga China. Kerajaan ini terletak di tepi Selat Malaka, bercorak maritim, berkembang sebagai pelabuhan, kota dagang, tempat persinggahan para pedagang dari berbagai penjuru dunia. Pusat Kota Samudra Pasai memiliki pelabuhan dan sebagai kota dagang, banyak dijumpai berbagai komoditas. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai berbagai komoditas masa Samudra Pasai, melalui tinggalan budayanya dan identifikasi pada catatan sejarah, serta mencermati kesinambungannya pada masa kini. Pengumpulan data dilakukan melalui tahap observasi di lapangan, wawancara, dan studi literatur. Data arkeologi, sejarah, dan etnografi yang telah terkumpul dibandingkan, dianalisis dan diinterpretasikan. Penelitian ini telah berhasil mengungkap jenis-jenis komoditas masa Kerajaan Samudra Pasai, yakni komoditas asing, komoditas lokal, dan kesinambungannya komoditas lokal untuk ekspor di masa kini. Artefak-artefak komoditas perdagangan asing berupa keramik, dan batu nisan. Komoditas perdagangan lokal adalah tembikar, garam, dan lada. Tembikar Samudra Pasai diduga dibuat untuk wadah-wadah menyimpan dan untuk satuan takaran komoditas perdagangan misalnya lada dan garam. Lada merupakan komoditas lokal yang diekspor. Pembuatan tembikar, garam, dan budi daya lada di lingkungan situs Samudra Pasai dan sekitarnya pada masa sekarang, merupakan kegiatan perekonomian, kemungkinan masih kelanjutan dari masa sebelumnya yang memiliki akar budaya sejak pada masa Samudra Pasai.
Page of 9
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search