Journal Buletin Plasma Nutfah

-
182 articles
Page of 19
Articles per Page
by
Try Zulchi, Husni Puad
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 91-100; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p91-100

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman sumber daya genetik (SDG) kacang tanah berdasarkan karakter morfoagronomis dan kandungan protein biji. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cikeumeuh Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) dan Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Bogor pada tahun 2013. Sebanyak 240 aksesi plasma nutfah kacang tanah koleksi bank gen BB Biogen digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman yang relatif tinggi pada karakter tinggi tanaman, jumlah polong muda, bobot polong per tanaman, dan hasil polong. Hasil analisis klaster menghasilkan 9 klaster. Di antara 9 klaster tersebut, terdapat satu klaster yang beranggotakan sebanyak 221 aksesi, sedangkan klaster yang lain terdiri atas 1-8 aksesi. Terdapat beberapa aksesi yang terpisah dari klaster yang lainnya dan memiliki sifat yang spesifik. Aksesi-aksesi tersebut di antaranya adalah Leuweungkolot (pertumbuhan tanaman tinggi), Tapir-1 (jumlah cabang banyak), Hobotama (jumlah polong isi banyak), Lokal Tretes dan Lokal Subang (hasil polong tinggi), dan Lokal Subang XI (kandungan protein >30%). Aksesi-aksesi dengan karakteristik spesifik tersebut berpotensi sebagai sumber tetua persilangan.
Titi Kalima, Diana Prameswari
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 119-126; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p119-126

Abstract:Rotan alam di Provinsi Sulawesi sudah semakin berkurang akibat eksploitasi yang kurang terkendali dan banyak jenis rotan yang sudah hampir punah. Jenis tersebut laku di pasaran, namun tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Berdasarkan hal tersebut, prioritas penelitian dan pengembangan jenis andalan setempat rotan sangat penting. Rotan merupakan jenis rotan unggulan, memiliki peluang pasar yang baik, dan dapat diterima oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis tumbuhan andalan setempat rotan di Hutan Dolago Tanggunung, Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survei dan pengumpulan data. Hasil penelitian ditemukan empat spesies tumbuhan andalan setempat rotan, yaitu Daemonorops macroptera (Miq.) Beccari), D. robusta Warb. ex Beccari, D. lamprolepis Beccari, dan Calamus inops Beccari ex Heyne. Populasi empat spesies rotan di kawasan hutan ini jarang ditemukan. Dengan kondisi ini perlu tindakan pengembangan budi daya rotan melalui konservasi ex situ.
AsadI Asadi, Sutoro Sutoro, Nurwita Dewi, Charles S. Bora
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 101-108; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p101-108

Abstract:Cekaman kekeringan menjadi masalah yang perlu diperhatikan dalam budi daya kacang hijau di lahan kering, mengingat ketersediaan air yang relatif terbatas terutama pada musim kemarau. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi aksesi-aksesi kacang hijau terhadap cekaman kekeringan. Sebanyak lima puluh aksesi plasma nutfah kacang hijau yang terdiri atas varietas unggul nasional, dan varietas lokal koleksi Bank Gen BB Biogen digunakan dalam penelitian ini. Pengujian kekeringan dilaksanakan di KP Naibonat, BPTP NTT, Kupang pada tahun 2013. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terpisah 3 ulangan, di mana petak utama adalah kondisi tanah (normal dan kekeringan) dan anak petak adalah 50 aksesi kacang hijau. Pada kondisi normal (N) tanah pada setiap petak selalu dalam keadaan cukup air hingga seminggu menjelang panen (disiram sesuai keperluan). Pada kondisi kekeringan (K) tanah tidak disiram semenjak umur 4 minggu setelah tanaman hingga panen. Setiap galur ditanam 2 tanaman per rumpun, pada jarak 40 cm × 20 cm dalam petakan 2 m × 3 m. Pengamatan dilakukan terhadap hasil biji dan karakter agronomi penting lainnya. Toleransi kekeringan dinilai berdasarkan persentase penurunan hasil pada kondisi kekeringan dibanding dengan kondisi normal. Untuk melihat keeratan hubungan antarkarakter agronomis dilakukan uji korelasi. Berdasarkan hasil evaluasi, diperoleh 11 aksesi plasma nutfah yang toleran, lima aksesi di antaranya tergolong paling toleran dengan penurunan hasil pada kondisi kekeringan lebih rendah dibanding dengan varietas toleran lainnya. Kelima varietas tersebut adalah Walet, Kenari, Merak, Sriti, dan Lokal Pameungpeuk. Korelasi antarkarakter agronomi (komponen hasil) dengan hasil biji plasma nutfah kacang hijau pada kondisi normal dan kekeringan relatif sama.
Suskandari Kartikaningrum, Dewi Pramanik, Minangsari Dewanti, Rudy Soehendi, M. Prama Yufdy
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 109-118; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p109-118

Abstract:Konservasi anggrek spesies alam merupakan langkah penting untuk menghindari kepunahan akibat rusaknya habitat alamnya. Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan tumbuh biji anggrek spesies alam pada media Vacin dan Went (VW) dan menentukan jenis anggrek spesies yang telah berhasil dikonservasi melalui biji. Anggrek spesies alam yang digunakan sebanyak 46 spesies yang berasal dari 18 genus anggrek, yakni Phalaenopsis, Dendrobium, Vanda, Ascocentrum, Paphiopedilum, Rhyncostilis, Neofinetia, Epidendrum, Arachnis, Dimorphosis, Phaius, Spathogottis, Trichoglottis, Arundina, Cymbidium, Renanthera, Armodorum, dan Gramathophylum. Polinasi bunga anggrek dilakukan dengan metode selfing maupun sibling. Buah dipanen saat warna buah berubah menjadi kuning kehijauan dan/atau tekstur buah menjadi lebih lunak. Selanjutnya, sebelum kultur biji, buah disterilkan dan biji disebar pada media VW. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa buah anggrek hasil polinasi mengalami kemasakan antara 34-280 hari setelah polinasi. Biji hasil selfing dari 41 anggrek spesies (dari 46) dapat berkecambah pada media VW dengan umur berkecambah berkisar antara 10-69 hari setelah sebar. Sebanyak 19 anggrek spesies alam mampu membentuk protokorm di atas 70% dan semua protokorm mampu membentuk planlet. Selanjutnya, 19 spesies dapat diaklimatisasi dengan kisaran waktu antara 272-552 hari setelah terbentuk protokorm, Sebanyak 16 spesies belum dapat diaklimatisasi karena planlet yang masih kecil, sedang 6 spesies tidak tumbuh. Arundina graminifolia merupakan anggrek yang paling cepat membentuk protokorm dan Grammatophylum sp. merupakan anggrek yang paling lama membentuk protokorm. Biji Ascocentrum aurantiacum, Aerides odorata, Phalaenopsis luddemanniana, P. violacea, dan Cymbidium finlaysonianum tidak mampu membentuk protokorm. Dari penelitian ini diketahui bahwa media VW dapat digunakan untuk konservasi anggrek spesies alam melalui perbanyakan dengan menggunakan biji.
Hidayatul Arisah, Baiq Dina Mariana
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 69-80; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p69-80

Abstract:Mutasi sinar gamma dapat terjadi secara acak pada level alelik yang menghasilkan keragaman genetik baru. Mutasi pada jeruk menginduksi keragaman karakter secara kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pengaruh mutasi terhadap peningkatan keragaman karakter buah pada mutan tanaman jeruk lokal SoE. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Jawa Timur, tahun 2014. Pengamatan dilakukan secara deskriptif berdasarkan Internasional Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), pada karakter bobot buah, tinggi buah, diameter buah, ketebalan kulit, jumlah biji, jumlah juring, volume jus, warna kulit buah, warna jus, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh mutasi pada peningkatan keragaman karakter kualitatif relatif rendah; mutan hampir mirip dengan tanaman kontrol untuk karakter kualitatif. Perbedaan pada karakter kuantitatif, ditunjukkan dengan nilai koefisien keragaman 5,06-33,89%, nilai tertinggi pada karakter jumlah biji, sedangkan karakter jumlah juring memiliki nilai terendah. Terdapat tujuh aksesi yang yang menghasilkan buah dengan persentase buah seedless (jumlah biji ≤5) mencapai 90%. Mutasi induksi menyebabkan berkurangnya jumlah biji dan menurunnya ukuran ketebalan kulit buah dibanding dengan kontrol SoE. Berdasarkan analisis klaster, aksesi-aksesi mutan terseleksi mempunyai tingkat keragaman kecil dengan level kemiripan 76,40%.
R. Garsetiasih, N. M. Heriyanto
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 127-136; doi:10.21082/blpn.v23n2.2017.p127-136

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi areal hutan reklamasi bekas tambang batu bara di PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai habitat penangkaran rusa. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai April tahun 2015 berlokasi di PT KPC Kabupaten Sangata, Provinsi Kalimantan Timur. Pengumpulan data tumbuhan bawah dan biomasnya serta vegetasi pohon dilakukan dengan analisis vegetasi dengan petak contoh ukuran 1 m x 1 m untuk tumbuhan bawah dengan jarak antarplot 50 m, untuk vegetasi tingkat pohon ukuran plot 50 x 50 m, jarak antarplot 100 m. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kerapatan pohon pada tiga lokasi pengamatan berkisar antara 256 pohon per hektar sampai 416 pohon per hektar sedangkan perkiraan daya dukung untuk rusa berkisar antara 4 ekor per hektar sampai 19 ekor per hektar. Areal reklamasi bekas tambang batu bara di PT KPC memenuhi syarat sebagai habitat penangkaran rusa.
Fadjry Djufry, J. Limbongan, Neli Lade, Benyamin Saranga
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 127-136; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p127-136

Abstract:Tanaman tamarillo (Chypomandra betacea Sent.) merupakan tanaman dataran tinggi yang telah tumbuh dan berkembang di beberapa daerah di Indonesia termasuk di daerah Toraja. Namun buahyang memiliki rasa manis agak asam ini belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang bergizi tinggi. Penelitian bertujuanmelakukan karakterisasi tanaman tamarillo yang tumbuh di tiga daerah pengembangan. Data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan ini dapat digunakan sebagai informasi penting untuk mengetahui karakter tanaman sekaligus membedakan kultivar tamarillo yang ada di daerah tersebut. Penelitian menggunakan metode survey dan observasi langsung di lapangan mulai Maret –September 2014 di tiga daerah pengembangan yaitu di Kecamatan Sapan dan Kantun Poya di Kabupaten Toraja Utara, dan Kecamatan Sangalla di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi batang, daun, bunga, dan buah serta kandungan gizi buah. Data dianalisis dengan analisis statistik sederhana dan analisis kekerabatan menggunakan Program NTSys 2.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tamarillo Toraja memiliki batang tegak, bentuk bulat, tinggi 2-5 meter, daun hijau tua, tipe datar, permukaan licin, menghadap ke atas. Bunga keunguan, jumlah 10-12 buah per tandan, dengan lima buah benang sari. Tipe buah rata, bulat lonjong, mentah warna hijau bergaris dan pada saat matang berwarna merah kecoklatan, produksi 10-15 kg buah/pohon/tahun. Kandungan vitamin C 30 mg/100 g, kadar gula 2,6%, kandungan sari buah 85%, kandungan total asam 1,4%, jumlah padatan terlarut dalam juice sebesar 12,35%. Hasil analisis kekerabatan dengan menggunakan 45 karakter ciri, menunjukkan bahwa kultivar Sangalla dan Kantun Poya, demikian juga kultivar Sapan dan Sangalla memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat. Sedangkan kultivar Sapan dan kultivar Kantun Poya memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dengan sifat genetik yang berbeda
Mariana Takandjandji, Reny Sawitri
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 149-160; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p149-160

Abstract:Trenggiling jawa (Manis javanica Desmarest, 1822) tersebar di pulau-pulau besar seperti Pulau Kalimantan, Sumatera dan Jawa serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebagai salah satu satwa yang dilindungi dengan status endangered, satwa ini mengalami tekanan karena bernilai ekonomi tinggi, sehingga dilakukan kajian pengukuran morfometrik dan meristik untuk memudahkan identifikasi kelas umur dan asal usul trenggiling jawa hasil sitaan dalam penangkapan dan perdagangan illegal yang saat ini sedang marak. Pengukuran morfometrik meliputi panjang badan, panjang ekor, panjang kepala, panjang kaki depan dan belakang, panjang telapak kaki, lingkar kepala, lingkar badan, lingkar ekor, dan bobot badan. Sedangkan pengukuran meristik meliputi jumlah jari, panjang cakar, sisik (warna, jumlah, bobot). Trenggiling jawa jantan dibandingkan betina umumnya memiliki ukuran tubuh lebih besar dan lebih panjang. Menurut asal-usulnya, jenis satwa yang berasal dari P. Kalimantan memiliki badan paling besar dengan sisik berwarna kehitam-hitaman
Kiagus A. Kodir, Yuana Juwita, Triyandar Arif
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 101-108; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p101-108

Abstract:Inventarisasi sumber daya genetic (SDG) padi lokal lahan rawa di Sumatera Selatan telah dilakukan dalam kurun waktu tahun 2013-2015. Kegiatan inventarisasi dilakukan pada dua agroekosistem lahan padi di Sumatera Selatan, yaitu lahan rawa lebak (di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir) dan lahan rawa pasang surut (di Kabupaten Banyuasin). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan desk study. Karakterisasi morfo-agronomis juga telah dilakukan baik secara in-situ maupun ex-situ. Hasil pengamatan karakteristik morfologis dianalisis secara deskriptif. Sebanyak total 115 jenis aksesi lahan rawa telah berhasil diinventarisasi dengan sebaran 67 asksesi dari lahan rawa lebak dan 48 aksesi di lahan pasang surut. Dari hasil karakterisasi morfo-agronomis diketahui bahwa terdapat keragaman yang tinggi pada aksesi-aksesi padi lokal lahan rawa yang dikoleksi dari lokasi yang berbeda.
Mamik Setyowati, Nfn Minantyorini
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 119-126; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p119-126

Abstract:Perakitan varietas unggul talas ditentukan oleh ketersediaan plasma nutfah sebagai sumber gen yang akan digunakan dalam program pemuliaan tanaman talas. Koleksi plasma nutfah talas yang telah ada perlu dimanfaatkan. Untuk memanfaatkan plasma nutfah perlu diketahui karakteristik adaptabilitas yang dimiliki oleh plasma nutfah. Plasma nutfah tanaman talas sebanyak 149 aksesi telah ditanam di Kebun Percobaan Pacet, Jawa Barat pada tahun 2008-2013. Analisis data bobot umbi dilakukan untuk mengetahui tingkat adaptabilitas bobot umbi terhadap indek lingkungan melalui analisis regresi. Hasil evaluasi bobot umbi plasma nutfah talas pada lingkungan yang memiliki variasi relatif kecil umumnya tidak mengalami perubahan hasil. Aksesi yang memiliki adaptabilitas negatif terhadap perubahan kesuburan lahan, semakin subur lingkungan semakin rendah bobot umbinya adalah varietas Ungu/Ketan dan varietas Kimpul. Aksesi talas yang memiliki respon negatif dapat dikembangkan atau bahan pemuliann talas untuk lahan kurang subur. Aksesi yang memiliki adaptabilitas positif, semakin subur lahan semakin tinggi bobot umbinya terdapat 12 aksesi. Dua aksesi yang mengindikasikan lebih peka terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan aksesi yang lain adalah varietas Karangasem dan varietas Talas Sutera.
Page of 19
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search