Journal Jurnal Agro Ekonomi

-
257 articles
Page of 26
Articles per Page
by
R. Marsuki Iswandi, La Baco, Lukman Yunus, La Ode Alwi
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 67-75; doi:10.21082/jae.v35n1.2017.67-75

Abstract:EnglishGold mining have positive contribution to the regional economic growth, but cause negative impacts to farmers in the mining ring area. The purpose of this study is to evaluate financial feasibility of farming and to identify the best farming practices within a gold mining ring area in Bombana District of Southeast Sulawesi Province. Data were collected through personal interviews with farmers and focused group discussion using the word cafe format. The respondents consist of purposively selected 90 farmers and 37 resource persons representing stakeholders. Financial feasibility was analyzed using the B/C ratio and the farming best practices were selected using the Multi Criteria Decision Making (MCDM) analysis through the Preference Ranking Organization for Enrichment Evaluation (PROMETHEE). The study shows that there are three types of land in the mining ring area, namely, land that is not mined, land that has not been mined, and land that has been mined. All crops cultivated by farmers are financially feasible. The PROMETHEE analysis shows that the non-mined land should be developed for plantation crops, the land that has not been mined is best for food crop farmings; and the mined land is best utilized for forestry crops.IndonesianPertambangan emas dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah, namun juga berdampak negatif terhadap petani di wilayah lingkar tambang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial usaha tani dan mengidentifikasi usaha tani apakah yang sebaiknya dilakukan di wilayah lingkar tambang emas. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Lingkar Tambang Emas Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan petani wakil usaha tani setiap tanaman dan focused group discussion dengan format word cafe. Responden terdiri dari 90 orang masyarakat petani yang dipilih secara sengaja dan 37 orang narasumber wakil pemangku kepentingan. Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan metode rasio penerimaan terhadap biaya, sedangkan pemilihan alternatif usaha tani dilakukan dengan analisis Multi Criteria Decision Making (MCDM) melalui Preference Ranking Organization for Enrichment Evaluation (PROMETHEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam wilayah lingkar tambang terdapat tiga jenis lahan, yakni lahan yang tidak ditambang, lahan yang belum ditambang, dan lahan yang sudah ditambang. Semua jenis tanaman yang diusahakan petani layak diusahakan secara finansial. Hasil analisis PROMETHEE mendapatkan bahwa lahan yang tidak ditambang sebaiknya dikembangkan usaha tani tanaman perkebunan; lahan yang belum ditambang pilihan utamanya untuk usaha tani tanaman pangan; dan lahan yang sudah ditambang sebaiknya dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman kehutanan.
Zednita Azriani, Cindy Paloma, Yusri Usman
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 1-10; doi:10.21082/jae.v35n1.2017.1-10

Abstract:IndonesianLembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan salah satu alternatif pembiayaan bagi. Pemetaan LKM sangat penting untuk menghindari terjadinya tumpang tindih program yang membantu peran LKM. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan terhadap LKM di Kota Padang dengan GIS dan mendeskripsikan efektivitas pengelolaan LKM di Kota Padang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan setiap institusi LKM dan pihak terkait. Penelitian menghasilkan suatu situs web yang berhubungan dengan LKM di Kota Padang, sehingga hasil dan gambaran pemetaan LKM dapat dilihat di “lkmsumbar.org”. Lokasi LKM menyebar di sekitar pemukiman nasabah. Manajemen LKM ditinjau dari segi aksesibilitas, ketaatan terhadap peraturan, tingkat kepatuhan terhadap manajemen, tingkat pelayanan, alokasi penggunaan dana kredit, serta manfaat dana kredit. Hasilnya menunjukkan bahwa akses petani terhadap LKM agribisnis cukup baik, sebagaimana dapat dilihat dari kesesuaian antara jumlah kredit yang diajukan dan disetujui. Tingkat kepatuhan anggota terhadap pengurus dan peraturannya cukup bagus. Tingkat layanan pengurus dianggap tidak baik dan tidak efektif dalam meladeni anggota. Dana pinjaman lebih banyak digunakan oleh anggota untuk menambah modal dan sebagian mungkin digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak rumah tangga.EnglishMicrofinance institutions (MFIs) are financing alternatives for farmers. Mapping MFIs is useful to avoid overlapping of the MFIs supporting programs. This study aims to mapping MFIs in Padang City with GIS, and to describe the management effectiveness. Data were collected using in-depth interviews with each micro-credit institution and their related parties. This research produces a website of the MFI mapping as can be seen on “lkmsumbar.org”. The MFIs locations spread around the settlement of the MFI’s clients. The effectiveness of MFI's management is viewed in terms of the member accessibility, level of adherence to the rule of law, level of compliance to the management, management service level, allocation of the use of credit funds, and the benefits of credit funds. The results show that farmers' access to the agribusiness MFI-As is quite good, which can be seen from the consistency between the amount of credit proposed and approved. The members’ compliance to the board and the rules is quite good. The service level of the board is not good and not effective in serving the members. The loan is mostly used for business capital and some may be used for funding household urgent needs.
Fadilla Ristya Aminda, Bonar Marulitua Sinaga, Anna Fariyanti
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 127-150; doi:10.21082/jae.v35n2.2017.127-150

Abstract:EnglishCentral Java Province is one of sugarcane producing centers in Indonesia and Pati is one of sugarcane producing regencies in the province. A total of 5,905 households in Pati regency conduct sugarcane farming as their primary income source. However, sugarcane farmers deal withlimited capital to adopt productivity improving technologies. This study aimed to analyze factors influencing economic decisions of sugarcane farmers in allocating working hours, production, and household’s expenditure, as well as to analyze the impact of changes in input prices, output price, credit, and sugar level on sugarcane farmer household’s welfare in Central Java. Simultaneous equation models consisting of 21 structural equations and 22 identity equations were estimated using Two-Stage Least Squares (2SLS) method. The results showed that an increase in credit, sugar price, and sugar level could compensate increases in fertilizer price and labor wage and had positive impact on farmers’ welfare. Increases in fertilizer price and labor wage could be compensated through credit, sugar price, and sugar level enhancement. It is necessary that the Government increases sugar price and ensures farmers’ access to credit. It aims to encourage farmers to adopt technology through replanting (ratoon replacement) to improve sugarcane productivity and farmers’ welfare.IndonesianJawa Tengah merupakan salah satu sentra produksi tebu di Indonesia. Salah satu kabupaten sentra produksi tebu di Jawa Tengah adalah Pati. Sebanyak 5.905 rumah tangga petani tebu di Kabupaten Pati memiliki usaha tani tebu sebagai sumber pendapatan utama. Rumah tangga petani tebu dihadapkan pada masalah keterbatasan modal sehingga kemampuan adopsi teknologi rendah dan budi daya tidak optimal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya produktivitas dan pendapatan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan ekonomi rumah tangga petani tebu dalam alokasi curahan kerja, produksi, dan pengeluaran rumah tangga, serta dampak perubahan harga input, harga ouptut, kredit, dan rendemen terhadap kesejahteraan rumah tangga petani tebu. Penelitian menggunakan data cross section dengan jumlah sampel sebanyak 56 rumah tangga petani tebu. Model ekonomi rumah tangga petani dibangun sebagai sistem persamaan simultan yang terdiri dari 21 persamaan struktural dan 22 persamaan identitas, lalu diestimasi menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan harga gula, jumlah kredit, dan rendemen gula berdampak positif terhadap kesejahteraan rumah tangga petani. Peningkatan harga pupuk dan upah tenaga kerja luar keluarga mampu dikompensasi dengan peningkatan jumlah kredit, harga gula, dan rendemen gula. Pemerintah sebaiknya meningkatkan harga patokan petani dan juga memperbesar jumlah kredit yang dapat diakses petani untuk mendorong adopsi teknologi dengan melakukan peremajaan tanaman (bongkar ratoon) yang...
Julia Forcina Sinuraya, Bonar Marulitua Sinaga, Rina Oktaviani, Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 11-31; doi:10.21082/jae.v35n1.2017.11-31

Abstract:EnglishThe government of Indonesia is currently promoting development of cocoa processing industries to increase the cocoa added value. The key policy is application of export tax and import tariff for cocoa beans that may cause a number of consequences for the farmers, exporters, and industries. The aim of this research is to analyze impacts of the export tax and import tariff policy on cocoa producers and consumers welfare, and to formulate better policy mix for improving the welfare of cocoa producers and consumer in Indonesia. This research used a simultaneous equation econometric model consisted of 20 structural equations and 9 identity equations that have been estimated using the 2SLS (Two-Staged Least Squares) method using data series of 1989–2014. The results show that the policy of abolishing the cocoa beans export tax increases the producer's welfare but decreases consumers' welfare and total government revenue. Reverse results are obtained if the applied export tax was more than 7%. Import tariff policy of cocoa beans that less than 20% has small impacts on welfare of producers and consumers, but it increases the total government revenue.IndonesianPemerintah Indonesia sedang berupaya meningkatkan nilai tambah kakao dengan mendorong berkembangnya industri pengolahan kakao. Dua kebijakan kunci ialah pengenaan pajak ekspor dan tariff impor yang diperkirakan dapat berdampak nyata bagi petani, eksportir, maupun industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pajak ekspor dan tarif impor terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen kakao serta merumuskan kebijakan untuk perbaikan kesejahteraan produsen dan konsumen kakao di Indonesia. Penelitian menggunakan suatu model ekonometrik persamaan simultan terdiri dari 20 persamaan struktural dan 9 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode 2SLS (Two Stage Least Squares) menggunakan data series tahunan 1989–2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan penghapusan pajak ekspor biji kakao berdampak meningkatkan kesejahteraan produsen tetapi menurunkan kesejahteraan konsumen dan total penerimaan pemerintah. Kondisi sebaliknya terjadi apabila dilakukan penerapan pajak ekspor di atas 7%. Kebijakan tarif impor biji kakao di bawah 20% memberikan dampak perubahan yang relatif kecil terhadap kesejahteraan produsen maupun konsumen akan tetapi menambah total penerimaan pemerintah.
Nfn Suharjon, Sri Marwanti, Heru Irianto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 49-65; doi:10.21082/jae.v35n1.2017.49-65

Abstract:EnglishPromoting agricultural sector is important for improving Indonesia economic performance. The objectives of the research are to determine the effects of levels and shocks of agricultural export, import, and investment on the growth (GDP) of the Indonesian agriculture sector. The research was conducted using quarterly time series data from 2000–2015. Vector Auto Regression analysis method was applied in this study. The causality analysis shows that the agricultural export, import, and investment levels do not significantly affect the agricultural GDP growth, but the agricultural GDP growth does significantly affect the level of agricultural export, import, and investment. The impulse response analysis shows that the investment response to GDP growth shocks is higher than that of export and import responses. The variance of decomposition analysis shows that the contribution of exports to agricultural GDP growth are larger than the contribution of imports and investments. This study concludes that the absolute value of the agricultural sector export, import, and investment do not affect the sector GDP growth rate, but the agricultural sector GDP growth rate affect the absolute value of the sector export, import, and investment in Indonesia.IndonesianMendorong pertumbuhan sektor pertanian Indonesia adalah penting untuk peningkatan kinerja perekonomian Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh besaran dan goncangan (shock) ekspor, impor, dan investasi sektor pertanian terhadap pertumbuhan (GDP) sektor pertanian Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data time series triwulanan dari tahun 2000–2015. Penelitian menggunakan metode analisis Vector Auto Regression (VAR). Hasil analisis kausalitas menunjukkan bahwa ekspor, impor, dan investasi pertanian tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan PDB sektor pertanian, namun pertumbuhan PDB sektor pertanian berpengaruh nyata terhadap ekspor, impor, dan investasi pertanian. Hasil analisis impulse response menunjukkan bahwa respons investasi terhadap goncangan pertumbuhan PDB lebih besar dibandingkan respons besaran ekspor dan impor, Analisis variance decomposition menunjukkan kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan PDB lebih besar dibandingkan dengan kontribusi impor dan investasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa besaran absolut ekspor, impor, dan investasi pertanian tidak berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan PDB sektor pertanian, namun pertumbuhan PDB sektor pertanian berpengaruh nyata terhadap besaran ekspor, impor, dan investasi pertanian di Indonesia.
Reni Kustiari
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 77-87; doi:10.21082/jae.v35n2.2017.77-87

Abstract:EnglishShallot is the main spice widely used in the Indonesian food cooking and servings that makes its demand continues increasing although its price highly fluctuates. This study is intended to analyze price behavior and shallot market integration in Indonesia. This study uses monthly producer and consumer prices data for 2011-2016. The price fluctuation was analyzed with the coefficient of variation. The market integration was analyzed with Johansen's cointegration approach using the Vector Error Correction Model (VECM). The study shows that both producer and consumer prices fluctuations increase after the introduction of Horticultural Product Import Recommendation policy. The Engle-Granger causality test shows that there is no causal relationship between the consumer and producer price of the shallot in Indonesia. The market power and market failure are attributed to the absence of causality. The results of forecast errors variance decomposition analysis indicate that the market in Central Java is the dominant market and can be used as a reference market in predicting the dynamics of consumers’ shallot price in Indonesia. Managing shallot production level and amount of shallot supplies in the Central Java markets is the keys for ensuring shallot price stability at national level.IndonesianBawang merah merupakan bumbu masak yang utama bagi masyarakat Indonesia sehingga permintaan bawang merah meningkat terus, walaupun harganya berfluktuasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perilaku harga dan integrasi pasar bawang merah di Indonesia. Studi ini menggunakan data harga produsen dan harga konsumen bulanan tahun 2011–2016. Fluktuasi harga dianalisis dengan koefisien variasi. Integrasi pasar bawang merah dianalisis dengan pendekatan kointegrasi Johansen menggunakan Vector Error Correction Model (VECM). Penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi harga produsen dan harga konsumen meningkat sesudah kebijakan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura diberlakukan. Uji kausalitas Engle-Granger menunjukkan bahwa antara harga konsumen dan harga produsen bawang merah di Indonesia tidak terdapat hubungan kausalitas. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya market power dan terjadinya kegagalan pasar. Analisis dekomposisi varian kesalahan menunjukkan bahwa pasar Jawa Tengah adalah pasar dominan dan dapat menjadi acuan memprakirakan dinamika harga konsumen bawang merah di Indonesia. Pengelolaan tingkat produksi dan jumlah pasokan bawang merah di pasar Jawa Tengah termasuk sebagai kunci dalam menjaga stabilitas harga bawang merah secara nasional.
Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 105-126; doi:10.21082/jae.v35n2.2017.105-126

Abstract:EnglishEmpirical evidence indicates that diversification does not always increase income level. It depends on the reasons or motivation for diversification. Economic and social problems arise if diversification is based on resource constraints. This study aims to analyze the level, direction, and determinants of income diversification of rural households. The study used micro panel data of rural households in some provinces in Indonesia. Diversification level was measured using an entropy index. The results show that agricultural sector remains the dominant income source for rural households in all agroecosystems. Diversification indices increase in all agro- ecosystems. Dry-land plantation agroecosystem has the smallest diversification index, while the highest is found in wetland followed by dry-land crop and vegetable agroecosystems. Income diversification level is influenced by household head’s age and educational level, number of working female and male household members, land occupation, household asset value. To increase income source diversification, it is necessary to improve farmers' resource capacity through education and skill enhancement, access to land utilization, capital and other productive assets as well as better quality and access to basic services and economic infrastructures.IndonesianFakta empiris menunjukkan bahwa diversifikasi tidak selalu meningkatkan pendapatan, tergantung pada latar belakang atau motif berdiversifikasi. Permasalahan ekonomi dan sosial timbul jika diversifikasi didasarkan pada keterbatasan sumber daya (push factor). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat dan arah perubahan diversifikasi, keterkaitan antara diversifikasi dan pendapatan, serta faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi sumber pendapatan rumah tangga. Penelitian menggunakan data panel mikro rumah tangga perdesaan di beberapa provinsi di Indonesia. Tingkat diversifikasi dianalisis menggunakan indeks entropi, sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi menggunakan model linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan sektor pertanian masih tetap sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga di semua agroekosistem. Peningkatan diversifikasi terjadi di semua agroekosistem. Agroekosistem kebun memiliki indeks diversifikasi terkecil; terbesar pada agroekosistem sawah, diikuti dengan lahan kering palawija dan sayuran. Pola diversifikasi mengarah ke spesialisasi pertanian maupun berdiversifikasi ke nonpertanian. Faktor internal rumah tangga petani yang memengaruhi tingkat diversifikasi, di antaranya umur kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga, jumlah anggota rumah tangga bekerja wanita, jumlah anggota rumah tangga bekerja pria, luas garapan, dan nilai aset rumah tangga. Untuk meningkatkan diversifikasi sumber pendapatan yang berorientasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga, diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya petani melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan, perbaikan akses penguasaan lahan,...
Reni Kustiari, Nfn Hermanto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 33-48; doi:10.21082/jae.v35n1.2017.33-48

Abstract:IndonesianIndia merupakan salah satu negara mitra utama Indonesia dalam perdagangan pertanian. Indonesia dan India kini sedang berunding tentang kerja sama perdagangan bebas bilateral (FTA). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dampak FTA Indonesia-India terhadap sektor pertanian dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Penelitian menggunakan model Global Trade Analysis Project yang dikaitkan dengan model keseimbangan umum (CGE) Indonesia the Enormous Regional model menggunakan Tabel Input-Output 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi FTA Indonesia-India dapat meningkatkan kesejahteraan kedua negara. Kenaikan kesejahteraan (PDB) India lebih besar dari pada Indonesia. Sebaliknya, surplus neraca perdagangan Indonesia lebih besar daripada India. Di sisi regional, PDB Sumatera dan Kalimantan meningkat, sedangkan PDB riil Sulawesi, Bali-NT, dan Papua-Maluku menurun. Dampak terhadap output tampak bervariasi antar sektor dan daerah. Ekspor sayuran dan buah, serta minyak nabati dan lemak menunjukkan peningkatan. Impor Indonesia untuk beberapa komoditas akan mengalami peningkatan dengan persentase yang berbeda. Tingkat kemiskinan di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali-Nusa Tenggara diperkirakan akan menurun. FTA Indonesia-India layak untuk diwujudkan.EnglishIndia is one of the Indonesia's most important partners in agricultural trade. Indonesia and India are now negotiating bilateral free trade cooperation (FTA). This study aims to evaluate potential impacts of the Indonesia-India FTA on agricultural sector and the Indonesian economy as a whole. The study uses a Global Trade Analysis Project model that is associated with the regional Computable General Equilibrium (CGE) Indonesia the Enormous Regional model using the Indonesia Input-Output Table 2005. The results show that the implementation of the Indonesia-India FTA could improve welfare of both countries. The increase in welfare of India is higher than that of Indonesia. In contrast, Indonesia's trade balance surplus is larger than that of India. On regional side, real GDP of Sumatra and Kalimantan is predicted to increase, while real GDP of Sulawesi, Bali-NT, and Papua-Maluku to decrease. The output impacts vary across sectors and regions. Exports of vegetables and fruits, as well as vegetable oils and fats, are expected to increase. Indonesia's import for some commodities increase with different percentages. Poverty rates in Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, and Bali-Nusa Tenggara regions are expected to decline. FTA Indonesia-India is feasible to be realized.
Agung Prasetyo, Sri Marwanti, Nfn Darsono
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 89-103; doi:10.21082/jae.v35n2.2017.89-103

Abstract:EnglishThe average growth rate of Indonesia’s CPO exports was 11.94% per year, far below those of Thailand, Malaysia, and Colombia with growth rates of 59.55%, 25.19%, and 20.35% per year respectively in the 2001–2015 period. That condition was worsened by higher tax enforcement on Indonesian CPO in EU countries in 2012 causing Indonesia shifted its exports to India, China, and Pakistan. This study aims to analyze comparative advantage of Indonesian CPO compared to Malaysia, Thailand, and Colombia using the Revealed Comparative Advantage (RCA) analysis. The study also analyzes Indonesia’s CPO export performance in the world markets, especially in India, China, Pakistan, and Netherlands compared to other CPO producers using the Constant Market Share (CMS) approach. RCA analysis showed that Indonesia, Malaysia, Colombia, and Thailand had comparative advantage on CPO. Thailand had the highest RCA index followed by Malaysia, Colombia, and Indonesia. CMS analysis indicated that Indonesia’s CPO export performance was poorer than Malaysia in terms of growth rate, market distribution, and competitiveness, but was better in product composition. Increasing comparative advantage requires synergic policies which include establishing preferential trade agreement, constructing CPO stocking terminals in major importing countries, improving distribution and increasing market penetration.IndonesianRata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia tahun 2001–2015 adalah 11,94% per tahun, jauh di bawah Thailand, Malaysia, dan Kolombia yang tumbuh masing-masing sebesar 59,55%, 25,19%, dan 20,35% per tahun. Kondisi ini diperburuk dengan pemberlakuan pajak tinggi atas CPO Indonesia di Uni Eropa pada tahun 2012 sehingga mendorong Indonesia mengalihkan fokus ekspor CPO ke India, China, dan Pakistan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keunggulan komparatif CPO Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Kolombia dengan menggunakan analisis Revealed Comparatif Advantage (RCA) dan mengetahui kinerja ekspor CPO Indonesia di pasar dunia terutama di India, China, Pakistan, dan Belanda dibandingkan produsen CPO lainnya dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS). Analisis RCA menunjukan bahwa Indonesia, Malaysia, Kolombia, dan Thailand sama-sama memiliki keunggulan komparatif pada CPO. Thailand memiliki nilai indeks RCA tertinggi diikuti oleh Malaysia, Kolombia, dan Indonesia. Berdasarkan analisis CMS, kinerja ekspor CPO Indonesia lebih rendah dibandingkan Malaysia dalam aspek pertumbuhan, distribusi pasar, dan daya saing; tetapi lebih baik dalam aspek komposisi produk. Peningkatkan keunggulan komparatif CPO memerlukan kebijakan ekspor sinergis antara lain dengan mengadakan kesepakatan perdagangan preferensial, membangun fasilitas penampungan CPO di negara-negara importir utama, memperbaiki distribusi, dan meningkatkan penetrasi pasar.
Cut Rabiatul Adawiyah, Nfn Sumardjo, Eko S. Mulyani
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 35, pp 151-170; doi:10.21082/jae.v35n2.2017.151-170

Abstract:EnglishThe government commits to achieve food sovereignty and self-sufficiency, especially those of rice, corn, and soybean (Pajale) in 2017, 2018, and 2019, respectively. One of the problems is low speed of technological innovation adoption at farm level because of extension workers and farmer group’s communication is not dynamic. This study aims to analyze factors influencing technological innovation adoption of the Rice, Corn and Soybean Special Effort (Upsus Pajale) activities and roles of farmer group communication on technology adoption in Upsus Pajale activities. The research was conducted in Malang Regency, East Java Province. Primary data were collected using questionnaires from 90 respondents. Qualitative data were collected through in-depth interviews with key informants and direct observation. Primary data were analyzed using descriptive statistics and a logistic regression model. The results showed that factors influencing technological innovation adoption in Upsus Pajale activities in Malang Regency were farmers’age, nonformal education, land holding size, mass media, farmers’ assistants, and the farmer group communication. Factors influencing the roles of farmer group communication were farmers’age, the size of controlled arable land, cosmopolity level, non-formal education, mass media, and farmers’ companion.IndonesianPemerintah saat ini telah berkomitmen untuk mewujudkan kedaulatan pangan serta swasembada pangan, terutama komoditas padi, jagung, dan kedelai (Pajale) yang ditargetkan terwujud berturut-turut pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Salah satu permasalahannya adalah kecepatan adopsi inovasi teknologi di tingkat petani masih rendah karena peran komunikasi penyuluh dan kelompok tani masih belum dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap adopsi inovasi teknologi pada kegiatan upaya khusus (Upsus) Pajale dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peran komunikasi kelompok tani terhadap adopsi inovasi teknologi dalam kegiatan Upsus Pajale. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 90 orang dan didukung oleh data kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan kunci dan observasi langsung. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensia regresi model logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi adopsi inovasi teknologi pada kegiatan Upsus Pajale di Kabupaten Malang adalah umur petani, pendidikan nonformal, luas lahan yang dikuasai, peran media informasi, peran pendamping, dan peran komunikasi kelompok tani. Faktor-faktor yang memengaruhi peran komunikasi kelompok tani adalah umur petani, luas lahan yang dikuasai, tingkat kekosmopolitan, pendidikan nonformal, peran media informasi, dan peran pendamping petani.
Page of 26
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search