Journal Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika

-
94 articles
Page of 10
Articles per Page
by
Syifa Nurazizah, Parlindungan Sinaga, Agus Jauhari
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 197-202; doi:10.21009/1.03211

Abstract:This study aims to determine the profile of cognitive ability. The research method used descriptive quantitative. The research subjects are 50 eleventh graders from two high schools in Bandung. The research instrument used multiple choice questions with five options to measure cognitive ability and essay questions for 4 of 5 critical thinking skill’s indicators by Ennis's. This study use descriptive analysis techniques based on the percentage of cognitive abilities and critical thinking skill. The results showed on cognitive ability, 62,00% of students are able in C1 cognitive domain; 31,30% are able in cognitive domain C2; 21,30% are able in C3 cognitive domain; 25,00% are able in C4 cognitive domain; And on critical thinking skill, that is; 28,00% of students are able to identifying stated reasons; 10,67% are able to agreement among sources; 11,33% are able to interring explanatory conclussions and hypotheses; And 6,00% are able to select criteria to judge possible solutions. The implication is, student’s cognitive ability and critical thinking skill are still low so there must be an effort to improve them through learning innovations. Keywords: cognitive ability, critical thinking skill, work and energy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa SMA pada materi usaha dan energi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian sebanyak 50 siswa kelas XI dari dua Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung. Instrumen penelitian menggunakan soal pilihan ganda dengan lima option untuk mengukur kemampuan kognitif dan soal uraian untuk mengukur 4 dari 5 indikator keterampilan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif berdasarkan persentase kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kemampuan kogitif, 62,00% siswa mampu dalam ranah kognitif C1; 31,30% siswa mampu dalam ranah kognitif C2; 21,30% siswa mampu dalam ranah kognitif C3; 25,00% siswa mampu dalam ranah kognitif C4; dan pada keterampilan berpikir kritis siswa yaitu, 28,00% siswa mampu dalam indikator mengidentifikasi alasan yang dinyatakan; 10,67% siswa mampu dalam indikator persetujuan di antara sumber; 11,33% siswa mampu dalam indikator menyimpulkan penjelasan, kesimpulan, dan hipotesis; serta 6,00% siswa mampu dalam indikator memilih kriteria untuk mempertimbangkan solusi yang mungkin. Implikasinya, kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kritis siswa masih tergolong rendah, sehingga harus ada upaya untuk meningkatkannya melalui inovasi-inovasi pembelajaran. Kata kunci: kemampuan kognitif, keterampilan berpikir kritis, usaha dan energi
Duden Saepuzaman, Yustiandi Yustiandi
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 145-150; doi:10.21009/1.03204

Abstract:This research is motivated because it found students' difficulties when experimenting to determine the magnitude of restitution coefficient. First, the determination of the initial height, the height of the second reflection and so on is not appropriate because it must observe something in a very short time. Second, the initial high determination is too high. Third, the object is oversize. Allegedly, existing worksheets do not facilitate students to experiment properly. This study aims to improve the experimental worksheet and redesign the experimental tool, so students will more easily understand how to experiment properly. This research is a classroom action research. Students' experimental abilities were obtained by comparing the answers of student worksheets before reconstruction and student answers after reconstruction. The results show that reconstructed worksheets can improve students' ability to experiment. Keywords: Redesigning the appartures, Worksheets, Restitution Coefficients, Experimenting Skills. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi karena ditemukan kesulitan siswa ketika melakukan percobaan untuk menentukan nilai koefisien restitusi. Pertama, penentuan tinggi awal, tinggi pantulan ke dua dan seterusnya tidak tepat karena harus mengamati sesuatu dalam waktu yang sangat singkat. Kedua, Penentuan tinggi awal yang terlalu tinggi. Ketiga, ukuran benda yang terlalu besar. Diduga kuat, lembar kerja yang ada kurang memfasilitasi siswa untuk melakukan percobaan dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki lembar kerja percobaan dan mendesain ulang alat percobaan, sehingga siswa akan lebih mudah memahami cara melakukan percobaan dengan benar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Kemampuan siswa bereksperimen diperoleh dengan cara membandingkan jawaban lembar kerja siswa sebelum direkonstruksi dan jawaban siswa setelah direkonstruksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja yang telah direkonstruksi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bereksperimen. Kata-kata Kunci: Pengembangan Alat Peraga dan Lembar Kerja Percobaan, Koefisien Restitusi, kemampuan bereksperimen.
Syarif Rokhmat Hidayat, Anggi Hanif Setyadin, Hermawan Hermawan, Ida Kaniawati, Endi Suhendi, Parsaoran Siahaan, Achmad Samsudin
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 157-166; doi:10.21009/1.03206

Abstract:Problem-solving is one of the fundamental skills in the 21st century. Students’ problem-solving skill is defined as students’ abilities to use their knowledge to solve the daily life problems. This study main goal is to develop a test instrument of junior high school students’ problem-solving skills on oscillation, wave, and sound concepts. The test items are arranged based on problem-solving skills indicator that proposed by Doctor and Heler (2009), there are problems visualization/description, physics approach, mathematic procedure, and logically conclusion. This study used 4D (define, design, develop, and disseminate) model of research and development method. Fifteen test sets are designed based on five problem-solving skill indicators that grouped to each oscillation, wave, and sound sub concept. The result of instrument development shows all test items are valid through Pearson moment correlation coefficient test. Alpha Cronbach test the instrument shows the instrument reliability is 0.88 with the criteria of reliability is high. Based on expert judgment and data collections, the test instruments were well developed and could be used to measure students’ problem-solving skills on oscillation, wave, and sound wave concepts. Keywords: problem solving skills; problem solving skills instrument; oscillation, wave, and sound concept. Abstrak Pemecahan masalah adalah salah satu keterampilan yang penting di abad ke-21. Keterampilan pemecahan masalah siswa adalah kemampuan siswa menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen tes untuk mengukur keterampilan pemecahan masalah pada siswa SMP terkait materi getaran, gelombang, dan bunyi. Instrumen tes disusun berdasarkan indikator keterampilan pemecahan masalah yang dikembangkan oleh Doctor dan Heler (2009) yaitu visualisasi/deskripsi masalah, pendekatan fisika, prosedur matematika, dan kesimpulan logis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan model 4D (define, design, develop, and disseminate). Sebanyak lima belas soal dibuat berdasarkan lima indikator keterampilan pemecahan masalah yang dikelompokkan menjadi tiga pokok soal materi getaran, gelombang, dan bunyi. Hasil pengembangan menunjukkan keseluruhan item tes bersifat valid dengan menggunakan uji koefisien korelasi momen Pearson. Uji alpha cronbach pada instrumen tes menunjukkan bahwa tingkat reliabel instrumen tes adalah 0,88 dengan kriteria reliabel tinggi. Berdasarkan hasil penilaian ahli dan uji coba pada beberapa sampel, instrumen tes yang telah dikembangkan dapat digunakan untuk mengukur keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi getaran, gelombang, dan bunyi. Kata-kata Kunci: keterampilan pemecahan masalah; instrumen tes keterampilan pemecahan masalah; materi getaran, gelombang, dan bunyi.
Muhamad Gina Nugraha, Kartika Hajar Kirana, Setiya Utari, Nia Kurniasih, Nurdini Nurdini, Fitri Nurul Sholihat
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 137-144; doi:10.21009/1.03203

Abstract:As one of the foundations in the development of technology, physics must be supported by experimental activities that are able to develop a scientist's skills, such as scientific reasoning skills. Experiments with cookbook methods that have been conducted in various experimental activities are considered not able to maximize the potential of students because it does not provide wide opportunities for students to explore. One of the solutions to develop the scientific reasoning skills of physics students is the problem solving-based experiment approach. The research was conducted by one group pretest-posstest design to 20 physics students as research sample. The research instrument used is the scientific reasoning instrument test developed by Lawson which is known as Lawson Classroom Test of Scientific Reasoning (LCTSR) and student work sheet instrument (LKM) containing problems in daily life and questions about: tools and materials, prediction, exploration, measurement, analysis and conclusions. The results show all aspects of scientific reasoning being measured, i.e. 1) conservation of matter and volume, 2) proportional thinking, 3) identification and control of variables, 4) probabilistic thinking, 5) correlative thinking, and 6) hypothetic-deductive thinking has increased. Based on the result of research can be concluded that the problem solving-based experiment can improve the scientific reasoning skills of physics students. Keywords: Problem solving, experiment, scientific reasoning skills Abstrak Fisika sebagai salah satu pondasi ilmu dalam perkembangan teknologi harus didukung dengan kegiatan eksperimen yang mampu menumbuhkembangkan keterampilan seorang ilmuwan, diantaranya keterampilan penalaran ilmiah dalam menyikapi fenomena alam. Eksperimen dengan metode cookbook yang selama ini menjamur dalam berbagai kegiatan eksperimen dipandang tidak mampu memaksimalkan potensi mahasiswa karena tidak memberikan kesempatan yang luas kepada mahasiswa untuk bereksplorasi. Salah satu solusi yang dapat menumbuhkembangkan keterampilan penalaran ilmiah mahasiswa fisika dalam bereksperimen ialah pendekatan problem solving-based experiment. Penelitian dilakukan dengan desain one group pretes-postes design kepada 20 mahasiswa fisika sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan ialah instrumen tes penalaran ilmiah yang dikembangkan oleh Lawson yang dikenal dengan nama Lawson Classroom Test of Scientific Reasoning (LCTSR) dan instrumen lembar kerja mahasiswa (LKM) berisi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan pertanyaan arahan mengenai: alat dan bahan, prediksi, eksplorasi, pengukuran, analisis dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan semua aspek penalaran ilmiah yang diukur, yaitu 1) kemampuan konservasi materi dan volume, 2) berpikir proporsional, 3) identifikasi dan kontrol variabel, 4) berpikir probabilistik, 5) berpikir korelatif, dan 6) berpikir hipotetik-deduktif mengalami peningkatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa problem solving-based experiment mampu meningkatkan keterampilan penalaran ilmiah mahasiswa fisika. Kata-kata Kunci: problem solving, eksperimen, penalaran ilmiah
ADAM MALIK, Vita Oktaviani, Wahyuni Handayani, Muhammad Minan Chusni
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 127-136; doi:10.21009/1.03202

Abstract:This study aims to determine the implementation of learning using Process Oriented Guided Inquiry Learning model (POGIL) and the influence of application of POGIL learning model to the critical thinking skills of students. The method used in this research was pre-experimental design, with the one-group pretest-posttest design. The sample of this research was class X MIA E which amounted to 36 people selected by using simple random sampling technique. The results showing the average of all teacher activity of meetings was 88.88% and 87.04% for the students' activities were in the very good category. In addition, there was an increase in the critical thinking skills of students on the static fluid concept of 0.61 which was included in the medium category. Thus, POGIL learning model can be used as an alternative in improving students' critical thinking skills on the static fluid concept. Keywords: POGIL, critical thinking skills, static fluid Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) dan pengaruh penerapan model pembelajaran POGIL terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik. Metode dalam penelitian ini menggunakan pre-experimental design, dengan desain one-group pretest-posttest. Sampel penelitian ini yaitu kelas X MIA E yang berjumlah 36 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata seluruh pertemuan aktivitas guru sebesar 88,88% dan aktivitas peserta didik 87,04% yang termasuk pada kategori sangat baik. Selain itu, terdapat peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi fluida statis sebesar 0,61 yang termasuk pada kategori sedang. Dengan demikian, model pembelajaran POGIL dapat dijadikan sebagai alternatif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi fluida statis. Kata-kata Kunci: POGIL, keterampilan berpikir kritis, fluida statis
Nanang Triagung Edi Hermawan
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 191-196; doi:10.21009/1.03210

Abstract:Ionizing radiation, that exposed by radioactive material as part of the nuclear energy, has been used in some activities, such as in research and development, medical, and industries fields. The radioactive material utilization needs transportation supporting activities. Transport of radioactive material is a transfer of radioactive material from one place to another place through a public area, use inland, sea, or air transportation mode. Radioactive material is existent in public area when transportation is executing needs compliance with established radiation safety and security standards. By the reasons, it is needed comprehension and competency standards for each related stake holder on transport activities. A literature study on the development of training on the transport of radioactive material for each related stakeholder has been conducted. The competency standards should include knowledge, skills, and attitudes aspect. An identified competency standards should be expressed in to training subjects, includes introduction, radiation safety technical aspects, handling of radioactive material packaged in custom area, security technical aspect, procedures for escorting of dangerous goods, management system, emergency preparedness and response, administrative procedural, and practical session for handling of radioactive material packaged. For each training, subjects should be created detail basic competencies and working success indicators as a basic for developing of curricula, syllabus, teaching material and planning. Keywords: training, radioactive material, ionizing radiation, transportation Abstrak Radiasi pengion yang dipancarkan zat radioaktif sebagai bagian dari tenaga nuklir telah dimanfaatkan di berbagai bidang kegiatan, meliputi penelitian dan pengembangan, kesehatan, serta industri. Kegiatan penggunaan zat radioaktif memerlukan dukungan pengangkutan zatradioaktif. Pengangkutan zat radioaktif merupakan pemindahan zat radioaktif dari suatu tempat ketempat lain melalui jaringan lalu lintas umum, baik menggunakan angkutan darat, laut, maupun udara. Keberadaan zat radioaktif di area public pada saat berlangsungnya pengangkutan memerlukan pemenuhan persyaratan keselamatan radiasi dan keamanan sesuai standar yang berlaku. Dengan demikian dibutuhkan pemahaman dan standar kompetensi untuk setiap pemangku kepentingan terkait. Telah dilakukan kajian pustaka dalam rangka pengembangan silabus pelatihan pengangkutan zat radioaktif untuk pemangku kepentingan yang terkait. Standar kompetensi dimaksud harus mencakup aspek pengetahuan (knowledges), ketrampilan (skills), dan sikap (attitudes). Standar kompetensi yang teridentifikasi selanjutnya diwujudkan ke dalam mata pelatihan, meliputi pengantar materi, aspek teknis keselamatan radiasi, penanganan bungkusan zatradioaktif di kawasan kepabeanan, aspek teknis keamanan, prosedur pengawalan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun, sistem menajemen, kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan, tata laksana administratif, dan praktikum penanganan bungkusan zat radioaktif. Untuk setiap mata pelatihan harus dirumuskan rincian kompetensi dasar dan indikator keberhasilan kerja yang menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum, silabus, hingga bahan ajar dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Kata-kata Kunci: pelatihan, zat radioaktif, radiasi pengion, pengangkutan
Nurhayati Nurhayati, Lia Angraeni
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 119-126; doi:10.21009/1.03201

Abstract:This study aims to describe the ability of higher order thinking students in solving the problem of the concept of optics after given the learning with problem-based learning model. This research uses a descriptive method with quantitative approach. The subjects of the research are students of the second semester of physics education study program, amounting to 19 people. Data collection techniques used are two tier multiple choice shaped test consisting of eight questions include the level of analyzing, evaluating and creating. Based on the results of data analysis, it is known that the ability of high-level thinking of students in optical learning has enough categories with the following details: (1) The percentage of students who have excellent high-level thinking skills is 15.79%, good category of 31.58%, enough category of 42.11%, and category less than 10.53%; (2) The percentage of student ability in answer about level of analyze equal to 68.42%, student ability in answer about evaluation level 57.89% and equal to 53.51% for student ability in answer level question create. Keywords: higher order thinking, optics, problem-based learning model Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa (higher order thinking) dalam menyelesaikan soal konsep optika setelah diberikan pembelajaran dengan model problem based learning. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian yaitu mahasiswa semester II program studi pendidikan fisika yang berjumlah 19 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes berbentuk two tier multiple choice yang terdiri dari delapan soal meliputi tingkatan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa dalam pembelajaran optika memiliki kategori cukup dengan rincian sebagai berikut: (1) Persentase mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi kategori sangat baik adalah sebesar 15,79%, kategori baik sebesar 31,58%, kategori cukup sebesar 42,11%, dan kategori kurang sebesar 10,53%; (2) Persentase kemampuan mahasiswa dalam menjawab soal tingkatan menganalisis sebesar 68,42%, kemampuan mahasiswa dalam menjawab soal tingkatan mengevaluasi sebesar 57,89% dan sebesar 53,51% untuk kemampuan mahasiswa dalam menjawab soal tingkatan mencipta. Kata-kata Kunci: kemampuan berpikir tingkat tinggi, optika, model problem based learning
Fitri Nurul Sholihat, Achmad Samsudin, Muhamad Gina Nugraha
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 175-180; doi:10.21009/1.03208

Abstract:In Physics learning, misconception is often experienced by students, including on Dynamic Fluid materials namely Continuity Platform. This study aims to identify misconceptions that occur in the subject matter of the Continuity Platform and identify the concept's weakness as the cause of the misconception. The study was conducted on 37 students in one high school in Bandung with one shoot research method. The diagnosis of student misconceptions is done using a four-tier diagnostic test instrument which is the development of a three-tier test instrument by adding a confidence level to the third tier. The results of the diagnosis showed that students who experienced misconceptions of 28%, students who understand some 35%, students who understand the concept only 6%, students who do not understand the concept of 30% and students who cannot be coded 0%. Based on the results of the observation on the learning process and the analysis on the third and fourth tier answers, misconception that occurs is generally due to the student's inappropriate logic that students assume that the fluid has a large speed has a large fluid pressure, and fluid has a small speed has a small fluid pressure.
I Made Astra, Rifa Syarifatul Wahidah
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 181-190; doi:10.21009/1.03209

Abstract:This research aims to find out how much the effectiveness of using guided discovery learning model on temperature and heat material to improve students' science process skills. The research design used is Class Action Research which consists of three cycles. Each cycle consists of planning, action, observation, and reflection. The subject of this research is the students of class XI MIPA 2 SMA Labschool Jakarta who have a low level of science process skill. Aspects of science process skills studied are hypothetical skills, interpretation of data, and communicate the findings. This research the step of guided discovery learning is: stimulus, problem statement, data collection, processing data, verifikation, generalisation. The instrument used is the KPS observation sheet and students’ worksheet. The indicator of this research is 70% of students can formulate a hypothesis, interpret the data and communicate data correctly. The results showed in the first cycle that students science process skills reach 17%, cycle II 61%, and in cycle III 81%. The average in third cycle is hypothetical skill 90.28 (very good category), data interpretation 91,67 (very good category), and communication skill 79 (good category). Based on the result of research, it can be concluded that there is an improvement of students' science process skill by using guided discovery learning model on temperature and heat material. Keywords: science process skill, guided discovery learning, action research classroom Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan keterampilan proses sains peserta didik setelah diterapkan model guided discovery learning pada materi suhu dan kalor. Adapun desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA 2 SMA Labschool Jakarta yang mempunyai tingkat keterampilan proses sains rendah sekali. Aspek keterampilan proses sains yang diteliti adalah keterampilan berhipotesis, interpretasi data, dan mengkomunikasikan hasil penemuan. Dalam penelitian ini langkah dari guided discovery learning yaitu: stimulus, problem statement, data collection, data processing, verifikasi, dan generalisasi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi KPS dan Lembar Kerja Peserta Didik. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila 70% Peserta didik dapat merumuskan hipotesis, interpretasi data dan mengkomunikasikan data dengan benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I keterampilan proses sains siswa mencapai 17%, siklus II 61%, dan pada siklus III 81%. Rata-rata nilai LKS pada siklus tiga adalah: keterampilan hipotesis 90,28 (kategori sangat baik), interpretasi data 91,67 (kategori sangat baik), dan keterampilan komunikasi 79 (kategori baik). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan proses sains peserta didik setelah diterapkan model guided discovery learning pada materi suhu dan kalor. Kata-kata Kunci: keterampilan proses sains, guided discovery learning, penelitian tindakan kelas
Hamdani Hamdani, Syukran Mursyid, Judyanto Sirait, Eugenia Etkina
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika, Volume 3, pp 151-156; doi:10.21009/1.03205

Abstract:This study aims to examine the correlation between students’ attitude and approach and achievement that involved 60 pre-service physics teachers of Tanjungpura University. A quantitative approach was applied to gather students’ attitude and approach data through problem solving survey (APESOFI) which consists of seven indicators: using representation, the role of the equation, checking the answers, the role of physics concepts, discussion and asking, problem solving strategies, and interested in solving the problem. The results show that the correlation between students’ attitude an approach and achievement is 0.24 (p = 0.06). Furthermore, one of indicator - problem solving strategies and students’ achievement – has significant correlation .33 (p = 0.01). Also, 70% of students have the same approach to experts while solving the problem. It indicates the problem solving strategies is one of the aspects that can affect students’ success to solve the problems. Accordingly, instructors should facilitate students with various strategies or approaches to problem solving. Keywords: APESOFI, correlation, problem solving strategies. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap penyelesaian soal fisika dan hasil belajar mahasiswa calon guru fisika tahun pertama program studi Pendidikan Fisika Universitas Tanjungpura yang melibatkan 60 orang. Penelitian kuantitatif digunakan untuk memperoleh data sikap mahasiswa dengan memberikan Angket Penyelesaian Soal Fisika (APESOFI) dengan tujuh indikator: penggunaan representasi, peran matematika dan rumus, memeriksa kembali jawaban, peran konsep, berdiskusi dan bertanya, strategi penyelesaian soal, dan ketertarikan menyelesaikan soal. Kemudian nilai akhir mata kuliah Fisika Dasar dijadikan sebagai data hasil belajar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa korelasi antara sikap dan hasil belajar 0,24 dengan p = 0,06. Selanjutnya, hubungan salah satu indikator yaitu strategi penyelesaian soal dengan hasil belajar menunjukkan korelasi yang signifikan yaitu 0,33 (p = 0,01). Selain itu, 70% mahasiswa memiliki sikap yang sesuai dengan strategi yang digunakan ahli dalam menyelesaikan soal. Hal ini mengindikasikan bahwa strategi penyelesaian soal merupakan salah satu yang menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan soal. Dengan demikian pengajar atau dosen perlu memfasilitasi mahasiswa dengan beberapa strategi atau pendekatan dalam menyelesaikan soal. Kata-kata Kunci: APESOFI, korelasi, hasil belajar, strategi penyelesaian soal
Page of 10
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search