Journal Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi

-
21 articles
Page of 3
Articles per Page
by
M Nur Ghufron, Rini Risnawita Suminta
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 143-157; doi:10.21580/pjpp.v2i2.2172

Abstract:The aim of the present study was to determine the relationship between religious commitment and marital satisfaction among couples worked as Indonesian Migrant Workers. This study involved 51 samples of married couples and one of whom worked as Indonesian Migrant Workers (TKI) who live in Ponorogo District. The sampling technique used is convenience sampling. Data collection techniques used in this study in the form of scales and checklists. The data analysis in this study done by using correlation technique. Based on result of analysis test obtained that religious commitment have positive correlation with marital satisfaction equal to r = 0,364; p = 0,009.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara komitmen beragama dengan kepuasan kerja pada pasangan yang bekerja menjadi tenaga kerja Indonesia di luar Negeri. Penelitian ini melibatkan 51 sampel pasangan yang telah menikah dan salah satunya bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tinggal di Kabupaten Ponorogo. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dalam bentuk skala. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi. Berdasarkan hasil uji analisis diperoleh bahwa komitmen beragama mempunyai korelasi positif dengan kepuasan perkawinan sebesar r= 0,364; p=0,009.
Yola Tiaranita, Salma Dias Saraswati, Fuad Nashori
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 182-193; doi:10.21580/pjpp.v2i2.1175

Abstract:The aim of this research is to find out the effect of religiosity and emotional intelligence to tawadhu in post-graduate students of UII. The hypothesis of this research is there is posotive correlation between religiousity and emotional intelligence with tawadhu. The subject of this research are 117 post-graduate students of UII. The questionnaire used in this research is Islamic Humility Scale, Religiousity Scale, and Emotional Intelligence Scale. Based on double-regression in SPSS version 16, there is a positive correlation between religiousity and emotional intelligence to tawadhu with signification value of 0,000 (p<0,05) and F score of 14,294.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variable-variabel religiositas dan kecerdasan emosi terhadap sikap tawadhu mahasiswa pascasarjana. Hipotesis penelitian adalah ada korelasi yang positif antara religiositas dan kecerdasan emosi dengan sikap tawadhu. Skala yang digunakan adalah Skala Tawadhu, Skala Kecerdasan Emosi, dan Skala Religiositas. Subjek penelitian ini berjumlah 117 mahasiswa pascasarjana. Berdasarkan uji regresi ganda, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara religiositas dan kecerdasan emosi dengan sikap tawadhu dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 (p <0,05) dan F sebesar 14,294.
Syahrani Paramitha Kurnia Illahi, Sari Zakiah Akmal
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 171-181; doi:10.21580/pjpp.v2i2.1854

Abstract:Issues related to emotions and low emotional intelligence, such as lack of emotions, and unstable and excessive negative emotions happened in many adolescents living in orphanages. One factor that may influence emotional intelligence is the non-family environment such as peer-attachment. This research aimed to explore the relationship between peer-attachment and emotional intelligence in adolescents living in orphanages. This research used quantitative research method, with questionnaires as measuring scales. Participants in this research were 104 adolescents living in orphanages in DKI Jakarta with the age range of 12-18 years old and collected using incidental sampling. Spearman’s results showed that value r = 0,221 (ρ = 0,024 < 0,05) and could be interpreted as a significantly positive relationship existing between peer-attachment and emotional intelligence in adolescents living in orphanages.Abstrak: Masalah yang berkaitan dengan emosi dan kecerdasan emosi yang rendah seperti keadaan haus emosi serta emosi negatif yang tidak seimbang dan berlebihan banyak dijumpai pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi adalah faktor lingkungan non-keluarga seperti kelekatan dengan teman sebaya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan dengan teman sebaya dan kecerdasan emosi pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian dijalankan menggunakan penelitian kuantitatif dengan kuesioner sebagai alat ukur. Subjek penelitian berjumlah 104 remaja yang tinggal di panti asuhan wilayah DKI Jakarta dengan rentang usia 12-18 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik incidental sampling. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman dengan r = 0,221 (ρ = 0,024; ρ < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kelekatan dengan teman sebaya dengan kecerdasan emosi pada remaja yang tinggal di panti asuhan.
Dian Maulida, Abdul Rahman Shaleh
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 107-124; doi:10.21580/pjpp.v2i2.2461

Abstract:This research examined the effect of psychological capital and the totality of work on the subjective well-being of employees. This study involved 169 employees of PT X, a state-owned mining company in Jakarta. Sampling conducted using non-probability sampling with accidental sampling technique. The instruments used consisted Flourishing Scale and Scale for Positive and Negative Scales (SPANE) modified by Diener et al. (2009), Psychological Capital Questionnaire 12 (PCQ-12) from Luthans et al. (2007), Utrecht work engagement Scale (UWES-9) from Balducci, Fraccaroli, and Schaufeli (2010). Data analysis technique was multiple regression analysis. Based on the results of major hypothesis testing, the first conclusion obtained from this study is that there is a significant influence of psychological capital and work engagement on the subjective well-being of employees of PT X. Then, the results showed that four variables regression coefficient value was significant, that is; (1) self-efficacy; (2) spirit; (3) dedication; and (4) absorption while three other variables are not significant. All of these variables have a positive effect on employee’s subjective well-being.Abstrak: Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji pengaruh modal psikologis dan totalitas kerja terhadap kesejahteraan subjektif karyawan. Penelitian ini melibatkan 169 karyawan PT X, BUMN dalam bidang pertambangan di Jakarta. Pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan non probability sampling dengan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan terdiri atas Flourishing Scale (FS) dan Scale of Positive and Negative Scale (SPANE) yang dimodifikasi dari Diener et al. (2009), Psychological Capital Questionnaire 12 (PCQ-12) dari Luthans et al. (2007), Utrecht work engagement Scale (UWES-9) dari Balducci, Fraccaroli, and Schaufeli (2010). Teknik analisis data adalah analisis regresi berganda.Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan modal psikologis dan totalitas kerja terhadap kesejahteraan subjektif karyawanPT X. Kemudian, hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat empat dimensi yang nilai koefisien regresinya signifikan, yaitu: (1) self-efficacy; (2) semangat; (3) dedikasi; (4) keterlarutan, sementara 3 variabel lain tidak signifikan.
yudi kurniawan, N. Noviza
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 125-142; doi:10.21580/pjpp.v2i2.1968

Abstract:This study aims to increase resilience among survivors of violence against women through support group therapy. As resilience increases, survivors of violence against women form a powerless community of women as a vehicle for victims of violence to share experiences. This research is important because the number of violence against women shows an increasing trend from year to year. The hypothesis in this study is that there are differences in resilience of survivors of violence against women in experimental group and control group after group therapy. Subjects in this study were 10 women victims of violence aged between 35-40 years at Seruni Kota Semarang Integrated Service Center and divided into experimental groups and control groups. The measuring tool used is Modified Connor-Davidson Resilience Scale. Modules were taken from the therapy groups of Brabender, Smolar, and Fallon supporters (2004). The study used quasi experiment with non-randomized pretest-posttest control group design. Data were analyzed using different test of independent sample t-test. The result of the research shows that there is difference of resilience scores of survivors against women in experimental group and control group with p = 0,001 (p <0,05). In conclusion, support group therapy is effective to increase resilience to survivors of violence against women.Abstrak: Penelitian ini bertujuan meningkatkan resiliensi pada penyintas kekerasan terhadap perempuan melalui terapi kelompok pendukung. Setelah resiliensi meningkat, penyintas kekerasan terhadap perempuan membentuk komunitas perempuan berdaya sebagai wadah korban kekerasan untuk berbagi pengalaman. Penelitian ini penting karena jumlah kekerasan terhadap perempuan menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan resiliensi penyintas kekerasan terhadap perempuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah diberikan terapi kelompok pendukung.Subjek dalam penelitian ini adalah 10 perempuan korban kekerasan berusia antara 35-40 tahun di Pusat Pelayanan Terpadu Seruni Kota Semarang dan dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah Modified Connor-Davidson Resilience Scale. Modul diambil dari terapi kelompok pendukung (Brabender, Smolar, & Fallon, 2004). Penelitian menggunakan quasi experiment dengan non randomized pretest-posttest control group design. Data dianalisis menggunakan uji bedaindependent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan skor resiliensi penyintas kekerasan terhadap perempuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan p=0,001 (p<0,05). Kesimpulannya, terapi kelompok pendukung efektif untuk meningkatkan resiliensi pada penyintas kekerasan terhadap perempuan.
irfan aulia Syaiful, Khairul Rizal, Anggit Verdaningrum Kumala Sari
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 194-208; doi:10.21580/pjpp.v2i2.2296

Abstract:As changes in purchasing behavior from conventional stores into online stores, fundamental things in consumer psychological processes such as quality perceptions and trust levels need to be reexamined. This research tries to know the contribution of product quality perception and consumer trust in shaping purchasing decision at online store. Sampling in this research was done by incidental sampling technique. Criteria subject used as a sample of research is consumers aged 18-30 years and have been making purchases in online stores at least three times. By using this technique, the subject is 485 people. The results show that product quality and consumer trust are a positive predictor of purchasing decisions at online stores. This study provides evidence that on online purchases, buyers consider almost uniformly the quality of products and online stores that sell products before making a purchase.Abstrak: Seiring berubahnya tingkah laku pembelian dari toko konvesionalmenuju toko daring, maka hal mendasar dalam proses psikologis konsumen seperti persepsi kualitas dan tingkat kepercayaan perlu dikaji ulang. Penelitian ini mencoba mengetahui kontribusi persepsi kualitas produk dan kepercayaan konsumen dalam membentuk keputusan pembelian di toko daring. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik incidental sampling. Kriteria subjek yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah konsumen berusia 18 – 30 tahun dan sudah pernah melakukan pembelian di toko daring minimal tiga kali. Dengan menggunakan teknik tersebut diperoleh subjek 485 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk dan kepercayaan konsumen menjadi prediktor positif terhadap keputusan pembelian pada toko daring. Penelitian ini memberikan bukti bahwa pada pembelian daring, pembeli mempertimbangkan secara hampir seimbang kualitas produk dan toko daring yang menjual produk sebelum melakukan pembelian.
Khairatun Hisan, KARTIKA SARI
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 158-170; doi:10.21580/pjpp.v2i2.2448

Abstract:The purpose of this study is to determine consideration of future consequences from their experience in sexual intercourse before marriage in late adolescences. The samples included 90 subjects which are consisted 45 subjects who had sexual intercourse before marriage and 45 subjects who did not have sexual intercourse relations before marriage. The data are collected by using Consideration of Future Consequences Scale 14, which was developed by Joireman, Shaffer, Balliet, and Strathman (2012). The results of data analysis in this study using independent sample t-test showed that there are differences in consideration of future consequences in the late adolescences in terms of their experience in premarital sexual intercourse {t (df) = -13.16 (88)}, p <0.05). It indicated that the late adolescences who had sexual intercourse before marriage have low CFC, whereas late adolescences who did not have sexual relations before marriage have higher CFC.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui consideration of future consequences berdasarkan pengalaman melakukan hubungan seksual pranikah pada remaja akhir. Penelitian ini melibatkan 90 subjek, yaitu 45 subjek melakukan hubungan seksual pranikah dan 45 subjek yang tidak melakukan hubungan seksual pranikah. Pengumpulan data menggunakan skala Consideration of Future Consequences Scale 14, yang dikembangkan oleh Joireman, Shaffer, Balliet, dan Strathman (2012). Hasil analisis data menggunakan independent sample t-test yang menunjukkan terdapat perbedaan consideration of future consequences pada remaja akhir ditinjau dari pengalaman melakukan hubungan seksual pranikah{t (df) = -13,16 (88)}, p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa remaja akhir yang melakukan hubungan seksual pranikah memiliki CFC yang rendah sedangkan remaja akhir yang tidak melakukan hubungan seksual pranikah memiliki CFC yang tinggi.
Intan Rahmawati
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2; doi:10.21580/pjpp.v2i1.952

Abstract:Well-being appreciates as a holistic unity of one's potential and a state where individuals can receive strengths and weaknesses, have a purpose in life, develop positive relationships that lead to personal growth wherever individuals are, especially in their neighborhoods. The shelter that spawned a housing well-being that looked at the potential benefits optimally could be likened to where he/she lived. Housing well-being requires reflective and formative as a benchmark to assess the welfare of individuals in their dwellings. Formative indicators point to the evaluation of the satisfaction of residential features, while reflective indicators look at the gap between expectations and existing in the neighborhood, one of which is in the neighboring neighborhoods that are part of the residential community. Sense of community is an early stage in the individual to see the community. Based on the map of existing research results in terms of residential satisfaction. The study used this meta-analysis strategy to examine the results of previous research on the consistency between the sense of community in shaping housing welfare. This meta-analysis study resulted that a sense of community contributing to housing welfare.Abstrak: Kesejahteraan psikologis dijelaskan sebagai suatu pencapaian yang holistik dari potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan maupun kelemahan, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi positif yang bermuara pada pertumbuhan pribadi dimanapun individu berada, terlebih dalam lingkungan tinggal­nya. Konsep kesejahteraan psikologis inipun berkembang dalam lingkup hunian yang mencetuskan perspektif kesejahteraan psikologis dalam menghuni (housing well-being) yang memandang pada pencapaian potensi secara optimal beserta fungsi psikologis positif seseorang terhadap tempat tinggalnya. Pada indikatornya, housing well-being mensyaratkan reflektif dan formatif sebagai tolak ukur untuk menilai kesejahteraan psikologis individu pada huniannya. Indikator formatif menunjuk pada evaluasi kepuasan menyeluruh fitur hunian, sementara indikator reflektif melihat pada senjang antara harapan dan kenyataan yang ada di lingkungan tinggal, salah satunya adalah kepuasan dalam bertetangga yang merupakan bagian dari komunitas tinggal. Sense of community merupakan tahap awal dalam diri individu untuk melihat komunitasnya. Berdasarkan peta penelitian diperoleh hasil bahwa terdapat peran sense of community dalam housing well-being. Penelitian yang meng­gunakan strategi meta-analisa ini bertujuan untuk mengkaji hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya tentang kekonsistenan antara sense of community dalam membentuk housing well-being. Studi meta-analisis ini menghasilkan bahwa sense of community memberikan kontribusi terhadap housing well-being.
Anni Zulfiani Husnar, Siti Saniah, Fuad Nashori
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2; doi:10.21580/pjpp.v2i1.1179

Abstract:This study aimed to find out the effect of hope and tawakal toward academic stress among undergraduate students. This study used quantitative method with 102 under­graduate students from Islamic college as subjects of this research. Data were collected through three reliable and valid scales; Hope Scale, Tawakal Scale, and Academic Stress Scale. The result of data using multiple regression analysis showed a negative effect of hope and tawakal together toward academic stress among undergraduate students.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh harapan dan tawakal terhadap stres akademik pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sebanyak 102 mahasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di D.I. Yogyakarta yang ditentukan dengan teknik accicedental sampling. Data dikumpulkan melalui pemberian tiga skala kepada masing-masing subjek, yaitu Skala Harapan, Skala Tawakal, dan Skala Stres Akademik yang reliabel dan valid. Hasil analisis data menggunakan regresi berganda menunjukkan adanya pengaruh negatif dari harapan dan tawakal secara bersama-sama terhadap stres akademik pada mahasiswa.
Milcha Fakhria, Erni Agustina Setiowati
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2; doi:10.21580/pjpp.v2i1.1279

Abstract:The aim of this research is to determine the relationship between social facilitation and fear of failure with achievement motivation. The hypothesis proposed by researchers is that there is a correlation between social facilitation and fear of failure with achievement motivation. The samples included in this research are 200 high school students of tenth graders from SMAN 2 Semarang, MAN 1 Semarang, and SMA Gita Bahari. The measuring tool used consists of three scales, namely the scale of achievement motivation, social facilitation scale, fear of failure scale. Data analyzed used multiple regression and partial correlation. The results showed that there was a significant correlation between social facilitation and fear of failure with achievement motivation, R = 0,528 and F = 38,028 at p = 0,000 (pAbstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara fasilitasi sosial dan ketakutan kegagalan dengan motivasi berprestasi. Hipotesis yang diajukan oleh peneliti adalah adanya korelasi antara fasilitasi sosial dan ketakutan akan kegagalan berprestasi. Sampel yang termasuk dalam penelitian ini adalah 200 siswa SMA kelas sepuluh dari SMAN 2 Semarang, MAN 1 Semarang, dan SMA Gita Bahari. Alat ukur yang digunakan terdiri dari tiga skala, yaitu skala motivasi berprestasi, skala fasilitasi sosial, skala ketakutan. Data yang dianalisis menggunakan regresi berganda dan korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara fasilitasi sosial dan ketakutan kegagalan dengan motivasi berprestasi, R = 0,528 dan F = 38,028 pada p = 0,000 (p
Page of 3
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search