Journal Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi

-
28 articles
Page of 3
Articles per Page
by
Muflihah Azahra Iska Hasibuan, Novia Anindhita, Nurul Hikmah Maulida, H. Fuad Nashori
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 101-116; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2214

Abstract:The purpose of this study to find out the correlation between amanah and social support with subjective wellbeing in overseas students. Amanah was measured using Amanah Scale based on theory Ash-Shiddieqy. Social Support was measured using Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and to measured subjective well being using SWLS Scale and PANAS Scale. The population of this study were 230 students and the sample obtained 144 students by using quota sampling technique. The methods for data analysis were multiple regression. The results showed significant relationship between amanah and social support with subjective wellbeing in overseas students. Amanah and social support contributed 12.6% to subjective well being.Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara amanah dan dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa perantau. Pengukuran amanah menggunakan skala amanah yang dibuat oleh peneliti berdasarkan teori dari Ash-Shiddieqy (1971). Pengukuran dukungan sosial menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan pengukuran kesejahteraan subjektif menggunakan SWLS dan skala PANAS. Populasi dari penelitian ini berjumlah 230 dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 144 mahasiswa dengan menggunakan teknik quota sampling. Proses analisis data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara amanah dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif pada mahasiswa perantau. Amanah dan dukungan sosial secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 12.6 % terhadap kesejahteraan subjektif.
Yulinda Erma Suryani
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 73-100; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2052

Abstract:The concept of objective measurement in the social sciences and educational assessment must have five criteria: 1) Gives a linear measure with the same interval; 2) Conduct a proper estimation process; 3) Finding unfeasible items (misfits) or outliers; 4) Overcoming the lost data; 5) Generate replicable measurements (independent of the parameters studied). These five conditions of measurement, so far only Rasch model that can fulfill it. The quality of intelligence measurements made with the Rasch model will have the same quality as the measurements made in the physical dimension in the field of physics. The logit scale (log odds unit) generated in the Rasch model is the scale of the same interval and is linear from the data ratio (odds ratio). Based on the results of the analysis that has been done on the IST test instrument can be seen that in general the quality of IST test included in either category. Of the 176 IST test items there is only 1 item that is not good, ie aitem 155 (WU19) so that aitem 155 should be discarded. Based on the DIF analysis it can be seen that there are 28 items in favor of one gender only, so the twenty-eight items should be revised.Abstrak: Konsep pengukuran objektif dalam ilmu sosial dan penilaian pendidikan harus memiliki lima kriteria: 1) Memberikan ukuran yang linier dengan interval yang sama; 2) Melakukan proses estimasi yang tepat; 3) Menemukan item yang tidak tepat (misfits) atau tidak umum (outlier); 4) Mengatasi data yang hilang; 5) Hasilkan pengukuran yang replicable (independen dari parameter yang diteliti). Kelima kondisi pengukuran ini, sejauh ini hanya model Rasch yang bisa memenuhinya. Kualitas pengukuran kecerdasan yang dibuat dengan model Rasch akan memiliki kualitas yang sama dengan pengukuran yang dibuat dalam dimensi fisik di bidang fisika. Skala logit (log odds unit) yang dihasilkan dalam Rasch model adalah skala interval yang sama dan linear dari rasio data (odds ratio). Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada instrumen tes IST dapat diketahui bahwa secara umum kualitas tes IST termasuk dalam kategori baik. Dari 176 item tes IST hanya ada 1 item yang tidak bagus, yaitu aitem 155 (WU19) sehingga aitem 155 harus dibuang. Berdasarkan analisis DIF dapat dilihat bahwa ada 28 item yang mendukung satu jenis kelamin saja, sehingga dua puluh delapan item harus direvisi.
Izzaturrohmah Izzaturrohmah, Nuristighfari Masri Khaerani
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 117-140; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2527

Abstract:This research aims to determine the effectiveness of emotional regulation training in increasing resilience in women victims of sexual harassment. Participants in this study were four female victims of sexual harassment. Participants age are 18-30 years and had a moderate to low level resilience score. The research design was one group pre-test post-test. Data collected using resilience scale with Likert model based on resilience aspect from Kumpfer (1999) prepared by the researcher. Emotion regulation training modules were prepared by researcher based on Greenberg theory (2002). Wilcoxon Signed Rank Test technique is used by researcher to test for differences of pre-test, post-test, and post-test2 (follow up) data score. Results of pre-test - post-test analysis showed p value of 0.034 and post-test2 (follow up) with p value of 0.033 (p <0.05). From the result can be concluded that emotional regulation training is effective in increasing resilience in women victims of sexual harassment.Abstrak: Penelitian ini berujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan regulasi emosi terhadap peningkatan resiliensi pada perempuan korban pelecehan seksual. Partisipan pada penelitian ini merupakan empat perempuan korban pelecehan seksual. Usia partisipan adalah 18-30 tahun dan memiliki skor tingkat resiliensi sedang sampai dengan sedang. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre-test post-test. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan skala resiliensi model Likert yang disusun oleh peneliti berdasarkan aspek resiliensi dari Kumpfer (1999). Modul pelatihan regulasi emosi disusun berdasarkan teori Greenberg (2002). Teknik analisis Wilcoxon Signed Rank Test digunakan peneliti untuk menguji perbedaan skor data pre-test, post-test, dan post-test2 (follow up). Hasil analisis pre-test – post-test menunjukkan nilai p sebesar 0.034 dan post-test2 (follow up) dengan nilai p sebesar 0.033 (p<0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi efektif untuk meningkatkan resiliensi pada perempuan korban pelecehan seksual.
Jenni Eliani, M. Salis Yuniardi, Alifah Nabilah Masturah
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 59-72; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2442

Abstract:Verbal aggressive behavior that often occurs in social media is usually triggered by fanaticism on certain objects. The purpose of this research is to look at the relationship of fanaticism with verbal aggressive behavior in social media conducted by fans-idol of K-pop. This research used correlational quantitative method. The subjects of this study are fans-idol of K-pop numbered 915 people. Data collected with fanaticism scale and verbal aggression in media social scale. The data retrieval is done by using google forms application which contains the research instrument, which is disseminated through the social media forum of fans-idol of K-pop. This study showed there was a positive relationship of fanaticism with verbal aggressive behavior in social media on fans-idol of K-pop (r = 0.626 and p = 0,000). Fans-idol of K-pop who have high fanaticism will have high verbal aggressive behavior, otherwise fans-idol of K-pop who have low fanaticism will have a low verbal aggressive behavior.Abstrak: Perilaku agresif verbal yang sering terjadi di media sosial biasanya dipicu oleh fanatisme pada objek tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan fanatisme dengan perilaku agresif verbal di media sosial yang dilakukan oleh penggemar-idola K-pop. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini adalah penggemar-idola K-pop berjumlah 915 orang. Data dikumpulkan dengan skala fanatisme dan agresi verbal dalam skala sosial media. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi formulir google (google form) yang berisi instrumen penelitian, yang disebarkan melalui forum media sosial penggemar-idola K-pop. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan positif fanatisme dengan perilaku agresif verbal di media sosial pada penggemar-idola K-pop (r = 0,626 dan p = 0,000). Fans-idola K-pop yang memiliki fanatisme tinggi akan memiliki perilaku agresif verbal yang tinggi, jika tidak penggemar-idola K-pop yang memiliki fanatisme rendah akan memiliki perilaku agresif verbal yang rendah.
Nidya Dudija
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 37-58; doi:10.21580/pjpp.v3i1.970

Abstract:Merger of academies to be one university is a way to perform effectivity and efficiency of the foundation as the organizer of education. The process of conveying the idea will face challenges and conflicts such as opposition to the idea of merging universities. Conflict can be a functional and dysfunctional role in the organization, depending on how the organization is able to manage the conflict and use appropriate conflict management strategies. The research was conducted at one of the private universities in Bandung that has combined four academies to form the University. This research uses a qualitative approach case study. The results of this study indicate that the foundation has an important role during the merging process, the foundation selects direct leaders (Rector of the University) from external parties to facilitate the process of forming a new culture, then the Foundation manages the conflict using a compromise strategy and collaboration to all academic communities so that conflicts arise functional role and improve post-merge University performance.Abstrak: Penggabungan sekolah tinggi menjadi universitas adalah salah satu cara untuk me­lakukan efektifitas dan efisiensi yayasan sebagai penyelenggara pendidikan. Proses menyampaikan ide akan menghadapi tantangan dan konflik seperti oposisi terhadap gagasan menggabungkan universitas. Konflik dapat berperan fungsional dan disfungsional dalam organisasi, tergantung pada bagaimana organisasi mampu mengelola konflik dan menggunakan strategi manajemen konflik yang tepat. Penelitian ini dilakukan di salah satu universitas swasta di Bandung yang telah menggabungkan empat sekolah tinggi untuk membentuk universitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif case study. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yayasan memiliki peran penting selama proses penggabungan, yayasan memilih langsung pemimpin (Rektor Universitas) dari pihak eksternal untuk memfasilitasi proses pembentukan budaya baru, kemudian Yayasan me­ngelola konflik menggunakan strategi kompromi dan kolaborasi untuk semua komunitas akademis sehingga konflik muncul peran fungsional dan meningkatkan kinerja universitas pasca-penggabungan.
Anandre Forastero, Bertina Sjabadhyni, Martina Dwi Mustika
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 1-16; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2489

Abstract:It is known that it is quite difficult for companies to create a working environment that suits the characters of the Millennials, who are now undoubtedly make up the largest proportion of the workforce. This study aims to understand how job autonomy and boredom at work affect Millennials’ work engagement. Using non-probability sampling methods, 320 Millennial employees (19–37 years old) from various organizations (private and public organization) in Indonesia agreed to participate in this study. They filled in a questionnaire that measured the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Work Design Questionnaire (WDQ); and Workplace Boredom Scale. Data were analyzed using mediation analysis; and the results showed that boredom at work plays a significant role in mediating the relationship between job autonomy and employee engagement in Millennial employees. To conclude, job autonomy positively affects boredom levels of Millennial employees and low levels of boredom results in a higher employee engagement level.Abstrak: Dapat dipahami bahwa perusahaan kesulitan menciptakan lingkungan kerja yang sesuai bagi karyawan-karyawannya, khususnya karyawan Generasi Milenial yang merupakan pemain utama dalam dunia kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peran dari variabel-variabel yang diduga dapat mem­pengaruhi keterikatan kerja karyawan Generasi Milenial, yaitu kemandirian kerja dan kebosanan bekerja. Menggunakan metode non-probability sampling, 320 karyawan Generasi Milenial (19-37 tahun) dari berbagai organisasi di Indonesia (organisasi swasta dan negeri) bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka mengisi beberapa kuesioner, antara lain The Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9) Work Design Questionnaire dan Workplace Boredom Scale. Analisis data yang digunakan adalah analisis mediasi; dan hasilnya menunjukkan bahwa kebosanan bekerja berperan signifikan dalam memediasi hubungan kemandiran kerja dan keterikatan kerja pada karyawan Generasi Milenial. Dapat disimpulkan bahwa kemandirian kerja dapat mempengaruhi kebosanan Generasi Milenial dalam bekerja dan rendahnya tingkat kebosanan dalam bekerja tersebut dapat mempengaruhi keterikatan kerja yang dimiliki.
Dominikus David Biondi Situmorang, Mungin Eddy Wibowo, Mulawarman Mulawarman
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 3, pp 17-36; doi:10.21580/pjpp.v3i1.2508

Abstract:This research is a new breakthrough in Indonesia, which integrates the approach of Cognitive Behavior Therapy (CBT) - as a conventional counseling approach with music therapy as expressive techniques in counseling. The aim of this study is to determine the effectiveness of group counseling service implementation of CBT with active music therapy technique to improving self-efficacy of millennials students. This study used quasi-experimental design (pretest, posttest, and follow-up). Group counseling was conducted for 5 meetings (each meeting was 100 minutes), and follow-up was performed after 2 weeks of treatment. Subject selection using purposive sampling technique that is based on inclusion criteria and level of self-efficacy obtained from self-efficacy scale. The results of this research showed that group counseling of CBT with active music therapy technique was significantly effective in improving self-efficacy of millennials students at pretest vs. posttest, pretest vs. follow-up, and posttest vs. follow-up.Abstrak: Penelitian ini merupakan terobosan baru di Indonesia yang mengintegrasikan pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) - sebagai pendekatan konseling konvensional dengan music therapy sebagai expressive techniques in counseling. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas konseling kelompok CBT dengan teknik active music therapy untuk meningkatkan self-efficacy mahasiswa millennials penyusun skripsi. Penelitian ini meng­gunakan desain quasi-eksperimental (pretest, posttest, dan follow-up). Konseling kelompok dilaksanakan selama 5 pertemuan (tiap pertemuan 100 menit), dan follow-up dilakukan setelah 2 minggu diberikan treatment. Pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling didasarkan pada kriteria inklusi dan tingkat self-efficacy yang diperoleh dari self-efficacy scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling kelompok pendekatan CBT dengan teknik active music therapy secara signifikan efektif untuk meningkatkan self-efficacy mahasiswa millennials pada saat pretest vs. posttest, pretest vs. follow-up, dan posttest vs. follow-up.
M Nur Ghufron, Rini Risnawita Suminta
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 143-157; doi:10.21580/pjpp.v2i2.2172

Abstract:The aim of the present study was to determine the relationship between religious commitment and marital satisfaction among couples worked as Indonesian Migrant Workers. This study involved 51 samples of married couples and one of whom worked as Indonesian Migrant Workers (TKI) who live in Ponorogo District. The sampling technique used is convenience sampling. Data collection techniques used in this study in the form of scales and checklists. The data analysis in this study done by using correlation technique. Based on result of analysis test obtained that religious commitment have positive correlation with marital satisfaction equal to r = 0,364; p = 0,009.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara komitmen beragama dengan kepuasan kerja pada pasangan yang bekerja menjadi tenaga kerja Indonesia di luar Negeri. Penelitian ini melibatkan 51 sampel pasangan yang telah menikah dan salah satunya bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tinggal di Kabupaten Ponorogo. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dalam bentuk skala. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi. Berdasarkan hasil uji analisis diperoleh bahwa komitmen beragama mempunyai korelasi positif dengan kepuasan perkawinan sebesar r= 0,364; p=0,009.
Yola Tiaranita, Salma Dias Saraswati, Fuad Nashori
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 182-193; doi:10.21580/pjpp.v2i2.1175

Abstract:The aim of this research is to find out the effect of religiosity and emotional intelligence to tawadhu in post-graduate students of UII. The hypothesis of this research is there is posotive correlation between religiousity and emotional intelligence with tawadhu. The subject of this research are 117 post-graduate students of UII. The questionnaire used in this research is Islamic Humility Scale, Religiousity Scale, and Emotional Intelligence Scale. Based on double-regression in SPSS version 16, there is a positive correlation between religiousity and emotional intelligence to tawadhu with signification value of 0,000 (p<0,05) and F score of 14,294.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variable-variabel religiositas dan kecerdasan emosi terhadap sikap tawadhu mahasiswa pascasarjana. Hipotesis penelitian adalah ada korelasi yang positif antara religiositas dan kecerdasan emosi dengan sikap tawadhu. Skala yang digunakan adalah Skala Tawadhu, Skala Kecerdasan Emosi, dan Skala Religiositas. Subjek penelitian ini berjumlah 117 mahasiswa pascasarjana. Berdasarkan uji regresi ganda, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara religiositas dan kecerdasan emosi dengan sikap tawadhu dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 (p <0,05) dan F sebesar 14,294.
Syahrani Paramitha Kurnia Illahi, Sari Zakiah Akmal
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Volume 2, pp 171-181; doi:10.21580/pjpp.v2i2.1854

Abstract:Issues related to emotions and low emotional intelligence, such as lack of emotions, and unstable and excessive negative emotions happened in many adolescents living in orphanages. One factor that may influence emotional intelligence is the non-family environment such as peer-attachment. This research aimed to explore the relationship between peer-attachment and emotional intelligence in adolescents living in orphanages. This research used quantitative research method, with questionnaires as measuring scales. Participants in this research were 104 adolescents living in orphanages in DKI Jakarta with the age range of 12-18 years old and collected using incidental sampling. Spearman’s results showed that value r = 0,221 (ρ = 0,024 < 0,05) and could be interpreted as a significantly positive relationship existing between peer-attachment and emotional intelligence in adolescents living in orphanages.Abstrak: Masalah yang berkaitan dengan emosi dan kecerdasan emosi yang rendah seperti keadaan haus emosi serta emosi negatif yang tidak seimbang dan berlebihan banyak dijumpai pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi adalah faktor lingkungan non-keluarga seperti kelekatan dengan teman sebaya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan dengan teman sebaya dan kecerdasan emosi pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian dijalankan menggunakan penelitian kuantitatif dengan kuesioner sebagai alat ukur. Subjek penelitian berjumlah 104 remaja yang tinggal di panti asuhan wilayah DKI Jakarta dengan rentang usia 12-18 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik incidental sampling. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman dengan r = 0,221 (ρ = 0,024; ρ < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kelekatan dengan teman sebaya dengan kecerdasan emosi pada remaja yang tinggal di panti asuhan.
Page of 3
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search