Journal Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian

-
84 articles
Page of 9
Articles per Page
by
Renny Anggraini, Nelsy Dian Permatasari
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 154-162; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.154-162

Abstract:Produk pascapanen sayuran seperti sawi hijau mengalami kemunduran kualitas yang dicirikan oleh terjadinya proses pelayuan yang cepat, untuk mempertahankan mutu selama penyimpanan perlu pengemasan dan penyimpanan yang tepat. . Penelitian ini bertujuan menganalisis dan menentukan jenis plastik dan jumlah lubang perforasi terbaik dalam pengemasan sawi hijau yang dapat memperpanjang umur simpannya. Sawi hijau dikemas dalam plastik LDPE, PP, dan stretch film. Masing-masing jenis plastik kemudian dilubangi sebanyak 2, 4, dan 6 dengan pelubang kertas, serta tanpa lubang. Seluruh perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 5oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plastik LDPE merupakan kemasan terbaik yang mampu mempertahankan kadar air, susut bobot, dan vitamin C pada sawi hijau selama penyimpanan, sedangkan plastik PP merupakan kemasan terbaik yang mampu mempertahankan TPT sawi hijau. Jumlah lubang perforasi hanya berpengaruh nyata terhadap TPT sawi hijau pada hari ke-6 penyimpanan. Berdasarkan uji indeks efektifitas, perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah kemasan plastik LDPE dengan 4 lubang perforasi
Bambang Haryanto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 163-170; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.163-170

Abstract:Tanaman sirsak (Annona muricata L.), yang juga dikenal dengan sebutan nangka sebrang merupakan tanaman tropis dan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai tanaman buah yang syarat dengan gizi. Dalam industri makanan, sirsak dapat diolah menjadi selai buah, sari buah, sirup dan dodol sirsak. Tujuan dari penelitian ini adalah pengaruh jumlah gula terhadap karakteristik serbuk instan sari daun sirsak dengan menggunakan metode kristalisasi, dan mendapatkan jumlah gula terbaik sebagai pengkristal untuk menghasilkan serbuk instan sari daun sirsak yang terbaik. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah jumlah gula sebagai pengkristal berpengaruh terdapat karakteristik serbuk instan daun sirsak dengan metode kristalisasi dan terdapat jumlah gula terbaik sebagai bahan penambah pada pembuatan bubuk instan daun sirsak dengan metode kristalisasi. Jumlah gula sebagai pengkristal berpengaruh nyata terhadap rendemen, tingkat kelarutan, kadar air, warna dan rasa serbuk instan daun sirsak. Jumlah gula sebagai pengkristal yang menghasilkan serbuk instan daun sirsak terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan gula 300 gr/liter jus daun sirsak) dengan rendemen 66.68 %, Kelaruran sebesar 68,877%, Kadar Air 3,53% warna 4,10 (coklat) dan rasa 3,40 (Manis segar).
Mukhammad Fauzi, Miftahul Choiron, Yuli Dewi Puji Astutik
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 144-153; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.144-153

Abstract:Kopi luwak artifisial mulai dikembangkan dengan beragam metode fermentasi. Fermentasi kopi menggunakan ragi feses luwak selama 24 jam sudah dilakukan sebelumnya. Namun, karakteristik kimia yang dihasilkan belum bisa menyamai kopi luwak asli. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan kopi luwak artifisial dengan karakteristik kimia yang serupa dengan kopi luwak asli. Pembuatan kopi luwak robusta artifisial melalui tahapan pembuatan ragi kering dan fermentasi kopi robusta. Waktu fermentasi yang digunakan yaitu 8 jam (A1), 16 jam (A2), 24 jam (A3) dan 32 jam (A4) yang dikombinasikan dengan faktor penambahan α-amilase (B1) dan tanpa penambahan α-amilase (B0). Dari kedua faktor didapatkan delapan kombinasi perlakuan. Kadar kafein kopi tanpa α-amilase 0,54-0,80%, sedangkan dengan α-amilase 0,45-0,65%. Kadar glukosa tanpa α-amilase 8,92-9,26%, sedangkan dengan α-amilase 9,03-9,31%. pH dengan α-amilase 5,90-6,20, sedangkan tanpa α-amilase 5,99-6,16. Kadar air dengan α-amilase 10,25-10,82%, sedangkan tanpa α-amilase 9,55-10,29%. Total asam tertitrasi dengan α-amilase 1,59-1,83%, sedangkan tanpa α-amilase yaitu 1,41-1,51%. Persen N-amino dengan α-amilase 0,11-0,2%, sedangkan tanpa α-amilase 0,09-0,19%. Berdasarkan hasil analisis, perlakuan A4B1 (fermentasi 32 jam dengan penambahan α-amilase) memiliki karakteristik kimia paling mendekati kopi luwak asli.
Irma Kresnawaty, Soekarno Mismana Putra, Asmini Budiani, Tw Darmono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 171-179; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.171-179

Abstract:Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan salah satu limbah perkebunan yang jumlahnya sangat melimpah. Telah banyak penelitian dilakukan yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah ini menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi dan salah satu adalah mengomposkan TKKS tersebut. Teknik pengomposanTKKS yang selama ini memerlukan waktu 2-4 bulan dan pengangkutan produk kompos yang dihasilkan memerlukan biaya yang mahal. Waktu pengomposan yang lama tidak dapat mengatasi permasalahan banyaknya limbah TKKS ini dihasilkan di pabrik (21-23% dari Tandan Buah Segar). Sehingga diperlukan teknik pengolahan limbah yang lebih cepat. Pada penelitian sebelumnya TKKS terbukti dapat dikonversi melalui proses pirolisis yang relatif lebih cepat menjadi arang hayati dan asap cair. Arang hayati memiliki banyak manfaat khususnya untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Selain itu juga dapat memacu aktivitas mikroba tanah, terutama yang berasosiasi dengan akar tanaman dan mampu meningkatkan konservasi unsur hara mudah larut sehingga pencucian hara menjadi minimal. Asap cair selama ini banyak digunakan sebagai bahan pengawet makanan dan penghilang bau pada industri karet. Pada penelitian ini akan dilakukan karakterisasi arang hayati dan asap cair dari TKKS . Dari 6 kg TKKS dapat dihasilkan 1,9 kg arang hayati dan 3,6 L asap cair. Arang hayati TKKS memiliki kadar makronutrien : C 60%; N 1,07%; P 1,29%; K 13,37%; Mg 1,02%; Ca 1,71% dan mikronurien Fe 0,95%; B 31 ppm dan Zn 248 ppm, dengan pH 9. Asap cair yang dihasilkan memiliki pH 3,5 dan dapat dihilangkan kandungan tar-nya dengan pengendapan semalam. Kandungan asap cair ini. mengandung karbonil 2,984 %; turunan fenol 13,169 %; dan asam organik 74,268 %.
Muhamad Syakir, Msi Tatang Hidayat, Ria Maya
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 134-143; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.134-143

Abstract:Masalah pada pengolahan lada putih secara tradisional adalah adanya kontaminasi mikroba patogen yang tinggi, bau busuk dan lumpur (off-flavor) serta aroma yang kurang tajam pada lada putih yang dihasilkan sebagai akibat perendaman yang terlalu lama. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengkaji proses pengolahan lada putih butiran semi mekanis di tingkat petani untuk meningkatkan mutu mikrobiologi dan flavor, dan 2) mengkaji proses pembuatan lada putih bubuk dengan bahan baku hasil pengolahan lada putih semi mekanis. Perlakuan yang dikaji pada kegiatan pertama, yaitu lama perendaman buah lada (5 dan 14 hari) dan penggantian air perendam dengan pembanding cara pengolahan lada tradisional (perendaman dalam air mengalir selama 14 hari). Perlakuan yang dikaji pada kegiatan kedua, yaitu sterilisasi lada putih dengan uap panas 90–100oC selama 30, 40, 50 dan 60 menit. Seluruh perlakuan masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu perendaman buah lada dan penggantian air rendaman dalam pengolahan lada putih semi mekanis berpengaruh nyata terhadap nilai TPC, warna, dan bau. Pengolahan lada putih semi mekanis terbaik adalah perlakuan yang menerapkan penggantian air rendaman dalam proses perendamannya dengan waktu perendaman selama 5 hari. Lada putih yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu SNI dan IPC. Pada pembuatan lada putih bubuk, waktu sterilisasi berpengaruh nyata terhadap nilai TPC, kadar minyak atsiri, dan warna. Lada putih bubuk terbaik diperoleh dari perlakuan sterilisasi selama 30 menit. Dengan melakukan pengolahan lada putih semi-mekanis di tingkat petani yang dikombinasikan dengan penggantian air perendam maka mutu lada putih dapat ditingkatkan dengan waktu pengolahan yang jauh lebih singkat. Selanjutnya dengan melakukan sterilisasi lada putih hasil pengolahan semi mekanis selama 30 menit, nilai TPC lada putih bubuk dapat diturunkan dengan tanpa mengurangi kadar minyak atsiri sehingga lada putih bubuk lebih aman dikonsumsi.
Sri Haryani Anwar, Miranda Antasari, Dian Hasni, Novi Safriani, Syarifah Rohaya, Christina Winarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 124-133; doi:10.21082/jpasca.v14n3.2017.124-133

Abstract:Produk pangan berbasis emulsi seperti susu, mayonnaise, salad dressing dan margarin sangat diminati masyarakat. Emulsi biasanya distabilkan oleh surfaktan, protein dan polisakarida. Pati termasuk biopolimer polisakarida yang berperan penting sebagai penstabil, namun harus dimodifikasi terlebih dahulu untuk memperbaiki sifat fisiko-kimianya. Penelitian bertujuan untuk menguji peranan pati sukun termodifikasi OSA (Octenyl Succinic Anhydride) sebagai penstabil emulsi minyak dalam air (m/a) bersama-sama dengan lesitin sebagai surfaktan. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dua faktor, yaitu penambahan pati sukun OSA (1% dan 2%) serta konsentrasi minyak (25% dan 40%) dengan tiga kali ulangan. Pati sukun terlebih dahulu dikarakterisasi dengan mengukur kadar air, abu, serat, protein, dan kadar lemak sebelum dan setelah modifikasi serta pengukuran derajat substitusi (DS). Adapun parameter kestabilan emulsi yang diuji meliputi pengukuran viskositas, penghitungan nilai creaming index (CI), dan emulsifying activity (EA) selama penyimpanan 10 hari. Analisa proksimat menunjukkan nilai yang tidak jauh berbeda antara pati sebelum dan sesudah modifikasi kecuali kadar protein yang menurun secara signifikan dari 5,25 % menjadi 3,50% setelah pati dimodifikasi. Nilai derajat substitusi pati sukun modifikasi adalah 0,0243. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap viskositas dan nilai CI, dimana peningkatan konsentrasi OSA dan minyak menurunkan nilai CI namun meningkatkan viskositas emulsi yang dihasilkan. Penyimpanan emulsi selama 10 hari menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi pati OSA dan minyak meningkatkan nilai EA yang membuktikan bahwa pemisahan emulsi dapat diminimalkan selama penyimpanan. Emulsi yang paling stabil (nilai EA 100%) diperoleh dari perlakuan terbaik yaitu konsentrasi 2% pati OSA dan 40% minyak.
Stp Ermi Sukasih, Nfn Setyadjit
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 22-34; doi:10.21082/jpasca.v14n1.2017.22-34

Abstract:Limbah hortikultura berpotensi untuk dijadikan bahan antifungal. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak kulit mangga dengan pelarut etil asetat yang dievaporasi hingga menjadi ekstrak kental secara single mampu menghambat khamir Rhodotorula sp., mencapai 31 mm zona dimana nilai ini lebih besar dari benomyl 500 ppm yang hanya 10 mm. Untuk memperluas spektrum daya hambat, perlu dilakukan formulasi dengan bahan lain. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi ekstrak biji atau kulit mangga dengan pengawet makanan komersial (natrium metabisulfit, kalium sorbat dan natrium benzoat) untuk menghasilkan pengawet yang berspektrum tinggi untuk preservasi buah mangga. Formulasi dilakukan melalui beberapa tahapan untuk menghasilkan konsentrasi dan perbandingan yang tepat. Formula antifungal terbaik berdasarkan uji plate adalah campuran dari ekstrak biji mangga : kalium sorbat 5% (75%:25%) dengan pengenceran 25%. Antifungal ini mampu menghambat kapang dan khamir perusak mangga sebagai berikut: Rhodotorulla sp. sebesar 47,2 mm, Penicillium sp. 41,3 mm, Fusarium sp. 43,6 mm dan Aspergillus niger sebesar 18,2 mm. Aplikasi pada buah mangga melalui penyemprotan menunjukkan hasil 0,2 skor kerusakan dan 2,7% susut bobot lebih baik dibanding kontrol pada penyimpanan hari ke-14 pada suhu 20oC±2oC
Anna Sulistya Ningrum, Nfn Rahmawati, Muhammad Aqil
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 11-21; doi:10.21082/jpasca.v14n1.2017.11-21

Abstract:Jewawut (Foxtail Millet) merupakan sumber karbohidrat, mempunyai aktivitas antioksidan, kaya kandungan vitamin dan mineral, serta memiliki kandungan serat pangan yang tinggi. Pengolahan jewawut dalam bentuk tepung lebih memudahkan dalam aplikasi serta memiliki daya simpan yang lebih lama. Proses perendaman dalam pembuatan tepung dilaporkan dapat memperbaiki karakteristik tepung jewawut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh lama perendaman terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik tepung jewawut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 6 perlakuan (perendaman 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam dan 5 jam) dan diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama perendaman menurunkan kadar air, kadar abu, pH, dan densitas kamba sedangkan rendemen dan kadar asam lemak bebas meningkat. Perendaman menyebabkan berkurangnya kekerasan biji sehingga rendemen meningkat,tekstur tepung yang dihasilkan lebih halus serta kadar air menurun. Tepung dengan lama perendaman 4 jam menghasilkan karakteristik fisik, kimia dan organoleptik yang terbaik dengan nilai rendemen 99,94%; densitas kamba 0,61 g/ml; pH 6,65; kadar air 6,23%; kadar abu 1,46% dan ALB 1,152%. Hasil analisis awal menunjukkan tepung jewawut memiliki kadar serat pangan yang tinggi yaitu 8,21% dan kandungan amilosa yang rendah 6,96%-9,29 (sehingga bersifat lengket, dan tingkat pengembangan rendah). Tepung jewawut dengan karakteristik fisikokimia yang terbaik diharapkan dapat diaplikasikan dalam berbagai produk olahan, sehingga dapat mengurangi konsumsi terigu.
Nfn Miskiyah, Nfn Juniawati, Sri Suryamiyati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 53-66; doi:10.21082/jpasca.v14n1.2017.53-66

Abstract:Uji coba aplikasi vinegar air kelapa pada karkas dilakukan di Rumah Potong Ayam (RPA) dan Pasar Tradisonal. Tujuan penelitian untuk mengetahui kinerja vinegar air kelapa terhadap karakteristik fisik dan mikrobiologi karkas ayam, dengan studi kasus di RPA Jambu Raya dan Pasar Shangrila Kebayoran Lama. Uji coba aplikasi dilakukan pada dua suhu penyimpanan yaitu suhu ruang (27-300oC) dan suhu dingin (5-7 oC) dimana pada masing-masing suhu penyimpanan terdiri dari dua perlakuan (dengan perendaman dan tanpa perendaman) dan diulang sebanyak tiga kali. Hasil Uji aplikasi di RPA menunjukkan bahwa karakteristik fisik karkas ayam dengan perlakuan vinegar air kelapa secara umum menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan karkas ayam tanpa perendaman. Hal ini ditunjukkan dengan susut masak yang menurun, pH yang relatif stabil, tekstur yang semakin meningkatkan keempukannya, namun memberikan kecerahan yang sedikit menurun. Sedangkan secara mikrobiologis karkas ayam yang diberi perlakuan vinegar mampu menurunkan bakteri patogen (E.coli O157:H7 O157:H7, Salmonella, S. aureus, L. monocytogenes). Hasil uji aplikasi di pasar tradisional menunjukkan performa fisik yang berbeda dengan aplikasi di RPA dimana susut masak dan kecerahan cenderung meningkat, pH dan tekstur cenderung menurun. Sedangkan secara mikrobiologis aplikasi vinegar mampu menurunkan kontaminasi bakteri uji selama penyimpanan. Secara umum vinegar air kelapa prospektif digunakan sebagai biopreservatif pada karkas ayam.
Wisnu Broto, Dondy A Setyabudi, Nfn Sunarmani, Nfn Qanytah, Irpan Badrul Jamal
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 14, pp 116-124; doi:10.21082/jpasca.v14n2.2017.116-124

Abstract:Kondisi penyimpanan menjadi kata kunci untuk meningkatkan daya simpan umbi kentang GM-05 dengan mutu segar yang terjaga.Kentang segar GM-05 dalam penelitian ini diperoleh dari Kebun Percobaan Balai Penelitian Sayuran, Lembang dan dipanen pada umur90 Hari Setelah Tanam (HST). Umbi kentang dengan bobot masing-masing 30 kg dikemas dalam karung rajut, disimpan pada kondisi(1) ruangan gelap, (2) ruangan dengan pencahayaan 100-500 lux/lilin, dan (3) dihamparkan sebagai kontrol. Penyimpanan dilakukanpada suhu ambient, 20, dan 10oC. Pengamatan dilakukan setiap 2 (dua) minggu sekali selama 3 bulan penyimpanan. Parameter yangdiamati meliputi: susut bobot, kadar air, kadar protein, kadar karbohidrat, kadar lemak, kadar amilosa, kadar abu, dan tekstur. Rancanganpercobaan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang dengan ulangan tiga kali dan signifikansi beda nyata terkecil pada taraf5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan dalam ruang gelap maupun yang dengan pencahayaan 100-500 lux/lilin suhu10 oC memberikan susut bobot dan laju penurunan kadar air terendah dibandingkan perlakuan lainnya. Kadar karbohidrat, kadar abu,dan tekstur tidak terpengaruh dengan semua perlakuan penyimpanan. Penurunan kadar lemak dan amilosa umbi kentang melambathingga masing-masing sebesar 0,14% dan 4,42% terjadi pada penyimpanan dalam ruang gelap maupun yang dengan pencahayaan padasuhu 10 oC. Kadar protein meningkat hingga pada kisaran 1,51%. Penyimpanan suhu 10oC dengan kondisi gelap ataupun pencahayaan100-500 lux/lilin merupakan metode penyimpanan kentang GM-05 terbaik karena mampu mempertahankan mutu dan kesegarannya.
Page of 9
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search