Journal Informatika Pertanian

-
96 articles
Page of 10
Articles per Page
by
Ikhwani Ikhwani
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p19-28

Abstract:Dalam upaya peningkatan produksi padi Nasional secara berkesinambungan diperlukan adanya perbaikan inovasi teknologi budidaya padi yang lebih baik secara berkesinambungan pula, yang merupakan prinsip PTT. Percobaan bertujuan untuk mendapatkan teknologi yang lebih baik dari pada cara budidaya yang sekarang dilakukan petani setempat, seperti varietas yang lebih baik, pemupukan dan jarak tanam yang lebih sesuai agar terjadi peningkatan produktivitas padi. Percobaan dilaksanakan di lahan petani Desa Sukamandi Jaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang Jawa Barat MK tahun 2012 dan MH 2012/2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Petak-petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama pemupukan, yaitu P1- terbaik setempat (urea -300 kg per ha, SP36-50 kg, KCl -50 kg). P2 – rekomendasi alternatif bedasarkan SIPAPUKDI (Urea =320 kg/ha, SP36= 70 kg/ha, KCl= 130 kg/ha). Urea dan KCl diberikan 3 kali yaitu pada umur 7 hst, 21-25 hst dan 42 hst (menjelang primordia), Anak petak: cara tanam yaitu T1 -Terbaik setempat (Tegel 25 cm x 25 cm) dan T2 – .Jarak tanam lebih rapat (25 cm x 20 cm); Anak-anak petak: varietas unggul baru yaitu V1- var terbaik setempat, (Ciherang), V2- Inpari 14, V3- Inpari 17dan V4- Inpari 6. Ukuran petak percobaan terkecil (anak-anak petak) 8 m x 5 m, dengan jumlah keseluruhan 48 petak. Umur bibit saat tanam 21 hss. Hasil pecobaan menunjukkan bahwa komponen teknologi PTT yang diterapkan pada MK tahun 2012 dapat diperbaiki dengan mengintroduksi cara pemupukan SIPADI dengan dosis K yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara pemupukan setempat serta menggunakan varietas Inpari-14. Cara ini menaikkan hasil padi dari 5.5 t/ha (cara sekarang) menjadi 7.6 ton GKP/ha, pada MH tahun 2012/2013.
Nurdiyah Nurdiyah, Anna Fariyanti, Siti Jahroh
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p85-94

Abstract:Muna adalah sentra produksi utama jambu mete di provinsi Sulawesi Tenggara . Perkebunan jambu mete di Muna memiliki masalah kualitas seperti produksi yang rendah, pendapatan rendah dan sistem pemasaran yang tidak efisien . Posisi tawar petani lemah karena petani tidak memiliki informasi yang dapat digunakan sebagai harga referensi. Harga ditentukan oleh pedagang jambu mete yang mengakibatkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strukur pasar, perilaku pasar dan kinerja pasar jambu mete di Kabupaten Muna. Struktur pasar dianalisis dengan Herfindahl Hirchman Index (HHI). Perilaku pasar digambarkan secara deskriptif sedangkan kinerja pasar dianalisis dengan margin pemasaran, pangsa pasar petani dan integrasi vertikal. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive yang dilakukan di sentra produksi jambu mete di Kabupaten Muna yakni Kecamatan Tongkuno dan Kecamatan Kabawo dimulai bulan Juli 2013 sampai September 2013 Lembaga pemasaran yang dianalisis adalah petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang antar pulau (grosir di tingkat kabupaten). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar jambu mete merupakan struktur pasar oligopsoni yang mengakibatkan terjadi kolusi antara pedagang dan industri pengolahan jambu mete. Hasil analisis kinerja pasar menunjukkan bahwa pasar petani tidak terintegrasi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa petani jambu mete adalah penerima harga.
Valeriana Darwis
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p47-58

Abstract:Program Desa Mandiri Pangan (Desmapan) dilaksanakan sejak tahun 2006 dan desa yang sudah masuk tahap kemandirian sebanyak 825 desa. Salah satu tujuan program Demapan adalah mewujudkan ketahanan pangan dan mengurangi kemiskinan. Selama pelaksanaan terjadi penurunan kekurangan pangan pokok dari 39,77% menjadi 29,02%, menurunnya berat balita dibawah standar dari 2,35% menjadi 1,03%. Rumah tangga dengan kategori sangat miskin menurun sangat signifikan dari 15.54% menjadi 4,99% dan kategori miskin menurun dari 57.49% menjadi 42.24%. Dampak lainnya adalah peningkatan frekuensi makan, konsumsi pangan hewani, perbaikan akses ekonomi sandang, dan akses pelayanan kesehatan. Pemberdayaan rumah tangga miskin berdampak sangat positif terhadap kepercayaan diri, aspek gender dan kewirausahaan, yang selanjutnya berkontribusi positif terhadap pemanfaatan kapital dalam adopsi teknologi pengembangan usaha produktif keluarga. Pengentasan kemiskinan dalam kelompok afinitas dapat ditingkatkan lagi dengan cara penguatan kelembagaan kelompok, efektivitas pemberdayaan, dukungan sarana prasarana, komitmen pembinaan dan pendanaan lintas sektoral. Dukungan lintas sektoral harus dilibatkan dalam perspektif keberhasilan pengembangan kelompok afinitas dan pembangunan ekonomi desa dalam perspektif pertumbuhan inklusif untuk mempercepat pengentasan kemiskinanKata Kunci: Demapan, Pola Pikir, Ketahanan Pangan, Kemiskinan
Lia Budimulyati Salman, Ronny Rachman Noor, Asep Saefuddin, Chalid Talib
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p75-84

Abstract:Tujuan utama dalam pembuatan model kurva pertumbuhan adalah untuk deskripsi dan prediksi. Tujuan deskripsi merupakan upaya untuk bisa mempermudah interpretasi dari proses pertumbuhan ternak menjadi hanya beberapa parameter, sedangkan tujuan prediksi lebih fokus bagaimana metode untuk memprediksi dari beberapa parameter. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membuat model kurva pertumbuhan sapi perah Fries Hollands dari lahir sampai siap kawin yang sesuai dengan situasi dan kondisi skala industri peternakan sapi perah. Data bobot badan sapi betina yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil penimbangan bobot badan dari sapi perah Fries Hollands yang dipelihara oleh PT Taurus Dairy Farm Sukabumi dari tahun 2001 sampai 2011, sejumlah 1221 ekor, individu yang mempunyai data lengkap dari lahir sampai umur kawin pertama sebanyak 373 ekor. Sedangkan untuk data BPPTU Baturraden 214 ekor data kelahiran sampai ternak siap untuk dikawinkan pertama kali dari 2010 sampai 2011. Data dianalisis menggunakan program SAS 9.2 dengan prosedur NLIN (Non Linear). Kurva yang dihasilkan dapat dipakai sebagai standar kurva pertumbuhan sapi perah Fries Hollands di Indonesia dari lahir hingga siap kawin. Model matematik Logistic dapat dipakai untuk menduga kurva pertumbuhan karena mempunyai tingkat akurasi yang tinggi dengan nilai koefisien determinasi (R2) lebih dari 90%.
Abdullah Bin Arif, Wahyu Diyono
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p35-46

Abstract:Cempedak (Artocarpus champeden), merupakan salah satu jenis tanaman eksotis asli Indonesia. Rasa buahnya sangat manis dan legit, aromanya sangat wangi dan khas. Buah cempedak merupakan buah klimaterik yang tingkat ketuaannya tidak seragam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi pemeraman buah cempedak yang menghasilkan kematangan buah cempedak lebih seragam dan lebih cepat tanpa harus merubah karakter fisik dan kimianya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktor yang terdiri dari sepuluh (10) perlakuan pemeraman dengan dua ulangan. Perlakuan tersebut meliputi kontrol (tanpa perlakuan), pelukaan, karbit pada beberapa dosis 1, 2, 3, dan 4 g/kg buah (C1,C2, C3 dan C4) dan ethrel pada beberapa dosis (1000, 1500, 2000 dan 2500) ppm. Analisis statistik yang dilakukan meliputi analisis univariate dan multivariate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeraman dengan karbit dan ethrel dapat mempercepat pematangan buah cempedak lebih cepat 3 hari dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan pelukaan. Semakin tinggi dosis karbit dan ethrel nilai TPT dan kadar air cenderung semakin rendah, sebaliknya nilai vitamin C semakin tinggi dengan semakin tingginya dosis pada hari keempat setelah pemeraman. Perlakuan pemeraman dengan dosis karbit 2 dan 3 g/kg mempunyai kemiripan dengan perlakuan pemeraman ethrel 1500 dan 2000 ppm pada karakter total asam, vitamin C, total padatan terlarut dan kadar air setelah 7 hari pemeraman. Analisis univariate (anova) efektif dalam hal memberikan informasi mengenai perlakuan yang terbaik, sedangkan analisis multivariate (manova dan PCA) efektif dalam mengurangi/mereduksi jumlah variabel dan menentukan kemiripan suatu variabel.
Wawan Haryudi, Sri Suhesti
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p29-34

Abstract:Produktivitas nilam Indonesia relatif rendah dan beragam antar sentra produksi. Dalam rangka meningkatkan produktivitas nilam Indonesia, Balittro melakukan beberapa kegiatan pemuliaan nilam hasil eksplorasi dan diperoleh 25 aksesi. Dari 25 aksesi tersebut sudah dikarakterisasi, evaluasi dan seleksi terpilih lima aksesi nilam yang berpotensi produksi dan mutu tinggi sehingga dilakukan penelitian di tiga lokasi yang berbeda. Penelitian dilakukan di tiga agroekologi yaitu Bogor, Subang dan Sukabumi mulai Maret – Desember 2011, dengan tujuan untuk mengetahui karakter morfologi, hasil dan mutu lima aksesi nilam di tiga agroekologi. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) 5 ulangan dan 5 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah 5 aksesi nilam yaitu : GR3, GR4, PWK 1, BRS, CLP dan varietas Sidikalang sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah karakter pertumbuhan, hasil dan mutu. Karakter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang primer, sekunder dan jumlah daun. Karakter komponen hasil yaitu bobot basah dan bobot kering dan karakter mutu yaitu kadar minyak atsiri dan kadar patchouli alcohol. Data dianalisis secara statistik. Apabila hasil uji Anova nyata, maka akan diteruskan dengan uji lanjut DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara sifat genetik tanaman dan lingkungan tempat tubuh, terutama pada karakter pertumbuhan dan produksi yaitu karakter berat basah, berat kering, jumlah daun, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, lebar tajuk utara selatan dan barat timur, diameter batang dan lebar daun. Tinggi tanaman, tebal daun, panjang tangkai daun, dan panjang daun stabil, ditunjukkan dengan tidak nyatanya interaksi genotipe dengan lingkungan. Karakter mutu di tiga lokasi sangat bervariasi, di lokasi Bogor kadar minyak atsiri tertinggi pada aksesi PWK (2,45%) dengan patchouli alcohol 35,39 %. Sukabumi kadar minyak tertinggi pada aksesi CLP (2,03%) kadar patchouli alcohol 39,70. Di Subang kadar minyak atsiri aksesi PWK (2,56%) dengan kadar patchouli alcohol 39,70%.
Sutoro Sutoro
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p1-6

Abstract:Luas daun merupakan karakter tanaman yang penting untuk mempelajari aspek agronomi dan fisiologi. Pendugaan luas daun menggunakan peubah panjang dan lebar daun telah banyak digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan model penduga luas daun tanaman Koro pedang. Daun contoh bagian atas, tengah dan bawah tanaman diambil dari 10 tanaman Koro pedang yang dipilih secara acak dari pertanaman rejuvenasi benih plasma nutfah Koro pedang di kebun percobaan Cikeumeuh, Bogor. Pendugaan luas daun tanaman Koro pedang tiap tangkai (Y) dapat menggunakan Y = 2,6134 PLia (PLia=hasil kali peubah panjang dan lebar helai daun sebelah kiri atau kanan). Pendugaan luas daun dapat juga menggunakan peubah daun helai tengah dengan penduga Y=2,1774 PLt (PLt=panjang x lebar helai daun tengah). Metode pendugaan luas daun tanaman Koro pedang ini dapat digunakan dalam penelitian agronomi dan fisiologi tanaman yang mengukur luas daun tanpa harus memotong daun dari tanaman dan juga pada penelitian lapang yang jauh dari fasilitas pengukuran luas daun otomatis.
Rusli Burhansyah
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p65-74

Abstract:Salah satu permasalahan pembangunan pertanian adalah rendahnya tingkat adopsi inovasi pada tingkat petani dan permodalan. Pada tahun 2008 Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dilaksanakan bertujuan untuk masalah pembiayaan pertanian. Tingkat dan faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi pertanian penting dalam menentukan keberhasilan PUAP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dan faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi pertanian pada Gapoktan PUAP dan non PUAP di Kalimantan Barat. Kegiatan ini dilaksanakan tahun 2012 berlokasi di Kabupaten Landak dan Kabupaten Pontianak. Penelitian menggunakan pendekatan survei dengan Model Logit. Penentuan responden dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling yang meliputi petani eks penerima dana PUAP dan petani non penerima dana PUAP. Jumlah petani 120 petani responden. Tingkat adopsi inovasi Gapoktan PUAP secara umum berada tingkat sedang, komponen teknologi yang diadopsi antara lain; benih unggul, pemupukan, penggunaan traktor, pengendalian hama dan penyakit, alat panen dan pasca panen. Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi antara lain; jarak pemukiman lokasi usahatani, dan jarak pemukiman ke sumber teknologi. tingkat pendidikan, luas lahan dan aksesibilitas ke jalan raya, dan aksesibilitas ke sumber teknologi. Gapoktan PUAP mampu menaikkan produktivitas usahatani padi dibandingkan Gapokatan non PUAP secara langsung meningkatkan pendapatan usahatani.
Nfn Bursatriannyo
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p95-106

Abstract:In Conjunction with the increasing of plant genetic resources development, the number of accessions of the turmeric plant is also increasing, making it difficult to differentiate between varieties, due to similar appearances. This research aimed to develop an expert system to identify the varieties of turmeric (Turina-1, Turina2, and Turina-3). Knowledge acquisition for building the expert system is performed in conjunction with an expert from the Indonesia Spices and Medicinal Research Institute. The knowledge acquisition process resulted in 13 input variables to describe a variety. The input inference process divides these 13 variables into two types: fuzzy and non-fuzzy. The non-fuzzy variables are: color of flowers, the base of leaf, and the flesh color of the rhizome which were used to decide whether the input description represents a Turina-1, Turina-2, Turina-3 variety or a non-variety. The remaining 10 fuzzy variables are: number of flowers per stem, plant height, number of tillers, leaf length, leaf width, rhizome weight per hill, number of parent rhizome, the number of primary roots, secondary roots and the levels of curcuma, which are used to determine whether the input description represents a Turina-1, Turina-2 or Turina-3 variety, using the Mamdani method for Fuzzy Inference System (FIS). In the testing phase, we used 100 data, which were already labeled according to the decision by the expert. The result shows that the system was able to correctly identify 89 of the input data.
Lamretta Gultom, Ratna Winandi, Siti Jahroh
Published: 30 September 2016
Informatika Pertanian, Volume 23; doi:10.21082/ip.v23n1.2014.p7-18

Abstract:Pengembangan padi semi organik di Kecamatan Cigombong cukup berprospek. Namun, produktivitas padi semi organik di Kecamatan Cigombong masih tergolong rendah karena inefisiensi dalam penggunaan input atau faktor-faktor produksi. Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong; 2) menganalisis efisiensi teknis usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong; dan 3) menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh dalam usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong. Metode penelitian menggunakan fungsi produksi stochastic frontier dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE). Penelitian dilakukan di Kecamapatan Cigombong pada Bulan Januari 2013 hingga Desember 2013. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan jenis data cross section dan diperoleh melalui wawancara langsung kepada petani sampel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel luas lahan (X1), benih (X2), kompos (X3), urea (X4). dan tenaga kerja (X5) berpengaruh nyata terhadap produksi dengan nilai koefisien positif. Variabel luas lahan, kompos, dan urea berpengaruh nyata terhadap produksi padi semi organik pada tingkat kepercayaan 95%, benih berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 90%, dan tenaga kerja berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 85%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa usahatani padi semi organik yang dilakukan oleh petani responden di Kecamatan Cigombong tergolong efisien secara teknis (nilai mean efisiensinya sebesar 0,78). Status kepemilikan lahan merupakan sumber inefesiensi teknis yang berpengaruh nyata meningkatkan efisiensi teknis. Selain itu, usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong tergolong menguntungkan (keuntungan Rp 3.233.498,09) dan layak diusahakan (nilai R/C ratio atas biaya tunai sebesar 1,42 dan nilai R/C ratio atas biaya total sebesar 1,24).
Page of 10
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search