Journal Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri

-
91 articles
Page of 10
Articles per Page
by
Taufiq Hidayat Rs, Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 73-81; doi:10.21082/btsm.v9n2.2017.73-81

Abstract:Tanaman yute di Indonesia memiliki prospek dan peluang yang baik untuk dijadikan bahan baku industri karung goni, pulp dan kertas. Benih yute masih memiliki perkecambahan yang rendah karena secara morfologi memiliki kulit biji yang keras dan masa dormansi yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai teknik pematahan dormansi benih untuk meningkatkan daya berkecambah benih yute. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama terdiri atas aksesi benih yute (2005 dan 2006), faktor kedua terdiri atas media perkecambahan (kertas merang dan pasir), dan faktor ketiga terdiri atas perlakuan perendaman benih (tanpa perendaman, perendaman air suhu 80oC selama 1 jam, perendaman air suhu 80oC selama 2 jam, perendaman air suhu 80oC selama 3 jam, perendaman air suhu 27oC selama 12 jam, perendaman air suhu 27oC selama 20 jam dan perendaman air suhu 27oC selama 25 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara aksesi benih, media perkecambahan dan perlakuan benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase daya berkecambah, persentase benih keras dan panjang akar. Benih yute 2006 yang direndam air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang memiliki persentase keserempakan tumbuh terbaik (90,5%), daya berkecambah (90,1%), benih keras terendah (8,75%), tinggi plumula (3,88 cm) dan panjang radikula terbaik (3.89 cm). Persentase keserempakan tumbuh, daya berkecambah, persentase benih keras dan tinggi plumula tidak berbeda nyata antara dua aksesi benih yute. Perendaman benih dengan air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang mampu mematahkan dormansi dan meningkatkan daya berkecambah dua aksesi benih yute.The Techniques of Dormancy Breaking to Increase Seed Viability of Jute (Corchorus olitorius L.)Jute plants in Indonesia have prospects and opportunities to be used as raw materials for pulp and paper sack industries. Jute seeds have a low germination because they have hard seed shells and long dormancy periods. This study aims to determine the dormancy seed breaking technique to increase the germination level of jute seeds. The research method used a factorial completely randomized design. The first factor consisted of jute seed harvest in 2006 and 2005, the second factor consisted of germination media (paper and sand), and the third factor consisted of the treatment of seeds soaking (without soaking, soaking in 80oC water for 1 hour, in 80oC water for 2 hours, in 80oC water for 3 hours, in 27oC water for 12 hours, in 27oC water for 20 hours and in 27oC water for 25 hours). The results showed that the interaction between three factors gave a significant effect on the percentage of germination, percentage of hard seed and root length. The jute seed harvest in 2006 were soaked in 80ºC water for 3 hours and were germinated on paper media showed the best simultaneous growth percentage (90%), germination...
Elda Nurnasari, Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 64-72; doi:10.21082/btsm.v9n2.2017.64-72

Abstract:Serat alam yang berasal dari tanaman non-kayu dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu serat buah, serat batang dan serat daun. Masing-masing jenis serat alam tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Karakter kimia, fisik, maupun dinamik dari serat alam diperlukan untuk pengembangan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri strategis berbasis serat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik kimia serat buah (kapas), serat batang (abaka), dan serat daun (sisal), serta membahas peluang pemanfaatannya dalam industri berbasis serat alam. Informasi mengenai karakteristik kimia serat diperlukan sebagai dasar untuk pemanfaatan serat sebagai bahan baku dalam industri strategis. Data karakteristik kimia serat alam juga diperlukan sebagai dasar pembuatan produk-produk turunannya (diversifikasi produk) sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi produk tanaman serat. Analisis karakter kimia serat alam dilakukan dengan menggunakan metode Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk mendapatkan informasi tentang kandungan selulosa, hemiselulosa, holoselulosa, lignin, dan pentosan, serta kadar zat ekstraktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat buah kapas memiliki kandungan selulosa tertinggi (98,06%), serat batang abaka mempunyai kandungan lignin tertinggi (7,63%), sedangkan serat daun sisal mempunyai kandungan hemiselulosa tertinggi (21,97%). Kadar holoselulosa ketiga jenis serat hampir sama, yaitu antara 93,3–94,7%. Kadar zat ekstraktif (kelarutan alkohol-benzena, air panas dan air dingin) ketiga jenis serat termasuk kecil (<5%) yaitu antara 0,63–4,44%. Informasi tentang karakter kimia serat alam tersebut hendaknya dipadukan dengan informasi karakter fisik dan dinamik serat untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri strategis berbasis serat, misalnya kertas uang, biokomposit untuk industri automotif, biopolymer dan produk yang berbasis nano fiber.Chemical Characteristics of Boll, Bast, and Leaf FibersNon-wood natural fibers are categorized into three groups, viz. boll fiber, bast fiber and leaf fiber. Those natural fibers have specific characters. Chemical characters as well as physical and dynamical characters of the fibers are useful for their utilization in natural fiber based industries. This research aims are to analyse chemical characters of cotton boll fibers, bast fiber of abaca, and leaf fiber of sisal, as well as to discuss the possibility of their use in fiber based industries. The information of the fibers chemical characters is needed for developing their use as the main materials of strategic industries. The data are also useful for developing derivates products or product diversification, so that could be an added value of the natural fibers. The characterization of those fibers used Indonesian National Standard (SNI) methods to analyse the content of cellulose, hemi cellulose, holocellulose, lignin, and pentosan, as well as the extractive compounds. Result showed that cotton fiber has the highest cellulose...
Nunik Eka Diana, Sujak Sujak, Djumali Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 43-53; doi:10.21082/btsm.v9n2.2017.43-52

Abstract:Peningkatan produktivitas tebu diantaranya dapat dilakukan dengan pemupukan yang tepat. Penggunaan pupuk majemuk masih belum banyak digunakan pada tanaman tebu. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pupuk majemuk NPK terhadap produktivitas tebu dan pendapatan petani dilakukan di Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang pada November 2014 sampai dengan Oktober 2015. Efektivitas aplikasi pupuk majemuk (PM) dilakukan dengan menguji tujuh dosis pupuk yakni (1) PM 1 (100 N + 50 P2O5 + 60 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (2) PM 2 (120 N + 60 P2O5 + 72 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (3) PM 3(140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (4) PM 4 (100 N + 50 P2O5 + 60 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, (5) PM 5 (120 N + 60 P2O5 + 72 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, (6) PM 6 (140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, dan (7) PM 7 (80 N + 40 P2O5 + 48 K2O) + pupuk tunggal (100 N) kg/ha, (8) PM 8 (60 N + 60 P2O5 + 60 K2O) + Pupuk tunggal 120 N kg/ha (pembanding) dan (9) tanpa dipupuk (kontrol). Pengujian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan diulang empat kali. Pengamatan dilakukan pada parameter pertumbuhan dan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk majemuk (140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha menghasilkan efektivitas agronomis relatif (RAE) 144,27%, pendapatan bersih Rp.66.720.000,-/ha, nilai R/C ratio 1,84, dan peningkatan produktivitas tebu 36% lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi dosis pupuk pembanding.Effectivity of compound fertilizer application on sugarcane productivity andfarmer’sIncreased productivity of sugarcane can be done through balanced fertilization. In this case, the usage of compound fertilizers is still not use widely on sugarcane crops. The research aims to evaluate the effectiveness of compound fertilizer N20P10K12 on sugarcane productivity and farmer’s income. The research was done in Pakiskembar; subdistrict Pakis, Malang in November 2014 to October 2015. Seven doses of N20P10K12 fertilizers namely (1) 100 N + 50 P + 60 K +40 N single fertilizer kg/ha, (2) 120 N + 60 P + 72 K + 40 N single fertilizer kg/ha, (3) 140 N + 70 P + 84 K + 40 N single fertilizer kg/ha, (4) 100 N + 50 P + 60 K + 60 N single fertilizer kg/ha, (5) 120 N + 60 P + 72 K + 60 N single fertilizer kg/ha, (6) 140 N + 70 P + 84 K + 60 N single fertilizer kg/ha, dan (7) 80 N + 40 P + 48 K + 100 N single fertilizer kg/ha, (8) 60 N + 60 P + 60 K + 120 N single fertilizer kg/ha (a standard fertilizer application) and control (without fertilization) arranged in a randomized block design and replicated four times. Observations were made on parameters of growth and productivity. The results showed that the fertilizer application with dose 140 N + 70 P + 84 K (compound fertilizer) + 60 N single fertilizer kg/ha gave reltive agronomic effectiveness (RAE) 144.27%, net income Rp. 66.72 million/ha, R/C 1.84, and increased...
Duwi Yunitasari, Endah Kurnia Lestari, Nanik Istiyani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 10, pp 13-20; doi:10.21082/btsm.v10n1.2018.13-20

Abstract:Impor gula mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walaupun penelitian yang mendukung pencapaian swasembada gula telah banyak dilakukan, namun penelitian terkait analisis potensi suatu wilayah untuk pengembangan komoditas tebu belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi tebu dalam mendukung pencapaian swasembada gula di Kabupaten Bondowoso. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk menghitung share tebu terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan analisis Shift Share Esteban Marquillas untuk menghitung potensi/spesialisasi komoditas tebu di Kabupaten Bondowoso. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Bondowoso selama kurun waktu 2010–2015 mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi pada komoditas tebu, sehingga Kabupaten Bondowoso mempunyai peluang untuk keberlanjutan komoditas tebu ke depan. Strategi yang dapat dilakukan adalah membuka lahan-lahan perkebunan tebu baru di wilayah lain yang belum terdapat komoditas tebu seperti Kecamatan Binakal, Sempol, dan Pakem. Analysis of Sugar Cane Potential to Support the Achievement of SelfSufficiency of Sugar in Bondowoso DistrictSugar importation increases in the last decade. Several studies have been conducted to achieve self-sufficiency in sugar, but few studies have looked at whether a region/area has an excellence potenty for further sugarcane development. This study aims to analyze the sugarcane potency in supporting achievement of sugar self-sufficiency in Bondowoso District. The analysis method used in this research is quantitative analysis using dynamic system approach to calculate sugarcane share to Gross Regional Domestic Product, and Shift Share Esteban Marquillas analysis to calculate potency/specialty of sugar cane commodity in Bondowoso regency. The analysis showed that Bondowoso district during 2010-2015 has competitive advantage and specialization in sugarcane, so that Bondowoso district has an opportunity for sustainable sugarcane development in the future. Strategies that can be done is to open new sugarcane plantations fields in other regions that have no sugarcane plantation such as in Binakal, Sempol, and Pakem sub-district.
Abdurrakhman Abdurrakhman, Bambang Heliyanto, Djumali Djumali, Damanhuri Damanhuri, Noer Rahmi Ardiarini
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 10, pp 32-38; doi:10.21082/btsm.v10n1.2018.31-40

Abstract:Pengembangan tebu di Indonesia saat ini sebagian besar terdapat di lahan kering, oleh karena itu perakitan varietas toleran kekeringan merupakan suatu langkah yang bijaksana, karena merupakan pendekatan yang paling mudah aplikasinya dan ekonomis. Saat ini telah diperoleh beberapa genotipe harapan tebu untuk lahan kering. Penelitian ini bertujuan unuk mengkaji daya hasil genotipe tebu hasil persilangan untuk pengembangan di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngemplak, Pati dari bulan Januari sampai dengan November 2017, menggunakan 8 genotipe tebu yang berpotensi toleran kering dibandingkan dengan 2 varietas PS 864 dan Kenthung) sebagai pembanding. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Petak yang digunakan berukuran 5 m x 10 m, serta jarak pusat ke pusat (PKP) 1 m, atau 10 juring dengan panjang masing-masing 5 m. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang per meter juring, jumlah ruas, panjang batang, bobot batang, nilai brix nira batang bagian atas, tengah dan bawah, rendemen serta hasil hablur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh terhadap keragaan hasil tebu dan komponen hasilnya. Genotipe MLG 1308 mempunyai produksi hablur tertinggi diantara genotipe lain, 21% lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding PS 864 dan 156% dibandingkan dengan Kenthung. Dengan demikian genotipe MLG 1308 adalah genotipe harapan untuk pengembangan tebu di lahan kering Yield Test of Potential Genotypes of Sugarcane in Dry ConditionsSugarcane cultivation in Indonesia have been mostly done in dry lands, therefore consructing tolerant varieties to dry-agro-ecological condition is a wise decision as it is easily applicable and economically feasible. Currently, some genotypes tolerant to dry condition have been identified. This research was aimed to test the yield performance of potentially drought tolerant genotypes. The reserch was done in Research Station Ngemplak, Pati on January to December 2018, used 8 genotypes and two varieties (PS 864 and Kenthung) as comparision varieties. The research used randomized block design with 3 replicates. Plot size was 5 m x 10 m and the distance from center to center was 1 m, 10 rows with length 5 m per row. The parameters observed were plant height, stem diameter, number of stalk per m row, number of internode per stalk, length and weight of stalk, upper stem brix, mid and lower, sugar content/sucrose content and sugar yield per ha. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Duncan Multiple Range Test at 5% level. Results showed that genotypes affected the performances of yield and its component characters. MLG 1308 showed the highest sugar yield per ha among the other genotypes, 21 % and 156 % higher than that of variety PS 864 and Kenthung varieties, respectively. Therefore, genotype MLG 1308 is considered as a promising genotype to support the development of sugarcane in dry areas.
Kristiana Sri Wijayanti, Bambang Tri Rahardjo, Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 54-63; doi:10.21082/btsm.v9n2.2017.53-62

Abstract:Penyakit puru akar pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas serat. Kolonisasi rizobakteri dalam rizosfer berperan sebagai antagonis yang dapat dimanfaatkan dalam ketahanan tanaman terhadap patogen. Peran rizobakteri sebagai bioprotektan dapat menurunkan populasi nematoda yang akan mempengaruhi perkembangan patogen penyebab penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rizobakteri yang potensial dalam meningkatkan ketahanan tanaman kenaf terhadap infeksi nematoda Meloidogyne spp. melalui pembentukan metabolit sekunder diantaranya kandungan total fenol dan asam salisilat. Aplikasi rizobakteri dengan cara perendaman dan tanpa perendaman baik secara tunggal maupun konsorsium. Rizobakteri yang digunakan terdiri dari 3 jenis yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, dan Azotobacter sp. Pengamatan kandungan total fenol dan asam salisilat diamati pada 15 dan 25 hari setelah inokulasi dengan menggunakan alat spektrofotometer. Peningkatan total fenol dan asam salisilat tertinggi diperoleh ketika benih kenaf direndam dengan bakteri P. fluorescens berturut-turut sebesar 513,45% dan 235,99%. Terdapat peningkatan bobot kering tanaman kenaf dengan aplikasi rizobakteri dibandingkan dengan kontrol. Effect of Rhizobacteria in Content of Salicylic Acid and Total Phenol of Kenaf Against Nematodes Infections Root knoot disease of kenaf caused by nematodes Meloidogyne spp. is an important disease since it lowers quality and quantity of the fiber. Colonization of rhizobacteria in rhizosphere acts as an antagonist that can be utilized in plant resistance to pathogens. The role of rhizobacteria as a bioprotectan could reduce nematode population, and thus affect development of the disease. This study aimed to evaluate the potency of rhizobacteria in improving kenaf resistance against root knot nematode by inhibiting the production of total phenols and salicylic acid. Application of rhizobacteria was done by soaking or without soaking kenaf seeds either singly or in consortium. There were three rhizobacteria used in this study, i.e: Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, and Azotobacter sp. The content of total phenols and salicylic acid was observed at 15 and 25 days after inoculation using a spectrophotometer. The highest elevation level of total phenols and salicylic acid was obtained when kenaf seeds were soaked in P. fluorescens 513,45% and 235,99% respectively. There is an increase dry weight of kenaf with aplication of rhizobacteria compared with controls.
Sujak Sujak, Dwi Adi Sunarto, Subiyakto Subiyakto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 10, pp 21-31; doi:10.21082/btsm.v10n1.2018.21-30

Abstract:Program pengembangan tebu saat ini diarahkan ke lahan kering yang memiliki ketersediaan air dan kesuburan tanah terbatas. Kondisi lahan kering dapa menjadi pembatas produktvitas tebu. Penambahan biomassa ke lahan dapat meningkatkan kesuburan dan populasi arthropoda tanah/detrivora. Penelitian penambahan biomassa Crotalaria juncea pada lahan kering dilaksanakan di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo mulai bulan Januari–Juli 2015. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa pengaruh penambahan biomassa pada lahan kering terhadap diversitas arthropoda tanah dan pengaruhnya terhadap produksi tebu. Perlakuan terdiri atas lahan dengan penambahan biomassa (serasah tebu dan pupuk hijau C. juncea) dan lahan yang tanpa penambahan biomassa. Pengamatan kelimpahan arthropoda tanah dan tingkat diversitas dilakukan dengan pemasangan pitfall traps dan yellow pan traps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Collembola dan Hymenoptera merupakan arthropoda tanah yang dominan. Indeks diversitas arhropoda tanah pada lahan dengan penambahan biomassa lebih tinggi (0,82–0,84) dibandingkan pada lahan tanpa penambahan biomassa (0,75–0,79). Penambahan biomassa pada tahun pertama dapat meningkatkan kandungan C Organik tanah dari 0,76 menjadi 1,06, dan meningkatkan kandungan N dari 0,03 menjadi 0,11, serta meningkatkan produksi tebu dari 70,4 ton/ha menjadi 101,4 ton/ha. Untuk memperbaiki kondisi ekosistem lahan kering diperlukan penambahan biomassa secara terus menerus.Effect of Biomass Addition in Dry Land to Diversity of Soil Arthropods and Productivity of SugarcaneThe current sugarcane development program is directed to dry lands that have limited water availability and soil fertility, thereby limiting the productivity of sugarcane. In order to restore soil fertility and reduce the evaporation of groundwater, addition of biomass in the form of trash (dried leaves) of sugarcane as well as the addition of green manure (Clotalaria juncea) is needed. Biomass addition to the land could increase soil fertility and the population of soil arthropods/detrivores. The experiment was conducted on dry land at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January 2015–July 2015. The purpose of this research was to analyze the effect of biomass addition to the diversity of soil arthropods and sugarcane productivity. Treatments consisted of land with the addition of biomass (sugarcane/sugarcane and green manure C. juncea) and control. Observation of the abundance of soil arthropods and diversity level was done by setting pitfall traps and yellow pan traps, observation was done monthly. The results showed that the order of Collembola and Hymenoptera were dominant arthropods. The diversity index of ground arhropods on the land with biomass increments was higher (0.82–0.84) than that in the land without biomass addition (0.75–0.79). The addition of biomass in the first year succeeded in increasing the organic C content of soil from 0.62 to 1.06 and increasing the production...
Elda Nurnasari, Ahmad Dhiaul Khuluq
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 82-92; doi:10.21082/btsm.v9n2.2017.82-92

Abstract:Tanaman penghasil serat alami dari genus Hibiscus yang cukup populer di Indonesia adalah rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Nilai kemanfaatan rosela sangat luas baik untuk pangan dan kesehatan, sehingga potensi diversifikasi rosela cukup besar. Tujuan penulisan review ini adalah untuk memberikan informasi kandungan fitokimia potensial tanaman rosela herbal yang memiliki efek farmakologis dan fisiologis serta beberapa diversifikasi produk makanan, minuman dan produk kesehatan. Bagian tanaman rosela herbal yang memiliki kandungan fitokimia potensial adalah daun, buah, biji, batang dan akar. Senyawa fitokimia potensial tersebut meliputi kelompok senyawa fenol, alkaloid, tannin, flavonoid, saponin, dan asam organik. Fungsi rosela herbal secara farmakologis dan fisiologis diantaranya memiliki aktivitas antibakteri, antifungal, aktivitas antiinflamasi, antidiabetes, aktivitas antioksidan, dan aktivitas antihipertensi. Diversifikasi produk rosela herbal meliputi nanokapsul ekstrak rosela, pewarna alami, pangan fungsional, obat herbal, feed additive, bahan kosmetik, minyak goreng, cat, dan bahan bakar nabati. Inovasi teknologi proses produksi dalam diversifikasi produk rosela perlu terus dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan optimalisasi pemanfaatan komponen bioaktif rosela herbal. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan produksi rosela herbal nasional. Potential Divercification of Herbs Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) for Food and HealthPlants of the genus Hibiscus that produce natural fibers are roselle (Hibiscus sabdariffa L.). The benefit value of roselle is very wide for food and health, so the potential of roselle product diversification is quite large. The purpose of this review provides information on potential phytochemical content of herbs roselle plants that have pharmacological and physiological effects as well as some product diversification for food, drink, and health product. The plant part of herbs roselle that has potential phytochemical content is leaves, fruit, seed stem and root. These potential phytochemical compounds include groups compounds of phenol, alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, and organic acids. The functions of herbs roselle for pharmacological and physiological include antibacterial, antifungal, anti-inflammatory activity, antidiabetic activity, antioxidant activity, and antihypertensive activity. Products diversification of herbs roselle includes nanocapsul of roselle extract, natural dyes, functional foods, herbal medicines, feed additives, cosmetic ingredients, cooking oil, paints, and biofuels. The innovation technological of production process in the roselle product diversification needs to be continuously done to increase the added value and optimization of bioactive herb component utilization. Therefore it is expected to improve the welfare of farmers and national production of herbs roselle.
Fatkhur Rochman, Ruly Hamida
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 15-23; doi:10.21082/btsm.v9n1.2017.15-22

Abstract:Tembakau lokal tulungagung merupakan salah satu jenis tembakau yang memiliki peran penting dalam industri rokok kretek di Indonesia. Beberapa varietas tembakau telah banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Tulungagung, tetapi tingkat heterogenitas tanaman cukup tinggi, baik secara morfologi maupun anatomi. Stomata merupakan salah satu bagian struktur daun yang sering digunakan dalam klasifikasi taksonomi sehingga informasi keragaman sifat morfologi, stomata dan kadar klorofil dapat dimanfaatkan pemulia tanaman untuk melakukan perakitan varietas baru dengan produktivitas sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari keragaan sifat morfologi, stomata, dan kadar klorofil serta produktivitas tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada bulan April sampai Oktober 2015. Bahan penelitian terdiri atas 6 varietas tembakau yang sudah lama berkembang di Tulungagung, yaitu varietas Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, dan Rejeb Jae. Tiap-tiap varietas ditanam pada petak berukuran 12 m x 4,50 m dengan jarak tanam 60 cm x 90 cm (100 tanaman/petak). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 varietas tembakau yang diteliti mempunyai bentuk morfologi yang beragam. Varietas Rejeb arang memiliki nilai tertinggi pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun, dan pajang daun, sehingga dapat menunjang produktivitas tanaman. Tipe stomata Rejeb Arang adalah Amphibraci-parasitik, Rejeb Kereb dan Gagang Jae Diasitik, Gagang Sidi dan Gagang Ijo bertipe Anisositik sedangkan Gagang Jembrak bertipe Laerositik. Kerapatan stomata tertinggi pada Gagang Jae (44,87/mm2) dan kadar klorofil tertinggi pada varietas Rejeb Arang (34,85 unit).Performance of Morphological, Stomata, and Chlorophyll Characters of Six Tulungagung Local Tobacco Variety Tulungagung tobacco is one type of tobacco that has an important role in the cigarette industry in Indonesia. Some varieties of tobacco have been cultivated in Tulungagung, but the heterogeneity degree of the plant is quite high, so that the information of diversity of morphology, stomata and chlorophyll can be utilized to carry out the assembly of new varieties with productivity in accordance to customer needs. The aim of research is study the morphological properties, stomata, chlorophyll content, and crop productivity. This research was conducted in the village of Kendalbulur, District Boyolangu, Tulungagung, from April to October 2015. The research material consisted of six varieties of tobacco has long been developing in Tulungagung, ie Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, and Rejeb Jae. Each variety was grown on plots sized 12 m x 4.50 m with plant spacing of 60 cm x 90 cm (100 plants/plot). This study used a randomized complete block design with three replications. The results showed that six varieties of tobacco...
Anggri Hervani, Rina Kartikawati, Miranti Ariani, Prihasto Setyanto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, Volume 9, pp 10-14; doi:10.21082/btsm.v9n1.2017.10-14

Abstract:Expansion of sugarcane areal to support enhancement production and fulfilment target of self-sufficiency for national sugar should be conducted to see environment impact, particularly related to greenhouse gases emission. The objective of this study was to figure out N2O emission from conventional sugarcane plantation by farmer in rainfed area. The observation of N2O gas was carried out in sugarcane plantation in Sidomukti Village, Jaken District, Pati, Central Java. Sampling of N2O gas was conducted by close chamber method. The study showed that maximum fluxes of sugarcane plantation before and after fertilizer application are 4.011 and 223 µg N2O m-2 day-1. Meanwhile, after fertilizer application the maximum and minimum fluxes of N2O are 6.408 and 25 µg N2O m -2 day-1. N2O emission from sugarcane plantation recorded in rainfed area as 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1 year-1 with potential of global warming number as 1.31 ton CO2-e per hectar per year.Emisi N2O dari Pertanaman Tebu di Lahan Tadah HujanPerluasan areal tanam tebu untuk mendukung peningkatan produksi dan pemenuhan target swasembada gula nasional sudah dianggap perlu untuk melihat dampak lingkungan khususnya mengenai evaluasi emisi gas rumah kaca dari pertanaman tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui emisi gas N2O dari sistem pertanaman tebu secara konvensional petani di lahan tadah hujan. Pengamatan gas N2O dilakukan pada lahan perkebunan tebu di desa Sidomukti Kecamatan Jaken Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Pengambilan sampel N2O menggunakan metode sungkup tertutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks maksimum pada pertanaman tebu sebelum pemupukan sebesar 4,011 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 223 µg N2O m -2 hari-1, sedangkan fluks maksimum setelah pemupukan sebesar 6,408 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 25 µg N2O m -2 hari-1. Emisi N2O pertanaman tebu sebesar 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1tahun-1 dengan nilai potensi pemanasan global sebesar 1.31 ton CO2-e per hektar per tahun.
Page of 10
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search