Journal Jurnal Riset Akuakultur

-
463 articles
Page of 47
Articles per Page
by
Fitriyah Husnul Khotimah, Gusti Ngurah Permana, Ibnu Rusdi, Bambang Susanto
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 39-46; doi:10.15578/jra.13.1.2018.39-46

Abstract:Masalah utama yang umum terjadi pada produksi benih abalon adalah kematian yang tinggi (> 90%) setelah abalon menempel pada plate pemeliharaan. Penggunaan pakan dalam bentuk tepung untuk mengganti diatom sebagai pakan postlarva beberapa spesies ikan, udang, dan abalon sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pakan dalam bentuk tepung yang sesuai dan efektif untuk mendukung sintasan dan pertumbuhan larva abalon Haliotis squamata. Percobaan terdiri atas lima perlakuan pakan pada pemeliharaan larva abalon yaitu tepung Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., Gracilaria sp., dan diatom (kontrol). Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Pakan berupa tepung yang digunakan pada masing-masing perlakuan, terlebih dahulu dicampur merata dengan larutan tepung agar (7,5 mg/mL dalam air laut; suhu 40°C) dengan konsentrasi tepung 40 mg/mL larutan agar. Pemberian pakan dilakukan setiap tiga hari dengan cara menyemprotkan larutan pakan pada permukaan plate pemeliharaan larva. Penelitian dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan larva abalon yang diberi pakan tepung Spirulina sp. paling tinggi dan berbeda nyata (P0,05). Laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon tertinggi diperoleh pada larva yang diberi pakan tepung Gracilaria sp. (203,81 ± 1,23 µm/hari) dan Spirulina sp. (205,59 ± 1,71 µm/hari). Nilai laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon yang paling rendah dijumpai pada larva yang diberi pakan tepung Ulva sp. (146,07 ± 1,73 µm/hari).The most common problem in abalone seed production is the high mortality occurrence (> 90%) after postlarvae settlement to the rearing plates. The use of microparticle diets to replace the natural feed of postlarval has been performed on various species of fish, shrimp, and abalone. This research aims to determine the most effective and suitable powder-based feed to support the survival and growth of abalone Haliotis squamata larvae. The experiments consisted of five feed treatments, i.e., Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., and Gracilaria sp. Flour, and diatoms (as control). Each treatment had four replicates. The powder-based feed used in each treatment was firstly mixed with a solution of agar powder (7.5 mg/mL sea water, 40°C) with a concentration of 40 mg of flour/mL of agar solution. Feeding was done every three days by spraying the feed solution onto the surface of the larval rearing plate. The study was conducted for 30 days. The results showed that survival rate of abalone larvae fed with Spirulina sp. flour was the highest and significantly different (P0.05). The highest daily growth rate of the shell length of abalone larvae was achieved by larvae fed with Gracilaria sp. (203.81 ± 1.23 ¼m/day) and Spirulina sp. flours (205.47 ± 1.71 µm/day). The lowest daily growth rate of shell length was found on abalone larvae fed with Ulva sp. flour (146.07 ± 1.73 µm/day).
Isti Koesharyani, Lila Gardenia, Zakiyah Widowati, Khumaira Khumaira, Dita Rustianti
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 85-92; doi:10.15578/jra.13.1.2018.85-92

Abstract:Ikan nila atau Oreochromis niloticus merupakan ikan konsumsi masyarakat di Indonesia. Kasus kematian massal ikan nila terjadi di beberapa lokasi budaya di Jawa, Lombok, dan Sumatera yang disebabkan oleh infeksi Orthomyxovirus, dan disebut sebagai Tilapia Lake Virus (TiLV). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi adanya infeksi TiLV dengan metode semi-nested Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) pada kasus kematian massal ikan nila. Lokasi pengambilan sampel di Desa Sigerongan Kecamatan Lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Analisis deteksi RT-PCR menggunakan sampel organ otak, ginjal, limpa, dan hati, selanjutnya dilakukan sekuensing. Hasil pengamatan terhadap gejala klinis terhadap ikan nila moribund terlihat kondisi mata yang buram/katarak, serta cekung, abrasi kulit, serta perubahan warna tubuh menjadi lebih gelap. Hasil analisis RT-PCR menunjukkan bahwa kejadian kematian massal pada ikan nila suspektif diakibatkan oleh infeksi RNA virus TiLV. Analisis sekuensing menunjukkan bahwa TiLV dari sampel ikan nila di Lombok mempunyai kesamaan identitas genetik 97% dengan TiLV asal Israel (Genebank Accession Number KU 751816.1).Oreochromis niloticus is the main consumption fish commodity in Indonesia. The mortality cases of Nile tilapia have occurred in several culture sites in Java, Lombok, and Sumatra due to the infection of Orthomyxovirus, Tilapia Lake Virus (TiLV). The purpose of this study was to detect the presence of TiLV infection in mass mortality case of Nile tilapia culture using the semi-nested Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Fish samples were sourced from Segerongan Village Lingsar District, Lombok, West Nusa Tenggara. For RT-PCR analysis, samples from fish brain, kidney, spleen, and liver were collected and treated for sequencing analysis. The visual observation on the moribund tilapia had found several specific clinical symptoms such as eye cataract with sunken eyes, skin abrasion, and darkened body coloration. The result of RT-PCR analysis showed that mass mortalities of tilapia fish had been suspective caused by the infection TiLV RNA virus. The sequencing analysis showed that TiLV samples from Lombok have a genetic similarity of 97% with TiLV from Israeli (Genebank Accession Number KU 751816.1).
Sari Budi Moria Sembiring, Ida Komang Wardana, Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 21-28; doi:10.15578/jra.13.1.2018.21-28

Abstract:Tujuan penelitian adalah menguji efisiensi pembesaran juvenil teripang pasir, Holothuria scabra dan benih abalon, Haliotis squamata pada sistem polikultur. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol. Wadah percobaan berupa bak fiber volume 1 m3, abalone dipelihara dalam keranjang plastik ukuran 45 cm x 45 cm x 25 cm sebanyak dua buah/bak, sedangkan teripang dipelihara di dasar bak dengan sistem air mengalir. Kepadatan abalon 50 ind./keranjang dan teripang 100 ind./bak. Ukuran panjang dan bobot juvenil teripang yang digunakan adalah 3,17 ± 0,77 cm; 1,74 ± 0,64 g; dan benih abalone 3,16 ± 0,48 cm dan 4,82 ± 0,87 g. Jenis pakan abalon berupa rumput laut Gracilaria sp. dan Ulva sp. sedangkan teripang diberi pakan berupa bentos selama enam bulan pemeliharaan. Sebagai perlakuan adalah pemeliharaan teripang dan abalon: A (tanpa pemberian bentos), B (ditambah bentos), dan C (ditambah bentos dan tanpa abalon), masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, sintasan, kualitas air, dan kandungan proksimat feses abalon. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan juvenil teripang pasir berbeda nyata (P0,05). Pertumbuhan bobot benih abalon berbeda nyata antar perlakuan (P0,05). Produktivitas polikutur pada perlakuan A mencapai 208,54 g untuk teripang dan 4.656 g untuk abalon; diikuti perlakuan B mencapai 118,55 g untuk teripang dan 3.493 g untuk abalon dan perlakuan C sebesar 34,50 g.The aim of the research was to examine the grow-out efficiency of sea cucumber, Holothuria scabra, and abalone, Haliotis squamata fry in a polyculture system. The research was conducted in the Institute for Mariculture Research and Fisheries Extension, Gondol. Containers used in this research were nine fiberglass tanks each with a volume of 1 m3. The abalone fry were reared in two baskets sized 45 cm x 45 cm x 25 cm while sea cucumber fry were reared on the bottom of the tank and. Water exchange used a flow-through system. The density of abalone was 50 fry/basket and sea cucumber was 100 fries/tank. The averages of length and body weight of sea cucumber were 3.17 ± 0.77 cm and 1.74 ± 0.64 g, respectively. The abalone fry had the averages of length and body weight of 3.16 ± 0.48 cm and 4.82 ± 0.87 g, respectively. Feeds used for the abalone fry were Gracilaria sp. and Ulva sp. while for sea cucumber was benthos. These feeds were used during the six months of the research. Treatments were grow-out of sea cucumber and abalone: A (without benthos), B (with benthos), and C (with benthos but without abalone), each treatment had three replicates. Parameters measured were growth and survival rate, water quality, and proximate analysis of abalone feces. The results showed that the growth of sea cucumber was significantly different (P0.05). The growth of body weight of abalone was significantly different (P0.05). The productivity of polyculture in treatment A reached 208.54 g for sea cucumber and...
Samuel Lante, Andi Tenriulo, Andi Parenrengi
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 11-20; doi:10.15578/jra.13.1.2018.11-20

Abstract:Udang windu transgenik merupakan udang hasil rekayasa dengan mengintroduksikan gen antivirus yang diisolasi dari udang windu untuk menghasilkan fenotipe yang lebih baik. Domestikasi udang transgenik telah dilakukan dan berhasil memijah/bertelur, tetapi umumnya telurnya infertil yang disebabkan tidak terjadinya pembuahan di tambak pemeliharaan. Udang betina tidak kawin ditandai tidak membawa spermatofor di telikumnya. Upaya untuk mendapatkan telur fertil udang dengan inseminasi buatan (IB) perlu dilakukan. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi performa reproduksi udang betina transgenik dan mutu larva yang dihasilkan pasca IB menggunakan sumber spermatofor yang berbeda. Penelitian ini dirancang dengan tiga perlakuan yaitu: IB menggunakan spermatofor udang windu jantan transgenik (SJT), spermatofor udang windu jantan alam Sulawesi Selatan (SulSel) (SJS) dan spermatofor udang windu jantan alam Aceh (SJA). IB dilakukan pada udang windu betina transgenik setelah dua hari moulting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang windu betina transgenik pasca IB perlakuan SJT menghasilkan total telur fertil sebanyak 766.949 butir, perlakuan SJS 535.644 butir dan perlakuan SJA 678.016 butir dengan daya tetas telur fertil yaitu: pada SJT, SJS, dan SJA masing-masing adalah 53,5%; 53,7%; dan 55,0%. Uji vitalitas larva dengan perendaman dalam larutan formalin 150-200 mg/L, perendaman air tawar: 5-15 menit, dan pengeringan 3-9 menit menghasilkan sintasan larva udang yang relatif sama pada ketiga perlakuan. Nilai morfologi larva perlakuan SJT, SJA, dan SJS adalah masing-masing 85,0; 84,5; dan 75,0. Dari hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa performa reproduksi udang windu betina transgenik dan mutu larva yang dihasilkan pasca IB tidak dipengaruhi oleh sumber spermatofor induk udang windu jantan Penaeus monodon.Transgenic tiger shrimp, Penaeus monodon has been developed in the last decade to equip shrimp with immunity against viral diseases. However, the effort to produce large quantities of specific pathogen resistance (SPR) tiger shrimp seed is hampered by several constraints in the domestication process. The successfulness of domesticated broodstock in producing larvae is very low due to low fertilization rate. An artificial insemination (AI) offers a solution to increase fertilization rate in crustacean. This study was aimed to evaluate the reproductive performance of female transgenic tiger shrimp broodstock and their larval quality after artificially inseminated with males from different sources. The spermatophores of male from different sources i.e. transgenic male spermatophore (SJT), wild male from South Sulawesi (SJS), and wild male from Aceh (SJA) were collected through electric shock and inseminated to female transgenic broodstock two days after moulting. The results showed that the total numbers of fertile eggs produced from SJT, SJS, and SJA treatment were 766,949 pcs; 535,644 pcs; and 678,016 pcs, respectively and not significantly different...
Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum, Andi Parenrengi, Bunga Rante Tampangallo, Ike Trismawanti
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 77-84; doi:10.15578/jra.13.1.2018.77-84

Abstract:Peningkatan produksi udang windu Penaeus monodon terus diupayakan, salah satunya dengan peningkatan respons imun udang terhadap infeksi penyakit WSSV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun udang terhadap pemberian vaksin dsRNA VP-24 pada berbagai dosis. Konstruksi vaksin dsRNA VP-24 dilakukan menggunakan Megascript kit dengan DNA genom VP-24 sebagai template. Vaksinasi dilakukan dengan metode injeksi pada udang windu yang berukuran rata-rata 15,88 ± 3,50 g; dosis vaksin yang diujikan adalah 0,02 µg; 0,2 µg; 2 µg; dan sebagai kontrol adalah udang yang tidak diberi vaksin. Penelitian terdiri atas empat perlakuan dosis vaksin dengan masing-masing dua ulangan dan dipelihara selama lima hari. Uji tantang dilakukan selama enam hari dengan menginjeksi virus WSSV dalam saline solution (1:3 v/v). Pengamatan terhadap sintasan udang windu dilakukan setiap hari, sedangkan penghitungan total hemocyte (THC) dan ProPO diamati pada hari I, III, dan VI setelah diinfeksi WSSV. Pada akhir pengujian dilakukan pengambilan jaringan hepatopankreas untuk analisis histopatologi. Analisis data dilakukan secara statistik dengan analisis ragam (ANOVA). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa injeksi vaksin dsRNA VP-24 dengan dosis 0,2 µg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sintasan dan respons imun udang windu (P
Usman Usman, Kamaruddin Kamaruddin, Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 29-38; doi:10.15578/jra.13.1.2018.29-38

Abstract:Adanya molting death sindrom yang umumnya terjadi pada stadia zoea-5 ke megalopa dan ke krablet-1 pada kepiting bakau, Scylla olivacea, diduga berkaitan dengan ketidakcukupan nutrien yang dikonsumsi larva, sehingga perlu dicobakan penggunaan pakan buatan (mikro) pada stadia tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum penggunaan pakan mikro (micro diet, MD) untuk mensubstitusi penggunaan nauplius Artemia (Art) dalam pemeliharaan larva kepiting bakau. Hewan uji yang digunakan adalah larva kepiting bakau stadia zoea-4—5. Hewan uji tersebut dipelihara dalam wadah bak fibre berisi air laut 150 L dengan kepadatan 12 ind./L. Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian pakan uji berupa: nauplius Artemia sebanyak 100% (100% Art), nauplius Artemia 75% + pakan mikro 25% (75% Art + 25% MD), nauplius Artemia 50% + pakan mikro 50% (50% Art + 50% MD), nauplius Artemia 25% + pakan mikro 75% (25% Art + 75% MD), dan pakan mikro 100% (100% MD). Pemberian pakan uji dilakukan pada pagi dan sore hari selama 15 hari pemeliharaan (hingga larva mencapai stadia krablet-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan nauplius Artemia 50% + pakan mikro 50% didapatkan sintasan krabet-1 tertinggi (5,6%) dan berbeda nyata (
Suprapti Suprapti
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 1-8; doi:10.15578/jra.13.1.2018.1-8

Taukhid Taukhid, Tuti Sumiati, Septyan Andriyanto
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 67-76; doi:10.15578/jra.13.1.2018.67-76

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode aplikasi vaksin trivalen yang memberikan level proteksi terbaik untuk pencegahan penyakit bakteri potensial; motile aeromonas septicemia (MAS), streptococcosis, dan mycobacteriosis pada budidaya ikan air tawar. Vaksin trivalen yang dicobakan merupakan campuran dari tiga jenis antigen, yaitu Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 (Ah), Streptococcus agalactiae N14G (Sa), dan Mycobacterium fortuitum 31 (Mf) dengan formulasi 2 Ah : 2 Sa : 1 Mf (v/v). Ikan uji yang digunakan adalah ikan lele, nila, dan gurami; masing-masing jenis ikan tersebut merupakan representasi ikan yang rentan terhadap penyakit MAS, streptococcosis, dan mycobacteriosis. Perlakuan yang diterapkan adalah metode aplikasi dengan menggunakan vaksin trivalen melalui: (A) perendaman, (B) pakan, (C) perendaman + booster, (D) pakan + booster, dan (E) tanpa pemberian vaksin sebagai kontrol. Efektivitas metode aplikasi vaksin tersebut dievaluasi melalui nilai titer antibodi spesifik dan relative percentage survival (RPS) pasca uji tantang terhadap patogen target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RPS dari metode aplikasi vaksin trivalen pada ketiga jenis ikan uji yang mencapai nilai ³ 50% secara keseluruhan hanya diperoleh pada aplikasi melalui rendam + booster. Oleh karena itu, metode aplikasi tersebut dapat direkomendasikan untuk digunakan pada pembudidaya ikan air tawar.This study aims to obtain a method of application of trivalent vaccine that gives the best level of protection for prevention of potential bacterial diseases such as motile Aeromonas septicemia (MAS), streptococcosis, and ycobacteriosis in freshwater fish culture. The trivalent vaccine is a mixture of three types of antigens, namely Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 (Ah), Streptococcus agalactiae N14G (Sa), and Mycobacterium fortuitum 31 (Mf) with the formulation of 2 Ah: 2 Sa: 1 Mf (v / v). The test fish used were catfish, tilapia, and giant gourami; each fish is a representation of fish vulnerable to MAS, streptococcosis, and mycobacteriosis. The applied treatments were the application methods of trivalent vaccine through (A) immersion, (B) feed, (C) immersion + booster, (D) feed + booster, and (E) without vaccine as the control. The effectiveness of vaccine application methods was evaluated through the value of specific antibody titer and relative percentage survival (RPS) post-challenge test against the target pathogens. The results showed that overall, the RPS value of > 50% on all three test fish species was obtained only by the vaccine application through soak + booster. Therefore, the application method can be recommended to be used in freshwater fish culture.
Andi Parenrengi, Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum, Andi Tenriulo, Agus Nawang
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 57-65; doi:10.15578/jra.13.1.2018.57-65

Abstract:Infeksi white spot syndrome virus (WSSV) dapat menyebabkan kematian massal pada budidaya udang windu Penaeus monodon di Indonesia. Infeksi yang terjadi secara sistematis tersebut disebabkan oleh peran gen nucleocapsid viral protein (VP-15). Upaya pengembangan gen VP-15 WSSV untuk menginduksi respons imun dan menetralisasi terhadap infeksi WSSV pada udang windu perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan merekombinasikan gen penyandi VP-15 WSSV sebagai vaksin dsRNA, serta menganalisis aplikasinya pada udang windu. Gen VP-15 diisolasi dari udang windu yang terinfeksi WSSV, dikloning ke dalam suatu vektor dan ditransformasikan ke sel kompeten (bakteri Escheria coli DH5a). Plasmid diisolasi untuk mengonfirmasi insert region gen VP-15 melalui sekuensing nukleotida. Pembuatan vaksin rekombinan dilakukan secara in-vitro menggunakan kit MEGAscript RNAi dan diaplikasikan ke udang windu melalui metode injeksi dengan dosis tunggal 0,2 µg dan kontrol (tanpa injeksi vaksin). Hewan uji yang digunakan berukuran panjang 14,75±3,17 g dan bobot 11,64±0,76 cm; serta dipelihara pada wadah bak fiber volume 250 L dengan kepadatan 10 ekor/bak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen penyandi VP-15 telah diisolasi dari udang windu dan vaksin rekombinan telah dihasilkan secara in-vitro. Analisis sekuens nukleotida memperlihatkan bahwa sisipan gen DNA VP-15 sebesar 253 bp dan menunjukkan kemiripan yang tinggi (99%) pada GenBank. Penggunaan vaksin rekombinan dsRNA dengan dosis 0,2 µg memperlihatkan sintasan udang windu yang dapat mencapai 40,0% dibandingkan dengan kontrol hanya 3,3% (peningkatan 36,7%). Gambaran histopatologi pada jaringan hepatopankreas udang windu pada perlakuan kontrol menunjukkan adanya kerusakan inti sel, akibat infeksi WSSV. Gene VP-15 berpotensi sebagai bahan vaksin rekombinan dsRNA dalam mencegah infeksi WSSV.Infection of white spot syndrome virus (WSSV) causes bulk mortalities of tiger shrimp Penaeus monodon cultured in Indonesia. The nucleocapsid viral protein-15 (VP-15) is strongly suspected to be responsible for the systemic infection of WSSV. The development of VP-15 WSSV gene for inducing the immune response to and neutralize WSSV infection of tiger shrimp is vitally needed. The aim of this study was to isolate and clone the gene encoding VP-15 WSSV as dsRNA vaccine and assess the vaccine application to tiger shrimp. VP-15 gene was isolated from the genomic DNA of infected tiger shrimps, cloned into the vector, and transformed into competent cells (Escheria coli DH5a). The plasmid was isolated to confirm the insert region gene of VP-15 by the nucleotide sequence. Production of dsRNA vaccine was performed by in-vitro using MEGAscript RNAi kit and applied to tiger shrimp through muscular injection at a single dosage of 0.2 µg and without dsRNA as a control treatment. The average size of tiger shrimps used was 14.75±3.17 g in weight and 11.64±0.76 cm in length and stocked in 250 L fiber tank at 10 ind./tank. The...
Suprapti Suprapti
Jurnal Riset Akuakultur, Volume 13, pp 1-18; doi:10.15578/jra.13.1.2018.1-18

Page of 47
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search