Journal Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia

-
819 articles
Page of 82
Articles per Page
by
Darwanto Darwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.i-vii

Umi Chodrijah, Asep Priatna, Duto Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 11-23; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.11-23

Abstract:Sumberdaya udang barong lumpur (Panulirus polyphagus Herbst, 1793) atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai lobster Pakistan telah dimanfaatkan sebagai salah satu komoditas yang bernilai ekonomis di perairan pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Data statistik perikanan menunjukkan produksi udang barong di perairan Timur Kalimantan tahun 2005 – 2015 meningkat pesat dengan kelipatan 10 kalinya. Terkait dengan fenomena tersebut, penelitian tentang aspek biologi populasi telah dilakukan pada bulan Maret sampai dengan November 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter populasi sebagai landasan untuk mengetahui status stok pada tingkat pemanfaatan terkini. Hasil penelitian menunjukkan udang betina tertangkap pada ukuran rata-rata 86,9+ 8,58 mmCL sedangkan udang jantan pada ukuran 81,5 + 9,63 mmCL. Pola pertumbuhan udang jantan dan betina bersifat allometrik negatif (b
Duranta Diandria Kembaren, Adi Surahman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 51-60; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.51-60

Abstract:Penelitian struktur ukuran dan biologi populasi rajungan di perairan Kepulauan Aru telah dilakukan pada Januari-April, Juni dan Agustus-November 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur ukuran dan biologi populasi yang meliputi pertumbuhan, laju kematian, dan tingkat eksploitasi rajungan. Pemahaman struktur ukuran dan biologi populasi dapat dijadikan dasar masukan untuk pengelolaan perikanan. Rata-rata ukuran lebar karapas rajungan yang tertangkap sebesar 136 mm untuk jantan dan 141 mm untuk betina. Rajungan yang tertangkap pada Januari dan Juni memiliki rata-rata ukuran yang lebih besar. Rata-rata rajungan yang tertangkap sudah melawati ukuran matang gonad (Lc = 133,4 mm > Lm = 119,9 mm). Puncak musim pemijahan terjadi pada Februari-Maret dan Agustus-September. Lebar karapas asimtosis (CW) sebesar 185 mm dengan laju pertumbuhan (K) 1,15 tahun-1 serta laju kematian total (Z) 4,94 tahun-1, laju kematian alamiah (M) 1,20 tahun-1 serta laju kematian akibat penangkapan (F) 3,74 tahun-1. Laju eksploitasi sudah berada pada kondisi lebih tangkap (E=0,76). Hasil kajian menyarankan bahwa pengelolaan perikanan rajungan perlu dilakukan secara hati-hati agar sumberdaya ini dapat lestari. Salah satu upaya yang dapat di tempuh adalah dengan menerapkan sistem penutupan musim penangkapan rajungan pada saat terjadinya puncak musim pemijahan yaitu pada Februari-Maret dan Agustus-September. Dengan demikian diharapkan proses regenerasi dan rekrutmen rajungan selalu dapat mendukung ketersedian stok sumberdaya rajungan di perairan Kepulauan Aru ini. Study on the size structure and population biology of blue swimming crab in the waters of Kepualuan Aru was conducted in January to April, June and August to November 2016. The aim of this study was to identify the size structure and population biology i.e. growth, mortality, and exploitation rate of blue swimming crab. Understanding on the size structure and population biology can be used as basic information for managing blue swimming crab fisheries. Average size of carapace width of blue swimming crab was 136 mm for male and 141 mm for female. Catch on January and June was bigger size than others months. Length at first capture was higher than length at maturity (Lc = 133,4 mm > Lm = 119,9 mm). Spawning peak season occurs in February-March and August-September. Asymptotic carapace width (CW) of blue swimming crab was 185 mm with the growth rate (K) was 1,20 year-1, total mortality (Z) was 4,94 year-1, natural mortality (M) was 1,20 year-1, and fishing mortality (F) was 3,74 year-1. Exploitation rate was exceed the sustainability limit (E = 0,76). Thus, it is needed to manage the blue swimming crab fishery with precautionary approach. Based on this study, we suggest to apply the fishing closure system at the peak of spawning season. Thus, the regeneration process and recruitment will support the availability of blue swimming crabs resource in Kepualuan Aru waters.
Tirtadanu Tirtadanu, Karsono Wagiyo, Bambang Sadhotomo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 1-10; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.1-10

Abstract:Pengusahaan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus Schneider, 1801) sebagai salah satu bisnis perikanan utama di Sinjai memerlukan informasi tingkat pemanfaatan sebagai dasar dalam merumuskan pengelolaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan, hasil per penambahan baru dan estimasi rasio potensi pemijahan ikan kakap merah di perairan Sinjai dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada Januari – November 2016 dengan pengukuran sampel ikan dilakukan oleh enumerator di Sinjai. Analisis hasil per penambahan baru menggunakan metode Beverton & Holt dan analisis rasio potensi pemijahan menggunakan metode berbasis panjang (Length Based SPR). Hasil penelitian menunjukkan ikan kakap merah memiliki panjang asimptotik 77,3 cm dan laju pertumbuhan 0,293 tahun-1. Tingkat pemanfaatan (E) sebesar 0,35 dan upaya penangkapan (F) lebih kecil dari titik acuan (Fcur=0,25; Fmax=1,2; F0,1=0,9) pada ukuran rata-rata pertama tertangkap (Lc) sebesar 38,1 cm, menunjukkan upaya penangkapan mendekati optimum dan masih dapat dikembangkan. Estimasi rasio pemijahan sebesar 51% pada panjang rata-rata 48,17 cm TL lebih besar dari titik referensi minimum ikan kakap sebesar 26%. Pengelolaan yang disarankan berdasarkan penelitian ini adalah upaya pengusahaan kakap merah dapat dikembangkan hingga 30% dari upaya saat ini dengan diikuti oleh pengaturan ukuran ikan tertangkap lebih besar dari ukuran pertama kali memijah yaitu sebesar 45 cm.Red snapper (Lutjanus malabaricus Schneider, 1801) fishing as one of the main fisheries business in Sinjai need information on exploitation level as basis for formulating proper management. The aims of this research were to study growth, yield per recruit and spawning potential ratio (SPR) of red snapper in Sinjai and adjacent waters. This research was conducted in January – November 2016 and fish samples were measured by enumerator. Yield per recruit analysis used Beverton & Holt method and spawning potential ratio analysis used length based SPR. The results showed that the asymptotic length was 77,3 cm and the growth parameter of red snapper was 0,293 year-1. Exploitation rate (E) was 0,35 and fishing effort (F) less than reference point (Fcur=0,25,;Fmax=1,2 ; F0,1=0,9) on size at first captured (Lc) 38,1 cm, indicating fishing effort has closed to optimum and can be developed. Spawning potential ratio was 51%, with 48,17 cmTL of mean size, larger than limit reference point that was 26%. Recommended management measures based on this research were that fishing effort of red snapper can be increased until 30% from current effort followed by size regulation to catch above size at first matured at 45 cm.
Khairul Amri, Gathot Winarso, Muchlizar Muchlizar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 37-49; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.37-49

Abstract:Terubuk Bengkalis (Tenualosa macrura) yang hidup di perairan Bengkalis dinyatakan terancam punah akibat eksploitasi berlebih dan penurunan kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kualitas perairan habitat terubuk Bengkalis, menggunakan data parameter oseanografi hasil pengukuran in-situ. Selain itu, data penginderaan jauh berupa citra Landsat 8 digunakan untuk analisa tutupan mangrove (hutan bakau) serta citra MODIS-Aqua (Moderate-resolution Imaging Spectroradiometer) untuk analisis produktivitas primer (NPP). Penelitian dilaksanakan selama April-November 2015. Hasil penelitian menunjukkan total luas tutupan mangrove yang teridentifikasi citra Satelit Landsat 8 (2015) mencapai 11.736,2 Ha, berkurang sekitar 4.470,8 Ha dalam waktu 12 tahun (2003-2015) dengan laju kehilangan 372,5 Ha/tahun. Dari aspek oseanografi, kawasan konservasi ikan terubuk merupakan perairan dangkal dengan tingkat kecerahan rendah (0,54-0,95 m); suhu perairan relatif tinggi berkisar 29,15-31,87 0C (rata-rata 300C) dan salinitas rata-rata tergolong rendah (28,77-29,22 ppt). Nilai sebaran pH dan oksigen terlarut/DO juga rendah yakni pH 6,3-8,9 (rata-rata pH 7) dan DO 3,90-4,98 mg/l (di bawah Baku Mutu Air Laut). Komposisi substrat dasar didominasi lumpur, dengan prosentase 67,4-89,8%, sehingga perairan ini umumnya keruh. Perairan ini tergolong subur (eutropik) dengan kelimpahan fitoplankton tinggi (23.584 - 95.616 sel/l) terdiri dari 32-52 genera. Produktivitas primer juga tinggi, rata-rata 288,87 mgC/m2/hari dengan potensi produksi ikan 3.680,2 ton/tahun. Terubuk Bengkalis (Tenualosa macrura) is an endemic tropical shad fish that live in Bengkalis waters.This species has been declared endangered due to over exploitation and environmental degradation. The current research aimed to analyze the environmental quality of the species. The data used in this research were consited of in-situ measurement and remote sensing data: Landsat 8 Satellite imagery for mangrove cover observation and MODIS (Moderate-resolution Imaging Spectroradiometer) imagery for Net Primary Productivity (NPP). The results showed that the cover of mangrove vegetation along the coast of Bengkalis Island dentified by Landsat 8 Satellite imagery was11.736,24 Ha. The total loss of cover mangrove vegetation is estimated about 4.470,83 Ha, decreased drastically in 12 years (2003-2015) with a loss rate of 372.5 Ha/year. The habitat of shad fish is shallow water category. The water quality was too turbid (brightness level 0.54-0.95 m); warm water temperature of 29.,15-31.87 0C (average 300C); and low salinity (28,77-29,22 ppt). The relatively low pH and dissolved oxygen content were determined: pH ranged between 6,3-8,9 (mean7) and the DO: 3,90-4,98 mg/l (under the Sea Water Quality Standard).The substrat was dominated by mud (67,4-89,8%) in Bengkalis Strait sub area due to the turbidity. However, these waters are euthropic level category with a high abundance of phytoplankton ranging from...
Darwanto Darwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 86-87; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.app.86-app.87

Anthony Sisco Panggabean, Andina Ramadhani Putri Pane, Ap’Idatul Hasanah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 73-85; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.73-85

Abstract:Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu jenis krustasea laut yang bernilai ekonomis penting yang menjadi target utama tangkapan di perairan Teluk Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika populasi rajungan yang berguna sebagai dasar pengelolaannya. Penelitian dilakukan pada periode Januari sampai dengan November 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan panjang berat rajungan bersifat allometrik positif dan rata-rata ukuran pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 106,81 mm (lebar karapas), laju pertumbuhan (K) sebesar 1,0 per tahun dan lebar karapas infinitif (CW) sebesar 157 mm. Laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 1,12 per tahun dan laju mortalitas alami (M) sebesar 1,14 per tahun. Laju eksploitasi (E) sudah berada pada tahapan penuh atau fully exploited, dengan demikian perlu adanya pengendalian upaya penangkapan.Blue swimming crabs (Portunus pelagicus) is one of the important marine crustaceans species forming the main target of fishing in the Jakarta Bay. This study aims to assess the population dynamics of crab for the basis e for their management. The study was conducted from January to November 2015. The result showed that carapace width and weigth relationship analysis was isometric and the estimated length at first maturity (Lm) was 106.81 mm (in carapace width), growth rate (K) was 1 mm per year, carapace width infinit (CW) was 157 mm, fishing mortality (F) was 1.12 per year and natural mortality rate (M) at about 1.14 per year. The exploitation rate (E) was predicted at fully exploited level, so that control of fishing effort are needed.
Hufiadi Hufiadi, Baihaqi Baihaqi, Mahiswara Mahiswara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 25-36; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.25-36

Abstract:Ikan terubuk (Tenualosa macrura Bleeker, 1852) merupakan komoditas perikanan yang penting di Bengkalis, Provinsi Riau. Populasi terubuk di Bengkalis sangat menurun akibat dieksploitasi meskipun pembatasan penangkapan juga telah diterapkan melalui metode konservasi. Upaya selain konservasi juga melalui budidaya ikan namun upaya ini terkendala oleh ketersedian ikan terubuk hidup baik sebagai induk maupun ikan dewasa. Tulisan ini membahas hasil uji coba pengoperasian alat penangkap ikan jaring dua lapis untuk menangkap ikan terubuk hidup. Uji coba penangkapan dilaksanakan pada tahun 2015 – 2016 di perairan Selat Bengkalis dan sekitarnya. Hasil uji coba penangkapan menunjukkan bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap adalah ikan biang-biang (Setipinna breviceps) dan nomei (Harpodon sp). Laju tangkap jaring dua lapis terhadap ikan terubuk berkisar 0,7 - 2,6 ekor/setting. Jumlah ikan terubuk yang tertangkap dalam kondisi hidup mencapai 27,1% dari total tangkapan ikan terubuk. Nilai ukuran panjang pertama kali tertangkap ikan terubuk dengan jaring dua lapis (Lc) yaitu 17,43 cmFL. Terubok (Tenualosa macrura Bleeker, 1852) is an important fish commodity in Bengkalis, Riau Province. The terubok resosurce in Bengkalis is heavily degraded due to the high exploitation even fishing limitation was applied in term of species conservation. Conservation efforts through fishculture are constrained by the availability of live terobuk fish as both parent and adult fish. This paper present the results of fishing trial of double-net fishing gear for catching alive terubok fish. Fishing trial was conducted in 2015-2016 periods in Bengkalis strait waters and its adjascent. The results shown that the dominant fish catches of doublé net were Shorthead hairfin anchovy (Setipinna breviceps) and bombay duck (Harpodon sp). Double gill net catch rate for terubok were between 0,7 -2,6 fish/setting. Number of alive terubok fish was 27,1% of total terubok catches, length of first capture (Lc) value of terubok by using doublé net was 17.4 cm FL.
Himawan Achmad, Laili Martini, Sutopo Aris Wibowo, Lantip Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 1, pp 61-72; doi:10.15578/jppi.1.1.2018.61-72

Abstract:Pengendalian penyebaran ikan berbahaya, invasif dan berpotensi invasif di Indonesia terutama bertumpu pada pelarangan lalu lintas ikan pada pintu pemasukan dan pengeluaran, belum terhadap peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat. Di lain pihak, regulasi yang mengatur lalu lintas ikan tersebut minim dan upaya penegakan hukum terhadap perdagangan dan budidayanya belum maksimal. Akibatnya 78 jenis ikan berbahaya dari total 152 yang dilarang masuk ke Indonesia tersebar di pusat perdagangan ikan hias dan perairan umum. Sehingga edukasi kepada publik perlu ditingkatkan sejalan dengan perbaikan regulasi melalui pemetaan sebarannya sebagaimana dilakukan dalam studi ini. Survei dilakukan di Yogyakarta dan sekitarnya untuk menginventarisir penyebaran spesies target di lokasi perdagangan ikan hias dan mendapatkan gambaran persepsi responden terhadap pelepasliaran. Penelitian ini menemukan bahwa peran manusia signifikan dalam introduksi ikan asing pada habitat baru, tercermin dari propagule pressure, yang dianalisa dengan statistika bayesian, pada 8 dari total 29 spesies target mencapai lebih dari 100 individu. Ditemukan Atractosteus spatula, Pygocentrus nattereri, dan Arapaima gigas yang berbahaya bagi manusia, diperdagangkan dengan persentase sebaran masing-masing 41 %, 30 %, dan 13 %. Analisa varian dua arah menunjukkan responden yang berlokasi mandiri menyediakan lebih banyak jenis ikan target (p
Darwanto Darwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 23; doi:10.15578/jppi.23.4.2017.i-viii

Page of 82
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search