Journal Jurnal Penelitian Tanaman Industri

-
58 articles
Page of 6
Articles per Page
by
Agus Wahyudi, Suci Wulandari
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23; doi:10.21082/littri.v23n2.2017.72-82

Abstract:Pepper farming is dominant in South Bangka Regency. Pepper production in South Bangka reached 50.92% of total production in Bangka Belitung Islands Province, but productivity only achieved 1.29 ton/ha. One of essential factors to pursue the improvement of pepper production is recomended seeds, on the other side the seed systems is not developed yet. To support the development of pepper farming system required a reliable seed system. The objective of the study are to analyze the system of pepper seed, and to set priority policy development of pepper seed system. The method used to develop policy priorities is the Analytical Hierarchy Process (AHP), which is supported by descriptive statistics.The performance of pepper seed system in South Bangka Regencyhas not been able to produce quality seeds that are easily accessible by farmers. The using of superior seeds is still low. This is related to the limited availability of seeds, price of seed, availability of certain seeds sources, knowledge of the benefits of high quality seeds, and limited information about seeds. Government is the institution that most influence the development of seed system. The price of white pepper is a factor most influences pepper seed system, followed by the performance of pepper seed production, pepper seed quality, and competition among seed producers. The policy required to support major pepper development is developingparent garden, followed by enhancing seed breeder capability, improving seed quality control system, developing seed infrastructure, creating partnership, developing seed information system, and increasing access to credit.Keywords: seed, pepper, seed system, policy development AbstrakUsahatani lada mendominasi pertanian di Kabupaten Bangka Selatan. Produksi lada Bangka Selatan mencapai 50,92% dari total produksi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, namun produktivitas usahatani lada saat ini baru mencapai1,29 ton/ha dan berpotensi untuk ditingkatkan. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah masih tingginya penggunaan benih asalan di tingkat petani karena sistem perbenihan yang menghasilkan benih bermutu belum berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem perbenihan lada dan menyusun prioritas kebijakan pengembangan sistem perbenihan lada. Metode yang digunakan untuk menyusun prioritas kebijakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) yang ditunjang dengan statistik deskriptif. Kinerja sistem perbenihan lada di Kabupaten Bangka Selatan yang saat ini berjalan belum mampu menghasilkan benih bermutu yang mudah diakses oleh petani, walaupun sudah terdapat beberapa pelaku yang mengarah untuk terbangunnya sistem perbenihan tersebut. Penggunaan bibit unggul yang masih rendah terkait dengan keterbatasan ketersediaan benih bina, tingginya harga benih bina, belum tersedianya sumber benih jenis tertentu, pengetahuan masyarakat akan manfaat benih unggul bermutu yang masih rendah, serta keterbatasan informasi mengenai benih. Pemerintah merupakan lembaga yang memberikan pengaruh terbesar dalam pengembangan sistem perbenihan. Harga lada putih menjadi faktor yang sangat mempengaruhi pengembangan sistem perbenihan lada, diikuti oleh kinerja produksi benih lada, mutu benih lada, dan persaingan antar produsen benih. Kebijakan utamayang diperlukan untuk mendukung pengembangan lada adalah pembangunan kebun induk, dan diikuti dengan kebijakan lain yaitu: peningkatan kemampuan penangkar benih, perbaikan sistem pengawasan mutu benih, pembangunan infrastruktur benih, pengembangan kemitraan, pengembangan sistem informasi perbenihan dan peningkatan akses kredit.Kata kunci: benih, lada, sistem perbenihan, pengembangan kebijakan
Octivia Trisilawati, Deliah Seswita, M. Syakir
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23; doi:10.21082/littri.v23n2.2017.105-111

Abstract:The constrain of lemongrass cultivation is crop nutrient requirement does not estimate yet as a reference for determining the dosage of fertilizer needed to produce good yield and quality. The study aims to determine the NPK uptake of seven lemongrass promising numbers grown in latosol soil in Cibinong research garden, Bogor, namely: Cyci 0003, 0004, 0006, 0009, 0012, 0018 and local. Seven lemongrass promising numbers were from Boyolali, Yogyakarta, Cipatat, Cisaroni, East Nusa Tenggara, Bogor, and Cibinong which had been characterized. The design used was randomized block design with four replications and 25 plants per plots. The parameters observed were number of tillers, plant height, leaf length and width, stem diameter weight per clump, oil yield and quality, and chlorophyll content. The results showed that there were differences of nutrient uptake pattern, as well as the amount of fertilizer requirement N, P and K on all seven promising numbers of lemongrass. Local and Cyci 0003 had highest oil and sitral production compared to other lemongrass promising numbers. To generate the essential oil yield 81,39 kg ha-1 and production of citral 14,25 tonnes ha-1, Cyci 0003 absorbed 284,65 kg Urea, 49,15 kg SP-36, and 308,95 kg KCl ha-1, while local Cyci absorbed 230,29 kg Urea, 49,97 kg SP-36, and 161,8 kg KCl ha-1 to produce 97,94 kg essential oils yield ha-1 and 16,01 tonnes citral ha-1. Essential oil content of Lemongrass increased with increasing uptake of N and P, and citral oil content increased with increasing nutrient P uptake. Local Cyci promising number was relatively efficient in N, P, and K nutrient absorption.Keywords: Cymbopogon citratus Stapf., promising number, yield, quality, the uptake of N, P, and K. AbstrakSalah satu kendala dalam pengembangan budidaya serai dapur adalah belum ada perhitungan kebutuhan hara tanaman secara riil sebagai acuan dalam menentukan dosis pupuk yang dibutuhkan untuk menghasilkan produksi dan mutu terna yang baik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui serapan hara N, P, dan K dari tujuh nomor harapan serai dapur yang ditanam di tanah latosol. Tujuh nomor harapan serai dapur yang telah dikarakterisasi yaitu Cyci 0003, Cyci 0004, Cyci 0006, Cyci 0009, Cyci 0012, Cyci 0018 dan Cyci lokal berasal dari Boyolali, Yogyakarta, Cipatat, Cisaroni, NTT, Bogor, dan Cibinong ditanam di kebun percobaan Cibinong, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 ulangan dan jumlah tanaman sebanyak 25 per petak. Parameter yang diamati meliputi jumlah anakan, tinggi tanaman, panjang dan lebar daun, diameter batang, bobot kering terna per rumpun, kadar minyak, mutu minyak, serta kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola serapan hara, jumlah serta kebutuhan pupuk N, P, dan K dari ke tujuh nomor harapan serai dapur. Cyci lokal dan Cyci 0003 menghasilkan minyak atsiri dan sitral tertinggi. Untuk menghasilkan minyak atsiri 81,39 kg ha-1 dan sitral 14,25 t ha-1, Cyci 0003 menyerap 284,65 kg Urea, 49,15 kg SP-36, dan 308,95 kg KCl ha-1, sedangkan untuk menghasilkan minyak atsiri 97,94 kg ha-1 dan sitral 16,01 ton ha-1, Cyci lokal menyerap 230,29 kg Urea, 49,97 kg SP-36 dan 161,8 kg KCl ha-1. Kadar minyak atsiri serai dapur meningkat sejalan dengan peningkatan serapan hara N dan P, dan kadar minyak sitral meningkat seiring dengan peningkatan serapan hara P. Cyci lokal merupakan nomor harapan serai dapur yang relatif efisien dalam penyerapan hara N, P, dan K.Kata kunci: Cymbopogon citratus Stapf, nomor harapan, produksi, mutu, serapan hara N, P dan K.
Marlina, Mery Hasmeda, Renih Hayati, Dwi Putro Priadi
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 98-104; doi:10.21082/littri.v23n2.2017.98-14

Abstract:Oil palm plant (Elaeis guineensis Jacq.) has been extensively cultivated on peat land. The aim of this research was to evaluate morpho-physiology and yield of six years old SJ2 variety. The research was conducted on 2,5 until 4 metres depth, hemiks and in land peat at Muara Enim District, South Sumatera, from May 2012 –January 2013. The design of research was on Randomized Block Designed, with one treatment. The treatment was the trunk apperiance, base on slope degrees between the trunk and soil surface, and 2 replications. The trunk appearances based on degree of slope between the trunk and soil surface, composed of: upright (900), moderate slope (600 ≤ angel < 900), high slope (leaning) (450 ≤ angel <600), and lay down (toppling)(00). The result showed the upright and moderate slope plants had narrow leaflets, short and few frond, low LAI (2,53 and; 2,73) and high primary root population density. The leaned and the toppled plants had broad leaflets; high LAI (6,15 and; 4,33); high root surface area density of secondary root; high root dry weight and low primary root population density. The upright plants had better growth quality than the leaned and toppled plants, with low in leaf Al concentration 105,05 ppm and leaf N : P ratio 13,95 and high yield 2,43 kg FFB /plant /harvest on the first year.Keywords: Elaeis guineensis Jacq., morpho-physiology, peat land, performance. AbstrakTanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagian besar ditanam di lahan gambut. Tujuan penelitian mengevaluasi morfo-fisiologi pertumbuhan dan hasil berdasarkan keragaan tanaman kelapa sawit varietas SJ2 umur 6 tahun. Penelitian dilakukan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada lahan gambut dengan kedalaman antara 2,5 sampai 4 meter, hemiks dan in land pada Mei 2012 sampai Januari tahun 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, satu perlakuan. Perlakuannya adalah ketegakan tanaman kelapa sawit var. SJ2 umur 6 tahun berdasarkan nilai 0 sudut yang terbentuk antara batang dengan permukaan gambut, dengan ulangan sebanyak 2 kali. Perlakuan perbedaan kenampakan tegak batang, yaitu: tegak (900 ), agak miring (600 ≤ sudut < 900 ), sangat miring (450 ≤ sudut < 6 0 ), dan roboh (00 ). Hasil menunjukkan bahwa tanaman dengan keragaan tegak dan agak miring memiliki anak daun sempit, pelepah pendek dan sedikit dengan ILD rendah 2,53 dan 2,73, serta densitas populasi akar primer tinggi. Tanaman yang sangat miring dan rebah memiliki anak daun luas; ILD tinggi 6,15 dan 4,33; densitas luas area permukaan akar sekunder dan bobot kering populasi akar tinggi, tetapi densitas populasi akar primer rendah. Tanaman dengan keragaan yang tegak lebih mempunyai kualitas pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding yang sangat miring maupun rebah, dengan konsentrasi Al daun 105,05 ppm maupun rasio N : P daun 13,95 yang rendah. Hasil TBS tertinggi 2,43 kg/tanaman/panen di tahun pertama pada tanaman dengan keragaan tegak.Kata kunci: Elaeis guineensis Jacq.,...
Ireng Darwati, Rudi Suryadi, M. Syakir
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 83-89; doi:10.21082/littri.v23n2.2017.83-89

Abstract:Cashew (Annacardium occidentale L.) productivity in Indonesia is still low compared with other cashew producing countries, may be the use of low genetic quality of plant material. On of the efforts to improve the productivity is by using high quality genetic materials, which may be done by implementation of top-working technology. Top-working technology may be used to replace existing plants in the field with superior varieties rapidly through grafting method, without having to uproot the existing plants. Top-working on cashew nut crop is still not much information and the success rate is still relatively low when compared to fruit crops. Information on top-working in cashew is still scarce and with little success. Therefore, it is necessary to study the application of IBA to increase grafting success of top-working on cashew. The study was conducted at Cikampek Experimental Station (ES) from January to June 2016. The rootstock is 7 years old, the varieties used for the scion and rootstock are B02. Cashew tree trunks were cut about 1.2 - 1.5 m above ground level during rainy season. The scion used has a length of ± 15 cm and a diameter of 5 - 7 mm with the dormant bud. The design used was a randomized, single factor, with seven replications. The treatments tested were concentrations of IBA (0, 300, 600, and 900 ppm). The parameters measured were the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, khlorophyl, and field determination of compatibility constant (FCC). The results showed that 600 ppm IBA application significantly increased the percentage of grafting success, shoot length, leaves number, and the highest FCC value (87.50%, 12.08 cm, leaf 11.40, and 13.84)Keywords: Annacardium occidentale L., auxin, productivity, percentage of grafting success, top-working AbstrakProduktivitas jambu mete (Annacardium occidentale L.) di Indonesia masih rendah yang disebabkan oleh penggunaan bahan tanaman dari biji dengan mutu genetik yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah penerapan teknologi top-working yaitu teknologi menggantikan tanaman tidak unggul di lapang dengan varietas unggul secara cepat melalui cara penyambungan, tanpa harus membongkar tanaman. Tujuan penelitian adalah mendapatkan konsentrasi IBA yang tepat untuk meningkatkan persentase keberhasilan dan pertumbuhan sambungan top working pada tanaman jambu mete. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Cikampek mulai bulan Januari sampai Juni 2016. Varietas yang digunakan untuk batang atas (entres) dan batang bawah yaitu B02, dan batang bawah berumur 7 tahun. Pada musim hujan dilakukan pemotongan batang pohon jambu mete setinggi 1,2 – 1,5 m di atas permukaan tanah. Batang atas yang digunakan berukuran panjang ± 15 cm dan diameter 5 – 7 mm dengan mata tunas yang masih tidur (dorman). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan empat perlakuan dan tujuh ulangan. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi IBA (0, 300, 600, dan 900 ppm). Peubah yang diamati adalah persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, kandungan klorofil, dan kompatibilitas berdasarkan nilai konstan field determination of compatibility constant (FCC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi IBA 600 ppm dinilai cukup efisien dan efekftif dalam menghasilkan persentase sambungan hidup, panjang tunas, jumlah daun, dan kandungan klorofil.Kata kunci: Annacardium occidentale L., auksin, produktivitas, persen-tase keberhasilan sambungan, top-working.
Meynarti Sari Dewi Ibrahim, Rr. Sri Hartati, Rubiyo Rubiyo, Agus Purwito, Sudarsono Sudarsono
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 45-54; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.45-54

Abstract:ABSTRAKPerkembangan dan pertumbuhan embriogenesis somatik memerlukan sukrosa sebagai sumber karbon, dan agar untuk memadatkan media. Harga sukrosa dan phytagel yang mahal merupakan kendala dalam perbanyakan tanaman menggunakan teknik embriogenesis somatik. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan gula pasir dan agar komersial dalam embriogenesis somatik kopi Arabika. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Unit Pengembangan Benih Unggul Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia dari Mei 2013 sampai Juni 2015. Tahap pertama, kalus disubkultur pada media regenerasi. Perlakuan yang digunakan pemberian sukrosa 35 g L-1 + phytagel2,5 g L-1dan gula pasir 35 g L-1 + (phytagel 2,5 g L-1atau agar komersial 9 g L-1). Tahap kedua, embrio fase torpedo disubkultur pada media perkecambahan. Perlakuan yang digunakan pemberian sukrosa 40 g L-1 + phytagel (2,5 g L-1 atau 1,5 g L-1),dan gula pasir 40 g L-1 + (phytagel 2,5 g L-1atau agar komersial 9 g L-1). Tahap ketiga adalah subkultur torpedo ke Temporary Immersion System (RITA). Perlakuan yang digunakan adalah pemberian sukrosa dan gula pasir. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10, 20 dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gula pasir dan agar komersial tidak dapat menggantikan sukrosa dan phytagel pada media regenerasi kalus kopi Arabika karena dapat menurunkan bobot basah kalus dan jumlah embrio somatik. Pada media perkecambahan pemberian gula pasir + phytagel (2,5 dan 1,5 g L-1) masih dapat direkomendasikan, tetapi tidak untuk penggunaan gula pasir + agar komersial. Pemakaian gula pasir pada RITA dapat digunakan karena tidak memberikan hasil yang berbeda nyata untuk semua peubah yang diamati.Kata kunci : Agar komersial, Coffea arabika L., embriogensis somatik, gula pasir, RITAABSTRACTIn vitro culture requires sucrose as carbon source and seaweed gel for condensing media. The price of sucrose and agar were quite expensive, causing difficulties in plant propagation using somatic embryogenesis technique. The purpose of this study was to examine the possibility to utilize sugar and commercial agar in somatic embryogenesis of Arabica coffee. The study was conducted in the Agricultural Superior Seed Development Unit, Indonesian Center Estate Crops Research and Development from May 2013 to June 2015.The first stage, calli were transferred into regeneration medium with tested added sucrose 35 g L-1+phytagel 2.5g L-1, and sugar 35 g L-1 +(phytagel 2.5 g L-1 or commercial agar 9 g L-1). In the second one, torpedo stage embryos transfered into media germination with examined sucrose 40 g L-1+ phytagel (2.5g L-1or 1.5g L-1), sugar40 g L-1 + (phytagel 2.5g L-1 or commercial agar 9 g L-1). The third stage,torpedos transferred into Temporary Immersion System (RITA), treatment examined sucrose and sugar.Experiments were arranged in completely randomized design with 10, 20 and 3 replication. The first stage, results showed sugar and commercial agar couldnot substitute sucrose and phytagel on regeneration media because it can reduce calli fresh weight and number of somatic embryos. The germination stage, sugar + phytagel (2.5 and 1.5 g L-1) can still be recommended, but not for sugar + commercial agar. Sugarin RITA may be used because had no significant effect on all parameters observed.Key words : Coffea arabika L., somatic embryogenesis, sugar, commercial agar, RITA.
Miftakhurohmah Miftakhurohmah, I Dewa Nyoman Nyana, Tri Asmira Damayanti, Rita Noveriza
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 11-17; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.11-17

Abstract:ABSTRAKPenyakit mosaik pada tanaman nilam di Indonesia berasosiasi dengan infeksi Telosma mosaic virus (TeMV), Broad bean wilt virus 2 (BBWV2), Cymbidium mosaic virus (CymMV) dan Cucumber mosaic virus (CMV). TeMV, BBWV2 dan CymMV sudah diidentifikasi secara molekuler, sedangkan CMV baru terdeteksi secara serologi. Karakterisasi molekuler setiap virus diperlukan sebagai salah satu dasar pengambilan tindakan pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi CMV asal tanaman nilam secara molekuler berdasarkan sekuen nukleotida gen CP. Tiga sampel daun nilam bergejala terinfeksi virus diambil dari koleksi tanaman nilam di rumah kaca Balittro. Sampel daun diekstraksi asam nukleat totalnya (RNA+DNA). Asam nukleat total diamplifikasi dengan teknik one step reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan primer spesifik gen coat protein (CP) CMV. Produk PCR berukuran 650 pb (pasang basa) dirunut sekuen nukleotidanya serta dianalisis homologi dan hubungan filogenetikanya dengan sekuen isolat-isolat CMV yang ada di GenBank. Sekuen nukleotida dan asam amino gen CP CMV asal nilam menunjukkan persentase kemiripan terbesar (97,1 dan 97,7%) dengan isolat um-Jepang. Analisis filogeni menunjukkan bahwa CMV asal nilam berkerabat sangat dekat dengan CMV isolat um-Jepang dengan nilai bootstrap 100%, dan berada dalam satu kelompok dengan isolat-isolat CMV subgrup IB. Keberadaan CMV subgrup IB pada tanaman nilam perlu diwaspadai karena subgrup I lebih virulen dibandingkan subgrup II. Penelitian ini merupakan laporan pertama karakterisasi molekuler CMV nilam, baik di Indonesia maupun di luar negeri, yang dapat digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan tindakan pengendalian.Kata kunci : analisis homologi, pohon filogeni, nukleotida, asam aminoABSTRACTMosaic disease on Indonesian patchouli is associated with infection of TeMV, BBWV2, CymMV and CMV. TeMV, BBWV2 and CymMV has been identified molecularly, while CMV just was detected serologically. The objective of this study is to identify CMV from patchouli by molecular approach based on CP gene nucleotide sequence. Leaf samples was collected from three mosaic symptomatic patchouli plants in greenhouse of Balittro. Leaf samples were extracted for the total nucleic acids (RNA + DNA). Nucleic acids were amplified using specific primer for CP gene of CMV by one step RT-PCR technique. The DNA of PCR product with the size of ~ 650 bp was directly sequenced and analyzed for its homology with sequences of CMV isolates extracted from Gene Bank. CMV CP gene from patchouli showed the highest of nucleotide and amino acid sequence similarities, 97,1 and 97,7% with um-Japanese isolates. Phylogenetic tree analysis revealed that CMV from patchouli was closely related with um-Japanese isolate with 100% bootstrap value, and clustered with another CMV isolates in subgroup IB. Since the CMV subgroup I more virulent than subgroup II, is necessary to increase the awareness of the CMV occurence in another plant.Key words : homology analysis, phylogeny tree, nucleotides, amino acid
Djajadi Djajadi, Sulis Nur Hidayati
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 26-35; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.26-35

Abstract:ABSTRAKPada umumnya petani tembakau cerutu Besuki NO memberikan pupuk dengan dosis dan waktu pemberian berlebihan dengan jenis pupuk N-amonium, sehingga menyebabkan bertambahnya biaya pupuk dan penurunan mutu tembakau. Penelitian yang dilakukan di Desa Ampel Kecamatan Wuluhan, Jember pada musim tanam 2015 ini bertujuan mengetahui pengaruh paket pupuk majemuk NPK terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu tembakau cerutu Besuki NO. Penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan paket pemupukan yang diulang tiga kali. Perlakuan paket pemupukan meliputi sumber pupuk majemuk NPK, KNO3, dan KS, dikombinasikan dengan frekuensi pemupukan sebanyak 3 dan 4 kali, sehingga diperoleh 8 paket pemupukan, yang dibandingkan dengan paket pemupukan petani (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS). Hasil penelitian menunjukkan paket dosis petani (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS per hektar diberikan 4 kali menghasilkan produksi basah tertinggi (19,6 ton/ha). Namun demikian hasil tertinggi produksi kering (2,5 ton/ha) dan indeks tanaman (69,75) diperlihatkan oleh tembakau yang dipupuk dengan 250 kg NPK + 100 kg Urea + 200 kg ZA + 150 kg KS + 100 kg KNO3 per hektar dengan frekuensi pemberian 3 kali, yaitu saat tembakau berumur 3, 15, dan 30 hari setelah tanam.Kata kunci: pupuk majemuk, tembakau cerutu, produksi, indeks mutu, indeks tanamanABSTRACTFarmers of Besuki NO cigar tobacco use single fertilizer of ZA or Urea (as a source of N-ammonium), and SP36 (as source of P) in excessive rates which may increase cost of fertilizing and reduce tobacco quality. The experiment which was carried out at Ampel village, District of Wuluhan, Jember in 2015 had an objective to quantify the effect of NPK compound fertilizer on growth, yield, and quality of Besuki NO cigar tobacco. Treatments were packages of fertilizing which include source of compound fertilizer (NPK, KNO3, and KS) and frequency of fertilizer addition (3 and 4 times). The research used Randomized Block Design with 9 treatments of fertilizer package and they were repeated three times. As much 8 treatments of fertilizer packages were compared with farmers fertilizer package (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS with 4 times application). Results showed that the highest fresh yield of cigar tobacco (19,6 tons/ha) was produced by farmers package. However, the high dried leaves (2,5 ton/ha) and crop index (69,75) were yielded by tobacco with 250 kg NPK + 100 kg Urea + 200 kg ZA + 150 kg KS + 100 kg KNO3 per hectare which were applied 3 times.Keywords: NPK fertilizer, cigar tobacco, yield, grade index, crop index
Page of 6
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search