Journal Buletin Palma

-
49 articles
Page of 5
Articles per Page
by
Elsje Tineke Tenda
Published: 15 February 2018
Buletin Palma, Volume 18, pp 73-81; doi:10.21082/bp.v18n2.2017.73-81

Abstract:ABSTRAKRendahnya produksi merupakan masalah dalam perkelapaan di Indonesia, sehingga perlu dicari kelapa-kelapa unggul lokal yang sudah beradaptasi pada suatu daerah untuk digunakan sebagai sumber benih dalam pengembangan kelapa di daerah tersebut. Kabupaten Banggai, adalah salah satu daerah penghasil utama kelapa di Sulawesi Tengah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaaan dan potensi produksi kelapa Dalam Babasal, dan potensi produksi benih sebagai materi pengembangan kelapa di Indonesia. Penelitian dilakukan sejak tahun 2014 sampai 2017 di desa Taima, kecamatan Boalemo, Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah dengan metode observasi. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi meliputi karakter vegetatif, generatif, komponen buah, dan produksi. Selain itu dilakukan penilaian populasi blok pertanaman, seleksi dan evaluasi pohon induk sebagai sumber benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelapa Dalam Babasal memiliki potensi produksi tinggi 3,2 ton kopra/ha/tahun, kadar minyak kopra 61, 09%, kadar protein 8, 13% dan memiliki ciri spesifik, yaitu jumlah buah per tandan > 10 butir, kadar minyak dan protein daging buah tinggi. Hasil penilaian populasi/blok pertanaman diperoleh bahwa populasi kelapa Dalam Babasal memenuhi syarat sebagai Blok Penghasil Tinggi (BPT). Seleksi pohon induk kelapa pada BPT di desa Taima diperoleh sebanyak 1.000 pohon induk terpilih. Potensi benih dari pohon induk terpilih (PIT) tersebut sebanyak 106.000 butir benih/tahun dapat digunakan untuk pengembangan kelapa di lahan seluas 481 ha. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka populasi kelapa Dalam Babasal telah dilepas sebagai varietas kelapa unggul, dengan nama Kelapa Babasal. Pohon-pohon induk terpilih dari populasi kelapa Dalam Babasal akan menjadi materi pemuliaan untuk perakitan varietas unggul dan sebagai sumber benih untuk pengembangan kelapa di provinsi Sulawesi Tengah dan daerah-daerah yang memiliki iklim yang sama seperti di kabupaten Banggai.ABSTRACTLow of production is the problem in coconut plantation in Indonesia, therefore it needs to be found local superior coconut which already adapted at certain area. Banggai District, is one of the main coconut producing region in Central Sulawesi . The study was conducted from 2014 to 2017 in the Taima village, Boalemo sub district, Banggai district, by using observation method. Data were collected for morphological characters include vegetative characters, generative characters, fruit components, and nutrient content. In addition, an assessment of population/block planting, selection and evaluation of the mother plant a source of seed. The objectives of this research is to find out the performance and production potency of Babasal Tall coconut as development seeds resources of coconut development. The result of research indicated that Babasal Tall variety has a high production potential as much as 3,00 tons of copra/ha/year, copra oil content of 61,09 %, protein 8,13 % and has a...
Siti Nurhasanah, Nur Wulandari, S. Joni Munarso, Purwiyatno Hariyadi
Published: 15 February 2018
Buletin Palma, Volume 18, pp 53-62; doi:10.21082/bp.v18n2.2017.53-62

Abstract:Lipase-catalyzed interesterification is used to synthesize a value added structured lipid (SL) from coconut oil and palm oil. SL is a modified lipid (triacylglycerols; TAG) with replacement and/or arrangement of fatty acid positions to change the fatty acid composition and/or their positional distribution in glycerol backbone. In this research, modification was conducted by enzymatic process, to produced SLs with some beneficial changes in chemical and physical properties. Sepecifically, objective of this research was to study the oxidative stability of SL obtained from enzymatic interesterification of coconut oil and palm oil. Stability was studied using schaal oven test method and parameters tested were free fatty acid, peroxide value, anisidine value, total oxidation, and thio barbituric acid (TBA) value. Results showed that the type of lipase used and length of interesterification resulted in SL with different oxidative stability. Among SLs evaluated, SL produced with esterification process using lipase of Novozyme 435 for 5 hours has high oxidative stability. At the end of the observation, product that was stored for 4 weeks at 50 oC, contained free fatty acid value of 4.21 %, peroxide value of 2.88 meq O2⁄kg, anisidine value of 5.16, TBA value of 2.01 mg malonaldehyde/kg sample, and total oxidation of 10.92. Those result shows that oxidation stability parameter of structured lipid still meet the standard of palm oil product and its derivatives AbstrakInteresterifikasi enzimatik dengan lipase digunakan untuk mensintesis lipida terstruktur (structured lipid/SL) dari bahan baku minyak kelapa dan kelapa sawit. SL adalah lipida (trigliserida) termodifikasi melalui penggantian dan/atau pengaturan posisi asam-asam lemak pada kerangka gliserolnya. Pada penelitian ini modifikasi secara enzimatik untuk dilakukan untuk menghasilkan produk SL dengan sifat kimia dan fisika tertentu yang memiliki nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari stabilitas oksidasi produk SL hasil interesterifikasi enzimatik minyak kelapa dan minyak kelapa sawit. Stabilitas oksidasi diukur dengan menggunakan metode uji oven schaal dengan parameter uji adalah asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan anisidin, total oksidasi, dan nilai asam tio barbiturat (TBA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lipase yang digunakan dan lama interesterifikasi menghasilkan SL dengan stabilitas yang berbeda. Diantara produk SL yang dievaluasi, SL yang diperoleh dari proses interesterifikasi menggunakan lipase Novozyme 435 selama 5 jam mempunyai stabilitas oksidasi tinggi. Pada akhir pengamatan, produk yang disimpan selama 4 minggu pada suhu 50 oC memiliki nilai asam lemak bebas 4,21%, bilangan peroksida 2,88 meq O2/kg, bilangan anisidin 5,16, bilangan TBA 2,01 mg malonaldehid/kg sampel, dan nilai total oksidasi 10,92. Hasil tersebut menunjukkan bahwa stabilitas oksidasi lipid terstruktur yang dihasilkan mampu memenuhi standar sebagai produk minyak sawit dan turunannya.
Fahri Ferdinand Polii
Published: 15 February 2018
Buletin Palma, Volume 18, pp 91-98; doi:10.21082/bp.v18n2.2017.91-98

Abstract:ABSTRAKTepung kelapa merupakan salah satu alternatif substitusi tepung terigu dengan kandungan serat yang tinggi dan karbohidrat kompleks yang baik bagi kesehatan terutama untuk penderita diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan gizi dan sifat organoleptik kue kering yang diolah menggunakan tepung kelapa. Penelitian dilakukan di Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado pada bulan Pebruari-Nopember 2014. Tahapan penelitian, yaitu: pengeringan daging buah kelapa segar, pengepresan minyak/pemisahan minyak kelapa, pembuatan tepung kelapa, pembuatan kue kering serta analisis komposisi kimia dan organoleptik kue kering. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, perlakuan adalah perbandingan jumlah tepung terigu dan tepung kelapa yang digunakan yaitu pembuatan kue kering. Parameter yang diuji adalah kadar air, abu, protein, lemak, serat kasar, karbohidrat dan organoleptik (rasa, aroma, warna dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ampas kelapa memiliki kadar protein dan serat lebih tinggi dibanding tepung terigu. Kadar abu, protein, lemak dan serat kasar cenderung meningkat dengan bertambahnya jumlah tepung ampas kelapa yang digunakan, sebaliknya kadar air dan karbohidrat mengalami penurunan. Tepung kelapa dapat mensubstitusi tepung terigu pada pembuatan kue kering sampai 50% dengan tingkat penerimaan panelis pada kategori rasa cukup suka sampai suka. ABSTRACT Coconut flour is an alternative substitution of wheat flour with high fiber content and complex carbohydrates that are good for health especially for diabetics. The purpose of this research is to know the nutrient content and organoleptic of cookies processed using coconut flour. The research was conducted at Research Center and Industrial Standardization of Manado on February-November 2014. The research steps were drying of fresh coconut meat, oil pressing/coconut oil separation, coconut flour making, processing of cookies, analysis of chemical properties and organoleptic test. Research using Completely Randomized Design, treatments were the ratio of the amount of wheat flour and coconut flour used in the manufacture of cookies. Parameters tested were moisture content, ash, protein, fat, crude fiber, carbohydrate and organoleptic (flavor, aroma, color and texture). The results showed that the coconut flour had higher protein and fiber content than wheat flour. The content of ash, protein, fat and fiber tends to increase with the increasing amount of coconut flour used, otherwise the water and carbohydrate levels decrease. Coconut flour can substitute wheat flour in processing of cookies up to 50% with panelist acceptance level in taste category quite like until likes.
Jelfina C. Alouw, Ismail Maskromo, Fadjry Djufry
Published: 15 February 2018
Buletin Palma, Volume 18, pp 83-90; doi:10.21082/bp.v18n2.2017.83-90

Abstract:ABSTRAKBrontispa longissima merupakan salah satu hama utama kelapa yang dapat menyebabkan kerusakan daun dan kehilangan hasil kelapa secara ekonomi. Terdapat variasi warna dan pola pewarnaan elytra B. longissima yang tersebar di Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis keragaman fenotipe dan genetik hama Brontispa longissima yang berasal dari beberapa daerah dengan menggunakan marka RAPD. Analisis keragaman genetik berdasarkan marka RAPD dilakukan terhadap hama B. longissima yang dikoleksi dari Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Selatan (Sulsel), Ambon/Seram, dan Papua Barat. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma), dan Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), dari Bulan Maret sampai dengan November 2016. Berdasarkan analisis RAPD menggunakan 3 primer pada enam sampel B. longissima menunjukkan sampel mengelompok menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok I terdiri atas sampel Papua Barat dan Sulsel 2 dan kelompok II terdiri dari sampel Ambon/Seram, Sulut 1, Sulut 2 dan Sulsel 1 dengan tingkat kemiripan sekitar 50%. Pada kelompok I, sampel Papua Barat dan Sulsel 2 mempunyai kemiripan sekitar 75%. Kemiripan tertinggi (> 80 %) tampak antara sampel Sulut 1 dan Sulut 2 yang memiliki warna dan pola warna elytra yang berbeda. Primer OPA 01 dapat digunakan untuk membedakan antar sampel atau keragaman populasi sehingga dapat diaplikasikan sebagai alat deteksi yang cepat dan akurat. ABSTRACTBrontispa longissima is one of the main pests of coconut causing leaf damage and yield losses. Variation of color and pattern of the elytra was found among population of B. longissima distributed in Indonesia. The objective of the study was to analyze the phenotypic and genetic diversities of Brontispa longissima pests from several regions using RAPD markers. RAPD marker based diversities analysis was carried out to evaluate genetic and phenotipic relationships among population of B. longissima collected from North Sulawesi (Sulut), South Sulawesi (Sulsel), Ambon/Seram, and West Papua. Laboratory expriments were carried out at the Integrated Pest and Disease Laboratory of The Indonesian Palm Crops Research Institute (IPCRI) and the Laboratory of The Indonesian Center For Agricultural Biotechnology And Genetic Resources Research and Development (ICABOG RAD) from March to November 2016. Three of the twenty primers selected, have grouped the samples into two distinct clusters. Cluster analysis indicated 75% similarities between West Papua (P) populations and collections from South Sulawesi 2, and 50% similarities among samples from Ambon/Seram, North Sulawesi 1 and 2, and South Sulawesi 1. The highest similarity of more than 80% was found on two samples from North Sulawesi having different color and pattern of elytra. Primer OPA-01 showed highest polymorphism percentage.
Rindengan Barlina, Engelbert Manaroinsong, Jerry Wungkana
Published: 15 February 2018
Buletin Palma, Volume 18, pp 63-71; doi:10.21082/bp.v18n2.2017.63-71

Abstract:ABSTRAKPengolahan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) umumnya menggunakan daging buah kelapa yang bagian testanya dipisahkan, sedangkan yang dilakukan menggunakan metode pemanasan bertahap bagian testa tidak dipisahkan dan produk yang dihasilkan tidak berwarna (bening). Hasil samping ampas kelapa masih memiliki nilai gizi, sehingga dapat disubstitusi pada pengolahan pangan tertentu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Palma, pada bulan Januari sampai Desember 2013. Tujuan penelitian memanfaatkan hasil samping ampas kelapa yang diolah menjadi tepung dan digunakan sebagai substitusi pada pengolahan biskuit serta mempelajari karakteristik biskuit, baik yang disubstitusi tepung ampas kelapa tanpa testa maupun yang ada testa. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dalam percobaan faktorial. Faktor A adalah Tepung ampas kelapa, terdiri dari: a1) Tepung Ampas Kelapa ada testa dan a2) Tepung Ampas Kelapa tanpa testa. Faktor B, yaitu konsentrasi penambahan tepung ampas kelapa, terdiri atas : b1) 15%, b2) 20% dan b3) 25%. Hasil analisis biscuit yang ditambah 25% tepung ampas kelapa ada testa, memiliki kadar lemak 25%, abu 1,61%, protein 9,30%, air 0,16%, karbohidrat 63,93%, serat kasar 8,39% dan 517,92 kkal serta asam lemak rantai medium (ALRM) 13,04%. Sedangkan yang ditambah 25% TAKtt, memiliki kadar lemak 24,99%, abu 1,65%, protein 10,15%, air 0,27%, karbohidrat 62,94%, serat kasar 8,65% dan 517,27 kkal serta asam lemak rantai medium (ALRM) 12,66%. Biskuit yang dihasilkan walaupun ditambah tepung ampas kelapa, secara organoleptik diterima panelis dan juga memiliki nilai nutrisi yang baik. ABSTRACTVirgin Coconut Oil (VCO) processing uses coconut meat which part of the testa separated, while with a gradual heating method the testa not separated and the results product colorless. Coconut pulp still has nutritional value so it can be substituted in food processing. The research was carried out at the Laboratory of Palm Research Institute, on January until December 2013. The purpuse of the research is to utilize the coconut pulp side product, which is processed into flour and used as substitution for biscuit processing and to know the characteristics of biscuit. The study was conducted using a complete randomized design in factorial experiment. Factor A is the kinds of coconut pulp flour, consisting of : a1) coconut pulp flour there is testa and a2) coconut pulp flour without testa. Factor B, is consentration of coconut pulp flour, consist of : b1) 15%, b2) 20% and 25%. The results analysis of biscuit which added 25% coconut pulp flour has testa have moisture content 0,16%, fat 25%, ash 1,61%, protein 9,30%, carbohydrate 63,93%, and crude fiber 8,39%, medium chain fatty acid (MCFAs) 13,04% and 517,92 Calorie. While the added 25% coconut pulp flour without testa have moisture content 0,27%, fat 24,99%, ash 1,65%, protein 10,15%, carbohydrate 62,94%, crude fiber 8,65%, medium chain fatty acid...
Meldy L.A. Hosang, Jelfina C. Alouw, Fadjry Djufry
Published: 28 October 2017
Buletin Palma, Volume 18, pp 33-42; doi:10.21082/bp.v18n1.2017.33-42

Abstract:The outbreaks of hairy caterpillar pests on oil palm plants that are quite severe in one of the estate oil palm plantations in West Papua occurred in 2016. Species of hairy caterpillar and the level of its damage are not known yet for certain. The purposes of this research were to identify the pest causing oil palm damage and to determine the level of palm damage, pest population and their natural enemies. Three locations were selected on the Marmare Sub District, Manokwari, West Papua. In each location, 30 plants were selected randomly in the area of the pest attack and the leaf damage was estimated. Identification result of the pest that attack young oil palm trees in PT Yongjing Investindo, West Papua was the hairy caterpillar called tusock moth, Orgyia sp. The pest caused low (5-20%) and moderate (30-40%) level of foliar damage found in 81.1% (73 plants) and 18.9% (17 plants) palm population respectively. Since palm damage potentially reduced oil palm production, regularly monitoring pest populations are needed to prevent pest outbreak.ABSTRAKLedakan serangan hama ulat bulu pada tanaman kelapa sawit, cukup parah di salah satu perkebunan sawit swasta di Papua Barat terjadi pada tahun 2016. Jenis ulat bulu dan tingkat kerusakannya belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama ulat bulu, tingkat kerusakan, populasi hama, dan musuh alaminya. Survei hama dilakukan di tiga lokasi di Distrik Marmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Pada masing-masing lokasi dipilih 30 pohon contoh secara acak pada lokasi serangan hama kemudian diestimasi tingkat kerusakan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis ulat yang menyerang tanaman kelapa sawit muda di PT Yongjing Investindo, Papua Barat adalah ulat bulu Orgyia sp. Dari 90 tanaman contoh, kerusakan ringan (5-20%) akibat serangan Orgyia sp. dapat mencapai 81,1% (73 tanaman) dan sebanyak 18,9% (17 tanaman), termasuk tingkat serangan sedang (30-40%). Serangan ulat bulu Orgyia sp. pada perkebunan sawit masih terbatas di Distrik Marmare, tetapi berpotensi meluas ke areal pertanaman sawit lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan monitoring dan pengendalian di lapangan untuk mencegah kerusakan lebih parah.
Azis Natawijaya, Sintho Wa, Ismail Maskromo, M. Syukur, Alex Hartana, Sudarsono Sudarsono
Published: 28 October 2017
Buletin Palma, Volume 18, pp 23-32; doi:10.21082/bp.v18n1.2017.23-32

Abstract:Genetic variability is a basis for plant genetic improvement. Evaluation of genetic variability in oil palm populations helps breeders in determining traits for selection, determining appropriate selection methods, and identifying promising families. The study was aimed to evaluate the genetic variability within and between family in elite dura population. The research was conducted from January 2014 until December 2016 at Mekarsari Research Station. A total of 287 individuals from 18 different genetic backgrounds were used as research materials. The results showed that the phenotypic variability within and between family are wide. No single family or genotype has any superior characters yet. So a breeding approach is needed to converge all good traits into one genotype or population.ABSTRAKVariabiltas genetik merupakan dasar untuk perbaikan genetik tanaman. Evaluasi variabilitas genetik pada populasi kelapa sawit membantu pemulia dalam menentukan karakter dan kriteria seleksi, menentukan metode seleksi yang tepat, dan mengidentifikasi famili-famili potensial yang memiliki karakter harapan. Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi keragaman beberapa karakter agronomi pada populasi kelapa sawit dura elit. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai dengan Desember 2016 di Kebun Percobaan PT. Sasaran Ehsan Mekarsari. Total 287 individu yang berasal dari 18 latar belakang genetik yang berbeda digunakan sebagai bahan tanaman untuk penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter agronomi pada populasi dura koleksi Mekarsari menunjukkan keragaman yang tinggi baik intra maupun inter famili. Karakter rasio mesocarp dan jumlah biji per tandan memiliki variasi fenotipe yang terluas dan famili atau genotipe yang memiliki semua karakter unggul belum ada. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemuliaan untuk menghimpun sifat-sifat baik ke dalam satu populasi atau memfiksasi gen-gen yang tersebar di antara famili atau genotipe ke dalam satu populasi
Ismail Maskromo, Azis Natawijaya, Syafaruddin Syafaruddin, Fadjry Djufri, M. Syakir
Published: 28 October 2017
Buletin Palma, Volume 18, pp 43-51; doi:10.21082/bp.v18n1.2017.43-51

Abstract:Development a new oil palm variety is determined by the availablity of oil palm genetic materials. The genetic variability could be resulted from both intra and inter family variation. Angola oil palm germplasm is a new oil palm material which were collected from natural habitat in Angola, Africa by Indonesian oil palm qonsortium. The objective of this research were to identify genotypes which carrying any specific characters as well as genotypes-based selection of families and individuals for the formation of a new breeding population. The research were conducted at Kebun Percobaan Sitiung, West Sumatra from January until Desember 2016. The result showed that the genetic variability within and among families are relatively high. There are some genotypes and families selected. The selected genotypes could be used for formation a new breeding population.ABSTRAKKeberhasilan pengembangan varietas unggul kelapa sawit untuk program intensifikasi ditentukan oleh ketersedian material genetik dan variabilitas genetiknya yang luas. Variasi genetik pada plasma nutfah dapat berasal dari variasi antar individu dalam famili dan variasi antar famili. Karakterisasi plasma nutfah kelapa sawit asal Angola bertujuan untuk mengkarakterisasi plasma nutfah kelapa sawit asal Angola, mengidentifikasi genotype-genotipe yang memiliki karakter spesifik, serta seleksi genotype berbasis family dan individu untuk pembentukan breeding populations baru. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sitiung, Sumatera Barat pada bulan Januari sampai Desember 2016. Semua individu pada semua famili di populasi dura dan tenera/pisifera digunakan sebagai bahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plasma nutfah kelapa sawit asal Angola memiliki variabilitas genetik yang luas. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi genotipe-genotipe yang memiliki karakter spesifik dan famili-famili terseleksi. Genotipe-genotipe tersebut dapat digunakan untuk merakit populasi baru untuk pemuliaan kelapa sawit tipe baru.
Rein Estefanus Senewe, Hermanu Triwidodo, Pudjianto Pudjianto, Aunu Rauf
Published: 28 October 2017
Buletin Palma, Volume 18, pp 9-21; doi:10.21082/bp.v18n1.2017.9-21

Abstract:Sago (Metroxylon sagu Rottb) in Maluku grow naturally to form sago forest ecosystem. Hymenoptera in the sago forest ecosystem has not been studied. This study aims to examine the diversity of Hymenopterous parasitoids in sago forests in Maluku. The research was conducted in Ariate, Eti, Waisamu, Rutong, Tawiri, and Tulehu in September 2015 - October 2016. Hymenopterous parasitoids were collected through swing nets, light traps, yellow pan traps, and pitfall traps. Results the abundance of hymenopterous parasitoids in six sago areas in Maluku was found to be 14 families and 32 species. The morphoses of morphospecies are 68 morphospecies of Sago Ariate forest 32 morphospecies, Eti 37 morphospecies, Waisamu 9 morphospecies, Rutong 11 morphospecies, Tawiri 19 morphospecies, and Tulehu 37 morphospecies. The high diversity index (2.18 - 3.55) per location, Morphospesies wealth of Tulehu is higher than other location, while the individual abundance of Ariate is higher than other villages. The average relative abundance of Scelionidae, Scoliidae and Ichneumonidae families was higher by 26.46%, 15.95%, and 10.89%, respectively. There are three families with high morphospecies and individual abundance in each sago area ie Scoliidae in sago forest area of Ariate and Waesamu, Scelionidae on Rutang, Eti, and Tawiri sago wood area, while Eulophidae on sago Tulehu area. There are 12 unique species or species with only certain locations and none in other locations, each Ariate (2 species), Eti (2 species), and Tulehu (8 species).ABSTRAKSagu (Metroxylon spp.) merupakan tanaman sosial, budaya dan ekonomi di Maluku dengan potensi hutan sagu cukup tersedia. Teridentifikasi gejala kerusakan empulur pati dan tajuk tanaman sagu akibat serangga. Kebijakan pengendalian hayati melalui pelepasan parasitoid dalam sistem aplikasi Pengendalian Hama Terpadu merupakan salah satu alternatif. Hymenoptera parasitoid pada ekosistem hutan sagu penting untuk dipelajari morfospesiesnya sebagai data dan informasi ilmiah dalam menunjang program pengembangan agens hayati dalam pengelolaan serangga herbivor tanaman sagu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman Hymenoptera parasitoid pada hutan sagu di Maluku. Dalam penelitian ini dipilih tiga lokasi di Pulau Ambon dan tiga lokasi di Pulau Seram, kemudian masing-masing lokasi dipilih tiga rumpun sagu contoh secara acak. Setiap rumpun sagu dalam lingkaran radius 5m dari pohon sagu utama seluas 100m2 dilakukan pengambilan serangga melalui jaring serangga, perangkap lubang, dan perangkap nampan kuning, sedangkan perangkap lampu dilakukan pada satu titik disetiap lokasi. Pengambilan serangga dilakukan pada musim kemarau dan hujan dibulan September 2015 – Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan Hymenoptera parasitoid pada enam lokasi hutan sagu diperoleh sebanyak 14 famili dan 30 morfospesies. Kekayaan morfospesies disetiap lokasi berkisar antara 5-21 morfospesies, dengan proporsi koleksi serangga...
Steivie Karouw, Rindengan Barlina, Maria L. Kapu’Allo, Jerry Wungkana
Published: 28 October 2017
Buletin Palma, Volume 18, pp 1-7; doi:10.21082/bp.v18n1.2017.1-7

Abstract:The objectives of the research was to evaluate physical properties, color, water vapor transmission rate and antimicrobial activity of sago-based biodegradable film made by adding of glycerol, carboxymethyl cellulose (CMC), potassium sorbate and coconut oil. The research was conducted on two steps which did continuosly. During the first step the research was held on various of concentration of glycerol (1, 1.5, 2.0 and 2.5%) and concentration of carboxymethil cellulose (CMC) (0.75; 1.0; 1.25 and 1.5 %). The formula which produced the best characteristic of biodegardable film was then used in the second step. In the second step of study, the antimicrobial material (coconut oil and potassium sorbate) were utilized in processing of sago-based biodegradable film. The concentration of potassium sorbate and coconut oil were (1.0, 1.5 and 2.0%) and (0, 0.3 dan 0.6%), respectively. The research results showed that, the biodegradable film obtained on 1.0% of glycerol and 1.0% of CMC having lowest elongation around 109.90%. It was then used for the second step for preparation of biodegradable film. Biodegradable film which were resulted by additon of coconut oil having plasticity better than the ones using potassium sorbate. Addition of pottasium sorbate effected the yelllow color of the biodegradable film. The biodegradable film prepared by utilized of potassium sorbate and oil were found not effectively to inhibit Eschericchia coli dan Staphylococcus aureus.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, warna dan laju transmisi uap air serta sifat antimikroba biodegradable film pati sagu dengan penambahan gliserol, carboxymethyl cellulose (CMC), kalium sorbat dan minyak kelapa. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, pada tahap pertama gliserol dan CMC digunakan beberapa konsentrasi berturut-turut, yaitu (1%, 1,5%, 2,0% dan 2,5 %) dan (0,75%, 1,0%, 1,25% dan 1,5%). Kombinasi perlakuan terbaik tahap pertama digunakan untuk penelitian tahap kedua. Pada penelitian tahap kedua dilakukan penambahan bahan antimikroba kalium sorbat dan minyak kelapa pada beberapa konsentrasi, berturut-turut (1,0; 1,5 dan 2%) dan (0,3 dan 0,6%). Hasil penelitian menunjukkan bertambahnya konsentrasi gliserol menghasilkan biodegradable film dengan kuat tarik yang makin tinggi dan daya mulur makin turun. Pada konsentrasi gliserol yang tetap, nilai kuat tarik meningkat dan daya mulur menurun dengan bertambahnya konsentrasi CMC. Biodegradable film yang diproses menggunakan 1,0% gliserol dan 1,0% CMC memiliki daya mulur terendah hanya 109,90%. Kombinasi gliserol dan CMC ini selanjutnya digunakan untuk pembuatan biodegradable film yang ditambahkan minyak kelapa dan kalium sorbat. Biodegradable film yang diproses dengan penambahan minyak kelapa memiliki plastisitas yang lebih baik dibanding dengan penambahan kalium sorbat. Warna biodegradable film cenderung lebih kuning dibanding tanpa penambahan kalium sorbat. Biodegradable film yang dihasilkan dengan penambahan...
Page of 5
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search