Journal Jurnal Hortikultura

-
270 articles
Page of 28
Articles per Page
by
Budi Marwoto, Hanudin Hanudin, Agus Muharam, Hersanti -
Jurnal Hortikultura, Volume 22; doi:10.21082/jhort.v22n2.2012.p173-180

Abstract:ABSTRAK. Dalam usaha budidaya kentang dijumpai berbagai kendala yang menekan produktivitas tanaman. Salah satu kendala yang paling penting yaitu patogen tular-tanah yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa patogen ini dapat menimbulkan kehilangan hasil tanaman kentang 40–100%. Salah satu alternatif yang paling prospektif dalam mengendalikan R. solanacearum ialah dengan mengaplikasikan mikrob antagonis yang diisolasi dari alam. Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum merupakan mikrob antagonis yang mampu mengendalikan patogen yang terbawa tanah sampai 70% dan mampu meningkatkan produksi tanaman sampai 40%. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi kompatibilitas mikrob antagonis dan dapat mengendalikan R. solanacearum pada tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan Laboratorium Bakteriologi Balai Penelitian Tanaman Hias, pada bulan Maret sampai dengan Desember 2009. Dari hasil penelitian ini diperoleh dua nomor isolat bakteri yaitu P. fluorescens yang diisolasi dari rizosfer krisan, Segunung (Pf2), B. subtilis berasal dari IPB (Bs 12), dan satu isolat T. harzianum berasal dari Universitas Gadjah Mada (Th 1) kompatibel pada media yang banyak mengandung protein (King’s B), tetapi tidak kompatibel pada media yang banyak mengandung karbohidrat (potato dextrose agar). Indikatornya ialah indeks kompatibilitas ≤1. Aplikasi B. subtilis secara tunggal merupakan perlakuan yang paling efektif mengendalikan R. solanacearum pada kentang. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase penekanan perlakuan tersebut paling besar (35,27%) bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kecuali perlakuan gabungan antara Bs 12, Pf 2, dan Th 1 yang sama-sama menunjukkan persentase penekanan sebesar 35,27%.. Hanudin, Marwoto, B, Hersanti, and Muharam, A 2012. Compatibilities of Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Trichoderma harzianum to Control Ralstonia solanacearum on Potato. Among the vegetable crops cultivated by farmers, potato is the most important one. In cultivating the crop, farmers has faced many problems, the most important one is wilt disease caused by Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Based on the available data known that the disease reduces 40–100% of the total production. One of the alternative methods control which was more environmentally friendly applied by the use of antagonistic microbes isolated from the soil. Bacillus subtilis, P. fluorescens, and T. harzianum were abundance in the soil and easily be isolated from rhizosfer. The bacteria are reported to be effective to control soilborn pathogens in the field. Based on the preliminary research proven that the bacteria could reduce 70% of the total soilborn pathogens in the soil and increase crop production up to 40%. The objective of this study was to determine information of compatibilities between antagonistic microbe and bacterial wilt which had control on potato. The research were conducted in Laboratory and Greenhouse of the Padjadjaran University, Indonesian Vegetable Research Institute, and Indonesian Ornamental Crops Research Institute, on March to December 2009. The results showed that isolates of P. fluorescens (Pf2), B. subtilis (Bs12), and T. harzianum (Th1) were compatible on medium which containing protein (King’s B), but were not copmatible on medium containing carbohydrate (PDA). The indicator is compatibility index ≤1. Single application of B. subtilis was effective to control R. solanacearum on potato, suppression wilt biggest (35,27%), if compared with other treatments except combination between Bs 12, Pf 2, and Th 1 treatments was 35,27 % too.
Wakiah Nuryani, Evi Silfia Yusuf, Hanudin Hanudin, Ika Djatnika, Budi Marwoto
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p338-343

Abstract:Lili merupakan tanaman hias penting dan bernilai ekonomi tinggi. Budidaya lili di Indonesia menghadapi kendala utama yaitu penyakit layu Fusarium. Aplikasi bahan kimia sintetik untuk mengendalikan penyakit ini berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan. Aplikasi organisme antagonis dan kultivar resisten merupakan alternatif pengendalian penyakit ramah lingkungan, berdampak positif terhadap kelestariannya, dan meningkatkan produktivitas lili. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mikrobe antagonis, mikrobe nonpatogenik, dan klon lili yang dapat menekan penyakit layu Fusarium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokontrol dan Rumah Sere, Balai Penelitian Tanaman Hias pada bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Tata letak percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial denga tiga ulangan. Faktor pertama ialah klon lili yang terdiri dari klon No.1, No 2, No.3 (tahan), dan No.4 (rentan). Faktor kedua ialah perlakuan mikrobe antagonis (1) Gliocladium sp. 107 spora/ml, (2). Trichoderma sp. 107 sel/ml, (3) Fusarium a virulen 107 spora/ml dan, (4) kontrol (tanpa mikrobe antagonis). Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan mikrobe antagonis Gliocladium sp. dan klon resisten paling efektif mengendalikan penyakit busuk umbi Fusarium pada lili. Hal ini dibuktikan dari persentase tanaman layu pada perlakuan aplikasi mikrobe dan penggunaan tanaman resistant dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Penanaman tanaman resisten diikuti dengan aplikasi Gliocladium paling efektif menekan layu Fusarium dibanding perlakuan lainnya.Lilium is one of the most important and the heigest economic value of cut flower in Indonesia. Cultivation of Lilium faces major constrain, that is wilt disease caused by Fusarium. Application of synthetic chemicals to control the diseases is not recommended, because its impact is dangerous for environment and human life. Therefore other control measures that are move environmentally friendly and more effective/efficient have to applied. The use of antagonistic microbes and resistance varieties are the most promising control measures to be recommended in the field. The study was aimed to find out of antagonist and nonpathogenic microbes and plant resistant that were effective to control Fusarium bulb rot on lili. The experiment was conducted at Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl.) on January to December 2007. Factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications. The first factor was Lilium clones i.e. No.1, No. 2, No. 3 (resistant), and No. 4 (susceptible clone as control). The second factor was antagonism microbes i.e. (1) Gliocladium sp. 107 spora/ml, (2). 107 Trichoderma sp. cel/ml, (3) Fusarium nonpathogenic 107 spora/ml, and (4) control (tap water without antagonist microbe). The results indicated that the use of Gliocladium sp. and resistant clone of Lilium i.e. clone No.3 was effective to control Fusarium bulb rot of Lilium. This proven from lower percentage of disease occurance on the treatment of antagonistics microbes and resistance varieties compared both to those of without treatment (control). The use of resistance plant followed by application of Gliocladium was known to be most effective to control fusarial wilt disease compared to the other treatment combinations.
Amalia Tetrani Sakya, Endang Sulistyaningsih, Didik Indradewa, Bh Purwanto
Jurnal Hortikultura, Volume 25; doi:10.21082/jhort.v25n4.2015.p311-317

Abstract:Seng (Zn) merupakan salah satu unsur hara yang berperan penting dalam aktivitas enzim karbonik anhidrase dan enzim ribulose 1,5 biphosphate karboxilase (RuBPC) yang dalam kegiatan fotosintesis akan memproduksi bahan kering. Penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi bahan kering tanaman tomat pada penyiraman 2 dan 12 hari sekali dengan adanya aplikasi ZnSO4. Penelitian dilakukan di Banguntapan Yogyakarta pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2014. Penelitian menggunakan dua unit percobaan masing-masing untuk penyiraman 2 hari sekali dan 12 hari sekali. Pada masing-masing unit percobaan digunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial dengan tiga faktor perlakuan dan tiga ulangan. Ketiga faktor tersebut adalah metode aplikasi ZnSO4 (melalui tanah dan daun), dosis ZnSO4 (0, 40, dan 60 mg/kg), dan kultivar (Permata dan Tyrana). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi asimilat ke batang dan akar sama antara aplikasi ZnSO4 melalui daun maupun tanah, tetapi proporsi asimilat ke daun lebih rendah pada aplikasi ZnSO4 melalui daun, baik pada kultivar Tyrana maupun Permata dengan penyiraman 2 hari maupun 12 hari sekali dan aplikasi ZnSO4 melalui tanah pada penyiraman 2 maupun 12 hari sekali mengakibatkan daun semakin luas dan tebal. Hasil penelitian akan menambah wawasan dalam upaya meningkatkan produksi bahan kering tanaman melalui aplikasi hara mikro, khususnya Zn.
Titin Purnama, Roedhy Poerwanto, E Efendi
Jurnal Hortikultura, Volume 23; doi:10.21082/jhort.v23n4.2013.p350-357

Abstract:Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya mutu buah manggis. Keseimbangan ketersediaan hara kalsium (Ca) dan boron (B) dalam tanah diduga berperan penting dalam pengendalian cemaran getah kuning pada buah manggis. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kombinasi dosis kalsium dan boron yang tepat untuk mencegah cemaran getah kuning pada buah manggis. Penelitian dilaksanakan di Purwakarta, Jawa Barat dari Bulan Nopember 2012 sampai Juni 2013. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor yaitu dosis Ca (0,0; 2,5; 5,0; dan 7,5 kg/pohon) dan dosis B (0,00; 0,77; 1,55; dan 2,32 g/pohon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Ca dan B dapat menurunkan persentase dan skor cemaran getah kuning pada aril dan kulit buah. Terjadi interaksi pemberian Ca dan B terhadap skor dan persentase cemaran getah kuning pada aril. Persentase cemaran getah kuning pada aril terendah (2,67%) diperoleh pada kombinasi dosis 5,0 kg Ca/pohon+1,55g B/pohon. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman kombinasi dosis Ca dan B untuk menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis.
Budi Winarto
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p293-305

Abstract:Kultur anter merupakan salah satu teknologi haploid penting dalam produksi tanaman haploid ganda dan berhasil diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, namun aplikasi pada Anthurium belum pernah dilaporkan. Penelitian dan pengembangan kultur anter Anthurium yang difokuskan untuk mempelajari pengaruh glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januari sampai dengan September 2008. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus pada kultur anter Anthurium. Spadik Anthurium andraeanum cv. Tropical, kalus hasil kultur anter serta medium Winarto dan Teixeira digunakan dalam studi ini. Glutamin dan serin pada konsentrasi 0, 250, 500, dan 750 mg/l diuji dalam percobaan ini. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan glutamin dan serin pada medium terseleksi belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus. Glutamin pada konsentrasi 250 mg/l menginduksi potensi tumbuh anter hingga 48% dengan 21% anter beregenerasi dan 1,3 anter per perlakuan membentuk kalus. Sementara serin pada 500 mg/l merupakan konsentrasi yang paling potensial dalam induksi kalus dengan 55% potensi tumbuh anter, 24% anter beregenerasi, dan 1,4 anter per perlakuan membentuk kalus. Glutamin 250 mg/l merupakan konsentrasi terbaik dibanding konsentrasi yang lain dalam mendukung pertumbuhan dan regenerasi kalus. Perlakuan tersebut tanpa serin mampu menginduksi potensi pertumbuhan kalus hingga 77% dengan volume kalus mencapai 237 mm3 dan empat tunas dihasilkan per eksplan. Sementara perlakuan serin justru mereduksi pertumbuhan dan regenerasi kalus dan menstimulasi senesensi kalus yang berdampak pada pencoklatan dan kematiannya. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan penggunaan glutamin dibanding serin dalam meningkatkan keberhasilan kultur anter Anthurium.Anther culture is one of important haploid technologies in producing double haploid lines and successfully applied in many plants, while the application in Anthurium is not reported yet. Research and development in anther culture of Anthurium focusing on studying the effect of glutamine and serine on callus induction, growth, and its regeneration was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January untill September 2008. Objective of this study was to know the effect of glutamine and serine on callus induction, growth, and its regeneration in anther culture of Anthurium. Spadix of Anthurium andraeanum cv. Tropical, callus derived from anther and Winarto and Teixeira medium were utilized in the study. Glutamine and serine of 0, 250, 500, and 750 mg/l were tested in the experiments. Factorial experiment was arranged by completely randomized design with four replications. Results of the study indicate that addition of glutamine and serine in selected culture medium gave moderate significant effect on induction, growth, and regeneration of callus. Glutamine in 250 mg/l induced potential growth of anther up to 48% with 21% regenerated anthers and 1.3 anthers per treatment producing calli, while 500 mg/l of serine was better concentration in callus formation with 55% potential growth of callus, 24% regenerated anthers and 1.4 anthers per treatment producing calli. In growth and regeneration of callus, supplementation of serine reduced callus capacity in growth and production of shoots and stimulated callus senescence causing browning and death of it, while 250 mg/l glutamine exhibited positive effect on them. The treatment without serine was able to induce potential growth of callus up to 77% with 237 mm3 per callus and four shoots produced per explants. Results of the study suggest application of glutamine rather than serine in improving anther culture of Anthurium.
- Nurmalinda, Susukandari Kartikaningrum, Nur Qomariyah Hayati, Diah Widyastoety
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p372-384

Abstract:Penelitian preferensi konsumen dapat membantu pemulia dalam menentukan arah dan tujuan penelitian pemuliaan terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap varietas unggul baru yang akan dihasilkan. Tujuan penelitian ialah untuk mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium. Survei dilakukan terhadap 21 responden Phalaenopsis dan 32 responden Vanda, serta uji preferensi konsumen (100 panelis) anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium dalam peragaan di arena Pameran Hortikultura Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Juli-November 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap atribut kualitas anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium ialah bunga berbentuk bulat, warna putih untuk Phalaenopsis dan Vanda, serta warna hijau untuk Dendrobium, diameter bunga berukuran sedang, motif bunga tidak berpola (polos), jumlah kuntum bunga sedang (10-15 kuntum), serta jumlah kuntum bunga yang mekar 70-80%. Selain itu ketahanan simpan bunga lebih dari 10 hari. Implikasi dari penelitian ini ialah bahwa untuk merakit varietas-varietas baru yang diinginkan konsumen, perlu memperhatikan atribut-atribut preferensi yang diinginkan konsumen, seperti bentuk, warna, diameter, motif, jumlah kuntum per tangkai, serta ketahanan simpan bunga yang lebih lama.Consumer’s preference research can help the breeders in giving direct and goal their breeding activity in conjunction to fullfil consumer’s needs of new superior plant varieties. The objectives of this study were to identify consumer’s preference on Phalaenopsis, Vanda, and Dendrobium orchid. This study was conducted using survey method through collecting data of 21 respondents of Phalaenopsis, 32 respondents of Vanda, and flower display method through interviewing 100 panelists of Dendrobium, Phalaenopsis, and Vanda during Horticulture Exhibition at Beautiful Indonesian Miniature Park (TMII) Jakarta on July till November 2006. The results showed that consumer’s preferences of Phalaenopsis, Vanda, and Dendrobium were the plant having rounded flower, white color for Phalaenopsis and Vanda, green color for Dendrobium, medium diameter, plain color, medium number of flower bud of 10-15 flower buds per stem, 70-80% bloomed-flower, and vaselife more than 10 days. Implication of this research was better that in producing new superior varieties the breeders shall take into consideration the consumer’s needs in keeping with the preference attributes such as shape, color, diameter, patern, number, and vaselife of flower buds.
- Riska, - Jumjunidang, Catur Hermanto
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p331-337

Abstract:Penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman pisang. Teknik pengendalian yang efektif dan berwawasan lingkungan perlu terus diupayakan, di antaranya melalui penggunaan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian daun beberapa tumbuhan penghasil minyak atsiri terhadap jumlah propagul awal Foc dalam tanah dan pengendalian penyakit layu Fusarium pisang pada skala rumah kasa. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2009. Rancangan yang digunakan dalam percobaan ialah acak kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan, masing-masing ulangan terdiri atas lima tanaman. Perlakuan tersebut adalah empat jenis daun tumbuhan penghasil minyak atsiri yaitu : (A) daun nilam, (B) serai, (C) daun kayu manis, (D) daun cengkeh, dan (E) tanpa perlakuan (kontrol). Tanaman uji adalah bibit pisang Ambon Hijau hasil perbanyakan kultur jaringan umur 2 bulan setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian daun tumbuhan penghasil minyak atsiri mampu menekan jumlah propagul awal Foc di dalam media tanam. Persentase penurunan propagul Foc awal dalam media yang berumur 5 minggu setelah pemberian tumbuhan penghasil minyak atsiri berkisar antara 50,1-70,6%. Semua perlakuan, kecuali daun nilam, juga mampu memperlambat munculnya gejala atau masa inkubasi penyakit. Masa inkubasi penyakit paling lama terjadi pada perlakuan pemberian daun cengkeh, diikuti dengan perlakuan pemberian daun kayu manis dan daun serai dengan perpanjangan masa inkubasi masing-masing sampai 22 dan 15 hari dibandingkan dengan kontrol. Pemberian daun tumbuhan mengandung minyak atsiri belum berakibat pada penurunan persentase dan intensitas serangan penyakit, sehingga perlakuan pemberian tumbuhan penghasil minyak atsiri perlu dikombinasikan dengan metode pengendalian lain agar lebih efektif dalam menekan penyakit layu Fusarium.Fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is the most important disease on banana. Effective and environmental friendly techniques in controlling the disease need to be effort continually, among of them are with application of biopesticide to suppres Foc. The objectives of the research were to know the effect of some plant producing essential oils on initial number of propagule of Foc in soil and disease development of Fusarium wilt of banana. The research was conducted at Indonesian Tropical Fruits Research Institute Solok from February to June 2009. A randomized block design with five treatments and four replications was used, whereas each treatment consisted of five plants. Four types of plant producing essential oils as treatments, namely (A) crude of patchouly leaves, (B) crude of lemon grass, (C) crude of cassia leaves, (D) crude of clove leaves, and (E) water as control treatment were used. Ambon Hijau cultivar derived from tissue culture propagation of 2 months after acclimatization was used as experiemental material. The result showed that application of leaves of plant producing essential oils decreased initial number of Foc propagules in the banana cultivation media. Percentage of reducing the number of initial propagule of Foc in medium after infestation of plant producing essential oils ranged between 50.1-70.6%. All application of plant producing essential oils, except crude of patchouly leaves, was effective to reduce the incidence of wilting or incubation period of the disease. The longest disease incubation period was determined on treatment with clove leaves, followed by cassia and lemon grass leaf with extending incubation period up to 22 and 15 days respectively compared to control. Application of the plant producing essential oils was not successfully applied in suppressing the percentage of wilt and disease intensity on banana under screenhouse condition. Therefore combination treatments with other techniques in conjunction to improve the effectivity of the plants in controlling Fusarium wilt disease are suggested.
- Martias, F Nasution, - Noflindawati, Tri Budiyanti, Yusdar Hilman
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p324-330

Abstract:Pepaya sangat potensial dibudidayakan di lahan rawa pasang surut, tetapi ketersediaan hara dalam tanahnya tergolong rendah. Nitrogen dan kalium merupakan hara yang relatif banyak dibutuhkan pepaya, sehingga budidaya pepaya di lahan rawa pasang surut perlu penambahan hara tersebut melalui pemupukan. Penelitian dilakukan di lahan rawa pasang surut eks proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektar di Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah dari bulan Juni 2007 sampai April 2008. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh pemberian hara N dan K terhadap pertumbuhan dan produksi pepaya. Benih pepaya yang digunakan ialah varietas Merah Delima. Penelitian disusun dengan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor I ialah takaran pupuk nitrogen yaitu 0, 125, 250, 375 g/tanaman dan faktor II ialah takaran pupuk kalium (K20) yaitu 0, 150, 300, 450 g/tanaman. Tiap unit perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia tanah, pertumbuhan vegetatif, dan produksi tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketersediaan N, P, dan Fe di lokasi penelitian tergolong sangat tinggi, K rendah, sedangkan Ca dan Mg sangat rendah. Pemupukan N hingga taraf 375 g/tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman pepaya. Namun pada fase produktif (10 bulan setelah tanam), panjang buah secara nyata meningkat dengan pemberian N 250 g/tanaman. Pemberian K2O pada taraf 300g/tanaman secara nyata meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman (jumlah, bobot, panjang, dan PTT), sedangkan pemberian K2O yang melebihi 300 g/tanaman mengakibatkan penurunan pertumbuhan, produksi, dan kualitas buah. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan penelitian dan penyusunan rekomendasi pemupukan pepaya di lahan rawa pasang surut. Papaya has opportunity to be cultivated in tidal swamp land but the availability of its nutrient in the soil is low. Nitrogen and potassium are the major nutrients needed by papaya, so that the nutrient should be added through fertilization. The research was conducted in tidal swamp land in Mantangai, Kapuas, Central Kalimantan Province, from June 2007 to April 2008. The objective of this research was to investigate the effect of nutrient N and K on growth and production of papaya in tidal swamp land. Merah Delima variety was used as a seed in this research. The factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications.The first factor was dosage of nitrogen of 0, 125, 250, and 375 g/plant and the second factor was amount of potassium (K2O) from 0, 150, 300, and 450 g/plant. Each unit of treatment consisted of 10 plants. The parameters observed include the chemical properties of soil, vegetative growth, and crop production. The results showed that the availability of N, P, and Fe at the research location was classified as very high, whereas K was low, Ca and Mg were very low. Nitrogen fertilization up to level 375 g/plant did not significantly increase the vegetative growth of papaya plants because of its high availability of the nutrition on the soil. However, in the productive phase (10 months after planting), fruit length was significantly increased with application of N in dose 250 g/plant. Application of K2O fertilizer on 300/plant increased significantly vegetative growth and yield (number of fruit, fruit weight, fruit length, and TSS), whereas application of more than 300 g/plant decreased their growth, yield, and fruit quality. The results can be used as the basis to arrange and formulate fertilizer recommendation on papaya which is mainly grown on tidal swamp land.
Witono Adiyoga
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p353-371

Abstract:Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi segmen-segmen konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah berdasarkan peubah sosio-demografis dan persepsi tentang kepentingan kriteria produk. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan Juni sampai dengan September 2006. Responden terdiri dari 335 konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistik deskriptif, tabulasi silang, dan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kentang, dua peubah sosio-demografis (pendidikan dan pengeluaran) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, kemasan, label produk, dan kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen kentang. Jumlah segmen konsumen kentang yang dianggap paling sensible (pantas/masuk akal) ialah tiga segmen (segmen 1=120 orang, segmen 2=12 orang, dan segmen 3=203 orang). Berdasarkan komposisi tersebut, pemasar/petani kentang disarankan agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3. Untuk bawang merah, tiga peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran) dan 13 peubah kriteria produk (kesegaran, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, aroma, label produk, produk lokal, produk impor, dan kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen bawang merah. Jumlah segmen konsumen bawang merah yang dianggap paling sensible ialah dua segmen (segmen 1=113 orang dan segmen 2=222 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani bawang merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 2. Untuk cabai merah, empat peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, pengeluaran, dan frekuensi memasak sendiri) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, label produk, dan kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen cabai merah. Jumlah segmen konsumen cabai merah yang dianggap paling sensible ialah tiga segmen (segmen 1=152 orang, segmen 2=2 orang, dan segmen 3=181 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani cabai merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3 dan 1. Penelitian lebih lanjut perlu mempertimbangkan pencantuman peubah kriteria produk secara lebih terinci dan spesifik.The objective of this study was to identify market or consumer segments of potato, shallots, and hot peppers based on socio-demographic variables and the importance of product criteria. Consumer surveys were carried out in three big cities of vegetable main consumer in Indonesia i.e. Jakarta (DKI Jaya), Bandung (West Java), and Padang (West Sumatera) from June to September 2006. Respondents of these surveys were 335 potato, shallots, and hot peppers consumers who were randomly selected. Descriptive statistics, cross tabulations, and cluster analysis were used for data elaboration. Results show that for potato, two socio-demographic variables (education and expenditures) and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, packing, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the potato clusters. Three clusters are identified as the most sensible subgroup for potato consumer segments i.e. segment 1=120 cases, segment 2=12 cases, and segment 3=203 cases. Based on this composition, potato marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 for implementing their marketing mix strategy. For shallots, three socio-demographic variables (education, employment, and expenditures) and 13 product criteria variables (freshness, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, aroma, product label, local product, imported product, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the shallots clusters. Two clusters were identified as the most sensible subgroup for shallots consumer segments i.e. segment 1=113 cases and segment 2=222 cases. Based on this composition, shallots marketers/farmers are suggested to focus on segment 2 for implementing their marketing mix strategy. For hot peppers, four socio-demographic variables (education, employment, expenditures, and self-cooking frequency), and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the hot peppers clusters. Three clusters were identified as the most sensible subgroup for hot peppers consumer segments i.e. segment 1=152 cases, segment 2=2 cases, and segment 3=181 cases. Based on this composition, hot peppers marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 and 1 for implementing their marketing mix strategy. Further study needs to consider involving more detailed and more specific product criteria variables.
Asma Sembiring, Rini Rosliany
Published: 2 December 2011
Jurnal Hortikultura, Volume 21; doi:10.21082/jhort.v21n4.2011.p385-392

Abstract:Sistem produksi kentang intensif menggunakan bahan kimia sintesis telah melipatgandakan hasil, namun memberi dampak negatif terhadap lahan dan menyebabkan resistensi hama dan penyakit. Salah satu upaya mengatasinya ialah dengan pertanian ramah lingkungan menggunakan limbah organik sebagai pupuk dan kombinasi perlakuan subsoiling, solarisasi, serta tumpangsari tanaman kentang, dan tagetes sebagai pengganti pestisida. Penelitian ini bertujuan membandingkan penggunaan paket teknologi budidaya kentang secara terpadu di dataran tinggi berdasarkan teknologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) (cara pengolahan tanah, pemupukan, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan) dengan teknologi petani. Penelitian lapangan dilakukan di lahan petani di Desa Ciburial Lembang dari bulan Mei sampai dengan September 2009. Perlakuan terdiri atas teknologi Balitsa dan teknologi petani yang dirancang berdasarkan hasil survei terhadap 24 responden petani kentang di Pangalengan, Garut, dan Lembang pada bulan April 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi Balitsa tidak menghasilkan produksi yang lebih tinggi daripada teknologi petani, namun dapat menghemat biaya tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk buatan, dan pestisida. Meskipun dalam penerapannya teknologi Balitsa membutuhkan biaya cukup besar untuk solarisasi, subsoiling, penanaman tagetes, penggunaan feromon sex, dan perangkap kuning, namun secara keseluruhan biaya yang dikeluarkan dengan teknologi petani lebih besar dibandingkan teknologi Balitsa dengan besar biaya masing-masing Rp536.735,21 dan Rp494.327,58. Analisis budget parsial penerapan teknologi Balitsa untuk luasan 100 m2 memberikan keuntungan tambahan sebesar Rp10.447,63 atau Rp1.044.763/ha. Hasil studi mengindikasikan perlunya pelaksanaan ulang penelitian serupa dengan skala yang lebih luas agar konsistensi hasil penelitian ini dapat dibuktikan dan ke depan teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi biaya input produksi kentang. The objective of the study was to compare the IVEGRI’s potato integrated crop management to farmers’ practices. An on-farm trial was carried out in Ciburial Village of Lembang from May to September 2009. Potato integrated crop management components assembled in Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) was compared to simulated farmers’ practices. Farmers’ practices were derived from averaging the result of a prior farm survey to 24 potato farmers in Pangalengan, Garut, and Lembang. Results showed that IVEGRI’s technology does not provide a higher yield as compared to farmers’ practices. Even though the IVEGRI’s technology spends some additional costs for subsoiling, trap crop (Tagetes), sex pheromone, and yellow trap, but its total cost was still slightly lower thant of farmers Rp494,327.58 and Rp536,735.2 per m2 respectively. Partial budget analysis indicates that the IVEGRI’s technology provides additional net income as much as Rp10,447.63 per 100 m2 or Rp1,004,763 per ha. This study indicates a need to conduct similar research in a larger scale to seek for its consistency.
Page of 28
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search