Journal Jurnal Hortikultura

-
270 articles
Page of 28
Articles per Page
by
Leli Kurniasari, Endah Retno Palupi, Yusdar Hilman, Rini Rosliani
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 201-208; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p201-208

Abstract:Produksi benih botani bawang merah (true shallot seed/TSS) dapat ditingkatkan melalui peningkatan pembungaan dan intensitas penyerbukan. Aplikasi BAP dapat meningkatkan pembungaan, sementara introduksi serangga penyerbuk dapat meningkatkan intensitas penyerbukan. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan produksi TSS di dataran rendah Subang (100 m dpl.). Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai November 2014. Penelitian terdiri atas dua tahap percobaan. Percobaan pertama disusun dalam rancangan petak terbagi dengan empat ulangan. Petak utama adalah waktu aplikasi BAP yang terdiri dari 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST) serta 2, 4, dan 6 MST. Anak petak adalah konsentrasi BAP yang terdiri dari 0, 50, 100, 150, 200, dan 250 ppm. Percobaan kedua dilakukan dengan membandingkan produksi TSS dari dua populasi yang diintroduksi serangga dan tanpa introduksi serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi BAP pada 2, 4, dan 6 MST efektif meningkatkan persentase tanaman berbunga, jumlah bunga per umbel, jumlah kapsul per umbel, persentase pembentukan kapsul per umbel, dan bobot TSS per tanaman. Introduksi Apis cerana efektif meningkatkan jumlah kapsul bernas per tanaman, persentase pembentukan kapsul per tanaman, jumlah TSS per tanaman, persentase TSS bernas per tanaman, dan bobot TSS per tanaman, bobot 100 butir, dan daya berkecambah.Production of true shallot seed (TSS) can be increased by enhancing flowering and intensifying the pollination. Application of BAP enhances flowering, whereas introduction of insect pollinator intensifies pollination. This research was aimed to increase TSS production in lowland area of Subang (100 m asl.) and was carried out from June until November 2014. The research consisted of two experiments. The first experiment was arranged in split plot design with four replications. The main plot was time of application of BAP i.e. 1, 3, and 5 week after planting (WAP) and 2, 4, and 6 WAP. The sub plot was consentration of BAP i.e. 0, 50, 100, 150, 200, and 250 ppm. The second experiment was comparing TSS production from two populations with and without installment of Apis cerana hive. The result showed that BAP applied on 2, 4, and 6 WAP effectively increased percentage of plant flowering, number of flower per umbel, number of capsules per umbel, percentage of fruitset, and TSS weight per plant. Introduction of Apis cerana have increased fruitset, percentages of filled TSS, number of TSS per umbel, and TSS weight per umbel as well as weight of 100 seed, and germination capacity.
Nfn Sudiono, Surjono Hadi Sutjahyo, Nurheni Wijayanto, Purnama Hidayat, Rachman Kurniawan
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 297-310; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p297-310

Abstract:Produktivitas usahatani sayuran menghadapi kendala produksi akibat gangguan organisme pengganggu tanaman, hal tersebut dapat diselesaikan melalui praktek pertanian yang baik dan pengendalian hama terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan indikator pengelolaan usahatani tanaman sayuran berkelanjutan dan menganalisis nilai indeks keberlanjutan pengelolaan usahatani berbasis pengendalian hama terpadu. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Oktober 2015 di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Metode penelitian menggunakan analisis multi dimensional scaling (MDS), leverage analysis, analisis Monte Carlo dengan teknik rapid appraisal for integrated pest management (Rap IPM) yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai indeks dan status keberlanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 60 atribut yang di antaranya terdapat 20 faktor pengungkit atau atribut yang sensitif terhadap nilai indeks dan status keberlanjutan. Indeks keberlanjutan usahatani tanaman sayuran berbasis PHT di Kabupaten Tanggamus termasuk kriteria kurang berkelanjutan, dengan indeks gabungan sebesar 48,13. Indeks keberlanjutan yang paling tinggi adalah dimensi sosial dan ekonomi masing-masing sebesar 60,90 dan 51,39 termasuk kriteria cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi ekologi, teknologi, dan kelembagaan masing-masing sebesar 48,54; 38,36; dan 40,61 termasuk kriteria kurang berkelanjutan.The yield of vegetable is at risk due to the incidence of pests and pathogens. It was related to good agricultural practices and integrated pest management. The purposes of this research were to identify indicators of sustainable vegetables farm and to analyze index sustainability of vegetable farm based on integrated pest management. The research was conducted from March to October 2015 in Tanggamus District, Lampung Province. This research applied multi dimensional scaling (MDS), leverage analysis, and Monte Carlo analysis by rapid appraisal for integrated pest management (Rap IPM). Research showed that among 60 indicators analyzed there were 20 sensitive indicators that affected sustainability index and status. Sustainability index in Tanggamus District were dimension of social and economy obtained value 60.90 and 51.39, it was categorized as sufficiently sustainable, while sustainability index of ecology, technology, and institution dimensions were 48.54, 38.36, and 40.61 respectively, which were considered as less sustainable.
Nirmala Friyanti Devy, Nfn Yenni, Nfn Hardiyanto
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 173-184; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p173-184

Abstract:Plantlet jeruk hasil perbanyakan embriogenesis somatik (ES) in vitro telah banyak dihasilkan. Meskipun demikian, pertumbuhan vegetatif dan generatif di lapang belum dievaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jeruk hasil sambung dengan plantlet asal ES dibandingkan mata tempel asal BPMT. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, mulai September 2013 sampai dengan Desember 2016. Materi penelitian adalah tanaman jeruk dengan batang atas asal (a) plantlet hasil regenerasi melalui ES tanpa bagian akarnya dan (b) mata tempel yang berasal dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT), yang masing-masing disambungkan dan ditempelkan dengan batang bawah Japansche Citroen (JC) berumur 8 bulan setelah transplanting. Tanaman hasil sambung berumur 1 tahun dipindah dan ditanam di lapang dengan jarak tanam rapat 1,5 m x 1,5 m. Pengamatan pertumbuhan dilakukan mulai umur 18 – 42 bulan setelah transplanting (BST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jeruk dengan batang atas hasil ES dapat tumbuh, berkembang, dan berproduksi sama dengan tanaman dengan batang atas asal BPMT. Tinggi tanaman, diameter batang atas, dan diameter batang bawah pada tanaman ES tidak berbeda nyata dengan tanaman BPMT. Tanaman pada dua perlakuan mulai berbunga pada umur 18 BST, dengan jumlah bunga, buah, dan persentase fruitset yang tidak berbeda nyata antarkedua perlakuan, demikian juga pada pembungaan pada tahun berikutnya. Jumlah buah pada tahun ke-2 berbuah (September 2014) dan akhir pengamatan (September 2016) menunjukkan terjadi kenaikan sebesar 215,7% dan 176,1% pada masing-masing perlakuan ES dan BPMT, sedangkan pada tahun ke-4 pembuahan (2016), perlakuan tanaman jeruk hasil ES mempunyai jumlah buah/tanaman dan berat buah total/tanaman lebih banyak secara nyata dibandingkan asal BPMT. Sifat fisik dan kualitas buah (vit C, total keasaman, dan TPT) yang dihasilkan relatif sama. Tanaman jeruk siam Kintamani yang berasal dari plantlet hasil perbanyakan ES in vitro dan disambungkan dengan batang bawah JC dapat tumbuh, berkembang, dan berproduksi dengan normal di lapang.The plantlets derived from citrus somatic embryogenesis (SE) in vitro have been widely produced. However, their vegetative and generative growth in the field has not been evaluated. The aimed of this research was to evaluate the ability of vegetative and generative growth both of SE and Budwood Multiplication Block (BMB) derived citrus plants. The research was conducted in Tlekung Experimental Garden, Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute, from September 2013 to December 2016. The citrus plants derived from (a) root-decapitated plantlets and (b) buds come from BMB that were grafted and budded, respectively on 8 months old JC rootstock. One-year old grafted and budded plants were planted at field using a dense spacing (1.5 m x 1.5 m). The plant growth...
Nirmala Friyanti Devy, Nfn Hardiyanto
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 155-164; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p155-164

Abstract:Jeruk siam Gunung Omeh/Gn. Omeh (Citrus nobilis Lour.) merupakan jeruk lokal yang berkembang di seluruh sentra jeruk Sumatera Barat. Namun, buah yang ada di pasar sangat beragam fenotipiknya. Tujuan penelitian adalah untuk mengelompokkan sebaran tanaman jeruk Gn. Omeh yang berada pada empat Kabupaten berdasarkan karakter genetik dan morfologi. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2016, dengan 21 contoh daun dan buah berasal dari petani di empat kabupaten pengembangan wilayah jeruk Sumatera Barat (Kabupaten Limapuluh Kota, Agam, Solok Selatan, dan Tanah Datar), dan dua contoh daun kontrol masing-masing asal BPMT dan PIT di Kabupaten Limapuluh Kota. Keragaman morfologi daun dan buah dianalisis dengan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis/PCA). Data yang dihasilkan dianalisis lebih lanjut dengan kluster analisis untuk mengamati pengelompokannya. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kemiripan secara genetik 23 contoh jeruk Gn. Omeh yang dianalisis menggunakan dua macam RAPD marker, yaitu OPA 04 dan OPA 18 yang menghasilkan 24 pita, di mana 83,3% adalah polimorfik. Berdasarkan dendrogram yang dihitung menurut UPGMA, 23 contoh daun jeruk secara genetis terbagi menjadi dua kelompok besar. Pada kelompok I, terdapat dua contoh asal Kabupaten Limapuluh Kota, sedangkan 21 contoh sisanya berada pada kelompok II. Pada derajat kemiripan antara 86,5–96%, tanaman PIT mirip dengan A1 dan satu subkelompok dengan S2, A5, T3, T5, dan S1, sedangkan BPMT mirip dengan T4, dan satu subkelompok dengan A4 dan A3. Berdasarkan karakter morfologi pada derajat kemiripan 75%, jeruk Gn. Omeh di Sumatera Barat terbagi menjadi lima kelompok, di mana pada kelompok 1, 3, 4, dan 5 masing-masing adalah contoh L1, T5, S5, dan S2, sedangkan 18 tanaman lainnya masuk di dalam kelompok 2. Dari hasil analisis secara genetik maupun morfologi menghasilkan derajat variasi yang cukup tinggi di antara 23 contoh yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman buah yang ada diduga disebabkan oleh penggunaan benih serta pengelolaan tanaman yang beragam.The Gunung Omeh citrus (Citrus nobilis Lour.) is a local citrus growing throughout the citrus center of West Sumatera. However, the fruits available in the market are very diverse phenotypic. The purpose of this study is to classify the spread of citrus cv. Gn. Omeh derived from four districts based on genetic and morphological characters. The study was conducted from January to June 2016, with 21 of leaf and fruit samples collected from four Citrus District Regional Development farmers in the West Sumatera (Limapuluh Kota, Agam, Solok Selatan, and Tanah Datar). Besides that, control leaf samples derived from Budwood Multiplication Block/BPMT and Single Mother Tree/PIT were used. The morphological diversity both leaves and fruits were analyzed by Principal Component Analysis (PCA). The result showed that the level of genetic similarity in 23 samples of orange Gn. Omeh analyzed using two markers RAPD namely...
Rofik Basuki Sinung, Nur Khaririyatun, Asma Sembiring, Idha Widi Arsanti
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 261-268; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p261-268

Abstract:Kontribusi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) sebagai institusi pemerintah penghasil teknologi baru, termasuk varietas baru untuk meningkatkan pendapatan petani masih belum diperoleh informasi secara lengkap. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat adopsi dan kontribusi varietas bawang merah Bima Brebes asal Balitsa dalam meningkatkan pendapatan petani adopter, serta mengetahui tingkat pengembalian investasi rate of investment (ROI ) biaya penelitian dan pengembangan teknologi bawang merah Bima Brebes pada bulan Juni–Desember 2014 di Desa Wanasari, Tanjung, Kemukten, dan Limbangan, Kabupaten Brebes. Lokasi-lokasi tersebut dipilih secara purposive karena dari observasi lapangan diketahui bahwa para petani di lokasi-lokasi tersebut diketahui telah mengadopsi teknologi dan varietas unggul dari Balitsa. Pengumpulan data dilakukan melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) dan wawancara individual dengan kuesioner terstruktur. Pemilihan responden dilakukan secara purposive yang terdiri atas 16 petani penanam bawang merah varietas Bima Brebes (adopter) dan 21 petani penanam varietas Bima Curut (nonadopter). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, menggunakan gambar garis waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi benih bawang merah varietas Bima telah didiseminasikan di Brebes sejak tahun 1985 dan hingga saat ini diadopsi cukup luas di Kabupaten Brebes dengan sebaran adopsi kurang lebih 16.522 ha. Pada tahun 2013, adopsi varietas Bima Brebes di Kabupaten Brebes dapat meningkatkan pendapatan bersih total adopter sebesar 345,050 milyar rupiah dengan ROI biaya penelitian dan diseminasi sebesar 71,125%.Contribution of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) as an institution who produces new technologies, including new varieties, on the improvement of farmers’ income has not been got completed information yet. The objectives of the research were to figure out the level of adoption and contribution of Bima Brebes shallot variety from IVEGRI in increasing adopter farmers’ profit, as well as to figure out the return on investment (ROI) of research and dissemination of Bima Brebes shallot. This expost evaluation research was conducted in June–December 2014 in Wanasari Village, Tanjung, Kemukten, and Limbangan, Brebes District. The location was chosen purposively because in the area there were a quite lot of farmers who adopted Bima Brebes shallot variety. Data were collected through Focus Group Discussion (FGD) and an individual interview used structured questionnaire. The respondents consisted of 16 Bima Brebes adopter shallot farmers and 21 nonadopters shallot farmers who planting Bima Curut variety. Data were analysed using descriptive statistic with time line picture. The result of study showed that the technology of Bima Brebes variety from IVEGRI has been disseminated since 1985 in Brebes District and currently, it has been adopting quiet large as well. The spreading adoption is about 16,522 ha. In 2013,...
Nfn Makful, Nfn Hendri, Nfn Sahlan
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 185-194; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p185-194

Abstract:Ketersediaan varietas baru melon yang sesuai dengan permintaan konsumen akan membuat komoditas ini lebih berharga sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Secara umum, karakteristik melon yang diinginkan adalah manis, renyah, beraroma kuat, kulitnya berjala, dan tahan simpan. Sampai saat ini ada dua kandidat melon hibrida yang sedang dievaluasi. Pada tahun 2012 dilakukan uji penanaman dua calon varietas melon tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan evaluasi dua calon varietas unggul baru (genotipe MB1 dan MB2) di tiga lokasi tanam dan juga untuk memperoleh calon varietas melon baru. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sumani (Solok, Sumatera Barat), Subang (Jawa Barat), dan Banyuwangi (Jawa Timur). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan, yaitu dua calon hibrida: 86H (MB1) dan 78M (MB2) dan dua varietas pembanding (Tropika dan Glamour), dengan enam ulangan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 30 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata antara genotipe x lingkungan terhadap karakter berat buah dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada karakter berat buah dan total padatan terlarut, genotipe 86H/MB1 memiliki koefisien regresi (βi) > 1, artinya genotipe memiliki stabilitas di bawah rerata (mempunyai daya adaptabilitas spesifik pada suatu lingkungan yang menguntungkan), sebaliknya untuk genotipe 78M/MB2 memiliki koefisien regresi (βi) < 1, yang berarti genotipe 78M/MB2 mempunyai stabilitas di atas rerata (tidak responsif terhadap perubahan lingkungan). Berdasarkan hasil pengujian di tiga lokasi diperoleh informasi berat buah semua aksesi tertinggi pada lokasi tanam Banyuwangi, yaitu genotipe 86H/MB1 dengan berat 2,35 kg, Tropika 2,68 kg, genotipe 78M/MB2 2,05 kg, dan Glamour 2,21 kg, TSS buah pada lokasi tanam Sumani, yaitu genotipe 86 H/MB1 dengan TSS 12,47ºBrix, Tropika 11,71ºBrix, genotipe 78 M/MB2 12,88ºBrix, dan Glamour 11,89ºBrix, sedangkan persentase jaring kulit melon genotipe MB1 lokasi Sumani adalah 86% dan Banyuwangi adalah 88,67% dengan tekstur jala halus, sedikit di bawah dari pembanding Tropika 89,5% dan Glamour 89%.The availability of new varieties of melon that suitable to the consumers demand will lead this commodity more marketable so that can increase farmers’ income. In general, expected characteristics of melon are sweet, crisp, strong-scented, rind nets, and long shelf-life. There are two candidates of melon hybrid that are being evaluated. The evaluation test of two candidates of melon varieties has been done in 2012. The purpose of this study was to evaluate the two candidates of new varieties (MB1 and MB2 genotype) in three planting locations and to obtain new candidate of melon varieties. The research was conducted in Sumani (Solok, West Sumatera), Subang (West Java), and Banyuwangi (East Java). A randomized block design was used in this experiment with four treatments [two hybrid melon candidates: 86H...
Djoko Mulyono, M. Jawal Anwarudin Syah, Apri Laila Sayekti, Yusdar Hilman
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 209-216; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p209-216

Abstract:Sistem perbenihan kentang yang ada saat ini terdiri atas lima kelas benih, yaitu G0, G1, G2, G3, dan G4. Kelas benih G0 sampai G3 merupakan benih sumber, sedangkan kelas benih G4 merupakan benih sebar. Banyak penangkar, petani maupun stakeholder lainnya berpendapat bahwa proses produksi benih kentang dari kelas G0 sampai G3 cukup lama sehingga penyediaan benih untuk kentang konsumsi (G4) tidak dapat dilakukan secara cepat. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat produktivitas kentang masing-masing kelas benih G0 sampai G4 agar dapat direkomendasikan sebagai kelas benih untuk kentang konsumsi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu Balitsa Lembang dari bulan September sampai November 2012 menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan, yaitu kelas benih (G0, G1, G2, G3, G4, dan kontrol) dan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, produksi, dan mutu produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kentang yang berasal dari kelas benih G3 menghasilkan produksi dan kelas umbi A dan B yang tertinggi sehingga cocok untuk benih sebar. Untuk peningkatan produksi ternyata kelas benih yang lebih tinggi (G0 dan G1) memiliki peningkatan produksi dan menghasilkan umbi kelas C dan D yang lebih tinggi daripada kelas benih di bawahnya sehingga cocok dikategorikan sebagai benih sumber.Potato seed systems that exist today consists of five seeds classes, namely G0, G1, G2, G3, and G4. G0 to G3 seed is the source seed, while classes G4 seed was extension seed. Many breeders, farmers and other stakeholders argue that the process of seed production from G0 to G3 class was too long so that the supply of potatoes seeds for consumption (G4) could not be carried out faster. Research was conducted to determine the level of productivity of each class of potato seed G0 to G4 to be recommended as a seed class for potato consumption. The reseach was conducted at Margahayu Experimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September–November 2012 in randomized block design with six treatments : seed class (G0, G1, G2, G3, G4, and control) with four replications. The parameters observed were plant growth, production, and product quality. Hence, it can be concluded that potatoes derived from G3 class was quite suitable for extension seeds. The higher the seed class (G0 and G1) the higher the increasing rate and it produced higher number of C and D tuber grade.
Mutia Erti Dwiastuti, Gusti Ngurah Ketut Budiarta, Loekas Soesanto
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 231-240; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p231-240

Abstract:Penyakit diplodia (Botryodiplodia theobromae) pada tanaman jeruk menyebar cukup luas di sentra jeruk Indonesia. Serangan parah penyakit dapat menyebabkan kematian apabila tidak dikendalikan. Tujuan penelitian adalah mengetahui patogenisitas dan peran toksin dari tiga isolat B. theobromae asal Pasuruan dan Magetan pada jeruk siam, pamelo, dan manis. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika pada bulan November 2015 – Mei 2016. Penelitian terdiri atas dua percobaan, yaitu uji patogenisitas pada tanaman dan uji toksin kasar pada skala laboratorium. Uji patogenisitas menggunakan rancangan acak kelompok dengan sembilan kombinasi perlakuan terdiri atas tiga jenis isolat, yaitu Mg52A.1, dan Mg39.2 (asal Magetan), Ps8b (asal Pasuruan), serta tiga jenis tanaman jeruk (pamelo, siam, manis). Parameter pengamatan terdiri atas masa inkubasi, jumlah sampel nekrosis, dan luas gejala. Perlakuan pengujian toksin terdiri atas kontrol tanpa toksin, toksin kasar isolat Mg52A.1, toksin kasar isolat Mg39.2, dan toksin kasar isolat Ps8b. Aplikasi toksin dilakukan pada daun tiga varietas jeruk dengan rancangan acak lengkap, tiap perlakuan diulang tiga kali dan masing masing terdiri atas dua daun asal tanaman yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa inkubasi isolat Mg39.2 lebih cepat dibandingkan dengan isolat Mg52A.1 dan Ps8b. Ketiga isolat patogen B. theobromae asal Pasuruan dan Magetan memiliki patogenisitas yang sama dalam menimbulkan gejala penyakit pada jeruk pamelo, siam, dan manis, sedangkan toksin hanya berperan dalam mempercepat masa inkubasi.Diplodia disease (Botryodiplodia theobromae) spread quite widely in Indonesia citrus center. Severe attacks of disease can cause death if it not controlled. The purpose of this study was determine the pathogenicity and the effect of toxins from three isolates of B. theobromae origin Pasuruan and Magetan on tangerine, pummelo, and sweet orange varieties. The study was conducted at Indonesian Citrus and Subtropical Research Institute during November 2015 – May 2016. This observation consisted of two experiments that pathogenicity test in screenhouse and crude toxin of patogen test in laboratory. Pathogenicity test used randomized block design arranged as factorial. The first factor was three isolates: Mg52A.1, Mg39.2 (from Magetan), Ps8b (from Pasuruan) and the second factor were kind of citrus (pummelo, tangerine , and sweet orange). The observation parameter consist of the incubation period, the number of necrotic samples and visual symptom. Crude toxin test treatment consists of a control test toxin without toxins, crude toxin Mg52A.1, crude toxin Mg39.2 toxin, crude toxin Ps8b. Application toxin carried out on the three leaf varieties of oranges. Each treatment was repeated three times and each consists of two leaves of different varieties. The results showed that the incubation period Mg39.2 isolates faster than two other isolates....
Nfn Kusmana, Yenni Kusandriani, Diny Djuariah
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 147-154; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p147-154

Abstract:Cabai rawit merupakan salah satu sayuran utama petani di dataran tinggi, karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat dengan mudah ditanam secara tumpang gilir dengan komoditas sayuran lainnya. Tujuan pengujian adalah mengetahui daya hasil genotipe-genotipe harapan cabai rawit pada agroekosistem dataran tinggi di Pangalengan. Pengujian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak, dengan empat ulangan. Bahan pengujian terdiri dari empat genotipe harapan cabai rawit yang merupakan koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Sayuran, yaitu CRM 01, CRM 02, CRM 03, dan CRM 04 serta tiga varietas pembanding, yaitu Hot Seed, Patra, dan Bara. Pengujian dilakukan di Desa Gunung Cupu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, 1.500 m dpl. Waktu pengujian bulan Maret sampai dengan Desember 2014. Data yang diamati meliputi data morfologi tanaman dan produktivitas hasil. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter fenotipik antartujuh genotipe yang diuji. Genotipe CRM 03 menampilkan potensi hasil yang tertinggi (9,64 ton/ha), dengan karakter buah muda berwarna putih dan buah tua berwarna merah oranye. Genotipe CRM 03 dan genotipe Bara sangat cocok ditanam di dataran tinggi Pangalengan karena memiliki potensi hasil yang tinggi, yaitu CRM 03 mencapai 9,64 ton/ha sementara varietas pembanding Bara 8,76 ton/ha. Genotipe CRM 03 diharapkan akan menjadi varietas unggul baru cabai rawit yang mempunyai produktivitas tinggi dan cocok ditanam di Pangalengan dan akan mendongkrak produktivitas cabai rawit di Pangalengan dan daerah lainnya yang mempunyai agroekologi mirip dengan dataran tinggi Pangalengan.Chili (Capsicum sp.) is the main vegetable for farmers in the highland because it has high economic value and can be grown intercrop with others vegetables. The objective of the research was to test advanced genotypes of chili on yield under ecosystem highland of Pangalengan. The experimental design was randomized complete block design with four replications. Four genotypes of chili that were CRM01, CRM 02, CRM 03, and CRM 04 derived from advanced genotype from Indonesian Vegetables Research Institute and three varieties as comparison (Hot seed, Patra, and Bara) were used for treatments. The trial was conducted at Pangalengan, Bandung District, West Java Province, 1.500 m above sea level. The experiment was conducted since March until December 2014. Data observed was plant morphology and yield productivity. The result showed that was different phenotypic among the seven genotypes tested. CRM 03 Genotype was showed highest yielding (9.64 ton/ha), which has fruit character white and red orange for young and mature fruit. CRM 03 genotypes as well as variety of Bara was suitable to be grown in highland of Pangalengan due to high yielding. Yield obtained from CRM 03 was 9.64 ton/ha, whereas, Bara was 8.76 ton/ha. CRM 03 genotype hopefully can be released as a new variety with high yielding and adapted for Pangalengan and others locations similar...
Idha Widi Arsanti, Apri Laila Sayekti, Adhitya Marendra Kiloes
Published: 19 February 2018
Jurnal Hortikultura, Volume 27, pp 269-278; doi:10.21082/jhort.v27n2.2017.p269-278

Abstract:Kabupaten Karo, Sumatera Utara merupakan sentra produksi kubis yang berkontribusi memberikan devisa negara melalui ekspor. Di samping itu, kubis dari Kabupaten Karo memiliki keunggulan dalam karakteristik produknya dibandingkan dari negara lain. Namun demikian, arti penting kubis sebagai penyumbang nilai devisa belum diikuti dengan perlakuan produksi, panen, pascapanen, dan pemasaran yang memenuhi standar ekspor. Pelaku agribisnis di dalam rantai pasar kubis semakin banyak, di mana awalnya petani menjual ke pedagang pengumpul, pedagang besar, dan langsung ke eksportir, namun sekarang terdapat pelaku baru seperti pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, kemudian kubis dijual ke pedagang besar. Hal ini memungkinkan terjadinya inefisiensi margin pemasaran di sepanjang alur pemasaran. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan analisis rantai nilai komoditas kubis Kabupaten Karo untuk melihat keuntungan yang diperoleh setiap pelaku agribisnis kubis. Lebih lanjut dapat diberikan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan rantai pemasaran kubis di Kabupaten Karo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Karo melalui wawancara langsung kepada pelaku agribisnis kubis pada tahun 2012. Pemilihan sample dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa jumlah pelaku agribisnis kubis tidak terlalu banyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor kubis mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan pertanian kubis yang semakin sempit. Kubis dengan nilai R/C yang tinggi menunjukkan tingkat keuntungan yang cukup besar. Dalam rantai pemasaran kubis, petani menerima pangsa yang cukup besar, sementara eksportir dengan kapasitas usaha yang besar juga menerima pendapatan yang seimbang. Sebagai implikasi kebijakan, pemerintah dapat memberikan dukungan dalam peningkatan ekspor berupa diseminasi teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi serta fasilitasi ekspor baik sarana maupun prasarana pengangkutan dari lahan usahatani hingga pasar ekspor, perijinan ekspor serta bongkar muat di pelabuhan.Karo District, North Sumatera is a production center of cabbages which provides significant contribution of foreign exchange. Moreover, cabbages in Karo have many advantages compare to cabbages from other countries. Nevertheless, these important roles of cabbages have not been followed by standardized exported treatments, not only the production, harvest, postharvest but also the marketing treatment. Agribusiness of cabbages also show inefficiency of the marketing margin. Based on these problems, it is necessary to analyze the value chain of cabbages in Karo, to see the benefit received by each person in agribusiness system. Further, policy recommendations can be given to improve the efficiency and effectiveness of cabbage supply chain in Karo District. This research was conducted through interviews people who in charge in cabbage agribusiness in 2012. The purposive sample was done considering that the number people in...
Page of 28
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search