Journal Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

-
82 articles
Page of 9
Articles per Page
by
Joko Pitono, Nur Maslahah, Nfn Setiawan, Redy Aditya Permadi, Nfn Suciantini, Tri Nandar
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.105-114

Abstract:Produktivitas lahan kering dapat ditingkatkan bila periode ketersediaan lengas tanah pada musim kering dapat diperpanjang. Hydraulic lift sebagai proses redistribusi air tanah dari lapisan bawah yang lebih lembab ke lapisan dangkal yang cepat mengering oleh aktivitas akar tanaman, merupakan aspek ekologis yang layak diperhitungkan dalam mengelola tata air di lahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan hydraulic lift tanaman jambu mete yang diindikasikan oleh nilai recovery lengas tanah harian (RLTH) pasca kehilangan lengas tanah oleh aktivitas evapotranspirasi pada siang hari. Penelitian dilakukan pada area terbuka berdampingan dengan blok koleksi jambu mete umur 20 tahun di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Penilaian RLTH dilakukan pada radius 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 kali jari-jari kanopi dari pangkal jambu mete sebagai faktor perlakuan tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok, enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan nilai RLTH jambu mete selalu positif dan lebih besar dari 0,010 MPa sebagai nilai ambang minimal suatu tanaman dinyatakan memiliki kemampuan hydraulic lift. Nilai rata-rata RLTH pada kedalaman tanah 25-75 cm tidak berbeda nyata diantara posisi dari pangkal jambu mete, dan mencapai sekitar 0,25-0,28% (w/w) atau setara 0,043–0,048 MPa. Berdasarkan nilai RLTH, hasil perhitungan volumetrik penambahan air tanah harian pada blok jambu mete mencapai kisaran 0,26-1,35 l air m-2. Status lengas tanah terdeteksi masih berada pada kisaran 40-60% air tersedia, kecuali untuk perlakuan 1,0 kali jari-jari kanopi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tanaman jambu mete terbukti memiliki kemampuan hydraulic lift, dan mengindikasikan turut berkontribusi memelihara kelengasan tanah pada musim kering.
Nfn Nurmansyah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.147-154

Abstract:Pengujian efektifitas antifungal pestisida nabati Piper aduncum untuk pengendalian cendawan Sclerotium rolfsii pada ketinggian lokasi tanam dan waktu penyulingan berbeda telah dilakukan sejak Agustus 2014 sampai April 2015 di Laboratorium Pasca Panen dan Parasitologi Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Laing Solok, Sumatera Barat. Penelitian terdiri dari tiga sub kegiatan: (1) Penekanan diameter koloni, (2) Perkecambahan sklerotia, dan (3) Penekanan biomassa koloni. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, 9 perlakuan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji adalah sumber bahan P. aduncum; dari dataran rendah (A1) 20 m dpl, dataran menengah (A2) 460 m dpl dan dataran tinggi (A3) 1000 m dpl sebagai faktor I. Faktor II adalah waktu penyulingan; satu jam ke-1 (W1), satu jam ke-2 (W2) dan satu jam ke-3 (W3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak P. aduncum dari dataran rendah mempunyai aktifitas antifungal lebih tinggi dibanding dataran menengah dan tinggi, dengan penekanan diameter koloni secara berurutan 92,77; 91,02 dan 87,77%; penekanan biomassa koloni masing-masing 94,85; 92,52 dan 90,40%; penekanan perkecambahan sklerotia masing-masing 60; 48,89 dan 36,67%. Hasil penyulingan satu jam ketiga mempunyai aktifitas antifungal lebih baik dari satu jam kedua dan kesatu, dengan penekanan diameter koloni secara berurutan 98,52; 89,63 dan 83,42%; penekanan biomassa koloni masing-masing 97,67; 93,83 dan 86,67%; penekanan perkecambahan sklerotia masing-masing 71,11; 46,67 dan 27,78%.
Wawan Haryudin, Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.93-104

Abstract:Jambu mete merupakan tanaman menyerbuk silang, yang biasa diperbanyak dengan biji. Salah satu upaya penyediaan tanaman agar sama sifatnya dengan induknya adalah dengan grafting. Oleh karena itu, dalam konservasi plasma nutfah jambu mete, tanaman hasil eksplorasi diperbanyak dengan cara grafting. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keragaman tanaman hasil grafting 16 aksesi jambu mete asal Sulawesi Tenggara berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cikampek, Januari sampai Desember 2015 dengan melakukan observasi langsung terhadap individu tanaman. Batang bawah yang digunakan adalah varietas B02, sedangkan batang atas adalah 16 aksesi hasil eksplorasi dari beberapa daerah di Sulawesi Tenggara. Pengamatan karakteristik morfologi secara kualitatif dan kuantitatif dilakukan terhadap tanaman hasil grafting umur 4 tahun. Tingkat keragaman 16 aksesi jambu mete asal Sulawesi Temggara bervariasi pada karakter bentuk daun, bentuk basal dan ujung daun, bentuk tajuk, arah percabangan serta warna daun muda dan tua. Karakter bentuk tepi daun, bentuk permukaan daun bagian atas dan bawah tidak bervariasi. Tingkat keragaman morfologi daun berkisar 67,18-87,59%, terbagi menjadi dua kelompok yang dipisahkan oleh karakter warna daun muda dan arah percabangan. Karakter tinggi tanaman, lebar tajuk, panjang daun, lebar daun, tebal daun, dan panjang tangkai daun sangat bervariasi. Tingkat keragaman berkisar antara 77,44-95,91% terbagi menjadi dua kelompok besar yang dipisahkan oleh karakter tinggi tanaman, panjang tangkai daun dan lebar tajuk. Karakter tinggi tanaman memisahkan 16 aksesi jambu mete dalam dua kelompok dengan koefisien keragaman 77,45-95,46%. Pada tahap selanjutnya perlu dilakukan observasi terhadap produksi gelondong, untuk menentukan korelasi antara pembeda pada sifat morfologi jambu mete dengan produksi gelondong.
Rini Damayanti, Prima Mei Widiyanti
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.163-170

Maya Mariana, Nfn Miftakhurohmah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.155-162

Abstract:Salah satu kendala penting pada budidaya tanaman lada yaitu penyakit kerdil yang disebabkan oleh Piper yellow mottle virus (PYMoV) dan Cucumber mosaic virus (CMV). Tindakan pencegahan penyebaran penyakit dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan benih sehat bebas dari infeksi PYMoV dan CMV. Tujuan penelitian adalah mendeteksi keberadaan PYMoV dan CMV pada benih lada siap tanam secara serologi menggunakan teknik ELISA. Benih lada yang dideteksi berumur 5 bulan, berasal dari penangkar benih di Sukabumi (Jawa Barat) dan Purbalingga (Jawa Tengah). Varietas lada yang diambil di Sukabumi adalah Natar 1, Petaling, dan Lampung Daun Kecil., masing-masing sebanyak 10 sampel, sedangkan di Purbalingga hanya ada Natar 1, diambil 30 sampel. Di setiap lokasi pembibitan juga dilakukan pengamatan terhadap gejala infeksi virus yang ditemukan. Deteksi virus dilakukan secara Double Antibody Sandwich (DAS)-ELISA menggunakan antiserum Banana streak virus (BSV) untuk PYMoV dan antiserum CMV untuk deteksi CMV. Hasil ELISA dibaca nilai absorbannya dengan elisa reader pada panjang gelombang 405 nm. Sampel dinilai positif, jika nilai absorbansinya 1,5 kali lebih besar daripada kontrol negatif. Gejala infeksi virus pada benih bervariasi, yaitu klorotik, belang, dan belang disertai perubahan bentuk daun. Hasil pengujian ELISA menunjukkan bahwa 66% benih lada dari Sukabumi dan 46% dari Purbalingga terinfeksi virus CMV. Namun, tidak ada satu pun yang menunjukkan reaksi positif terhadap antiserum PYMoV. Hal ini diduga karena konsentrasi PYMoV terlalu rendah sehingga tidak terdeteksi secara ELISA. Untuk mencegah penyebaran virus, deteksi virus pada benih lada penting dilakukan sebelum digunakan sebagai bahan tanaman.
Herwita Idris, Nfn Nurmansyah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.171-178

Abstract:Pestisida yang berasal dari tanaman relatif aman terhadap organisme bukan sasaran dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pestisida berbahan aktif kimia sintetik. Gambir, sirih-sirihan dan sambiloto merupakan tanaman potensial sebagai sumber pestisida nabati. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa fenolik, minyak atsiri dan metabolit lainnya yang belum dieksplorasi pemanfaatannya. Penelitian bertujuan untuk mengobservasi potensi ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto dalam menanggulangi serangga hama Aphis schneideri yang sering menyerang tanaman klausena. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, empat ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri dari ekstrak gambir, sambiloto, dan sirih-sirihan, masing-masing dengan tingkat konsentrasi yang berbeda (8, 12, dan 16 ml l-l) serta kontrol (tanpa perlakuan). Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Laing, Solok dari Februari sampai Agustus 2015. Parameter yang diamati adalah persentase kematian (mortalitas) nimfa dan imago. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto bersifat insektisidal terhadap serangga hama A. schneideri. Ekstrak gambir pada konsentrasi 16 ml l-l mampu mengendalikan nimfa dan imago A. schneideri 100% pada 6 jam setelah aplikasi, sedangkan ekstrak sambiloto pada tingkat konsentrasi yang sama dengan gambir memerlukan waktu 36 jam setelah aplikasi untuk mencapai mortalitas 100%. Ekstrak sirih-sirihan memiliki efikasi terendah dibanding gambir dan sambiloto dengan tingkat mortalitas hanya mencapai 63,83% (nimfa) dan 65,44% (imago) pada 36 jam setelah aplikasi. Ekstrak gambir paling potensial sebagai pestisida nabati untuk mengedalikan A. schneideri dibandingkan dengan ekstrak sirih-sirihan dan sambiloto. Perlu pengujian lapangan untuk mengetahui keefektifan ekstrak gambir dalam mengendalikan serangan hama A. schneideri pada tanaman klausena.
Nfn Setiawan, Nfn Sukamto
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.137-146

Abstract:Nilam (Pogostemon cablin) merupakan tanaman semak yang dapat tumbuh di tempat ternaungi maupun terbuka. Namun perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman pada naungan 55% yang mempengaruhi hasil belum diketahui. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai September 2015 di Kebun Percobaan Cimanggu, Bogor. Penelitian bertujuan untuk membandingkan perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman nilam yang mempengaruhi produksi dan mutu minyak nilam yang ditanam di bawah naungan 55% dan tanpa naungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 ulangan. Parameter yang diamati adalah morfologi (jumlah daun, luas daun spesifik, tinggi tanaman dan jumlah cabang) dan fisiologi (kandungan air nisbi, jumlah klorofil, laju fotosintesis dan transpirasi), serta produksi terna dan hasil minyak. Data dikumpulkan dari masing-masing 20 sampel tanaman, dianalisis rata-rata dan standard error untuk menguji perbedaan antar perlakuan dan diuji lebih lanjut dengan analisis berganda Spearman untuk mengetahui hubungan antara parameter dengan hasil. Hasil penelitian menunjukkan tanaman nilam yang ditanam di bawah naungan 55% memiliki tinggi 87,05 cm, jumlah daun (576 helai), kandungan klorofil total (0,62 mg g-1), luas daun spesifik (191,57 g cm-2) dan laju fotosintesis (12,2 μmol CO2 m-2 s-1) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman nilam yang ditanam tanpa naungan. Produksi terna kering 131,9 g tanaman-1 meningkat 300% dibandingkan dengan tanpa naungan, dengan kadar minyak 2,3%.
Joko Pitono, Nur Maslahah, Nfn Setiawan, Redy Aditya Permadi, Nfn Suciantini, Tri Nandar
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27, pp 104-114; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.104-114

Abstract:Hydraulic lift sebagai proses redistribusi air tanah dari lapisan bawah yang lebih lembab ke lapisan dangkal yang cepat mengering oleh aktivitas akar tanaman, merupakan aspek ekologis yang layak diperhitungkan dalam mengelola tata air di lahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan hydraulic lift tanaman jambu mete yang diindikasikan oleh nilai recovery lengas tanah harian (RLTH) pasca kehilangan lengas tanah oleh aktivitas evapotranspirasi pada siang hari. Penelitian dilakukan pada area terbuka di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Penilaian RLTH dilakukan pada radius 1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 kali jari-jari kanopi dari pangkal jambu mete sebagai faktor perlakuan tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok, enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan nilai RLTH jambu mete selalu positif dan lebih besar dari 0,010 MPa sebagai nilai ambang minimal suatu tanaman dinyatakan memiliki kemampuan hydraulic lift. Nilai rata-rata RLTH pada kedalaman tanah 25-75 cm tidak berbeda nyata diantara posisi dari pangkal jambu mete, dan mencapai sekitar 0,25-0,28% (w/w) atau setara 0,043-0,048 MPa. Berdasarkan nilai RLTH, hasil perhitungan volumetrik penambahan air tanah harian pada blok jambu mete mencapai kisaran 0,26-1,35 l air m2-1. Kecuali pada perlakuan posisi 1,0 kali jari-jari kanopi, hingga pada akhir penelitian, status lengas tanah terdeteksi masih berada pada kisaran 40-60% air tersedia. Tanaman jambu mete terbukti memiliki kemampuan hydraulic lift, dan berkontribusi memelihara kelengasan tanah pada musim kering.
Devi Rusmin, Ireng Darwati, Faiza C Suwarno, Satriyas Ilyas
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.115-122

Abstract:Permasalahan dalam perbanyakan tanaman purwoceng adalah viabilitas benih yang sangat rendah (≤ 20%). Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkan metode stimulasi per-kecambahan yang dapat meningkatkan viabilitas dan vigor benih purwoceng. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, sejak Juli sampai November 2009. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), satu faktor dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah stimulasi perkecambahan yang terdiri atas 13 macam yaitu: T1=kontrol, (2) T2=stratifikasi dengan suhu 100C (2 minggu), (3) T3=stratifikasi dengan suhu 5-100C (4 minggu), (4) T4=penyimpanan kering pada suhu ruang (2 minggu), (5) T5=penyimpanan kering pada suhu ruang (4 minggu), (6) T6=pencucian dengan air mengalir (24 jam), (7) T7=pencucian dengan air mengalir (48 jam), (8) T8=imbibisi dengan GA3 100 ppm (24 jam), (9) T9=imbibisi dengan GA3 200 ppm (24 jam), (10) T10=imbibisi dengan GA3 400 ppm (24 jam), (11) T11=imbibisi dengan KNO3 0,2% (24 jam), (12) T12=pemanasan pada suhu 500C (24 jam), dan (13) T13=pemanasan pada suhu 500C (48 jam). Hasil penelitian menunjukkan stimulasi perkecambahan dengan pemanasan suhu 50°C selama 48 jam merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan viabilitas dan vigor benih purwoceng dengan daya berkecambah 51,5% dan kecepatan tumbuh benih 1,74% etmal-1 dari semua perlakuan yang diuji. Hasil tersebut mengindikasikan masih perlu penelitian peningkatan viabilitas benih purwoceng untuk mendukung pengembangan tanaman purwoceng di Indonesia. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan viabilitas benih purwoceng selanjutnya adalah: (1) menggabungkan metode pemanasan dengan pemberian GA dan (2) menggabungkan metode pemanasan dengan penyimpanan kering pada 18-20°C.
Eliza Mayura, Nfn Yudarfis, Herwita Idris, Ireng Darwati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n2.2016.123-128

Abstract:Benih merupakan salah satu aspek budidaya yang mempunyai peranan penting. Untuk mendukung pertumbuhan benih dan peningkatan produksi cengkeh, pemberian unsur hara sangat diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi dan konsentrasi pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan benih cengkeh. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balittro Laing Solok Sumatera Barat, sejak Maret sampai September 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan konsentrasi air kelapa dan frekuensi pemberian yaitu (1) tanpa air kelapa/air dan frekuensi pemberian 1 kali (0/1), (2) 0/2, (3) 0/3, (4) konsentrasi air kelapa 200 ml l-1/1, (5) 200 ml l-1/2, (6) 200 cc l-1/3, (7) 400 ml l-1/1, (8) 400 ml l-1/2, (9) 400 ml l-1/3, (10) 600 ml l-1/1, (11) 600 ml l-1/2, (12) 600 ml l-1/3; interval waktu pemberian 2 minggu, 10 tanaman per plot diulang 3 kali. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, panjang akar, jumlah akar utama) serta biomass (bobot basah dan kering batang, daun dan akar). Hasil penelitian menunjukkan pemberian air kelapa konsentrasi 600 ml l-1 dengan frekuensi pemberian satu kali, menghasilkan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif benih cengkeh.
Page of 9
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search