Journal Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

-
82 articles
Page of 9
Articles per Page
by
Lis Nurrani, Supratman Tabba, Arif Irawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 27; doi:10.21082/bullittro.v27n1.2016.1-9

Abstract:Kanker serviks merupakan jenis kanker mematikan yang secara spesifik menyerang kaum wanita. Berbagai cara pencegahan dilakukan terhadap penyakit ini melalui deteksi dini dengan menggunakan alat-alat kedokteran yang canggih, hingga penggunaan bahan-bahan alami yang berasal dari berbagai macam tumbuhan dengan cara-cara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bioaktivitas kulit kayu lawang (Cinnamomun cullilawan), dan daun kuhung-kuhung (Crotalaria striata) terhadap sel kanker serviks HeLa (ATCC CCl 2). Serbuk sampel dimaserasi dengan pelarut polar etanol kualitas teknis 70% dengan perbandingan 1:5 selama 24 jam. Konsentrasi ekstrak yang dimasukkan ke dalam cawan petri yang mengandung sel kanker adalah 25, 50, 100, 200 dan 500 µg ml-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun C. striata memiliki aktivitas antikanker serviks lebih baik dibandingkan ekstrak kulit C. cullilawan. Ekstrak daun C. striata mampu membunuh sel kanker HeLa pada konsentrasi 635,289 µg ml-1, sedangkan ekstrak kulit kayu C. cullilawan baru mampu membunuh sel kanker HeLa dengan nilai IC50 sebesar 1.435,79 µg ml-1 (>1.000 µg ml-1). Kedua ekstrak tersebut tidak mengandung senyawa alfatokoferol dan quercetin.
Mono Rahardjo, Endjo Djauharia, Ireng Darwati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n1.2014.21-26

Abstract:Kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan tanaman obat langka. Dahulu tanaman kepel hanya ditanam di lingkungan keraton khususnya di Jawa. Tanaman kepel pada umumnya diperbanyak melalui biji, oleh karena itu untuk memperbaiki kualitas dan mempercepat masa produksi maka diperlukan perbanyakan secara sambung pucuk. Tujuan penelitian untuk meningkatkan keberhasilan dan vigor benih hasil sambung pucuk. Penelitian sambung pucuk di laksanakan di rumah kaca, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bahan tanaman kepel diperoleh dari Jawa Tengah. Penelitian dimulai dengan penyiapan batang bawah yang diperoleh dari biji kepel disemaikan di bak plastik kemudian setelah berkecambah dipindahkan ke polibag. Setek pucuk diperoleh dari pohon induk berumur lebih kurang 30-50 tahun, diambil dari Jawa Tengah. Perlakuan yang dicobakan adalah: tanpa ZPT (kontrol), luka sayatan di semprot dengan air, 25, 50, dan 100% air kelapa, dan larutan 500 ppm GA3. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati adalah, persentase tanaman tumbuh setelah 1, 2, dan 3 bulan grafting, jumlah daun baru, panjang dan jumlah tunas baru. Pengamatan dilakukan setiap bulan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase benih kepel hidup umur tiga bulan setelah penyambungan tertinggi pada perlakuan air (82,64%), tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan 25% air kelapa dan kontrol (kering). Pemberian perlakuan air kelapa 25, 50, dan 100% tidak berpengaruh terhadap peningkatan persentase benih hidup, namun mampu mempertahankan vigor benih dari umur dua bulan sampai tiga bulan setelah penyambungan. Pemberian hormon GA3 dosis 500 ppm tidak berpengaruh terhadap persentase benih hidup, tetapi mampu mempertahahan vigor benih yang tumbuh.
Nurmansyah Nurmansyah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n1.2014.53-60

Abstract:Pengaruh interval aplikasi dan waktu penyemprotan pestisida nabati seraiwangi (Cymbopogon nardus) terhadap hama pengisap buah Helopeltis antonii pada tanaman kakao, telah dilakukan di kebun PT. Inang Sari Kabupaten Agam Sumatera Barat. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan, perlakuan tersebut adalah: In1Pg (interval aplikasi 1 x 1 minggu pagi hari), In1Sr (interval aplikasi 1 x 1 minggu sore hari), In2Pg (interval aplikasi 1 x 2 minggu pagi hari), In2Sr (interval aplikasi 1 x 2 minggu sore hari), In3Pg. (interval aplikasi 1 x 3 minggu pagi hari), In3Sr (.interval aplikasi 1 x 3 minggu sore hari), insektisida deltametrin 1 x 3 minggu dan kontrol tanpa pestisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan In1Pg dan In1Sr, memperlihatkan penurunan populasi nimfa H. antonii tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Nilai efikasinya adalah 95,57% (In1Pg), 96,46% (In1Sr), 85,84% (In2Pg), 86,73% (In2Sr), 69,03% (In3Pg) dan 71,68 (In3Sr), sedangkan dengan insektisida deltametrin, penurunan populasi 100% pada pengamatan enam minggu setelah aplikasi (MSA6). Perlakuan In1Pg dan In1Sr juga menunjukkan penurunan populasi imago H. antonii tertinggi 100%, kemudian diikuti perlakuan In2Sr 93,44%, In2Pg 91,80%, In3Sr 72,13% dan terendah pada perlakuan In3Pg (68,85%) pada delapan minggu setelah aplikasi (MSA8), sedangkan pada perlakuan deltametrin, penurunan populasi imago sudah 100% pada MSA6. Kerusakan buah terendah terdapat pada perlakuan deltametrin dan kerusakan buah tertinggi terdapat pada kontrol, intensitas kerusakan buah masing-masing pada ahkir pengamatan sebagai berikut; deltametrin (15,32%), In1Pg (18,36%), In1Sr (17,98%), In2Pg (21,43%), In2Sr (23,19%), In3Pg (28,92%), In3Sr (29,61%) dan kontrol (39,34%).
Devi Rusmin, Faiza C Suwarno, Ireng Darwati, Satriyas Ilyas
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n1.2014.45-51

Abstract:Informasi tentang metode pengujian benih purwoceng (Pimpinella pruatjan) masih terbatas, terutama kebutuhan suhu dan media perkecambahan yang tepat. Percobaan bertujuan untuk mengetahui suhu dan media perkecambahan yang tepat dalam pengujian daya berkecambah benih purwoceng. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor,sejak Maret sampai Mei 2009. Percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama adalah suhu perkecambahan yang terdiri atasdua taraf (1) 18-200C (T1), dan (2) 23-250C (T2). Sebagai anak petak adalah lima jenis media (1) media kertas stensil/CD (cross-machine direction) (M1), (2) media pasir (M2), (3) media tanah (M3), (4) campuran media tanah dan kompos (1:1) (M4), dan (5) campuran media tanah, pasir dan kompos (1:1:1) (M5), sehingga diperoleh 30 kombinasi perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan suhu perkecambahan 23-250C dengan media kertas stensil merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk metode pengujian viabilitas dan vigor benih purwoceng, berdasarkan nilai daya berkecambah (44%), potensi tumbuh maksimum (45,33%), indeks vigor (23,33%), dan kecepatan tumbuh (0,97% etmal-1).
Bagem Sembiring, Ireng Darwati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n1.2014.37-44

Abstract:Rumput kebar belum banyak dikenal orang, tetapi di Papua secara empiris digunakan sebagai penyubur kandungan. Senyawa aktif yang berperan sebagai obat maupun penyubur termasuk golongan steroid, saponin dan flavonoid. Bahan aktif merupakan metabolit sekunder, kandungannya bervariasi tergantung lingkungan tumbuh, waktu panen dan proses pengolahan. Tujuan penelitian adalah identifikasi mutu aksesi rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk menghasilkan simplisia yang berkualitas. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengujian, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor pada tahun 2011. Bahan baku menggunakan rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bagian tanaman yang diidentifikasi adalah secara keseluruhan. Rumput kebar dicuci bersih, ditiriskan, dikeringkan kemudian digiling. Serbuk yang diperoleh dianalisis mutunya dengan parameter meliputi : karakteristik mutu, skrining fitokimia, senyawa aktif, unsur mineral dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan, rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah mengandung kadar sari air lebih besar dibandingkan kadar sari alkohol. Jumlah kadar sari air berkisar antara 11,57-11,73% dan kadar sari alkohol 10,29-10,55%. Rumput kebar mengandung senyawa kimia golongan alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid dan glikosida. Jumlah senyawa kimia yang terdeteksi pada aksesi rumput kebar asal Papua adalah sebanyak 15 komponen dan dari Jawa 14 komponen. Kadar unsur mineral rumput kebar meningkat sebesar 0,00-51,15% setelah difermentasi. Rumput kebar asal Papua memiliki daya aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Nilai IC 50 (konsentrasi penghambatan 50%) asal Papua 27,74 ppm, Jawa Barat 45,93 ppm dan Jawa Tengah 38,13 ppm.
Wawan Haryudin, Sri Suhesti
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n1.2014.1-10

Abstract:Peningkatkan mutu genetik tanaman dapat dilakukan melalui, eksplorasi, hibridisasi, mutasi breeding dan rekayasa genetik. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) mempunyai variasi genetik yang sempit karena diperbanyak secara vegetatif. Salah satu teknik peningkatan mutu genetik nilam dapat dilakukan dengan mengumpulkan plasma nutfah dari berbagai sentra produksi maupun daerah lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakter morfologi, anatomi, produksi dan mutu minyak atsiri 15 aksesi nilam. Penelitian dilakukan di KP. Cimanggu Balittro sejak Januari sampai Desember 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua ulangan. Bahan tanaman yang digunakan adalah 15 aksesi yaitu GR1, GR3, GR4, BNY, CLP, PWK1, BRS, DRI, PKB, GYL, KT, TM2, Sipede 4, LO1, SK dan varietas Sidikalang sebagai kontrol. Parameter yang diamati karakter pertumbuhan, produksi dan mutu pada umur lima bulan setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi terhadap karakter kuantitatif, sedangkan pada karakter kualitatif variasinya sangat sempit. Tingkat kekerabatan berdasarkan karakter morfologi batang dan daun berkisar antara 83,95-97,41%, karakter produksi dan mutu berkisar antara 65,86-95,91% dan terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu kelompok I dan II. Masing-masing kelompok dipisahkan oleh karakter jumlah daun, panjang daun, tebal daun, tinggi tanaman, jumlah cabang sekunder, panjang ruas cabang, diameter batang, bobot basah, bobot kering, dan jumlah kelenjar minyak. Tingginya kandungan kadar minyak atsiri dan patchouli alkohol terdapat pada GR1 (2,44%), GR3 (2,27%), GR4 (3,31%), PKB (2,85%), dan TM2 (2,25%) dengan kadar patchouli alkohol di atas 43,85%. Produksi bobot basah 402,3-861,2 g dan bobot kering 91,3-203,4 g tanaman-1.
Djaenudin Gholib
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n2.2014.119-126

Abstract:Daun sirih (Piper betle L.) diketahui mempunyai efek antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daun sirih sebagai antifungi secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi, Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) tahun 2012. Bahan penelitian adalah ekstrak etanol dan minyak atsiri. Fungi (cendawan) yang digunakan dalam pengujian ini adalah Trichophyton verrucosum, yaitu cendawan jenis kapang, penyebab penyakit kurap pada kulit (dermatofitosis) hewan dan manusia. Media yang digunakan, Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Hasil penelitian ditentukan dengan perolehaan nilai konsentrasi hambat minimal (KHM). Bahan uji diencerkan dengan pengenceran ganda 6,250; 3,125; 1,56; 0,78; dan 0,39% untuk ekstrak etanol, dan 12,50; 6,250; 3,125; 1,56; 0,78; dan 0,39% untuk minyak atsiri. Koloni cendawan yang diuji ditumbuhkan pada media SDA dalam cawan petri selama 7 hari, masing-masing disuspensikan dengan aquades steril. Suspensi terdiri dari hifa dan sel spora. Kedua bahan yang diuji dituangkan ke dalam cawan petri steril dengan perbandingan 1:1, masing-masing 1 ml. Suspensi cendawan tanpa ekstrak atau minyak atsiri dituangkan ke dalam cawan petri sebagai kontrol negatif (0%). Media SDA yang masih cair dituangkan sebanyak 20 ml ke masing-masing petri. Inkubasi pada suhu 37oC selama 7 hari. Pengujian dilakukan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimal (KHM) ekstrak etanol adalah 1,56%, dan minyak atsiri 12,5%. Ekstrak etanol mempunyai efek antifungi yang lebih kuat dibandingkan dengan minyak atsiri.
Agus Ruhnayat, Sri Yuni Hartati, Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n2.2014.101-109

Abstract:Tanaman dari famili Brasicaceae (kubis-kubisan) selain dapat digunakan sebagai pupuk hijau juga dapat berperan sebagai biofumigan yang dapat menekan bakteri Ralstonia solanacearum, penyebab penyakit layu pada jahe. Penelitian bertujuan untuk mengobservasi pengaruh pupuk hijau enam jenis kubis-kubisan (sawi tanah, selada air, caisin, kubis, brokoli dan lobak) terhadap pertumbuhan jahe dan perkembangan penyakit layu. Penelitian dilaksanakan sejak Juni 2010 sampai April 2011, di Kebun Percobaan Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Keenam jenis pupuk hijau tersebut diaplikasikan pada jahe yang ditanam di dalam polibag. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa aplikasi pupuk hijau kubis-kubisan (brokoli dan lobak) dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan produksi rimpang jahe (26,27 dan 33,13%). Namun, pengaruh biofumigan dari tanaman kubis-kubisan yang diuji belum terlihat secara nyata terhadap perkembangan penyakit layu bakteri.
Setiawan Setiawan, Agus Wahyudi
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n2.2014.111-118

Abstract:Tanaman lada (Piper nigrum) dapat diperbanyak dengan biji, setek, layering dan grafting, maupun kultur jaringan. Metode perbanyakan untuk menghasilkan benih secara cepat (rapid multiplication method) telah dikembangkan untuk memperoleh benih dalam waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian GA3 terhadap pertumbuhan lada dengan rapid multiplication method. Penelitian dilaksanakan Mei sampai Desember 2013 di KP. Cimanggu.. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial tiga ulangan. Faktor pertama adalah bahan tanaman yaitu tujuh varietas lada yaitu Natar-1, Natar-2, Petaling-1, Petaling-2, Lampung Daun Lebar, Bengkayang dan Chunuk. Faktor kedua adalah dosis GA3 yaitu 0, 50, dan 100 ppm. Pengamatan dilakukan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah buku berakar, jumlah dan panjang akar primer, jumlah dan panjang akar adventif, luas daun dan bobot kering biomas. Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, luas daun, jumlah buku berakar, jumlah akar adventif, panjang akar adventif, jumlah akar primer dan panjang akar primer dipengaruhi oleh interaksi varietas dan GA3. Bobot kering akar, bobot kering daun, bobot kering batang dan bobot kering akar adventif dipengaruhi oleh fakt or tunggal varietas dan GA3. Varietas Petaling-2 dan LDL pada aplikasi GA3 100 ppm menghasilkan buku berakar tertinggi masing-masing 11 dan 10 buku.
Ekwasita Rini Pribadi, Rosita Smd, Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Volume 25; doi:10.21082/bullittro.v25n2.2014.145-154

Abstract:Plant varieties can be released as superior varieties after adaptation trials/observation. Superiority of certain variety can be assessed through production, quality and bioactive compounds, which are supported by financial feasibility of its cultivation. To obtain high-yielding varieties of java tea, the adaptation of six genotypes have been tested at three different locations, for two planting seasons. The study was conducted in November 2011 to December 2013, at Cimanggu Research Installation (240 m asl) Bogor, Cicurug Research Installation (550 m asl), and Sukamulya Research Installation (350 m asl), Sukabumi, West Java. The three locations are production center of java tea. The trial was arranged in a randomized block design with six treatments (six genotype), repeated four times. Data were analyzed discriptively. The feasibility assessment of each genotype was measured through level of technical efficiency: the yield of fresh and dry herb/unit area, economic efficiency was measured based on (1) revenue/unit area, (2) the ratio of net income and gross income, allocative efficiency (price) based on the ratio of operating expenses and gross income. The results showed that genotype C indicated more superior in technical and economic feasibility than genotypic A and B at agroecology and social of Sukamulya. The potential fresh weight of herb was 2,243 kg, whereas dry weight was 690 kg, net income Rp.1,138,676,- B/C ratio 1.34, the proportion of residual income net of operating expenses 52.04% and allocative efficiency 74.62% per 1,000 m2, during two harvesting times.
Page of 9
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search