Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan

-
36 articles
Page of 4
Articles per Page
by
Apri Arisandi, Badrud Tamam, Achmad Fauzan
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 104-111; doi:10.20473/jipk.v10i2.10516

Abstract:Abstrak Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting, karena menjadi sumber kehidupan bagi biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data berupa persentase penutupan karang hidup, lifeform dan jumlah karang. Kelimpahan ikan karang dan kondisi perairan kepulauan yang terdapat ekosistem terumbu karang bisa menjadi dasar untuk mendukung kesesuaian suatu kawasan menjadi objek ekowisata bahari. Penelitian dilaksanakan pada bulan juli-Agustus dan dilakukan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sepanjang 50 meter sejajar garis pantai pada kedalaman 3 dan 10 meter. Persentase penutupan karang mengacu kepada lifeform dan data ikan karang diambil menggunakan metode pencacahan langsung (visual census). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan karang berada pada kisaran 60-73% yang artinya kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Kangean adalah baik, dan merupakan habitat yang nyaman bagi ikan-ikan karang seperti spesies Apogon sp., Chelmon sp., Chaetodon sp., Lethrinus sp., dan Cheilodipterus sp. AbstractCoral reef ecosystems are part of an important marine ecosystem because they are a source of life for marine biota. This study was aimed to collect data in the form of a percentage of live coral cover, lifeform and number of corals. The abundance of reef fish and the condition of island waters that have coral reef ecosystems can be the basis for supporting the suitability of an area to become an object of marine ecotourism. The study was conducted in July-August and was carried out using the Line Intercept Transect (LIT) method, along 50 meters parallel to the coastline at depths of 3 and 10 meters. The percentage of coral cover refers to the lifeform and data on reef fish are taken using the visual census method. The results showed that the percentage of coral cover was in the range of 60-73%, which means that the condition of the coral reef ecosystem in Kangean Island is good, and is a comfortable habitat for reef fish such as the species Apogon sp., Chelmon sp., Chaetodon sp., Lethrinus sp., and Cheilodipterus sp.
Nizar Afiansyah Loekman, Woro Hastuti Satyantini, Akhmad Taufiq Mukti
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 140-146; doi:10.20473/jipk.v10i2.10504

Abstract:AbstrakKerapu cantik merupakan kerapu hibrid hasil persilangan antara betina kerapu macan dan jantan kerapu batik. Salah satu permasalahan dalam pembenihan kerapu cantik secara umum, yaitu pertumbuhan stadia awal benih kerapu cantik yang lambat. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menambahkan taurin pada pakan buatan untuk meningkatkan pertumbuhan benih ikan kerapu cantik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan taurin pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan benih ikan kerapu cantik. Penelitian ini menggunakan metode RAL dengan tiga perlakuan, yaitu pemberian pakan buatan dengan kadar taurin 0% (P1), 0,5% (P2) dan 1% (P3) yang diberikan pada benih ikan kerapu cantik dan masing-masing perlakuan diulang enam kali. Hasil pemeliharaan selama 45 hari menunjukkan bahwa penambahan taurin sebesar 1% pada pakan buatan memberikan pertumbuhan tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan berbeda nyata (p
Zurica Melati Fitri, Kismiyati Kismiyati, Ahmad Shofy Mubarak
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 159-164; doi:10.20473/jipk.v10i2.10527

Abstract:AbstrakBudidaya udang dihadapkan pada berbagai kendala penyakit yang timbul dan dapat menyebabkan kematian masal pada larva udang windu, salah satunya vibriosis yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi. Zat antibakteri yaitu : flavonoid, saponin dan tanin terbukti dapat membunuh beberapa bakteri patogen. Daun api – api Avicennia alba mengandung zat anti bakteri sehingga berpotensi digunakan untuk membunuh bakteri Vibrio harveyi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum ekstrak daun api-api (Avicennia alba) dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi. Penelitian ini mengunakan metode eksperimental dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun api-api (Avicennia alba) sebesar 100%, 90% 80%, 70%, 60%, 50%, 40%. 30%, 20%, 10%, 0%. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan pertumbuhan koloni pada uji Minimum Bacteria Concentration (MBC). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada konsentrasi 60% ekstrak daun Avicennia alba dapat menghambat pertumbuhan V.harveyi. Sedangkan pada konsentrasi 90% ekstrak daun Avicennia alba menyebabkan bakteri V.harveyi terbunuh. AbstractShrimp culture has various obstacles such as the emergence of diseases that can cause deaths in tiger shrimp larvae such as vibriosis caused by Vibrio harveyi. Some antibacterial substances such as flavonoid, saponin, and tannin inhibit and kill several pathogenic bacteria. Avicennia alba leaves contain anti-bacterial substances that have the potential to be used to kill Vibrio harveyi bacteria. This study aimed to determine the minimum concentration of Avicennia alba leaves extract for inhibiting and kill the growth of Vibrio harveyi. This study used an experimental method, using Avicennia alba leaves extract concentration treatment of 100%, 90% 80%, 70%, 60%, 50%, 40%. 30%, 20%, 10%, 0%. The parameters observed in this study were the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and bacteria colony growth in Minimum Bacteria Concentration (MBC) test. The results showed that at a concentration of 60% Avicennia alba leaves extract could inhibit the growth of V.harveyi. While at a concentration of 90% Avicennia alba leaves extract, Vibrio harveyi bacteria was killed.
Rani Yuwanita, Nanik Retno Buwono, Handian Febyadi Eka Putra
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 152-158; doi:10.20473/jipk.v10i2.9797

Abstract:AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dunaliella salina terhadap jumlah polimorfonuklear leukosit ikan kerapu cantang yang diinfeksi VNN. Seratus delapan puluh ekor larva ikan kerapu cantang ditebar ke dalam 15 buah bak bervolume 16 L dengan kepadatan 10 ekor/bak. Sebelum diinfeksi VNN, ikan kerapu cantang diberi perlakuan pakan pelet yang mengandung tepung Dunaliella dengan dosis: K- (0 gr/kg pakan), A(6 gr/kg pakan), B (12 gr/kg pakan) dan C (18 gr/kg pakan) secara adlibitum selama 10 hari. Setelah 10 hari perlakuan, ikan kerapu cantang diinfeksi VNN selama 96 jam melalui injeksi intramuscular dengan dosis 0,1 ml/ekor ikan. Berdasarkan hasil pengamatan, Dunaliella salina berpengaruh terhadap jumlah polimorfonuklear leukosit ikan kerapu cantang yang diinfeksi VNN dengan nilai tertinggi pada perlakuan C (18 gr/kg pakan) yang mempunyai nilai rerata leukosit 45,9 x 103 sel/ml, neutrofil: 4,24 x 103 sel/ml dan eusinofil 13,38 x 103 sel/ml.AbstractThis study aimed to determine the effect of Dunaliella salina on the number of Cantang grouper leukocyte polymorphonuclear infected with VNN. One hundred and eighty larvae of Cantang grouper fish were stocked into 15 pieces of 16 L volumes with a density of 10 fish/tube. Before being infected with VNN, the groupers were treated with pellet feed containing doses of Dunaliella flour with a dose: K- (0 g/kg feed), A (6 g/kg of feed), B (12 g/kg of feed) and C (18 g/kg of feed) in adlibitum for 10 days. After 10 days of treatment, Cantang groupers were infected with VNN for 96 hours through intramuscular injection with a dose of 0.1 ml/fish. Based on the observations, Dunaliella salina has an effect on the number of VNN infected grouper cucumber leukocyte polymorphonuclear with the highest value in treatment C (18 g/kg feed) which has a leukocyte mean value of 45.9 x 103 cells/ml, neutrophils: 4.24 x 103 cells/ml and eosinophils 13.38 x 103 cells/ml.
Asep Awaludin Prihanto, Alifatul Fatchiyah, Hartati Kartikaningsih, Ken Audia Pradarameswari
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 112-118; doi:10.20473/jipk.v10i2.10467

Abstract:Enzim L-asparaginase (E.C 3.5.1.1) adalah protein tetramer yang termasuk dalam kelompok keluarga amidohydrolases homolog. ). L-asparaginase secara selektif menghidrolisis L-aspargin (L-Asn) menjadi amonia (NH3) dan asam aspartat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan spesies bakteri penghasil enzim L-asparaginase yang diisolasi dari mangrove Avicennia marina yang berasal dari Pantai Bajul Mati, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pengambilan dan preparasi sampel, skrining L-asparaginase, dan identifikasi menggunakan uji mycrobact system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat dengan aktivitas enzim L-asparaginase terbesar adalah isolat DAM6 yang berasal dari daun Avicennia marina. Isolat DAM6 adalah bakteri merupakan bakteri gram negatif, berbentuk basil, bentuk koloni oval, tepi koloni tidak rata dan elevansi cembung. Berdasarkan analisis microbact, isolat DAM6 adalah bakteri spesies Pseudomonas aeruginosa. AbstractThe L-asparaginase enzyme (E.C 3.5.1.1) is a tetramer protein belonging to the family group of amidohydrolases. L-asparaginase selectively hydrolyzes L-aspargin (L-Asn) to ammonia (NH3) and aspartic acid. This study aims to obtain species of L-asparaginase enzyme producing bacteria isolated from Avicennia marina mangroves from Bajul Mati Beach, Malang, East Java, Indonesia. This research carried out several stages such as took and prepared samples, screened L-asparaginase, and identified using the mycrobact system test. The results showed that the isolates with the largest L-asparaginase enzyme activity were DAM6 and it was originated from the leaves of Avicennia marina. DAM6 isolate is a gram-negative with an oval shape, uneven edges, and convex elevation. Based on microbact analysis, DAM6 isolates are Pseudomonas aeruginosa.
Oto Prasadi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 147-151; doi:10.20473/jipk.v10i2.10497

Abstract:AbstrakSpirulina sp. merupakan mikro organisme mikro alga yang memiliki kandungan nutrisi lengkap, sehingga Spirulina sp. memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan atau kelimpahan, berat basah dan berat kering dari Spirulina sp. dalam media pupuk hasil campuran pupuk urea, pupuk zwavelzure amoniak (ZA), dan pupuk triple super phosphate (TSP) dengan membandingkan pada pupuk kontrol dengan standar pada media conwy sebagai langkah alternatif dalam meminimalkan biaya kulturisasi Spirulina sp. sebagai bahan pangan fungsional dalam skala laboratoris. Berdasarkan hasil penelitian, kepadatan spirulina sp. mengalami fase lambat (lagfase) dengan kenaikkan populasi rata-rata 781,5 unit/ml pada hari pertama sampai hari ketiga. Fase percepatan (eksponensial fase) dengan kenaikkan populasi rata-rata 3576,5 unit/ml pada hari keempat sampai hari kelima. Fase perlambatan dengan kenaikkan populasi rata-rata 595,25 unit/ml pada hari keenam sampai hari ketujuh. Dan fluktuatif pada hari kedelapan sampai hari kesembilan, sedangkan berat basah dan berat kering dari Spirulina sp. di hari ketiga sampai dengan hari kelima mengalami peningkatan yang signifikan, sedangkan berat basah dan berat kering di hari-hari berikutnya mengalami fluktuatif peningkatan dan penurunan.Adanya penurunan pertumbuhan dan biomassa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantarannya, berkurangnya nutrien dalam media, berkurangnya intensitas cahaya karena penanguan sendiri, kompetisi yang semakin besar dalam mendapatkan nutrient, ruang hidup dan cahaya.Makanan fungsional yang mengandung protein tinggi salah satunnya adalah yang terbuat dari microalgae Spirulina sp. microalgae ini tidak hanya bertindak sebagai sumber protein tunggal, tetapi juga sumber karotenoid, klorofil, serta sumber mikronutrien.AbstractSpirulina sp. is a microalgae microorganism that has complete nutritional contents, Spirulina sp. has a great potential to be used as a functional food ingredient. This study aimed to determine the density or abundance, wet and dry weight of Spirulina sp. in fertilizer ingredients resulting from a mixture of urea fertilizer, zwavelzure ammonia (ZA) fertilizer, and triple superphosphate fertilizer (TSP) by comparing the control fertilizers with standards on conwey media an alternative step in minimizing the cost of culturing Spirulina sp. as a functional food ingredient in a laboratory scale. Based on the results of the study, the density of Spirulina sp. experienced a lag phase with an average population increase of 781.5 units/ml on the first day until the third day. Acceleration phase (exponential phase) with an average population increased of 3576.5 units/ml on the fourth day until the fifth day. The deceleration phase with an average population increased of 595.25 units/ml on the sixth day until the seventh day. And fluctuating on the eighth day to the ninth day, while the wet weight and dry...
Fadhliyatud Diniyyah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 93-97; doi:10.20473/jipk.v10i2.10364

Abstract:This study was carried out to investigate the effect of Asian seabass (Lates calcarifer) culture in floating net cages at the Brackishwater Aquaculture Development Center, Situbondo. Asian seabass were fed with commercial fish pellet (KPA) and fresh fish (trash fish) for 21 days. Seabass fed with trash fish and commercial fish pellet displayed the growth response to the average weight and length. The fish grew from an initial weight of 230g, 238g, and 244g in 21 days and the average length of seabass changed from 23 cm, 25 cm and 28 cm respectively. The fish were fed with 3-7% body weight of fish and the growth was monitored in 21 days. The results showed that trash fish can increase the significant growth response in Asian seabass. AbstrakStudi ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh budidaya kakap putih Asia (Lates calcarifer) di keramba jarring apung di pusat pengembangan budidaya air payau, Situbondo. Kakap putih Asia diberi pelet ikan komersial (KPA) dengan ikan segar (limbah ikan) selama 21 hari. Kakap putih makan dengan limbah ikan dan pelet ikan komersial menunjukkan respon pertumbuhan rata-rata dari berat dan panjang. Pertumbuhan ikan dari berat awal 230g, 238g dan 244g pada hari ke- 21 dan terjadi perubahan panjang rata-rata kakap putih masing-masing menjadi 23 cm, 25 cm dan 28 cm. Ikan diberi makan dengan 3-7% dari berat badan ikan dan pertumbuhan diamati dalam 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ikan dapat meningkatkan respon pertumbuhan yang signifikan di kakap putih Asia.
Halimatus Meirikayanti, Boedi Setya Rahardja, Adriana Monica Sahidu
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 134-139; doi:10.20473/jipk.v10i2.10499

Abstract:AbstrakPerairan Wonorejo merupakan salah satu daerah penghasil kepiting bakau di Surabaya. Namun perairan ini berpotensi mengalami pencemaran logam berat akibat aktivitas yang ada di daratan. Tembaga (Cu) merupakan salah satu jenis logam berat yang mencemari perairan Wonorejo dan jika dalam jumlah besar menyebabkan kerusakan hati organisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat tembaga pada kepiting bakau dan mengetahui keamanan pangan hasil tangkapan kepiting bakau di Sungai Wonorejo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018 dengan pengambilan sampel di tiga stasiun dengan waktu setiap minggu selama tiga kali. Analisis logam berat tembaga (Cu) pada kepiting bakau (Scylla sp.), air dan sedimen dilakukan di Laboratorium Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Metode penelitian menggunakan metode observasi yang dilakukan di perairan dan tambak di Wonorejo Surabaya. Sampel daging kepiting bakau, air dan sedimen diuji menggunakan alat Atomic Absoption Spectrophotometry (AAS). Hasil kandungan kadar logam berat tembaga (Cu) pada kepiting bakau di Sungai Wonorejo pada stasiun 1 dan 2 yaitu 0,008 mg/kg dan pada stasiun 3 yaitu 0,002 mg/kg dimana nilai kadar ini masih berada di bawah ambang batas baku mutu logam berat Cu pada kepiting yaitu 20 mg/kg.AbstractWonorejo river as one area in Surabaya that has produce mud crab and potentially has heavy metal pollution caused by human activities. Copper (Cu) is on the heavy metals that pollute in the waters Wonorejo. Copper in large quantities can damage the liver. This research was conducted in April 2018 samples taken at three stations. Analysis of heavy metals copper (Cu) in samples of water, sediment, and meat of mud crab (Scylla sp.) is done in Laboratory Nutrition Department of Public Health, Universitas Airlangga. Other research methods of observation methods conducted in coastal areas and pond.Wonorejo Surabaya. Heavy metal testing of copper in samples of water, sediment, and meat of mud crab use Absorption Atomic Spectrophotometry (AAS). Results Cu content of heavy metal levels in the meat of mud crab in the Wonorejo river for site 1 and 2 was 0,008 mg/kg and for site 3 was 0,002 mg/kg. This shows the copper content in the meat of mud crab is under the allowable quality standards for copper of 20 mg/kg.
Choo Wei Jiet, Nadirah Musa
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 98-103; doi:10.20473/jipk.v10i2.10466

Abstract:AbstrakPelatihan industri telah dilakukan untuk mempelajari dan memahami teknik budidaya dari Kerapu Cantang (Epiphenelus sp.). Teknik budidaya kerapu Cantang merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi tingkat pertumbuhannya. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama 21 hari di Pusat Pengembangan Budidaya Perikanan Air Payau, Situbondo, Jawa Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kerapu Cantang meningkat signifikan sebesar 2,29 gram/hari. Pengelolaan pakan dan kualitas air yang baik dianggap sebagai faktor utama yang berpengaruh pada pertumbuhan Kerapu Cantang selama proses budidaya. AbstractAn industrial training has been conducted to learn and understand the culture techniques of Cantang Grouper (Epiphenelus sp.). The culture technique of Cantang Grouper is one of the factors that affect its growth. The fish sampling was carried out for 21 days at Brackish Water Aquaculture Development Center, Situbondo, East Java. The result of this study demonstrated that growth of Cantang Grouper was increased significantly of 2.29 gram/day. Good management of feed and water quality are considered as the main factors that gave effect on the growth of Cantang Grouper during the cultivation process.
Ahmad Fungky Andria, Sri Rahmaningsih
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 10, pp 123-133; doi:10.20473/jipk.v10i2.9825

Abstract:AbstrakEmbung adalah bekas galian tanah liat dari penambangan di PT. Semen Indonesia yang dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sumber pengairan pada kegiatan dan tempat budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Tujuan Penelitian ini untuk melakukan kajian teknis faktor abiotik embung bekas galian tanah liat PT. Semen Indonesia untuk budidaya perikanan dengan teknologi KJA. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pengumpulan data survei yang dianalisa menggunakan WQI min dengan data diperoleh berupa kualitas air (suhu, pH, DO dan kecerahan). Hasil penelitian suhu pagi hari pada ke empat titik pengambilan sampel berkisar 32,3 – 32,7°C dan siang hari berkisar 32,7 - 33°C(kurang layak), pH pagi hari 8 – 8,1 siang hari 7,9 – 8 (layak), dissolved oxygen (DO) pagi hari 5,6 – 6,2 ppm, siang hari 6,1 – 6,7 ppm (layak) dan kecerahan pagi hari 69,6 – 78.7 cm, siang hari 61,6 – 77 cm (layak) dengan mengacu pada standar kualitas air PP No. 82 Tahun 2001 dan BBPBAT (2010). Berdasarkan hasil analisa faktor abiotik tersebut, maka direkomendasikan jenis ikan nila dapat dibudidayakan di embung bekas galian semen dengan teknologi KJA. AbstractEmbung is a former excavation of clay from mining at PT. Semen Indonesia is used by local residents as a source of irrigation in activities and fish farming sites using the floating net cage system (KJA). The purpose of this study was to conduct a technical study of abiotic factors used for clay excavation of PT. Semen Indonesia for aquaculture with KJA technology. The research method used the descriptive method with survey data collection analyzed using WQI min with data obtained in the form of water quality (temperature, pH, DO and brightness). The results of the morning temperature study at the four sampling points ranged from 32.3 - 32.7C and daytime ranged from 32.7 - 33 ° C (less feasible), morning pH 8 - 8.1 during the day 7.9 - 8 (feasible), dissolved oxygen (DO) in the morning 5.6 - 6.2 ppm, daytime 6.1 - 6.7 ppm (feasible) and morning brightness 69.6 - 78.7 cm, daytime 61, 6 - 77 cm (feasible) with reference to water quality standards PP No. 82 of 2001 and BBPBAT (2010). Based on the results of the analysis of the abiotic factor, it is recommended that the type of tilapia can be cultivated in used cement excavated ponds with KJA technology.
Page of 4
Articles per Page
by